Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home / Al-Quran / 017 Bani Israil

017 Bani Israil

JUZ XV

SURAT 17

Bani Israil: Keturunan Israil

(Diturunkan di Makkah, 12 ruku’, 111 ayat)

Mukaddimah Surah Buka

 

Ruku’ 1: Bangsa Israil dihukum dua kali

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih.

 

1. Maha-suci Dia Yang menjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjid Suci ke Masjid yang jauh, yang sekelilingnya Kami berkahi, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian pertanda Kami.1410 Sesungguhnya Dia itu Yang Maha-mendengar, Yang Maha-melihat.

 

2. Dan kepada Musa telah Kami berikan Kitab, dan Kami membuat itu sebagai pimpinan bagi Bani Israil, (firman-Nya): Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku.1411

 

3. Keturunan orang-orang yang Kami angkut bersama Nuh. Sesungguhnya dia itu hamba yang banyak bersyukur.

 

4. Dan Kami undangkan kepada kaum Bani Israil dalam Kitab: Sesungguhnya kamu akan berbuat kerusakan di bumi dua kali, dan berlaku sombong dengan kesombongan yang besar.1412

 

5. Maka tatkala yang pertama dari dua peringatan itu tiba, Kami bangkitkan untuk melawan kamu, hamba Kami yang mempunyai keberanian yang luar biasa, lalu mereka mengobrak-abrik tempat kediaman (kamu). Dan ini adalah ancaman yang pasti terlaksana.

 

6. Lalu Kami berikan kepada kamu giliran untuk mengalahkan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan anak-anak, dan membuat kamu kelompok yang banyak.1413

 

7. Jika kamu berbuat baik, kamu berbuat baik untuk jiwa kamu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, ini (juga) untuk (jiwa kamu) sendiri. Maka tatkala peringatan yang kedua tiba, (Kami bangkitkan bangsa lain) agar mereka mendatangkan kesusahan kepada kamu dan agar mereka memasuki Masjid, seperti mereka memasuki itu untuk pertama kali, dan agar mereka menghancurkan apa yang mereka taklukkan, dengan hancur lebur.1414

 

8. Boleh jadi Tuhan kamu akan memberi rahmat kepada kamu. Dan jika kamu kembali (berbuat kerusakan), Kami akan kembali (pula menjatuhkan siksaan).1415 Dan Kami membuat Neraka sebagai penjara bagi kaum kafir.

 

9. Sesungguhnya Qur’an ini memimpin (manusia) pada jalan yang paling benar, dan memberi kabar baik kepada kaum mukmin yang berbuat baik, bahwa mereka akan memperoleh ganjaran yang besar.

 

10. Dan bahwa orang-orang yang tak beriman kepada Akhirat, Kami siapkan bagi mereka siksaan yang pedih.

Ruku’ 2: Setiap perbuatan ada buahnya

 

11. Dan manusia berdoa untuk keburukan, seperti ia seharusnya berdoa untuk kebaikan; dan manusia itu selalu terburu-buru.

 

12. Dan Kami telah membuat malam dan siang sebagai dua pertanda, dan Kami lenyapkan pertanda malam,1416 dan Kami tampakkan pertanda siang, sehingga kamu dapat mencari karunia Tuhan kamu, dan agar kamu tahu bilangan tahun dan perhitungan. Dan Kami menjelaskan segala sesuatu sejelas-jelasnya.

 

13. Dan tiap-tiap manusia Kami lekatkan perbuatannya pada lehernya,1417 Dan Kami keluarkan kepadanya pada hari Kiamat berupa buku yang akan ia jumpai terbuka lebar.

 

14. Bacalah buku engkau. Pada hari ini jiwa engkau sendiri sudah cukup sebagai juru hitung terhadap engkau.1417a

 

15. Barangsiapa berjalan benar, maka ia berjalan benar untuk keuntungan diri sendiri; dan barangsiapa berjalan sesat, maka ia berjalan sesat untuk kerugian diri sendiri. Dan tak ada orang yang memikul beban, akan memikul beban orang lain.1418 Dan Kami tak akan menjatuhkan siksaan sampai Kami membangkitkan seorang Utusan.1419

 

16. Dan apabila Kami hendak menghancurkan suatu kota, Kami memberi perintah1420 kepada penduduknya yang hidup mewah tetapi durhaka; maka sudah selayaknya firman (Tuhan) menimpanya, dan (kota) itu Kami hancurkan dengan hancur luluh.

 

17. Dan sudah berapa saja generasi yang Kami hancurkan sesudah Nuh. Dan Tuhan dikau sudah cukup sebagai Yang Maha-waspada dan Yang Maha-melihat dosa hamba-hamba-Nya.

 

18. Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia, di sini pula Kami segerakan kepadanya apa yang Kami kehendaki bagi siapa yang Kami menghendaki itu, lalu Kami tentukan kepadanya Neraka; ia akan memasuki itu terhina dan terlempar.

 

19. Dan barangsiapa menghendaki Akhirat, dan ia berusaha untuk itu dengan usaha yang sungguh-sungguh, dan ia itu mukmin — mereka adalah orang yang usahanya diganjar berlimpah-limpah.

 

20. Semuanya Kami bantu — baik golongan ini maupun golongan itu — dari anugerah Tuhan dikau; dan anugerah Tuhan dikau itu tak terbatas.

 

21. Lihatlah bagaimana Kami membuat sebagian mereka melebihi sebagian yang lain. Sesungguhnya Akhirat itu lebih besar derajatnya dan lebih besar keutamaannya.

 

22. Janganlah engkau menyekutukan Allah dengan tuhan lain, agar engkau tak duduk tercela, ditinggalkan.

Ruku’ 3: Ajaran budi pekerti

 

23. Dan Tuhan dikau memerintahkan agar kamu jangan mengabdi kepada siapa pun selain kepada Dia, dan agar kamu berbuat baik terhadap ayah-ibu.1421 Jika salah seorang atau dua-duanya mencapai usia lanjut di sisi engkau, janganlah engkau berkata “cih” terhadap mereka, dan jangan mencerca mereka, dan berkatalah kepada mereka dengan kata-kata yang mulia.

 

24. Rendahkanlah dirimu terhadap mereka dengan penuh kesayangan, dan berkatalah: Tuhanku, sayangilah mereka sebagaimana mereka telah memelihara aku (tatkala aku) masih kecil.

 

25. Tuhan kamu tahu benar apa yang ada dalam jiwa kamu. Jika kamu orang yang tulus, maka sesungguhnya Dia itu Yang Maha-pengampun terhadap orang yang kembali (kepada-Nya).

 

26. Berilah kepada sanak kerabat haknya, demikian pula kepada kaum miskin dan orang bepergian, dan janganlah menghambur-hamburkan (harta) dengan boros.

 

27. Sesungguhnya orang yang boros itu saudaranya setan. Dan setan itu selalu tak berterima kasih kepada Tuhannya.1422

 

28. Dan jika engkau berpaling dari mereka untuk mendapatkan rahmat dari Tuhan dikau yang engkau mendambakan itu, maka berkatalah kepada mereka dengan perkataan yang lemah-lembut.1423

 

29. Dan janganlah membuat tangan dikau terbelenggu pada leher engkau, dan jangan pula membentangkan itu selebar-lebarnya agar engkau tak duduk tercela, terkelupas.1424

 

30. Sesungguhnya Tuhan dikau meluaskan dan menyempitkan rezeki kepada orang yang Ia kehendaki. Sesungguhnya Dia itu Yang Maha-waspada, Yang Maha-melihat kepada hamba-hamba-Nya.

Ruku’ 4: Ajaran budi pekerti

 

31. Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut melarat — Kami memberi rezeki kepada mereka dan kepada kamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah kesalahan besar.1425

 

32. Dan janganlah kamu berdekat-dekat dengan perbuatan zina; sesungguhnya itu adalah keji. Dan buruk sekali jalan itu.1426

 

33. Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, kecuali karena sebab yang benar. Dan barangsiapa dibunuh dengan sewenang-wenang, maka sesungguhnya Kami memberi kuasa kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ia melampaui batas dalam (membalas) pembunuhan. Sesungguhnya dia itu akan ditolong.1427

 

34. Dan janganlah kamu berdekat dengan harta anak yatim, kecuali dengan cara yang baik, sampai ia mencapai usia dewasa. Dan tepatilah janji; sesungguhnya janji itu akan diminta pertanggungjawabannya.

 

35. Dan penuhilah takaran bila kamu menakar, dan menimbanglah dengan timbangan yang betul. Ini adalah jujur dan amat baik kesudahannya.

 

36. Dan janganlah mengikuti apa yang engkau tak mempunyai pengetahuan tentang itu.1428 Sesungguhnya pendengaran dan penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.

 

37. Dan janganlah berjalan di bumi dengan bersorak-sorai; karena sesungguhnya engkau tak dapat membelah bumi, dan tak pula mencapai setinggi gunung.

 

38. Semua itu, keburukannya amat dibenci di hadapan Tuhan dikau.

 

39. Ini adalah sebagian hikmah yang diwahyukan oleh Tuhan dikau kepada engkau. Dan janganlah menyekutukan Allah dengan tuhan lain, agar engkau tak dilemparkan dalam ke Neraka, tercela, terlempar.

 

40. Apakah Tuhan kamu lebih suka memilihkan untuk kamu anak laki-laki, dan ia sendiri mengambil anak perempuan dari golongan malaikat? Sesungguhnya kamu mengucapkan kata-kata yang amat mengerikan.

Ruku’ 5: Orang-orang kafir semakin keras kepala

 

41. Sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang (peringatan) dalam Qur’an ini agar mereka mau ingat. Tetapi ini tiada lain hanya menambah keengganan mereka.1429

 

42. Katakanlah: Jika ada tuhan lain di samping Dia, seperti kata mereka, niscaya mereka akan mampu mencari jalan menuju Tuhan Yang mempunyai Singgasana.1430

 

43. Maha-suci Dia dan Maha luhur seluhur-luhurnya di atas ucapan mereka.

 

44. Langit tujuh dan bumi dan orang yang ada di dalamnya memahasucikan Dia. Dan tiada suatu barang melainkan memahasucikan Dia dengan memuji-Nya, tetapi kamu tak mengerti cara mereka memahasucikan. Sesungguhnya Dia itu Yang Maha-penyantun, Yang Maha-pengampun.1430a

 

45. Dan jika engkau membaca Qur’an, maka antara engkau dan orang-orang yang tak beriman kepada Akhirat, Kami buatkan tabir yang tak nampak.1431

 

46. Dan dalam hati mereka Kami letakkan penutup, dan dalam telinga mereka (Kami letakkan) sumbat agar mereka tak mengerti itu; dan jika engkau menyebut Tuhan dikau sendiri dalam Qur’an, mereka membalikkan punggung mereka karena enggan.1432

 

47. Kami tahu benar apa yang mereka dengarkan tatkala mereka mendengarkan engkau dan tatkala mereka berbisik-bisik, tatkala kaum lalim berkata: Kamu tiada lain hanyalah mengikuti orang yang hilang ingatannya.

 

48. Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan terhadap engkau! Maka dari itu mereka tersesat, dan tak dapat menemukan jalan.

 

49. Dan mereka berkata: Apakah jika kami sudah menjadi tulang dan benda yang busuk, apakah kami akan dibangkitkan menjadi ciptaan yang baru?

 

50. Katakan: Jadilah batu atau besi.

 

51. Atau ciptaan lain yang menurut jiwa kamu terlalu sukar (untuk menerima kehidupan).1433 Namun mereka akan berkata: Siapakah yang akan membangkitkan kami kembali? Katakan: Ialah Dia Yang menciptakan kamu pertama kali. Namun mereka tetap menggelengkan kepala terhadap engkau dan berkata: Kapankah itu? Katakan: Boleh jadi itu sudah dekat.1434

 

52. Pada hari tatkala Ia menyeru kepada kamu, lalu kamu akan mematuhi (seruan-Nya) dengan memuji Dia, dan kamu mengira bahwa kamu hanya berdiam sebentar.

Ruku’ 6: Siksaan pasti mengikuti

 

53. Dan katakan kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan apa yang paling baik. Sesungguhnya setan itu menyebar (benih) perpecahan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu musuh yang terang bagi manusia.1435

 

54. Tuhan kamu tahu benar tentang kamu. Jika Ia menghendaki, Ia mengasihi kamu, atau jika Ia menghendaki, Ia menyiksa kamu. Dan Kami tak mengutus engkau sebagai penjaga bagi mereka.1436

 

55. Dan Tuhan dikau tahu benar orang-orang yang ada di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya Kami membuat sebagian Nabi melebihi sebagian yang lain,1437 dan Kami memberikan Zabur kepada Daud.

 

56. Katakan: Menyerulah kepada mereka yang kamu anggap (Tuhan) selain Dia; mereka tak memiliki kekuatan untuk menghilangkan kesusahan kamu, dan tak dapat pula mengubah itu.

 

57. Mereka yang diseru, berusaha memperoleh sarana untuk dekat kepada Tuhan — siapakah di antara mereka yang paling dekat — dan mereka mendambakan rahmat-Nya dan takut akan siksaan-Nya. Sesungguhnya siksaan Tuhan dikau itu barang yang harus ditakuti.1438

 

58. Dan tiada suatu kota melainkan Kami menghancurkan itu sebelum hari Kiamat atau Kami menyiksa itu dengan siksaan yang pedih. Itu adalah hal yang ditulis dalam Kitab,1439

 

59. Dan tak ada yang menghalang-halangi Kami untuk mengirimkan tanda bukti selain bahwa orang-orang zaman dahulu mendustakan itu.1440 Dan kepada kaum Tsamud Kami berikan unta betina sebagai tanda bukti yang nampak, tetapi mereka berbuat lalim kepadanya; dan tiada Kami mengirimkan tanda bukti melainkan untuk memberi ingat.

 

60. Dan tatkala Kami berfirman kepada engkau: Sesungguhnya Tuhan dikau melingkupi manusia.1440a Dan tiada Kami membuat impian yang Kami perlihatkan kepada engkau selain bahwa itu menjadi ujian bagi manusia,1441 demikian pula pohon yang dilaknati1442 dalam Qur’an. Dan Kami memperingatkan mereka, tetapi (peringatan) itu hanya menambah pendurhakaan mereka.

Ruku’ 7: Perlawanan setan terhadap orang tulus

 

61. Dan tatkala Kami berfirman kepada malaikat: Bersujudlah kepada Adam, maka sujudlah mereka, kecuali iblis.1442a Ia berkata: Haruskah aku bersujud kepada orang-orang yang Engkau ciptakan dari tanah?

 

62. Ia berkata: Tahukah Engkau? Inilah orang yang Engkau muliakan melebihi aku? Jika Engkau menangguhkan aku sampai hari Kiamat, niscaya keturunannya akan kubinasakan, kecuali hanya sedikit.

 

63. Ia berfirman: Pergilah! Barangsiapa di antara mereka mengikuti engkau, maka sesungguhnya pembalasan kamu ialah Neraka, pembalasan penuh.

 

64. Dan bujuklah siapa saja di antara mereka yang engkau dapat dengan suara engkau,1443 dan kerahkanlah kuda engkau dan kaki engkau melawan mereka,1444 dan bersekutulah dengan mereka dalam harta dan anak,1445 dan berjanjilah kepada mereka. Dan janji setan itu tiada lain hanyalah tipu-daya.

 

65. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tak mempunyai kekuasaan terhadap mereka.1446 Dan sudah cukup Tuhan dikau sebagai Pelindung.

 

66. Tuhan dikau adalah Yang menjalankan kapal di laut guna kepentingan kamu agar kamu dapat memperoleh anugerah-Nya. Sesungguhnya Dia itu Yang Maha-pengasih kepada kamu.

 

67. Dan apabila kesusahan menimpa kamu di lautan, maka lenyaplah siapa saja yang kamu seru selain Dia; tetapi bila Ia menyelamatkan kamu sampai daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu selalu tak berterima kasih.1447

 

68. Apakah kamu merasa aman bahwa Ia tak membenamkan kamu di suatu daerah di daratan, atau mengirimkan kepada kamu angin puyuh.1448 Lalu kamu tak menemukan seorang pelindung bagi kamu;

 

69. Atau apakah kamu merasa aman bahwa Ia pada lain waktu tak akan mengembalikan kamu ke sana, lalu mengirimkan kepada kamu angin taufan yang ganas, dengan demikian menenggelamkan kamu karena kekafiran kamu.1449 Lalu kamu tak menemukan seorang penolong melawan Kami dalam perkara itu.

 

70. Dan sesungguhnya Kami memuliakan keturunan Adam, dan Kami mengangkut mereka di daratan dan di lautan, dan Kami memberi rezeki kepada mereka dengan barang-barang yang baik, dan Kami membuat mereka melebihi kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan.

Ruku’ 8: Perlawanan terhadap Nabi Suci

 

71. Pada hari tatkala Kami berseru kepada tiap-tiap bangsa dengan pemimpin mereka;1450 lalu barangsiapa diberi Kitab pada tangan kanannya, mereka akan membaca Kitab mereka, dan mereka tak akan diperlakukan tak adil sedikit pun.1451

 

72. Dan barangsiapa buta di (dunia) ini, ia akan buta di Akhirat, dan semakin menyimpang dari jalan.1452

 

73. Dan sesungguhnya mereka bermaksud membelokkan engkau1453 dari apa yang Kami wahyukan kepada engkau agar engkau membuat-buat kebohongan terhadap Kami dengan selain itu, lalu jika demikian, mereka akan mengambil engkau sebagai kawan.

 

74. Dan sekiranya Kami tak menguatkan engkau, niscaya engkau akan condong sedikit kepada mereka.

 

75. Jika demikian, Kami akan mengicipkan kepada engkau (siksaan) lipat ganda selama hidup, dan (siksaan) lipat ganda sesudah mati, lalu engkau tak menemukan seorang penolong melawan Kami.1454

 

76. Dan sesungguhnya mereka bermaksud membuat engkau gelisah di bumi agar mereka dapat mengusir engkau dari sana, lalu jika demikian, mereka tak akan menanti sepeninggal engkau kecuali hanya sebentar.1455

 

77. (Ini adalah) aturan (Kami) dan para Utusan Kami yang Kami utus sebelum engkau, dan engkau tak menemukan perubahan dalam aturan Kami.1456

Ruku’ 9: Kebenaran akan menang

 

78. Tegakkanlah shalat mulai condongnya matahari hingga gelapnya malam, dan bacaan Qur’an pada waktu fajar. Sesungguhnya bacaan Qur’an pada waktu fajar itu disaksikan.1457

 

79. Dan pada sebagian malam, bangunlah1458 untuk menjalankan itu, sebagai tambahan di luar apa yang diwajibkan kepada engkau; boleh jadi Tuhan dikau akan menaikkan engkau pada kedudukan yang amat mulia.1459

 

80. Dan berkatalah: Tuhanku, masukkanlah aku di tempat masuk yang benar, dan keluarkanlah aku di tempat keluar yang benar, dan berilah aku dari sisi Engkau kekuasaan untuk menolong (aku).1460

 

81. Dan katakanlah: Kebenaran telah datang dan kepalsuan lenyap. Sesungguhnya kepalsuan itu pasti lenyap.1461

 

82. Dan dari Qur’an, Kami turunkan apa yang menjadi obat dan rahmat bagi kaum mukmin; dan itu tak menambah kepada kaum lalim kecuali hanya kebinasaan.1462

 

83. Dan jika Kami berikan nikmat kepada manusia, ia memalingkan muka dan bersikap angkuh; dan jika ia tertimpa keburukan, ia putus asa.

 

84. Katakanlah: Tiap-tiap orang berbuat menurut caranya sendiri. Tetapi Tuhan kamu tahu benar siapa yang paling terpimpin pada jalan (yang benar).1463

Ruku’ 10: Qur’an Suci, Kitab bimbingan yang tiada taranya

 

85. Dan mereka bertanya kepada engkau tentang wahyu.1464 Katakanlah: Wahyu adalah dari perintah Tuhanku, dan kamu tak diberi ilmu (tentang itu) kecuali hanya sedikit.

 

86. Dan jika Kami kehendaki, niscaya Kami dapat melenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepada engkau, lalu engkau tak akan menemukan seorang pun yang dapat membela (perkara dikau) melawan Kami.

 

87. Kecuali (jika ada) kemurahan dari Tuhan dikau. Sesungguhnya anugerah-Nya kepada engkau itu besar sekali.1465

 

88. Katakanlah: Jika manusia dan jin bergabung untuk mendatangkan yang seperti Qur’an ini, mereka tak dapat mendatangkan seperti itu, walaupun sebagian mereka membantu sebagian yang lain.1466

 

89. Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepada manusia dalam Qur’an ini segala macam lukisan,1467 tetapi kebanyakan manusia bukannya menyetujui melainkan mendustakan (itu).

 

90. Dan mereka berkata: Kami tak akan beriman kepada engkau, sampai engkau mendatangkan kepada kami sebuah sumber yang memancarkan (air) dari bumi.1468

 

91. Atau engkau mempunyai kebun kurma dan anggur yang di tengah-tengahnya engkau alirkan sungai yang mengalir dengan melimpah-limpah.

 

92. Atau engkau jatuhkan langit berkeping-keping di atas kami, seperti engkau bayangkan atau engkau datangkan Allah dan malaikat berhadapan muka (dengan kami);

 

93. Atau engkau mempunyai rumah dari emas, atau engkau naik ke langit. Dan kami tak akan beriman atas kenaikan dikau (ke langit), sampai engkau menurunkan kepada kami satu Kitab yang kami dapat membacanya. Katakanlah: Maha-suci Tuhanku! Bukankah aku ini hanya manusia (biasa) yang menjadi Utusan?1469

Ruku’ 11: Pembalasan yang adil

 

94. Dan tak ada yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala mereka kedatangan petunjuk, kecuali hanya ucapan mereka: Apakah Allah membangkitkan manusia sebagai Utusan?

 

95. Katakanlah: Jika sekiranya di bumi ini berdiam para malaikat yang berjalan dengan aman, niscaya Kami turunkan kepada mereka dari langit seorang malaikat sebagai Utusan.

 

96. Katakanlah: Allah sudah cukup sebagai saksi antara aku dan kamu. Sesungguhnya Dia itu Yang Maha-waspada, Yang Maha-melihat kepada hamba-hamba-Nya.

 

97. Dan barangsiapa Allah memberi petunjuk, ia berada pada jalan yang benar; dan barangsiapa Ia biarkan dalam kesesatan, engkau tak menemukan pelindung bagi mereka selain Dia. Dan pada hari Kiamat, Kami akan menghimpun mereka atas wajah mereka dalam keadaan buta, bisu dan tuli. Tempat tinggal mereka ialah Neraka. Setiap kali panas (Neraka) itu menurun, Kami tambah lebih menyala untuk mereka.

 

98. Inilah balasan mereka karena mereka mengafiri ayat-ayat Kami dan mereka berkata: Apakah jika kami berupa tulang dan benda busuk, apakah kami akan dibangkitkan menjadi ciptaan yang baru?

 

99. Apakah mereka tak melihat bahwa Allah Yang menciptakan langit dan bumi, berkuasa untuk menciptakan yang sama dengan mereka? Dan Allah telah menetapkan waktu bagi mereka, tak ada ragu-ragu tentang itu. Tetapi kaum lalim tak menyetujui itu kecuali hanya mengafiri.

 

100. Katakanlah: Jika kamu menguasai perbendaharaan kemurahan Tuhanku, niscaya kamu akan menahan itu karena takut membelanjakan itu. Dan manusia itu senantiasa kikir.

Ruku’ 12: Perbandingan Nabi Musa dengan Nabi Suci

 

101. Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan tanda bukti yang terang;1470 maka tanyakanlah kepada kaum Bani Israil tatkala dia datang kepada mereka. Fir’aun berkata kepadanya: Wahai Musa, sesungguhnya aku menganggap engkau orang yang kena sihir.

 

102. Ia berkata: Sesungguhnya engkau tahu bahwa tak ada tuhan selain Tuhan langit dan bumi yang telah menurunkan itu sebagai tanda bukti yang terang. Wahai Fir’aun, sesungguhnya aku menganggap engkau orang yang rugi.

 

103. Maka dia hendak menghalau mereka dari bumi, tetapi Kami menenggelamkan dia dan orang-orang yang menyertai dia semuanya.1471

 

104. Dan sepeninggal dia, Kami berfirman kepada kaum Bani Israil: Bertinggallah di bumi.1472 Tetapi apabila janji yang terakhir tiba, kamu semua Kami gulung.1473

 

105. Dan Kami menurunkan itu dengan kebenaran. Dan Kami tak mengutus engkau kecuali sebagai pengemban kabar baik dan sebagai juru ingat.

 

106. Dan inilah Qur’an yang Kami buat tidak ada persamaannya (dengan kitab-kitab terdahulu), agar engkau membacakan itu kepada manusia dengan perlahan-lahan, dan Kami menurunkan itu sepotong-sepotong.

 

107. Katakan: Berimanlah kepada itu atau tak beriman. Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelum itu, bila itu dibacakan kepada mereka, mereka merebahkan mukanya sambil bersujud.1474

 

108. Dan mereka berkata: Maha-suci Tuhan kami! Sesungguhnya janji1475 Tuhan kami pasti terpenuhi.

 

109. Dan mereka merebahkan mukanya sambil menangis, dan itu menambah khusyuk mereka.1475a

 

110. Katakan: Menyerulah kepada Allah atau menyerulah kepada Yang Maha-pemurah.1476 Dengan (nama) apa saja kamu menyeru, Dia mempunyai nama-nama yang baik. Janganlah engkau keraskan bacaan shalat dikau dan jangan pula tanpa suara, dan carilah jalan tengah antara kedua itu.1477

 

111. Dan berkatalah: Segala puji kepunyaan Allah, Yang tak memungut putra, dan Yang tak mempunyai sekutu dalam kerajaan-(Nya), dan Yang tak mempunyai pembantu karena kelemahan-(Nya); dan kumandangkanlah kebesaran-Nya dengan kebesaran yang setinggi-tingginya.

  1. Perjalanan Nabi Suci pada malam hari dari Masjidil-Haram di Makkah ke Masjid yang jauh di Yerusalem, ini berhubungan dengan riwayat Isra’ Mi’raj Nabi Suci. Sekalipun Imam Bukhari menguraikan riwayat Isra’ dalam B. 63:41, dan Mi’raj dalam B. 63:42, namun di tempat lain beliau menguraikan, bahwa shalat diwajibkan pada malam Isra’, lalu beliau lanjutkan dengan Hadits yang menerangkan Mi’raj, dan diwajibkannya shalat pada waktu Mi’raj (B. 8:1). Sebenarnya Isra’ adalah tingkat permulaan dari Mi’raj, karena sebelum Nabi Suci Mi’raj ke langit, beliau dibawa dahulu ke Masjid yang jauh di Yerusalem. Mi’raj tidak dilakukan dengan badan wadag, melainkan pengalaman rohani Nabi Suci, ini diterangkan dalam tafsir nomor 1441 di bawah ayat 60, yang dengan tegas disebut ru’yah atau visiun, oleh karena Mi’raj berarti luhurnya rohani Nabi Suci, dan menunjukkan kemenangan beliau di dunia. Isra’ beliau ke Rumah Suci di Yerusalem berarti beliau akan mewaris berkah para Nabi Bani Israil. []
  2. Ayat pertama meramalkan kebesaran Islam dan kaum Muslimin di kemudian hari, sedang ayat ini memperingatkan kaum Muslimin akan bahaya yang dapat melenyapkan kebesaran tersebut sambil menyebut sebagai contoh para umat sebelum mereka yang dahulu diangkat dalam kedudukan yang tinggi. []
  3. Bandingkan dengan 5:78: “Orang-orang kafir dari kaum Bani Israil dikutuk oleh lisan Daud dan ‘Isa bin Maryam”. Kota Yerusalem dihancurkan dua kali sebagai hukuman pendurhakaan kaum Yahudi, yaitu sekali oleh Bangsa Babilon, dan sekali lagi oleh Bangsa Romawi. Lihatlah peringatan Yesus tersebut dalam Kitab Matius 23:38: “Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi”, dan dalam Kitab Lukas 21:24: “Dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah”, dan banyak lagi ayat seperti itu. Kitab Mazmur penuh dengan peringatan-peringatan seperti itu. []
  4. Ayat 5 menerangkan hancurnya Rumah Suci di Yerusalem, dibunuh, dipenjarakan dan dibuangnya kaum Yahudi oleh Bangsa Babilon pada tahun 588 sebelum Masehi, sedang ayat 6 menerangkan kembalinya kaum Yahudi dari pembuangan, dan dibangunnya kembali Rumah Suci di Yerusalem di bawah pimpinan Zerubabel, lalu disusul dengan kemakmuran mereka. Inilah yang di sini dikatakan sebagai giliran nasib baik mereka. []
  5. Ayat ini menerangkan hancurnya Rumah Suci di Yerusalem yang kedua kali, yang dilakukan oleh Bangsa Romawi di bawah pimpinan Titus. Semua kata-ganti yang disebutkan dalam ayat ini ditujukan kepada musuh, sembarang musuh, dan sekali-kali bukan ditujukan kepada musuh yang pertama kali menghancurkan Rumah Suci, lalu mengerjakan penghancuran yang kedua kali. Dalam sejarah Bangsa Israil, terdapat satu ramalan yang berhubungan dengan sejarah umat Islam. Kerajaan Islam juga dihancurkan dua kali; yang pertama, oleh Bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu pada tahun 656 Hijriah atau tahun 1258 Masehi, dan yang kedua oleh tentara Eropa akhir-akhir ini (Perang Dunia I). Tetapi bedanya, jika dalam sejarah Bangsa Israil, Rumah Suci atau pusat rohani mereka, dua kali dihancurkan, tetapi pusat rohani Islam, Ka’bah, tetap utuh sesuai janji Tuhan, sekalipun Pemerintah Islam menderita kekalahan hebat. Umat Yahudi mengalami keruntuhan total, baik lahiriah maupun batiniah, tetapi umat Islam hanya mengalami keruntuhan lahiriah saja. Sebenarnya, dalam dua kali kekalahan umat Islam itu, agama Islam memperoleh kemenangan rohani. Hancurnya Khalifah (di Baghdad) pada tahun 1258, disusul dengan masuk Islamnya Bangsa Mongol dan Bangsa Turki secara besar-besaran, sedang kemalangan umat Islam pada dewasa ini, melahirkan kebangkitan rohani dunia dengan penampilan Islam di barisan paling depan. Bersamaan dengan kebangkitan rohani Islam dalam dua peristiwa tersebut, nampak adanya kebangkitan kembali umat Islam termasuk kemenangan lahiriahnya. []
  6. Uraian ini bertalian dengan datangnya Nabi Muhammad, tatkala bangsa Israil sekali lagi diberi kesempatan memperbaiki diri, tetapi mereka diberitahu bahwa jika mereka kembali berbuat kerusakan, akan mendapat hukuman lagi. Pada waktu Nabi Suci tiba di Madinah, mula-mula kaum Yahudi bersikap manis, tetapi lama-kelamaan mereka bersikap memusuhi, hingga akhirnya mereka bersekongkol dengan para musuh Islam lainnya dan membuat rencana untuk membunuh Nabi Suci. Akibatnya mereka disapu bersih dari Tanah Arab, sedangkan di negara-negara lain di dunia mereka selalu mengalami nasib malang dan mengalami penderitaan yang berat, dan dalam bidang kerohanian, agama Yahudi tak mempunyai hari depan lagi. []
  7. Malam berarti gelap gulitanya kebodohan dan kekafiran. (Lihatlah tafsir nomor 344), dan lenyapnya malam berarti lenyapnya kebodohan, diganti dengan pancaran sinar Islam. Pertanda ini terlihat di Tanah Arab empat belas abad yang lalu, dan semenjak itu, Islam berangsur-angsur membuat kemajuan dunia; sekarang nampak tanda-tanda yang terang bahwa tak lama lagi matahari Islam akan memancar dengan cemerlang di seluruh dunia. Sebagian mufassir berpendapat bahwa yang dimaksud pertanda malam dan siang ialah bulan dan matahari, dan lenyapnya pertanda malam berarti bulan tak mempunyai sinar yang asli. []
  8. Kata thaîr makna aslinya burung, artinya perbuatan manusia; seakan-akan perbuatan manusia itu seperti kalung yang diikatkan pada lehernya (Q, LL). Mengapa kata thaîr berarti demikian, ini dapat kami terangkan berdasarkan kepercayaan takhayul Bangsa Arab. Sudah menjadi kebiasaan Bangsa Arab dalam meramalkan nasib baik dan buruk dengan perantaraan burung, yaitu dengan mengamat-amati apakah burung itu terbang atas kemauan sendiri ataukah karena diusir, atau apakah burung itu terbang ke kanan atau ke kiri atau langsung ke atas; dan semua perbuatan yang akan mereka lakukan dianggap baik atau buruk berdasarkan burung terbang itu; oleh sebab itu, kata thaîr berarti perbuatan baik dan buruk (Rz). Ayat ini mengundangkan ajaran, bahwa setiap perbuatan pasti menghasilkan bekas yang dilekatkan pada leher manusia, dan bekas itulah yang pada hari Kiamat akan didapati berupa kitab yang terbuka lebar. Jadi, meninggalkan bekas pada setiap perbuatan itulah arti perbuatan manusia dituliskan dan bekas itulah yang akan membentuk buku perbuatan manusia. Melekatkan itu pada leher, berarti tak dapat dipisahkan yang satu dari yang lain, dengan demikian terjelmalah hukum sebab dan akibat.
    1417a Ayat ini memberi penjelasan tentang sifat hisâb pada hari Kiamat, demikian pula tentang wazn dan mîzân (7:8 dan 55:7). Ini menunjukkan seterang-terangnya bahwa hisâb itu tiada lain hanyalah perwujudan yang sempurna bagi buah perbuatan yang dilakukan oleh manusia di dunia. []
  9. Ayat ini membasmi sampai ke akar-akarnya ajaran penebusan dosa. Beban dosa seseorang tak dapat dipikul oleh orang lain, karena sebagaimana telah diterangkan di atas, buah perbuatan setiap orang itu diletakkan pada lehernya. Adapun beban orang lain yang disebutkan dalam 29:12: “mereka akan memikul beban sendiri dan beban orang lain di samping beban mereka sendiri”, ini adalah beban karena menyesatkan orang lain, sedang orang lain itu bertanggungjawab atas kesalahan mereka sendiri. []
  10. Di sini diterangkan bahwa hidâyah (petunjuk) itu disampaikan kepada manusia melalui Utusan Allah; tetapi jika ia tetap berkeras kepala dalam kesesatan, dan menyimpang dari jalan yang benar, maka itu kerugian dia sendiri. Selanjutnya ditambahkan bahwa siksaan Akhirat hanyalah setelah orang itu diberi peringatan melalui Utusan Allah: “Dan Kami tak akan menjatuhkan siksaan sampai Kami membangkitkan seorang Utusan”. Adapun undang-undang tentang siksaan dunia, ini disebutkan apabila kelaliman dan perbuatan dosa sudah melampaui batas, kemudian siksaan akan ditimpakan secara besar-besaran. []
  11. Kadang-kadang kalimat ini disalahpahami. Allah tak menyuruh manusia supaya durhaka, karena dalam 7:28 terang sekali diuraikan: “Allah tak menyuruh berbuat keji”, dan dalam 16:90 diuraikan: “Ia melarang berbuat keji, berbuat jahat dan memberontak”. Adapun arti kalimat ini adalah Allah memberi perintah kepada mereka supaya berbuat baik, dengan menunjukkan jalan yang benar melalui Utusan-Nya, tetapi mereka membiasakan diri untuk hidup mewah dan durhaka terhadap perintah Allah, maka dari itu mereka disiksa. []
  12. Berbakti kepada ayah-ibu ditaruh sesudah mengabdi kepada Allah, karena di kalangan sesama makhluk, tak ada yang mempunyai wewenang yang paling besar terhadap seseorang kecuali pada ayah dan ibu. Selain itu, berbakti kepada orangtua adalah benih, yang jika sang anak diberi pelajaran tentang itu sebaik-baiknya, maka tumbuhlah rasa kewajiban untuk taat kepada semua otoritas yang sah. []
  13. Di samping menyuruh supaya memberi sedekah, Qur’an Suci juga menyuruh supaya hemat. Dengan demikian, Qur’an mengambil jalan tengah. Orang yang menghambur-hamburkan harta dikatakan sebagai saudaranya setan, mereka tak berterima kasih kepada Allah karena menghambur-hamburkan apa yang dikaruniakan Allah dari anugerahNya. []
  14. Orang yang mendambakan rahmat Tuhan artinya orang yang memerlukan sekali kemurahan Tuhan, yaitu orang yang tak mempunyai apa-apa untuk diberikan kepada orang miskin. Dalam hal ini, orang dianjurkan supaya berkata lemah-lembut kepada fakir-miskin, dan jangan mencercanya dengan kasar. Ada satu Hadits yang menerangkan bahwa berkata lemah-lembut terhadap seseorang adalah sedekah. (B. 56:72). []
  15. Yang dimaksud membelenggukan tangan pada leher, ialah pelit dalam membelanjakan harta. Adapun membentangkan tangan selebar-lebarnya ialah boros dalam pengeluaran. Ayat ini mengemukakan aturan umum tentang cara bagaimana orang harus membelanjakan hartanya, jadi ayat ini mengajarkan agar orang berlaku hemat. []
  16. Membunuh anak perempuan sudah lazim di kalangan Bangsa Arab jahiliah, tetapi ini dilakukan bukan karena takut melarat. Menurut R, yang dimaksud membunuh anak di sini ialah tak memberi pendidikan yang baik kepada mereka; bodoh atau mati akalnya, ini sama dengan mati. Kata aulâd atau anak, ini meliputi anak laki-laki dan anak perempuan; oleh karena itu, keterangan tersebut masuk akal. Atau boleh jadi ayat ini mengisyaratkan kejahatan modern berkenaan dengan pembatasan kelahiran, yang ini bisa juga diartikan membunuh keturunan. []
  17. Ini adalah kejahatan lain yang tumbuh subur sejalan dengan tumbuhnya peradaban. Qur’an bukan saja melarang perbuatan zina, melainkan melarang pula agar orang jangan dekat-dekat kepada perbuatan itu, dengan demikian, ia dijauhkan dari segala macam godaan yang memungkinkannya jatuh ke dalam kejahatan. Oleh sebab itu, Islam tak membenarkan pergaulan bebas yang kelewat batas antara pria dan wanita. []
  18. Ayat ini tak memuat hal-hal yang bertentangan dengan apa yang diuraikan dalam 2:178. Kata-kata tak akan ditolong mengandung arti bahwa Pemerintah wajib memberi bantuan kepadanya dengan jalan menyeret si pembunuh ke muka pengadilan, dan hendaklah ahli waris jangan main hakim sendiri. Inilah yang disebut melampaui batas. []
  19. Jika perintah ini diikuti, niscaya desa-desus di kalangan masyarakat akan segera lenyap, dengan demikian membuat pria dan wanita yang tak bersalah bebas dari rasa sakit hati yang disebabkan fitnah dan cerita yang tak nyata. Ayat ini melarang pula ikut-ikutan membicarakan suatu masalah yang ia tak mempunyai pengetahuan, atau mengemukakan pendapat yang kurang yakin benarnya. Tak sangsi lagi bahwa perasaan tenteram dan damai akan memasyarakat apabila perintah ini diperhatikan sungguh-sungguh, jika tidak, maka akan terjadi pertengkaran dan saling membenci. []
  20. Terang sekali bahwa tujuan Allah mengulang dalil dan tanda bukti dalam Qur’an ialah untuk membuat mereka ingat; akan tetapi semakin banyak mereka diperingatkan, mereka semakin enggan. []
  21. Para penyembah berhala tenggelam dalam perbuatan keji dan mesum, sedangkan untuk mendekat kepada Tuhan — jalan menuju kepada Tuhan Yang mempunyai Singgasana — yang mereka mengaku telah memperoleh itu dengan perantaraan berhala mereka, mereka seharusnya menjalankan kehidupan yang suci. Para penyembah berhala berkata: “Kami menyembah berhala agar berhala itu mendekatkan kami kepada Allah” (39:3). Akan tetapi bagi mereka yang hidupnya tak suci, tak mungkin dapat mendekat kepada Allah, Sumber segala kesucian. Atau, yang dimaksud ayat ini ialah, jika mereka telah mendekat kepada Allah Yang memiliki segala kekuasaan, niscaya mereka mendapat pertolongan Allah dan berhasil dalam usaha mereka melenyapkan Islam. []
  22. 1430a Di sini diterangkan bahwa seluruh alam semesta memahasucikan Allah. Tasbih adalah sinonim dengan tanzih, artinya menyatakan Tuhan bersih dari segala yang tak sempurna dan tak suci, atau bersih dari segala sesuatu yang merendahkan martabat Tuhan (LL). Pernyataan ini tak perlu diucapkan dengan lisan; sebenarnya, ketergantungan sekalian makhluk kepada Sang Khalik, demikian pula tak sempurnanya sekalian makhluk, ini berarti memahasucikan Tuhan Yang Maha-pencipta.
    Tabir yang tak nampak itu tiada lain hanyalah tabir yang ditimbulkan oleh keengganan mereka sendiri, sebagaimana disebutkan seterang-terangnya dalam ayat 41. Menurut ayat itu, Allah menurunkan Qur’an untuk memperingatkan mereka, tetapi mereka enggan, maka dipasanglah tabir antara mereka dan Qur’an. []
  23. Memang benar bahwa perbuatan meletakkan penutup dalam hati dan sumbat dalam telinga kaum kafir, itu dilakukan oleh Allah sebagai Pencipta sebab-akibat segala sesuatu, tetapi bagaimana penyumbatan dan penutupan itu dilakukan, diterangkan sejelas-jelasnya dalam bagian terakhir ayat ini. Itu disebabkan pada waktu nama Allah disebut, mereka tak mau mendengarkan dan mereka lari karena tak mau mendengar firman-Nya, sehingga akibatnya, telinga menjadi tuli dan hati mereka menjadi tertutup. Memang Allah-lah yang melaksanakan itu, tetapi Dia melaksanakan itu karena keadaan hati dan telinga mereka sendiri. Ini dinyatakan seterang-terangnya dalam 7:179: “Mereka mempunyai hati yang tak mereka gunakan untuk mengerti, dan mereka mempunyai mata yang tak mereka gunakan untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga yang tak mereka gunakan untuk mendengar”. []
  24. Bangsa Arab tak percaya kepada hidup sesudah mati dengan alasan bahwa mereka akan menjadi benda busuk. Oleh karena itu, mereka tak mungkin dihidupkan kembali. Mereka diberitahu bahwa hidup sesudah mati pasti akan terjadi sekalipun mereka dapat berubah menjadi batu. Rohani mereka itu bisa hidup karena dibangkitkan oleh Nabi Suci, sekalipun mereka berhati keras “bagaikan batu, malahan lebih keras lagi” (2:74). Ini menjadi bukti yang terang bahwa apa yang diterangkan dalam ayat ini pasti akan terpenuhi. []
  25. Menggelengkan kepala menunjukkan tak percayanya seseorang kepada suatu perkara. Adapun jawaban yang berbunyi: Boleh jadi itu sudah dekat, ini ditujukan sehubungan dengan kesadaran rohani yang terjadi di Tanah Arab yang kini sedang dihidupkan kembali oleh Nabi Suci sebagai petunjuk akan adanya Kebangkitan Besar. Hal ini dijelaskan dalam ayat berikutnya yang berbunyi: “Lalu kamu akan mematuhi seruan-Nya dengan memuji Dia”. Lima belas tahun setelah turunnya ayat ini, seluruh Tanah Arab mengumandangkan suara pujian terhadap Allah. []
  26. Di sini hamba-hamba Kami (kaum Muslimin) disuruh bersikap manis jika mereka bercakap-cakap dengan kaum kafir. Diriwayatkan bahwa pada waktu kaum Muslimin mengadu kepada Nabi Suci bahwa mereka dicaci-maki oleh kaum penyembah berhala, mereka diperintahkan supaya tetap bersikap manis dan tak melakukan pembalasan (JB). Mengapa demikian? Karena yang menyebabkan orang bertengkar ialah setan. Ternyata ayat ini mengandung arti bahwa perselisihan ini hanya bersifat sementara, dan akhirnya dua golongan itu akan bersatu lagi. []
  27. Hendaklah diingat bahwa dalam ayat ini, seperti juga dalam ayat lainnya, kasih sayang Tuhan itu disebutkan lebih dulu; dengan demikian menunjukkan bahwa kasih sayang Tuhan itu lebih didahulukan daripada pembalasan Tuhan. []
  28. Dengan dikemukakannya sebagian Nabi melebihi sebagian yang lain, ini mengandung arti bahwa Nabi Suci lebih unggul dari Nabi-nabi yang lain. Di sini Nabi Daud disebutkan secara khusus, karena sebagaimana disebutkan dalam Kitab Mazmur, beliau berdoa agar musuh-musuh beliau dihancurkan sama sekali, sedang dua ayat sebelumnya menerangkan bahwa Nabi Suci diperintahkan supaya bersikap manis terhadap musuh-musuh beliau. Adapun doa Nabi Daud untuk menimpakan laknat dan kebinasaan kepada para musuh dan hakim yang jahat, lihatlah Mazmur yang berbunyi: “Ya Allah hancurkanlah gigi mereka dalam mulutnya …. Biarkanlah mereka hilang seperti air yang mengalir lenyap …. Biarlah mereka seperti siput yang menjadi lendir” (Mazmur 58:7-9). “Janganlah mengasihani mereka yang melakukan kejahatan dengan berkhianat” (Mazmur 59:6). “Habisilah mereka dalam garam, habisilah, sehingga mereka tidak ada lagi” (Mazmur 59:14). Adapun arti Zabur, lihatlah tafsir nomor 527. []
  29. Rupa-rupanya yang dituju oleh ayat ini dan ayat 56 ialah penyembahan kepada Nabi, pendeta dan ulama yang dilakukan oleh umat Kristen dan Yahudi. Pada waktu menjelaskan kata-kata mereka yang diseru, JH menambahkan keterangan: misalnya Malaikat, Nabi ‘Isa dan ibunya dan ‘Uzair. Padahal orang-orang yang disembah itu sendiri sangat mendambakan rahmat Tuhan dan amat takut kepada pembalasan-Nya; orang semakin dekat kepada Allah, semakin besar pula keinginannya untuk memperoleh rahmat-Nya, dan semakin takut pada siksaan-Nya, jika ia mendurhaka kepada-Nya. []
  30. Di sini diungkapkan sebuah ramalan tentang bencana yang akan menghancurkan kota-kota yang padat penduduknya. Ditambahkannya kata-kata sebelum hari Kiamat, ini menunjukkan seterang-terangnya bahwa dihancurkannya kota-kota itu tidaklah mengisyaratkan berakhirnya segala sesuatu. Terjadinya Perang Dunia Kedua memberi gambaran kepada kita apa yang masih terpendam bagi dunia kita jika terjadi Perang Dunia Ketiga. Kita telah melihat terpenuhinya ramalan itu berupa hancurnya kota-kota yang padat penduduknya yang melanda hampir semua negara di dunia yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Akan tetapi itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan kerusakan besar yang ditimpakan oleh bom atom atau bom hidrogen atau senjata-senjata lainnya, hasil penemuan abad modern sekarang ini, jika pergolakan untuk berebut kekuasaan di dunia tak diakhiri. Hendaklah diingat bahwa ramalan tentang hancurnya kota-kota yang padat penduduknya itu, di sini diterangkan sebagai bagian dari rencana Tuhan dalam memenangkan Islam yang dibahas dalam Surat ini. Oleh karena itu, dalam ayat berikutnya diungkapkan tentang pengiriman tanda bukti. []
  31. Setelah membicarakan pertanda zaman akhir yang besar berupa hancurnya kota-kota yang padat penduduknya, ayat ini membicarakan undang-undang umum, yaitu Allah senantiasa menurunkan tanda bukti untuk menegakkan Kebenaran, dan tak ada suatu pun yang dapat menghalang-halangi Tuhan untuk menurunkan tanda bukti, walaupun tanda bukti semacam itu ditolak oleh orang-orang yang bersangkutan. Selanjutnya diterangkan bahwa tanda bukti itu diturunkan untuk memperingatkan orang-orang akan akibat buruk yang disebabkan menjalankan perbuatan jahat. []
  32. 1440a Ahâtha bihî artinya melingkupi atau mengelilingi dia, atau ia berada dalam genggamannya (LL). Yang dimaksud manusia di sini ialah orang yang melawan kebenaran; adapun yang dituju ialah kalahnya para musuh kebenaran.
    Yang dimaksud ru’ya di sini ialah Isra’ Mi’raj-nya Nabi Suci (B. 63:42), yang ini sesungguhnya meramalkan kemenangan akhir agama Islam. Lihatlah tafsir nomor 1410. Ada perbedaan pendapat di antara para ulama tentang apakah Mi’raj Nabi Suci dilakukan dengan badan jasmaninya atau rohaninya saja. Kebanyakan ulama setuju dengan pendapat pertama, tetapi di antara golongan yang menyetujui pendapat kedua, terdapat orang-orang kenamaan, seperti Siti ‘Aisyah dan Mu’awiyah. Tetapi mengingat firman Qur’an yang terang, yang menerangkan bahwa Isra’ Mi’raj Nabi Suci dikatakan sebagai ru’ya yang Kami perlihatkan kepada engkau, maka pendapat kebanyakan ulama itu harus ditolak. Banyak Hadits Nabi yang memperkuat pendapat ini. Dalam salah satu Hadits diterangkan bahwa Malaikat mendatangi Nabi Suci pada malam yang lain tatkala beliau melihat, mata beliau tertidur, tetapi hati beliau tak tidur, dan demikianlah halnya para Nabi, mata mereka tidur, tetapi hati mereka tak tidur, lalu Malaikat Jibril menyertai beliau dan membawa beliau ke langit (B. 61:24). Dalam Hadits lain yang menerangkan Mi’raj, diakhiri dengan kalimat “Beliau bangun dan beliau berada di Masjid Suci” (B. 98:37). Di dalam Hadits lain lagi tercantum kalimat yang menggambarkan keadaan beliau pada waktu Mi’raj: “Pada saat itu aku dalam keadaan antara tidur dan jaga” (B. 59:6). Memang benar beliau tidak tidur — beliau hanya dalam keadaan ru’ya, tetapi di samping itu, beliau tidaklah Mi’raj dengan badan jasmaninya. Beliau benar-benar dibawa ke hadapan Tuhan, dan diperlihatkan keajaiban besar kepada beliau, tetapi yang dibawa menghadap Tuhan ialah rohani beliau, dan beliau melihat keajaiban besar dengan mata rohani, bukan dengan mata jasmani, karena perkara rohani itu hanya dapat dilihat dengan mata rohani. Mi’raj Nabi Suci mempunyai arti penting. Beliau menjalankan Mi’raj pada waktu beliau, menurut pandangan manusia, sedang dalam keadaan tak berdaya, dan dalam keadaan itulah beliau dinyatakan bahwa kemenangan besar di kemudian hari akan ada di pihak beliau. Musuh-musuh beliau, seperti biasa, tak percaya kepada ru’ya semacam itu, dan mereka menertawakan beliau. []
  33. Pohon yang dilaknat ialah pohon zaqqum (B. 63:42). Menurut Qur’an, setiap perbuatan baik seperti pohon yang baik dan setiap perbuatan buruk ibarat pohon yang buruk. Adapun penjelasan tentang pohon yang dilaknat sebagai ujian bagi kaum kafir, ini diuraikan dalam tafsir nomor 2111. Tetapi pernyataan yang diuraikan di sini berlawanan dengan ru’ya Nabi Suci, dan sebenarnya, dua-duanya mempunyai arti yang dalam. Sebagaimana ru’ya Nabi Suci (tentang Mi’raj) mengandung arti kemenangan akhir beliau di kemudian hari, dan mengisyaratkan kebesaran yang akan dialami oleh Islam, pohon zaqqum, yang dinyatakan di tempat lain dalam Qur’an sebagai makanan orang berdosa (44:43-44), mengandung ramalan tentang kekalahan musuh-musuh Islam dengan memberitahukan kepada mereka bahwa makanan yang menyebabkan kematian masih tersedia bagi mereka. Dua ramalan itulah yang ditertawakan oleh para musuh; oleh karena itu, dua ramalan itu dikatakan sebagai ujian bagi mereka. Jadi sekarang teranglah mengapa ru’ya tentang Mi’raj dan pernyataan tentang pohon zaqqum diuraikan bersama-sama, karena kemenangan Islam dan kekalahan musuh bergandengan satu sama lain.
    1442a Lihatlah tafsir nomor 56, 57, 58. Adapun diciptakannya manusia dari tanah, lihatlah tafsir nomor 862. []
  34. Di sini setan diibaratkan pengecut, yang datang berlagak besar tetapi nyatanya tak seberapa kekuatannya; demikian pula jika diberi perlawanan sedikit saja, ia mundur seribu langkah. Menurut I’Ab, tiap-tiap orang yang mengajak orang lain supaya mendurhaka kepada Allah, ia adalah setan yang memanggil-manggil (JB). []
  35. Balatentara setan itu tiada lain hanyalah orang-orang yang berbuat jahat; mereka yang berlari ke arah kejahatan diibaratkan orang yang naik kuda, dan mereka yang pelan-pelan menuju pada kejahatan diibaratkan orang yang berjalan kaki. Menurut JH, yang dimaksud kuda dan kaki setan ialah orang yang berlari dan berjalan dalam mendurhaka kepada Tuhan. []
  36. Bersekutu dengan setan dalam harta artinya membelanjakan barang apa saja secara tidak sah, atau mencari penghasilan secara tidak sah; adapun bersekutu dengan setan dalam anak ialah berbuat zina yang melahirkan keturunan yang tidak sah. []
  37. Kata hamba-hamba-Ku mencakup semua orang. Setan akan berkata kepada orang-orang berdosa: “Aku tak mempunyai kekuasaan atas kamu” (14:32). Lihatlah tafsir nomor 1308. []
  38. Di sini dilukiskan gambaran yang sebenarnya tentang kodrat manusia, yang jika ditimpa kemalangan, mereka kembali kepada Allah, tetapi jika mereka dalam kesenangan, mereka lupa kepada-Nya. []
  39. Hâshib makna aslinya orang yang melemparkan batu. Rîhun hâshibun artinya angin puyuh yang menerbangkan batu kerikil (LL). Kata hâshib dapat diartikan pula awan yang menurunkan hujan es. Angin puyuh itulah yang mengalahkan pasukan gabungan musuh pada waktu perang Ahzab, pada waktu mereka mengepung kota Madinah pada tahun Hijrah kelima, dan mereka lari tunggang-langgang. []
  40. Di sini kesusahan diibaratkan lautan. []
  41. Artinya, orang-orang tulus akan mengikuti pimpinan yang tulus, dan orang-orang jahat akan mengikuti pimpinan yang jahat. Kata imâm di sini dapat diartikan bermacam-macam: Nabi, Kitab Suci, Syari’at, Kitab perbuatan. Makna yang terakhir ini sangat cocok dengan konteks, karena kalimat berikutnya menerangkan kitab perbuatan. []
  42. Yang dimaksud kitab di sini ialah kitab yang disebutkan dalam ayat 14, yaitu buah perbuatan manusia, yang pada hari Kiamat akan dibawa di hadapan setiap orang dalam bentuk yang dapat diraba. Kitab perbuatan akan diberikan dengan tangan kanan kepada mereka yang memegang Kitab Suci dengan tangan kanan mereka di dunia, yaitu mereka yang mengamalkan Kitab Suci itu. Sebagai kebalikannya ialah orang yang dalam ayat berikutnya dikatakan buta terhadap Kitab Suci, oleh karena itu, mereka akan buta pula di Akhirat. []
  43. Di sini kita diberitahu bahwa mereka yang buta terhadap kebenaran di dunia, akan buta pula di Akhirat. Ini menunjukkan bahwa di dunia ini pula dimulainya kehidupan Neraka berupa buta rohaninya, dan Neraka di Akhirat juga berupa kebutaan. Ini dikuatkan oleh apa yang dikatakan dalam 57:13 yang menerangkan bahwa orang yang tulus pada hari itu akan memperoleh cahaya. []
  44. Para mufassir mengira bahwa yang diisyaratkan di sini ialah peristiwa yang terjadi di Madinah selang beberapa lama setelah turunnya Surat ini. Tetapi ada peristiwa yang terang dan dapat dipercaya tentang usaha kaum Quraisy di Makkah untuk membujuk Nabi Suci. Baik bujukan kaum Quraisy maupun jawaban Nabi Suci sangat sesuai dengan pernyataan ayat ini dan ayat berikutnya. Para pemimpin Quraisy mengadakan pertemuan dan mengundang Nabi Suci, dan mereka berkata kepada beliau bahwa mereka sanggup mengumpulkan harta untuk beliau, atau mengangkat beliau sebagai raja asalkan beliau tak menentang berhala mereka dan membiarkan saja perbuatan jahat mereka. Nabi Suci menjawab bahwa beliau tak membutuhkan barang-barang itu. Beliau menyuruh mereka menghentikan perbuatan jahat demi untuk kebahagiaan mereka sendiri. Lama sebelum terjadi peristiwa itu, pernah pula utusan Quraisy mendatangi paman Nabi Suci, Abu Thalib, dengan desakan agar beliau memberi nasihat kepada Nabi Suci supaya jangan menentang berhala mereka, dan Abu Thalib pun memberitahu Nabi Suci bahwa beliau tak sanggup lagi melindungi Nabi Suci dari ancaman kaum Quraisy; Nabi Suci menjawab: “Seandainya mereka meletakkan matahari di atas tangan kananku, dan meletakkan bulan di atas tangan kiriku, aku tak akan menghentikan dakwahku sampai kebenaran mendapat kemenangan, atau aku sendiri binasa dalam menunaikan tugas” (JH). []
  45. Kata idzan yang berarti lalu atau jika demikian, ditujukan kepada kalimat terakhir dari ayat sebelumnya. Jadi teranglah bahwa sekalipun musuh-musuh Nabi Suci berusaha keras membujuk beliau, namun beliau tak pernah tergiur sedikit pun. []
  46. Pada waktu para musuh Nabi Suci gagal dalam usahanya membelokkan beliau dari jalan Kebenaran, mereka berencana untuk mengusir beliau dari bumi Makkah, sekalipun mereka telah diberitahu sebelumnya bahwa jika demikian, mereka tak akan memegang kekuasaan lagi kecuali hanya sebentar. Hanya dalam jangka waktu delapan tahun sesudah hijrah, Nabi Suci datang kembali ke Makkkah sebagai pemenang. []
  47. Di tempat lain, aturan ini berbunyi: “Orang-orang kafir berkata kepada Utusan mereka, sesungguhnya kami akan mengusir kamu dari bumi kami, kecuali jika kamu kembali ke agama kami. Maka Tuhan mereka mewahyukan kepada mereka: Sesungguhnya Kami akan menghancurkan kaum lalim, dan sesungguhnya Kami akan menempatkan kamu di bumi sesudah mereka” (14:13-14). []
  48. Setelah Qur’an menggambarkan bagaimana usaha para musuh Nabi Suci menggagalkan Risalah beliau dengan bujukan dan ancaman, dan mereka mengambil keputusan untuk menyingkirkan beliau dengan segala macam cara, lalu usaha untuk mengatasi kesulitan besar yang dihadapi beliau, beliau disuruh menjalankan shalat.
    Mulai lingsir hingga matahari terbenam terdapat dua shalat, yaitu zhuhur dan ‘ashar, atau shalat waktu lingsir dan waktu sore; sedang mulai matahari terbenam hingga gelapnya malam, terdapat dua shalat, yaitu maghrib dan ‘isya, atau shalat pada waktu matahari terbenam dan shalat pada waktu malam. Adapun yang kelima ialah shalat pada waktu pagi, yang di sini disebut qur’ânal-fajri, atau bacaan Qur’an pada waktu fajar. Jadi ayat ini adalah ayat permulaan yang menerangkan shalat lima waktu. Hendaklah dicatat, bahwa empat waktu shalat, yaitu zhuhur sampai dengan ‘isya disebutkan bersama-sama karena empat shalat ini susul-menyusul dengan hanya berhenti sebentar, sedang shalat yang kelima, yaitu shalat subuh disebutkan tersendiri, karena shalat ini dikerjakan setelah berhenti agak lama. Shalat ini dinamakan Qurânal-fajri, karena dalam shalat ini orang biasanya suka memperpanjang bacaan Qur’an. Bacaan Qur’an ini disebut masyhudan atau yang disaksikan, karena pada saat itu terjadi konsentrasi jiwa sedalam-dalamnya. []
  49. Kata tahajjud berasal dari kata hajada artinya tidur pada malam hari, dan berarti pula jaga pada malam hari (LL). Ditambahkan kata bihî yang artinya menjalankan shalat, ini menunjukkan arti yang belakangan itulah yang dimaksud di sini. Menurut istilah agama Islam, kata tahajjud selalu berarti shalat yang dilakukan setelah bangun tidur pada bagian malam terakhir. Ini bukanlah shalat wajib, melainkan sebagaimana diuraikan di sini, adalah sarana untuk menaikkan manusia pada kedudukan yang amat mulia. Dikatakan, bahwa pada waktu shalat tahajjud inilah cocok sekali untuk menjalankan konsentrasi dan berhubungan dengan Allah. []
  50. Orang yang direncanakan oleh para musuhnya untuk diusir dari daerah mereka karena ketidakberdayaannya, akan dinaikkan pada tingkat kedudukan yang mulia dengan jalan shalat, teristimewa shalat tahajjud. Dengan berjalannya waktu, kedudukan Nabi Suci semakin naik ke tingkat yang lebih mulia dan lebih mulia lagi. Sementara ayat ini membicarakan khususnya kemuliaan Nabi Suci, yang memang beliau ditentukan untuk mencapai itu, ayat ini secara umum juga menjanjikan bahwa barangsiapa berdoa dengan tulus-ikhlas kepada Allah, teristimewa pada waktu shalat malam, ia akan dinaikkan pada kedudukan yang mulia. []
  51. Menurut I’Ab, yang dimaksud di sini ialah hijrah Nabi Suci dengan memasuki kota Madinah dan keluar dari kota Makkah (JB). Jadi, dalam wahyu permulaan, Nabi Suci diberitahu bahwa beliau akan meninggalkan kota Makkah dan mengungsi di tempat lain. Akan tetapi kata-kata ini dapat pula diartikan secara umum, yaitu di sini orang diajarkan supaya berdoa, bahwa jika memasuki suatu urusan atau keluar dari dari urusan itu, semogalah ia ditandai dengan ketulusan, dan semoga ia diberi pertolongan oleh Tuhan dalam segala hal yang ia usahakan. []
  52. Di sini kedatangan Nabi Suci dikatakan sebagai datangnya Kebenaran, cocok dengan ramalan yang disebutkan dalam Kitab Yahya 16:13 yang menyebutkan itu sebagai datangnya Roh Kebenaran untuk memimpin manusia pada segala Kebenaran: “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran, sebab ia tidak akan berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang”. Di sini lenyapnya kepalsuan diuraikan dengan fi’il madli (kata kerja waktu lampau) untuk menunjukkan bahwa itu pasti akan terjadi. Kepalsuan akhirnya lenyap dari Makkah setelah Nabi Suci memasuki kota itu sebagai pemenang, dan pada waktu Nabi Suci membersihkan Ka’bah, Rumah Suci Allah dari berhala, beliau membaca ayat ini: “Kebenaran telah datang, dan kepalsuan sirna” (B. 46:32); dengan demikian menunjukkan bahwa menurut pengertian beliau ayat ini mengandung ramalan tentang takluknya kota Makkah. Menurut Hadits lain, pada waktu itu beliau juga membaca ayat 34:49: “Kebenaran telah datang, dan kepalsuan tak meninggalkan bekas, dan tak pula akan kembali”; ini menunjukkan bahwa penyembahan berhala disapu bersih dari Tanah Arab untuk selama-lamanya. Akan tetapi pernyataan yang diuraikan dalam ayat ini bersifat umum, yaitu kepalsuan tak mampu berhadapan dengan Kebenaran, dan Kebenaran akhirnya akan memperoleh kemenangan di seluruh dunia, sebagaimana di Tanah Arab pada zaman Nabi Suci. []
  53. Di sini Qur’an disebut obat dan rahmat bagi penyakit rohani, dan ini pernyataan yang dibuktikan kebenarannya oleh sejarah, bahwa penyakit rohani dibasmi seluruhnya oleh Qur’an. Akan tetapi di sini ditambahkan, bahwa Qur’an itu obat bagi kaum mukmin yang mengikuti ajarannya, bukan bagi orang yang menolaknya. Menolak ajaran Qur’an hanya mendatangkan kerugian besar. []
  54. Baik kaum mukmin maupun kaum kafir berbuat menurut aturan yang mereka tetapkan sendiri. Siapakah yang berada pada jalan yang benar, ia akan diketahui dengan jelas dari akibat-akibatnya yang akan nampak di kemudian hari, tetapi ini senantiasa diketahui oleh Allah. []
  55. Adapun penjelasan kata h yang berarti ilham atau wahyu, lihatlah tafsir nomor 653. Di sini, dan pula di dalam ayat sebelum dan sesudahnya, persoalan yang dibahas hanyalah tentang Qur’an. Oleh karena itu konteksnya jelas bahwa yang ditanyakan oleh kaum kafir bukanlah tentang roh manusia yang untuk ini lebih tepat digunakan kata nafs, melainkan tentang Qur’an, yaitu wahyu atau roh. []
  56. []
  57. Adapun tentang keunikan Qur’an, lihatlah tafsir nomor 36. Hendaklah diingat bahwa di antara empat tempat dalam Qur’an yang berisi tantangan kepada kaum kafir untuk membuat yang seperti Qur’an, hanya di sini sajalah yang jin dan manusia disebutkan bersama-sama; di tempat lain, sebagai pengganti kata jin digunakan kata syuhadâ artinya pemimpin. Hendaklah diingat, bahwa kata jinni (jamaknya jin) ini berarti pula orang yang mengerjakan suatu perkara dengan kekuatan yang menembus; maka kini teranglah bahwa kata jin yang disebutkan dalam ayat ini mengandung arti yang sama seperti kata syuhadâ tersebut dalam ayat lain. Ini menetapkan secara tegas bahwa kata jin digunakan oleh Qur’an dalam arti pemimpin kejahatan. []
  58. Kata matsla sinonim dengan kata wasf (R); jadi, gambaran suatu barang dapat disebut matsal-nya barang itu, walaupun penerapan arti gambaran dengan maksud untuk perbandingan atau perumpamaan ini lebih umum. Di sini dibenarkan bahwa segala sesuatu yang menyebabkan tingginya akhlak dan luhurnya rohani manusia diuraikan dengan tegas dalam Qur’an. []
  59. Tanda bukti yang dituntut oleh kaum kafir dalam ayat ini dan tiga ayat berikutnya, ini bertalian dengan janji yang diberikan kepada orang tulus, dan siksaan yang diancamkan kepada orang jahat, sebagaimana disebutkan dalam Qur’an, dan tak sangsi lagi bahwa semua itu dipenuhi tepat pada waktunya. Tetapi kaum kafir menghendaki untuk melihat kenikmatan rohani berupa hubungan dengan Allah dalam bentuk fisik. Kaum mukmin dikaruniai Taman yang di dalamnya mengalir sungai, bahkan di dunia ini juga, dan siksaan dari langit menimpa kaum kafir, tetapi terlaksananya, dan ini pasti terlaksana, sedikit demi sedikit. []
  60. Jawaban terhadap semua tuntutan kaum kafir ialah, Nabi Muhammad hanyalah seorang Rasul manusia biasa, dan seperti halnya para Rasul sebelumnya, ramalan tentang kebesaran beliau nanti dan kekalahan musuh-musuh beliau, pasti akan terlaksana secara berangsur-angsur. []
  61. Sembilan tanda bukti ini diuraikan secara rinci dalam tafsir nomor 935, dimana diterangkan bahwa sembilan tanda bukti itu cocok dengan apa yang diuraikan dalam Kitab Keluaran. Tanda bukti yang dimaksud itu ialah: tongkat, tangan yang bercahaya, musim kering yang panjang, rusaknya buah-buahan, kematian yang merata, belalang, kutu, katak, dan darah. []
  62. Istafazza artinya menendang, dan berarti pula menipu hingga menyebabkan rusaknya orang yang ditipu dan berarti pula membunuh (LL). []
  63. Yang dimaksud bumi ialah tanah yang dijanjikan kepada Bani Israil. Nabi Musa meminta Raja Fir’aun supaya mengizinkan kaum beliau meninggalkan Mesir untuk menetap di Tanah Suci (20:47). []
  64. Yang dimaksud janji di sini ialah janji yang diberikan kepada Nabi Musa tentang dibangkitkannya seorang Nabi yang seperti beliau. Ini dikuatkan oleh apa yang diuraikan dalam ayat berikutnya tentang Wahyu Qur’an yang datang dengan Kebenaran, yaitu terpenuhinya suatu janji. Yang dimaksud digulungnya Bangsa Israil ialah, mereka harus menyingkir untuk memberi jalan kepada umat lain yang akan mewarisi Kerajaan Allah. []
  65. []
  66. Tak sangsi lagi bahwa janji yang dibicarakan di sini ialah janji yang diberikan kepada para Nabi yang sudah-sudah tentang datangnya Nabi Muhammad saw. Adapun yang dimaksud ilmu tersebut dalam ayat sebelumnya ialah ilmu tentang nubuwwah.
    1475a Selesai membaca ayat ini, segera diikuti sujud sungguh-sungguh. Lihatlah tafsir nomor 978. []
  67. Rupa-rupanya nama Ar-Rahmân (Yang Maha-pemurah) terutama sekali kurang disenangi oleh Bangsa Arab, bahkan mereka keberatan menggunakan kata itu pada perjanjian perdamaian Hudaibiyah. Kaum Kristen juga tak mengakui Allah sebagai Ar-Rahmân, karena ini akan berarti Allah memberi kemurahan kepada makhluk-Nya tanpa mereka berbuat sesuatu yang pantas mendapat kemurahan, padahal ajaran Kristen tentang penebusan dosa itu didasarkan atas kepercayaan bahwa Allah tak dapat memberi rahmat kepada makhluk-Nya tanpa mendapat suatu balasan yang memuaskan. []
  68. Dua perbuatan yang kelewat batas dalam menjalankan shalat ialah mengucapkan doa dengan suara keras atau tidak mengucapkan doa sama sekali, karena berpikir bahwa Allah pasti tahu apa yang ada dalam hati. Kaum Muslimin diberitahu supaya mengambil jalan tengah antara dua perbuatan yang kelewat batas itu. Dengan mengucapkan doa menyebabkan shalat itu meresap dalam kalbu, dengan demikian akan membuat shalatnya lebih mencapai tujuan.[] []

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *