Home / Al-Quran / 018 Al Kahfi

018 Al Kahfi

SURAT 18

Al Kahfi: Gua

(Diturunkan di Makkah, 18 ruku’, 110 ayat)

Mukaddimah Surah Buka

 

Ruku’ 1: Peringatan terhadap kaum Kristen

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih.

 

1. Segala puji kepunyaan Allah, Yang menurunkan Kitab kepada hamba-Nya, dan tak membuat itu bengkok.1

 

2. Petunjuk yang benar,1478a untuk memberi peringatan tentang siksaan yang dahsyat dari Dia, dan untuk memberi kabar baik kepada kaum mukmin yang berbuat baik, bahwa mereka akan memperoleh ganjaran yang baik.

 

3. Mereka menetap di sana untuk selama-lamanya.

 

4. Dan untuk memperingatkan orang-orang yang berkata: Allah telah memungut putra.

 

5. Mereka tak mempunyai pengetahuan tentang itu, demikian pula ayah-ayah mereka. Mengerikan sekali kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Tiada mereka mengucapkan itu kecuali hanya kebohongan.

 

6. Lalu barangkali engkau akan membunuh dirimu sendiri karena duka-cita, karena menanggung prihatin terhadap mereka kalau-kalau mereka tak beriman kepada pemberitahuan ini.2

 

7. Sesungguhnya Kami telah membuat apa yang ada di bumi sebagai hiasan baginya, agar Kami dapat menguji siapa di antara mereka yang paling baik perbuatannya.

 

8. Dan sesungguhnya Kami membuat apa yang ada di atasnya, tanah tanpa tumbuh-tumbuhan.3

 

9. Apakah engkau mengira bahwa para pemilik Gua dan Tulisan adalah sebagian pertanda Kami yang mengagumkan?4

 

10. Tatkala para pemuda mencari persembunyian dalam Gua, mereka berkata: Tuhan kami, berilah kemurahan kepada kami dari Engkau sendiri, dan berilah jalan yang benar kepada kami dalam perkara kami.

 

11. Maka Kami mencegah pendengaran mereka di Gua beberapa tahun lamanya.5

 

12. Lalu mereka Kami bangkitkan agar Kami tahu siapa di antara dua golongan itu yang mampu menghitung berapa lama mereka tinggal (di Gua).1482a

Ruku’ 2: Para penghuni gua

 

13. Kami menceritakan kepada engkau riwayat mereka dengan benar. Sesungguhnya mereka itu pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kepada mereka Kami tambahkan petunjuk.6

 

14. Dan Kami menguatkan hati mereka tatkala mereka berdiri dan berkata: Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami tak menyeru kepada tuhan selain Dia, karena jika demikian, kami mengucapkan ucapan yang mengerikan.1483a

 

15. Ini adalah kaum kami yang mengambil tuhan selain Dia. Mengapa mereka tak membawa (surat) kuasa yang terang untuk mereka? Siapakah yang lebih lalim daripada orang yang berbuat kebohongan terhadap Allah?

 

16. Dan tatkala kamu menarik diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah; mengungsilah ke Gua, Tuhan kamu akan melapangkan kamu dengan rahmat-Nya, dan menyediakan kepada kamu jalan yang berfaedah bagi urusan kamu.

 

17. Dan engkau melihat matahari tatkala terbit, condong ke arah kanan dari Gua mereka, dan tatkala itu terbenam, meninggalkan mereka di sebelah kiri, sedangkan mereka itu berada di ruang yang luas dari (gua) itu. Ini adalah sebagian tanda bukti Allah. Barangsiapa Allah memberi petunjuk, ia berada di jalan yang benar; dan barangsiapa Ia biarkan dalam kesesatan, engkau tak menemukan bagi mereka seorang kawan yang menujukkan jalan benar.7

Ruku’ 3: Para Penghuni Gua

 

18. Dan engkau mengira bahwa mereka jaga, padahal mereka tidur; dan Kami membalik-balik mereka ke kanan dan ke kiri; dan anjing mereka membentangkan kakinya pada mulut gua. Seandainya engkau melihat mereka, niscaya engkau akan menghindar dari mereka sambil berlari, dan engkau akan diliputi dengan rasa takut karena mereka.8

 

19. Dan demikianlah Kami membangunkan mereka agar mereka saling bertanya satu sama lain. Seorang pembicara di antara mereka berkata: Berapa lama kamu bertinggal? (Yang lain) berkata: Kami bertinggal sehari atau sebagian hari. (Yang lain lagi) berkata: Tuhan kamu tahu benar berapa lama kamu bertinggal;9 Maka suruhlah salah seorang di antara kamu dengan (mata uang) perak ini ke kota, dan hendaklah ia melihat makanan apa yang paling suci, dan dari sana ia membawa bekal untuk kamu, dan hendaklah ia berlaku sopan, dan jangan sekali-kali membocorkan rahasia kepada siapa pun juga.10

 

20. Karena, jika mereka mengalahkan kamu, mereka akan merajam kamu sampai mati, atau memaksa kamu supaya kembali pada agama mereka, lalu kamu tak akan beruntung selama-lamanya.

 

21. Dan demikianlah Kami membuat (orang-orang) mempunyai pengetahuan tentang mereka,11 agar mereka tahu bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa sa’ah — tak ada keragu-raguan tentang itu.12 Tatkala mereka saling berbantah di antara mereka tentang perkara mereka, dan mereka berkata: Dirikanlah sebuah bangunan di atas mereka.13 Tuhan mereka tahu benar tentang mereka. Orang-orang yang menang atas perkara mereka berkata: Sesungguhnya kami akan membangun sebuah tempat ibadah di atas mereka.14

 

22. (Sebagian orang) berkata: (mereka itu) tiga, adapun yang keempat ialah anjing mereka; dan (sebagian lagi) berkata: Lima, yang keenam ialah anjing mereka, dengan meraba-raba barang yang tak kelihatan. Dan (yang lain lagi) berkata: Tujuh, yang kedelapan ialah anjing mereka. Katakanlah: Tuhan kami tahu benar tentang bilangan mereka — tak ada yang tahu tentang mereka, kecuali hanya sedikit. Maka dari itu janganlah engkau bertengkar tentang mereka kecuali hanya pertengkaran lahir, dan jangan pula bertanya tentang mereka kepada salah seorang di antara mereka.15

Ruku’ 4: Qur’an sebagai Bimbingan

 

23. Dan jangan sekali-kali engkau berkata tentang suatu hal: Aku akan melakukan itu besok pagi.16

 

24. Kecuali jika Allah menghendaki. Dan ingatlah kepada Tuhan dikau tatkala engkau lupa, dan berkatalah: Mudah-mudahan Tuhanku akan membimbing aku pada jalan yang lebih dekat pada kebenaran daripada ini.17

 

25. Dan mereka tinggal dalam gua tiga ratus tahun, dan mereka tambahkan (lagi) sembilan.18

 

26. Katakanlah: Allah tahu benar berapa lama mereka bertinggal. Kegaiban langit dan bumi adalah kepunyaan-Nya. Alangkah terang penglihatan-Nya dan pendengaran-Nya! Mereka tak mempunyai pelindung selain Dia, dan tak seorang pun menjadi sekutu dalam menjatuhkan keputusan-Nya.19

 

27. Dan bacalah apa yang diwahyukan kepada engkau dari Kitab Tuhan dikau. Tak seorang pun dapat mengubah firman-Nya.20 Dan engkau tak menemukan tempat berlindung di luar Dia.

 

28. Dan sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru kepada Tuhan mereka pada pagi hari dan petang hari dengan mengharap-harap akan kebajikan-Nya, dan jangan pula membiarkan mata engkau berlalu dari mereka karena menginginkan keindahan kehidupan dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya Kami bikin lupa dari ingat kepada Kami, dan ia mengikuti hawa nafsunya, dan selalu melebihi batas dalam perkaranya.

 

29. Katakanlah: Kebenaran adalah dari Tuhan kamu; maka barangsiapa suka ia boleh beriman, dan barangsiapa suka ia boleh kafir. Sesungguhnya telah Kami siapkan bagi kaum lalim, Api yang pagar-pagarnya mengelilingi mereka. Dan jika mereka berteriak minta air, mereka diberi air yang seperti cairan tembaga yang menghanguskan muka.21 Buruk sekali minuman itu! Dan buruk sekali tempat istirahat itu!

 

30. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat baik, Kami tak menyia-nyiakan ganjaran orang yang mengerjakan perbuatan baik.

 

31. Mereka ialah orang yang memperoleh Taman yang kekal, yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; mereka di sana akan diperlengkapi dengan gelang emas, dan akan mengenakan pakaian sutera halus berwarna hijau, dan kain sutera tebal yang disulam dengan benang emas, dan di sana mereka duduk bersandar di atas sofa yang empuk.22 Nikmat sekali ganjaran itu! Dan baik sekali tempat istirahat itu!

Ruku’ 5: Perumpamaan

 

32. Utarakanlah kepada mereka sebuah perumpamaan tentang dua orang pria, yang kepada salah seorang di antara mereka Kami berikan dua kebun anggur, dan dua (kebun) itu Kami kelilingi dengan pohon kurma, dan di antara dua (kebun) itu Kami buatkan ladang gandum.23

 

33. Dan kebun itu menghasilkan buah-buahannya, dan tak ada kegagalan sedikit pun; dan di celah-celah dua (kebun) itu Kami alirkan sungai yang deras.

 

34. Dan ia mempunyai buah-buahan. Lalu ia berkata kepada kawannya, selagi ia bertengkar dengan dia: Aku mempunyai kekayaan lebih banyak dari engkau, dan lebih kuat para pengikut(ku).

 

35. Ia memasuki kebunnya, sedangkan ia berbuat lalim terhadap dirinya. Ia berkata: Aku kira (kebun) ini tak akan rusak selama-lamanya.

 

36. Dan aku kira, Sa’ah tak akan datang; dan seandainya aku dikembalikan kepada Tuhanku, niscaya aku akan menemukan tempat kembali yang lebih baik daripada ini.24

 

37. Kawannya berkata kepadanya selagi ia bertengkar dengan dia: Apakah engkau kafir terhadap Tuhan Yang Menciptakan engkau dari tanah, lalu dari benih manusia yang kecil, lalu membuat engkau menjadi pria yang sempurna?

 

38. Tetapi bagi kami, Dia, Allah, adalah Tuhanku, dan aku tak menyekutukan seorang pun dengan Tuhanku.

 

39. Dan mengapa tatkala engkau memasuki kebun dikau, engkau tak berkata: Ini adalah kehendak Allah; tak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah. Jika engkau menganggap aku lebih kecil dalam hal kekayaan dan anak daripada engkau,

 

40. Maka boleh jadi Tuhanku akan memberikan kepadaku yang lebih baik daripada kebun dikau, dan akan mengirimkan kepada kebun (dikau) perhitungan dari langit sehingga kebun itu akan menjadi tanah tandus tanpa tumbuh-tumbuhan;

 

41. Atau, air (kebun) itu akan masuk dalam tanah, sehingga engkau tak mampu menemukan itu.

 

42. Dan buah-buahannya dimusnahkan; maka mulailah ia memulas tangannya meratapi apa yang telah ia belanjakan untuk itu, sedangkan itu rusak, atapnya roboh,25 dan ia berkata: Aduh! Sekiranya aku tak menyekutukan Tuhanku dengan seorang pun!

 

43. Dan ia tak mempunyai golongan yang akan menolong dia selain Allah, dan ia pun tak dapat menolong diri sendiri.

 

44. Demikianlah perlindungan itu semata-mata kepunyaan Allah, Yang Maha-benar. Ia adalah Yang Maha-baik (dalam memberikan) ganjaran dan Maha-baik (dalam memberikan) pembalasan.

Ruku’ 6: Orang yang bersalah diadili

 

45. Dan utarakanlah kepada mereka perumpamaan kehidupan dunia; (ini) adalah bagaikan air yang Kami turunkan dari awan, maka dengan itu tumbuh-tumbuhan di bumi menjadi subur, lalu ini menjadi kering, bertaburan karena hembusan angin. Dan Allah itu Yang memegang kekuasaan atas segala sesuatu.

 

46. Harta dan anak adalah perhiasan kehidupan dunia; tetapi barang yang kekal, (yakni) perbuatan baik, itu menurut Tuhan dikau baik sekali ganjarannya, dan baik sekali harapannya.

 

47. Pada hari tatkala gunung-gunung Kami jalankan, dan engkau akan melihat bumi menjadi lapangan yang rata, dan mereka Kami himpun, dan tak seorang pun di antara mereka yang Kami tinggalkan.26

 

48. Dan mereka dihadapkan kepada Tuhan dikau berbanjar-banjar. Kini kamu sungguh-sungguh datang kepada Kami seperti Kami mula pertama menciptakan kamu. Tidak, kamu berpikir bahwa Kami tak membuat perjanjian terhadap kamu.

 

49. Dan Kitab diletakkan, dan engkau melihat orang-orang yang bersalah merasa takut akan apa yang ada di dalamnya, dan mereka berkata: Aduh celaka sekali kami! Kitab apakah ini? Tiada ditinggalkan yang kecil, dan tak pula yang besar, melainkan (semuanya) dihitung; dan apa saja yang mereka lakukan, mereka temukan itu di hadapan mereka. Dan Tuhan dikau tak berbuat lalim kepada seorang pun.27

Ruku’ 7: Mereka tak berdaya

 

50. Dan tatkala Kami berfirman kepada malaikat: Bersujudlah kepada Adam! Mereka bersujud, kecuali iblis. Ia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhaka kepada perintah Tuhannya.28 Apakah kamu mengambil dia dan keturunannya sebagai kawan, bukannya Aku, padahal mereka itu musuh bagi kamu. Buruk sekali pengganti itu bagi kaum lalim.

 

51. Aku tak membuat mereka supaya menyaksikan terciptanya langit dan bumi, dan tak pula terciptanya diri mereka sendiri. Demikian pula Aku tak dapat mengambil mereka yang menyesatkan itu sebagai pembantu.

 

52. Dan pada suatu hari, Ia berfirman: Panggillah mereka yang kamu anggap sekutu-sekutu-Ku. Maka mereka menyerunya tetapi mereka tak menjawab seruan itu, dan Kami akan memisahkan antara mereka.29

 

53. Dan orang-orang yang bersalah akan melihat Neraka, dan mereka tahu bahwa mereka akan terjun di dalamnya, dan mereka tak menemukan tempat pelarian dari sana.

Ruku’ 8: Peringatan tak dihiraukan

 

54. Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan segala macam perumpamaan dalam Qur’an ini kepada manusia; dan manusia itu dalam banyak hal selalu membantah.

 

55. Dan tak ada yang menghalang-halangi manusia untuk beriman tatkala pimpinan datang kepada mereka, dan pula mohon ampun kepada Tuhan mereka, selain bahwa (mereka menantikan) peristiwa orang-orang kuno menimpa mereka, atau siksaan mendatangi mereka di hadapannya.

 

56. Dan Kami tak mengutus para Utusan kecuali sebagai pengemban berita baik dan juru ingat; dan orang-orang kafir membantah dengan kepalsuan, agar mereka dengan itu dapat melemahkan Kebenaran, dan mereka mengambil ayat-ayat-Ku dan peringatan-(Ku) untuk tertawaan.

 

57. Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhannya, lalu ia berpaling dari ayat itu, dan lupa akan apa yang dikerjakan oleh tangannya dahulu. Sesungguhnya telah Kami buatkan selubung pada hati mereka, agar mereka tak mengerti itu, dan dalam telinga mereka Kami buatkan sumbat.30 Dan jika engkau mengajak mereka kepada petunjuk, mereka bahkan tak mengikuti jalan benar selama-lamanya.

 

58. Dan Tuhan dikau adalah Yang Maha-pengampun, Penuh kasih sayang. Sekiranya Ia harus menyiksa mereka karena apa yang mereka lakukan, niscaya Ia akan mempercepat siksaan itu bagi mereka. Tetapi bagi mereka adalah waktu yang dijanjikan, yang di luar itu, mereka tak menemukan tempat mengungsi.31

 

59. Dan kota ini, Kami membinasakan mereka manakala mereka berbuat lalim. Dan Kami telah menentukan waktu untuk membinasakan mereka.32

Ruku’ 9: Perjalanan Nabi Musa mencari ilmu

 

60. Dan tatkala Musa berkata kepada pelayannya:33 Aku tak akan berhenti, sampai aku mencapai tempat bertemunya dua sungai,34 jika tidak, maka aku akan terus berjalan untuk beberapa tahun.35

 

61. Maka setelah mereka mencapai tempat bertemunya dua (sungai) itu, mereka lupa akan ikan mereka, dan (ikan) itu mengambil jalannya di sungai, karena bebas.36

 

62. Tetapi setelah mereka berjalan agak jauh, ia berkata kepada pelayannya: Bawalah kemari sarapan kita; sesungguhnya kita menemukan keletihan dalam perjalanan kita.

 

63. Ia (pelayan) berkata: Tahukah engkau tatkala kita berlindung di atas batu, aku lupa akan ikan itu, dan tiada yang membuat aku lupa untuk membicarakan itu kecuali setan, dan (ikan) itu mengambil jalannya di sungai; mengherankan sekali!37

 

64. Ia (Musa) berkata: Itulah apa yang kita cari. Maka dari itu mereka kembali menyusuri tapak kaki mereka.

 

65. Lalu mereka berjumpa dengan seorang dari golongan hamba Kami yang Kami beri rahmat dari Kami, dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari Kami sendiri.

 

66. Musa berkata kepadanya: Bolehkah aku mengikuti engkau dengan maksud agar engkau mengajarkan kepadaku kebaikan yang telah diajarkan kepada engkau.

 

67. Ia berkata: Engkau tak akan dapat sabar menyertai aku.

 

68. Dan bagaimana engkau dapat sabar mengenai hal yang engkau tak mempunyai ilmu yang luas tentang itu?

 

69. Ia (Musa) berkata: Insya Allah engkau akan menemukan aku orang yang sabar, dan aku tak akan mendurhaka kepada engkau sedikit pun.

 

70. Ia berkata: Jika engkau mengikuti aku, janganlah engkau bertanya kepadaku tentang segala sesuatu, sampai aku memberitahukan itu kepada engkau.

Ruku’ 10: Perjalanan Nabi Musa mencari ilmu

 

71. Maka berangkatlah mereka; sampai tatkala mereka naik di atas perahu, ia melubangi itu. (Musa) berkata: Apakah engkau melubangi itu agar penumpangnya tenggelam? Sesungguhnya engkau telah melakukan sesuatu yang mengerikan.

 

72. Ia berkata: Bukankah aku telah berkata bahwa engkau tak dapat sabar menyertai aku?

 

73. (Musa) berkata: Janganlah engkau marah kepadaku karena apa yang aku lupa, dan jangan pula engkau bersikap keras kepadaku karena perbuatanku.

 

74. Maka berangkatlah mereka; sampai tatkala mereka berjumpa dengan seorang anak, ia membunuhnya. (Musa) berkata: Mengapa engkau membunuh anak yang suci yang tak membunuh orang lain? Sesungguhnya engkau telah melakukan sesuatu yang kejam.
JUZ XVI

 

75. Bukankah aku telah berkata bahwa engkau tak dapat sabar menyertai aku?

 

76. (Musa) berkata: Jika sesudah ini aku bertanya kepada engkau tentang suatu hal, maka janganlah engkau berkawan dengan aku lagi. Engkau sungguh-sungguh telah cukup memberi maaf kepadaku.

 

77. Maka berangkatlah mereka; sampai tatkala mereka datang pada penduduk sebuah kota, mereka minta jamuan kepada penduduk (kota) itu, tetapi (penduduk kota) itu menolak menjamu mereka. Lalu di situ mereka menemukan sebuah tembok yang hampir roboh, maka ia menegakkan itu kembali. (Musa) berkata: Apabila engkau suka, engkau sebaiknya minta imbalan untuk itu.

 

78. Ia berkata: Inilah (saat) perpisahan antara aku dan engkau. Kini akan aku beritahukan kepada engkau, arti dari apa yang engkau tak dapat sabar.38

 

79. Adapun perahu, itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di sungai; dan aku bermaksud merusak itu karena di belakang mereka ada seorang raja yang merampas setiap perahu dengan paksa.

 

80. Adapun anak, ayah ibunya adalah mukmin, dan kami khawatir kalau-kalau anak itu melibatkan mereka dalam pelanggaran dan kekafiran.39

 

81. Maka dari itu kami bermaksud agar Tuhan mereka memberi ganti kepada mereka anak yang lebih baik daripada dia dalam kesucian dan lebih dekat kepada kasih sayang.

 

82. Adapun tembok, ini adalah kepunyaan dua anak yatim di kota, dan di bawahnya terdapat harta kepunyaan dua anak itu, dan ayah mereka orang yang saleh. Maka Tuhan dikau menghendaki agar mereka mencapai usia dewasa dan mengeluarkan harta simpanan mereka — suatu rahmat dari Tuhan dikau; — dan aku tak melakukan itu atas kemauanku sendiri. Inilah keterangan apa yang engkau tak dapat sabar.

Ruku’ 11: Dzul-Qarnain dan Ya’juj wa Ma’juj

 

83. Dan mereka bertanya kepada engkau tentang Dzul-Qarnain.40 Katakan: Aku akan membacakan kepada engkau riwayatnya.

 

84. Sesungguhnya Kami telah menguatkan kedudukannya di bumi dan mengaruniakan kepadanya sarana untuk mencapai segala sesuatu.

 

85. Maka ia menempuh suatu perjalanan.

 

86. Hingga tatkala ia sampai di tempat terbenamnya matahari,41 ia menemukan (matahari) itu terbenam di laut hitam,42 dan di sana ia bertemu dengan suatu kaum. Kami berfirman: Wahai Dzul-Qarnain, engkau boleh menyiksa mereka atau berbuat baik kepada mereka.

 

87. Ia berkata: Adapun orang yang lalim, kami akan menyiksa dia, lalu ia akan dikembalikan kepada Tuhannya, dan Ia akan menyiksa dia dengan siksaan yang mengerikan.

 

88. Adapun orang yang beriman dan berbuat baik, ia akan memperoleh ganjaran yang baik, dan Kami akan berfirman kepadanya dengan semudah-mudah firman dari perintah Kami.43

 

89. Lalu ia menempuh perjalanan (yang lain).

 

90. Hingga tatkala ia sampai di tempat terbitnya matahari, ia menemukan (matahari) itu terbit di atas kaum yang tak Kami beri perlindungan dari (matahari) itu.44

 

91. Demikianlah! Dan Kami mempunyai penuh pengetahuan tentang apa yang ada padanya.

 

92. Lalu ia menempuh perjalanan (lain lagi).

 

93. Hingga tatkala ia sampai (di tempat) antara dua bukit, di sisi bukit-bukit itu ia bertemu dengan kaum yang hampir-hampir tak mengerti membaca.45

 

94. Mereka berkata: Wahai Dzul-Qarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj berbuat rusak di bumi. Bolehkah kami membayar upeti kepada engkau dengan syarat bahwa engkau suka membangun sebuah dinding antara kami dan mereka.46

 

95. Ia berkata: Apa yang Tuhanku meneguhkan dalam itu kepadaku adalah paling baik; maka dari itu bantulah aku dengan kekuatan (manusia); aku akan membangun sebuah benteng yang kuat antara kamu dan mereka.

 

96. Berilah aku balok-balok besi.47 Akhirnya, setelah itu memenuhi ruangan antara dua bukit, ia berkata: Tiuplah. Sampai tatkala itu menjadi api, ia berkata: Berilah aku cairan tembaga untuk dituangkan di atasnya.

 

97. Maka mereka tak mampu menaiki itu, dan tak mampu melubangi itu.

 

98. Ia berkata: Ini adalah suatu rahmat dari Tuhanku; tetapi apabila janji Tuhanku datang, Ia akan menjadikan itu runtuh; dan janji Tuhanku selalu benar.1524a

 

99. Dan pada hari itu Kami biarkan sebagian mereka menggempur sebagian yang lain, dan ditiuplah terompet, lalu mereka Kami himpun semua.48

 

100. Dan pada hari itu Kami perlihatkan kepada kaum kafir Neraka, dengan jelas1525a

 

101. (Yaitu) orang yang matanya tertutup dari Peringatan-Ku, dan mereka tak dapat mendengar.1525b

Ruku’ 12: Bangsa-bangsa Kristen

 

102. Apakah orang-orang kafir mengira bahwa mereka dapat mengambil hamba-hamba-Ku sebagai pelindung di luar Aku?49 Sesungguhnya Kami telah menyiapkan Neraka sebagai jamuan bagi kaum kafir.

 

103. Katakan: Bolehkah kami beritahukan kepada kamu orang yang paling rugi perbuatan(nya)?

 

104. (Yaitu) orang yang tersesat usahanya dalam kehidupan dunia, dan mereka mengira bahwa mereka pandai dalam membuat barang-barang.50

 

105. Mereka adalah orang yang mengafiri ayat-ayat Tuhannya, dan (mengafiri) pertemuan dengan Dia, maka sia-sialah amal mereka. Dan pada hari Kiamat Kami tak membuat neraca bagi mereka.51

 

106. Neraka — itulah pembalasan mereka karena mereka kafir dan menertawakan ayat-ayat-Ku dan para Utusan-Ku.

 

107. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat baik, mereka memperoleh jamuan Taman Firdaus.

 

108. Mereka menetap di sana; mereka tak ingin dipindahkan dari sana.

 

109. Katakanlah: Sekiranya lautan itu tinta untuk (menulis) Firman Tuhanku, niscaya lautan itu akan habis sebelum habis Firman Tuhanku, walaupun Kami datangkan lagi yang sama dengan itu untuk ditambahkan.52

 

110. Katakanlah: Aku hanyalah manusia biasa seperti kamu; hanya kepadaku diwahyukan bahwa Tuhan kamu ialah Tuhan Yang Maha-esa. Maka barangsiapa berharap bertemu dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan perbuatan baik, dan tak musyrik kepada sesuatu pun dalam mengabdi kepada Tuhannya.

  1. Sehubungan dengan Surat ini, Nabi Suci diriwayatkan bersabda: “Barangsiapa hafal sepuluh ayat permulaan dari Surat Al-Kahfi, ia akan diselamatkan dari fitnahnya Dajjal” (Mus. 6:42). Shi’bah menyebutkan sepuluh ayat terakhir dari Surat Al-Kahfi bukan sepuluh ayat permulaan (AD, 36:12). Ruku’ pertama dan ruku’ terakhir Surat ini berisi kecaman terhadap ajaran Kristen tentang Ketuhanan Nabi ‘Isa. Ruku’ pertama memberi peringatan kepada orang-orang yang berkata: Allah telah memungut putra (ayat 4). Ruku’ terakhir memberi peringatan kepada orang-orang yang menjadikan hamba-Ku sebagai Pelindung (ayat 102), dan ajaran-ajaran tersebut, yakni Nabi ‘Isa putra Allah dan ketuhanan hamba Allah, adalah ajaran pokok agama Kristen. Selain itu, dalam sepuluh ayat terakhir, diuraikan gambaran yang sebenarnya tentang pekerjaan Bangsa-bangsa Kristen yang digambarkan sebagai orang yang usahanya merugi dalam kehidupan dunia (ayat 104). Qur’an tak membicarakan sama sekali tentang munculnya Dajjal atau Antichrist, tetapi Hadits yang kami kutip di atas menerangkan seterang-terangnya bahwa Dajjal yang diuraikan dalam Hadits adalah sama dengan orang-orang yang menjunjung tinggi ajaran Kristen yang salah tentang ‘Isa putra Allah dan ketuhanan Nabi ‘Isa. Oleh karena bentuk agama Kristen yang sekarang ini adalah bertentangan dengan ajaran Nabi ‘Isa yang sebenarnya, maka bentuk agama Kristen sekarang ini adalah Antichrist atau Dajjal yang diberitahukan oleh Qur’an. Dapat ditambahkan di sini bahwa kata Dajjal itu artinya orang yang menutupi kebenaran dengan kepalsuan, atau orang yang bohong, atau penipu ulung (LL).
    1478a Di sini Qur’an digambarkan mempunyai dua sifat. Pertama, Qur’an itu Kitab yang sempurna, tak ada kebengkokan di dalamnya; kedua, Qur’an itu Kitab yang sanggup membuat orang menjadi sempurna, karena Qur’an itu disebut qayyim artinya kitab yang memberi petunjuk yang benar kepada manusia. Atau Qur’an disebut qayyim artinya yang memelihara, karena Qur’an mengatur segala urusan manusia, demikian pula memelihara kebenaran rohani, yang benar-benar akan hilang seluruhnya dari dunia sekiranya tidak dijaga oleh Qur’an. []
  2. Ayat ini memberi pengertian kepada kita akan kecemasan Nabi Suci karena rusaknya umat manusia. Kecemasan beliau begitu besar hingga dikatakan dalam ayat ini hampir-hampir membunuh dirinya karena duka-cita. Beliau mengabdikan seluruh hidup beliau guna kepentingan manusia, beliau amat menaruh perhatian agar manusia dapat mencapai martabat yang sebenar-benarnya sesuai dengan ketentuan yang dibuat oleh Allah. Kecemasan beliau bukan hanya ditujukan kepada orang-orang yang dihadapi oleh beliau, melainkan, sebagaimana terang dari hubungan ayat itu dengan ayat sebelum dan sesudahnya, ditujukan pula kepada umat lain yang mengakukan Tuhan mempunyai putra, yang dengan kedok keindahan lahiriyah telah menyesatkan manusia begitu luas hingga membuat mereka semakin terasing dari kebenaran rohani. Jika ayat berikutnya dibaca bersama dengan ayat ini, maka tak ada keraguan sedikit pun, bahwa kepada Nabi Suci telah diperlihatkan perhiasan duniawi yang menjadi cobaan berat bagi dunia Kristen sekarang ini. Kata hadits di sini artinya baru. Oleh sebab itu, kata ini diterangkan terhadap suatu cerita atau pemberitahuan yang baru atau memberi informasi baru. Adapun yang dituju di sini ialah Qur’an Suci. []
  3. Ayat 7 dan 8 mengarahkan perhatian manusia kepada satu kenyataan, bahwa keindahan hidup di dunia bukanlah perkara yang kekal. Seorang penduduk padang pasir Arab yang tak mempunyai pandangan lain selain lautan pasir yang terbuka dan berbukit tandus, tak dapat membayangkan bahwa bumi itu penuh dengan hiasan. Ternyata yang digambarkan di sini ialah kota-kota indah zaman mutakhir yang penuh dengan hiburan dan kemewahan, yang begitu menawan perhatian manusia hingga mereka tak mau menaruh perhatian kepada dakwah tentang kebenaran dan berbuat ketulusan. Namun dimana ada pertumbuhan, pasti ada keruntuhan. Dan orang yang tenggelam dalam kemewahan tak akan luput dari kehancuran. Kehancuran mereka itulah yang diisyaratkan dalam ayat ini sebagai tanah tanpa tumbuh-tumbuhan. Kita telah melihat betapa terang apa yang diuraikan dalam Qur’an, bahwa siksaan dahsyat akan menimpa dunia dan menghancurkan kota-kota yang padat penduduknya: Dan tiada kota, melainkan itu Kami rusak sebelum Hari Kiamat, atau Kami siksa dengan siksaan yang dahsyat (17:58); lihatlah tafsir nomor 1439. Di sini kita diberitahu, bahwa mula-mula bumi dijadikan indah seindah-indahnya, lalu dirusak oleh tangan manusia sendiri; gedung-gedung megah dibikin rata dengan tanah, dan taman-taman yang indah menjadi tanah tandus tanpa tumbuh-tumbuhan sama sekali. Semua ramalan yang diberitahukan kepada hamba Allah yang tulus, para Nabi yang disebutkan dalam Kitab Perjanjian Lama, dan Nabi ‘Isa, lalu diberitahukan melalui Qur’an dan Hadits, semuanya meramalkan adanya perang besar pada zaman akhir antara bangsa-bangsa di dunia, demikian pula meramalkan adanya malapetaka besar, dan hancurnya beratus-ratus kota. Semua itu telah disaksikan sendiri oleh generasi sekarang. Mula-mula ilmu pengetahuan menghias bumi dengan indahnya, tetapi kini ilmu pengetahuan disalahgunakan dengan membuat bom atom dan penemuan gila-gilaan yang lain. Dengan demikian nampak dengan jelas adanya tangan Allah yang kuat yang bekerja dalam sejarah dunia. []
  4. Al-Kahfi artinya Gua atau tempat mengungsi, adapun raqîm artinya inskripsi atau tulisan atau batu yang berisi tulisan. Sebagaimana telah kami terangkan, Gua adalah aspek khusus agama Kristen yang diwujudkan berupa lembaga kerahiban, dan inilah ciri khas yang segera diambil setelah lahirnya agama itu. Tetapi apakah yang dimaksud raqîm atau inskripsi itu? Kata ini mengandung ramalan tentang aspek agama Kristen yang lain, yang bertentangan sama sekali dengan aspek pertama tentang pertumbuhan di Gua. Sebenarnya, inskripsi atau iklan adalah ciri utama kegiatan perdagangan bangsa-bangsa Kristen sekarang ini, sebagaimana Gua adalah ciri khas kegiatan utama kaum Kristen pada zaman permulaan. Rupa-rupanya Qur’an memilih gelar kehormatan ini untuk menjuluki bangsa-bangsa Kristen, dengan maksud untuk menunjukkan ciri khas mereka yang paling menonjol pada zaman permulaan dan pada zaman akhir. Jadi kata-kata Gua dan inskripsi rupa-rupanya mengisyaratkan keadaan agama Kristen pada zaman permulaan dan pada zaman akhir, yaitu dari agama kerahiban diubah menjadi agama bisnis. Adapun riwayat Para Penghuni Gua, lihatlah tafsir nomor 1483. []
  5. Kata-kata dlarabnâ ‘alâ âdzânihim menurut sebagian mufassir berarti mana’nahu mussam’a, artinya Kami mencegah pendengaran mereka. Ini adalah penjelasan DK, dan penjelasan inilah yang mendekati makna aslinya, karena salah satu arti dlarabna adalah syadda, artinya mencegah (T, LL). Lalu kata-kata mencegah pendengaran itu sama artinya dengan menidurkan mereka; tetapi makna yang asli lebih cocok dengan konteks; adapun artinya ialah, hubungan orang-orang itu dengan dunia luar terputus untuk beberapa tahun lamanya. Jadi Qur’an tak membenarkan adanya cerita bahwa orang-orang itu tinggal di Gua beberapa ratus tahun lamanya, dan tak membenarkan pula bahwa orang-orang itu terus-menerus dalam keadaan tidur. []
  6. 1482a Kata-kata mereka dibangkitkan dapat berarti dibangkitkan dari tidur, tetapi dapat pula berarti dibangkitkan kegiatan mereka setelah terputusnya hubungan mereka dengan dunia luar, sebagaimana dinyatakan dalam ayat sebelumnya. Apakah yang dimaksud itu sehubungan dengan riwayat itu sendiri, ataukah sehubungan dengan riwayat agama Kristen, ini diuraikan dalam ruku’ kedua dan ketiga.
    Cerita yang mempesona tentang Tujuh orang tidur, yang ini dipersamakan dengan para penghuni Gua dan tulisan, adalah cerita pada zaman Raja Decius. Diriwayatkan bahwa tujuh pemuda bangsawan dari Ephesus mengungsi ke Gua untuk menyelamatkan diri dari pengejaran Raja Decius. Tetapi setelah Raja mengetahui hal itu, ia memberi perintah agar jalan masuk ke Gua ditutup dengan tumpukan batu yang besar-besar. Diriwayatkan bahwa setelah mereka tertutup rapat dalam Gua, mereka semua tertidur, dan mereka bangun pada zaman pemerintahan Theodosius setelah mereka tidur selama 187 tahun, karena batu-batu penutup Gua diambili oleh budak belian Adollius untuk mencukupi bahan bangunan untuk membangun gedung-gedung besar. Setelah mereka bangun, mereka menyuruh salah seorang kawan mereka yang bernama Jamblikus untuk membeli makanan di kota, tetapi ia ditangkap oleh Petugas Negara karena membayar dengan mata uang zaman pemerintahan Decius; demikianlah, maka tujuh pemuda itu ditemukan. Diriwayatkan bahwa Raja sendiri melihat wajah mereka bercahaya. Inilah yang ditulis Gibbon. Tetapi menurut cerita yang lain, para pemuda itu tetap dalam keadaan tidur sampai 375 tahun lamanya.
    Bahwa cerita itu ada benarnya walaupun hanya sedikit, itu bukan hanya mungkin, tetapi hampir dapat dipastikan, karena jika tidak, cerita itu tak mungkin diterima secara luas di kalangan masyarakat. Kisah yang diuraikan dalam Qur’an tak mempercayai peristiwa yang bertentangan dengan kodrat alam seperti tersebut di atas. Qur’an hanya menceritakan adanya beberapa pemuda yang mengungsi ke Gua yang gelap, karena dikejar-kejar karena alasan keagamaan. Tetapi Qur’an tak menerangkan kapan dan di mana peristiwa itu terjadi. Hanya itu sajalah yang diuraikan dalam ruku’ ini, yang tampaknya dilanjutkan dalam ruku’ ketiga; sedang menurut pendapat yang lain, ruku’ ketiga adalah uraian yang bersifat ramalan tentang pertumbuhan agama Kristen kelak di kemudian hari. Jika kita mengambil pendapat yang pertama, maka apa yang diuraikan dalam ruku’ ketiga ialah, setelah para pemuda itu beristirahat pada sebagian hari, mereka bersiap-siap untuk mencari makanan di luar; keadaan mereka tetap begitu sampai beberapa tahun lamanya (ayat 11), tetapi akhirnya mereka diketahui oleh umum, lalu pada mulut gua didirikan satu bangunan yang menyebabkan kematian mereka. Qur’an menyebutkan perkiraan jumlah mereka dan jumlah tahun lamanya mereka tinggal di Gua; tetapi di luar itu, Qur’an tak menyebutkan apa-apa lagi selain ada beberapa pemuda yang tinggal di Gua untuk beberapa tahun lamanya.
    Pendapat lain lagi yang amat masuk akal ialah, para pemuda yang diisyaratkan di sini adalah Yusuf Arimathea dan beberapa orang Kristen pada zaman permulaan, yang mengungsi ke Glastonbury di Inggris, yang karena tempat itu terletak di sebelah utara, maka posisi tempat itu amat sesuai dengan gambaran Gua yang diuraikan dalam Qur’an. Menurut William Malmesbury, “Yusuf Arimathea diutus oleh Santo Philip untuk pergi ke Inggris, dan setelah ia diberi pulau kecil di Somersetshire, ia mendirikan Gereja yang pertama di Inggris dengan menggunakan ranting-ranting yang dianyam. Belakangan, Gereja itu menjadi Biara Glastonbury. Diriwayatkan bahwa tongkat Yusuf Arimathea yang ditancapkan di tanah, tumbuh menjadi pohon berduri yang berbunga dua kali setahun” (Enc. Br. Art. “Yusuf Arimathea”). Dalam Enc. Br. Edisi kesepuluh diterangkan bahwa Yusuf Arimathea mengembara ke Inggris pada tahun 63. Pohon berduri di Glastonbury, diuraikan sebagai berikut: “Menurut cerita yang selalu dipelihara oleh para Rahib, Gereja pertama di Glastonbury adalah bangunan kecil yang dibuat dari anyaman yang didirikan oleh Yusuf Arimathea sebagai pemimpin dari dua belas rasul yang diutus oleh Santo Philip dari Gaul ke Inggris”. Selanjutnya, cerita tentang “Mangkok Suci” juga sering dikaitkan dengan Yusuf Arima­thea dan negara Inggris. Menurut cerita itu, Mangkok Suci yang dipakai oleh Yesus dalam jamuan makan yang terakhir, ini diserahkan kepada Yusuf Arimathea untuk dirawat; sedang menurut cerita lain, “Mangkok Suci itu konon mengikuti Yusuf Arimathea ke Inggris.” (Enc. Br. artikel “Grail”).
    Semua itu hanyalah cerita, tetapi bukan berarti tak ada benarnya sama sekali. Kaitan nama Yusuf Arimathea dengan negara Inggris adalah kenyataan pokok yang kuat yang menjadi dasarnya cerita itu. Apa yang membuat cerita itu lebih berarti ialah adanya kenyataan bahwa Yusuf Arimathea yang dalam cerita Injil babak terakhir nampak sebagai orang yang penting, bahkan salah satu kitab Injil menganggap beliau sebagai sahabat Nabi ‘Isa, tetapi tiba-tiba beliau lenyap sama sekali dari sejarah agama Kristen seperti lenyapnya sejarah para sahabat Nabi ‘Isa yang lain dalam tugas dakwah mereka. Bukankah ini menunjukkan bahwa beliau telah mengubah arena kegiatan beliau? Lalu apakah tak mungkin Yusuf Arimathea dan kawan-kawan beliau itulah yang diisyaratkan dalam cerita para penghuni Gua dan tulisan yang diuraikan dalam Surat ini? Jika demikian halnya maka dapat dikatakan dengan pasti bahwa Bangsa Inggris adalah Gua yang diisyaratkan dalam Qur’an, demikian pula gambaran Gua yang diuraikan dalam ayat 17 adalah selaras dengan keadaan itu. Lihatlah tafsir nomor 1484. Tetapi seandainya tidak demikian, cerita Yusuf Arimathea bukanlah tanpa arti yang dalam. Bukan hanya seorang, melainkan banyak orang yang menerangkan bahwa cerita tentang Yusuf Arimathea mengisyaratkan sejarah agama Kristen.
    1483a Ini menunjukkan bahwa para pemeluk agama Kristen pada zaman permulaan adalah orang-orang yang percaya kepada Ketuhanan Yang Maha-esa. []
  7. Ayat ini tak menerangkan adanya perubahan yang aneh dalam jalannya matahari; ayat ini tak membicarakan sama sekali adanya perubahan. Ayat ini hanya menggambarkan posisi gua, yang letaknya begitu rupa hingga tak dimasuki sinar matahari. Ini biasa terjadi apabila mulut gua itu menghadap ke utara, sedang letak gua itu di belahan bumi sebelah utara dan di sebelah utara garis balik matahari pada bintang Mangkara (trofic of Cancer). Sebenarnya gambaran gua ini terdapat di negara mana saja yang letaknya di belahan bumi sebelah utara. Dalam hal ini seluruh Eropa memenuhi gambaran ini. Adalah suatu kenyataan bahwa mula pertama agama Kristen itu tersiar di Eropa. []
  8. Apa yang diuraikan dalam ruku’ ini terang sekali berkenaan dengan riwayat tujuh orang tidur, demikian pula berkenaan dengan sejarah agama Kristen di kemudian hari. Jika kami mengambil pendapat yang pertama, maka yang dimaksud ialah beberapa pemuda yang karena takut dianiaya, mereka terpaksa lari dan mengungsi ke Gua, tidur di sana untuk beberapa waktu lamanya, dan anjing mereka ada di mulut gua. Seluruh pemandangan itu nampak seram dan menakutkan; sebab gua yang gelap, jauh di tempat terpencil yang tak ada penduduknya, di dalamnya terdapat beberapa orang yang sedang tidur, dan seekor anjing ada di mulut gua, ini pasti menimbulkan rasa takut bagi setiap orang yang kebetulan melihat itu. Tetapi jika kami mengambil pendapat yang kedua, yaitu diterapkannya uraian itu terhadap sejarah agama Kristen, ini juga benar. Dalam hal ini hendaklah diingat, bahwa kata ruqûd selain berarti tidur, berarti pula tak bergerak atau diam. Menurut T dan LL, kata raqada artinya qa’ada, ta’akhkhara, maknanya menjauhkan diri dari suatu perkara (T, LL). Raqadatis-suqu sama dengan kasadat, artinya pasar menjadi berhenti atau lesu dalam perdagangan (LL); dan ruqûd adalah bentuk infinitif dari raqada. Demikian pula kata aiqâzh jamaknya kata yaqîzh, artinya berjaga, waspada, dalam keadaan hati-hati, atau orang yang pikirannya bangun (LL). Tayaqqazha lil-amri artinya tanabahu, maknanya perhatian terangsang pada suatu perkara (T). Membalik-balik ke kanan dan ke kiri, artinya gelisah pada waktu tidur, ini dapat digunakan untuk menyatakan perbuatan orang atau suatu bangsa. Jadi yang dimaksud di sini boleh jadi gelisahnya umat Kristen untuk beberapa tahun lamanya dan hilir mudik mereka ke kanan dan ke kiri, menyebar ke segala jurusan. Hendaklah diingat bahwa Bangsa Eropa pada umumnya menyukai anjing. []
  9. Boleh jadi tanya jawab di sini berhubungan dengan berapa lama para pemuda itu tidur, atau berapa abad Bangsa-bangsa Kristen tidak aktif atau mengalami kelambatan. Hari yang lamanya seribu tahun, disebutkan beberapa kali dalam Qur’an. (Lihatlah 22:47; dan sebagainya). Oleh sebab itu, perkataan satu hari dalam sejarah suatu bangsa, dapat berarti seribu tahun. []
  10. Setelah badan terasa segar kembali karena sudah tidur, yang mungkin disebabkan perjalanan yang melelahkan, mereka mulai berpikir bagaimana caranya mendapat makanan dalam gua yang terpencil, dan mereka menyuruh salah seorang di antara mereka pergi ke kota, dengan pesan agar ia berlaku sopan, dan jangan sekali-kali memberitahukan tempat persembunyian mereka kepada siapa pun. Sehubungan dengan sejarah agama Kristen, ayat ini dapat dikatakan sedang membicarakan kegiatan umat Kristen di lapangan perdagangan. []
  11. Artinya, mereka tetap tak akan diketahui orang sekiranya mereka tak mempunyai kepentingan untuk mencukupi keperluan hidup yang harus mereka peroleh dari kota. Justru kepergian mereka untuk membeli makanan itulah yang menyebabkan mereka diketahui oleh dunia luar. Di sini tak diterangkan berapa lama mereka dalam keadaan demikian, boleh jadi beberapa hari atau beberapa bulan atau beberapa tahun, tetapi kepergian mereka tiap-tiap hari itulah yang akhirnya menyebabkan tempat persembunyian mereka diketahui orang. Jika ayat ini kami bandingkan dengan ayat 11, maka dapat kami katakan bahwa mereka sudah beberapa tahun lamanya dalam keadaan demikian. []
  12. Akibat diketahuinya tempat persembunyian mereka, ini digambarkan dengan kata-kata yang menunjukkan bahwa mereka dihukum mati, karena janji Allah tentang keadaan hidup di Akhirat itu baru disadari sepenuhnya setelah orang meninggal dunia. []
  13. Kata-kata ini menerangkan bagaimana hukuman mati itu dilaksanakan, yaitu dengan menutup mulut gua. Inilah yang dimaksudkan mendirikan sebuah bangunan di atas mereka. Tetapi kalimat itu dapat berarti pula didirikannya sebuah monumen. []
  14. Masjid adalah bangunan yang khusus digunakan oleh kaum Muslimin untuk menjalankan ibadah, tetapi kata masjid dapat pula berarti setiap rumah ibadah. Orang-orang yang disebutkan di sini ialah orang yang menang dalam perkara mereka. Ini adalah kejadian di kemudian hari, tatkala agama Kristen menjadi satu-satunya agama yang berkuasa di seluruh Kerajaan Romawi, dan rupa-rupanya ini mengisyaratkan penyembahan orang suci yang merajalela di kalangan umat Kristen. []
  15. Ayat ini dan ayat 25, karena dicantumkan setelah selesainya riwayat para penghuni Gua, menunjukkan bahwa semua itu hanyalah dugaan orang tentang mereka. Berapa jumlah mereka dan berapa tahun mereka tinggal di Gua hanyalah perkara yang hanya diketahui oleh Allah sendiri. Akan tetapi I‘Ab berpendapat, bahwa kata-kata yang mencela dugaan yang pertama, menunjukkan bahwa bilangan yang disebutkan paling akhir, yaitu tujuh, adalah paling betul. Siapakah mereka yang dituju oleh akhir ayat yang berbunyi: salah seorang di antara mereka? Menurut IJ yang dituju di sini ialah kaum Ahli Kitab, atau umat Kristen, walaupun mereka sebelumnya tak disebutkan sama sekali. Dari ayat ini teranglah bahwa yang dibahas dalam riwayat para penghuni Gua itu sebenarnya sejarah agama Kristen. Ayat 25 yang membicarakan sekali lagi para penghuni Gua yang diuraikan di sini, membuat persoalan lebih jelas lagi, yaitu yang dituju oleh riwayat ini ialah sejarah agama Kristen. []
  16. Walaupun kata-katanya bersifat umum, tetapi ayat ini rupa-rupanya mengandung ramalan khusus tentang Hijrah Nabi Suci dan sembunyi beliau di Gua Tsur. Beliau berserah diri sepenuhnya kepada Allah Yang telah melaksanakan apa yang Ia anggap paling baik untuk beliau. []
  17. Artinya ialah, kesukaran yang telah dialami oleh para penghuni Gua, ini tak akan dialami oleh Nabi Suci. Beliau hanya mengalami tiga hari di dalam Gua, dan sekalipun musuh-musuh beliau berusaha keras untuk menemukan tempat persembunyian beliau, yang jaraknya hanya tiga mil saja dari kota Makkah, tetapi mereka tak dapat menemukannya, walaupun makanan dikirim ke tempat itu untuk beliau. Atau, boleh jadi, kata-kata jalan yang lebih dekat mengisyaratkan kemenangan Islam dalam waktu dekat berupa tersiarnya Islam ke seluruh jazirah Arab dalam waktu dua puluh tiga tahun, kemudian tersiar dari Spanyol di sebelah Barat sampai ke Cina di sebelah Timur dalam jangka waktu satu abad, sedangkan agama Kristen tetap dalam keadaan terbelenggu selama tiga ratus tahun di tempat kelahirannya, sebagaimana diuraikan dalam ayat berikutnya. []
  18. Para mufassir menganggap ayat ini sebagai sambungan dari ayat 22, termasuk pula pencantuman kata-kata sebagian orang berkata. Tetapi sebagaimana diterangkan dalam tafsir nomor 1492, sejarah agama Kristen yang mengalir seperti aliran riwayat para penghuni Gua, dinyatakan lebih terang lagi di sini. Tak ada tradisi yang menerangkan bahwa para penghuni Gua tinggal di Gua itu selama tiga ratus tahun, tetapi agama Kristen tinggal di Gua selama tiga ratus tahun penuh. Adalah satu kenyataan, bahwa agama Kristen baru mencapai kejayaannya pada waktu Raja Constantine memeluk agama itu, tetapi pada waktu itu agama Kristen kehilangan kemurniannya dengan dirumuskannya doktrin Trinitas, yang ini diumumkan pada tahun 325 M. Selain itu, hampir semuanya sepakat bahwa Yesus Kristus dilahirkan lima atau enam tahun sebelum hari lahir beliau yang dianggap benar. Dalam buku The Rise of Christianity, Uskup Barnes berkata, bahwa Yesus Kristus mungkin lahir enam atau lima tahun sebelum tahun Masehi. Maka dari itu, jika beliau mulai bekerja sebagai pesuruh Tuhan pada usia tiga puluh tahun, agama Kristen boleh dikata lahir pada tahun 25 M. Dengan demikian, tepat sekali bahwa setelah tiga ratus tahun, agama Kristen kehilangan kemurniannya dengan diundangkannya doktrin Trinitas, dengan sekaligus muncul sebagai Agama Negara. Jadi, agama Kristen ada dalam Gua selama tiga ratus tahun.
    Tetapi apakah yang dimaksud dengan tambahan sembilan tahun? Untuk menyesuaikan tahun matahari dengan tahun bulan, maka setiap seratus tahun harus ditambah tiga tahun; dengan demikian, waktu tiga ratus tahun itu harus ditambah sembilan tahun. Atas dasar perhitungan inilah jangka waktu sembilan tahun dikatakan ditambahkan dalam ayat ini. []
  19. Kalimat abshir bihî wa asmi’ artinya mâ abshara wa asma’a maknanya, alangkah terang penglihatan-Nya dan pendengaran-Nya! Adapun yang dituju ialah ramalan tentang kemenangan akhir Nabi Suci dan agama Islam. []
  20. Yang dimaksud kalimât atau firman di sini ialah ramalan, karena ayat ini meramalkan hijrah Nabi Suci dan kemenangan beliau terhadap musuh-musuh beliau. Dikatakan dalam ayat ini bahwa ramalan itu tak dapat diubah oleh manusia, dan ramalan itu pasti terjadi betapapun besarnya perlawanan musuh. []
  21. Di dunia, mereka tak mau minum air rohani, maka di Akhirat, mereka tak mendapat air untuk menghilangkan dahaga. []
  22. Selama di dunia manusia sangat mendambakan barang-barang semacam itu, tetapi perhiasan duniawi dan pakaian yang bagus-bagus itu fana (sementara). Hanya orang-orang tulus yang selama di dunia mendambakan dan berjuang untuk memperoleh perhiasan rohani dan kebagusan akhlak sajalah yang akan memperoleh barang-barang itu di Akhirat. Akan tetapi hendaklah diingat, bahwa dalam arti terbatas, ramalan ini akan terpenuhi pula di dunia ini. Bangsa Arab, yang kekayaan mereka hanya terdiri dari unta dan kuda, dan pakaian mereka hanya terbuat dari kulit binatang atau tenunan kasar, mendapat tumpukan barang-barang yang amat berharga dari Kerajaan Romawi dan Persi, gelang emas dan kain sutera yang disulam dengan benang emas yang tak pernah mereka lihat sebelumnya, kini bertimbun-timbun diserahkan kepada mereka, demikian pula taman-taman yang indah di Mesopotamia dan Persia diberikan kepada mereka sebagai warisan abadi. []
  23. Perumpamaan — yang di sini terang-terangan disebut perumpamaan, dan sekali-kali bukan riwayat — ini tak sangsi lagi dikemukakan di sini untuk menggambarkan keadaan umat Kristen dan umat Islam. Umat Kristen memperoleh kekayaan yang berlimpah-limpah di dunia, yang dalam ayat ini dimisalkan kebun, sedangkan kaum Muslimin, walaupun miskin dalam hal keduniawian, tetapi kaya dalam hal kenikmatan rohani dari Allah. Umat Kristen menolak risalah Kebenaran yang dibawa oleh umat Islam, dan kesombongan mereka sama seperti orang kaya yang disebutkan dalam perumpamaan itu: Aku mempunyai kekayaan lebih banyak daripada engkau, dan lebih kuat pengikut(ku). []
  24. Yang dimaksud sâ’ah di sini ialah jatuhnya siksaan yang akan menimpa setiap orang yang menolak Kebenaran. []
  25. Ayat ini memberi gambaran yang sebenarnya tentang kerusakan yang telah terjadi di dunia yang kita saksikan dengan mata kepala sendiri. []
  26. Bumi menjadi lapangan yang rata menunjukkan hilangnya segala rintangan besar yang menghalang-halangi gerak laju Kebenaran, dan inilah arti gunung-gunung dijalankan. Lihatlah tafsir nomor 1604. []
  27. Kitab yang lengkap sama dengan kitab yang diuraikan dalam 17:13-14: “Dan tiap-tiap orang Kami lekatkan perbuatannya pada lehernya, dan pada hari Kiamat akan Kami keluarkan kepadanya berupa kitab yang ia dapati terbuka lebar. Bacalah kitab engkau! Pada hari ini cukuplah engkau sendiri sebagai juru hitung terhadap engkau”. Tak ada perbuatan yang tak meninggalkan bekas, baik itu perbuatan baik maupun perbuatan buruk, walaupun perbuatan itu kecil sekali. []
  28. Iblis ialah golongan jin atau roh jahat, maka dari itu keliru sekali menganggap mereka sebagai Malaikat atau roh baik. Roh jahat selamanya memberontak, dan terhadap roh jahat itulah manusia selalu diperingatkan, sehingga ia akan melawan setiap keinginan jahat. []
  29. Kata baina mempunyai tiga makna, yakni: perpecahan, persatuan dan di antara (LL). Adapun makna maubiqan artinya keruntuhan, perpisahan atau permusuhan yang tak dapat dihindarkan (T). []
  30. Selubung akan ditempatkan di hatinya jika orang begitu lalim hingga ia berpaling dari Kebenaran dan ia begitu kejam hingga tak peduli akan kejahatan yang ia lakukan. []
  31. Menurut Kf, yang dituju oleh waktu yang ditentukan di sini ialah perang Badar. Tetapi Kebenaran itu satu dan sama di segala zaman, dan kita melihat tanda-tanda siksaan zaman akhir mulai nampak seterang-terangnya karena orang memusuhi Islam. []
  32. Kata ganti hum ditujukan kepada musuh-musuh Kebenaran, baik pada zaman permulaan maupun pada zaman akhir. []
  33. Menurut sebagian Hadits, nama pelayan Nabi Musa ialah Yusya bin Nun, yang kelak kemudian akan muncul sebagai orang yang menonjol dalam sejarah kaum Bani Israil. Boleh jadi peristiwa yang dikisahkan dalam ruku’ kesembilan ini menceritakan pengalaman Nabi Musa yang sesungguhnya, atau boleh jadi mengisahkan perjalanan Mi’raj Nabi Musa, seperti halnya Mi’rajnya Nabi Muhammad yang diuraikan dalam Surat sebelum ini. Apa yang diuraikan dalam ruku’ berikutnya membuat pendapat yang tersebut belakangan menjadi sangat mungkin. []
  34. Kalimat majma’al-bahraîn pada umumnya disalahtafsirkan. Hendaklah diingat bahwa Nabi Musa tinggal di Mesir empat puluh tahun lamanya, dan tempat bertemunya dua sungai itu tiada lain hanyalah bertemunya dua cabang sungai Nil di Khartoum. Bahwa perjalanan Nabi Musa ini tak ditulis oleh Bibel, bahkan tak ditulis pula dalam literatur Yahudi, ini bukanlah alasan untuk tak membenarkan peristiwa itu. Literatur Yahudi menceritakan hal ihwal Nabi Musa, yang ini memberi alasan kuat untuk mempercayai bahwa perjalanan semacam itu mungkin sekali dilakukan oleh beliau. Di sebelah selatan Mesir terletak Kerajaan Ethiopia, pada tapal batas sebelah selatan terletak Khartoum, yaitu tempat bertemunya dua sungai Nil (Nil Putih dan Nil Biru), dan banyak sekali riwayat dalam literatur Yahudi maupun literatur Yunani yang menerangkan, bahwa Nabi Musa pernah pergi ke Ethiopia (lihatlah Jewish Encyclopaedia). Menurut salah satu riwayat tersebut, Nabi Musa pernah menjadi Raja Ethiopia karena besarnya jasa beliau dalam mengalahkan musuh, dan beliau menikah dengan janda Raja Ethiopia. Sebegitu jauh riwayat itu dikuatkan oleh pernyataan kitab Bibel, bahwa “Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan wanita Kusy (Etiopia) yang dinikahinya” (Kitab Bilangan 12:1). Oleh sebab itu, perjalanan Nabi Musa ke Karthoum yang terletak di tapal batas sebelah selatan kerajaan Ethipoia untuk mencari ilmu, adalah mungkin sekali. Orang yang dicari oleh Nabi Musa ialah Khidhir (B. 3:44). Tetapi menurut sebagian mufassir, kata-kata majma’ul-bahrain tidak diambil makna aslinya, melainkan diambil arti kiasan, yaitu bertemunya dua lautan, lautan ilmu kemanusiaan dan lautan ilmu Ketuhanan. Akan tetapi menurut pendapat kami, jika perjalanan itu kami anggap sebagai Mi’raj Nabi Musa, maka ini menunjukkan terbatasnya syari’at Musa. Perjalanan Nabi Musa yang bertahun-tahun lamanya sampai ia menjumpai majma’ul-bahrain, ini berarti syari’at Musa akan berakhir setelah beberapa waktu lamanya dan diganti oleh syari’at baru yang dipimpin oleh Nabi yang di sini digambarkan sebagai majma’ul-bahrain, artinya, bergabungnya lautan ilmu kemanusiaan dengan lautan ilmu Ketuhanan, atau, seorang Nabi yang, baik di lapangan duniawi maupun di lapangan rohani, telah mencapai perwujudan yang paling tinggi. Nabi yang dimaksud ialah Nabi Muhammad saw. []
  35. Huqub artinya waktu yang lama, atau satu tahun atau tujuh puluh tahun, atau delapan puluh tahun (LL). []
  36. Menurut Hadits, hilangnya ikan merupakan pertanda Nabi Musa telah mencapai tempat yang dituju (B. 3:44). Baik Qur’an maupun Hadits tak ada yang menerangkan bahwa ikan yang dibawa Nabi Musa sudah dipanggang. []
  37. Berlindung di atas batu, menunjukkan bahwa mereka berada di tempat yang digenangi oleh air sungai; dan tatkala pelayan Nabi Musa bergegas mencari perlindungan, ia lupa tak membawa ikannya. Yang diherankan bukanlah karena ikan itu masuk kesungai, melainkan karena ia lupa tak melaporkan kehilangan itu kepada Nabi Musa. []
  38. Tiga macam peristiwa tersebut di atas, menerangkan terbabarnya kebijaksanaan Tuhan yang terjadi dalam kehidupan manusia sehari-hari. Undang-undang Tuhan seperti nampak dalam alam semesta itu sebenarnya bekerja menuju ke arah kebaikan, walaupun menurut penglihatan lahir kadang-kadang nampak merugikan sebagian orang. Tangan Allah Yang Maha-pemurah, yang bekerja di alam semesta selalu memimpin manusia menuju kepada kebaikan yang sempurna, walaupun tercapainya tujuan itu melalui sesuatu yang tampaknya merugikan. Kadang-kadang kerugian itu hanya dalam bentuk lahir, seperti yang terjadi dalam peristiwa melubangi perahu, ini bukanlah kerugian yang sungguh-sungguh, tetapi apa yang nampak merugikan itu mengandung tujuan yang besar dan membawa keuntungan bagi pemiliknya. Contoh yang kedua benar-benar membawa kerugian bagi seseorang, tetapi ini dimaksud untuk kebaikan manusia seumumnya, karena hidup itu harus dikorbankan guna kebaikan umat manusia. Contoh yang ketiga menerangkan, bahwa untuk kebaikan apa saja yang dilakukan oleh suatu generasi pasti akan menguntungkan generasi berikutnya.
    Memang Nabi Musa sendiri akan mengalami apa yang dialami oleh guru beliau, dan peristiwa tersebut agaknya hanya satu gambaran yang bersifat ramalan tentang perjalanan Nabi Musa sendiri. Sebagaimana melubangi kapal hanya akan menyebabkan kekhawatiran bagi keselamatan para penumpangnya, demikian pula Nabi Musa akan memimpin kaumnya menuju suatu tempat yang dikiranya akan menenggelamkan mereka, tetapi keselamatan mereka melintasi lautan itu menunjukkan, bahwa semua itu hanyalah untuk kebaikan mereka semata. Lalu Nabi Musa harus menyuruh kaumnya supaya bertempur melawan kaum yang lalim dan supaya membunuh mereka, tetapi beliau bukanlah menumpahkan darah tanpa tujuan, karena pertempuran itu benar-benar suatu langkah menuju evolusi bangsa yang lebih baik lagi. Agaknya Nabi Musa harus mengabdikan hidupnya guna kepentingan Bangsa Israil, keturunan orang soleh (Nabi Ibrahim), selaras dengan pengabdian guru beliau dalam menegakkan tembok guna kepentingan anak yatim, tanpa menuntut imbalan. Jika ayat ini ditafsirkan demikian, maka terang sekali bahwa riwayat itu adalah Mi’rajnya Nabi Musa, yang meramalkan peristiwa-peristiwa besar yang akan dialami oleh beliau. []
  39. Terang sekali bahwa anak itu sudah sepantasnya mati. Kebengalan anak itu sudah mencapai puncaknya — rupa-rupanya keadaan ini telah diketahui oleh Khidhir, walaupun tak diketahui oleh Nabi Musa — tatkala dikhawatirkan bahwa orang tuanya yang tak bersalah akan terlibat dalam kesukaran yang dialami oleh anak itu sebagai akibat dari kejahatannya. Hendaklah dicatat, bahwa perkataan yang digunakan untuk menunjukkan kejahatan itu ialah thughyân yang artinya melampuai batas dalam kejahatan. []
  40. Kata qarn artinya tanduk dan berarti pula generasi atau abad; oleh sebab itu, Dzul-Qarnaîn makna aslinya orang yang mempunyai dua tanduk atau orang kepunyaan dua generasi atau dua abad. Rupa-rupanya yang dituju di sini ialah domba jantan yang bertanduk dan yang diimpikan oleh Nabi Daniel (Kitab Nabi Daniel 8:3), yang oleh beliau ditafsirkan Kerajaan Media dan Persi yang digabung menjadi satu di bawah seorang raja yang bernama Cyrus, yang dalam kitab Bibel keliru disebut Darius (Enc. Bib. dan Jewish Enc. Artikel Darius). Akan tetapi yang dituju oleh impian Nabi Daniel bukanlah Cyrus, melainkan Darius I Hystaspes (521-485 SM) yang memberi izin kepada kaum Yahudi untuk membangun kembali Kanisah mereka, dan ini disebutkan dalam Ezra 4:5, 24; 5:5; 6:1, Kitab Nabi Hajai 1:1; 2:10, Kitab Zakaria 1:7, dan mungkin pula dalam Kitab Nehemia 12:22. Kemurahan hati Raja Darius terhadap kaum Yahudi, cocok sekali dengan apa yang kami ketahui tentang kebijaksanaan umum dia terhadap bangsa-bangsa jajahan dalam perkara agama” (Enc. Bib. “Darius”).
    Yang dimaksud “domba jantan bertanduk dua” dalam impian Nabi Daniel ialah Raja Media dan Persia, ini diterangkan dalam Kitab Daniel yang menerangkan impian itu: “Domba jantan yang kau lihat itu, dengan kedua tanduknya, ialah Raja-raja Media dan Persia” (Kitab Daniel 8:20). Adapun yang dituju oleh sejarah Dzul-Qarnain dalam Qur’an ialah Raja Darius I. “Darius adalah yang mengatur kerajaan Persi. Penaklukkan yang beliau lakukan itu dimaksud untuk membulatkan tapal batas kerajaan beliau di Armenia, Kaukasus, India dan di sepanjang dataran Turania dan pegunungan Asia Tengah” (Jewish Enc. “Darius”). Keterangan Enc. Bri. berikut ini memperkuat pendapat tersebut: “Dalam satu prasasti, terang sekali bahwa Darius adalah pemeluk agama Zaratustra yang amat setia, tetapi beliau juga seorang ahli tata negara dan tata-laksana yang ulung. Saat penaklukan telah selesai, seperti halnya Raja Agustus, pertempuran yang dilakukan oleh Raja Darius itu hanya dimaksud untuk memperoleh tapal-batas alamiah yang kuat guna kepentingan kerajaannya, dan untuk menumpas suku bangsa biadab di pegunungan Pontic dan Armenia, dan meluaskan Kerajaan Persi sampai Kaukasus. Untuk tujuan yang sama, Raja Darius bertempur melawan suku Bangsa Sasae dan Turani lainnya”. Kutipan tersebut menerangkan, bahwa Raja Darius adalah pengikut agama Zaratustra yang setia, dan menumpas suku bangsa biadab di daerah perbatasan, dan memperoleh tapal batas alamiah yang kuat bagi kerajaannya, dan bertempur melawan suku Bangsa Sasae; ini semua menunjukkan seterang-terangnya bahwa Raja Darius I adalah Raja Dzul-Qarnain yang disebutkan dalam Qur’an. []
  41. Yang dimaksud maghribasy-syamsi yang artinya tempat terbenamnya matahari, ialah batas kerajaan yang paling barat, karena berjalan ke barat, beliau tak dapat melampaui itu lagi. []
  42. Kalimat Arab ‘ainin hami’atin makna aslinya laut hitam; kata ‘ainin artinya air yang melimpah-limpah atau tempat bersumbernya atau berkumpulnya air; kata hami’atin atinya lumpur hitam (T, LL). Tiada lain yang dituju ialah Laut Hitam; oleh karena Armenia termasuk dalam Kerajaan Persi, maka Laut Hitam merupakan tapal-batas kerajaan tersebut di sebelah barat. []
  43. Oleh karena Raja Darius pengikut agama Zaratustra yang setia, yaitu seorang Nabi Bangsa Persi yang terkenal, maka sudah sepantasnya beliau mengajak suku bangsa ini untuk memeluk agama beliau. []
  44. Rupa-rupanya tiga perjalanan yang diisyaratkan di sini, dilakukan dengan maksud untuk memperkuat tapal batas kerajaan Persi, yang paling penting di antara perjalanan itu, ialah disebutkan dalam ayat 93 yang menguraikan bagian tapal-batas antara Laut Kaspi dan Laut Hitam, dimana daerah Kaukasus merupakan perisai alamiah untuk melindungi kerajan Persi dari serbuan Bangsa Skitia. Mula-mula Raja Darius pergi ke Barat menuju Laut Hitam (85:56), lalu beliau meneruskan perjalanan ke timur, daerah tempat terbitnya matahari. Rakyat yang beliau jumpai di sana, digambarkan sebagai rakyat yang tak mempunyai perlindungan dari matahari; ini adalah gambaran suku bangsa asli di pantai Laut Kaspi yang masih biadab. Di bawah artikel Media, Enc. Br. menerangkan: “Nama-nama yang ditulis dalam prasasti bangsa Assiria membuktikan bahwa suku bangsa di daerah Zagros dan Media di sebelah utara, bukanlah Bangsa Iran dan bukan pula Bangsa Indo Eropa, melainkan penduduk asli, seperti halnya penduduk Armenia kuno; barangkali masih ada hubungannya dengan berbagai suku bangsa di daerah pegunungan Kaukasus. Kami melihat bahwa lama-kelamaan unsur Iranlah yang lebih menang; tak jarang bangsawan dengan nama Iran disebut-sebut sebagai raja suku bangsa itu. Tetapi suku bangsa Galae, Tapuri, Kadusii, Armadi, Utii, dll. suku bangsa yang mendiami pantai Laut Kaspi dan sebelah utara Media, bukanlah bangsa Iran”. []
  45. Yang dimaksud dua bukit ialah bukit Armenia dan Azarbaijan. Orang-orang yang berdiam di sini mempunyai bahasa sendiri, dan tak mengerti bahasa Iran. []
  46. Ayat ini memberi penjelasan kepada kita tentang pokok persoalan yang amat penting, yaitu siapakah Ya’juj dan Ma’juj itu. Ungkapan Bibel tentang Ya’juj dan Ma’juj agak membingungkan. Dalam kitab Kejadian 10:2 dan kitab Tawarikh 11:5, Ma’juj disebutkan sebagai anak kedua dari Yafet, antara Gomer dan Madai. Gomer menggambarkan daerah Cimmerian dan Madai menggambarkan daerah Medes. Jadi Ma’juj adalah suku bangsa yang mendiami sebelah timur Cimmerian dan sebelah barat Medes. Tetapi dalam deretan bangsa-bangsa yang disebutkan dalam Kitab Kejadian 10, nama itu agak melingkupi sekelompok suku bangsa biadab yang berdiam di ujung paling utara atau timur-laut tersebut dalam laporan ilmu bumi yang diuraikan dalam Kitab Bibel itu … Dalam kitab Nabi Yehezkiel 38:2, dicantumkan bahwa Ya’juj adalah nama negara. Dalam Yehezkiel 39:6 tercantum nama negara dari suku bangsa Utara yang pemimpinnya disebut Ya’juj” (Jewish Enc. Artikel “Gog and Magog”). “Josephus mempersamakan Ya’juj dan Ma’juj dengan Bangsa Skitia, yang di kalangan para penulis klasik diartikan sejumlah suku bangsa yang ganas. Menurut Jerome, Ma’juj terletak di luar Kaukasus di dekat Laut Kaspi” (Jewish Enc.). En. Br. menganggap bahwa orang yang mempersamakan Ya’juj dan Ma’juj dengan Bangsa Skitia itu “masuk akal”, dan selanjutnya En. Br. menambahkan keterangan: Pada umumnya orang mengikuti pendapat yang masuk akal ini”, dengan syarat bahwa kata Ya’juj dan Ma’juj dapat diterapkan terhadap “suatu atau beberapa suku bangsa dari daerah utara yang baru sebagian dikenal; dan usaha untuk menetapkan letak daerah Ma’juj yang tepat, hanya dapat dilakukan dengan ragu-ragu”.
    Akan tetapi para penulis tersebut kurang memperhatikan kata-kata yang tercantum dalam kitab Nabi Yehezkiel 38:2 yang menyatakan: “Hai anak manusia, tunjukanlah mukamu kepada Gog di tanah Magog, yaitu raja agung di negeri Mesekh dan Tubal”. Tubal dan Mesekh hampir selalu disebutkan bersama-sama, tetapi identifikasinya begitu sukar ditentukan, hingga seorang kritikus Bibel kenamaan menyangka bahwa Mesekh dan Tubal itu nama satu bangsa di Palestina selatan. Tetapi pendapat itu bertentangan dengan pendapat para penulis kuno seperti Josephus, yang menentukan letak Ma’juj di sebelah utara Kaukasus. Memang jika kita pergi ke sebelah utara Kaukasus, kita berjumpa dengan dua sungai yang bernama Tubal dan Moskoa, dimana pada sungai yang tersebut belakangan, terletak kota Moskow kuno, sedang pada sungai Tubal, terletak kota Tobols yang lebih baru. Agaknya hampir dapat dipastikan bahwa dua sungai tersebut memperoleh nama dari suku bangsa yang disebutkan dalam kitab Nabi Yehezkiel 38:2, yaitu suku bangsa Tubal dan Mesekh, lalu dua nama suku bangsa itu diberikan sebagai nama dua kota tersebut di atas; dengan demikian, terpeliharalah nama dua suku bangsa itu. Pendapat ini cocok dengan pendapat Josephus yang mengidentifikasikan Ma’juj sebagai Bangsa Skitia, karena menurut literatur klasik, yang disebut Skitia itu pada umumnya semua daerah yang terletak di sebelah utara atau sebelah timur-laut Laut Hitam, dan yang disebut orang Skitia itu sembarang orang biadab yang berasal dari daerah itu.
    Menilik uraian tersebut, terang sekali bahwa Ya’juj dan Ma’juj ialah nama suku bangsa yang mendiami daerah-daerah di sebelah utara dan timur-laut Laut Hitam, yang, baik secara langsung maupun tidak, telah memberi nama mereka kepada kota Tobolsk dan Moskow.
    Tetapi ada hal lain yang pantas dipertimbangkan, yaitu dua patung raksasa Gog dan Magog di Guidhall, London. Enc. Br. menerangkan: “Sudah terkenal bahwa patung raksasa seperti yang ada di London sekarang ini, sejak zaman Raja Henry V sudah ada”. Suatu penjelasan tentang keadaan yang menarik itu diberikan oleh Geoffrey of Monmouth: “Gaemot atau Gaemagot (kemungkinan salah menulis dari perkataan Gog dan Magog) adalah raksasa yang bersama dengan saudaranya yang bernama Gorineous menjajah dengan sewenang-wenang daerah Inggris sebelah barat, sampai mereka dibunuh oleh para penyerbu asing” (Enc. Br. artikel Gog and Magog). “Sungguh sukar sekali menerangkan sesuatu yang mendekati kenyataan tentang berbagai hubungan antara suku bangsa kuno, tetapi dengan diabadikannya dua patung Gog and Magog di Inggris, yang dapat ditelusur sampai periode yang paling kuno dalam sejarah Bangsa Inggris, terdapatlah suatu kemungkinan bahwa Bangsa Anglo Saxon pada zaman dahulu mempunyai hubungan erat dengan Bangsa Skitia, atau suku bangsa lain yang bertinggal di sebelah utara Kaukasus atau Laut Hitam. Menurut sejarah kuno, hubungan berbagai bangsa itu amat ruwet, dan di sini (dalam tafsir ini) bukanlah tempatnya untuk membicarakan hal itu. Tetapi hendaklah diingat bahwa Bangsa Goth, yang dianggap sebagai Bangsa Tuton, yang mendiami daerah paling timur, konon dikatakan pindah ke Skitia (Enc. Br. artikel Goth), dan ini menunjukkan adanya hubungan antara dua bangsa itu. Dan lagi: “Orang-orang Batharnae yang ada pada abad ketiga sebelum Kristus menyerbu dan menduduki daerah yang terletak antara Karpathia dan Laut Hitam, konon menurut para penulis kuno, dikatakan berasal dari Bangsa Tutonia. Bahkan sebagian besar mereka melangsungkan perkawinan antar bangsa dengan penduduk asli di sana” (Enc. Br. artikel “Bangsa-bangsa Tutonia”).
    Jadi teranglah bahwa nenek moyang Bangsa Tutonia dan Slavia sekarang ini adalah Ya’juj dan Ma’juj yang diuraikan dalam Qur’an. Patung Gog and Magog di London dan nama Tubal maupun Moskow yang tercantum dalam Bibel, menunjukkan seterang-terangnya adanya fakta itu.
    Selanjutnya, sampailah kita pada pernyataan Qur’an, bahwa suku bangsa yang dijumpai oleh Darius di antara bukit Azerbaijan dan Armenia, senantiasa dikacaukan oleh tetangga mereka yang tinggal di daerah sebelah utara, yaitu Bangsa Skitia. Sejarah membuktikan benarnya pernyataan Qur’an. Bangsa Skitia, atau menurut sebagian penulis disebut Bangsa Sacae, selalu mengacau Bangsa-bangsa Asia. Menurut Herodotus, Bangsa Skitia memerintah Bangsa Media selama dua puluh delapan tahun (Enc. Br. artikel “Scythia”): “Pada tahun 512, Darius memaklumkan perang kepada Bangsa Skitia …. Tujuan perang itu hanyalah untuk menyerang suku Bangsa Turania yang hidup mengembara di pedalaman, dengan demikian, terjaminlah ketenteraman daerah perbatasan di sebelah utara” (Enc. Br. artikel “Darius”. Kalimat yang kami tulis miring, menunjukkan bahwa Darius berusaha keras untuk menjamin ketenteraman di daerah perbatasan sebelah utara, dimana pegunungan Kaukasus yang dua sisinya berbatasan dengan Laut Hitam dan Laut Kaspi, merupakan perbentengan alamiah. Dinding tembok yang disebutkan dalam ayat ini, dan dilukiskan dalam ayat berikutnya, ialah tembok yang termasyhur di Derbent (bahasa Arabnya Darban). Riwayat tentang tembok itu dibuat oleh ahli sejarah dan ahli ilmu bumi Islam, misalnya Marasil-iththila dan Ibnu Al-Faqih. Tetapi uraian berikut ini yang kami ambil dari Encyclopaedia Britanica lebih meyakinkan lagi: “Derbent atau Darban adalah satu kota di daerah Kaukasus, propinsi Daghestan, di tepi laut Kaspi sebelah barat … Kota itu hanya menempati jalur tanah yang sempit di tepi Laut Kaspi, dan terus menanjak melalui lereng-lereng yang curam menuju daerah pedalaman … Dan di sebelah selatan, terletak tembok Kaukasus yang menjorok ke laut sepanjang 50 mil, yang terkenal dengan nama Tembok Iskandar, yang menutupi celah-celah yang sempit dari Gapura Besi atau Gapura Kaspi (Portae Albanae atau Portae Caspae). Tatkala masih utuh, tembok itu mempunyai ketinggian 29 kaki dan ketebalan 10 kaki; dengan pintu-pintu besi dan berpuluh-puluh menara pengintai, merupakan benteng perbatasan yang kuat bagi Kerajaan Persi.” (Tulisan miring dari kami; lihatlah tafsir nomor berikutnya). Nama Tembok Iskandar adalah keliru, rupanya ini disebabkan kesalahan para ahli sejarah Islam yang mengira Dzul-Qarnain itu Raja Iskandar. []
  47. Balok-balok besi diperlukan guna membuat pintu-pintu benteng; lihatlah uraian tafsir bagian terakhir sebelum ini. []
  48. 1524a Kini pokok pembicaraan dialihkan dari sejarah zaman dahulu kepada sejarah zaman kemudian hari. Ya’juj dan Ma’juj dilukiskan sebagai dua bangsa dan setelah melukiskan sejarah dua bangsa yang pengacauan mereka terhadap bangsa yang suka damai itu ditumpas oleh Raja Darius, kini kita diberitahu bahwa pada zaman akhir, Ya’juj dan Ma’juj akan dilepas. Ini diuraikan seterang-terangnya di Surat lain: “Sampai tatkala Ya’juj dan Ma’juj dilepas, mereka akan mengalir dari tiap-tiap tempat yang tinggi” (21:96). Inilah peristiwa lain tentang Ya’juj dan Ma’juj yang diuraikan dalam Qur’an. Tembok yang untuk sementara waktu dapat menahan Ya’juj dan Ma’juj, ini akan runtuh, dan ini diterangkan oleh Qur’an sendiri, seperti juga terlepasnya Ya’juj dan Ma’juj. Sebagaimana dibangunnya tembok berarti pengurungan Ya’juj dan Ma’juj dalam batas-batas daerah mereka sendiri, maka runtuhnya tembok berarti terlepasnya mereka pada zaman akhir, lalu mereka akan menguasai seluruh dunia. Penguasaan mereka itu diuraikan dalam Hadits dengan berbagai cara. Menurut salah satu Hadits diuraikan: “Tak seorang pun kuasa bertempur melawan mereka” (Ms. 52:20). Menurut Hadits lain: “Mereka akan meminum semua air yang ada di dunia” (KU. Jilid VII, hlm. 2157). Menurut Hadits yang ketiga: “Allah berfirman: Aku akan menciptakan sebagian makhluk-Ku yang tak seorang pun dapat membinasakannya selain Aku sendiri” (KU. hlm. 3021). Sebagaimana telah kami terangkan dalam tafsir nomor 1523, nenek moyang Ya’juj dan Ma’juj adalah suku Bangsa Tutonia dan Slavia, dengan demikian, merajalelanya Ya’juj dan Ma’juj di dunia mengisyaratkan penjajahan yang dilakukan Bangsa-bangsa Eropa di seluruh dunia. Dengan demikian ramalan tentang merajalelanya Ya’juj dan Ma’juj pada zaman akhir, terpenuhi seluruhnya pada zaman kita sekarang ini.
    Ayat ini menguraikan seterang-terangnya terjadinya perang besar antara bangsa-bangsa di dunia, dan tak sangsi lagi bahwa ayat ini mengisyaratkan terjadinya bencana besar semacam yang diramalkan dalam Kitab Bibel: “Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru” (Matius 24:7-8).
    Qur’an menerangkan lebih jelas lagi bahwa yang dimaksud bangsa akan bangkit melawan bangsa lain ialah, perang besar Eropa yang kita saksikan baru-baru ini. Ya’juj dan Ma’juj atau Bangsa-bangsa Eropa, setelah menaklukkan seluruh dunia, mereka bertengkar mengenai pembagian ghanimah. Oleh karena itu, mereka saling membunuh satu sama lain, dan oleh karena seluruh dunia menjadi jajahan mereka, maka pertempuran mereka berbentuk perang dunia. Jika suatu perang dunia berakhir, pasti akan disusul oleh perang dunia lain. Tetapi jika bagian pertama ayat ini menerangkan kerusakan yang disebabkan perang itu, bagian kedua ayat ini menimbulkan harapan besar. Apakah perang dunia yang besar ini akan membawa tamatnya riwayat dunia? Segala usaha manusia untuk memperbaiki keseimbangan dunia menemui kegagalan. Tetapi Qur’an memberitahukan kepada kita, bahwa akan terjadi Revolusi besar di dunia. Inilah yang dimaksud terompet ditiup. Revolusi itu akan mengubah mental bangsa-bangsa. Titik terang di tengah-tengah kegelapan diungkapkan oleh kata-kata mereka Kami himpun semuanya. Revolusi itu akan mempersatukan mereka. Revolusi itu akan menjadi musuh manusia lainnya, selanjutnya kita diberitahu bahwa akan terjadi kebangkitan rohani yang akan mengubah dunia secara keseluruhan. Orang tidak lagi bunuh-membunuh satu sama lain, melainkan akan saling mencintai, dan mereka akan menjadi satu umat. Hari perdamaian hanya akan timbul di dunia bersamaan dengan timbulnya cita-cita dalam jiwa manusia, bahwa di dunia hanya ada satu umat, yaitu umat manusia yang hidup di muka bumi. Qur’an berfirman: “Manusia hanyalah satu umat” (2:213). Sebenarnya, hanya Islam sajalah satu-satunya agama di dunia yang berani mempersatukan berbagai bangsa menjadi satu umat, dan membasmi perbedaan kebangsaan dan warna kulit.
    1525a Ayat ini melengkapi gambaran perang besar yang diuraikan dalam ayat sebelumnya. Sebenarnya, ayat ini menggambarkan dahsyatnya pertempuran, sehingga dunia benar-benar menjadi Neraka. Pada waktu Perang Dunia II, kita melihat api mengamuk di seluruh dunia. Apa yang akan terjadi pada Perang Dunia III, kita tak tahu.
    1525b Ayat ini mengemukakan alasan mengapa manusia ditimpa bencana: “Mereka adalah orang yang matanya tertutup dari peringatan-Ku”. Malahan mereka begitu menjauh dari Allah, hingga mereka tak dapat mendengar Peringatan-Nya. Sungguh luar biasa ketamakan dan keserahan manusia dunia maju! []
  49. Yang dimaksud di sini ialah kaum Kristen, karena mereka contoh yang paling menonjol menjadikan hamba Allah, seorang Nabi, sebagai Tuhan. Sebenarnya, Yesus adalah satu-satunya orang, yang Qur’an mengakui sebagai hamba Allah yang tulus, dan yang dianggap oleh hampir separuh penduduk dunia sebagai Tuhan. []
  50. Ini adalah gambaran yang terang tentang sikap bangsa-bangsa maju sekarang ini terhadap kebutuhan mereka akan urusan moral dan spiritual — mereka adalah orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, dan mereka tak menaruh perhatian sedikit pun kepada kehidupan Akhirat. Gambaran peradaban material yang dibina oleh Bangsa-bangsa Kristen, sebagaimana dilukiskan di dalam ruku’ ini, terlukis dengan terang di dalam ayat ini. Membuat barang-barang adalah keahlian dan kebanggaan bangsa Barat. Tetapi mereka begitu asyik dalam persaingan membuat barang-barang tersebut, hingga mereka tak memikirkan tentang Allah dalam batinnya. Produksi dan produksi yang unggul sajalah yang menjadi satu-satunya tujuan hidup mereka. []
  51. Pekerjaan mereka sia-sia karena apa yang mereka kerjakan hanya berkenaan dengan kehidupan yang sia-sia pula. Mereka tak mempunyai pandangan terhadap nilai yang tinggi yang menjadi tujuan terakhir, yang di sini disebut liqâur-Rabbi atau bertemu dengan Tuhan. Selanjutnya kita diberitahu, bahwa bagi mereka, tak akan dibuat neraca pada hari Kiamat, karena segala perhatian mereka hanya berkenaan dengan kehidupan duniawi, jadi hanya berakhir sampai di kehidupan dunia ini saja. []
  52. Dalam ayat ini terdapat kecaman terhadap doktrin agama Kristen, bahwa “Firman itu bersama-sama dengan Allah”, atau “Firman itulah juga Allah” (Yahya 1:1). Dalam ayat ini kita diberitahu, bahwa firman Allah itu begitu banyak, hingga jika lautan dijadikan tinta untuk menulis firman, lautan akan habis. Sebenarnya, tiap-tiap makhluk itu, menurut Qur’an, adalah Firman Allah dan makhluk Allah itu tak ada habisnya. [] []

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *