Home / Al-Quran / 008 Al Anfal

008 Al Anfal

SURAT 8

Al Anfal : Dana Sukarela

(Diturunkan di Madinah, 10 ruku’, 75 ayat)

Mukaddimah Surah Buka

Ruku’ 1: Dana sukarela

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih.

1. Mereka bertanya kepada engkau tentang dana sukarela. Katakanlah: Dan sukarela itu untuk Allah dan Utusan.979 Maka bertaqwalah kepada Allah dan damaikanlah perselisihan di antara kamu, dan taatlah kepada Allah dan Utusan-Nya, jika kamu mukmin.

 

2. Orang-orang mukmin ialah orang yang apabila disebut nama Allah, hati mereka gemetar, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, iman mereka bertambah, dan mereka bertawakal kepada Tuhan mereka.

 

3. (Demikian pula) orang yang menegakkan shalat dan membelanjakan sebagian dari apa yang Kami berikan kepada mereka.

 

4. Itulah orang yang beriman kepada kebenaran. Mereka memperoleh derajat yang tinggi di sisi Tuhan mereka, dan pengampunan dan rezeki yang mulia.

 

5. Sebagaimana Tuhan dikau mengeluarkan engkau dari rumah engkau dengan kebenaran, walaupun sesungguhnya sebagian kaum mukmin tak suka.980

 

6. Mereka berbantah dengan engkau tentang kebenaran setelah itu menjadi terang — seakan-akan mereka digiring menuju kematian, sedangkan mereka melihat (itu).

 

7. Dan tatkala Allah menjanjikan kepada kamu salah satu di antara dua golongan yang akan menjadi kepunyaan kamu, dan kamu menginginkan agar golongan yang tak bersenjata menjadi kepunyaan kamu,981 dan Allah menghendaki untuk menegakkan Kebenaran dengan firman-Nya,982 dan memotong akar orang-orang kafir.

 

8. Agar Ia memenangkan Kebenaran dan mengenyahkan kepalsuan, walaupun orang-orang dosa tak suka.

 

9. Tatkala kamu mohon bantuan kepada Tuhan kamu, lalu Ia mengabulkan (permohonan) kamu. Sesungguhnya Aku akan membantu kamu dengan seribu malaikat beruntun-runtun.

 

10. Dan Allah tiada memberi itu kecuali sebagai kabar baik, agar dengan itu hati kamu menjadi tenteram. Dan kemenangan itu hanya ada pada Allah; sesugguhnya Allah itu Yang Maha-perkasa, Yang Maha-bijaksana.983

Ruku’ 2: Perang Badar

 

11. Tatkala Dia membuat kamu mengantuk sebagai jaminan keamanan dari Dia, dan menurunkan kepada kamu hujan dari langit agar dengan itu Dia menyucikan kamu,984 dan menghilangkan kekotoran setan dari kamu, dan agar dengan itu Ia membentengi hati kamu dan meneguhkan telapak kaki (kamu).985

 

12. Tatkala Tuhan dikau mewahyukan kepada malaikat: Sesungguhnya Aku menyertai kamu, maka teguhkanlah (hati) orang-orang yang beriman. Aku akan melemparkan kecemasan dalam hati orang-orang kafir. Maka pukullah (mereka) di atas leher dan pukullah setiap ujung jari mereka.986

 

13. Ini disebabkan karena mereka melawan Allah dan Utusan-Nya. Dan barangsiapa melawan Allah dan Utusan-Nya — maka sesungguhnya Allah itu Yang amat keras dalam pembalasan.

 

14. Itulah — rasakanlah itu, dan (ketahuilah) bahwa bagi kaum kafir adalah siksa Neraka.987

 

15. Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan barisan kaum kafir, janganlah kamu berbalik punggung.988

 

16. Dan barangsiapa pada hari itu berbalik punggung — terkecuali untuk siasat perang atau untuk menggabungkan diri dengan pasukan (Islam yang lain) — ia sungguh-sungguh terkena murka Allah, dan tempatnya ialah Neraka. Dan buruk sekali tempat itu.

 

17. Maka bukanlah kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah-lah Yang membunuh mereka; dan bukanlah engkau yang memukul tatkala engkau memukul (musuh), tetapi Allah-lah Yang memukul (dia);989 dan agar Ia anugerahkan kepada orang-orang mukmin anugerah yang baik990 dari Dia. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-mendengar, Yang Maha-tahu.

 

18. Ini991 — dan (ketahuilah) bahwa Allah akan melemahkan perjuangan kaum kafir.

 

19. Jika kamu mencari keputusan, sesungguhnya keputusan telah datang kepada kamu;992 dan jika kamu berhenti, ini lebih baik bagi kamu. Dan jika kamu kembali (bertempur), Kami (juga) akan kembali, dan pasukan kamu tak akan menguntungkan kamu sedikit pun, walau (jumlahnya) banyak; dan (ketahuilah) bahwa Allah itu menyertai kaum mukmin.

Ruku’ 3: Jalan menuju Kemenangan

 

20. Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Utusan-Nya dan janganlah berpaling dari Dia sedangkan kamu mendengar.

 

21. Dan janganlah kamu seperti orang yang berkata: Kami mendengar; dan mereka tak mendengar.

 

22. Sesungguhnya binatang yang paling buruk993 menurut Allah, ialah yang tuli, yang bisu, yang tak mengerti.

 

23. Dan jika Allah tahu suatu yang baik pada mereka, niscaya Ia buat mereka mendengar. Dan jika mereka Ia buat mendengar, mereka tetap berpaling dan mereka enggan.

 

24. Wahai orang-orang yang beriman, sambutlah (seruan) Allah dan Utusan-Nya, tatkala ia mengajak kamu kepada apa yang memberi hidup kepada kamu.994 Dan ketahuilah bahwa Allah itu mengetengahi antara orang dan hatinya,995 dan bahwa kamu akan dihimpun kepada-Nya.

 

25. Dan jagalah diri kamu terhadap fitnah (bencana) yang tak khusus menimpa orang-orang lalim di antara kamu;996 dan ketahuilah bahwa Allah itu Yang Maha-dahsyat dalam memberi pembalasan.

 

26. Dan ingatlah tatkala kamu masih sedikit, dianggap lemah di bumi, kamu khawatir kalau-kalau orang akan melarikan kamu dengan paksa,997 lalu Ia melindungi kamu, dan memperkuat kamu dengan pertolongan-Nya, dan memberi rezeki kepada kamu barang-barang yang baik, agar kamu bersyukur.

 

27. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Utusan, dan jangan pula mengkhianati amanat yang dipercayakan kepada kamu, sedangkan kamu tahu.

 

28. Dan ketahuilah bahwa harta kamu dan anak-anak kamu adalah cobaan, dan bahwa Allah itu, di sisi-Nya, adalah ganjaran yang besar.

Ruku’ 4: Kaum Muslimin menjadi penjaga Masjid Suci

 

29. Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Dia akan menganugerahkan kehormatan kepada kamu, dan menghilangkan keburukan kamu dan mengampuni kamu. Dan Allah itu Tuhan anugerah yang besar.

 

30. Dan tatkala orang-orang kafir membuat rencana terhadap engkau untuk mengurung engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau — dan mereka membuat rencana, dan Allah juga membuat rencana; dan Allah itu Yang terbaik di antara para perencana.998

 

31. Dan tatkala ayat Kami dibacakan kepada mereka, mereka berkata: Kami telah mendengar. Jika kami menghendaki, kami juga dapat berkata seperti itu;999 ini tiada lain hanyalah dongengan orang-orang kuno.

 

32. Dan tatkala mereka berkata: Ya Allah, jika ini sungguh-sungguh kebenaran dari Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau timpakanlah kepada kami siksaan yang pedih.

 

33. Dan Allah tak akan menyiksa mereka selagi engkau berada di tengah-tengah mereka; dan Allah tak akan menyiksa mereka selagi mereka memohon ampun.1000

 

34. Dan apakah alasan mereka bahwa Allah tak akan menyiksa mereka, padahal mereka menghalang-halangi (orang) dari Masjid Suci, dan mereka bukanlah penjaganya (yang sejati)? Sesungguhnya penjaganya itu tiada lain hanyalah orang yang bertaqwa, tetapi kebanyakan mereka tak tahu.1001

 

35. Adapun shalat mereka di Rumah Suci hanyalah bersiul-siul dan bertepuk tangan.1001a Maka rasakanlah siksaan karena kamu kafir.

 

36. Sesungguhnya orang-orang kafir, mereka membelanjakan kekayaan mereka untuk menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Mereka akan terus membelanjakan itu, lalu itu akan mendatangkan penyesalan kepada mereka, lalu mereka akan dikalahkan. Dan orang-orang kafir akan dihimpun ke Neraka.

 

37. Agar Allah memisahkan yang buruk dari yang baik, dan meletakkan sebagian yang buruk di atas sebagian yang lain, lalu itu Ia tumpuk semua, lalu Ia lemparkan mereka ke Neraka. Mereka adalah orang yang rugi.1002

Ruku’ 5: Perang Badar sebagai tanda bukti Kebenaran Nabi Suci

 

38. Katakanlah kepada orang-orang kafir, jika mereka berhenti, mereka akan diampuni dosa mereka yang sudah-sudah; dan jika mereka kembali,1003 maka telah berlalu banyak contoh tentang orang-orang kuno.1004

 

39. Dan perangilah mereka sampai tak ada lagi penindasan, dan (sampai) semua agama adalah kepunyaan Allah. Tetapi jika mereka berhenti, maka sesungguhnya Allah itu Yang Maha-melihat apa yang mereka lakukan.1005

 

40. Dan jika mereka berbalik, maka ketahuilah bahwa Allah itu Pelindung kamu. Pelindung Yang paling mulia dan Penolong Yang paling mulia.1006
JUZ X

 

41. Dan ketahuilah bahwa apa-apa yang kamu peroleh dalam pertempuran, yang seperlima adalah kepunyaan Allah dan kepunyaan Utusan dan kepunyaan kaum kerabat dan anak yatim dan kaum miskin dan orang yang bepergian, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, pada hari Pemisah, hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah itu Yang berkuasa atas segala sesuatu.1007

 

42. Tatkala kamu berada di sebelah (lembah) yang dekat, dan mereka berada di sebelah yang jauh, sedangkan kafilah berada di tempat yang lebih rendah daripada kamu.1008 Dan seandainya kamu saling mengadakan perjanjian, niscaya kamu tak akan menepati perjanjian itu,1009 akan tetapi1010 — agar Allah melaksanakan perkara yang harus terjadi;1011 yakni agar orang yang harus binasa, ia binasa dengan tanda bukti yang terang, dan orang yang harus hidup, ia hidup dengan tanda bukti yang terang.1012 Dan sesungguhnya Allah itu Yang Maha-mendengar, Yang Maha-tahu.

 

43. Tatkala Allah menampakkan mereka kepada engkau dalam impian dikau (bahwa) mereka itu sedikit — dan jika Ia menampakkan mereka kepada engkau (bahwa) mereka itu banyak, niscaya kamu akan merasa kecil-hati, dan kamu akan bertengkar tentang perkara itu, tetapi Allah menyelamatkan (kamu). Sesungguhnya Dia itu Yang Maha-tahu akan apa yang ada dalam hati.

 

44. Dan tatkala Ia menampakkan mereka kepada kamu, tatkala kamu bertemu, (bahwa) mereka itu sedikit dalam penglihatan kamu, dan Ia menampakkan kamu sedikit dalam penglihatan mereka; agar Allah melaksanakan perkara yang harus terjadi. Dan kepada Allah semua perkara dikembalikan.1013

Ruku’ 6: Kemenangan tidak tergantung kepada jumlah

 

45. Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berjumpa dengan pasukan (musuh), berteguh hatilah kamu, dan ingatlah kepada Allah sebanyak-banyaknya, agar kamu memperoleh kemenangan.

 

46. Dan taatlah kepada Allah dan Utusan-Nya dan janganlah kamu bertengkar satu sama lain, agar kamu tak menjadi lemah dan hilang kekuatan kamu, dan tabahlah. Sesungguhnya Allah itu menyertai orang-orang yang tabah.

 

47. Dan janganlah kamu seperti orang yang keluar dari rumah mereka dengan sorak-sorai dan pamer kepada manusia, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.1014 Dan Allah itu melingkupi apa yang mereka lakukan.

 

48. Dan tatkala setan1015 membuat perbuatan mereka tampak indah bagi mereka, dan berkata: Pada hari ini tak seorang pun di antara manusia dapat mengalahkan kamu, dan aku adalah pelindung kamu. Tetapi setelah dua pasukan saling berhadapan, ia (setan) berbalik atas tumitnya, dan berkata: Sesungguhnya aku melepaskan diri dari kamu; sesungguhnya aku melihat apa yang kamu tak melihat; sesungguhnya aku takut kepada Allah. Dan Allah itu Yang paling keras dalam pembalasan.

Ruku’ 7: Kekuatan musuh menjadi lemah

 

49. Dan tatkala kaum munafik dan orang yang mempunyai penyakit dalam hati mereka berkata: Agama mereka telah menipu mereka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah itu Yang Maha-perkasa, Yang Maha-bijaksana.

 

50. Dan sekiranya engkau melihat tatkala malaikat mematikan orang-orang kafir, dengan memukul muka mereka dan punggung mereka, dan (berkata): Rasakanlah siksaan yang menghanguskan.

 

51. Ini disebabkan karena perbuatan tangan kamu yang sudah-sudah, dan Allah itu tak berbuat lalim terhadap para hamba.

 

52. Seperti kelakuan kaum Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka, mereka mengafiri ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka karena dosa mereka. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-kuat, Yang Maha-keras dalam pembalasan.1016

 

53. Ini disebabkan karena Allah tak akan mengubah kenikmatan yang telah Ia berikan kepada suatu bangsa sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri — dan karena Allah itu Yang Maha-mendengar, Yang Maha-tahu.

 

54. Seperti kelakuan kaum Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhan mereka, maka mereka Kami binasakan karena dosa mereka. Dan Kami tenggelamkan kaum Fir’aun dan mereka semua adalah lalim.

 

55. Sesungguhnya binatang yang paling buruk menurut Allah ialah orang-orang kafir; mereka tak mau beriman.

 

56. Orang-orang yang kamu membuat perjanjian dengan mereka, lalu mereka setiap kali mengingkari janji mereka, dan mereka tak menetapi kewajiban.1017

 

57. Maka apabila kamu berhadapan dalam pertempuran, cerai-beraikanlah mereka, orang-orang yang berada di belakang mereka, agar mereka menjadi ingat.1018

 

58. Dan jika engkau khawatir akan pengkhianatan suatu kaum, maka kembalikanlah (perjanjian itu) kepada mereka atas dasar persamaan. Sesungguhnya Allah itu tak suka kepada orang-orang yang khianat.1019

Ruku’ 8: Perdamaian harus dijamin dengan kekuatan

 

59. Janganlah orang-orang kafir mengira bahwa mereka dapat lari lebih cepat daripada-Ku. Sesungguhnya mereka tak dapat melepaskan diri.

 

60. Dan buatlah persiapan untuk menghadapi mereka, apa saja sejauh kemampuan kamu berupa kekuatan, dan kuda-kuda yang ditambat di garis depan, yang dengan itu kamu dapat membuat takut musuh Allah dan musuh kamu, dan orang-orang lain selain mereka yang kamu tak tahu, (tetapi) Allah tahu mereka. Dan apa saja yang kamu belanjakan di jalan Allah, pasti akan dibayar kembali dengan penuh kepada kamu, dan kamu tak akan diperlakukan tak adil.1020

 

61. Apabila mereka condong ke arah perdamaian, engkau juga harus condong ke arah itu, dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dia itu Yang Maha-mendengar, Yang Maha-tahu.

 

62. Dan apabila mereka bermaksud hendak menipu engkau,1021 maka sesungguhnya Allah itu sudah cukup bagi engkau. Dia ialah Yang memperkuat engkau dengan pertolongan-Nya dan dengan kaum mukmin.

 

63. Dan Ia mempersatukan hati mereka. Jika engkau membelanjakan apa saja yang ada di bumi, engkau tak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah-lah Yang mempersatukan antara mereka. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-perkasa, Yang Maha-bijaksana.

 

64. Wahai Nabi, Allah sudah cukup bagi engkau dan bagi orang yang mengikuti engkau di antara kaum mukmin.

Ruku’ 9: Kaum Muslimin harus menghadapi musuh yang jumlahnya lebih besar

 

65. Wahai Nabi, kobarkanlah semangat kaum mukmin untuk bertempur.1022 Jika di antara kamu terdapat dua puluh orang yang tabah, mereka akan mengalahkan dua ratus; dan jika di antara kamu terdapat seratus, mereka akan mengalahkan seribu kaum kafir, karena mereka adalah kaum yang tak mengerti.1022a

 

66. Kini Allah meringankan beban kamu, dan Dia tahu bahwa di dalam kamu terdapat kelemahan. Maka dari itu jika di antara kamu terdapat seratus yang tabah, mereka akan mengalahkan dua ratus; dan jika di antara kamu ada seribu, mereka akan mengalahkan dua ribu dengan izin Allah. Dan Allah itu menyertai orang-orang yang tabah.1023

 

67. Tak layak bagi Nabi untuk mengambil tawanan, kecuali setelah ia bertempur dan menang di bumi. Kamu menghendaki barang-barang tak kekal di dunia, sedangkan Allah menghendaki Akhirat (bagi kamu). Dan Allah itu Yang Maha-perkasa, Yang Maha-bijaksana.1024

 

68. Sekiranya tak ada undang-undang Allah yang sudah lampau,1025 niscaya ditimpakan kepada kamu siksaan yang besar, karena apa yang telah kamu kerjakan.1026

 

69. Maka makanlah (barang) yang halal dan baik yang kamu peroleh dalam pertempuran, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

Ruku’ 10: Hubungan Negara Islam dengan Negara lain

 

70. Wahai Nabi, katakanlah kepada para tawanan yang berada di tangan kamu: Jika Allah tahu suatu yang baik di dalam hati kamu, niscaya Ia akan memberikan kepada kamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil dari kamu, dan Ia akan mengampuni kamu. Dan Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

 

71. Dan apabila mereka berniat untuk mengkhianati kamu, maka sesungguhnya mereka telah mengkhianati Allah sebelum ini, tetapi ia membuat (kamu) berkuasa atas mereka. Dan Allah itu Yang Maha-tahu, Yang Maha-bijaksana.

 

72. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah dan berjuang di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwa mereka, dan orang-orang yang memberi perlindungan dan memberi pertolongan — mereka satu sama lain adalah kawan. Adapun orang-orang yang beriman dan tak berhijrah, kamu tak bertanggung jawab sedikit pun untuk melindungi mereka, sampai mereka berhijrah. Dan jika mereka minta pertolongan kepada kamu tentang perkara agama, maka wajib bagi kamu untuk menolong (mereka), terkecuali terhadap kaum yang antara kamu dan mereka telah mengadakan perjanjian. Dan Allah itu Yang Maha-melihat apa yang kamu kerjakan.1027

 

73. Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka adalah kawan sebagian yang lain. Jika kamu tak melakukan itu, niscaya terjadi penindasan di bumi dan kerusakan yang besar.1028

 

74. Adapun orang-orang yang beriman dan berhijrah dan berjuang di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi perlindungan dan memberi pertolongan, mereka adalah kaum mukmin sejati. Mereka memperoleh pengampunan dan rezeki yang mulia.

 

75. Adapun orang-orang yang beriman sesudah itu, dan berhijrah dan berjuang bersama kamu, mereka adalah golongan kamu. Dan orang yang mempunyai hubungan keluarga adalah lebih dekat satu sama lain dalam undang-undang Allah. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-tahu akan segala sesuatu.1029

  1. Nafl, jamaknya nawâfil, artinya perbuatan yang dikerjakan secara sukarela, seperti shalat sunnah; dan nafal yang jamaknya anfâl, artinya tambahan dari apa yang menjadi haknya, atau dana sukarela atau rampasan perang. Para mufassir berlainan pendapatnya tentang apa yang dimaksud anfâl di sini. Adapun pendapat yang paling disepakati ialah, anfâl di sini artinya harta yang diperoleh dalam pertempuran, jadi sama artinya dengan ghanimah. Akan tetapi peraturan pembagian harta yang diperoleh dari pertempuran yang disebut ghanimah, ini diuraikan dalam ayat 41. Menurut R, anfâl berarti harta yang diperoleh tanpa usaha untuk memperolehnya, dan atas dasar ini, sebagian mufassir mengartikan anfâl sebagai harta yang diperoleh pada waktu perang, sedangkan sebenarnya tidak terjadi perang; tetapi istilah yang sebenarnya untuk ini ialah fai; untuk jelasnya lihatlah 59:7. Oleh karena semua harta yang diperoleh pada waktu perang digunakan istilah ghanimah, atau fai’, maka kata anfâl kami ambil makna aslinya, yakni dana sukarela yang digunakan untuk kepentingan Islam, karena dana sukarela semacam ini amatlah diperlukan pada waktu agama Islam dalam keadaan bahaya. Tak ada perang yang dapat dibenarkan, kecuali perang yang dibiayai dengan dana sukarela oleh mereka yang sedang dalam keadaan bahaya, yaitu perang yang dilakukan untuk membela diri. Adapun perang yang dibiayai dari hasil pinjaman, yang akhirnya akan memberatkan beban rakyat, ini adalah perangnya kaum kapitalis yang bertentangan dengan kepentingan rakyat. []
  2. Hal ihwal perang Badar, banyak disalahmengertikan, bahkan oleh kalangan kaum Muslimin sendiri. Pendapat kaum Nasrani tentang hal ini disimpulkan dalam tafsir tuan Palmer: “Kejadian yang diisyaratkan di sini ialah tatkala Muhammad bersiap-siap untuk menyerang kafilah yang tak bersenjata yang sedang dalam perjalanan pulang dari Syria menuju Makkah. Pada waktu itu Abu Sufyan, yang ditugaskan memimpin kafilah, mengirim berita ke Makkah , lalu mendapat bala bantuan lebih kurang seribu orang; kebanyakan para pengikut Muhammad hanya ingin menyerang kafilah itu saja, tetapi Nabi dan pengikutnya yang terdekat bersepakat untuk menyerbu bala-bantuan”.
    Jika seluruh peristiwa yang disebutkan di sini diuraikan secara terpisah, memanglah benar, tetapi mereka keliru dalam menghubungkan peristiwa itu satu sama lain. Memang benar bahwa suatu kafilah sedang dalam perjalanan pulang dari Syria, dan suatu pasukan sedang bergerak dari Makkah; dan benar pula sebagian kaum Muslimin menghendaki menyerang kafilah itu saja dan tak ingin bertempur melawan tentara Makkah. Kota Madinah terletak tiga belas hari perjalanan dari Makkah, maka dari itu jika terlintas dalam pikiran Nabi Suci untuk merampok kafilah, niscaya beliau dapat melakukan itu sebelum Abu Sufyan memperoleh bala-bantuan, yang ini akan memakan waktu satu bulan lamanya, bahkan ini pun baru terjadi apabila Abu Sofyan tahu akan niat Nabi Suci, dan ia segera minta bantuan dari Makkah. Mengapa Nabi Suci harus menunggu dan tak segera menyerang kafilah tersebut sebelum bala-bantuan datang dan sampai di tempat Abu Sufyan?
    Badar, tempat terjadinya pertempuran, terletak dalam jarak tempuh tiga hari perjalanan dari Madinah. Di sinilah bertemunya dua pasukan yang bergerak dari tempat mereka masing-masing. Ini menunjukkan bahwa pasukan Makkah sudah berangkat lebih dulu menuju Madinah sebelum kaum Muslimin mengadakan persiapan. Tatkala dua pasukan saling berhadapan, pasukan musuh telah menempuh perjalanan sepuluh hari lebih awal, sedang kaum Muslimin hanya tiga hari. Ini menunjukkan seterang-terangnya bahwa kaum Muslimin dalam keadaan membela diri terhadap serbuan musuh. Nabi Suci tak pernah merencanakan untuk menyerang kafilah, karena jika beliau mempunyai niat demikian, niscaya beliau dapat melakukan itu sebelum pasukan Makkah bergerak ke Madinah; dengan demikian, kekuatan beliau akan bertambah untuk menghadapi pasukan musuh yang jauh lebih kuat. Tetapi terang sekali bahwa Nabi Suci baru bergerak setelah pasukan musuh menempuh perjalanan tiga perempat perjalanan menuju Madinah, dan kafilah telah jauh meninggalkan Madinah.
    Selanjutnya diterangkan dalam ayat ini bahwa segolongan kaum Mukmin tidak mau berperang. Mereka tak mungkin enggan jika mereka hanya disuruh menyerang kafilah yang tak bersenjata. Apa yang diuraikan dalam ayat berikutnya lebih menjelaskan lagi persoalan ini: mereka berangkat seakan-akan digiring menuju kepada kematian; karena mereka tahu bahwa mereka harus bertempur melawan musuh yang bukan saja lebih besar jumlahnya, melainkan pula lebih kuat persenjataannya dan lebih terlatih. []
  3. Yang dimaksud dua golongan di sini ialah kafilah Quraisy yang tak bersenjata yang sedang pulang menuju Makkah, dan pasukan Quraisy yang sedang bergerak menuju Madinah. Sudah tentu sebagian kaum Muslimin menghendaki agar pertempuran dilakukan terhadap kafilah Quraisy yang tak bersenjata, yang waktu itu sudah jauh dari Madinah, dan bukan menghadapi pasukan musuh yang kuat yang sedang bergerak menuju Madinah. []
  4. Yang dimaksud firman-Nya ialah terpenuhinya firman Allah; karena lama sebelum Hijrah, Nabi Suci telah mengumumkan di Makkah bahwa pertempuran akan terjadi antara kaum Muslimin dan kaum Quraisy, yang akan dimenangkan oleh kaum Muslimin. Sampai saat itu, ramalan Nabi Suci ditertawakan oleh kaum kafir Makkah, karena mereka menganggap bahwa kekuatan mereka tak mungkin bisa dipatahkan oleh kaum Muslimin yang belum seberapa kekuatannya. Dari beberapa ramalan yang akan diuraikan pada tempatnya yang tepat, kami hanya akan mengutip satu saja yang oleh Nabi Suci sendiri diulang dengan suara keras di medan perang. Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas, bahwa pada waktu dimulai Perang Badar, Nabi Suci berdoa: “Ya Allah, aku mohon sukalah Engkau memenuhi janji Engkau dan kemudahan dari Engkau! Ya Allah, jika Engkau menghendaki (untuk membinasakan kelompok ini), Engkau tak akan disembah (di bumi)”. Lalu Nabi Suci bangkit dan berteriak: “Pasukan besar akan dicerai-beraikan dan akan berbalik punggung” (B. 56:89). Ayat ini termuat dalam 54:45, salah satu Wahyu Makkiyah permulaan; peristiwa itu menunjukkan bahwa pentingnya perang Badar itu karena banyaknya ramalan, yang terpenuhinya ramalan itu membuktikan benarnya Nabi Suci. []
  5. Bandingkanlah dengan 3:124 yang menerangkan turunnya malaikat pada perang Uhud. Dan lihatlah tafsir nomor 485, yang menjelaskan tujuan turunnya malaikat. Dalam Qur’an tak ada ayat yang menerangkan bahwa malaikat sungguh-sungguh berperang, melainkan, baik di sini maupun dalam 3:126, diterangkan bahwa turunnya malaikat hanyalah untuk memberi kabar gembira tentang kemenangan, dan untuk menenteramkan hati kaum Muslimin. Selanjutnya dalam ayat 11 bahwa sebagai hasil dari turunnya malaikat, kaum Muslimin merasa tenang, hati mereka merasa kuat, langkah mereka menjadi mantap; dan dalam ayat 12 diterangkan bahwa batin kaum mukmin dibikin teguh, sedang kecemasan dilemparkan dalam batin kaum kafir. Oleh sebab itu, pada tiap-tiap pertempuran, jumlah malaikat disesuaikan dengan kekuatan musuh; dalam perang Badar, jumlah mereka seribu, sama dengan kekuatan musuh. Adapun dua pertempuran lainnya, lihatlah tafsir nomor 485. []
  6. Bandingkanlah dengan ramalan tersebut dalam 25:25 tentang peristiwa pertempuran yang amat menarik perhatian: “Pada hari tatkala langit terbelah dengan awan, dan para malaikat turun beruntun”. Hujan membawa banyak keuntungan bagi kaum Muslimin; lihatlah tafsir berikut ini. []
  7. Sebelum turun hujan, posisi kaum Muslimin sangat lemah. Musuh menguasai air, sedang kaum Muslimin berada di tempat yang rendah dan berpasir. Oleh sebab itu sebagian mereka merasa was-was, yang dalam ayat ini dikatakan: akibat kekotoran setan. Karena air dikuasai musuh, kaum Muslimin khawatir akan terancam kehausan, yang lazim disebut setan padang pasir. Turunnya hujan memperkuat posisi kaum Muslimin dan sekaligus menenteramkan hati mereka. Inilah yang disebut penyucian, karena setelah hujan turun, mereka bertambah yakin akan pertolongan Ilahi, dan yakin pula akan kemenangan mereka menghadapi musuh. []
  8. Terang sekali bahwa kalimat terakhir ini ditujukan kepada kaum mukmin yang sedang berperang. Memukul di atas leher, atau memotong kepala, karena yang di atas leher adalah kepala. Dan memukul ujung jari artinya memotong tangan yang memegang senjata untuk membunuh kaum Muslimin. Dua kalimat ini, yang pertama berarti membunuh musuh, dan yang kedua, berarti melukai musuh begitu rupa hingga tak berdaya untuk mengikuti pertempuran selanjutnya. []
  9. Artinya, rasakanlah siksaan dunia ini sebagai pertanda adanya siksaan Neraka di Akhirat. []
  10. Zahafa makna aslinya ia berjalan sedikit demi sedikit, dan makna ini diterapkan terhadap anak kecil yang merangkak sebelum ia dapat berjalan. Kemudian zahf diartikan tentara atau pasukan yang bergerak sedikit demi sedikit ke arah musuh, atau berjalan dengan susah payah karena besarnya pasukan dan banyaknya senjata (LL). Jadi, kata zahf ini sama artinya dengan perang, sebagaimana tersebut dalam Hadits yang dikutip oleh T: “farra minal-zahfi artinya ia lari dari peperangan (LL). []
  11. Rama mempunyai macam-macam makna, melempar, menyambit, membuang, menyerbu, memukul, memanah, lari dan sebagainya (LL). Kata ini digunakan sehubungan dengan pertempuran; maka dari itu, kami pilih memukul sebagai arti kata rama, yang terang artinya tanpa mencari-cari sasaran yang diperlukan. Bagian permulaan ayat ini ditujukan kepada kaum Muslimin seumumnya — kamu tak membunuh mereka, tetapi Allah-lah Yang membunuh mereka, karena di sini digunakan bentuk jamak, adapun bagian kedua ditujukan kepada Nabi Suci, karena di sini digunakan bentuk mufrad (tunggal). Jika tidak demikian, niscaya tak perlu dibedakan kata-katanya. Kaum Muslimin membunuh musuh, tetapi sebenarnya bukan mereka yang membunuh, melainkan Allah-lah Yang membunuh mereka; adapun artinya terang, yakni tangan Allah bekerja dalam pertempuran, mengingat adanya kenyataan bahwa tiga ratus orang, yang sebagian besar terdiri dari pemuda yang belum berpengalaman, tak berkuda dan tak lengkap persenjataannya, dapat mengalahkan seribu pasukan musuh yang hebat. Demikian pula mengenai Nabi Suci memukul musuh, tersebut dalam kalimat berikutnya, ini pun harus diberi arti yang sama. Apakah Nabi Suci benar-benar melemparkan segenggam kerikil kepada musuh hingga mereka kalah, ini adalah soal lain. Yang terang ialah, musuh yang sangat kuat dapat dikalahkan oleh kaum Muslimin yang jumlahnya hanya sepertiga dari jumlah musuh, padahal keterampilan dan persenjataan mereka, jika dibandingkan dengan kaum Muslimin, sama dengan satu banding sepuluh. Memang tangan Allah yang membunuh mereka, dan memang tangan Allah Yang memukul mereka, hingga akhirnya mereka lari tunggang langgang. Jika Nabi Suci melemparkan kerikil kepada musuh, ini sama sekali tak bertentangan dengan keterangan tersebut. []
  12. Kata iblâ’ itu sama artinya dengan kata balâ dan ibtilâ (dua kata kerja yang sama akar katanya), sekalipun makna asli kata itu ialah cobaan, namun arti yang disepakati oleh para mufassir di sini ialah pemberian nikmat (Rz). Para ahli kamus juga memberi arti demikian. Jadi, kalimat ablahu balâ’an, ini menurut LL berarti Allah berbuat baik kepadanya atau memberi keuntungan kepadanya. Pemberian kebaikan atau keuntungan yang dimaksud di sini ialah kemenangan yang memperkokoh pondasi agama Islam, dan hancurnya rencana jahat musuh yang bertekad menghancurkan Islam, sebagaimana diuraikan dalam ayat berikutnya. []
  13. Ini di sini berarti Inilah tujuan Allah melaksanakan pertempuran. []
  14. Diriwayatkan bahwa tatkala kaum Quraisy berangkat dari Makkah untuk menyerang kaum Muslimin, mereka memegang tirai Ka’bah sambil berdoa: “Wahai Allah, berilah pertolongan kepada yang paling utama di antara kedua pasukan, dan yang paling terpimpin di jalan yang benar di antara dua golongan, dan yang paling terhormat di antara dua kelompok, dan yang paling mulia di antara dua agama”. Riwayat lain menerangkan bahwa Abu Jahal berdoa di medan perang: “Wahai Allah, barangsiapa di antara kami paling memecah ikatan keluarga dan paling jahat, binasakanlah mereka besok pagi” (Rz). Dalam hubungan ini Palmer menerangkan bahwa kaum Quraisy berdoa seperti itu, “pada waktu mereka terancam oleh serangan Muhammad”, pendapat ini bertentangan dengan kenyataan sejarah. Mustahil sekali jika dikatakan bahwa Muhammad mengancam kaum Quraisy, mengingat jumlah kaum Muslimin tak ada seperseribunya dari jumlah penduduk Tanah Arab, lebih-lebih tentara Islam bukan apa-apa jika dibandingkan dengan tentara Quraisy yang amat kuat. []
  15. Dâbbah makna aslinya segala sesuatu yang berjalan atau merangkak atau merayap di muka bumi (LL). Oleh sebab itu, berarti binatang atau hewan atau sesuatu yang hidup. Hendaklah diingat bahwa yang dimaksud tuli dan bisu di sini ialah orang-orang yang tuli dan bisu rohaninya — yang tak mau mengerti. []
  16. Iman atau tunduk kepada Allah maknanya hidup, adapun kafir artinya mati. Sebagian mufassir berpendapat bahwa yang dimaksud yang memberi hidup kepada kamu di sini ialah Qur’an; mufassir lain berpendapat bahwa yang dimaksud ialah jihad atau berjuang untuk membela kebenaran. Jelasnya ialah iman. []
  17. Yang dimaksud hati di sini ialah keinginan hati. Allah menengahi antara orang dan hatinya, artinya, Allah memotong keinginan hatinya. Kaum Muslimin disuruh cepat-cepat menyambut seruan Nabi Suci, dan jangan menuruti keinginan duniawinya saja, karena keinginan semacam itu mungkin akan terputus. Atau yang dimaksud ialah agar mereka menyambut seruan Nabi Suci agar hati mereka tak menjadi keras karena tak mau menggunakan kesempatan untuk berbuat baik. Dan sebagai hukuman atas penolakannya yang pertama, boleh jadi Allah akan membelokkan hatinya hingga tak dapat kembali kepada kebaikan sama sekali. []
  18. Yang diisyaratkan di sini bukanlah peristiwa tertentu, melainkan peristiwa umum yang mencakup segala macam bencana, yang bukan saja menimpa orang-orang yang dimaksud semula (yaitu orang lalim), melainkan pula menimpa orang lain. []
  19. Pada saat itu, kaum Muslimin begitu lemah sehingga mereka dapat saja dilarikan dengan paksa. Demikianlah keadaan kaum Muslimin di Makkah. Di Madinah, mereka lebih aman, dan para musuh terpaksa menghimpun kekuatan untuk menghancurkan mereka. Atau, yang dimaksud pertolongan di sini ialah pertolongan Allah yang diberikan kepada kaum Muslimin dalam perang Badar. []
  20. Yang dimaksud di sini ialah rencana kaum Quraisy pada waktu para sahabat sudah hijrah ke Madinah, dan Nabi Suci masih tinggal di Makkah. Bermacam-macam rencana telah dikemukakan dalam suatu rapat besar yang diadakan oleh para pemimpin Quraisy di gedung pertemuan mereka. Akhirnya disepakati sebuah rencana agar Nabi Suci dibunuh dengan cara menikamkan pedang ke tubuh beliau yang dilakukan secara serentak oleh para pemuda dari berbagai kabilah, sehingga tak ada orang atau kabilah yang dapat melancarkan tuduhan terhadap seseorang atau suatu kabilah. Untuk tujuan inilah rumah Nabi Suci dikepung, tetapi secara diam-diam beliau dapat meloloskan diri (IH). Adapun rencana Tuhan ialah kaum kafir akan melihat hancurnya kekuasan mereka oleh tangan Nabi Suci. []
  21. Ini hanyalah lagak kosong belaka yang tak ada kenyataannya. Walaupun Qur’an berkali-kali menantang mereka supaya membuat yang seperti Qur’an, mereka tak dapat membuatnya, walaupun hanya membuat Surat yang paling pendek sekalipun. []
  22. Siksaan pasti akan menimpa mereka setelah Nabi Suci tidak berada di tengah-tengah mereka, yakni sesudah hijrah dari Makkah. Namun jika mereka mohon ampun, boleh jadi siksaan itu tidak akan ditimpakan. []
  23. Di sini diterangkan bahwa kaum kafir bukanlah juru kunci Masjid yang sebenarnya. Adapun sebabnya ialah, Masjid Suci adalah lambang Ketuhanan Yang Maha-esa, dan sejak zaman Nabi Ibrahim, nama Masjid Suci selalu dihubungkan dengan agama Tauhid, padahal kaum kafir yang kini mengaku sebagai juru kunci, kenyataannya adalah penyembah berhala. Mereka diberitahu bahwa mereka tak layak menjadi juru kunci Ka’bah; maka dari itu tugas ini harus diserahkan kepada orang-orang yang bertaqwa, yaitu kaum Muslimin. Kata-kata ini mengandung ramalan, yang intinya, kaum kafir Quraisy bukan hanya akan kehilangan kekuasaan sebagai juru kunci Ka’bah, melainkan pula kekuasaan ini akan dipindahkan ke tangan kaum Muslimin.
    1001a Sebenarnya Rumah Suci ini tak mereka gunakan sebagai tempat ibadah kepada Allah, melainkan digunakan untuk bercakap-cakap kotor dan gosip belaka. []
  24. []
  25. Berhenti dan kembali di sini bertalian dengan perang melawan kaum Muslimin, bukan bertalian dengan kekafiran, karena, orang kafir tak dapat dikatakan kembali kepada kekafiran. Mereka lari tunggang-langgang dari medan tempur Badar. Mereka diberitahu bahwa jika mereka menghentikan pertempuran, mereka akan diampuni. []
  26. Artinya, mereka dapat membaca nasib mereka sendiri berdasarkan nasib umat zaman dahulu yang disiksa oleh Allah karena perkara yang sama. Bandingkanlah dengan 18:55, yang menerangkan bahwa kaum kafir hanya menantikan “apa yang dialami oleh orang-orang dahulu yang pasti akan menimpa mereka”. []
  27. Artinya, jika mereka menghentikan pertempuran dan mengakhiri kesewenang-wenangan mereka, keputusan Allah untuk menjatuhkan siksaan tak akan dilaksanakan. Allah tahu apa yang dilakukan oleh manusia, dan jika mereka memperbaiki kelakuan mereka, Allah tak akan menyiksa mereka. Kemerdekaan beragama yang dituju oleh Islam diungkapkan secara singkat dalam kalimat pendek pada permulaan ayat: sampai tak ada lagi penindasan dan (sampai) semua agama kepunyaan Allah. []
  28. Jika mereka kembali bertempur, maka Allah akan melindungi umat Islam, dan menolong mereka dari serangan musuh, sebagai Pelindung dan Penolong mereka. []
  29. LL menjelaskan bahwa arti kata ghanama ialah memperoleh barang tanpa susah payah. Oleh sebab itu, kata ghanimah makna aslinya pendapatan atau hasil, lalu kata ini diterapkan terhadap apa yang diperoleh dalam pertempuran, setelah mereka selesai bertempur dan mengalahkan musuh; dan ghanimah adalah kata istilah bagi harta semacam itu.
    Adapun seperlima yang diterangkan di sini, ini menurut pendapat yang paling disepakati, harus dibagi lagi menjadi lima bagian, yaitu, untuk Nabi Suci, untuk kaum kerabat, anak yatim, kaum miskin dan orang yang bepergian, masing-masing mendapat bagian yang sama. Yang dimaksud kaum kerabat, ialah semua orang yang termasuk kabilah Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthallib yang tidak boleh menerima zakat. Jadi, kaum miskin dari golongan mereka mendapat bagian dari sumber ini. Adapun bagian Nabi Suci sebanyak seperdua puluh lima, ini diperuntukkan pula bagi kepentingan kaum Muslimin. Hadits tentang ini berbunyi: Wal-khumsu mardudun fikum, artinya yang seperlima dikembalikan kepada kamu. Semua orang mengakui bahwa Nabi Suci hidup sangat sederhana. Sisa ghanimah yang empat perlima dibagikan kepada orang-orang yang mengikuti pertempuran, karena jika tidak, mereka tak mendapat uang jasa apa-apa, tetapi perintah pembayaran uang jasa ini tak diterangkan dalam Qur’an. Hendaklah diingat bahwa peraturan ini hanya berlaku dalam keadaan darurat. Perang dilancarkan terhadap kaum Muslimin dengan tiba-tiba, padahal Pemerintah Islam pada waktu itu belum dibentuk menurut apa mestinya, kaum Muslimin tak mempunyai tentara dan tak punya persediaan untuk membiayai militer; tetapi mereka harus bertempur atas dasar dana sukarela, maka dari itu, mereka diizinkan mendapat bayaran dari rampasan perang. Jika tentara mendapat bayaran dari Pemerintah seperti pegawai sipil, maka seluruh rampasan perang harus dimasukkan ke Kas Negara. Tak ada yang menerangkan bahwa Pemerintah Islam tak boleh membentuk tentara tetap (regular army).

     

    Hari Pemisah yang dituju di sini ialah Perang Badar. Perang Badar disebut demikian, karena ramalan tentang pertempuran antara kaum Muslimin dan musuh dan ramalan tentang hancurnya para musuh, terdapat dalam wahyu permulaan. Lihatlah tafsir nomor 395. []

  30. Dalam ayat ini dijelaskan kedudukan tiga pasukan, yaitu, pasukan kaum Muslimin dan dua pasukan kaum Quraisy. Kaum Muslimin berada di sisi lembah yang dekat, yakni dekat dengan Madinah; pasukan inti kaum Quraisy berada di sisi yang jauh, yakni jauh dari Madinah, sedang kafilah kaum Quraisy berada di tempat yang lebih rendah, menuju ke pantai dalam perjalanan pulang ke Makkah, mereka sudah jauh dari Madinah. []
  31. Kaum Muslimin begitu lemah hingga tak terlintas dalam pikiran mereka untuk membuat perjanjian dengan musuh yang pasti akan mengingkari janji itu. []
  32. Di sini terdapat penyingkatan kalimat; adapun arti kalimat itu ialah: akan tetapi pertempuran tetap dilaksanakan tanpa adanya perjanjian. []
  33. Perkara yang harus terjadi, artinya Allah memutuskan untuk melaksanakan itu. Maf’ul makna aslinya sesuatu yang dikerjakan. Bentuk fi’il madli (past tense) acapkali digunakan apabila suatu kejadian sudah pasti akan terjadi. Perkara yang diisyaratkan di sini ialah hancurnya para musuh Islam. []
  34. Orang-orang kafir telah melihat tanda bukti yang terang tentang kebenaran Nabi Suci, namun mereka tetap menolak beliau, dengan demikian mereka sungguh-sungguh binasa. Atau yang dimaksud ialah mereka yang akan binasa hendaklah binasa dengan tanda bukti yang terang, dan mereka yang akan hidup, hendaklah hidup dengan tanda bukti yang terang; adapun yang dimaksud tanda bukti yang terang di sini ialah pertempuran. []
  35. Dalam ayat sebelumnya diterangkan, bahwa musuh ditampakkan sedikit dalam impian Nabi Suci, dan di sini kita diberitahu bahwa tatkala dua pasukan saling berhadapan, pasukan musuh ditampakkan sedikit kepada kaum Muslimin. Ini telah diterangkan sejelas-jelasnya dalam tafsir nomor 395. Adapun impian Nabi Suci bahwa mereka tampak sedikit, ini harus diartikan bahwa mereka benar-benar lemah, sekalipun jumlah mereka besar. []
  36. Terang sekali bahwa apa yang dimaksud di sini ialah pasukan Quraisy yang bergerak dengan bersorak-sorai untuk menyerbu Madinah. []
  37. Diriwayatkan bahwa yang dimaksud setan di sini ialah Suraqah bin Malik dari kabilah Bani Bakar, cabang dari kabilah Bani Kananah. Tatkala kaum Quraisy bergerak untuk menyerang Madinah, mereka takut kalau-kalau kabilah Bani Kananah, musuh lama mereka, akan menyerang Makkah pada waktu mereka sedang pergi. Suraqah menjanjikan bantuan kepada mereka. Akan tetapi, boleh jadi, yang dibicarakan di sini hanyalah bisikan jahat setan kepada para pemimpin Quraisy. []
  38. Disebutnya kaum Fir’aun di sini dimaksudkan untuk menunjukkan adanya persamaan antara Nabi Suci dengan Nabi Musa, dan untuk meramalkan kekalahan para musuh. []
  39. Ini menunjukkan betapa tak acuhnya para musuh Islam terhadap tanggung jawab mereka dan pelanggaran mereka terhadap perjanjian. Digunakannya kata setiap kali dalam pelanggaran perjanjian, menunjukkan seterang-terangnya bahwa kaum Muslimin tak pernah ragu-ragu dalam membuat perjanjian baru, apabila perjanjian yang lama dilanggar, namun kaum kafir tetap tak menghargai perjanjian mereka. Oleh sebab itu, pada tingkat terakhir, kaum Muslimin diizinkan membatalkan perjanjian yang tak dihargai itu (ayat 58). []
  40. Artinya, hukuman teladan harus dijatuhkan terhadap mereka agar di kemudian hari tak terulang lagi pertempuran dan pertumpahan darah. []
  41. Jika pihak musuh tak menepati perjanjian perdamaian, kaum Muslimin diperbolehkan membatalkan perjanjian itu. Digunakannya kata khawatir tidaklah berarti kekhawatiran itu saja sudah cukup sebagai alasan untuk membatalkan perjanjian, tanpa disertai perbuatan di pihak musuh. Bacalah ayat-ayat ini bersama ayat 62, nanti akan terang artinya. []
  42. Kata quwwah artinya sesuatu yang menjadi sumber kekuatan, termasuk di dalamnya segala macam alat dan taktik pertempuran, baik offensif maupun defensif. Kaum Muslimin mendapat kemenangan dalam perang Badar, sekalipun persenjataan mereka tak lengkap dan tidak pernah mengadakan persiapan perang. Tetapi di sini mereka diberitahu bahwa untuk selanjutnya mereka harus membuat persiapan yang baik dan berusaha untuk mendapatkan segala sumber kekuatan, agar dengan kesiap-siagaan itu para musuh mengambil sikap damai. Sudah jelas bahwa lemahnya kaum Muslimin akan mendorong para musuh untuk menyerang mereka. []
  43. Penipuan di sini adalah sehubungan dengan apa yang diuraikan dalam ayat sebelumnya; adapun yang dimaksud ialah, apabila mereka bermaksud untuk menipu engkau dengan berselubung perdamaian; meskipun demikian, ajakan damai harus diterima. []
  44. Hendaklah diingat bahwa perang yang untuk itu kaum Muslimin harus dikobarkan semangatnya, ialah perang untuk membela diri, yang harus dilakukan untuk keselamatan mereka sendiri dan untuk melindungi agama Islam. Serangan benar-benar telah dilancarkan terhadap kaum Muslimin; lihat 2:190, 217; 22:39. []
  45. 1022a Jika dibandingkan dengan jumlah musuh, jumlah kaum Muslimin sangat sedikit, bahkan lebih kecil dari satu orang Islam banding sepuluh orang kafir. Jadi ayat ini merupakan ramalan, bahwa sekalipun jumlah kaum Muslimin lebih sedikit, namun mereka akan menang. Setelah perang Badar, terjadilah perang Uhud, dimana jumlah kaum Muslimin satu banding empat, lalu disusul perang Ahzab, jumlah kaum Muslimin satu banding sepuluh. Meskipun demikian, musuh lari tunggang-langgang.
    Oleh sebagian mufassir dikatakan bahwa ini menghapus ayat sebelumnya, yakni ayat yang menyatakan bahwa dua puluh kaum Muslimin yang tabah akan mengalahkan dua ratus kaum kafir. Tetapi pendapat itu keliru. Pertama, karena yang dapat dikatakan dihapus ialah perintah, bukan pernyataan. Kedua, karena dua pernyataan itu bertalian dengan dua keadaan kaum Muslimin yang berlainan. Pada waktu terjadi perang Badar, kaum Muslimin tak mempunyai tentara . Pada saat itu, siapa saja, baik orang muda maupun tua, baik yang sehat maupun yang sedang sakit, semuanya harus bertempur untuk menyelamatkan umat. Mereka hanya memiliki beberapa pucuk senjata, dan mereka tak pernah dilatih. Itulah yang dituju oleh kalimat: Dia tahu bahwa di dalam kamu terdapat kelemahan. Maka dari itu, pasukan Islam yang begitu keadaannya, paling banter hanya dapat menghadapi musuh yang jumlahnya dua kali lipat. Tetapi akan tiba saatnya bahwa mereka harus menghadapi musuh yang jumlahnya sepuluh kali lipat. Maka dari itu, dua pernyataan Qur’an tersebut, sama benarnya. Walaupun seandainya dua ayat tersebut dianggap perintah kepada kaum Muslimin untuk mengalahkan musuh yang jumlahnya dua kali lipat, dan kemudian sepuluh kali lipat, namun masalah nasikh-mansukh tentang ayat itu tetap tak ada, karena di sini terdapat dua macam perintah yang disesuaikan dengan keadaan kaum Muslimin pada waktu itu, dan keadaan kaum Muslimin di kemudian hari, tatkala mereka bersenjata lengkap. []
  46. Banyak yang salah mengerti tentang arti kata yutskhina di sini. Tsakhuna artinya ia menjadi gemuk; dan atskhana berarti ghalaba maknanya menang (LA). Perkataan ini dicantumkan sekali lagi dalam Qur’an dengan arti yang sama: “Sampai tatkala kamu mengalahkan mereka, jadikanlah mereka tawanan” (47:4).
    Berdasarkan suatu Hadits, para mufassir berpendapat bahwa ayat ini dan ayat berikutnya menerangkan pembebasan tawanan yang ditawan dalam perang Badar sesudah mereka membayar uang tebusan, yang ini dianggap tak dibenarkan oleh ayat ini. Tetapi ada beberapa pertimbangan yang menunjukkan bahwa ayat ini menerangkan peristiwa lain. Pertama, syarat yang diajukan di sini untuk menawan orang ialah, Nabi Suci harus bertempur melawan musuh, dan syarat ini telah ditepati oleh Nabi Suci pada waktu perang Badar. Kedua, dalam keadaan demikian, menawan dan membebaskan tawanan, dibenarkan dengan kata-kata yang terang oleh ayat berikutnya: “Wahai Nabi, katakanlah kepada para tawanan yang ada di tangan kamu: jika Allah tahu sesuatu yang baik dalam hati kamu, niscaya Dia akan memberikan kepada kamu yang lebih baik daripada apa yang telah diambil dari kamu, dan akan mengampuni kamu” (8:70). Ini menunjukan bahwa ayat ini diturunkan pada waktu para tawanan masih di tangan kaum Muslimin; dan apa yang telah diambil dari mereka ialah uang tebusan yang tiba di Madinah selang waktu beberapa hari. Jika ayat ini mengandung perintah untuk membunuh para tawanan, dan bukan perintah untuk membebaskan mereka, niscaya perintah ini telah dikerjakan beberapa hari sebelumnya. Tetapi nyatanya, membunuh tawanan tak pernah dilakukan, ini membuktikan seterang-terangnya bahwa ayat ini tak mengandung perintah untuk membunuh tawanan.
    Tindakan Nabi Suci pada saat itu betul dan dikuatkan oleh ayat yang diturunkan sebelumnya yang bunyinya: “Maka jika kamu bertemu dengan orang-orang kafir dalam pertempuran, pukullah leher (mereka); lalu jika kamu mengalahkan mereka, buatlah mereka (tawanan), dan sesudah itu (bebaskanlah mereka) sebagai karunia, ataupun dengan tebusan, sampai pertempuran meletakkan bebannya.” (47:4). Nabi Suci tak pernah membunuh tawanan seorang pun meskipun perang Badar usai dan beribu-ribu tawanan telah ditahan dari beberapa hasil pertempuran yang beliau lakukan. Sebaliknya, para tawanan selalu dibebaskan dengan kasih sayang, hanya beberapa tawanan dari perang Badar saja yang diharuskan membayar uang tebusan.
    Jika demikian halnya, lalu apa yang dituju oleh ayat ini dan ayat berikutnya? Menurut kami, jelaslah bahwa yang dituju oleh ayat tersebut ialah, adanya keinginan (perhatikanlah kata menghendaki yang digunakan dalam ayat ini) dari segolongan kaum Muslimin yang diisyaratkan dalam ayat 7 yang bunyinya: Dan kamu menginginkan agar golongan yang tak bersenjata menjadi kepunyaan kamu; jadi yang dituju bukanlah suatu tindakan yang telah selesai dikerjakan. Sebagian kaum Muslimin menghendaki untuk menyerang dan merampas kafilah yang tak bersenjata, tetapi tindakan merampas semacam itu tak layak dikerjakan oleh seorang Nabi, sekalipun ini sering dilakukan oleh kaum kafir terhadap kaum Muslimin. Nabi Suci harus bertempur terlebih dulu untuk membela diri, lalu jika beliau dapat mengalahkan musuh, barulah beliau boleh menawan musuh. Jadi ayat ini pun menerangkan bahwa perbudakan tak dibenarkan; adapun yang diizinkan hanyalah menawan orang pada waktu perang. Adapun yang dimaksud barang-barang tak kekal di dunia ialah barang-barang dagangan kafilah, sedangkan kalimat penutup ayat 69 yang berbunyi: makanlah barang yang halal dan baik yang kamu peroleh dalam pertempuran, ini menunjukkan bahwa uang tebusan yang didapat dari para tawanan, tergolong barang-barang halal dan baik. []
  47. Peraturan Allah disebutkan di beberapa tempat dalam Surat ini; ini untuk melaksanakan pertempuran dengan pasukan inti kaum Quraisy di Badar: “Dan tatkala Allah menjanjikan kepada kamu salah satu di antara dua golongan yang akan menjadi kepunyaan kamu …. Dan Allah menghendaki untuk menegakkan Kebenaran” (ayat 7); dan pula: “Agar Allah melaksanakan perkara yang harus terjadi” (ayat 42). []
  48. Kalimat akhadha fî kadhâ artinya mulai membiasakan diri, atau mulai mengerjakan ini (LL). []
  49. Persahabatan yang disinggung di sini menjadi bahan perbincangan ramai di kalangan para mufassir. Adapun artinya sudah jelas. Orang-orang beriman, karena mereka dianiaya, mereka terpaksa lari meninggalkan tempat kediaman mereka, lalu di Madinah mereka membentuk masyarakat Islam bersama penduduk asli Madinah yang memberi perlindungan dan pertolongan kepada mereka, yang dikenal sebagi kaum Anshar. Tetapi ada sebagian kaum mukmin yang memilih tinggal di rumah sendiri (tak ikut hijrah). Sudah tentu umat Islam di Madinah tak dapat melindungi mereka, dan inilah yang dimaksud oleh kalimat kamu tak bertanggung jawab sedikit pun melindungi mereka. Akan tetapi jika mereka minta pertolongan tentang perkara agama, maka umat Islam wajib memberi pertolongan kepada mereka, terkecuali jika pertolongan yang diminta itu untuk melawan suatu kaum yang telah mengadakan perjanjian persekutuan dengan kaum Muslimin. []
  50. Jika kamu tak menolong saudara-saudara kamu dalam perkara agama, niscaya kaum kafir akan lebih berani dalam kesewenang-wenangan mereka, dan lebih berani dalam berbuat kerusakan dan keonaran di bumi. []
  51. Jika orang lain saja setelah memeluk Islam dan ikut berhijrah, mereka menjadi “golongan kamu”, apalagi orang yang mempunyai hubungan keluarga, pasti mereka lebih berhak mendapat perlindungan umat Islam dalam segala kepentingan mereka.[] []

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *