Home / Al-Quran / 012 Yusuf

012 Yusuf

SURAT 12

Yûsuf

(Diturunkan di Makkah, 12 ruku’, 111 ayat)

Mukaddimah Surah Buka

 

Ruku’ 1: Impian Nabi Yusuf

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih.

 

1. Aku, Allah Yang Maha-melihat. Ini adalah ayat-ayat Kitab yang terang.

 

2. Sesungguhnya Kami menurunkan ini — Qur’an bahasa Arab — agar kamu mengerti.

 

3. Kami menceritakan kepada engkau sebuah cerita yang amat baik,1211 dalam Qur’an ini yang Kami wahyukan kepada engkau, walaupun sebelum ini engkau termasuk orang yang tak sadar.1212

 

4. Tatkala Yusuf berkata kepada ayahnya: Wahai ayahku, aku melihat sebelas bintang dan matahari dan bulan — aku melihat itu (semua) bersujud kepadaku.1213

 

5. Dia berkata: Wahai putraku, janganlah engkau ceritakan impianmu kepada saudara-saudaramu, kalau-kalau mereka merencanakan suatu rencana melawan engkau. Sesungguhnya setan itu musuh yang terang bagi manusia.

 

6. Dan demikianlah Tuhan dikau memilih engkau dan mengajarkan kepada engkau penafsiran kalam ibarat, dan menyempurnakan nikmat-Nya kepada engkau dan kepada para putra Ya’qub, sebagaimana Ia menyempurnakan (nikmat) itu dahulu kepada dua ayahmu, Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhan dikau itu Yang Maha-tahu, Yang Maha-bijaksana.
 

Ruku’ 2: Permufakatan jahat saudara-saudara Nabi Yusuf

 

7. Sesungguhnya dalam diri Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda bukti bagi orang yang bertanya.1214

 

8. Tatkala mereka berkata: Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya1215 itu lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita, walaupun kita ini kelompok (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita itu dalam kesesatan yang terang.

 

9. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke daerah (lain) agar perhatian ayah tertuju kepada kamu, dan setelah itu kamu menjadi orang yang saleh.1216

 

10. Seorang pembicara di antara mereka berkata: Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi jika kamu hendak berbuat sesuatu, lemparkanlah dia ke dasar sumur. Sementara musafir akan memungut dia.1217

 

11. Mereka berkata: Wahai ayah kami, mengapa tak engkau percayakan Yusuf kepada kami, dan sesungguhnya kami orang yang mempunyai kehendak yang baik kepadanya.

 

12. Suruhlah dia menyertai kami besok pagi, agar ia bersuka ria dan bermain-main dan sungguh kami akan menjaga dia.

 

13. Dia (ayah) berkata: Sesungguhnya aku merasa susah jika kamu pergi dengan dia, dan aku khawatir kalau-kalau serigala memakan dia, sedangkan kamu lalai akan dia.

 

14. Mereka berkata: Jika serigala hendak memakan dia, kami adalah kelompok (yang kuat); jika demikian, kami sungguh-sungguh orang yang rugi.

 

15. Maka setelah mereka pergi dengan dia, dan bersepakat untuk memasukkan dia ke dasar sumur, Kami wahyukan kepadanya: Sesungguhnya engkau akan memberitahukan perkara ini kepada mereka, sedangkan mereka tak merasa.1218

 

16. Dan pada petang hari, mereka kembali kepada ayah mereka sambil menangis.

 

17. Mereka berkata: Wahai ayah kami, kami berlomba, dan Yusuf kami tinggalkan di sisi barang-barang kami, lalu seekor serigala memakan dia. Dan engkau tak percaya kepada kami walaupun kami ini orang yang tulus.

 

18. Dan mereka datang dengan darah palsu pada bajunya. Dia berkata: Tidak, jiwa kamu sendiri yang menggampangkan perkara ini. Maka sabar itu baik. Dan Allah adalah Yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu lukiskan.1219

 

19. Dan datanglah para musafir, dan mereka menyuruh tukang air mereka, lalu ia menurunkan timbanya. Ia berkata: Oh, kabar baik! Ini adalah seorang pemuda! Dan mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan, dan Allah adalah Yang Maha-tahu akan apa yang mereka lakukan.

 

20. Dan mereka menjual dia dengan harga yang rendah, beberapa dirham saja, dan mereka tak tertarik kepadanya.1220
 

Ruku’ 3: Ketabahan Nabi Yusuf dalam menghadapi cobaan

 

21. Dan seorang Mesir yang membeli dia1221 berkata kepada istrinya: Berilah dia tempat yang mulia. Boleh jadi dia berguna bagi kami atau kami ambil dia sebagai anak (kami). Dan demikianlah Kami berikan kepada Yusuf kedudukan di bumi, dan agar Kami ajarkan kepadanya penafsiran kalam ibarat. Dan Allah itu Yang mempunyai kekuasaan penuh atas perkara-Nya, tetapi kebanyakan manusia tak tahu.

 

22. Dan setelah dia mencapai kedewasaannya, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Dan demikianlah Kami mengganjar orang-orang yang berbuat baik.1222

 

23. Dan wanita yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya mencoba membujuk dia,1223 dan ia mengunci pintu dan berkata: Mari! Dia (Yusuf) berkata: Semoga mendapat perlindungan Allah. Sesungguhnya Tuhanku telah membuat baik tempat tinggalku. Sesungguhnya orang-orang lalim tak akan beruntung.1224

 

24. Dan sesungguhnya dia (wanita) tergiur kepadanya, dan dia (Yusuf) juga tergiur kepadanya sekiranya dia tak melihat tanda bukti Tuhannya. Demikianlah Kami elakkan dia dari perbuatan buruk dan perbuatan mesum. Sesungguhnya dia itu golongan hamba Kami yang baik.1225

 

25. Dan mereka saling berlomba menuju pintu, dan dia (wanita) mengoyakkan bajunya (Yusuf) di bagian belakang, dan mereka berjumpa dengan suami (wanita) itu di sebelah pintu. Dia (wanita) berkata: Apakah hukuman orang yang yang bermaksud jahat terhadap istri engkau, selain agar ia dipenjara atau (dijatuhi) siksaan yang pedih?

 

26. Dia (Yusuf) berkata: Dia mencoba membujukku. Dan seorang saksi dari keluarganya memberi kesaksian: Jika bajunya koyak dari bagian depan, maka ia (wanita) berkata benar dan dia (Yusuf) adalah golongan orang yang dusta.

 

27. Dan jika bajunya koyak di belakang maka ia (wanita) berkata dusta dan dia (Yusuf) adalah golongan orang yang tulus.

 

28. Maka setelah ia melihat bajunya koyak di bagian belakang, ia berkata (kepada istrinya): Sesungguhnya ini adalah rencana busuk kamu. Sesungguhnya rencana busuk kamu itu besar.1226

 

29. Wahai Yusuf, berpalinglah dari ini, dan (hai istriku) mohonlah ampun atas dosamu. Sesungguhnya engkau itu golongan orang yang bersalah.
 

Ruku’ 4: Nabi Yusuf dipenjara

 

30. Dan para wanita di kota berkata: Istri orang terkemuka1227 mencoba membujuk bujangnya. Ia (Yusuf) benar-benar menawan hatinya1228 dengan cinta. Sesungguhnya kami melihat dia (wanita) dalam kesesatan yang terang.

 

31. Maka tatkala ia (wanita) mendengar tipu daya mereka1229 ia mengundang mereka dan menyiapkan hidangan bagi mereka;1230 dan memberikan sebilah pisau kepada mereka masing-masing, dan berkata (kepada Yusuf): Keluarlah kepada mereka. Maka tatkala mereka melihat dia, mereka menganggap dia orang besar, dan mereka memotong tangan mereka (karena kagum), dan mereka berkata: Maha-suci Allah! Ini bukanlah manusia!1231 Ini tiada lain hanyalah malaikat yang mulia.

 

32. Ia (wanita) berkata: Inilah orang yang kamu mencela kepadaku tentang dia. Dan sesungguhnya aku telah membujuk dia, tetapi dia teguh dalam mengendalikan (hawa nafsunya). Dan jika ia tak melakukan apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya ia akan dipenjara, dan ia akan menjadi golongan orang yang hina.

 

33. Ia (Yusuf) berkata: Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada aku menuruti ajakan mereka kepada itu. Dan jika tipu-daya mereka tak Engkau elakkan dari-padaku, niscaya aku akan tergoda kepada mereka, dan aku menjadi golongan orang yang bodoh.

 

34. Maka Tuhan menerima doanya dan menyingkirkan tipu-daya mereka dari dia. Sesungguhnya dia itu Yang Maha-mendengar, Yang Maha-tahu.

 

35. Lalu mereka teringat setelah mereka melihat tanda bukti, bahwa mereka memenjarakan dia sampai beberapa waktu lamanya.1232
 

Ruku’ 5: Dakwah Nabi Yusuf dalam penjara

 

36. Dan bersama dengan dia masuklah dua orang pemuda dalam penjara.1233 Salah seorang di antara mereka berkata: Aku (bermimpi) melihat aku memeras anggur. Dan yang lain berkata: Aku (bermimpi) melihat aku membawa roti di atas kepalaku, sedang burung-burung memakan sebagian daripadanya. Beritahukanlah kepada kami keterangan; sesungguhnya kami melihat engkau golongan orang yang berbuat baik.1234

 

37. Dia berkata: Tiada datang kepada kamu makanan yang kamu makan, melainkan aku beritahukan keterangannya kepada kamu sebelum itu datang kepada kamu. Inilah sebagian dari apa yang diajarkan oleh Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tak beriman kepada Allah dan kafir kepada Akhirat.

 

38. Dan aku mengikuti agama ayah-ayahku, Ibrahim dan Ishak dan Ya’qub. Tak pantas bagi kami menyekutukan sesuatu dengan Allah. Ini adalah dari anugerah Allah kepada kami dan kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tak berterima kasih.

 

39. Wahai dua kawan sepenjaraku, apakah tuhan yang bermacam-macam itu lebih baik, ataukah Allah Yang Maha-esa, Yang Maha-unggul?

 

40. Kamu tak menyembah sesuatu selain Dia, kecuali hanya menyembah nama-nama yang kamu menamakan dia, kamu dan ayah-ayah kamu. Allah tak menurunkan kekuasaan kepada mereka. Hukum itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia menyuruh agar kamu tak menyembah kepada siapa saja selain Dia. Ini adalah agama yang benar, tetapi kebanyakan manusia tak tahu.

 

41. Wahai dua kawan sepenjaraku, adapun yang seorang di antara kamu, ia akan menyajikan minuman anggur kepada tuannya; adapun yang lain, ia akan disalib, dan burung-burung akan makan dari kepalanya. Perkara yang kamu tanyakan telah diputus.

 

42. Dan dia berkata kepada salah seorang di antara mereka yang dia tahu bahwa ia akan bebas: Sampaikanlah keadaanku kepada tuanmu. Tetapi setan membikin dia lupa mengutarakan (itu) kepada tuannya, maka ia (Yusuf) tinggal dalam penjara beberapa tahun lamanya.1235
 

Ruku’ 6: Impian Raja ditafsirkan oleh Nabi Yusuf

 

43. Dan Raja berkata: Aku (bermimpi) melihat tujuh ekor lembu yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor lembu yang kurus-kurus; dan tujuh bulir yang hijau-hijau, dan (tujuh bulir) lain yang kering.1236 Wahai para pemuka, terangkanlah impianku kepadaku, jika kamu dapat menafsirkan impian.

 

44. Mereka berkata: Impian kacau-balau, dan kami tak tahu akan arti impian itu.

 

45. Dan salah seorang yang bebas (dari hukuman) dan ingat setelah sekian lamanya, berkata: Aku akan menerangkan kepada anda arti (impian) itu, maka utuslah aku.

 

46. Wahai Yusuf yang tulus, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor lembu yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor lembu yang kurus-kurus, dan tujuh bulir yang hijau-hijau, dan (tujuh bulir) lain yang kering, agar aku dapat kembali kepada orang-orang, agar mereka tahu.

 

47. Dia berkata: Bercocok-tanamlah selama tujuh tahun seperti biasa, lalu apa yang telah kamu tuai, biarkanlah di tangkainya, kecuali sebagian kecil yang kamu makan.

 

48. Lalu sesudah itu, akan datang tujuh tahun sengsara yang akan menelan habis apa yang kamu simpan sebelumnya, kecuali sebagian kecil yang kamu simpan.

 

49. Lalu sesudah itu akan datang tahun, yang (dalam tahun) itu manusia akan diberi hujan, dan dalam (tahun) itu mereka akan memeras (anggur).
 

Ruku’ 7: Nabi Yusuf dibersihkan dari tuduhan

 

50. Dan Raja berkata: Bawalah dia kepadaku. Maka setelah utusan datang kepadanya, dia (Yusuf) berkata: Kembalilah kepada tuan dikau, dan tanyakanlah kepada beliau, bagaimana perkara wanita yang memotong tangan mereka. Sesungguhnya Tuhan tahu tipu-daya mereka.

 

51. (Raja) berkata: Bagaimanakah urusan kamu tatkala kamu membujuk Yusuf? Mereka berkata: Maha-suci Allah! Kami tak tahu suatu keburukan pada dirinya. Istri pemuka berkata: Kini kebenaran menjadi terang. Akulah yang berusaha membujuk dia, dan sesungguhnya dia itu golongan orang yang tulus.1237

 

52. Demikianlah agar ia tahu bahwa aku tak berkhianat kepadanya secara sembunyi-sembunyi, dan bahwa Allah tak memberi petunjuk kepada tipu-daya orang-orang yang khianat.1238
JUZ XIII

 

53. Dan aku tak menyebut diriku bebas dari kesalahan; sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh (orang) berbuat jahat, kecuali orang yang mendapat rahmat Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.1239

 

54. Dan Raja berkata: Bawalah dia kepadaku, dia akan aku pilih untukku sendiri. Maka setelah ia berbicara dengan dia, ia berkata: Pada hari ini engkau adalah orang yang sungguh-sungguh terhormat dan tepercaya di hadapanku.

 

55. Dia (Yusuf) berkata: Jadikanlah aku (sebagai penguasa) atas perbendaharaan negara; sesungguhnya aku adalah penjaga yang baik, yang mempunyai pengetahuan.

 

56. Dan demikianlah Kami berikan kepada Yusuf kedudukan di bumi (negeri Mesir) ia mempunyai kekuasaan di mana saja ia kehendaki. Kami menganugerahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki, dan Kami tak menyia-nyiakan ganjaran orang yang berbuat baik.

 

57. Dan sesungguhnya ganjaran di Akhirat itu lebih baik bagi mereka yang beriman dan menjaga diri dari kejahatan.
 

Ruku’ 8: Nabi Yusuf membantu saudara-saudaranya

 

58. Dan saudara-saudara Yusuf datang, dan mereka masuk ke (tempat) dia; dan dia tahu mereka, tetapi mereka tak mengenal dia.

 

59. Dan setelah ia siapkan untuk mereka bahan makanan yang mereka perlukan, ia berkata: Bawalah ke mari saudara kamu yang seayah dengan kamu. Apakah kamu tak tahu bahwa aku memberi takaran penuh, dan bahwa aku adalah tuan rumah yang amat baik?

 

60. Tetapi jika kamu tak membawa dia kepadaku, kamu tak akan mendapat takaran (gandum lagi) daripadaku, dan kamu tak boleh mendekati aku lagi.

 

61. Mereka berkata: Kami akan berusaha untuk membujuk ayahnya mengenai dia dan kami pasti akan mengerjakan (itu).

 

62. Dan dia (Yusuf) berkata kepada pembantunya: Masukkanlah uang mereka1240 dalam karung mereka agar mereka tahu akan itu setelah mereka kembali pada keluarga mereka, sehingga mereka akan kembali lagi.

 

63. Setelah mereka kembali kepada ayah mereka, mereka berkata: Wahai ayah kami, takaran tak akan diberikan lagi kepada kami, maka dari itu suruhlah saudara kami menyertai kami agar kami memperoleh takaran lagi, dan kami akan menjaga dia dengan sungguh-sungguh.

 

64. Dia berkata: Dapatkah aku mempercayakan dia kepada kamu, kecuali seperti aku mempercayakan saudaranya dahulu kepada kamu. Tetapi Allah adalah Penjaga Yang paling baik; dan Dia itu sebaik-baik Tuhan Yang Maha-pemurah.

 

65. Dan setelah mereka membuka barang-barang mereka, mereka menemukan uang mereka dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata: Wahai ayah kami, apalagi yang kami harapkan? Ini uang kami dikembalikan kepada kami, dan kami akan membawa gandum untuk keluarga kami dan menjaga saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan takaran seberat muatan unta. Ini adalah takaran yang mudah.

 

66. Dia berkata: Aku tak akan menyuruh dia menyertai kamu, sampai kamu berjanji kepadaku dengan nama Allah, bahwa kamu akan membawa dia kembali kepadaku, kecuali jika kamu terkepung sama sekali. Maka setelah mereka memberi janji kepadanya, dia berkata: Allah adalah Yang mengawasi apa yang kita katakan.

 

67. Dan dia berkata: Wahai putra-putraku, janganlah kamu masuk dari satu pintu, dan masuklah dari pintu yang berlain-lainan.1241 Dan aku tak berguna sedikit pun bagi kamu melawan (keputusan) Allah. Keputusan itu hanya pada Allah semata-mata. Aku bertawakal kepada-Nya, dan orang-orang yang tawakal hendaklah bertawakal kepada-Nya.

 

68. Dan setelah mereka masuk seperti yang diperintahkan oleh ayah mereka, dan ini tak berguna sedikit pun bagi mereka melawan keputusan Allah, selain hanya suatu keinginan dalam batin Ya’qub yang ia merasa puas. Dan sesungguhnya dia itu mempunyai ilmu, karena Kami berikan ilmu kepadanya, tetapi kebanyakan manusia tak tahu.1242
 

Ruku’ 9: Saudara Nabi Yusuf yang paling muda

 

69. Dan setelah mereka masuk ke (tempat) Yusuf, ia memondokkan saudaranya (sekandung) dengan dia sendiri, ia berkata: Aku adalah saudaramu, maka janganlah engkau berduka-cita akan apa yang mereka lakukan.

 

70. Lalu setelah ia siapkan untuk mereka bahan makanan yang mereka perlukan, (salah seorang) memasukkan mangkuk minum dalam karung saudaranya.1243 Lalu seorang penyeru menyeru:1244 Wahai kafilah, sesungguhnya kamu itu pencuri!

 

71. Mereka berkata sambil menghadap ke arah mereka: Kehilangan apakah kamu?

 

72. Mereka berkata: Kami kehilangan mangkuk raja, dan bagi siapa yang mengembalikan itu, akan mendapat (gandum) seberat muatan unta, dan akulah yang bertanggung-jawab akan itu.

 

73. Mereka berkata: Demi Allah! Sesungguhnya kamu tahu bahwa kedatangan kami bukanlah untuk berbuat bencana di bumi, dan kami bukanlah pencuri.

 

74. Mereka berkata: Apakah hukumannya jika kamu dusta?

 

75. Mereka berkata: Hukumannya ialah barangsiapa dalam karungnya kedapatan (mangkuk) itu, ia sendirilah (yang menanggung) hukumannya. Demikianlah kami menghukum orang-orang lalim.

 

76. Maka mulailah ia (menggeledah) karung mereka sebelum karung saudaranya,1245 lalu ia keluarkan itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami membuat rencana itu demi kepentingan Yusuf.1246 Ia tak dapat mengambil saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali jika Allah menghendaki. Kami meninggikan derajat orang yang Kami kehendaki. Dan di atas sekalian orang yang mempunyai ilmu ialah Dzat Yang Maha-tahu.

 

77. Mereka berkata: Jika ia mencuri, niscaya saudaranya dahulu juga mencuri.1247 Tetapi Yusuf menyimpan ini dalam batinnya, dan tak melahirkan ini kepada mereka. Dia berkata: Kamu lebih buruk keadaannya, dan Allah tahu benar apa yang kamu lukiskan.

 

78. Mereka berkata: Wahai yang mulia, dia mempunyai ayah yang amat tua, maka ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya. Sesungguhnya kami melihat engkau golongan orang yang baik.

 

79. Dia berkata: Semoga dapat perlindungan Allah bahwa kami mengambil yang lain dari orang yang kami temukan barang kami ada padanya, karena jika demikian, kami sungguh-sungguh lalim.
 

Ruku’ 10: Nabi Yusuf membuka identitasnya

 

80. Maka setelah mereka putus-harapan tentang dia, mereka berunding secara rahasia. Yang tertua di antara mereka berkata: Apakah kamu tak tahu bahwa ayah kamu telah mengambil perjanjian dengan kamu atas nama Allah, dan bahwa kamu dahulu tak memenuhi kewajiban kamu terhadap Yusuf? Maka aku tak akan meninggalkan negeri ini, sampai ayahku memberi izin kepadaku, atau Allah memberi keputusan kepadaku; dan Dia adalah Hakim yang paling baik.

 

81. Kembalilah kepada ayah kamu dan katakanlah: Wahai ayah kami, anak engkau mencuri. Dan kami tak menyaksikan selain apa yang kami tahu, dan kami bukanlah yang mengawasi barang gaib.

 

82. Dan tanyakanlah kepada (penduduk) kota yang kami berada di sana, dan (tanyakanlah) kepada kafilah yang kami berjalan dengan mereka. Dengan sesungguhnya kami adalah orang yang tulus.

 

83. Dia berkata: Tidak, jiwa kamu mereka-reka perkara untuk kamu, maka sabar itu baik. Boleh jadi Allah akan membawa mereka semua kepadaku. Sesungguhnya Dia itu Yang Maha-tahu, Yang Maha-bijaksana.

 

84. Dan dia menyingkir dari mereka, dan berkata: Alangkah sedihku terhadap Yusuf! Dan matanya penuh (air mata)1248 karena duka cita, lalu ia menahan (duka citanya).

 

85. Mereka berkata: Demi Allah! Engkau tak henti-hentinya mengingat-ingat Yusuf sampai engkau menderita sakit atau tergolong orang yang akan binasa.1249

 

86. Dia berkata: Sesungguhnya aku hanya mengadu kesedihanku dan kesusahanku kepada Allah, dan dari Allah aku tahu apa yang kamu tak tahu.1250

 

87. Wahai putra-putraku, berangkatlah kamu dan carilah keterangan tentang Yusuf dan saudaranya, dan janganlah kamu putus asa akan kemurahan Allah.1251 Sesungguhnya tiada yang putus-asa akan kemurahan Allah selain kaum kafir.

 

88. Maka setelah mereka masuk ke (tempat) dia, mereka berkata: Wahai yang mulia, kami dan keluarga kami ditimpa kesengsaraan, dan kami hanya membawa uang sedikit, maka berilah kami takaran yang penuh dan bersedekahlah kepada kami. Sesungguhnya Allah akan mengganjar orang-orang yang bersedekah.

 

89. Dia berkata: Tahukah kamu apa yang kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya tatkala kamu dalam kebodohan?

 

90. Mereka berkata: Apakah sesungguhnya engkau ini Yusuf? Dia berkata: Aku adalah Yusuf dan ini adalah saudaraku; Allah benar-benar telah menganugerahkan karunia kepada kami. Sesungguhnya siapa saja yang bertaqwa dan bersabar, Allah pasti tak menyia-nyiakan ganjaran orang yang berbuat baik.

 

91. Mereka berkata: Demi Allah! Allah benar-benar telah memilih engkau melebihi kami, dan sesungguhnya kami adalah orang yang berdosa

 

92. Dia berkata: Pada hari ini tak ada celaan bagi kamu.1252 Semoga Allah mengampuni kamu, dan Dia adalah Yang paling Maha-pemurah.1253

 

93. Berangkatlah kamu dengan bajuku ini dan letakkanlah di hadapan wajah ayahku — ia akan menjadi tahu.1254 Dan bawalah kepadaku sekalian keluarga kamu.
 

Ruku’ 11: Israil berangkat ke Mesir

 

94. Dan setelah kafilah berangkat (dari Mesir), ayah mereka berkata: Sesungguhnya aku mencium bau (keharuman) Yusuf, jika kamu tak menyebut aku pikun.1255

 

95. Mereka berkata: Demi Allah! Sesungguhnya engkau berada dalam kesesatan dikau yang dahulu.

 

96. Lalu setelah orang yang membawa berita baik datang, ia meletakkan itu di hadapan wajahnya, maka ia menjadi tahu. Dia berkata: Bukankah telah aku katakan kepada kamu bahwa aku tahu dari Allah apa yang kamu tak tahu.

 

97. Mereka berkata: Wahai ayah kami, mohonlah ampun untuk kami atas dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang yang berdosa.

 

98. Dia berkata: Aku akan mohonkan ampun untuk kamu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha-pengampun dan Maha-pengasih.

 

99. Lalu setelah mereka masuk ke (tempat) Yusuf, ia memondokkan ayah-ibunya1256 dengan dia sendiri, dan dia berkata: Masuklah di Mesir dengan aman, insya Allah.

 

100. Dan dia menaikkan ayah-ibunya di atas singgasana,1257 dan mereka merebahkan diri bersujud karena dia.1258 Dan dia berkata: Wahai ayahku, ini adalah arti impianku dahulu, Tuhanku membuat (impian) itu benar. Dan Ia sungguh-sungguh baik hati kepadaku, tatkala Ia mengeluarkanku dari penjara, dan mendatangkan engkau sekalian dari padang pasir, setelah setan menyebarkan benih perpecahan antara aku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Yang Maha-baikhati kepada siapa yang Ia kehendaki. Sesungguhnya Dia itu Yang Maha-tahu, Yang Maha-bijaksana.

 

101. Tuhanku, Engkau telah memberi sebagian kerajaan kepadaku dan telah mengajarkan kepadaku penafsiran kalam ibarat. Pencipta langit dan bumi, Engkau adalah Pelindungku di dunia dan di Akhirat. Matikanlah aku sebagai orang yang berserah diri, dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang yang tulus.

 

102. Ini adalah sebagian berita gaib yang Kami wahyukan kepada engkau; dan engkau tidaklah berada di dekat mereka tatkala mereka memutuskan perkara mereka, dan merencanakan tipu-muslihat mereka.1259

 

103. Dan kebanyakan manusia tak beriman, walaupun engkau sangat mengharapkan itu.

 

104. Dan untuk ini, engkau tak minta upah kepada mereka. Ini tiada lain hanyalah peringatan bagi sekalian manusia.
 

Ruku’ 12: Pelajaran bagi musuh Nabi Suci

 

105. Dan banyak sekali tanda bukti di langit dan di bumi yang mereka lalui, namun mereka tak berpaling daripadanya.

 

106. Dan kebanyakan mereka tak beriman kepada Allah, tanpa mempersekutukan tuhan lain (dengan Dia).

 

107. Apakah mereka merasa aman jika siksaan Allah yang melingkupi itu mendatangi mereka, atau, Sa’ah mendatangi mereka secara tiba-tiba, sedangkan mereka tak merasa.

 

108. Katakanlah: Ini adalah jalanku: Aku menyeru kepada Allah, dengan yakin — aku dan orang-orang yang mengikuti aku. Dan Maha-suci Allah, dan aku bukanlah golongan orang musyrik.

 

109. Dan Kami tak mengutus sebelum engkau, kecuali hanya orang-orang di antara penduduk kota, yang kepada mereka Kami turunkan wahyu. Apakah mereka tak berkeliling di bumi dan melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka? Dan sesungguhnya, tempat tinggal di Akhirat itu amat baik bagi orang yang menjaga diri dari kejahatan. Apakah kamu tak mengerti?

 

110. Sampai tatkala para Utusan mereka putus-asa, dan (orang-orang) mengira bahwa mereka telah dibohongi, datanglah pertolongan Kami kepada mereka, dan Kami selamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan siksaan Kami tak dapat ditolak oleh orang-orang yang berdosa.1260

 

111. Sesungguhnya dalam kisah mereka adalah pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Ini bukanlah cerita yang dibikin-bikin, melainkan membetulkan apa yang ada sebelumnya, dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebuah petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

  1. Kisah ini disebut kisah yang terbaik, karena ini berupa gambaran yang terbaik tentang perlakuan kaum Quraisy terhadap Nabi Suci, dan perlakuan Nabi Suci terhadap mereka. Dengan menirukan kata-kata yang diucapkan oleh Nabi Yusuf kepada saudara-saudara beliau — pada hari ini tak ada celaan terhadap kamu (ayat 92), Nabi Suci mengampuni orang-orang Makkah atas segala kekejaman yang mereka lakukan terhadap beliau, kekejaman yang hanya mempunyai satu tujuan, yaitu menghancurkan Islam dan membinasakan Nabi Suci dan para pengikut beliau. []
  2. Yang dimaksud “tak sadar” bagi Nabi Suci ialah, tentang kejadian yang akan beliau alami, yang diisyaratkan seterang-terangnya dalam peristiwa Nabi Yusuf dari tempat kediaman beliau, tetapi saudara-saudara sebangsa yang mengusir beliau akibatnya bertekuk lutut kepada beliau dan mohon ampun atas kesalahan mereka, sebagaimana dilakukan oleh saudara-saudara Nabi Yusuf. Tetapi “tak sadar” di sini dapat pula ditujukan kepada segala sesuatu yang diceritakan dalam Qur’an, karena sebelum Nabi Suci menerima wahyu, beliau tak tahu apa-apa. Hal ini diterangkan dalam 42:52: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepada engkau Kitab yang membangkitkan roh atas perintah dari Kami; dahulu engkau tak tahu apakah kitab itu, dan tak tahu (pula) apakah iman itu, tetapi Kami buat itu cahaya, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba Kami”. []
  3. Bandingkanlah dengan Kitab Kejadian 37:9: “Aku bermimpi pula: Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembahku”. []
  4. Yang dimaksud orang yang bertanya ialah, orang yang bertanya tentang Nabi Suci, yang pada waktu itu dianiaya sehebat-hebatnya oleh orang-orang Makkah. Dengan kata-kata yang jelas, mereka diberitahu bahwa sejarah Nabi Suci dan musuh-musuh beliau adalah sejarah yang dialami oleh Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya. []
  5. Yang dimaksud di sini ialah, saudara kandung Nabi Yusuf yang bernama Benyamin. []
  6. Permufakatan jahat kaum Quraisy terhadap Nabi Suci diterangkan dalam Qur’an dengan kata-kata: “Dan tatkala orang-orang kafir merencanakan suatu rencana terhadap engkau, bahwa mereka hendak memenjarakan engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau” (8:30). []
  7. “Lagi kata Ruben kepada mereka: Janganlah tumpahkan darah, lemparkanlah dia ke dalam sumur yang ada di padang gurun, tetapi janganlah apa-apakan dia” (Kitab Kejadian 37:22). []
  8. Ada perbedaan penting antara kisah yang diuraikan dalam Bibel dan yang diuraikan dalam Qur’an, yakni apa yang diuraikan dalam Bibel kisah biasa, sedangkan dalam Qur’an, mengandung unsur kerohanian, yang unsur itu sendiri dapat membenarkan ditulisnya kisah itu dalam Kitab dengan maksud sebagai petunjuk bagi manusia. Ada seorang anak yang umurnya tak lebih dari tujuh belas tahun, yang walaupun rasa-rasanya hilang untuk selama-lamanya, namun menerima wahyu dan janji Tuhan, bahwa pada suatu hari ia akan mengalahkan saudara-saudaranya yang berperilaku sewenang-wenang. Inilah keadaan yang dialami oleh seorang Nabi yang benar-benar membuat beliau sanggup menghadapi segala kesukaran dan kesulitan, yaitu keyakinan yang mendalam tentang kemenangan akhir bagi kebenaran, yang ini adalah berkat Wahyu dari Yang Maha-tinggi. []
  9. Qur’an menggambarkan Nabi Ya’kub sebagai orang yang sudah dari permulaan meragukan kejujuran saudara-saudara Nabi Yusuf, tetapi tidak demikian halnya Bibel. Demikian pula menurut Qur’an, Nabi Yusuf menceritakan impiannya kepada ayahnya, yang seketika itu merasa khawatir akan iri hati saudara-saudaranya jika mereka mengetahui hal ini; tetapi menurut kitab Bibel, Nabi Ya’qub marah kepada Nabi Yusuf karena impiannya. Selain itu, masih banyak lagi perbedaan yang lain, misalnya Bibel menggambarkan Nabi Ya’qub sebagai manusia biasa, sedangkan Qur’an menggambarkan beliau sebagai Nabi. Bibel menerangkan bahwa Nabi Ya’qub berduka-cita karena kehilangan putra kesayangannya, seperti halnya manusia biasa, sedangkan Qur’an menerangkan bahwa sejak semula beliau mempunyai harapan penuh: “Allah adalah yang dimohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu saksikan”. Dan harapan inilah yang menjadi sinar terang di sepanjang riwayat, yang tanpa ini, riwayat hanya akan berupa lukisan gelap yang tak ada nilainya sebagai ajaran rohani. Ada lagi yang jejak-jejaknya masih tertinggal dalam Bibel, yang menunjukkan bahwa kisah yang diuraikan dalam Kitab Kejadian tak menggambarkan karakter Nabi Ya’qub yang sebenarnya, karena dalam Kitab Kejadian 37:11 diterangkan: “Maka iri hatilah saudara-saudaranya kepadanya, tetapi ayahnya menyimpan hal itu dalam hatinya”; artinya menyimpan impian itu dalam hatinya, yang ini menunjukkan bahwa beliau yakin akan kebenaran impian itu. Jadi, sebenarnya Qur’an membersihkan riwayat yang diuraikan dalam Bibel yang bertentangan satu sama lain. []
  10. Bandingkanlah dengan Kitab Kejadian 37:28 yang menyatakan: “Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Israil itu dengan harga dua puluh syikal perak”. Boleh jadi orang yang menjual beliau ialah saudagar-saudagar yang menemukan beliau di sumur; tetapi mungkin pula yang menjual itu ialah saudara-saudara beliau sendiri; menurut riwayat yang diuraikan dalam Kitab Kejadian, saudara-saudara Nabi Yusuf menjual beliau kepada saudagar Midian, yang selanjutnya beliau dijual kembali kepada orang Mesir. []
  11. “Adapun Yusuf, ia dijual oleh orang Midian itu ke Mesir, kepada Potifar, seorang pegawai Istana Fir’aun, kepala pengawal raja” (Kitab Kejadian 37:36). []
  12. “Tetapi Tuhan menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya” (Kitab Kejadian 39:2). []
  13. Râwadat-hu artinya berusaha untuk membelokkan dia dari suatu hal. []
  14. []
  15. Ini bukan berarti Yusuf mempunyai keinginan kepadanya, melainkan cobaan Tuhan begitu berat, sehingga andaikata beliau tak kuat imannya kepada Allah, niscaya beliau akan jatuh sebagai korban kelemahan nafsu daging. []
  16. Kitab Bibel tak menerangkan usaha Nabi Yusuf untuk mempertahankan budi-luhurnya pada saat itu, dan tak pula menerangkan barang bukti berupa baju; padahal tanpa ini semua, peristiwa (yang diterangkan dalam Kitab Kejadian 39:12) yang tak menyebut-nyebut jubah, menjadi tak ada artinya. Agaknya ini memang sengaja dihilangkan. Ruku’ berikutnya membuktikan bahwa Nabi Yusuf tidaklah dipenjara karena tuduhan memperkosa istri majikannya. []
  17. Yang dimaksud Al-‘Azîz ialah Potifar (Kf). Kata ‘azîz makna aslinya yang perkasa, yang kuat, yang sentosa, dan gelar ini diterapkan terhadap pejabat yang berkuasa, seperti Kepala Pengawal Raja, yang jabatan ini diduduki oleh Potifar. Adapun raja sendiri disebut malik (ayat 43); dan dalam ayat 78, Nabi Yusuf yang kedudukannya hanya sebagai pejabat tinggi, buka Raja, beliau disebut Al-‘Azîz. []
  18. Kata syaghafahâ makna aslinya ia menawan hati wanita begitu rupa, hingga kecintaan kepadanya masuk dalam syighaf, yaitu lubuk hati (LL). []
  19. Di sini tuduhan yang didesas-desuskan oleh kaum wanita disebut makr atau rencana. Sebagian mufassir berpendapat bahwa istri Potifar tahu bahwa kaum wanita menyebarkan berita dengan maksud agar mereka diberi kesempatan untuk melihat Yusuf. Oleh sebab itu, ini disebut makr atau rencana mereka. []
  20. Kata muttaka’an arti sebenarnya ialah tempat bersandar, lalu ini berarti tempat duduk dimana orang bersandar di waktu makan, minum atau sedang bercakap-cakap, dan berarti pula makanan atau hidangan; makna yang paling akhir inilah yang dianggap sebagai arti kata muttaka’an di sini (LL). Para mufassir menambahkan bahwa muttaka’an ialah suatu makanan yang harus dipotong dengan pisau, dan itulah sebabnya mengapa pisau dibagikan kepada mereka. []
  21. Bangsa Mesir adalah bangsa yang menganut takhayul dan musyrik; jika mereka melihat sesuatu yang aneh, atau melihat orang yang nampaknya mengagumkan, mereka menganggap itu Tuhan. Oleh karena itu, tatkala mereka melihat Nabi Yusuf, mereka mengira bahwa beliau bukan manusia biasa. []
  22. Tak ada ayat yang menerangkan bahwa Nabi Yusuf dimasukkan ke dalam penjara atas tuduhan memperkosa istri Potifar. Oleh karena beliau tak terbukti bersalah atas tuduhan itu, maka ada kemungkinan bahwa dimasukkannya beliau ke dalam penjara disebabkan tuduhan lain yang dituduhkan kepada beliau; dan mungkin pula raja yang mempunyai kekuasaan yang tak terbatas, tak memerlukan alasan untuk memasukkan orang tak bersalah ke dalam penjara. Adapun yang dimaksud tanda bukti di sini ialah tanda bukti tentang tak bersalahnya Nabi Yusuf. []
  23. Bandingkanlah dengan Kitab Kejadian bab 40. Akan tetapi di sana tak disebut-sebut dakwah Nabi Yusuf. Adapun dua pemuda itu, yang seorang adalah pelayan minuman dan yang seorang lagi tukang membuat roti. []
  24. Hendaklah diingat bahwa empat impian yang disebutkan dalam Surat ini, yaitu dua impian disebutkan di sini, dan impian Nabi Yusuf yang disebutkan dalam ayat 4, dan impian raja yang disebutkan dalam ayat 43, perkataan yang digunakan dalam melihat impian, adalah sama seperti perkataan yang digunakan untuk melihat barang biasa, yaitu kata ‘ara (berasal dari kata ru’yat yang artinya melihat ). []
  25. Kata bid’un digunakan untuk menunjukkan bilangan dari tiga sampai sepuluh; menurut sebagian ulama, bilangan satu sampai sepuluh (LL). []
  26. Bandingkanlah dengan Kitab Kejadian 41:1-31. []
  27. []
  28. Ini adalah kata-kata Nabi Yusuf yang menerangkan sikap beliau yang memilih tetap tinggal di penjara sampai ada ketegasan bahwa beliau dinyatakan tak bersalah. []
  29. Ini juga kata-kata Nabi Yusuf. Diriwayatkan dalam Bibel, bahwa tatkala orang menyebut Nabi ‘Isa sebagai Guru yang baik, beliau berkata: “Mengapa kau katakan Aku baik?” (Markus 10:18). Orang-orang tulus tak pernah menyebut dirinya baik, tetapi selalu berkata bahwa segala kebaikan adalah kepunyaan Sumber segala kebaikan, yaitu Allah. Di sini nafsu manusia disebut ammarah artinya yang selalu menyuruh berbuat jahat. Sebenarnya, nafsu ammarah adalah tingkat perkembangan rohani yang paling rendah. Ini yang biasa disebut nafsu hewani. Dalam tingkat ini, hawa nafsu dan nafsu hewani menguasai batin manusia, dan setiap saat manusia dapat melakukan kejahatan tanpa merasa menyesal sedikit pun. Dalam tingkatan ini, manusia hanya tunduk kepada ajakan hawa nafsu seperti binatang. Tingkat berikutnya disebut nafsu lawwamah, yang diungkapkan dalam 75:2 sebagai nafsu yang menyalahkan diri sendiri; jika orang menyimpang sedikit saja dari jalan yang benar, seketika itu timbul rasa menyesal dalam batinnya. Tingkat ketiga, yaitu tingkat manusia sempurna, disebut nafsu muthmainnah maknanya nafsu yang tenang. Lihatlah tafsir nomor 2732. Manusia yang telah mencapai tingkat kedua dalam kemajuan rohani, dan manusia yang mencapai tujuan kesempurnaan, disebut manusia yang mendapat rahmat Tuhan. []
  30. Bidlâ’ah artinya barang dagangan atau sebagian kekayaan yang diputarkan untuk perdagangan (LL). Uang juga disebut bidlâ’ah, karena uang itu modal yang dapat diputarkan. []
  31. Rupa-rupanya dengan perantaraan Wahyu Ilahi, Nabi Ya’qub tahu bahwa Nabi Yusuf berada di sana, oleh karena itu beliau menyuruh putra-putranya supaya pergi ke sana masuk melalui pintu yang berlainan, sehingga Nabi Yusuf dapat berjumpa dengan saudara kandung beliau. Ayat berikutnya lebih menjelaskan lagi hal itu: “Dan sesungguhnya dia mempunyai ilmu, karena Kami memberi ilmu kepadanya”. []
  32. Riwayat yang diuraikan dalam Bibel menggambarkan Nabi Ya’qub sebagai orang yang tak tahu menahu tentang perkara ini. []
  33. Menurut riwayat yang diuraikan dalam Bibel, orang yang memasukkan mangkuk minum adalah Nabi Yusuf sendiri. Tetapi Qur’an tak berkata demikian. Ini dibuktikan dengan adanya kenyataan, bahwa pemberian bahan makanan tak dilakukan sendiri oleh Nabi Yusuf. Orang lainlah yang melaksanakan perintah dan menyiapkan bahan makanan, ini terang dari uraian ruku’ sebelumnya yang menerangkan bahwa segala sesuatu dikerjakan oleh pembantu Nabi Yusuf, demikian pula pada waktu beliau mengembalikan uang, beliau hanya menyuruh pembantu beliau mengerjakan itu. Dalam ayat ini tak diberikan perintah memasukkan mangkuk minum. Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa yang memasukkan mangkuk minum itu ke dalam karung saudara Nabi Yusuf ialah para pelayan raja. Di sini tak diterangkan apakah mereka memasukkan itu dengan sengaja ataukah karena khilaf, bunyi ayatnya memang dapat diartikan salah satu di antara itu.
    Apakah memasukkan mangkuk itu tak dilakukan oleh salah seorang saudara Nabi Yusuf, agar Benyamin juga terpisah dari Nabi Ya’qub? Kemungkinan itu diungkapkan seterang-terangnya dalam ayat 77 yang menerangkan bahwa Nabi Yusuf menuduh mereka melakukan perbuatan dosa: “Kamu adalah lebih buruk lagi keadaannya”. Dalam ayat 89 diungkapkan lebih jelas lagi, tatkala Nabi Yusuf berkata: “Tahukah kamu apa yang kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya tatkala kamu dalam kebodohan?”. Selain cerita tentang mangkuk, tak ada uraian lagi dalam Qur’an yang menerangkan bahwa mereka melakukan kesalahan terhadap Benyamin. Oleh sebab itu, kami berpendapat bahwa yang memasukkan mangkuk ke dalam karung Benyamin ialah salah seorang saudara Nabi Yusuf sendiri, dengan maksud agar Benyamin terlibat dalam tindak pidana, agar ia terpisah dari Nabi Ya’qub yang amat sayang kepadanya di samping Nabi Yusuf. []
  34. Keliru sekali jika dikira bahwa orang yang berteriak ialah orang yang memasukkan mangkuk ke dalam karung Benyamin. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat 77, mangkuk minum itu kepunyaan raja, dengan kata lain, mangkuk itu bukan milik pribadi Nabi Yusuf, melainkan milik raja, atau milik Pemerintah. Jelas sekali bahwa pejabat yang ditugasi urusan bahan makanan, berbeda dengan pejabat yang ditugasi menjaga barang milik raja. []
  35. Hal ini dilakukan demi menghormati saudara Nabi Yusuf itu, karena mereka tahu bahwa Nabi Yusuf memondokkan dia di tempat beliau. []
  36. Pernyataan ini menerangkan sejelas-jelasnya bahwa ini bukanlah rencana Nabi Yusuf, melainkan rencana Tuhan. Dengan kata lain, keadaan itu memang dibuat untuk menolong Nabi Yusuf agar dapat berkumpul dengan saudaranya. Sudah tentu keinginan Nabi Yusuf ialah menahan adiknya pada waktu saudara-saudaranya yang lain pulang. Tetapi beliau tak mungkin berbuat demikian di bawah undang-undang Kerajaan Mesir, sebagaimana diuraikan dalam kalimat berikutnya. Ini menunjukkan bahwa orang yang hidup di bawah pemerintahan asing harus tunduk kepada undang-undang pemerintah itu. []
  37. Saudara-saudara Nabi Yusuf membuat keterangan palsu mengenai Nabi Yusuf untuk menutup perbuatan jahat mereka. Mereka berkata: “Jika Benyamin pencuri, saudaranya, Yusuf, juga pencuri, seakan-akan mereka mempunyai maksud hendak berkata bahwa kelakuan jahat itu disebabkan ibu beliau. Boleh jadi yang diungkapkan di sini ialah apa yang diuraikan dalam Kisah Kejadian 31:19 yang mengatakan: “Ketika itulah Rachel (ibu Nabi Yusuf) mencuri terafim ayahnya”. []
  38. Ibyadla dan bayyadla mengandung arti yang hampir sama, kata bayyadla — siqa’a berarti amla’ahu, artinya mengisi bejana (T). LL juga memberi arti demikian kepada kalimat itu. I’Ab menerangkan arti kalimat itu: Mata beliau penuh air mata (Rz). Sekalipun kami mengambil makna aslinya, yakni mata beliau menjadi putih, ini pun berarti, mata beliau menjadi putih karena air mata yang selalu bercucuran manakala disebut nama Yusuf. []
  39. Haradl artinya orang yang begitu bingung dan begitu sakit sehingga tak dapat diharapkan lagi baiknya. Kata ini berarti pula orang yang jatuh sehingga ia tak dapat bangun lagi atau orang yang menderita sakit terus-menerus (LL). []
  40. Ini menunjukkan seterang-terangnya bahwa dengan Wahyu Ilahi, Nabi Ya’qub tahu bahwa Nabi Yusuf masih hidup. []
  41. Di sini Qur’an berbeda dengan Bibel, yaitu tentang keyakinan Nabi Ya’qub bahwa Nabi Yusuf masih hidup, berdasarkan pengetahuan yang beliau terima dari Allah; oleh karena itu beliau mengutus putra-putra beliau yang ketiga kalinya ke Mesir untuk meyakinkan adanya Yusuf. Rupa-rupanya beliau mempunyai firasat bahwa Yusuf berada di Mesir. []
  42. Diriwayatkan dalam Hadits bahwa pada hari takluknya kota Makkah, Nabi Suci memegang dua sisi pintu Ka’bah dan berkata kepada orang-orang Quraisy: “Bagaimana pikiran kamu, tindakan apa yang akan aku lakukan terhadap kamu? Mereka menjawab: Kami hanya mengharapkan kebaikan, wahai saudara yang baik dan putra dari saudara yang baik. Lalu beliau berkata: Aku berkata seperti perkataan saudaraku Yusuf: Pada hari ini tak ada celaan terhadap kamu.” (Rz). []
  43. []
  44. Basyîr artinya orang yang melihat sesuatu dengan matanya, dan berarti pula orang yang dikaruniai penglihatan rohani atau orang yang tahu (LL). Qur’an tak berkata bahwa Nabi Ya’qub menjadi buta. Adapun baju Nabi Yusuf itu dikirim sebagai peringatan tentang baju yang berlumuran darah, yang pernah dibawa oleh saudara-saudara Nabi Yusuf kepada Nabi Ya’qub (ayat 18). []
  45. Setelah kafilah saudara-saudara Nabi Yusuf berangkat dari Mesir, Nabi Ya’qub menerima lagi suatu kepastian dari atas tentang Yusuf, maka dari itu beliau berkata kepada orang-orang sekeliling beliau bahwa beliau mencium bau harum Yusuf. Nabi Ya’qub tahu bahwa Yusuf masih hidup, dan ini telah beliau ceritakan berulangkali kepada para putra beliau; tetapi kini beliau berkata kepada mereka bahwa beliau mendapat kepastian dari Allah bahwa Yusuf menduduki jabatan tinggi. []
  46. Leah adalah saudara Rachel yang tertua, dan salah seorang istri Nabi Ya’qub (Kitab Kejadian 29:16-28). Walaupun Rachel (ibu Nabi Yusuf) sudah meninggal, tetapi bukan berarti ayat ini bertentangan dengan kenyataan, karena Leah pun dapat disebut ibu Nabi Yusuf, karena Leah adalah saudara ibu beliau dan istri ayah beliau. []
  47. Yang dimaksud di sini bukanlah singgasana raja, karena Nabi Yusuf tak menduduki takhta kerajaan. Nabi Yusuf hanyalah menaikkan ayah dan ibu beliau di atas kursi beliau yang tinggi; atau boleh jadi yang dimaksud ialah menempatkan mereka pada kedudukan yang baik. Bandingkanlah dengan Kitab Kejadian 47:11: “Yusuf menunjukkan kepada ayahnya dan saudara-saudaranya tempat untuk menetap dan memberikan kepada mereka tanah milik di tanah Mesir, di tempat yang terbaik di negeri itu”. []
  48. Melihat kedudukan Nabi Yusuf yang amat tinggi di Mesir, mereka semua bersujud ke hadapan Allah sebagai tanda terima kasih. Nabi Yusuf menyebut ini (yaitu kedudukan yang terhormat) sebagai terpenuhinya impian beliau. Hal ini diuraikan lebih jelas dalam ayat berikutnya. []
  49. Keterangan Rodwell bahwa “Muhammad pada saat itu, yakni pada saat ia menggubah dan menyelesaikan cerita itu, pasti dengan sengaja menyembunyikan perasaan dan tipuannya (meskipun baginya berlaku pula pepatah the end justifies the means employed — tujuan membenarkan cara-cara yang digunakan) tatkala ia mengaku bahwa semua itu adalah Wahyu”. Keterangan Rodwell ini jika bukan karena dendam kesumat, itu disebabkan karena kebodohan yang sudah kelewat batas. Di muka telah kami terangkan bahwa setiap kali Qur’an menguraikan hukuman yang menimpa para musuh Nabi, seketika itu Qur’an mengubah pokok persoalan yang menerangkan bahwa hukuman serupa itu disiapkan pula untuk para musuh Nabi Suci, dan di seluruh Qur’an Suci, berita tentang perkara gaib (anbaul-ghaib), ini bukanlah berarti sejarah para Nabi yang sudah-sudah, melainkan terulangnya kembali sejarah itu pada zaman Nabi Muhammad. Ambillah misalnya peristiwa berikut ini. Sejarah Nabi Yusuf diakhiri dengan satu doa (ayat 110) agar beliau dimasukkan dalam golongan orang yang tulus pada waktu beliau meninggal dunia; dan dalam ayat ini diungkapkan bahwa Nabi Suci akan mengalami peristiwa yang sama. Di muka telah kami terangkan bahwa peristiwa yang dialami oleh dua Nabi itu hampir serupa. Kalimat: “tatkala mereka memutuskan perkara mereka dan merencanakan tipu muslihat mereka”, ini mengisyaratkan keputusan kaum Quraisy dan rencana mereka untuk membunuh atau mengusir atau memenjarakan Nabi Suci. Lihatlah 8:30. Dua ayat dan seluruh ruku’ berikutnya menerangkan lebih jelas lagi bahwa perubahan pokok persoalan telah dikemukakan bersama dengan ayat ini. Qur’an menguraikan sejarah, bukanlah hanya sekedar memberi penerangan tentang kejadian yang sudah-sudah, melainkan agar ajaran yang terkandung dalam sejarah itu menjadi petunjuk bagi manusia di kemudian hari. Bandingkanlah dengan tafsir nomor 422, 1185 dan 1212. []
  50. Suatu kata-ganti (dlamir), jika tidak dimengerti betul-betul, dapat mengaburkan arti suatu ayat. Para Utusan memperingatkan kaumnya, tetapi kaum itu begitu keras kepala hingga lama-kelamaan para Utusan menjadi putus asa bahwa kaumnya akan mendapat faedah dari peringatan mereka. Sebaliknya, karena siksaan mereka ditangguhkan, mereka menganggap bahwa apa yang dikatakan oleh para Utusan tentang datangnya siksaan itu bohong. Lalu datanglah pertolongan yang dijanjikan kepada para Nabi, dan orang-orang jahat ditimpa siksaan yang diancamkan kepada mereka. Para Nabi tak pernah putus asa menanti datangnya pertolongan Tuhan sesuai janji Tuhan kepada mereka, ini diterangkan dengan jelas dalam ayat 87 yang menyatakan: “Sesungguhnya tiada yang putus asa akan kemurahan Allah selain kaum kafir”.[] []

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *