Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home / Al-Quran / 011 Hud

011 Hud

SURAT 11

Hud

(Diturunkan di Makkah, 10 ruku’, 123 ayat)

Mukaddimah Surah Buka

 

Ruku’ 1: Peringatan

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih.

 

1. Aku, Allah, Yang Maha-melihat. (Ini adalah) Kitab yang ayat-ayatnya bercirikan hikmah, lalu diterangkan dengan jelas, dari Yang Maha-bijaksana, Yang Maha-waspada.

 

2. Agar kamu tak mengabdi kepada siapa pun selain Allah. Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan dari Dia kepada kamu, dan pemberi kabar baik.

 

3. Dan mohonlah ampun kepada Tuhan kamu, lalu bertobatlah kepada-Nya. Dia akan memperlengkapi kamu dengan perlengkapan yang baik sampai batas waktu yang ditentukan, dan Dia akan memberi anugerah-Nya kepada setiap orang yang diberi anugerah.1161 Dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kalau-kalau kamu tertimpa siksaan pada hari yang agung.

 

4. Kepada Allah-lah tempat kamu kembali; dan Dia adalah Yang berkuasa atas segala sesuatu.

 

5. Ingatlah, sesungguhnya mereka menutupi dada mereka1162 untuk menyembunyikan (permusuhan mereka) terhadap Dia) Ingatlah tatkala mereka memakai kain sebagai penutup.1163 Ia tahu apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Ia adalah Yang Maha-tahu apa yang ada dalam hati.
JUZ XII

 

6. Dan tiada binatang di bumi melainkan rezekinya ada pada Allah, dan Ia tahu tempat peristirahatannya dan tempat penyimpanannya. Semuanya adalah dalam kitab yang terang.

 

7. Dan Dia ialah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; dan singgasana Kekuasaan-Nya senantiasa di atas air1164 agar Ia membentangkan (sifat-sifat baik) kamu, siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya.1165 Dan jika engkau berkata, sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati, orang-orang kafir pasti berkata: Ini tiada lain hanyalah tipu daya yang terang.1166

 

8. Dan jika siksaan mereka Kami tangguhkan sampai jangka waktu tertentu,1167 mereka pasti akan berkata: Apakah yang menghalanginya? Ingatlah pada hari tatkala (siksaan) mendatangi mereka, ini tak dapat dielakkan dari mereka, dan apa yang mereka perolok-olokkan akan melingkupi mereka.
 

Ruku’ 2: Kebenaran Wahyu

 

9. Dan jika Kami icipkan kepada manusia rahmat dari Kami, lalu itu Kami cabut dari dia, niscaya ia menjadi putus asa, tak berterima kasih.

 

10. Dan jika Kami icipkan kenikmatan kepadanya setelah ia ditimpa kemalangan, niscaya ia akan berkata: Keburukan telah lenyap dariku. Ia sungguh-sungguh girang, sombong.

 

11. Kecuali orang-orang yang sabar dan berbuat baik, mereka mendapat pengampunan dan ganjaran yang besar.

 

12. Lalu, boleh jadi engkau meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepada engkau, dan dada engkau menjadi sempit karenanya, karena mereka berkata: Mengapa tak diturunkan perbendaharaan kepadanya, atau seorang malaikat datang menyertai dia?1167a Sesungguhnya engkau hanyalah juru ingat. Dan Allah adalah Yang Maha-mengurus segala sesuatu.

 

13. Atau, mereka berkata: Ia membuat-buat kebohongan. Katakan: Datangkanlah sepuluh Surat yang dibuat-buat seperti ini, dan panggillah siapa saja selain Allah jika kamu orang yang tulus.1168

 

14. Tetapi jika mereka tak memberi jawaban kepada kamu, maka ketahuilah bahwa itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwa tak ada Tuhan selain Dia. Lalu apakah kamu orang yang berserah diri (kepada Allah)?1169

 

15. Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami akan membayar penuh kepada mereka hasil perbuatan mereka di dunia, dan mereka tak akan dirugikan.

 

16. Inilah orang-orang yang di Akhirat tak mempunyai apa-apa selain Api. Dan di sana, apa yang mereka kerjakan tak akan menghasilkan apa-apa, dan apa yang mereka amalkan akan sia-sia.1170

 

17. Lalu apakah orang yang mempunyai tanda bukti dari Tuhannya, dan seorang saksi dari Dia membacakan itu, dan sebelumnya adalah Kitab Musa sebagai pimpinan dan rahmat (samakah dia dengan mereka). Mereka beriman kepada itu. Dan barangsiapa di antara gabungan besar mengafiri itu, tempat yang dijanjikan kepadanya ialah Api. Maka janganlah engkau ragu-ragu tentang itu. Sesungguhnya itu adalah kebenaran dari Tuhan dikau, tetapi kebanyakan manusia tak beriman.1171

 

18. Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang membuat-buat kebohongan terhadap Allah? Mereka akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: Inilah orang-orang yang berdusta terhadap Tuhan mereka. Ingatlah bahwa laknat Allah akan menimpa kaum yang lalim.1172

 

19. (Yaitu) orang yang menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan menghendaki agar (jalan) itu bengkok. Dan mereka itu kafir kepada Akhirat.

 

20. Mereka tak dapat melepaskan diri di bumi,1173 dan mereka tak mempunyai pelindung selain Allah. Siksaan akan dilipatkan terhadap mereka. Mereka tak mampu mendengar, dan mereka tak pula melihat.1174

 

21. Ini adalah orang-orang yang merugikan jiwa mereka, dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka buat-buat.

 

22. Tak boleh tidak, mereka adalah orang yang paling rugi di Akhirat.

 

23. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat baik dan merendahkan diri terhadap Tuhan mereka, mereka adalah penghuni Taman; mereka menetap di sana.

 

24. Perumpamaan dua golongan itu adalah seperti orang yang buta dan tuli, dan orang yang melihat dan mendengar. Apakah mereka sama keadaannya? Lalu apakah kamu tak memperhatikan?
 

Ruku’ 3: Sejarah Nabi Nuh

 

25. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya: Sesungguhnya aku juru ingat yang terang kepada kamu.

 

26. Agar kamu tak mengabdi kepada siapa pun selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir bahwa siksaan akan menimpa kamu pada hari yang penuh kesakitan.

 

27. Tetapi para pemuka kaumnya yang kafir berkata: Tiada kami melihat engkau, kecuali hanya manusia biasa seperti kami, dan tiada kami melihat orang yang mengikuti engkau, kecuali hanya orang yang paling hina di antara kami pada pikiran pertama. Dan kami tak melihat kamu mempunyai kelebihan di atas kami; tidak, malahan kami menganggap bahwa kamu pembohong.

 

28. Dia berkata: Wahai kaumku, tahukah kamu bahwa aku mempunyai tanda bukti yang terang dari Tuhanku, dan Dia memberi rahmat kepadaku dari Dia sendiri, dan ini membuat kabur penglihatan kamu. Dapatkah kami memaksa kamu untuk (menerima) ini, sedangkan kamu tak suka kepadanya?

 

29. Dan, wahai kaumku, aku tak minta harta kepada kamu sebagai pengganti ini. Ganjaranku hanyalah pada Allah semata-mata; dan aku tak akan mengusir orang-orang yang beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka, tetapi aku melihat kamu suatu kaum yang bodoh.

 

30. Dan, wahai kaumku, siapakah yang akan memberi pertolongan kepadaku melawan Allah jika aku mengusir mereka? Lalu apakah kamu tak memperhatikan?

 

31. Dan aku tak berkata kepada kamu bahwa aku mempunyai perbendaharaan Allah; dan bahwa aku tak tahu barang gaib; dan aku tak berkata bahwa aku adalah malaikat. Dan aku tak berkata tentang orang-orang yang menurut penglihatan kamu dianggap hina, bahwa Allah tak akan memberi kebaikan kepada mereka — Allah tahu benar apa yang ada dalam batin mereka — karena sesungguhnya jika demikian, aku menjadi golongan orang yang lalim.

 

32. Mereka berkata: Wahai Nuh, sesungguhnya engkau telah berbantah dengan kami dan memperpanjang bantahan dikau terhadap kami, maka datangkanlah apa yang engkau ancamkan kepada kami jika engkau orang yang tulus.

 

33. Ia berkata: Hanya Allah sendirilah Yang akan mendatangkan itu kepada kamu jika Ia kehendaki, dan kamu tak akan dapat melepaskan diri.

 

34. Dan nasihatku tak ada gunanya bagi kamu jika aku hendak memberi nasihat yang baik kepada kamu, sekiranya Allah hendak membinasakan kamu. Dia adalah Tuhan kamu; dan kepada-Nya kamu akan dikembalikan.1175

 

35. Atau mereka berkata: Dia membuat-buat itu. Katakanlah: Jika aku membuat-buat itu, maka akulah yang akan memikul dosaku; dan aku bebas dari dosa yang kamu lakukan.1176
 

Ruku’ 4: Sejarah Nabi Nuh

 

36. Dan diwahyukan kepada Nuh: Tak akan ada yang beriman di antara kaum dikau kecuali orang yang telah beriman, maka janganlah engkau berduka cita tentang apa yang mereka kerjakan.

 

37. Dan buatlah bahtera di bawah penglihatan Kami dan Wahyu Kami, dan janganlah engkau berbicara kepada-Ku tentang orang-orang lalim. Sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan.

 

38. Dan ia mulai membuat bahtera. Dan setiap kali para pemuka kaumnya berlalu di depannya, mereka menertawakan dia. Dia berkata: Jika kamu menertawakan kami, maka kami pun akan menertawakan kamu sebagaimana kamu menertawakan (kami).1177

 

39. Maka kamu akan tahu siapakah yang akan kejatuhan siksaan yang menghinakan, dan akan tertimpa siksaan yang sangat lama.

 

40. Sampai tatkala perintah Kami datang, dan air memancar dari lembah dengan derasnya.1178 Kami berfirman: Muatkanlah segala sesuatu di dalamnya dua-dua, berpasangan,1179 dan juga keluarga engkau — kecuali orang yang sudah kedahuluan firman (Tuhan) — demikian pula orang yang beriman. Dan tak ada yang beriman dengan dia kecuali hanya sedikit.

 

41. Dan dia berkata: Naiklah ke dalam (bahtera) dengan nama Allah (pada waktu) berlayarnya dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku adalah Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

 

42. Dan (bahtera) laju membawa mereka di tengah-tengah gelombang setinggi gunung.1180 Dan Nuh memanggil-manggil putranya, dan ia di tempat yang jauh: Wahai putraku, naiklah bersama kami, dan janganlah engkau bersama-sama kaum kafir.1181

 

43. Ia berkata: Aku akan mengungsi ke gunung yang akan menyelamatkan aku dari air. Dia (Nuh) berkata: Pada hari ini tak seorang pun akan selamat dari perintah Allah, kecuali orang yang Ia berbelas kasih kepadanya.1182 Dan gelombang melintang di antara mereka berdua, dan ia termasuk golongan orang yang mati kelelap.

 

44. Dan difirmankan: Wahai bumi, telanlah airmu, dan wahai awan, meredalah! Dan air dibikin surut, dan perkara diputuskan, dan (bahtera) terdampar di Judi;1183 dan difirmankan: Enyahlah kaum yang lalim.

 

45. Dan Nuh menyeru kepada Tuhannya dan berkata: Tuhanku, sesungguhnya putraku salah seorang keluargaku, dan janji Engkau benar, dan Engkau Yang paling Adil di antara para hakim.

 

46. Dia berfirman: Wahai Nuh, dia bukanlah salah seorang keluarga engkau; dia adalah (penjelmaan dari) perbuatan yang tak baik.1184 Maka janganlah engkau memohon kepada-Ku apa yang engkau tak mempunyai pengetahuan. Sesungguhnya Aku menasihati engkau agar engkau tak menjadi golongan orang yang bodoh.

 

47. Dia berkata: Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau agar aku tak memohon kepada Engkau apa yang aku tak mempunyai pengetahuan. Jika Engkau tak mengampuni aku dan berbelas kasih kepadaku, niscaya aku menjadi golongan orang yang rugi.

 

48. Difirmankan: Wahai Nuh, turunlah (dari bahtera) dengan salam dari-Ku dan berkah kepada engkau dan kepada umat (yang timbul) dari orang yang menyertai engkau. Dan ada pula umat yang Kami beri kesenangan sementara waktu, lalu mereka tertimpa siksaan yang pedih dari Kami.

 

49. Itu adalah berita yang bertalian dengan barang gaib yang Kami wahyukan kepada engkau; engkau tak tahu itu — baik engkau maupun kaum engkau sebelum ini. Maka bersabarlah. Sesungguhnya kesudahan yang baik itu kepunyaan orang yang bertaqwa.1185
 

Ruku’ 5: Sejarah Nabi Hud

 

50. Dan kepada ‘Ad (Kami utus) saudara mereka Hud.1185a Dia berkata: Wahai kaumku, mengabdilah kepada Allah; kamu tak mempunyai Tuhan selain Dia. Kamu tiada lain hanyalah membuat-buat (kebohongan).

 

51. Wahai kaumku, untuk ini aku tak minta upah kepada kamu. Ganjaranku hanyalah pada Tuhan Yang menciptakan aku. Apakah kamu tak mengerti?

 

52. Dan wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhan kamu, lalu bertobatlah kepada-Nya; Ia akan mengirimkan awan yang menurunkan hujan yang berlimpah-limpah kepada kamu dan menambah kekuatan kepada kamu; dan janganlah kamu berpaling, berbuat dosa.

 

53. Mereka berkata: Wahai Hud, engkau tak memberi tanda bukti yang terang kepada kami, dan kami tak akan meninggalkan tuhan-tuhan kami karena ucapan dikau, dan kami tidaklah beriman kepada engkau.

 

54. Kami tak berkata apa-apa selain bahwa sebagian tuhan-tuhan kami menimpakan keburukan kepada engkau. Dia (Hud) berkata: Sesungguhnya aku mohon kesaksian Allah, dan juga kesaksian kamu, bahwa aku terlepas dari apa yang kamu sekutukan.

 

55. Selain Dia. Maka buatlah rencana melawan aku, kamu semua; lalu janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.

 

56. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu. Tiada suatu makhluk hidup, melainkan Dialah Yang memegang jambulnya. Sesungguhnya Tuhanku itu pada jalan yang benar.1186

 

57. Tetapi jika kamu berpaling, maka dengan sesungguhnya aku telah menyampaikan kepada kamu apa yang dengan ini aku diutus kepada kamu. Dan Tuhanku akan mendatangkan kaum yang lain sebagai pengganti kamu, dan kamu tak membahayakan Dia sedikit pun. Sesungguhnya Tuhanku Yang memelihara segala sesuatu.

 

58. Dan tatkala datang keputusan Kami, Kami menyelamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami; dan Kami menyelamatkan mereka dari siksaan yang berat.

 

59. Dan itulah kaum ‘Ad. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhan mereka dan mendurhaka terhadap Utusan-Nya dan mengikuti perintah setiap orang yang sombong, yang menentang (Kebenaran).

 

60. Dan mereka dikejar-kejar oleh laknat di dunia ini dan pada hari Kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ‘Ad mengafiri Tuhan mereka. Ingat, enyahlah ‘Ad, kaum Hud!
 

Ruku’ 6: Sejarah Nabi Shalih

 

61. Dan kepada Tsamud, (Kami utus) saudara mereka, Shalih. Ia berkata: Wahai kaumku, mengabdilah kepada Allah; kamu tak mempunyai Tuhan selain Dia. Dia menumbuhkan kamu dari bumi dan membuat kamu bertempat tinggal di sana, maka mohonlah ampun kepada-Nya, dan bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku itu dekat, Yang mengabulkan (doa).

 

62. Mereka berkata: Wahai Shalih, sesungguhnya engkau adalah pusat harapan kami sebelum ini. Apakah engkau melarang kami menyembah apa yang disembah oleh ayah-ayah kami. Dan sesungguhnya kami dalam keragu-raguan yang menggelisahkan tentang apa yang engkau serukan kepada kami.

 

63. Ia berkata: Wahai kaumku, tahukah kamu bahwa aku mempunyai tanda bukti yang terang dari Tuhanku, dan Dia memberi rahmat kepadaku dari Dia sendiri — maka siapakah yang akan menolong aku melawan Allah jika aku durhaka kepada-Nya? Maka kamu tak menambah apa-apa kepadaku selain kerugian.

 

64. Dan, wahai kaumku, ini adalah unta betina Allah, 1186a sebagai tanda bukti bagi kamu; maka biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu menyentuhnya dengan keburukan, agar siksaan yang dekat tak menimpa kamu.

 

65. Tetapi mereka melukainya, maka ia (Shalih) berkata: Bersenang-senanglah kamu di rumah selama tiga hari. Inilah janji yang tak akan diingkari.

 

66. Maka setelah datang perintah Kami, Kami selamatkan Shalih dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami, dan (Kami selamatkan) dari kehinaan hari itu. Sesungguhnya Tuhan dikau adalah Yang Maha-kuat, Yang Maha-perkasa.

 

67. Dan suara gemuruh1186b menimpa orang-orang lalim, maka mereka menjadi tubuh-tubuh yang tak bergerak di tempat tinggal mereka,

 

68. Seakan-akan mereka tak pernah bertempat-tinggal di sana. Ingatlah, sesungguhnya Tsamud telah mengafiri Tuhan mereka. Maka enyahlah (kaum) Tsamud.
 

Ruku’ 7: Sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Luth

 

69. Dan sesungguhnya telah datang Utusan Kami kepada Ibrahim dengan membawa kabar baik. Mereka berkata: Salam! Ia (Ibrahim) menjawab: Salam! Dan ia tak menunda-nunda lagi menghidangkan panggang anak sapi.1187

 

70. Tetapi tatkala ia melihat bahwa mereka tak mengulurkan tangan mereka kepada itu, ia menaruh syak terhadap mereka dan terbayanglah rasa takut kepada mereka. Mereka berkata: Jangan takut, sesungguhnya kami diutus kepada kaum Luth.1188

 

71. Dan istri (Ibrahim) berdiri menanti, dan ia ta’ajub. Lalu Kami memberi kabar baik kepadanya tentang Ishak, dan sesudah Ishak, Ya’qub.1189

 

72. Dia berkata: Oh, mengherankan sekali!1190 Apakah aku akan mempunyai anak, sedangkan aku sudah nenek-nenek, dan suamiku ini sudah terlalu tua. Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang mengherankan.

 

73. Mereka berkata: Apakah engkau heran akan perintah Allah? Rahmat dari Allah dan berkah-Nya atas kamu, wahai penghuni rumah!1191 Sesungguhnya Dia itu Yang Maha-terpuji, Yang Maha-jaya.

 

74. Maka setelah rasa takut hilang dari Ibrahim, dan kabar baik telah disampaikan kepadanya, mulailah ia berbincang-bincang dengan (utusan) Kami tentang kaum Luth.1192

 

75. Sesungguhnya Ibrahim itu baik budi bahasanya, halus perasaannya, banyak tobatnya (kepada Allah).

 

76. Wahai Ibrahim, jauhkanlah dirimu dari (perkara) ini. Sesungguhnya telah datang keputusan Tuhan dikau, dan sesungguhnya akan datang kepada mereka siksaan yang tak dapat dihindarkan lagi.

 

77. Dan setelah Utusan Kami datang kepada Luth, ia (Luth) merasa sedih terhadap mereka, dan merasa tak mampu melindungi mereka,1193 dan ia berkata: Ini adalah hari yang amat menyedihkan.

 

78. Dan kaumnya mendatangi dia, (seolah-olah) mereka didorong ke arah dia, dan sebelum itu, mereka biasa berbuat jahat. Ia berkata: Wahai kaumku, itulah para putriku — mereka lebih suci bagi kamu. Maka jagalah diri terhadap (siksaan) Allah, dan janganlah kamu memalukan aku terhadap tamu-tamuku. Tidak adakah di antara kamu pria yang berbudi baik?1194

 

79. Mereka berkata: Sesungguhnya engkau tahu bahwa kami tak mengajukan tuntutan terhadap putri-putri engkau, dan sesungguhnya engkau tahu apa yang kami inginkan.

 

80. Ia berkata: Sekiranya aku mempunyai kekuatan untuk menolak kamu! — atau, aku dapat berlindung kepada sandaran yang kuat.1194a

 

81. Mereka berkata: Wahai Luth, sesungguhnya kami adalah Utusan Tuhan dikau. Mereka tak sekali-kali akan menyentuh engkau. Maka pergilah dengan para pengikut engkau pada bagian malam — dan jangan seorang pun di antara kamu pulang kembali — kecuali istri engkau.1195 Sesungguhnya apapun yang menimpa mereka akan pula menimpa dia. Sesungguhnya waktu yang ditentukan untuk mereka ialah pagi hari. Bukankah waktu pagi sudah dekat?

 

82. Maka setelah datang keputusan Kami, Kami jadikan (kota) itu jungkir-balik.1196 Dan kota itu Kami hujani batu,1197 sebagaimana telah diputuskan,1198 terus-menerus.

 

83. Tanda yang mencolok (tentang siksaan) di sisi Tuhan dikau. Dan itu tidak jauh dari orang-orang yang lalim.1199
 

Ruku’ 8: Sejarah Nabi Syu’aib

 

84. Dan kepada kaum Madian (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: Wahai kaumku, mengabdilah kepada Allah; kamu tak mempunyai Tuhan selain Dia. Dan janganlah kamu mengurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan makmur, dan sesungguhnya aku mengkhawatirkan kamu akan siksaan pada hari yang meliputi (segala sesuatu).

 

85. Dan, wahai kaumku, penuhilah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah merugikan manusia akan barang-barang mereka, dan jangan pula berbuat jahat di bumi, berbuat kerusakan.

 

86. Peninggalan Allah itu baik bagi kamu, jika kamu mukmin. Dan aku bukanlah penjaga bagi kamu.1200

 

87. Mereka berkata: Wahai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh engkau agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh ayah-ayah kami, atau agar kami tak melakukan apa yang kami kehendaki tentang harta kami? Sesungguhnya engkau adalah yang menyantun, yang menunjukkan jalan benar.

 

88. Dia berkata: Wahai kaumku, apakah kamu tak melihat bahwa aku mempunyai tanda bukti yang terang dari Tuhanku, dan Ia memberikan rezeki yang baik dari Dia. Dan aku tak ingin bertengkar dengan kamu tentang hal yang aku melarang kamu. Aku tak menghendaki apa-apa selain perbaikan, sepanjang aku mampu. Dan tiada yang menunjukkan kepada kebenaran tentang perkaraku kecuali hanya Allah. Aku bertawakal kepada-Nya, dan aku kembali kepada-Nya.

 

89. Dan, wahai kaumku, janganlah perlawanan kamu kepadaku membuat kamu berdosa sehingga kamu akan tertimpa (siksaan) sebagaimana telah menimpa kaum Nuh, atau kaum Hud, atau kaum Shalih. Dan kaum Luth tidaklah jauh dari kamu.

 

90. Dan mohonlah ampun kepada Tuhan kamu, lalu bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku itu Yang Maha-pengasih, Yang Maha-penyayang.

 

91. Mereka berkata: Wahai Syu’aib, kami tak mengerti banyak tentang apa yang engkau katakan, dan sesungguhnya kami melihat engkau adalah yang paling lemah di antara kami. Dan sekiranya bukan karena keluarga engkau, niscaya kami akan merajam engkau, dan engkau tak kuasa melawan kami.

 

92. Ia berkata: Wahai kaumku, apakah keluargaku lebih kamu hormati daripada Allah? Dan kamu memperlakukan Dia sebagai barang yang kamu lempar di belakang kamu! Sesungguhnya Tuhanku itu melingkupi apa yang kamu lakukan.

 

93. Dan, wahai kaumku, beramallah menurut kemampuan kamu, aku juga beramal. Kamu segera akan tahu siapakah yang akan kedatangan siksaan yang menghinakan, dan siapa pula orang yang bohong. Dan berjaga-jagalah; sesungguhnya aku pun berjaga-jaga bersama kamu.

 

94. Dan setelah datang keputusan Kami, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami. Dan suara gemuruh menimpa orang-orang yang lalim, maka mereka menjadi tubuh-tubuh yang tak bergerak di rumah mereka.

 

95. Seakan-akan mereka tak pernah bertinggal di sana. Ingat, enyahlah kaum Madian, sebagaimana telah binasa kaum Tsamud.
 

Ruku’ 9: Orang jahat dan orang tulus

 

96. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan tanda bukti Kami dan kekuasaan yang terang.

 

97. Kepada Fir’aun dan para pemukanya, tetapi mereka mengikuti perintah Fir’aun; dan perintah Fir’aun bukanlah petunjuk yang benar.

 

98. Pada hari Kiamat ia akan memimpin kaumnya dan menggiring mereka masuk ke Neraka. Dan buruk sekali tempat yang mereka digiring ke sana.

 

99. Dan mereka dikejar-kejar oleh laknat di (dunia) ini dan pada hari Kiamat. Buruk sekali hadiah yang akan diberikan.

 

100. Inilah sebagian riwayat kota yang Kami ceritakan kepada engkau. Di antaranya ada yang masih berdiri, dan (yang lain) telah musnah.

 

101. Kami tak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri. Dan tuhan mereka yang mereka seru selain Allah, tak berguna sedikit pun bagi mereka tatkala keputusan Tuhan dikau datang, dan (tuhan-tuhan) itu tak menambah apa-apa kepada mereka selain kehancuran.

 

102. Dan demikianlah siksaan Tuhan dikau tatkala Ia menyiksa kota selagi (kota) itu lalim. Sesungguhnya siksaan Tuhan itu pedih, dahsyat.

 

103. Sesungguhnya dalam ini adalah tanda bukti bagi orang yang takut kepada siksaan di Akhirat. Itulah hari yang manusia akan dihimpun semuanya, dan itulah hari yang disaksikan.

 

104. Kami tak menangguhkan itu, kecuali untuk batas waktu yang ditentukan.

 

105. Pada hari tatkala (batas waktu) itu tiba, tak ada satu jiwa pun yang akan bicara, kecuali dengan izin-Nya. Maka sebagian mereka akan celaka, dan (sebagian lagi) bahagia.

 

106. Adapun orang-orang yang celaka, mereka akan tinggal di Neraka; di sana mereka akan berkeluh kesah.

 

107. Mereka akan menetap di sana selama langit dan bumi, kecuali apa yang dikehendaki oleh Tuhan dikau. Sesungguhnya Tuhan dikau itu yang mengerjakan apa yang Ia kehendaki.1201

 

108. Adapun orang-orang yang bahagia, mereka akan tinggal di Surga, mereka akan menetap di sana selama langit dan bumi, kecuali apa yang dikehendaki oleh Tuhan dikau; suatu pemberian yang tak ada putus-putusnya.1202

 

109. Maka janganlah engkau ragu-ragu tentang apa yang mereka sembah. Mereka hanyalah menyembah seperti apa yang disembah oleh ayah-ayah mereka dahulu. Dan sesungguhnya Kami akan membayar penuh bagian mereka, tanpa dikurangi.
 

Ruku’ 10: Kaum mukmin dihibur

 

110. Dan sesungguhnya telah Kami berikan Kitab kepada Musa, tetapi di dalamnya terdapat pertentangan.1203 Dan sekiranya tak ada firman Tuhan dikau yang mendahului, niscaya perkara akan diputuskan di antara mereka. Dan sesungguhnya mereka itu dalam keragu-raguan yang mencemaskan tentang itu.

 

111. Dan sesungguhnya Tuhan dikau akan membayar penuh semua perbuatan mereka. Sesungguhnya Dia itu Waspada terhadap apa yang mereka lakukan.

 

112. Maka tetaplah pada jalan yang benar seperti yang diperintahkan kepada engkau, demikian pula orang yang bertobat bersama engkau. Dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia itu Yang Maha-melihat apa yang kamu lakukan.

 

113. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang lalim, kalau-kalau Api menyentuh kamu; dan kamu tak mempunyai pelindung selain Allah, lalu kamu tak akan ditolong.1204

 

114. Dan tegakkanlah shalat pada dua ujung hari dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan baik itu melenyapkan perbuatan buruk. Ini adalah peringatan bagi orang-orang yang penuh perhatian.1205

 

115. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tak menyia-nyiakan ganjaran orang yang berbuat kebaikan.

 

116. Mengapa di antara generasi sebelum kamu tak ada yang mempunyai akal budi,1206 yang melarang berbuat kerusakan di bumi, kecuali hanya sedikit di antara orang-orang yang Kami selamatkan? Dan orang-orang lalim hanyalah mengejar kesenangan yang melimpah-limpah, dan mereka adalah orang-orang berdosa.

 

117. Dan Tuhan dikau tak akan membinasakan kota dengan sewenang-wenang, selagi para penduduknya berbuat baik.1207

 

118. Dan jika Tuhan dikau menghendaki, niscaya Ia membuat umat manusia satu umat.1208 Dan mereka tak henti-hentinya berselisih.

 

119. Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhan dikau; dan untuk itulah Ia menciptakan mereka.1209 Dan terpenuhilah firman Tuhan dikau: Aku akan memenuhi Neraka dengan jin dan manusia, semuanya.1210

 

120. Dan semua yang Kami ceritakan kepada engkau tentang riwayat para Utusan adalah untuk meneguhkan hati engkau. Dan dalam hal ini datanglah kepada engkau Kebenaran, dan nasihat, dan peringatan bagi kaum mukmin.

 

121. Dan katakanlah kepada orang-orang yang tak beriman: Ber’amallah menurut kemampuan kamu, sesungguhnya kami pun ber’amal.

 

122. Dan nantikanlah; sesungguhnya kami juga menanti.

 

123. Dan barang gaib di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah, dan kepada-Nya semua perkara akan dikembalikan. Maka mengabdilah kepada-Nya dan bertawakallah kepada-Nya. Dan Tuhan dikau tak lalai terhadap apa yang kamu kerjakan.

  1. Dzî fadllin artinya orang yang diberi anugerah oleh Allah, yaitu orang yang memiliki kenikmatan rohani sebagai tambahan atas kenikmatan jasmani yang disebutkan dalam kalimat sebelumnya. []
  2. Tsanâ shadrahu makna aslinya ia melipat dadanya, artinya ia menyembunyikan permusuhan dalam dadanya (LL). Makna ini dijelaskan dalam kalimat berikutnya. []
  3. Ia menutupi dirinya dengan kain agar ia tak dapat melihat dan mendengar (LL). Menurut R, kalimat yastaghsyûna tsiyâbahum artinya mereka menyelimutkan kain mereka menutupi telinga mereka, dan ini berarti mereka tak mau mendengar, atau, ini mengibaratkan penolakan mereka. []
  4. Arti kata ‘arsy telah dijelaskan dalam tafsir nomor 895. Adapun arti kata kâna, lihatlah tafsir nomor 271. Apakah hubungan antara air dan pengejewantahan kekuasaan Allah yang itu menerangkan arti ‘arsy? Hal ini dijelaskan oleh Qur’an sendiri: “Dan Kami telah membuat dari air segala sesuatu yang hidup” (21:30). Manusia adalah bentuk perkembangan kehidupan yang paling tinggi, dan kehidupan ini disebabkan karena air. Kekuasaan Allah yang besar yang dijelmakan dalam terciptanya manusia inilah yang dihubungkan dengan air. Dan sebagaimana kehidupan jasmani ini terjadi dari air, maka kehidupan rohani itu terjadi dari Wahyu, yang seringkali diibaratkan hujan atau air. Jadi kekuasaan Allah yang Maha-besar itu dijelmakan melalui air; oleh sebab itu, berbarengan dengan terciptanya langit dan bumi, disebutkan adanya kenyataan bahwa Singgasana Kekuasaan Allah itu selalu berada di atas air. Kalimat berikutnya lebih menjelaskan lagi keterangan ini. Lihatlah tafsir berikut ini. []
  5. Kata balâhu adalah sinonim dengan kata ibtalâhu; adapun makna aslinya ialah mewujudkan sifat-sifat yang baik dan mewujudkan sifat-sifat hina (T). Tujuan terciptanya manusia dan segala sesuatu yang diciptakan untuknya ialah agar manusia mewujudkan sifat-sifat utama. Tetapi perwujudan sifat-sifat itu, kita diberitahu oleh kalimat berikutnya, bukan di dalam kehidupan dunia ini, tapi kelak di dalam kehidupan setelah mati. Kebenaran ini dinyatakan dalam kalimat: “Jika engkau berkata: Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati …”. Adapun penggunaan kata-kata balâ dan ibtalâ dalam arti mewujudkan sifat-sifat yang baik dan utama yang dianugerahkan kepada manusia, lihatlah tafsir nomor 990. []
  6. Terang sekali bahwa kata sihr yang digunakan di sini berarti tipu daya atau kepalsuan. Lihatlah tafsir nomor 148. []
  7. Jangka waktu tertentu yang disebutkan dalam 8:33 berbunyi: “Dan Allah tak akan menyiksa mereka selagi engkau berada di tengah-tengah mereka”. []
  8. 1167a Ayat ini bukanlah berarti Nabi Suci bermaksud meninggalkan sebagian Wahyu; sebaliknya, ini adalah pernyataan yang mantap bahwa beliau tak akan berbuat demikian. Kata la’alla ini digunakan dalam arti khusus. Rz berkata:” Jika engkau bermaksud menunjukkan jauhnya seseorang dari suatu barang, engkau boleh berkata: Boleh jadi (la’allaka) engkau mampu mengerjakan itu.
    Tantangan semacam itu disebutkan oleh Qur’an dalam empat Surat yang berlainan. (1) dalam 7:88 berbunyi: “Katakanlah: Jika manusia dan jin bergabung untuk mendatangkan yang seperti Qur’an ini, mereka tak dapat mendatangkan yang seperti Qur’an itu, walaupun sebagian mereka membantu sebagian yang lain”. Ini adalah golongan wahyu yang diturunkan permulaan sekali. Lalu dalam ayat yang sedang dibahas, tuntutan itu dikurangi menjadi sepuluh Surat. Akhirnya, dalam 10:38 dan 2:23, mereka hanya ditantang supaya membuat satu Surat saja yang seperti Surat Qur’an. Patut kiranya dicatat bahwa pada suatu tempat, yang ditantang adalah manusia dan jin, tetapi di tempat lain, perkataan jin diganti dengan perkataan syuhadâ’, artinya pemimpin atau orang pandai; dengan demikian, yang dimaksud jin itu ialah para pemimpin. Lihatlah tafsir nomor 36. []
  9. Yang dituju di sini ialah kaum kafir. Adapun artinya ialah, jika para pemimpin atau tuhan-tuhan palsu tak dapat menjawab para pemujanya tatkala mereka menyeru kepadanya supaya membantu mereka dalam membuat yang seperti Qur’an, maka sekurang-kurangnya mereka harus tak ragu-ragu dalam batin mereka, bahwa Qur’an bukanlah bikinan Nabi Suci, melainkan Wahyu dari Ilahi. []
  10. Artinya, pekerjaan dan perbuatan mereka tak menghasilkan sesuatu yang baik bagi mereka sendiri. []
  11. Beberapa uraian yang dikemukakan dalam ayat ini memerlukan penjelasan. Orang yang mempunyai tanda bukti dari Tuhannya, ialah setiap orang yang beriman kepada kebenaran Qur’an Suci; hal ini lebih dijelaskan lagi dalam kalimat berikutnya yang berbunyi: Mereka beriman kepadanya. Seorang saksi dari Allah yang membacakan itu ialah Nabi Suci, yang di tempat lain disebut saksi, mengingat bahwa beliau adalah suri tauladan bagi kaum mukmin. Qur’an Suci selain sebagai tanda bukti yang terang, dibuktikan pula kebenarannya oleh Kitab Musa, yang disebut pimpinan dan rahmat, karena di dalamnya berisi ramalan yang terang tentang Kebenaran Nabi Suci. Adapun arti seluruh ayat ini ialah, orang yang karena beriman kepada Kebenaran Qur’an, ia mempunyai bukti dari Tuhannya, dan mempunyai suri-tauladan pada diri Nabi Suci, dan mempunyai bukti tambahan tentang kebenaran Nabi Suci dalam Kitab Musa, ini adalah tak sama dengan orang yang cinta kepada kehidupan dunia dan mengabaikan Kebenaran. Adapun uraian yang disebutkan pada akhir ayat, karena telah tercakup dalam ayat sebelumnya, maka tak perlu dijelaskan lagi. []
  12. Menurut sebagian mufassir, yang dimaksud para saksi di sini ialah para malaikat. Menurut mufassir lain, para Nabi, dan ini dikuatkan oleh 4:41; menurut mufassir lain lagi, kaum mukmin. []
  13. Jika Allah menghendaki untuk menyiksa mereka di dunia, mereka tak dapat lolos dari siksaan itu. Kata a’jazahu (yang dari kata ini dibentuk kata mu’jiz) dapat diterjemahkan ia kedapatan tak berkekuatan atau tak berkemampuan, atau ia menanggalkan kekuatannya atau maksudnya. []
  14. Ini hanya menunjukkan betapa besar kebencian mereka terhadap Kebenaran. Untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nabi Suci, mereka tak tahan, dan mereka cepat-cepat pergi jika beliau mulai bicara. []
  15. []
  16. 1176 Perubahan ini menunjukkan seterang-terangnya, bahwa yang dimaksud di sini ialah kaum kafir Makkah; adapun yang dituju ialah tuduhan mereka bahwa Qur’an ini dibuat-buat (rekayasa) Nabi Suci. Ini menunjukkan bahwa sejarah para Nabi yang diuraikan dalam Qur’an itu dimaksud sebagai peringatan bagi para musuh Nabi Suci. []
  17. Ejekan kaum mukmin terhadap orang kafir janganlah diartikan secara harfiah. Orang menertawakan sesuatu untuk menunjukkan bahwa orang itu menghinanya; sebagaimana kaum kafir menunjukkan penghinaan mereka terhadap pembuatan bahtera, orang yang beriman kepada janji Tuhan menunjukkan penghinaannya terhadap perlawanan mereka dan rencana mereka untuk membinasakannya. Kf memberi arti yang lain: “Jika kamu menganggap kami orang bodoh karena perbuatan kami, kami juga menganggap kamu orang bodoh karena kekafiranmu … karena anggapan kamu bahwa kami ini bodoh, ini sebenarnya disebabkan kebodohan kamu. []
  18. Fârat-tannûr diterjemahkan oleh tuan Sale: memancarkan air. Oleh tuan Palmer: mendidih, dan oleh tuan Rodwell: permukaan bumi mendidih. Selain itu, ketiga-tiganya menambahkan keterangan: Kata tannûr berarti pula waduk (Palmer), tempat persediaan air (Rodwell), tempat yang mengeluarkan air atau tempat air terkumpul (Sale). Tetapi kami berpendapat bahwa mereka semua keliru karena mereka salah mengartikan arti kata fâra, bukan karena salah mengerti akan arti tannûr. Fâra artinya air mendidih atau api mengamuk; tetapi dari arti ini tak dapat diterapkan di sini, karena tannur tak mungkin mendidih, dan tak pula mengamuk, karena tannûr itu bukan api. Tetapi fâra mempunyai arti lain. LL berkata: Jika fâra dihubungkan dengan air, artinya ia memancar atau menyembur dari bumi (Mgh); air keluar, memancar dari mata air atau sumber (T). Oleh sebab itu kata fawwarah berarti mata air atau sumber. Menurut L pula, kata tannûr berarti bagian bumi atau tanah yang paling tinggi (T), atau tempat yang memancarkan air, atau berkumpulnya air di suatu lembah (Q). Kini makna fâra dan tannûr cocok satu sama lain, dan masing-masing sesuai dengan kalimat di muka dan di belakangnya, orang yang mempunyai pengertian yang sederhana pun dapat memahami ini. Dari ayat 43 yang menguraikan putra Nabi Nuh yang berbunyi: “Aku akan mengungsi ke gunung”, kami dapat menarik kesimpulan bahwa tempat itu pasti suatu lembah. []
  19. Tiap-tiap sisi dari suatu pasangan itu dalam bahasa Arabnya disebut zauj; adapun kata zaujaini adalah bentuk tatsniyyah (dual) dari zauj, artinya sepasang. Yang dimaksud min kullin ialah segala sesuatu yang diperlukan oleh Nabi Nuh, bukan segala sesuatu yang ada di dunia, yang akan terlalu berat bagi Nabi Nuh untuk membawanya berlayar. []
  20. Hendaklah diingat bahwa Qur’an tak membenarkan dongengan, bahwa banjir besar membanjiri seluruh muka bumi. Sebaliknya, berulangkali Qur’an menerangkan bahwa Nabi Nuh hanya diutus kepada kaumnya saja, artinya hanya kepada satu suku bangsa saja, dan sesuai dengan undang-undang Ilahi, hukuman itu hanya dijatuhkan kepada kaum Nabi Nuh saja, yang bukan saja menolak Kebenaran, melainkan pula hendak membinasakan Nabi Nuh dan para pengikut beliau. Uraian tentang air menyembur dari lembah, menunjukkan bahwa banjir itu hanya melanda suatu daerah, bukan melanda seluruh dunia. Membawa segala sesuatu sepasang-sepasang, bukanlah berarti Nabi Nuh berlayar mengelilingi dunia menangkap segala macam binatang yang hidup masing-masing satu pasang, karena jika demikian, ini akan memerlukan waktu beribu tahun lamanya untuk dapat menangkap dan mengumpulkan segala macam binatang yang hidup di dunia berpasangan, dan sudah tentu ini tak akan pernah berhasil, padahal yang diperintahkan hanyalah membawa sesuatu masing-masing satu pasang yang dianggap perlu oleh Nabi Nuh dan orang-orang yang menyertai beliau dalam bahtera. Dongengan kitab Bibel bahwa “Allah kelak mendatangkan air bah di atas bumi hendak membinasakan segala makhluk hidup di bawah langit, lalu menyuruh Nabi Nuh supaya mengumpulkan dan mengangkut segala jenis binatang di dalam bahteranya yang masing-masing berpasangan, ini mustahil dan tak bisa dibenarkan. []
  21. []
  22. Kata man rahîma dapat diartikan Tuhan berbelas kasih, dan dapat pula diartikan orang yang Dia berbelas kasih kepadanya. Dalam arti pertama, yang dituju ialah Allah, adapun artinya ialah bahwa Yang Maha-pemurah sajalah yang dapat menyelamatkan orang dari siksaan. Adapun yang dimaksud dalam arti kedua ialah, tak ada yang dapat melindungi orang dari siksaan Allah, kecuali orang yang Allah berbelas kasih kepadanya. []
  23. Konon, menurut bahasa Ibrani, gunung ini bernama Gordyoei, salah satu gunung yang terletak di sebelah selatan Armenia yang memisahkan antara Armenia dan Mesopotamia. Tuan Sale berkata: “Cerita yang menerangkan bahwa Nabi Nuh terdampar di atas gunung itu, pasti sudah kuno sekali, karena cerita itu datangnya dari Bangsa Chaldea sendiri”. Dan lagi: “Jika kita percaya kepada ucapan Epiphanius, maka pada zaman Epiphanius, sisa-sisa bahtera itu masih dapat dilihat (Epiphanius Haeres, 18); diceritakan pula bahwa Raja Heraclius berangkat dari kota Thamanin terus naik ke gunung Al-Judi dan melihat tempat bahtera Nabi Nuh (Elmacin, I. i.c.l.). Di tempat ini, dahulu terdapat satu biara yang disebut biara bahtera, terletak di atas gunung”. []
  24. Jika orang ingin mengatakan bahwa seseorang adalah penjelmaan dari suatu sifat, maka ia bukan dikatakan sebagai pemilik sifat itu, melainkan dikatakan sebagai sifat itu sendiri. Misalnya, orang dikatakan karîm artinya mulia, atau dikatakan jud artinya dermawan, ini berarti orang itu adalah penjelmaan dari sifat mulia dan dermawan. Dalam 2:177 dikatakan bahwa perbuatan utama ialah beriman; ini berarti orang semacam itu adalah penjelmaan dari perbuatan utama. Jadi, kalimat innahû ‘amalan ghairuhsh-shâlih, artinya dia adalah penjelmaan dari perbuatan yang tak baik. []
  25. Berita tentang perkara gaib bukanlah mengenai sejarah Nabi Nuh, melainkan mengenai nasib para musuh Nabi Suci, seperti yang tersirat di dalam sejarah Nabi Nuh tersebut di sini. Kata bersabarlah, ini jelas menunjukkan benarnya keterangan tersebut, karena yang perlu dinantikan dengan sabar adalah nasib para musuh Nabi Suci, bukan yang bertalian dengan sejarah Nabi Nuh. Pada ruku’ sebelumnya terdapat pula uraian yang serupa tentang para musuh Nabi Suci; bandingkanlah dengan Surat ke-26, yang setiap kali menerangkan sejarah Nabi, selalu diakhiri dengan kalimat: “Sesungguhnya dalam uraian ini terdapat tanda bukti, tetapi kebanyakan mereka tak percaya”. Di sana diterangkan, bahwa nasib para musuh Nabi Suci itu sama dengan nasib yang dialami oleh musuh para Nabi yang sudah-sudah.
    1185a Penjelasan tentang kaum ‘Ad dan Nabi Hud, lihatlah tafsir nomor 903. []
  26. Yang dimaksud Tuhanku berada di jalan yang benar ialah, Ia tak menyimpang dari tindak adil, sehingga Ia tak membinasakan orang tulus, dan tak membebaskan orang lalim dari hukuman.
    1186a Lihatlah tafsir nomor 911 dan 914. Mengenai unta betina, lihat tafsir nomor 913. []
  27. 1186b Ini adalah gempa bumi; lihatlah tafsir nomor 915.
    1187 Bandingkanlah dengan Kitab Kejadian 18:1-7. Menurut Kitab Kejadian 18:8, mereka makan panggang anak sapi dan makanan lain yang dihidangkan oleh Nabi Ibrahim. Tetapi Rodwell menerangkan bahwa para ulama Yahudi menyatakan yang berlainan dengan Kitab Bibel; Rodwell berpedoman pada Is. Bab Mezia, halaman 86 yang berbunyi: “Mereka berbuat seakan-akan mereka makan”. Apakah mereka itu malaikat atau manusia, ini tak diuraikan dengan jelas di sini dan di tempat lain dalam Qur’an. Tetapi mengingat adanya kenyataan, bahwa mereka tak mencicipi makanan, dan mereka membawa berita baik bahwa Nabi Ibrahim akan mempunyai putra, dan berita tentang hancurnya kaum Nabi Luth, maka biasanya mereka dipandang sebagai malaikat yang menyamar menjadi manusia. []
  28. Di tempat lain dijelaskan, bahwa berita tentang kelahiran seorang putra, mula-mula diberikan kepada Nabi Ibrahim: “Maka terbayanglah rasa takut kepada mereka. Mereka berkata: Jangan takut. Dan mereka memberi kabar baik kepadanya tentang seorang putra yang berilmu. Lalu istrinya datang dalam keadaan susah, dan ia menampar mukanya sendiri dan berkata: Wanita tua mandul!” (51:28-29). Ini menggambarkan keheranan Siti Sarah sebagaimana diterangkan dalam ayat 71. Setelah Nabi Ibrahim menerima kabar gembira tentang kelahiran seorang putra, beliau diberitahu tentang dibinasakannya kaum Nabi Luth. Lalu uraian dilanjutkan dalam ayat 71, bahwa Siti Sarah diberi kabar gembira tentang lahirnya seorang putra, sekedar untuk menenteramkan keheranan beliau, dan dilanjutkan dengan kabar gembira tentang lahirnya seorang cucu, Ya’qub. []
  29. Bandingkanlah dengan Kitab Kejadian 18:10-12. Disebutnya seorang putra dari putra (yaitu Ya’qub), ini untuk menunjukkan bahwa putra itu (yaitu Ishaq) akan mempunyai keturunan. Hendaklah diingat bahwa kata warâ’ yang makna aslinya di atas, di belakang, atau di muka, berarti pula putra dari putra (T). Di tempat lain, Nabi Ya’qub disebut nafilah (21:72), artinya cucu. []
  30. Yâ wailata adalah kata-kata bahasa Arab yang mempunyai arti sedih dan duka-cita. Hendaklah diingat, bahwa menurut mufassir kenamaan, kata wail digunakan dalam arti heran, baik terhadap keadaan senang maupun susah. “Dan wail digunakan dalam arti heran (T). Menurut AH, wail adalah perkataan yang kerap kali digunakan oleh wanita apabila terjadi sesuatu yang mengherankan. []
  31. Ahlul-bait mencakup pula istri; sebenarnya yang dituju di sini ialah istri Nabi Ibrahim. Kata ahlul-bait digunakan pula bagi Nabi Suci (33:33), dalam hal ini mencakup para istri dan anak-anak beliau. []
  32. Bandingkanlah dengan Kitab Kejadian 18:21-23. []
  33. Dzar’an makna aslinya meregangkan tangan, kata ini digunakan dalam arti kuasa atau mampu (T). Jadi, kalimat dlâqa bihim dzar’an artinya tak mampu berbuat apa-apa atau ia tak mempunyai kekuatan untuk menyelesaikan perkara (LL). []
  34. Menurut Kitab Kejadian, Nabi Luth adalah orang asing di kota itu: “Orang ini datang ke sini sebagai orang asing dan dia mau menjadi hakim atas kita”; dan oleh karena para Utusan juga orang asing, maka para penduduk kota tak memperbolehkan Nabi Luth menampung mereka. Nabi Luth menawarkan putri-putri beliau sebagai sandera, asalkan beliau diperbolehkan menampung para tamu di rumah beliau: Bukankah kami telah melarang engkau (menjamu) orang-orang”? artinya, beliau dilarang memberi penampungan. Mungkin larangan itu disebabkan adanya bahaya perang antara suku bangsa. Mufassir lain berpendapat bahwa Nabi Luth menawarkan putri-putrinya untuk dinikah, seakan-akan beliau bukan orang asing melainkan dari golongan mereka sendiri. Sebagian mufassir lagi berpendapat bahwa Nabi Luth bukan menunjuk putri-putri beliau yang sebenarnya, melainkan menawarkan wanita umum dari kabilah beliau, karena seorang Nabi menyebut wanita dari kabilahnya sebagai putri-putrinya (Rz, JB), dan dalam hal ini tak lebih daripada menunjuk hubungan yang wajar antara pria dan wanita. Akan tetapi jawaban kaum beliau agaknya bertalian dengan putri-putri beliau sendiri.
    1194a Allah adalah pelindung yang kuat, yang apabila orang tulus mendapat kesukaran, pasti akan berlindung kepada-Nya. Kata-penyerta au dapat berarti atau dan berarti pula malahan, dalam arti tersebut belakangan, kata au sama dengan kata bal (malahan) (LL). []
  35. Bandingkan dengan Kitab Kejadian 19:26. []
  36. Ini adalah gempa bumi yang menghancurkan kota-kota begitu hebat, seakan-akan itu dijungkir-balikkan. Dalam 15:73, siksaan itu disebut shaihah artinya suara gemuruh yang mendahului gempa bumi. Lihatlah tafsir nomor 918. []
  37. Hujan batu adalah akibat meletusnya gunung berapi yang dibarengi gempa bumi. []
  38. Kata sijjîl berasal dari kata sajala artinya menuangkan (air), lalu sebagaimana lazim dalam bahasa Arab, dari kata ini digubah menjadi bermacam-macam perkataan. Sajjala artinya menulis di atas kertas atau gulungan kertas atau memutuskan berdasarkan hukum. Sijjîl artinya apa-apa yang telah ditulis atau diputuskan terhadap mereka (LL). []
  39. Penutup ayat ini kembali membicarakan siksaan bagi para musuh Nabi Suci. Kata ganti hiya kembali kepada musawwamah artinya siksaan. []
  40. Arti yang tepat untuk kata baqiyyatullâh ialah sebagian perbuatan manusia yang ada pada Allah, yaitu perbuatan baik yang ganjarannya kekal. Kata ini mengandung arti yang sama seperti kata baqiyya dalam 18:46 dan 19:76. Akan tetapi baqiyyatullâh dapat pula berarti apa yang Allah tinggalkan pada diri kamu setelah kamu melunasi kewajiban kepada orang lain. []
  41. Batas waktu lamanya manusia di Neraka — Kecuali apa yang Tuhan dikau kehendaki — tercantum dua kali di dalam Qur’an, yaitu di sini dan di 6:129; dan ini menunjukkan seterang-terangnya bahwa siksaan Neraka itu tak kekal. Lebih terang lagi jika ayat ini dibandingkan dengan ayat berikutnya. Di sana diterangkan bahwa orang-orang yang ada di Surga akan menetap di sana selama langit dan bumi, kecuali apa yang Tuhan dikau kehendaki; akan tetapi uraian itu segera diikuti dengan kalimat: Suatu pemberian yang tak ada putus-putusnya. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya tak ada pembatasan kekekalan di Surga, ini hanya untuk menyatakan kekuasaan dan kebesaran Allah yang tak ada batasnya; dan memang hanya karena perkenan Allah sajalah manusia masuk Surga. Akan tetapi dalam hal Neraka, kalimat: kecuali apa yang Tuhan dikau kehendaki, diikuti dengan kalimat yang memperkuat tak kekalnya Neraka. Karena kata fa’âl sebagai sifat Tuhan, mengandung arti bahwa Tuhan dapat mengerjakan apa saja, yang bagi selain Tuhan tampak mustahil. Kata fa’âl adalah bentuk mubâllaghah (intensif) dari kata fâ’il, artinya yang mengerjakan. Hendaklah diingat bahwa dalam dua peristiwa ini, yang melaksanakan kehendak-Nya ialah Rabb artinya Yang memelihara sampai sempurna. Dalam dua peristiwa itu sama tujuannya. Manusia akhirnya harus mencapai kesempurnaan, tetapi ini tak mungkin tercapai, kecuali apabila manusia dikeluarkan dari Neraka dan meneruskan perjalanan ke arah kemajuan rohani, setelah dilemparkan ke dalam sungai kehidupan, sebagaimana diterangkan dalam Hadits.
    Banyak sekali Hadits yang menguatkan keterangan tersebut. Misalnya Hadits yang terdapat dalam Kitab Hadits sahih, kata penutupnya berbunyi: “Lalu Allah berfirman: Para Malaikat, para Nabi dan kaum mukmin, semuanya berganti-ganti memberi syafa’at kepada orang-orang berdosa, dan kini tak ada lagi yang memberi syafa’at kepada mereka selain Tuhan Yang Maha-pemurah, maka Dia mengambil segenggam dari Neraka dan Ia keluarkan orang-orang yang tak pernah berbuat kebaikan” (B. 97:24). Menurut Hadits tersebut, orang-orang semacam itu disebut Thulaqar-rahmân, artinya orang-orang yang dibebaskan oleh Tuhan yang Maha-pemurah, Yang menyatakan kasih sayang-Nya kepada orang yang tak pernah melakukan perbuatan yang pantas menerima kasih sayang Tuhan. Dalam kitab Kanzul-‘Ummal, ada satu Hadits yang berbunyi: “Sesungguhnya akan datang suatu hari, yang Neraka hanya seperti ladang gandum yang kering setelah nampak subur untuk beberapa waktu”. Lagi: “Sesungguhnya akan datang suatu hari tatkala di Neraka tak terdapat satu orang pun” (Jilid VII, hlm. 245). Ada pula riwayat dari Sayyidina ‘Umar yang berkata: “Sekalipun orang yang masuk Neraka tak terhitung jumlahnya, bagaikan pasir di padang pasir, tetapi akan datang suatu hari, mereka akan dikeluarkan dari sana” (FB).
    Akan tetapi satu persoalan harus dijawab, yaitu tentang digunakannya kata abadan yang biasa diartikan selama-lamanya. Kata abadan untuk Neraka disebutkan tiga kali di dalam Qur’an, yaitu dalam 4:169; 33:65, dan 72:23. Para ahli kamus, semuanya menerangkan bahwa kata abadan artinya waktu yang lama (LL); sinonim dengan kata dahrun thawilun artinya waktu yang panjang (Mgh), atau waktu yang tak ada habis-habisnya (T). Oleh karena kata abadan berarti waktu yang lama, maka kata ini mempunyai bentuk jamak, yaitu âbâd, yang ini tak mungkin terjadi, apabila kata abadan berarti kekal. Qur’an membuat lebih terang lagi dalam menggunakan kata abadan dalam arti tak kekal dengan menyatakan, dalam 78:23, bahwa kaum kafir akan tinggal di Neraka ahqâban artinya berabad-abad; kata ahqâban adalah jamaknya kata huqbah atau delapan puluh tahun;lihatlah tafsir nomor 2645. []
  42. Sesuai dengan apa yang kami terangkan di sini sehubungan dengan kehidupan di Surga, yakni Surga itu pemberian yang tak ada putus-putusnya, maka dalam 15:48 diterangkan: “Dan mereka tak akan dikeluarkan dari sana”. []
  43. Ikhtalafa berarti pula khâlafa artinya berbuat yang bertentangan, atau yang tidak cocok. Lihatlah penjelasan tafsir nomor 213. Jadi, kalimat ukhtulifa fîhi dapat diartikan bahwa kaum Yahudi berbuat yang bertentangan dengan (kitab) itu. []
  44. Orang bukan saja dilarang berbuat jahat, melainkan orang harus menjauhkan diri dari kejahatan, dan jangan sekali-kali cenderung kepada orang lalim yang berbuat sewenang-wenang. []
  45. Waktu shalat diuraikan dengan jelas dalam ayat ini. Adapun yang dimaksud dua ujung hari, yaitu: pertama, waktu shalat fajar atau shalat subuh, kedua, mencakup shalat zuhur dan ‘asar, masing-masing sesudah matahari lingsir awal dan lingsir akhir. Adapun shalat permulaan malam, ialah shalat sesudah matahari terbenam, atau shalat maghrib, dan shalat sebelum tidur malam atau shalat ‘isya. Dua shalat sesudah matahari terbenam, yang disebutkan bersama-sama, ini dalam keadaan luar biasa, artinya dapat dijamak (digabung). []
  46. Kalimat ulû baqiyyatin, ini oleh para mufassir diberi bermacam-macam makna: orang yang mempunyai kelebihan, atau orang yang mempunyai kecerdasan dan penglihatan tajam, atau orang yang berakal dan arif bijaksana, atau orang yang taat (LL). Adapun arti kata baqiyyah lihatlah tafsir nomor 1200. []
  47. Di sini diterangkan bahwa Allah tak membinasakan manusia dengan sewenang-wenang. Dia hanya membinasakan manusia apabila mereka berbuat jahat dan berbuat onar di bumi. Dia tak akan membinasakan manusia selama mereka berbuat baik, tak peduli kepercayaan apa yang mereka anut. Kebanyakan mufassir berpendapat bahwa kata zhulm di sini berarti syirk. Adapun artinya ialah, Allah tak akan membinasakan manusia, walaupun mereka menjalankan dosa syirk, asalkan mereka berbuat baik di bumi. Dalam hal ini, terjemahannya menjadi demikian: Dan Tuhan dikau tak akan membinasakan kota-kota karena menganut kepercayaan yang salah, asalkan para penduduknya berbuat baik. Hendaklah diingat bahwa kata zhulm mempunyai makna luas. Menurut R, zhulm ada tiga (1) zhulm terhadap Allah; dalam hal ini yang paling jahat ialah kufr dan syirk atau musyrik, yakni segala macam kepercayaan yang salah terhadap Tuhan tercakup di dalamnya; (2) zhulm terhadap sesama manusia; ini mencakup segala macam pelanggaran terhadap hak-hak sesama manusia; (3) zhulm terhadap diri sendiri; ini mencakup segala macam perbuatan dosa yang merugikan diri sendiri. []
  48. Allah tak memaksa manusia supaya menganut suatu kepercayaan. Allah memberi kebebasan memilih, apakah menerima ataukah menolak kebenaran. []
  49. Di sini diuraikan seterang-terangnya bahwa Allah menciptakan manusia karena kasih sayang-Nya kepada kita. Dengan kasih sayang-Nya, Dia memimpin sebagian manusia pada jalan yang benar; sedang sebagian yang lain, yang berbuat jahat, dan yang membuat dirinya pantas dimasukkan ke Neraka, mereka memperoleh kasih sayang Allah setelah mereka merasakan siksaan. Hanya karena perbuatan mereka sendirilah akhirnya mendapat kesengsaraan dan kesusahan, sedangkan Allah berbelas kasih kepada mereka dengan membebaskan mereka dari kesengsaraan dan kesusahan tersebut. []
  50. Dengan kasih sayang-Nya, Allah menunjukkan jalan kepada mereka, tetapi mereka berbuat yang bertentangan dengan jalan itu; oleh karena itu, mereka harus mengalami hukuman berat, agar mereka bersih dari kejahatan dan mampu menjalankan kemajuan rohani. []

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *