Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home / Al-Quran / 006 Al Anam

006 Al Anam

SURAT 6

Al-Anam: Ternak

(Diturunkan di Makkah, 20 ruku’, 165 ayat)

 

Mukaddimah Surah Buka

 

Ruku’ 1: Kemenangan akhir Keesaan Ilahi

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih.

 

1. Segala puji kepunyaan Allah, Yang menciptakan langit dan bumi dan Yang membuat gelap dan terang. Namun orang-orang kafir membuat tandingan terhadap Tuhan mereka.753

 

2. Dia ialah Yang menciptakan kamu dari tanah liat, lalu menentukan batas waktu. Dan ada (pula) batas waktu yang ditetapkan di sisi-Nya; namun kamu tetap ragu-ragu.754

 

3. Dan Dia itu Allah, di langit dan di bumi. Dia tahu (pikiran-pikiran) yang kamu rahasiakan dan (kata-kata) yang kamu lahirkan, dan Dia tahu apa yang kamu usahakan.755

 

4. Dan tiada datang kepada mereka suatu ayat dari ayat-ayat Tuhan mereka, melainkan mereka berpaling dari (ayat) itu.

 

5. Mereka mendustakan kebenaran pada waktu kebenaran itu datang kepada mereka, tetapi segera akan datang kepada mereka berita tentang apa yang mereka tertawakan.

 

6. Apakah mereka tak tahu bahwa banyak sekali generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan, yang Kami tegakkan (kedudukan) mereka di bumi, yang belum Kami tegakkan kepada kamu, dan Kami kirimkan kepada mereka awan yang menurunkan hujan yang melimpah-limpah, dan Kami buat sungai mengalir di bawah mereka. Lalu mereka Kami binasakan karena dosa mereka, dan Kami bangkitkan generasi lain sesudah mereka.

 

7. Dan jika Kami turunkan kepada engkau tulisan di atas kertas, lalu mereka memegang itu dengan tangan mereka, niscaya orang-orang kafir akan berkata: Ini tiada lain hanyalah sihir yang terang.756

 

8. Dan mereka berkata: Mengapa tak diturunkan malaikat kepadanya? Dan jika Kami turunkan malaikat, niscaya perkara akan diputuskan, lalu mereka tak akan ditangguhkan.757

 

9. Dan jika Kami buat (Utusan) seorang malaikat, niscaya ia Kami buat seorang pria, dan mereka pasti akan menjadi bingung seperti apa yang (kini) membingungkan mereka.758

 

10. Dan sesungguhnya para Utusan sebelum engkau telah ditertawakan, tetapi apa yang mereka tertawakan akan melingkupi orang-orang yang menertawakan.759

Ruku’ 2: Besarnya rahmat Tuhan

 

11. Katakan: Berkelilinglah di bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan.

 

12. Katakanlah: Kepunyaan siapakah yang ada di langit dan di bumi? Katakan: Kepunyaan Allah. Ia mewajibkan kasih sayang atas diri-Nya760 Ia pasti akan menghimpun kamu pada hari Kiamat — tak ada ragu-ragu lagi tentang ini. Adapun orang-orang yang merugikan jiwanya, mereka tak akan beriman.

 

13. Dan kepunyaan Dialah apa yang bertinggal pada malam hari dan siang hari. Dan Dia itu Yang Maha-mendengar, Yang Maha-tahu.

 

14. Katakan: Apakah aku akan mengambil kawan selain Allah Yang menciptakan langit dan bumi? Dan Dia itu memberi makan dan tak diberi makan. Katakan: Sesungguhnya aku disuruh agar aku menjadi permulaan orang yang berserah diri. Dan janganlah sekali-kali engkau menjadi golongan orang musyrik.

 

15. Katakan: Sesungguhnya aku takut, jika aku durhaka terhadap Tuhanku, akan siksaan pada hari yang agung.

 

16. Barangsiapa terluput dari siksaan pada hari itu, sesungguhnya Allah telah memberi rahmat kepadanya. Dan ini adalah keberuntungan yang nyata.

 

17. Dan jika Allah menimpakan bencana kepada engkau, maka tak ada yang dapat menyingkirkan itu selain Dia. Dan jika Ia mengaruniakan kebajikan kepada engkau, maka Dia itu Yang berkuasa atas segala sesuatu.761

 

18. Dia ialah Yang Maha-unggul di atas hamba-Nya. Dan Dia itu Yang Maha-bijaksana, Yang Maha-waspada.

 

19. Katakan: Barang apakah yang paling penting dalam penyaksian? Katakan: Allah adalah Yang Maha-saksi antara aku dan kamu. Dan Qur’an telah diwahyukan kepadaku, agar dengan itu aku memberi peringatan kepada kamu dan kepada siapa saja yang kedatangan (Qur’an).762 Apakah kamu benar-benar menyaksikan bahwa ada Tuhan lain di samping Allah? Katakan: Aku tak menyaksikan. Katakan: Ia adalah Tuhan Yang Maha-esa, dan sesungguhnya aku ini bebas dari apa yang kamu sekutukan (dengan Dia).

 

20. Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka mengenal dia, seperti mereka mengenal anak mereka.763 Adapun orang-orang yang merugikan jiwanya, mereka tak akan beriman.

Ruku’ 3: Kesaksian kaum musyrik terhadap dirinya

 

21. Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang membuat-buat kebohongan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang lalim tak akan beruntung.

 

22. Dan pada hari tatkala Kami menghimpun mereka semua, lalu Kami berkata kepada orang-orang musyrik: Di manakah tuhan-tuhan kamu yang dahulu kamu katakan?

 

23. Kemudian tak ada lagi dalih mereka764 selain hanya berkata: Demi Allah, Tuhan kami, kami bukanlah orang musyrik.

 

24. Lihatlah bagaimana mereka membohongi jiwa mereka sendiri; dan apa yang mereka buat-buat, lenyap dari mereka.

 

25. Dan sebagian mereka ada yang mau mendengarkan engkau, dan dalam hati mereka Kami letakkan tabir sehingga mereka tak dapat memahaminya, dan alam telinga mereka terdapat sumbat. Dan kalau pun mereka melihat segala tanda bukti, mereka tak mau beriman kepadanya.765 Sampai apabila mereka datang kepada engkau, mereka hanyalah berbantah dengan engkau — orang-orang kafir berkata: Ini tiada lain hanyalah dongengan orang-orang kuno.

 

26. Mereka melarang (orang-orang) terhadap itu, dan menjauhkan diri dari itu; dan tiada mereka membinasakan, kecuali jiwa mereka sendiri, dan mereka tak merasa.

 

27. Dan sekiranya engkau melihat tatkala mereka disuruh berdiri di muka Neraka, lalu mereka berkata: Oh, sekiranya kami dikembalikan (ke dunia)! Kami tak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, dan kami akan menjadi golongan orang-orang yang beriman.

 

28. Tidak, apa yang dahulu mereka sembunyikan akan menjadi terang bagi mereka. Dan seandainya mereka dikembalikan (ke dunia), mereka akan kembali kepada apa yang mereka dilarang, dan sesungguhnya mereka itu pembohong.766

 

29. Dan mereka berkata: Sesungguhnya tak ada apa pun selain kehidupan dunia, dan kami tak akan dibangkitkan.

 

30. Dan sekiranya engkau melihat tatkala mereka disuruh berdiri di hadapan Tuhan mereka. Ia berfirman: Bukankah ini benar? Mereka berkata: Ya, demi Tuhan kami! Ia berfirman: Maka rasakanlah siksaan karena kamu kafir.

Ruku’ 4: Mendustakan Kebenaran

 

31. Sungguh rugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah, sampai tatkala Kiamat767 mendatangi mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: Alangkah susah kami karena kami melalaikan ini! Dan mereka memikul beban mereka di atas punggung mereka. Sungguh buruk sekali apa yang mereka pikul!

 

32. Dan kehidupan dunia itu tiada lain hanyalah main-main dan senda gurau. Dan sesungguhnya tempat tinggal di Akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertaqwa. Apakah kamu tak mengerti?768

 

33. Sesungguhnya Kami tahu bahwa apa yang mereka katakan itu amat menyedihkan engkau; sesungguhnya mereka tak mendustakan engkau, tetapi orang-orang lalimlah yang mendustakan ayat-ayat Allah.769

 

34. Dan sesungguhnya telah didustakan para Utusan sebelum engkau, tetapi mereka bersabar tatkala mereka didustakan dan dianiaya, sampai pertolongan Kami datang kepada mereka. Dan tak seorang pun dapat mengubah firman Allah.770 Dan sesungguhnya telah datang kepada engkau sebagian berita tentang para Utusan.

 

35. Dan jika penolakan mereka terasa berat bagi engkau, maka carilah lubang (masuk) di bumi atau tangga (naik) ke langit, jika engkau dapat, untuk mendatangkan tanda bukti kepada mereka.771 Dan jika Allah menghendaki, niscaya mereka akan Ia himpun dalam petunjuk; maka dari itu, janganlah engkau menjadi golongan orang yang tidak tahu.

 

36. Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mau menerima. Adapun orang-orang mati, Allah akan membangkitkan mereka, lalu mereka akan dikembalikan kepada-Nya.772

 

37. Dan mereka berkata: Mengapa tak diturunkan kepadanya tanda bukti dari Tuhannya? Katakanlah: Sesungguhnya Allah itu Kuasa menurunkan tanda bukti, tetapi kebanyakan mereka tak tahu.773

 

38. Dan tiada binatang di bumi, dan tiada (pula) burung yang terbang dengan dua sayapnya, melainkan (binatang dan burung) itu umat seperti kamu. Kami tak melalaikan sesuatu dalam Kitab. Lalu mereka akan dihimpun kepada Tuhan mereka.774

 

39. Adapun orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, (mereka) adalah tulis dan bisu, (mereka) dalam kegelapan. Barangsiapa Allah menghendaki, akan Dia biarkan dalam kesesatan. Dan barangsiapa Dia menghendaki, akan Dia tempatkan pada jalan yang benar.

 

40. Katakan: Lihatlah, apabila siksaan Allah menimpa kamu, atau (apabila) sa’ah mendatangi kamu, apakah kamu akan menyeru kepada yang lain selain Allah, jika kamu orang yang tulus?

 

41. Tidak, hanya kepada-Nya kamu akan menyeru, lalu akan Ia singkirkan apa yang kamu berdoa untuk itu, jika Ia kehendaki, dan kamu akan melupakan apa yang kamu sekutukan (dengan Dia).775

Ruku’ 5: Akibat mendustakan Kebenaran

 

42. Dan sungguh telah Kami utus (para Utusan) kepada umat sebelum engkau, lalu Kami timpakan kepada mereka kesengsaraan dan kesusahan, agar mereka berendah hati.

 

43. Maka mengapa tatkala siksaan Kami datang kepada mereka, mereka tak berendah hati? Tetapi hati mereka menjadi keras, dan apa saja yang mereka lakukan ditampakkan indah oleh setan kepada mereka.

 

44. Lalu tatkala mereka lupa akan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami buka pintu segala sesuatu untuk mereka. Sampai tatkala mereka bersukaria dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami timpakan siksaan kepada mereka dengan tiba-tiba; maka lihatlah, mereka amat putus asa.776

 

45. Maka terpotonglah akar orang-orang yang berbuat lalim. Dan segala puji kepunyaan Allah, Tuhan sarwa sekalian alam.777

 

46. Katakan: Apakah telah kamu pertimbangkan jika Allah mengambil pendengaran kamu dan penglihatan kamu dan mencap hati kamu, siapakah Tuhan selain Allah yang dapat mengembalikan itu kepada kamu? Lihatlah bagaimana Kami mengulang ayat, namun mereka tetap berpaling.

 

47. Katakan: Tahukah kamu jika siksaan Allah mendatangi kamu dengan tiba-tiba atau dengan terang-terangan, adakah yang dibinasakan selain orang-orang lalim?

 

48. Dan Kami tak mengutus para Utusan kecuali sebagai pengemban berita baik dan juru ingat; maka barangsiapa beriman dan berbuat baik, maka ketakutan tak akan menimpa mereka, dan mereka tak akan susah.

 

49. Adapun orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan terkena siksaan karena mereka durhaka.

 

50. Katakan: Aku tak berkata kepada kamu bahwa aku mempunyai perbendaharaan Allah, dan (aku tak berkata) bahwa aku tahu barang gaib, dan aku tak berkata kepada kamu bahwa aku malaikat; aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku. Katakan: Apakah sama orang yang buta dan orang yang melihat? Apakah kamu tak berpikir?778

Ruku’ 6: Ganjaran bagi kaum mukmin

 

51. Dan berilah peringatan dengan ini (Qur’an) kepada orang-orang yang takut bahwa mereka akan dihimpun kepada Tuhan mereka; selain Dia, mereka tak mempunyai pelindung dan pemberi syafa’at; agar mereka bertaqwa.

 

52. Janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru kepada Tuhan mereka pada pagi hari dan petang hari; mereka hanya ingin memperoleh perkenan-Nya. Sedikit pun engkau tak memikul pertanggung-jawaban mereka dan mereka sedikit pun tak memikul pertanggung-jawaban engkau; maka dari itu (jika) engkau mengusir mereka, engkau termasuk golongan orang yang lalim.779

 

53. Dan demikianlah Kami menguji sebagian mereka dengan sebagian yang lain, agar mereka berkata: Inikah orang-orang di antara kita yang Allah berikan anugerah kepada mereka?780 Bukankah Allah lebih tahu tentang orang-orang yang bersyukur?

 

54. Dan jika orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami mendatangi engkau, maka katakanlah: Damai atas kamu! Tuhan kami telah menetapkan rahmat atas diri-Nya, maka dari itu barangsiapa di antara kamu berbuat jahat karena kebodohan, lalu sesudah itu, ia tobat dan berbuat baik, maka sesungguhnya Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

 

55. Dan demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat, dan agar menjadi jelas jalan orang-orang yang berdosa.

Ruku’ 7: Keputusan Tuhan

 

56. Katakanlah: Sesungguhnya aku dilarang mengabdi kepada mereka yang kamu seru selain Allah. Katakanlah: Aku tak mengikuti keinginan rendah kamu, karena jika demikian, aku menjadi sesat, dan aku tidak menjadi golongan orang yang terpimpin.

 

57. Katakanlah: Sesungguhnya aku mempunyai tanda bukti yang terang dari Tuhanku, dan kamu mendustakan itu. Aku tak mempunyai apa yang kamu minta supaya disegerakan. Keputusan itu hanya kepunyaan Allah; Ia menceritakan Kebenaran, dan Ia adalah sebaik-baik Pemberi keputusan.

 

58. Katakanlah: Sekiranya aku mempunyai apa yang kamu minta supaya disegerakan, niscaya perkara sudah diputuskan antara aku dan kamu. Dan Allah itu lebih mengetahui orang-orang yang lalim.

 

59. Dan Ia mempunyai perbendaharaan781 barang gaib; — tak ada yang tahu selain Dia. Dan Ia tahu apa yang ada di daratan dan di lautan. Dan tiada sehelai daun yang jatuh melainkan Ia tahu akan itu; dan tiada pula sebutir biji di dalam bumi yang gelap, dan tiada sesuatu yang basah (hijau) dan kering, melainkan (semua itu) ada dalam Kitab yang terang.782

 

60. Dan Ia adalah Yang mengambil nyawa kamu pada malam hari, dan Yang tahu apa yang kamu usahakan pada siang hari, lalu Ia membangkitkan kamu pada (hari) itu, agar waktu yang ditentukan dapat dipenuhi. Lalu kepada-Nya tempat kamu kembali, lalu Ia memberitahukan kepada kamu apa yang kamu lakukan.

Ruku’ 8: Keputusan Tuhan

 

61. Dan Dia ialah Yang Maha-unggul di atas hamba-Nya, dan Ia mengutus malaikat penjaga kepada kamu; sampai tatkala ajal mendatangi salah seorang di antara kamu, para (malaikat) Utusan Kami mematikan dia, dan mereka tak melalaikan kewajiban.783

 

62. Lalu mereka dikembalikan kepada Allah, Tuhan mereka, Yang Maha-benar. Sesungguhnya hukum itu kepunyaan Dia, dan Dia itu Yang paling cepat dalam membuat perhitungan.

 

63. Katakan: Siapakah yang menyelamatkan kamu dari bencana784 di darat dan di laut (tatkala) kamu menyeru kepada-Nya dengan rendah hati dan dengan sembunyi: Jika Ia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, niscaya kami menjadi golongan orang yang bersyukur.

 

64. Katakanlah: Allah menyelamatkan kamu dari (bencana) ini dan dari segala kesusahan, namun kamu tetap musyrik.

 

65. Katakanlah: Dia ialah Yang Kuasa mengirim siksaan kepada kamu, dari atas kamu dan dari bawah kaki kamu, atau melemparkan kamu dalam kebingungan (dengan membuat kamu) menjadi bermacam-macam golongan, dan membuat sebagian kamu merasakan kekerasan sebagian yang lain. Lihatlah bagaimana Kami mengulang ayat-ayat agar mereka mengerti.785

 

66. Dan umat dikau mendustakan itu, padahal itu adalah Kebenaran. Katakan: Aku bukanlah ditugaskan untuk memelihara kamu.786

 

67. Bagi tiap-tiap ramalan adalah batas waktu, dan kamu akan segera mengetahui (itu).787

 

68. Dan jika engkau melihat mereka berkata yang bukan-bukan tentang ayat Kami, maka berpalinglah dari mereka sampai mereka memasuki percakapan yang lain. Dan jika setan membuat engkau lupa, maka sesudah engkau ingat, janganlah engkau duduk lagi dengan kaum yang lalim.

 

69. Dan dari orang-orang yang bertaqwa, tak akan diminta tanggung jawab sedikit pun, tetapi (kewajiban) mereka hanyalah memperingatkan agar mereka menjaga diri dari kejahatan.

 

70. Dan biarkanlah mereka yang mengambil agama mereka untuk main-main dan senda gurau, dan yang telah tertipu oleh kehidupan dunia; dan peringatkanlah (mereka) dengan ini, agar tak ada jiwa akan dibinasakan dengan apa yang mereka usahakan. Ia tak mempunyai pelindung atau pemberi syafa’at selain Allah; dan sekalipun ia tebus dengan segala macam tebusan, itu tak akan diterima. Mereka adalah orang yang dibinasakan dengan apa yang mereka usahakan. Mereka mendapat minuman air mendidih dan siksaan yang pedih, karena mereka kafir.

Ruku’ 9: Dalil Keesaan Ilahi yang dikemukakan oleh Nabi Ibrahim

 

71. Katakan: Apakah kami akan menyeru kepada yang lain selain Allah, yang tak menguntungkan kami dan tak (pula) merugikan kami, dan (apakah) kami akan berbalik atas tumit kami setelah Allah memimpin kami? Seperti halnya orang yang setan-setan telah membuat dia mengikuti hawa nafsunya, ia menjadi bingung di bumi,788— Ia mempunyai kawan yang mengajak dia ke jalan yang benar, katanya: Mari bergabung. Katakan: Sesungguhnya pimpinan Allah adalah pimpinan (yang benar). Dan kami disuruh agar kami berserah diri kepada Tuhan sarwa sekalian alam.

 

72. Dan agar kamu menegakkan shalat dan bertaqwa kepada-Nya. Dan Dia ialah Yang kamu akan dihimpun kepada-Nya.

 

73. Dan Dia ialah Yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan pada hari Ia berfirman: Jadi, maka jadilah ia.788a Firman-Nya benar, dan Dia mempunyai Kerajaan pada hari tatkala terompet ditiup.789 Yang Maha-tahu akan barang yang tak kelihatan dan yang kelihatan; dan Dia itu Yang Maha-bijaksana, Yang Maha-waspada.

 

74. Dan tatkala Ibrahim berkata kepada orang tuanya, Azar:790 Apakah engkau mengambil berhala sebagai Tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaum dikau berada dalam kesesatan yang terang.

 

75. Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi, dan agar ia menjadi golongan orang yang yakin.791

 

76. Maka tatkala malam melingkupi dia, ia melihat bintang. Ia berkata: Inikah Tuhanku?792 Maka tatkala (bintang) itu terbenam, ia berkata: Aku tak suka kepada barang yang terbenam.

 

77. Kemudian tatkala ia melihat bulan terbit, ia berkata: Inikah Tuhanku? Maka tatkala (bulan) itu terbenam, ia berkata: Jika Tuhanku tak memimpin aku, niscaya aku menjadi golongan orang yang sesat.

 

78. Lalu tatkala ia melihat matahari terbit, ia berkata: Inikah Tuhanku? Inikah yang paling besar? Maka tatkala (matahari) itu terbenam, ia berkata: Wahai kaumku, sesungguhnya aku ini lepas dari apa yang kamu sekutukan (dengan Allah).

 

79. Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku, dengan lurus, kepada Pencipta langit dan bumi, dan aku bukanlah golongan orang yang musyrik.

 

80. Dan kaumnya membantah dia. Ia berkata: Apakah kamu berbantah dengan aku tentang Allah, dan sesungguhnya Ia telah memimpin aku. Dan aku sedikit pun tak takut kepada apa yang kamu sekutukan dengan Dia, kecuali apa yang dikehendaki Tuhanku. Tuhanku mencakup segala sesuatu dengan ilmunya. Apakah kamu tak ingat?

 

81. Dan bagaimana aku takut kepada apa yang kamu sekutukan, padahal kamu tak takut menyekutukan Allah, yang untuk itu Ia tak menurunkan wewenang kepada kamu. Lalu yang manakah di antara dua golongan yang lebih berhak memperoleh keamanan, jika kamu tahu?

 

82. Adapun orang-orang yang beriman, dan tak mencampur-baurkan iman mereka dengan kelaliman, mereka akan memperoleh keamanan, dan mereka berada dijalan yang benar.

Ruku’ 10: Para Nabi keturunan Nabi Ibrahim

 

83. Dan inilah tanda bukti Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk melawan kaumnya. Kami meninggikan derajat orang yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhan dikau itu Yang Maha-bijaksana, Yang Maha-tahu.

 

84. Dan Kami berikan kepadanya Ishak dan Ya’qub. Masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan sebelumnya, Nuh telah Kami beri petunjuk, demikian pula keturunannya.793 Daud dan Sulaiman dan Ayub dan Yusuf dan Musa dan Harun. Dan demikianlah Kami mengganjar orang-orang yang berbuat baik (kepada orang lain)

 

85. Dan Zakaria dan Yahya dan ‘Isa dan Ilyas; semuanya adalah golongan orang yang tulus;

 

86. Dan Isma’il dan Ilyasa’ dan Yunus dan Luth; dan semuanya Kami buat melebihi bangsa-bangsa.

 

87. Dan dari ayah-ayah mereka dan keturunan mereka dan saudara mereka.793a Dan Kami memilih mereka dan memimpin mereka pada jalan yang benar.

 

88. Inilah pimpinan Allah yang dengan ini Ia memimpin siapa yang Ia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan jika mereka musyrik, niscaya sia-sialah apa yang mereka kerjakan.794

 

89. Mereka adalah orang-orang yang telah Kami beri Kitab dan hukum dan nubuwah.795 Maka dari itu jika mereka mengafiri ini, niscaya ini akan Kami serahkan kepada kaum yang tak mengafiri ini.

 

90. Mereka adalah orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: Untuk ini, aku tak minta ganjaran kepada kamu. Sesungguhnya (Qur’an) itu tidak lain hanya Juru ingat bagi sekalian bangsa.796

Ruku’ 11: Kebenaran Wahyu Ilahi

 

91. Dan mereka tak menghargai Allah dengan penghargaan yang pantas diberikan kepada-Nya, tatkala mereka berkata: Allah tak menurunkan apa-apa kepada manusia.797 Katakan: Siapakah yang menurunkan Kitab yang dibawa oleh Musa, (yaitu) nur dan petunjuk bagi manusia, yang kamu bikin menjadi lembaran-lembaran798 (yang berhamburan), yang kamu perlihatkan, dan yang kebanyakan kamu sembunyikan? Dan kamu diajarkan tentang apa yang kamu dan orang tua kamu tak tahu. Katakanlah: Allah. Lalu biarlah mereka main-main dengan cakap-angin mereka.

 

92. Dan inilah Kitab yang Kami turunkan, Yang diberkahi, yang membetulkan (Kitab) yang ada sebelumnya, dan agar engkau memperingatkan ibu kota799 dan orang-orang sekelilingnya. Adapun orang-orang yang beriman kepada Akhirat, mereka beriman kepada itu, dan mereka memelihara shalat mereka.

 

93. Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang membuat-buat kebohongan terhadap Allah, atau berkata: Wahyu telah dianugerahkan kepadaku; padahal tak diturunkan wahyu apa pun kepadanya; dan pula orang yang berkata: Aku dapat mewahyukan seperti apa yang diwahyukan oleh Allah.800 Dan sekiranya engkau melihat tatkala orang lalim mengalami sakaratul-maut (sakitnya kematian), dan para malaikat mengulurkan tangan mereka (sambil berkata): Keluarkanlah nyawa kamu. Pada hari ini kamu akan dibalas dengan siksaan yang hina karena kamu berkata yang tak benar terhadap Allah, dan (karena) kamu besar kepala terhadap ayat-ayat-Nya.

 

94. Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami satu demi satu sebagaimana Kami menciptakan kamu semula, dan apa yang Kami karuniakan kepada kamu, kamu tinggalkan di belakang kamu. Dan Kami tak melihat bersama-sama kamu, para perantara kamu yang kamu katakan bahwa mereka itu para sekutu (Allah) di kalangan kamu. Sungguh telah putus tali yang mengikat antara kamu, dan telah lenyap dari kamu apa yang kamu katakan itu.801

Ruku’ 12: Kemenangan akhir bagi Kebenaran

 

95. Sesungguhnya Allah itu yang menumbuhkan biji-bijian dan biji kurma. Ia mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Itulah Allah. Lalu bagaimana kamu dibelokkan.802

 

96. Yang menyingsingkan pagi hari; dan Dia membuat malam untuk istirahat, dan (membuat) matahari dan bulan untuk perhitungan. Ini adalah ketentuan dari Yang Maha-perkasa, Yang Maha-tahu.803

 

97. Dan Dia ialah Yang membuat bintang-bintang untuk kamu, agar dengan itu kamu mendapat petunjuk dalam kegelapan di daratan dan di lautan. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat kepada kaum yang tahu.804

 

98. Dan Dia ialah Yang menumbuhkan kamu dari jiwa satu, lalu (bagi kamu) adalah tempat peristirahatan dan tempat penyimpanan. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat kepada kaum yang mengerti.805

 

99. Dan Dia ialah Yang menurunkan air dari awan, lalu dengan itu Kami keluarkan tunas segala tumbuh-tumbuhan, lalu dari (tunas) itu Kami keluarkan (daun) yang menghijau, yang dari (daun) itu Kami keluarkan biji-bijian yang bertandan-tandan; dan dari pohon kurma, dari mayangnya keluar setandan buah kurma yang mudah diraih; demikian pula kebun anggur dan zaitun dan delima, yang serupa dan tak serupa. Lihatlah buahnya tatkala ia berbuah dan masaknya. Sesungguhnya dalam hal ini adalah tanda bukti bagi kaum yang beriman.

 

100. Dan mereka menganggap jin sebagai sekutu Allah, padahal Dialah Yang menciptakan (jin) itu, dan mereka mengakukan Allah mempunyai anak laki-laki dan anak perempuan, tanpa pengetahuan (sedikit pun). Maha-suci Dia dan Maha-luhur Dia dari sifat-sifat yang mereka sifatkan (kepada-Nya).806

Ruku’ 13: Kemajuan tahap demi tahap

 

101. Pencipta langit dan bumi yang mengagumkan. Bagaimana Dia mempunyai anak laki-laki padahal Dia tak mempunyai istri? Dan Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia itu Yang Maha-tahu segala sesuatu.807

 

102. Itulah Allah, Tuhan kamu. Tak ada Tuhan selain Dia; Yang menciptakan segala sesuatu; maka dari itu mengabdilah kepada-Nya; dan Dia itu Yang menguasai segala sesuatu.

 

103. Penglihatan tak dapat menjangkau Dia, dan Dia menjangkau (semua) penglihatan; dan Dia itu Yang Maha-tahu, Yang Maha-waspada.808

 

104. Sungguh telah datang kepada kamu tanda bukti yang terang dari Tuhan kamu; maka barangsiapa melihat, ini adalah untuk kebaikan dia sendiri; dan barangsiapa buta, ini adalah kerugian dia sendiri. Dan aku bukanlah penjaga bagi kamu.

 

105. Dan demikianlah Kami mengulang ayat-ayat, dan agar mereka berkata: Engkau telah mempelajari; dan agar Kami menjelaskan itu kepada kaum yang tahu.

 

106. Ikutilah apa yang diwahyukan kepada engkau dari Tuhan dikau — tak ada Tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.

 

107. Dan jika Allah menghendaki, mereka tak akan musyrik. Dan Kami tak membuat engkau sebagai penjaga bagi mereka, dan engkau tak ditempatkan untuk mengawasi mereka.

 

108. Dan janganlah kamu mencaci maki apa yang mereka seru selain Allah, agar mereka tak mencaci maki Allah dengan melebihi batas, karena tak punya pengetahuan. Demikian tiap-tiap umat Kami buat amal mereka tampak indah; lalu kepada Tuhan sajalah tempat mereka kembali, lalu Ia akan memberitahukan kepada mereka apa yang mereka lakukan.809

 

109. Dan mereka bersumpah demi Allah dengan sekuat sumpah mereka, jika tanda bukti datang kepada mereka, mereka pasti akan mengimani itu. Katakanlah: Tanda bukti itu ada pada Allah. Dan apakah yang membuat kamu tahu bahwa apabila itu datang, mereka tak akan beriman?810

 

110. Dan Kami balikkan hati mereka dan penglihatan mereka, sebagaimana mereka pada awal mulanya tak mengimani itu; dan Kami membiarkan mereka dalam pendurhakaan mereka, membabi buta kebingungan.811

 

JUZ VIII

 

Ruku’ 14: Perlawanan kaum musyrik

 

111. Dan sekalipun Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang mati berbicara kepada mereka, dan Kami kumpulkan segala sesuatu di hadapan mereka, mereka tak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki; tetapi kebanyakan mereka bodoh.812

 

112. Dan demikianlah bagi tiap-tiap Nabi, Kami buatkan musuh, setan-setan manusia dan jin,813 sebagian mereka membisikkan sebagian yang lain dengan ucapan yang indah untuk menipu (mereka). Dan jika Tuhan dikau menghendaki, niscaya mereka tak mengerjakan itu, maka biarkanlah mereka dengan apa yang mereka buat-buat.

 

113. Dan agar hati orang-orang yang tak beriman kepada Akhirat, condong ke arah itu, dan agar mereka merasa puas dengan itu, dan agar mereka memperoleh apa yang mereka peroleh.

 

114. Apakah akan kucari seorang hakim selain Allah, padahal Dia Yang menurunkan Kitab yang jelas kepada kamu. Dan orang-orang yang Kami berikan Kitab tahu, bahwa itu diturunkan dari Tuhan dikau dengan benar, maka janganlah engkau menjadi orang yang membantah.

 

115. Dan sempurnalah firman Tuhan dikau dengan benar dan adil. Dan tak seorang pun dapat mengubah firman-Nya; dan Dia itu Yang Maha-mendengar, Yang Maha-tahu.814

 

116. Dan jika engkau menuruti kebanyakan orang di bumi, mereka akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti dugaan belaka, dan mereka tiada lain hanyalah berdusta.

 

117. Sesungguhnya Tuhan dikau — Dia lebih tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia lebih tahu siapa yang mengikuti jalan yang benar.

 

118. Maka makanlah apa yang (disembelih dengan) disebut nama Allah, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.815

 

119. Dan apakah yang menyebabkan kamu tak mau makan apa yang (disembelih dengan) disebut nama Allah, padahal Ia telah menjelaskan kepada kamu apa yang Ia haramkan kepada kamu — kecuali apa yang kamu terpaksa memakan itu.815a Dan sesungguhnya banyak sekali orang yang menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka karena tak punya ilmu. Sesungguhnya Tuhan dikau — Dia itu lebih tahu akan orang-orang yang melampaui batas.

 

120. Dan singkirilah dosa lahir dan dosa batin. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, mereka akan dibalas dengan apa yang mereka usahakan.815b

 

121. Dan janganlah kamu makan apa yang (disembelih dengan) tak disebut nama Allah, dan sesungguhnya itu adalah durhaka.816 Dan sesungguhnya setan membisikkan kepada kawan-kawannya supaya bertengkar dengan kamu; dan jika kamu menuruti mereka, niscaya kamu akan menjadi orang yang musyrik.

Ruku’ 15: Pemimpin musuh

 

122. Apakah orang yang telah mati, lalu Kami hidupkan lagi, dan kepadanya Kami beri cahaya yang dengan itu dia berjalan di antara manusia, sama dengan orang yang perumpamaannya seperti orang yang berada dalam kegelapan yang ia tak dapat keluar dari situ?817 Demikianlah ditampakkan indah kepada orang-orang kafir, apa yang mereka lakukan.

 

123. Dan demikianlah dalam tiap-tiap kota Kami membuat para pemimpinnya, orang-orang yang berdosa, agar mereka di sana membuat rencana. Dan mereka tiada membuat rencana kecuali yang merugikan diri sendiri, dan mereka tak merasa.818

 

124. Dan apabila suatu ayat datang kepada mereka, mereka berkata: Kami tak akan mengimani itu sampai kami diberi seperti apa yang diberikan kepada para Utusan Allah. Allah tahu benar di mana Dia menempatkan risalah-Nya.819 Kehinaan dari Allah dan siksaan yang dahsyat akan menimpa orang-orang dosa, disebabkan karena rencana mereka.820

 

125. Maka barangsiapa Allah menghendaki untuk memberi petunjuk Ia melapangkan dadanya kepada Islam. Dan barangsiapa Ia menghendaki untuk membiarkannya dalam kesesatan, Ia membuat dadanya sesak (dan) sempit, seakan-akan ia naik ke langit. Demikianlah Allah menimpakan kotoran kepada orang-orang yang tak beriman.821

 

126. Dan inilah jalan Tuhan dikau, (jalan) yang benar. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat kepada kaum yang ingat.

 

127. Mereka memperoleh tempat tinggal yang damai di sisi Tuhan mereka, dan Dia adalah Kawan mereka karena apa yang mereka lakukan.

 

128. Dan pada hari tatkala Dia menghimpun mereka semua: Wahai gerombolan jin,822 kamu telah mengambil sebagian besar manusia. Dan kawan mereka dari golongan manusia berkata: Tuhan kami, sebagian kami mendapat untung dari sebagian yang lain, dan kami telah mencapai batas waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami. Dia berfirman: Neraka adalah tempat tinggal kamu — kamu akan bertinggal di sana, kecuali apa yang Allah kehendaki. Sesungguhnya Tuhan dikau itu Yang Maha-bijaksana, Yang Maha-tahu.823

 

129. Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang lalim berkawan dengan sebagian yang lain karena apa yang mereka usahakan.

Ruku’ 16: Kejahatan penyembahan berhala

 

130. Wahai masyarakat jin dan manusia, apakah belum datang kepada kamu para Utusan dari golongan kamu, yang menceritakan kepada kamu ayat-ayat-Ku dan memperingatkan kepada kamu tentang pertemuan dengan hari kamu ini?824 Mereka berkata: Kami menjadi saksi terhadap diri kami. Dan kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang yang kafir.

 

131. Ini disebabkan karena Tuhan dikau tak akan membinasakan kota dengan sewenang-wenang, sedangkan para penduduknya lengah.825

 

132. Dan masing-masing mempunyai derajat yang selaras dengan amal mereka. Dan Tuhan dikau tak lalai akan apa yang mereka kerjakan.

 

133. Dan Tuhan dikau adalah Yang Maha-kaya, Yang mempunyai rahmat. Jika Ia menghendaki, Ia akan melenyapkan kamu, dan membuat siapa yang Ia kehendaki sebagai pengganti sesudah kamu, sebagaimana Ia telah menumbuhkan kamu dari keturunan kaum yang lain.

 

134. Sesungguhnya apa yang kamu dijanjikan, pasti akan terjadi, dan kamu tak dapat mengelak dari (itu)825a

 

135. Katakanlah: Wahai kaumku, berbuatlah menurut kemampuan kamu, aku juga berbuat; kamu akan segera tahu, kepunyaan siapakah kesudahan tempat tinggal yang baik itu. Sesungguhnya orang lalim tak akan beruntung.

 

136. Dan mereka menyisihkan sebagian untuk Allah, (diambil) dari apa yang Ia ciptakan dari ladang dan ternak, lalu mereka berkata: Ini untuk Allah — demikianlah ucapan mereka— dan ini untuk berhala kami. Lalu apa yang untuk sekutu mereka tidak sampai kepada Allah, tetapi apa yang untuk Allah sampai kepada sekutu mereka. Buruk sekali apa yang mereka putuskan.826

 

137. Dan demikianlah berhala827 mereka menampakkan indah kepada kebanyakan kaum musyrik untuk membunuh anak mereka,828 agar mereka membinasakan mereka dan membikin kabur agama mereka.829 Dan jika Allah menghendaki, niscaya mereka tak mengerjakan itu, maka biarkanlah mereka dengan apa yang mereka buat-buat.

 

138. Dan mereka berkata: Ini adalah ternak dan tanaman yang dilarang — tak seorang pun memakan ini kecuali orang yang kami perkenankan830— demikianlah ucapan mereka — dan ternak yang diharamkan punggungnya,831 dan ternak yang mereka sembelih dengan tak disebut nama Allah832— (mereka) membuat-buat kebohongan terhadap Dia. Tuhan akan membalas mereka karena mereka membuat-buat kebohongan.

 

139. Dan mereka berkata: Apa yang ada dalam perut ternak ini, hanyalah disediakan untuk kaum pria kami, dan diharamkan bagi istri kami; dan jika itu dilahirkan mati, mereka bersekutu mengenai ini. Tuhan akan membalas mereka karena (kepalsuan) dalam penetapan mereka. Sesungguhnya Dia itu Yang Maha-bijaksana, Yang Maha-tahu.

 

140. Sungguh rugi orang yang membunuh anak mereka karena kebodohan tanpa ilmu, dan mengharamkan apa yang Allah rezekikan kepada mereka, membuat-buat kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka adalah sesat, dan mereka bukanlah orang yang terpimpin.

Ruku’ 17: Larangan-larangan yang dibikin sendiri oleh para penyembah berhala

 

141. Dan Dia ialah Yang menumbuhkan kebun, yang dilanjari dan tak dilanjari, dan pohon kurma dan hasil tanam-tanaman yang beraneka ragam buahnya,833 dan zaitun dan delima yang serupa dan tak serupa. Makanlah buahnya tatkala berbuah, dan bayarlah kewajibannya (zakat) pada hari pemungutan hasilnya, dan janganlah kamu berlaku boros. Sesungguhnya Dia itu tak suka kepada orang yang boros.

 

142. Dan di antara binatang ternak ada sebagian (yang Ia ciptakan) untuk angkutan dan untuk sembelihan.834 Makanlah apa yang Allah rezekikan kepada kamu, dan janganlah mengikuti jejak-jejak setan. Sesungguhnya dia itu musuh yang terang bagi kamu.

 

143. Delapan (ekor binatang ternak) berpasangan — dua (ekor) domba dan dua (ekor) kambing. Katakan: Apakah Ia haramkan dua jantan ataukah dua betina, ataukah yang terkandung dalam rahim dua betina? Beritahukanlah kepada-Ku dengan ilmu jika kamu orang tulus.835

 

144. Dan dua (sepasang) unta dan dua (sepasang) lembu. Katakan: Apakah Ia haramkan dua jantan ataukah dua betina, ataukah yang terkandung dalam rahim dua betina? Apakah kamu menyaksikan tatkala Allah mewasiyatkan (memesankan) itu? Siapakah yang lebih lalim daripada orang yang membuat-buat kebohongan terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allah itu tak memimpin kaum yang lalim.

Ruku’ 18: Makanan yang diharamkan

 

145. Katakanlah: Aku tak menemukan dalam apa yang diwahyukan kepadaku, barang yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, terkecuali bangkai, atau darah yang dialirkan, atau daging babi — karena sesungguhnya semua itu kotor — atau pendurhakaan, (yaitu) yang (disembelih dengan) disebut selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa, bukan karena keinginan dan tak pula melanggar batas, maka sesungguhnya Tuhan dikau itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.836

 

146. Dan kepada kaum Yahudi, Kami haramkan setiap binatang yang berkuku;837 dan dari lembu dan kambing, Kami haramkan kepada mereka lemaknya,838 kecuali (lemak) yang ada di punggung, atau isi perut, atau apa yang bercampur dengan tulang. Ini hukuman Kami berikan kepada mereka karena pendurhakaan mereka, dan sesungguhnya Kami adalah Yang Maha-benar.

 

147. Tetapi jika mereka mendustakan engkau, maka katakanlah: Tuhan kamu adalah Tuhannya rahmat Yang Maha-luas; dan siksaan-Nya tak dapat dielakkan dari kaum berdosa.839

 

148. Orang-orang musyrik berkata: Jika Allah menghendaki, niscaya kami tak akan musyrik, dan tak pula nenek moyang kami, demikian pula kami tak akan mengharamkan apa-apa. Demikianlah orang-orang sebelum mereka mendustakan (kebenaran), sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakan: Apakah kamu mempunyai pengetahuan hingga kamu mengemukakan itu kepada kami? Kamu tiada lain hanyalah mengikuti dugaan, dan kamu hanya berkata dusta.

 

149. Katakanlah: Bukti yang meyakinkan adalah kepunyaan Allah; lalu jika Ia menghendaki, Ia akan memimpin kamu semua.840

 

150. Katakan: Bawalah para saksi kamu yang menyaksikan bahwa Allah mengharamkan ini. Jika mereka memberi kesaksian, janganlah engkau memberi kesaksian beserta mereka. Dan janganlah kamu mengikuti keinginan rendah mereka yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan yang tak beriman kepada Akhirat, dan mereka membuat tandingan terhadap Tuhan mereka.

Ruku’ 19: Pedoman hidup

 

151. Katakanlah: Mari! Kubacakan apa yang Tuhan kamu mengharamkan kepada kamu; (yaitu) janganlah kamu menyekutukan apa pun dengan Dia, dan berbuatlah baik terhadap orang tua (ayah ibu), dan janganlah kamu membunuh anak kamu karena (takut) melarat — Kami memberi rezeki kepada kamu dan kepada mereka — dan janganlah kamu dekat-dekat pada perbuatan keji, baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang dilarang oleh Allah, kecuali dalam membela keadilan. Inilah yang diwasiyatkan (diperintahkan) Tuhan kepada kamu agar kamu mengerti.

 

152. Janganlah kamu dekat-dekat pada harta anak yatim, kecuali dengan cara yang baik,841 sampai ia mencapai usia dewasa. Dan penuhilah takaran dan timbangan dengan adil — Kami tak membebankan kewajiban kepada suatu jiwa kecuali menurut kemampuannya. Dan jika kamu berkata, berkatalah yang betul, sekalipun ini (terhadap) keluarga sendiri.842 Dan tepatilah perjanjian Allah. Inilah yang diwasiyatkan (diperintahkan) Tuhan kepada kamu agar kamu ingat.

 

153. Dan (ketahuilah) bahwa ini adalah jalan Kami yang benar, maka ikutilah ini, dan janganlah mengikuti jalan-jalan (lain), karena ini akan memisahkan (menyelewengkan) kamu dari jalan-Nya. Ini adalah wasiyat Tuhan kepada kamu agar kamu bertaqwa.

 

154. Lalu Kami berikan Kitab kepada Musa untuk melengkapi (anugerah Kami) kepada orang yang berbuat baik, dan untuk menjelaskan segala sesuatu843 dan sebagai pimpinan dan rahmat, agar mereka beriman kepada pertemuan dengan Tuhan mereka.

Ruku’ 20: Tujuan kaum mukmin

 

155. Dan ini adalah Kitab yang Kami turunkan, yang diberkahi; maka ikutilah itu dan bertaqwalah agar kamu diberi rahmat.844

 

156. Agar kamu tak berkata: Kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan sebelum kami, dan sesungguhnya Kami tak kenal akan apa yang mereka baca.845

 

157. Atau, agar kamu tak berkata: Jika Kitab diturunkan kepada kami, niscaya kami akan lebih terpimpin daripada mereka. Sungguh telah datang kepada kamu tanda bukti yang terang dari Tuhan kamu, dan petunjuk dan rahmat. Lalu siapakah yang lebih lalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling dari-padanya? Kami akan membalas orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksaan yang buruk karena mereka berpaling.

 

158. Mereka tak menantikan apa-apa selain datangnya malaikat kepada mereka, atau datangnya Tuhan dikau,846 atau datangnya sebagian tanda bukti Tuhan dikau.847 Pada hari tatkala sebagian tanda bukti Tuhan dikau datang, maka iman suatu jiwa yang sebelumnya tak beriman, tak akan ada faedahnya, atau (tak) memperoleh kebaikan dalam imannya. Katakanlah: Tunggu! Kami juga menunggu.

 

159. Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka, dan menjadi golongan-golongan, engkau tak mempunyai kepentingan apa pun dengan mereka. Urusan mereka hanyalah dengan Allah,848 lalu Ia akan memberitahukan kepada mereka apa yang mereka lakukan.

 

160. Barangsiapa datang dengan perbuatan baik, ia akan mendapat sepuluh kali seperti itu, dan barangsiapa datang dengan perbuatan buruk, ia tak akan dibalas melainkan yang setimpal dengan itu, dan mereka tak akan diperlakukan tak adil.849

 

161. Katakanlah: Adapun aku, Tuhanku memimpin aku ke jalan yang benar — agama yang benar, agama Ibrahim, orang yang lurus, dan ia bukanlah golongan orang yang musyrik.

 

162. Katakanlah: Sesungguhnya shalatku dan pengorbananku dan hidupku dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan sarwa sekalian alam.850

 

163. Ia tak mempunyai sekutu. Dan ini diperintahkan kepadaku, dan aku adalah permulaan orang yang berserah diri

 

164. Katakan: Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Ia adalah Tuhan segala sesuatu. Dan tiada jiwa berbuat (jahat), melainkan ini hanya merugikan dirinya sendiri. Dan tiada orang yang memikul beban, akan memikul beban orang lain.851 Lalu kepada Tuhan kamu, tempat kamu kembali, lalu Ia akan memberitahukan kepada kamu apa yang kamu berselisih di dalamnya.

 

165. Dan Dia ialah Yang membuat kamu penguasa di bumi852 dan Yang meninggikan derajat sebagian kamu, melebihi sebagian yang lain, agar ia menguji kamu dengan apa yang Ia berikan kepada kamu. Sesungguhnya Tuhan dikau itu Yang Maha-cepat dalam menghukum (kejahatan); dan sesungguhnya Dia itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

  1. Kata-kata “Allah Yang membuat gelap dan terang”, ini ditujukan untuk menentang ajaran agama Majusi yang dualistis, yang berpendirian bahwa terang dan gelap adalah dua prinsip yang sama kekalnya. Agama Islam adalah agama Tauhid yang paling murni, maka dari itu, Islam berpendirian bahwa sebab terakhir dari segala sesuatu ialah Tuhan Yang menciptakan langit dan bumi. Tauhid murni memberi harapan cerah kepada manusia, bahwa karena kebaikan itu tak dapat dipisahkan dari Ilahi, maka sekalian makhluk Allah bergerak menuju kebaikan itu; sedang ajaran dualisme menganggap bahwa merajalelanya kejahatan adalah suatu keharusan. []
  2. Batas waktu yang pertama adalah batas waktu hidup seseorang, dan batas waktu yang kedua adalah Hari Kiamat. Di sini dikatakan bahwa semua orang diciptakan dari tanah liat, ini berarti, baik Adam maupun manusia semuanya berasal dari tanah, yang dalam tingkat permulaan disebut debu. []
  3. Hidup di akhirat yang diuraikan dalam ayat sebelumnya, di sini dikatakan sebagai akibat dari perbuatan manusia, baik yang dikerjakan secara rahasia maupun secara terbuka, semuanya diketahui oleh Allah. Dari apa yang kamu usahakan itulah Allah membentuk hidup baru bagi kamu. []
  4. Bandingkanlah dengan 4:153: “Orang-orang Ahli Kitab minta kepada engkau supaya menurunkan kepada mereka Kitab dari langit.” Orang-orang itu begitu jauh dari hakikat kebenaran rohani, hingga mereka ingin melihat kebenaran rohani dalam bentuk wadag (fisik). Jika kebenaran diturunkan kepada manusia dalam bentuk wadag berupa Kitab, dan bukan dalam bentuk wahyu, niscaya ini tak dapat membawa perubahan dalam batin manusia. Sekalipun Kebenaran itu diturunkan dalam bentuk Kitab, mereka tetap akan menolak itu, dan akan menyebut itu sihir. []
  5. Memang benar bahwa risalah Tauhid dibawa oleh Malaikat, namun mereka ingin melihat hakikat malaikat dalam bentuk wadag. Kehadiran malaikat sangat dirasakan oleh orang tulus berupa perubahan batin yang dikerjakan oleh malaikat; tetapi batin orang jahat tak mau mendengarkan segala kebaikan, oleh karena itu, satu-satunya cara dapat dirasakan oleh orang jahat untuk merasakan adanya malaikat, ialah dengan menjatuhkan siksaan. Oleh sebab itu, dalam Qur’an selalu dikatakan bahwa datangnya malaikat kepada orang jahat adalah sama dengan datangnya siksaan yang dijatuhkan kepada mereka. Bandingkanlah dengan 2:110 dan 6:159. []
  6. Artinya ialah jika malaikat dijadikan Utusan Allah kepada manusia, ia pasti akan nampak dalam bentuk manusia, karena mata manusia tak dapat melihat malaikat. Selain itu, yang dapat dijadikan teladan bagi manusia hanyalah manusia. Jadi, jika malaikat nampak dalam bentuk manusia, niscaya orang akan menjadi bingung seperti kebingungan mereka jika yang diutus untuk menyampaikan risalah Tuhan itu manusia. []
  7. Mereka menertawakan janji Tuhan bahwa Nabi Suci dan kaum mukmin akan menang. Mereka diberitahu bahwa Kebenaran pasti menang, dan tetap akan menang, bahkan sekarang pun menang. []
  8. Kalimat Ia telah mewajibkan kasih sayang atas diri-Nya ini mengandung arti bahwa sebenarnya, kasih sayang adalah sifat Tuhan. Adapun bukti kasih sayang Allah di dunia ini ialah, Ia telah menciptakan segala sesuatu untuk kepentingan manusia. Mengapa Ia tak akan berbuat yang sama dalam memenuhi kebutuhan rohani manusia dan menurunkan wahyu sebagai petunjuk bagi manusia? []
  9. Oleh karena Allah itu Maha-kuasa, Ia akan memberi kebaikan kepada kamu. []
  10. Jadi Nabi Suci itu juru ingat, bukan saja untuk Bangsa Arab, melainkan pula untuk sekalian bangsa yang dapat dijangkau oleh Qur’an, yaitu bangsa-bangsa di seluruh dunia. []
  11. Tentang arti kalimat seperti mereka mengenal anak mereka, lihatlah tafsir nomor 190. []
  12. Menurut IJ, kata fitnah di sini berarti jawaban atau alasan; jawaban atau alasan disebut fitnah karena ini kebohongan. []
  13. Tabir diletakkan dalam hati mereka karena mereka tetap tak mau beriman, sekalipun mereka melihat tanda bukti. Sebagaimana diterangkan dalam kalimat berikutnya, mereka mendatangi Nabi Suci, bukan untuk mendengarkan atau merenungkan sabda beliau, melainkan untuk berbantah dengan beliau. Jadi tabir yang diletakkan itu hanyalah akibat perbuatan mereka sendiri; lihatlah tafsir nomor 24. []
  14. Selama di dunia, segala akibat perbuatan mereka yang buruk akan tetap tersembunyi, tetapi di akhirat, akibat perbuatan buruk itu menjadi terang. Oleh sebab itu, jika mereka dikirim kembali ke dunia, akibat perbuatan buruk itu tak akan terlihat lagi oleh mata wadag mereka, dengan demikian, mereka akan kembali lagi mengerjakan perbuatan buruk. []
  15. Yang dimaksud sa’ah ialah kehancuran mereka; tetapi dapat pula berarti Hari Kiamat. []
  16. []
  17. Nabi Suci telah dikenal oleh mereka sebagai Al-Amin, yaitu orang yang dapat dipercaya atau orang yang tulus. Musuh beliau pun mengakui bahwa beliau tak pernah berkata dusta, padahal pengakuan mereka itu diucapkan pada waktu memuncaknya pertikaian (B 1:1). Beliau dituduh sebagai pembohong setelah beliau mengaku menerima Wahyu Ilahi; oleh sebab itu, mereka itu sebenarnya bukan mendustai ketulusan Nabi Suci, melainkan mendustai Wahyu Ilahi. []
  18. Menilik kalimat di muka dan di belakangnya, terang sekali bahwa yang dimaksud firman Allah di sini ialah ramalan yang meramalkan menangnya Kebenaran dan kalahnya perlawanan. Sebagaimana para Utusan sebelum Nabi Suci diberi pertolongan, pertolongan akan diberikan pula kepada beliau, dan inilah ramalan yang tak dapat diubah oleh siapa pun, dan pasti akan dipenuhi. []
  19. Yang dimaksud âyah di sini ialah tanda bukti yang akan menghimpun semua orang dalam petunjuk (hidayah), sebagaimana diterangkan dalam kalimat berikutnya. Kehancuran mereka sudah difirmankan, dan firman itu pasti akan dipenuhi sebagaimana ditegaskan dalam ayat sebelumnya; tetapi tuntutan orang-orang agar kepada mereka diperlihatkan keajaiban, hingga seketika itu mereka tunduk kepada Nabi Suci, ini tak sesuai dengan undang-undang Ilahi. []
  20. Orang-orang yang diberi nasihat oleh Nabi Suci dapat dibagi menjadi dua golongan: (1) Golongan yang mendengar; mereka menerima Nabi Suci dan menjadi mukmin. (2) Golongan yang mati rohaninya dan tak menghiraukan peringatan Nabi Suci. Namun golongan ini tak perlu putus asa, karena Allah akan membangkitkan rohani mereka. Adapun kata-kata “dikembalikan kepada Allah”, artinya tunduk kepada Allah, dan akhirnya mau menerima Kebenaran. []
  21. Adapun tanda bukti yang diuraikan di sini ialah tanda bukti yang mereka tuntut, yang diuraikan dalam ayat 35. Tanda bukti yang mereka tuntut telah diberikan oleh Allah, berupa tunduknya hampir seluruh Bangsa Arab kepada Nabi Suci setelah jatuhnya kota Makkah. []
  22. Sepanjang mengenai kebutuhan jasmani, manusia dan makhluk lain dicukupi kebutuhannya oleh Allah; oleh karena itu, manusia harus tunduk kepada hukum alam seperti yang dilakukan binatang. Tetapi kodrat manusia mempunyai cita-cita untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi, yaitu kepuasan rohani; dan untuk tercapainya cita-cita rohani inilah Allah mengutus para Nabi. Selain itu, ayat ini mengisyaratkan adanya dua golongan manusia: (1) Manusia yang seperti binatang, yang melekat di bumi dan tak dapat naik ke atas; dan (2) Manusia yang seperti burung yang terbang tinggi ke alam rohani. Kata penutup ayat ini — lalu mereka dihimpun kepada Tuhan mereka — ditujukan kepada manusia; dan jika dibandingkan dengan binatang, manusia mengarah kepada kehidupan yang tinggi, yaitu hidup kekal pada Allah. Qur’an tak pernah menerangkan adanya binatang yang dibangkitkan pada hari kiamat untuk diadili. []
  23. Pada waktu orang menderita kesengsaraan dan kesusahan, ia pasti tak menyeru kepada siapa pun selain kepada Allah, sekalipun ia orang musyrik. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan akan adanya Allah dan Keesaan Allah sudah tertanam dalam kodrat manusia. []
  24. Yang dimaksud Allah membuka segala sesuatu ialah bahwa segala macam kesenangan duniawi dapat dicapai oleh manusia. []
  25. Yang dimaksud memotong akar ialah hancurnya para pemimpin kejahatan. []
  26. Belum pernah ada Nabi berkata dengan bahasa yang begitu terang dan begitu sopan kepada kaumnya. Oleh karena Nabi Suci muncul di tengah-tengah bangsa yang bodoh dan percaya kepada takhayul, beliau dapat saja mengaku mempunyai kekuatan gaib, dan orang-orang pasti akan percaya akan ucapan beliau. Tetapi beliau terang-terangan berkata kepada mereka bahwa beliau hanya manusia biasa. Apa yang membedakan beliau dengan manusia umum ialah, bahwa Allah mewahyukan kehendak-Nya kepada beliau, dan beliau mengikuti itu dengan segala ketulusan, dan beliau mengamalkan apa saja yang beliau terima dari yang Maha-luhur. Beliau menghendaki agar orang-orang lain juga seperti beliau. Tujuan beliau bukanlah untuk membuat pengikut beliau memiliki timbunan harta, atau tukang membuat keajaiban, atau ahli nujum, melainkan hanya sebagai manusia biasa dari awal sampai akhir — manusia yang setia pada diri sendiri, dan setia mengikuti prinsip-prinsip hidup yang tinggi, yang diwahyukan kepada beliau. Beliau menerangkan seterang-terangnya kepada umat beliau apa yang perlu dikerjakan oleh mereka, dan karena beliau berkata dengan terang, maka beliau berulangkali dikatakan dalam Qur’an sebagai juru ingat yang terang.
    “Di sini beliau mengaku tak tahu akan rahasia Allah,” demikianlah keterangan yang diberikan oleh seorang mufassir Kristen tatkala menafsirkan kata-kata mulia dari ayat-ayat itu, lalu mufassir ini segera menarik kesimpulan yang aneh bahwa “beliau mengaku tak mempunyai keahlian meramal”. Adapun yang dimaksud oleh ayat itu ialah bahwa sebagai manusia, Muhammad adalah sama dengan manusia lainnya, yaitu tak tahu barang gaib; tetapi sebagai Nabi, beliau tahu dan mengikuti apa saja yang diwahyukan oleh Allah kepada beliau. Kebesaran dan kemuliaan Nabi Suci yang tak ada taranya, terletak dalam kenyataan, bahwa beliau tak pernah menempatkan diri sebagai manusia luar biasa (superman) di tengah-tengah umat beliau. []
  27. Para mufassir sependapat bahwa ayat ini diturunkan pada waktu sebagian pemimpin Quraisy terkemuka menyatakan kesediaannya untuk menerima Nabi Suci, jika pada waktu itu kaum Muslimin yang miskin tak diizinkan menjadi sahabat beliau. Di sini diterangkan bahwa kaya dan miskin sama saja; mereka adalah manusia, mereka mempunyai hak yang sama untuk mempelajari dan mengamalkan Kebenaran. Malahan orang-orang yang mau menerima kebenaran, lebih berhak untuk memperoleh perhatian Nabi Suci. Kebenaran itu dapat dicapai oleh sembarang orang; agama Islam tak mengenal aristokrasi (golongan bangsawan). Di hadapan Allah tak ada perbedaan pangkat, warna kulit, atau kekayaan; oleh sebab itu, semua orang sama derajatnya di hadapan Nabi Suci, seperti halnya di hadapan Allah sendiri setiap orang bertanggung-jawab atas perbuatan sendiri adalah ajaran utama yang diajarkan oleh Islam. []
  28. Jawaban yang sederhana dan tegas seperti tersebut di atas sangat melukai kecongkakan kaum Quraisy yang kaya. Mereka tak sudi duduk bersama-sama budak belian yang melarat, yang tak pernah mereka perlakukan sebagai manusia. Demikianlah mereka diuji. []
  29. Kata mafâtih jamaknya kata miftah maknanya kunci, dan pula jamaknya kata maftah artinya tempat penyimpanan atau perbendaharaan (LL). Oleh sebab itu, dua makna itu dapat dipakai semua. []
  30. Kitab yang terang adalah hukum sebab dan akibat. Daun jatuh artinya kekuatan untuk menyerap makanan telah habis; jadi, baik orang maupun bangsa akan jatuh. Biji di tanah yang gelap artinya terutusnya Nabi Suci, karena, biji itu sudah ditentukan tumbuh menjadi pohon yang luar biasa besarnya. Yang basah (hijau) artinya umat yang sejahtera, dan yang kering artinya umat yang runtuh. []
  31. Agaknya yang diisyaratkan di sini ialah disapubersihnya segala perlawanan. Hal ini dijelaskan dalam ayat berikutnya. Hafazhah artinya malaikat penjaga; lihatlah tafsir nomor 1269. []
  32. Kata zhulumât (jamaknya kata zhulmat makna aslinya gelap) artinya kesusahan, malapetaka, bencana, atau kesengsaraan (di laut). Atau berarti pula hari naas atau hari yang orang menemukan banyak kesukaran dan halangan (LL). []
  33. Tiga macam siksaan yang kelak dialami oleh musuh Nabi Suci adalah: (1) Siksaan dari atas berupa angin puyuh yang mereka alami pada waktu Perang Ahzab, tatkala kekuatan mereka berkisar antara sepuluh sampai dua puluh ribu orang, yang dengan mudah dapat menghancurkan pasukan kecil kaum Muslimin yang berlindung di bawah parit. Namun mereka lari tunggang-langgang karena diserang angin puyuh; (2) siksaan dari bawah berupa musim kering yang menyebabkan kesengsaraan kaum kafir Makkah selama tujuh tahun; (3) membuat mereka merasakan perlakuan keras kaum Muslimin dalam pertempuran, yang mula-mula dilancarkan oleh mereka sendiri, yang akhirnya menyebabkan hancurnya kekuasaan kaum Quraisy. Sebagian mufassir berpendapat bahwa siksaan nomor satu dan nomor dua ialah siksaan oleh tangan para pemimpin dan siksaan oleh tangan rakyat jelata (I’Ab, Rz); dengan perkataan lain, kekejaman kaum borjuis dan kekejaman kaum proletar. Hendaklah diingat tiga macam siksaan itu dimaksud pula untuk para musuh Nabi Suci di kemudian hari. Peradaban kebendaan dunia Barat itu sebenarnya menelorkan keburukan-keburukan yang diuraikan dalam ayat ini, sebagai hukuman bagi orang-orang yang tak mengindahkan nilai-nilai rohani, dan nilai-nilai hidup yang tinggi. Mula-mula kaum kapitalis memperoleh kemenangan dan menindas kaum buruh; tetapi kini kaum sosialis atau kaum bolsyewis membalas dendam terhadap negara-negara kapitalis. Lalu dua macam siksaan tersebut, ditumpangi dengan siksaan yang nomor tiga. Kini di dunia dipecah menjadi bermacam-macam golongan, yang masing-masing mempunyai tujuan untuk menghancurkan lawannya, dan kekejaman manusia terhadap manusia lain, telah mencapai puncaknya, yang ini belum pernah terlintas dalam pikiran manusia di dunia. Kota-kota yang berjuta-juta penduduknya, dalam sekejap mata berubah menjadi kuburan, dan kehancuran besar-besaran inilah yang diisyaratkan sebagai hukuman yang paling besar bagi peradaban materialis. Barangkali manusia belum pernah begitu biadab seperti sekarang ini. []
  34. Kalimat penutup ayat ini dapat pula diterjemahkan sebagai berikut: Aku bukanlah yang mengatur perkara kamu. Dua macam terjemahan itu sama saja artinya. []
  35. Makna yang digunakan di sini adalah makna yang diberikan oleh LL sewaktu menjelaskan arti kata mustaqarr, yaitu tempat atau waktu, yang jika sudah lewat, suatu barang tak dapat melanjutkan lagi; oleh sebab itu, berarti batas waktu. Naba’ artinya berita, oleh karena itu berarti ramalan yang memberitahukan kejadian yang akan datang. Menurut R, naba artinya pemberitahuan yang besar faedahnya. []
  36. Kata istahwathu dari akar kata hawa (hawa nafsu atau keinginan rendah), menurut penjelasan R berarti hamalat-hu ‘ala ittiba’I-l-hawa artinya ia menyebabkan dia mengikuti keinginan rendahnya, akhirnya pasti akan mengalami kebingungan; ia tak menemukan jalan, sekalipun kawan-kawannya mengajak dia ke jalan yang benar. Sebaliknya, berserah diri kepada Allah, membuat orang mempunyai cita-cita hidup, dan membuat orang bekerja keras untuk mencapai cita-cita itu; dengan demikian, orang akan memperoleh sukses dalam hidupnya. Maka dari itu, ayat berikutnya menyebut-nyebut Nabi Ibrahim sebagai teladan bagi orang yang berserah diri sepenuhnya kepada Allah. []
  37. 788a Biasanya kalimat ini digunakan pada waktu terlaksananya perubahan besar — perubahan yang menurut manusia tampak tak mungkin.
    Shur mempunyai dua makna. Pertama berarti terompet; dan terompet itu biasa ditiup untuk mengumpulkan orang banyak. Jadi, ini mengisyaratkan terjadinya revolusi besar. Adapun yang dimaksud ialah hari Kiamat, tatkala manusia dibangkitkan untuk diadili; atau dapat pula mengisyaratkan kebangkitan rohani manusia yang dilaksanakan oleh Nabi Suci , tatkala seluruh Bangsa Arab ditentukan untuk menerima hidup baru yaitu kehidupan rohani; atau mungkin pula mengisyaratkan kebangkitan rohani yang lebih besar lagi tatkala seluruh manusia dtentukan untuk menerima hidup baru melalui kemenangan Islam. Kita diberitahu bahwa pada hari itu, kerajaan Allah akan berdiri tegak di bumi. Tetapi menurut mufassir lain lagi, kata shur itu jamaknya kata shurat artinya bentuk (S, LL). Adapun yang dimaksud ialah, bentuk itu akan menjadi kenyataan sesudah ditiup; atau sebagaimana diterangkan oleh LL berdasarkan keterangan S, L dan T, berarti roh yang ditiupkan dalam bentuk badan orang mati. Adapun yang dimaksud dalam hal ini ialah hari Kiamat, atau kebangkitan rohani yang dilaksanakan oleh Nabi Suci. []
  38. Apakah Azar itu ayah Nabi Ibrahim, ataukah kakek beliau, ataukah paman beliau, ini merupakan persoalan yang ramai diperdebatkan. Kata ab artinya ayah atau dapat pula berarti nenek moyang (M, LL). Dalam 2:133, kata ab berarti paman, karena Nabi Ismail dikatakan sebagai ab Nabi Ya’qub. Kesukaran ini timbul karena dua sebab. Pertama, karena menurut Zy, para ahli silsilah (nassab) sependapat bahwa ayah Nabi Ibrahim bernama Tarah atau Terah, yaitu nama ayah Nabi Ibrahim yang tersebut dalam Kitab Kejadian. Zurqani juga menerangkan bahwa Tarah adalah nama ayah Nabi Ibrahim. Tetapi hendaklah diingat bahwa Eusebius mengucapkan kata Tarah menjadi Atsar, yang kira-kira sama dengan Azar dalam bahasa Arab. Kesukaran kedua ialah bahwa dalam ayat 14:41 diterangkan, bahwa ayah (walid) Nabi Ibrahim adalah orang mukmin, sedangkan dalam 9:114 diterangkan bahwa orang tua (ab) Nabi Ibrahim menyembah berhala sampai matinya. Oleh sebab itu, kami memilih kata orang tua sebagai terjemahan kata ab. Sebagian mufassir berpendapat bahwa Azar adalah nama salah satu berhala, sedangkan mufassir lain berpendapat bahwa Azar bukanlah nama orang melainkan kata benda biasa yang artinya mukhti yang maknanya orang yang salah (Rz). []
  39. Memperlihatkan kerajaan langit dan bumi kepada Nabi Ibrahim, artinya, menganugerahkan pengertian tentang hukum alam kepada beliau, yaitu Sunnatullah yang bekerja di kerajaan langit dan bumi. Pengertian ini memberi keyakinan kepada beliau bahwa Allah itu penguasa alam semesta yang sejati dan Yang Maha-luhur di atas sekalian makhluk, sedangkan matahari, bulan, bintang dan benda-benda langit lainnya yang disembah oleh kaum Sabi’ah, hanyalah ciptaan Allah semata, dan tunduk kepada hukum-hukum-Nya. []
  40. Kata hâdzâ robbî makna aslinya ini Tuhanku, ini bukanlah kepercayaan Nabi Ibrahim. Sebagaimana diterangkan dalam ayat sebelumnya, beliau beriman kepada Tuhan Yang Maha-esa. Kata-kata itu diucapkan sekedar untuk memperlihatkan keheranannya, atau untuk menunjukkan kepercayaan kaumnya, yang kemudian mereka disadarkan atas kesalahan mereka dengan menunjukkan kepada mereka bahwa apa yang mereka sebut tuhan, itu dapat lenyap di sembarang waktu, dengan demikian, tak pantas disembah. Orang-orang itu bukan saja menyembah berhala, melainkan pula menyembah benda-benda langit. Atau, kata hâdzâ robbî adalah bentuk kalimat pertanyaan, yang dibuang alifnya (alif adalah huruf tanya). Kalimat pertanyaan ini mengisyaratkan tak setujunya Nabi Ibrahim (Rz). Penjelasan yang tersebut belakangan inilah yang kami pilih.
    Hendaklah diingat, bahwa Nabi Ibrahim belum pernah menyembah berhala maupun benda-benda langit seperti kaumnya. Dalam ayat 74 diutarakan bahwa beliau mencela kaumnya karena menyembah berhala, dan ayat 75 mengutarakan bahwa beliau beriman kepada Tuhan Yang Maha-esa. Selanjutnya dalam ayat 83 diterangkan seterang-terangnya bahwa apa yang diutarakan di sini adalah alasan Nabi Ibrahim untuk menginsyafkan kaumnya karena menyembah tuhan-tuhan palsu: “Dan inilah tanda bukti Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk melawan kaumnya”. Adapun keyakinan Nabi Ibrahim akan adanya Allah, ini diterangkan seterang-terangnya dalam ayat 74 dan 75; dan dalam ayat berikutnya beliau dikatakan memberi tanda bukti untuk meyakinkan kaumnya yang bersalah karena menyembah benda-benda langit, yang benda-benda langit itu sendiri tunduk kepada undang-undang Ilahi. []
  41. Semua Nabi yang disebutkan namanya adalah keturunan Nabi Ibrahim; Nabi Ibrahim adalah keturunan Nabi Nuh. Oleh karena itu, kata keturunannya dapat berarti keturunan Nabi Ibrahim atau keturunan Nabi Nuh. Hanya ada kesukaran sedikit jika diartikan keturunan Nabi Ibrahim, yakni tentang Nabi Luth bukan keturunan Nabi Ibrahim, melainkan kemenakan beliau. Tetapi sebagaimana diterangkan dalam 2:133, paman disebut ayah, maka kemenakan dapat pula disebut keturunan.
    Di sini diutarakan nama delapan belas Nabi. Mereka tak disebut secara kronologis (urutan waktu). (Lihatlah Surat berikutnya yang meriwayatkan sejarah para Nabi besar menurut urutan waktu yang sesungguhnya). Mengapa di sini para Nabi disebutkan dalam berbagai kelompok, ini disebabkan adanya aspek khusus dalam kehidupan mereka, dan inilah sebabnya mengapa kalimat penutup dari tiga ayat yang menerangkan tiga kelompok para Nabi ini berlain-lainan.
    []
  42. 793a Bukan saja para Nabi yang disebutkan namanya dalam ayat tersebut, dibuat melebihi bangsa-bangsa di zamannya, melainkan pula ayah mereka, saudara mereka, keturunan mereka juga dikaruniai kemuliaan, sekalipun mereka bukan Nabi.
    Jika sekiranya para Nabi itu menyekutukan Allah, niscaya perbuatan mereka tak akan ada gunanya, dengan demikian, mereka tak akan memperoleh sukses dalam tugas mereka. Ini menunjukkan bahwa tak ada Nabi yang menjalankan dosa syirk sepanjang hidup mereka. []
  43. Tiap-tiap Nabi diberi tiga macam pemberian. Pertama, Kitab atau Wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada mereka, yaitu risalah yang mereka terima dari langit untuk memimpin umatnya ke jalan yang benar. Yang kedua ialah hukum, artinya, kekuasaan untuk mengadili. Ini menunjukkan bahwa tiap-tiap Nabi langsung menerima kekuasaan dari Allah, dan dengan hukum Allah inilah mereka mengadili umatnya. Yang ketiga ialah nubuwwah artinya ramalan atau kepandaian membuat ramalan. Kitab berisi petunjuk untuk memimpin umat, dan nubuwwah adalah ramalan yang dimaksud untuk memperkuat iman. Jadi, lama sebelum Nabi Muhammad menerima Kitab Suci yang diawali dengan kalimat: Bacalah dengan nama Tuhan dikau (96:1), beliau telah dikaruniai kepandaian membuat ramalan. Banyak sekali ramalan beliau yang disebutkan dalam Hadits, yang bukan merupakan bagian dari Kitab Suci Qur’an. Nabi tanpa kitab tak ada artinya, demikian pula Rasul tanpa risalah juga tak ada artinya. []
  44. Nabi Suci disuruh mengikuti petunjuk sekalian Nabi yang sudah-sudah, karena beliau Nabi untuk segenap bangsa yang dahulu pernah kedatangan Nabi. Oleh karena itu, pada penutup ayat ini Qur’an disebut sebagai juru ingat; ini menunjukkan bahwa Qur’an itu dimaksud untuk sekalian bangsa yang dahulu pernah menerima juru ingat. Sebenarnya Nabi Suci itu mewakili sekalian Nabi bangsa yang telah berlalu sebelum beliau; oleh karena itu beliau memiliki segala kemuliaan yang dahulu diberikan kepada masing-masing Nabi. []
  45. Kata qadr maknanya macam-macam. I’Ab mengartikan ayat ini: mereka tak menghargai Allah dengan penghargaan yang pantas diberikan kepada-Nya; Abu Al-‘Aliyyah mengartikan demikian: mereka tak menyifati Allah dengan sifat yang pantas bagi-Nya; dan Akhfash mengartikan demikian: mereka tak mengenal Allah sebagaimana mereka harus mengenal Dia (Rz). Kalimat Allah tak menurunkan apa-apa kepada manusia, berarti penyangkalan total terhadap pengejawantahan Allah kepada manusia, atau dapat pula berarti penyangkalan terhadap wahyu yang diturunkan kepada Nabi Suci, yang berulang-ulang disebutkan di dalam Qur’an sebagai basyar atau manusia biasa. Jawaban terhadap tuduhan mereka, mula-mula mengambil perkaranya orang-orang yang percaya kepada wahyu yang sudah-sudah, seperti kaum Yahudi dan Nasrani. Mereka diberitahu bahwa Tuhan yang telah menurunkan Kitab kepada Nabi Musa yang berisi ramalan tentang datangnya seorang Nabi yang seperti Nabi Musa, adalah juga Tuhan yang mengutus seorang Nabi yang seperti Nabi Musa untuk memenuhi ramalan tersebut. Baik kaum Yahudi maupun kaum Nasrani mempunyai kepercayaan bahwa Nabi yang diramalkan itu hingga saat ini belum muncul. Satu-satunya jawaban mereka terhadap ramalan yang terang benderang itu ialah, bahwa mereka tak menyebut-nyebut atau membicarakan ramalan itu sama sekali — dan kebanyakan kamu sembunyikan. Kendati orang tak percaya sedikit pun kepada wahyu, seperti halnya kaum penyembah berhala dari Arab, mereka tak dapat menyangkal adanya persamaan yang mencolok antara dua Nabi itu. Akan tetapi mereka diberitahu bahwa bukti tentang wahyu adalah dalam ilmu yang diberikan oleh Qur’an — kamu diajarkan apa yang kamu dan orang tua kamu tak tahu. []
  46. Qarathis jamaknya kata qirthas artinya kertas. Adapun yang dimaksud adalah, bahwa kitab itu ditulis di atas kertas yang berhamburan, sebagian diperlihatkan, dan sebagian lagi disembunyikan. Kitab itu tak utuh lagi, oleh sebab itu digambarkan sebagai lembaran-lembaran yang berhamburan. []
  47. Ummul-qurâ adalah julukan kota Makkah; adapun makna aslinya ibu kota. Mengapa kota Makkah disebut ummul-qura, ini bukanlah hanya disebabkan karena kota itu menjadi pusat pemerintahan dan pusat rohani Tanah Arab, melainkan pula karena kota itu menjadi pusat rohani dunia — ibu kota yang sebenarnya bagi seluruh dunia. []
  48. Tak ada kata-kata yang menunjukkan bahwa yang dituju ayat ini adalah nabi palsu yang mengaku Nabi menjelang berakhirnya hidup Nabi Suci, dengan demikian ayat ini diturunkan menjelang akhir di Madinah. Ayat ini hanyalah menerangkan, dengan bentuk kalimat yang berlainan, Kebenaran yang diuraikan dalam Surat ini, ayat 21, 144, 157 dan 39:32. Ini hanya menyatakan bahwa Nabi Suci bersih dari perbuatan membuat-buat kebohongan terhadap Allah. Kalimat: “atau berkata, Wahyu yang telah dianugerahkan kepadaku; padahal tak diturunkan wahyu apa pun kepadanya”, ini hanya menjelaskan kalimat sebelumnya, yakni: “orang yang membuat-buat kebohongan terhadap Allah”, sedangkan kalimat: “Aku dapat mewahyukan seperti apa yang diwahyukan oleh Allah”, adalah ucapan orang yang menolak beriman kepada kebenaran Wahyu Ilahi, atau “yang menolak” Wahyu Ilahi sebagaimana diuraikan di tempat lain. []
  49. Artinya, mereka yang kamu pertahankan sebagai sekutu Allah, tak dapat menolong kamu sedikit pun. []
  50. Nabi Suci dalam melaksanakan dakwah, dimisalkan sebagai orang yang menabur biji, yang walaupun kelihatannya hilang dalam tanah, tetapi tak lama kemudian tumbuh menjadi pohon yang besar. Mengeluarkan yang hidup dari yang mati ialah, mengeluarkan bangsa yang hidup dari Bangsa Arab yang mati rohaninya. Adapun mengeluarkan yang mati dari yang hidup, ini mengisyaratkan kematian rohani suatu bangsa, yang dahulu pernah dikaruniai kehidupan rohani melalui wahyu Ilahi. []
  51. Kegelapan yang merajalela di bumi akan segera dilenyapkan dan diganti dengan sinar terang; sama halnya seperti menyingsingnya pagi hari, gelap berganti terang. []
  52. Menurut literatur agama, bintang itu ibarat sinar kecil yang memberi petunjuk kepada manusia. Nabi Suci diibaratkan matahari, dan orang-orang yang menerima cahaya dari beliau dan melimpahkannya kepada orang lain, diibaratkan bintang. Ada satu Hadits yang berbunyi: “Para sahabatku bagaikan bintang; barangsiapa di antara mereka kamu ikuti, kamu mengikuti jalan yang benar” (Msh. 27:12). Hadits ini dapat dikiaskan seperti berikut: Tuhan yang menciptakan cahaya untuk memberi petunjuk kepada kamu di alam fisik, pasti tak akan lalai memberi petunjuk kepada kamu di alam rohani. []
  53. Mustaqar (tempat peristirahatan), berasal dari kata qarra artinya menetap, tetap di tempat, atau beristirahat, (kata istiqarra juga sama artinya). Mustauda’ (tempat menyimpan) berasal dari kata istauda’a artinya menitipkan harta untuk disimpan, atau dari wadu’a artinya menjadi tenang. Dua kata itu diterangkan oleh para mufassir dengan berbagai makna. Misalnya kata mustaqarr diartikan pinggang ayah, dan mustauda’ diartikan rahim ibu, yang berarti pria dan wanita (AH); atau kata mustaqarr berarti kehidupan dunia, dan mustauda’ berarti kuburan, sehingga kata-kata itu berarti, yang sebagian hidup dan sebagian lagi mati; atau kata mustaqarr berarti anugerah terakhir yang kekal, dan mustauda’ berarti bertinggal atau mempercayakan; bertinggal ialah hidup di dunia, dan mempercayakan ialah kembali kepada Tuhan (AH). []
  54. Yang diisyaratkan di sini ialah ajaran dualisme agama Majusi, yang mengira bahwa Allah ialah Yang menciptakan kebaikan, sedangkan setan yang menciptakan kejahatan, atau mungkin pula mengisyaratkan kepercayaan Bangsa Arab bahwa jin mempunyai kekuasaan mencampuri urusan manusia, atau dapat membuat nasib baik atau nasib buruk. Jadi, kata jin di sini berarti setan, dan dapat pula berarti jin. []
  55. Ayat ini dan ayat berikutnya melukiskan Maha-mulianya Ketuhanan Yang Maha-esa. Mengakukan anak laki-laki kepada Tuhan itu sama dengan mengakui bahwa Tuhan mempunyai istri; jika tidak, maka kata anak laki-laki hanya dapat diartikan sebagai kalam ibarat, lihatlah tafsir nomor 161. []
  56. Penglihatan mata wadag manusia hanya bekerja dalam batas-batas yang sempit, dan hanya melihat barang-barang wadag pula dan tak dapat menjangkau Tuhan Yang tak terbatas. Allah itu Yang Maha-halus, Yang hanya dapat dilihat oleh mata rohani. []
  57. Di sini kaum Muslimin dilarang mencaci-maki berhala yang disembah oleh umat lain, sekalipun penyembahan berhala itu dicela oleh Allah dengan kata-kata yang pedas. Dapat ditambahkan di sini bahwa pada waktu kota Makkah jatuh ke tangan Nabi Suci, pembersihan berhala dari Ka’bah tak bertentangan sama sekali dengan ayat ini, karena mencaci-maki berhala dan membasmi penyembahan berhala tidaklah sama.
    Perbuatan yang di sini dikatakan dibuat tampak indah bagi manusia, ialah perbuatan baik, yang betul-betul baik menurut pikiran dan kesadaran batin; bukan yang tampak baik menurut khayalan, sedang perbuatan itu sebetulnya tidak baik; lihatlah ayat 43 dan 138. []
  58. Nabi Suci masih berada di Makkah tatkala bermunculan banyak tanda bukti tentang kebenaran beliau, namun mereka tetap menuntut tanda bukti . Tampaknya yang diisyaratkan di sini ialah tanda bukti tertentu, yaitu tanda bukti tentang hancurnya kekuatan mereka. Jawaban atas tuntutan itu ialah, tanda bukti itu ada pada Allah. Kata-kata ini menerangkan seterang-terangnya bahwa tanda bukti yang mereka tuntut pasti akan datang dan Allah kuasa memperlihatkan segala macam tanda bukti. Namun mereka tak mau beriman. Tanda bukti pertama tentang hancurnya kekuatan kaum Quraisy terjadi dalam perang Badar, namun mereka tetap tak mau beriman. []
  59. Hati dan penglihatan mereka dibalikkan artinya Allah membiarkan mereka dalam keterlaluan mereka, sebagaimana diuraikan dalam ayat itu sendiri. Ini disebabkan perbuatan mereka sendiri; karena pada waktu kebenaran pertama kali datang kepada mereka, mereka menolak itu. Jika mereka menolak kebenaran dan mengambil sikap bermusuhan, hati mereka semakin jauh dari kebenaran, dan semakin jauh mereka dari kebenaran itulah yang disebut hati mereka dibalikkan. []
  60. Persoalan yang dibicarakan dalam ayat 111, dilanjutkan lagi di sini. Memang sebagian orang ada yang selalu mengambil sikap bermusuhan terhadap Kebenaran, sehingga mereka menutup telinga terhadap semua pembicaraan yang cukup beralasan; para pemimpin kejahatan semacam itulah yang dibicarakan dalam ayat ini; lihatlah ayat berikutnya. Turunnya malaikat berarti terlaksananya keputusan hukuman mereka. Orang-orang mati berbicara mengisyaratkan orang-orang yang mati rohaninya dihidupkan kembali (6:122), atau mengisyaratkan kesaksian orang-orang yang telah meninggal dunia sebelum Nabi Suci yang ditulis dalam catatan mereka. Yang dimaksud dikumpulkannya segala sesuatu ialah, dikumpulkannya segala sesuatu yang bertalian dengan hukuman mereka. Adapun artinya ialah, sebagian musuh Nabi Suci ialah begitu buta, sehingga tanda bukti yang paling terang pun tak dapat meyakinkan mereka. []
  61. Tampaknya yang dimaksud manusia dan jin di sini ialah, manusia biasa dan manusia pemimpin yang saling membisikkan cerita yang dibalut dengan kepalsuan. Lihatlah tafsir nomor 822 yang membahas kata jin dengan seterang-terangnya. []
  62. Di sini firman berarti ramalan; lihatlah tafsir nomor 770. []
  63. Untuk tegaknya ajaran Keesaan Ilahi yang menjadi tujuan Surat ini, perlu sekali dibasmi segala macam praktek penyembahan berhala, yang antara lain berupa penyembelihan binatang dengan menyebut nama suatu berhala. Ayat 119-122 membahas pokok persoalan yang membicarakan satu perintah supaya orang hanya memakan binatang yang disembelih dengan menyebut nama Allah. Kaum Muslimin diizinkan memotong binatang untuk dimakan, asalkan memenuhi syarat yang digariskan di sini, yaitu jika binatang disembelih, harus disebut nama Allah. Tak sangsi lagi bahwa pencabutan nyawa, sekalipun itu nyawa binatang, mencerminkan kurang adanya rasa hormat terhadap kehidupan; namun itu diizinkan oleh Allah, karena pekembangan jasmani manusia memerlukan sekali makan daging binatang. Tetapi sekalipun ini diizinkan, orang harus memenuhi suatu syarat, yaitu pada waktu binatang itu disembelih, harus menyebut nama Allah. Ini dimaksud untuk mengingatkan manusia bahwa tindakan ini hanya diperbolehkan atas izin Allah demi memenuhi kebutuhan yang amat penting. Jadi, perintah membasmi segala macam penyembahan berhala, ini didasarkan atas alasan-alasan moral, dan pula, sebagai tindakan keamanan terhadap berkembangnya kebiasaan kurang menaruh hormat terhadap kehidupan, yang ini merupakan aspek yang menyedihkan dalam perkembangan peradaban materialisme zaman sekarang.
    815a Yang dimaksud disini ialah apa yang disebutkan dalam wahyu permulaan, yaitu tentang diharamkannya bangkai dan darah, dan daging babi dan binatang yang disembelih dengan disebut selain nama Allah; lihatlah 16:115. Persoalan ini disebutkan lagi dalam ayat 146 di Surat ini dan dalam 2:173, dan disebutkan lebih terperinci lagi dalam 5:3. Dua Surat belakangan ini adalah wahyu Madaniyah. []
  64. 815b Hanya pandangan moral yang sangat rendah saja yang menganggap bahwa yang harus dibenci hanyalah dosa terhadap masyarakat. Di sini kaum Muslimin disuruh supaya membenci semua dosa, baik dosa lahir maupun dosa batin. Sebenarnya, yang menjalankan dosa lahir itu masih kecil jumlahnya dibandingkan dengan orang yang bersalah karena menjalankan dosa batin.
    Menurut ayat ini, kaum Muslimin hanya diizinkan makan daging binatang yang disembelih dengan disebut nama Allah. Akan tetapi di dalam 5:5, kaum Muslimin diizinkan makan daging makanan kaum Ahli Kitab, yang menurut Hadits diartikan binatang yang disembelih oleh kaum Ahli Kitab. Satu-satunya syarat yang ditambahkan hanyalah demikian: “Apabila terdengar bahwa orang yang menyembelih binatang itu menyebut nama selain Allah, dagingnya tak boleh dimakan; tetapi apabila tak terdengar, dagingnya dihalalkan bagi kaum Muslimin untuk dimakan” (Bu. 72:22). Oleh sebab itu, kebanyakan mufassir memberi tafsiran bahwa yang dilarang hanyalah memakan daging binatang yang disembelih dengan disebut selain nama Allah. Lihatlah tafsir nomor 666. []
  65. Ayat ini menjelaskan ayat-ayat yang menerangkan “menghidupkan orang-orang mati” yang dilakukan oleh para Nabi. Adapun yang diisyaratkan di sini ialah perubahan besar yang dilaksanakan oleh Qur’an Suci. Mereka yang sudah mati bukan saja dihidupkan kembali, melainkan pula mereka memperoleh cahaya yang dengan cahaya itu mereka dapat menunjukkan jalan kepada orang lain. Penutup ayat ini menerangkan bahwa sekalipun mereka melihat dengan mata kepala sendiri terlaksananya perubahan besar, namun para pemimpin musuh tetap memusuhi Kebenaran, seakan-akan itu perbuatan baik. []
  66. []
  67. Orang-orang kafir berkata: Jika Allah betul-betul berkenan menurunkan ayat-Nya, mengapa tak diturunkan langsung kepada masing-masing orang? Ini dijawab bahwa masing-masing orang tak pantas berhubungan langsung dengan Allah; selain itu, Allah hanya akan menurunkan ayat-Nya kepada orang yang pantas menerimanya. []
  68. []
  69. Kata penutup ayat ini menerangkan bahwa hati yang kotor yang membuat dadanya sesak dan sempit seakan-akan ia naik ke langit, ini disebabkan karena ia tak beriman dan menolak Kebenaran. []
  70. Kata jin berasal dari kata janna artinya menutupi atau menyelubungi atau menyembunyikan atau melindungi. Golongan makhluk yang disebut jin menurut Qur’an berarti roh jahat atau makhluk yang mengajak manusia ke arah kejahatan, berlawanan dengan malaikat yang mengajak manusia ke arah kebaikan; baik jin maupun malaikat, dua-duanya tak dapat dilihat oleh mata manusia. Tetapi baik dalam kesusasteraan Arab maupun dalam Qur’an Suci, kata jin digunakan dalam arti yang lebih luas lagi. Salah satu arti kata ini diterangkan dalam tafsir nomor 2580, dan kepada para pembaca, kami persilahkan membaca tafsir tersebut. Tetapi dalam Qur’an, kata itu diterapkan pula terhadap penguasa dan pemimpin yang karena kedudukannya yang amat penting, dan terpisahnya dari rakyat biasa, terpaksa tak bebas bergaul dengan mereka, sehingga senantiasa jauh atau “tersembunyi dari penglihatan mereka”. Penggunaan kata jin yang oleh LL berdasarkan keterangan Tabrizi tentang Ham, diterangkan: “Dan sahabatku yang seperti jin tak melarikan diri pada waktu aku datang kepadanya dan memberitahukan kepadanya”. Di sini kata jin diterjemahkan sahabat yang seperti jin. Lebih lanjut Tabrizi berkata: “Orang yang cakap dan pandai mengurus perkara, dipersamakan oleh Bangsa Arab dengan jin atau setan”. Oleh sebab itu, ada pepatah Arab: nafarat jinnuhu, yang makna aslinya jin-nya lari, tetapi yang dimaksud ialah ia menjadi lemah dan hina. Oleh karena itu, seorang kawan, yang tanpa pertolongannya ia akan lemah dan hina, ia disebut jin.
    Apakah yang dimaksud gerombolan jin di sini dan jin dalam ayat 130? Jika ayat ini kita baca bersama ayat berikutnya, artinya jelas. Dalam ayat ini dikatakan bahwa jin itu kawan manusia; dalam ayat 129 sebagai kelanjutan masalah ini dikatakan, bahwa orang-orang lalim berkawan satu sama lain, sedang dalam ayat 130 dikatakan bahwa jin dan manusia adalah satu ma’syar atau satu gerombolan; lihatlah tafsir nomor 824.
    Selanjutnya dalam ayat 131 dikatakan, bahwa jin itu tiada lain hanyalah para penduduk kota yang dibinasakan karena dosa mereka, dan kita tahu bahwa jin yang berdiam di kota adalah manusia. Jadi hubungan ayat di muka dan di belakangnya menunjukkan seterang-terangnya bahwa yang dimaksud jin ialah para pemimpin kejahatan, sebagaimana kata syaithan dalam 2:14 berarti para pemimpin. Lihatlah tafsir nomor 26. []
  71. Kalimat kecuali apa yang Allah kehendaki mengandung arti bahwa para penghuni Neraka akhirnya akan dikeluarkan dari sana. Lihatlah tafsir nomor 1201 yang membahas masalah ini seterang-terangnya.. []
  72. Ma’syar artinya masyarakat yang urusannya satu dan sama jamâ’atun amruhum wâhidin. Jadi, kata-kata ma’âsyaral-muslimîn, artinya masyarakat Islam (L). Jadi, dengan menyebut jin dan manusia sebagai satu masyarakat, Qur’an menunjukkan seterang-terangnya bahwa jin dan manusia yang disebutkan di sini, bukanlah golongan makhluk yang berlainan. Selain itu, di sini dikatakan bahwa telah datang kepada mereka para Utusan dari golongan mereka, yaitu golongan jin dan manusia. Tetapi oleh karena para Utusan yang diterangkan dalam Qur’an dan sejarah para Nabi yang dapat dipercaya, adalah dari golongan manusia, maka jin yang diterangkan dalam ayat ini adalah dari golongan manusia, bukan dari golongan makhluk lain. []
  73. Yaitu pada waktu mereka belum kedatangan juru ingat dan peringatan. Atau ayat ini berarti bahwa suatu bangsa tak akan dibinasakan karena mereka lengah; hanya bangsa yang lalim dan berbuat kerusakan di bumi sajalah yang akan ditimpa siksaan Tuhan di dunia ini pula. []
  74. 825a Perhatikanlah bagaimana kaum penyembah berhala Quraisy dalam ayat ini dan ayat sebelumnya diberitahu dengan sungguh-sungguh bahwa kekuasaan mereka di negeri mereka akan hilang, dan akan dibangkitkan umat lain sebagai pengganti mereka, demikian pula segala musuh kebenaran yang sombong.
    Sudah menjadi kebiasaan kaum penyembah berhala Arab untuk menyisihkan sebagian dari hasil ladang dan ternak mereka, sebagian untuk Allah dan sebagian untuk berhala mereka. Bagian untuk berhala selalu disajikan kepadanya, tetapi bagian untuk Allah, walaupun biasanya untuk memberi makan pada kaum fakir miskin, namun dalam hal tertentu — misalnya, apabila bagian untuk berhala karena suatu hal, menjadi rusak — bagian untuk Allah dipindahkan untuk berhala (I’Ab, Rz). Adapun bagian untuk berhala selalu diserahkan kepada para pendeta. []
  75. []
  76. Ayat ini mengisyaratkan kebiasaan membunuh atau menanam hidup-hidup anak perempuan (Rz), demikian pula mengisyaratkan kurban manusia yang dikurbankan kepada berhala karena mereka kadang-kadang bernazar: “apabila mereka mempunyai banyak anak laki-laki, maka salah satu di antara mereka dikurbankan untuk berhala (Kf). []
  77. Dengan dikemukakannya kepercayaan takhayul dan adat istiadat yang buruk ini, mereka membikin kabur agama yang benar, yaitu agama Tauhid yang hanya mengabdi kepada Tuhan Yang Maha-esa. []
  78. Hanya kaum pria penyembah berhala sajalah yang diperbolehkan makan daging ternak dari hasil tanaman, sedangkan wanita tak diperbolehkan. []
  79. Adapun yang dimaksud ialah binatang bahirah, sa’ibah dan sebagainya. Lihat tafsir nomor 742. []
  80. Yaitu binatang yang dikurbankan atas nama berhala. Ini dan apa yang diterangkan dalam dua ayat berikutnya, harus dibasmi semua, ini adalah adat-istiadat penyembahan berhala. []
  81. Kata ukul di sini, dan dalam 2:265 dan 13:35, sama dengan kata tsamar (TA), artinya buah-buahan. []
  82. Kata farsy (dari kata farasya maknanya menggelar), artinya, apa yang terbentang; tetapi menurut para mufassir dan para ahli kamus, yang dimaksud di sini ialah binatang sembelihan, karena binatang itu dilempar ke tanah dikala hendak dipotong (T, LL). Kata hamulah (dari kata hamala maknanya mengangkut muatan) artinya, binatang angkutan. Binatang farsy tepatnya untuk sembelihan, bukan untuk mengangkut muatan, oleh sebab itu diistimewakan, tetapi hamulah mempunyai dwiguna (sebagai binatang angkutan dan pula sembelihan). Hal ini diterangkan dalam kalimat berikutnya — makanlah apa yang Allah rezekikan kepada kamu. []
  83. Ternak yang diuraikan dalam ayat sebelumnya delapan (ekor binatang ternak) berpasangan, dengan menggolongkan sendiri-sendiri yang jantan dan yang betina, dan ini diperinci dalam ayat 144 dan 145. Bangsa Arab menganggap binatang ini, yang semestinya halal bagi mereka, dalam hal-hal tertentu dibuat pantangan. Adat istiadat takhayul yang timbul karena penyembahan berhala itu di sini dikecam. []
  84. Larangan yang diuraikan di sini diterangkan pula sebab musababnya mengapa diharamkan. Bangkai, darah dan daging babi diharamkan, karena semua itu kotor; tetapi diharamkannya binatang yang disembelih dengan tak disebut nama Allah, itu berlainan sebabnya, yaitu fisq artinya melanggar perintah. Tuhan memerintahkan supaya menjauhi segala sesuatu yang ada hubungannya dengan berhala. Adapun kotornya tiga jenis barang tersebut di atas ialah karena tiga jenis barang itu berpengaruh buruk terhadap kecerdasan, jasmani dan akhlak manusia, sedangkan pendurhakaan berpengaruh buruk terhadap rohani. []
  85. Menurut I’Ab, yang dimaksud binatang berkuku ialah unta atau burung unta. Rz berpendapat bahwa arti kata dzufr di sini ialah kuku atau cakar. Menurut Mjd dan Qtd kata dzi dzufr artinya semua binatang dan burung yang telapak kakinya tak membelah, seperti Unta, burung unta, angsa dan itik (T, LL). Diharamkannya daging unta bagi kaum Yahudi merupakan rahmat bagi mereka, sekalipun bagi yang melanggar larangan itu diancam hukuman. Kaum Yahudi, karena tak taat kepada Nabi Musa, terpaksa lama sekali mengembara di padang pasir. Selama mereka mengembara di padang pasir, satu-satunya alat angkut yang paling utama bagi mereka adalah unta. []
  86. “Jangan kamu makan lemak lembu atau domba atau kambing” (Kitab Imamat Orang Lewi 7:23). []
  87. Rahmat Allah yang maha luas senantiasa disebutkan, sekalipun yang dibicarakan ialah orang yang menolak Nabi Suci. Justru karena rahmat Allah itulah, maka kaum kafir tak segera dibinasakan, tetapi oleh karena hukuman terhadap “orang jahat” dengan sendirinya rahmat bagi kaum lemah dan kaum tertindas, mereka diperingatkan bahwa mereka tak dapat lolos dari siksaan Tuhan, jika mereka berkeras kepala melakukan kejahatan. []
  88. Ayat sebelumnya menguraikan ucapan kaum kafir: “Jika Allah menghendaki kami tak akan musyrik” . Ini dijawab, bahwa Allah mewahyukan kehendak-Nya melalui para Utusan pilihan-Nya, maka kemukakanlah wahyu Ilahi yang kamu punyai yang membenarkan penyembahan berhala. Uraian itu dilanjutkan lagi di sini. Allah tak pernah menyesatkan manusia, malahan sebaliknya Allah mengutus para Nabi untuk memimpin manusia pada jalan yang benar. Oleh karena itu, yang Ia sukai ialah agar semua orang mau berjalan di jalan yang benar dan hanya mengabdi kepada Tuhan Yang Maha-esa. Bukankah ini bukti yang meyakinkan untuk menentang pengakuan para penyembah berhala yang salah? Selain itu, pimpinan Allah itu dibawa oleh para Nabi, dan tak seorang pun dipaksa untuk menerima pimpinan itu; lebih-lebih jalan yang sesat, pasti mereka tak dapat dipaksa untuk mengikutinya, sebagaimana dikira oleh para penyembah berhala. Manusia itu dalam batas-batas tertentu diciptakan dengan kemauan bebas untuk berbuat menurut apa yang ia sukai. []
  89. Artinya, kecuali jika kamu mengerjakan ini dengan niat untuk memperbaiki harta anak yatim dan membuat untung. Upah wali anak yatim dapat diambil dari harta anak yatim. Lihatlah 4:6 dan tafsir nomor 543. []
  90. Islam mewajibkan kepada para pemeluknya supaya berlaku adil yang tak dapat digoyahkan karena pertalian keluarga. Kebenaran tak boleh dikorbankan untuk suatu kepentingan, sebaliknya setiap kepentingan itulah yang harus dikorbankan untuk Kebenaran. []
  91. Yang dimaksud segala sesuatu di sini ialah segala sesuatu yang diperlukan untuk pimpinan Bani Israil. []
  92. Hendaklah diingat bahwa oleh karena Qur’an disebutkan bersama-sama Kitab Suci yang sudah-sudah, maka di sini ditambahkan kata mubarak yang artinya berkah yang selama-lamanya dimiliki oleh suatu barang. Adapun tujuannya ialah untuk menunjukkan bahwa Qur’an tetap menjadi sumber berkah bagi kaum Muslimin untuk selama-lamanya, sedang berkah dari Kitab Suci yang sudah-sudah telah habis waktunya. []
  93. Oleh karena Tanah Arab hanya didiami kaum Yahudi dan Nasrani disamping kaum penyembah berhala, maka Bangsa Arab hanya menyebut dua bangsa itu saja yang diberi Kitab. []
  94. Pernyataan seperti ini lihatlah 2:210 dan tafsir nomor 268. Dan lihatlah pula tafsir nomor 812. Kalimat seperti ini tercantum pula dalam 16:33: “Mereka tak menantikan apa-apa selain datangnya malaikat kepada mereka, atau datangnya perintah Tuhan dikau”. Tetapi dalam ayat ini hanya disebut atau datangnya Tuhan dikau. Jadi datangnya Tuhan sama artinya dengan datangnya perintah Tuhan, atau terlaksananya keputusan Tuhan, yaitu hancurnya para musuh. Datangnya malaikat artinya hukuman kecil, atau penderitaan yang dialami oleh musuh dalam pertempuran yang mereka lancarkan untuk menghancurkan Islam, yang ini terang-terangan disebut turunnya malaikat; lihatlah 3:124-125 dan 8:9. []
  95. Datangnya malaikat dan datangnya Tuhan mengandung arti terlaksananya hukuman Tuhan; tetapi apakah yang dimaksud dengan datangnya sebagian tanda bukti Tuhan dikau? Menurut Hadits, ayat ini mengisyaratkan adanya tanda-tanda yang mendahului datangnya Hari Kiamat, misalnya munculnya Dajjal dan datangnya Al-Masih, dan tanda-tanda lain lagi. Tetapi ada satu kesukaran untuk menerima ini sebagai tafsirnya ayat ini. Menurut para mufassir, datangnya Masih Mau’ud adalah pertanda adanya kebangkitan rohani secara besar-besaran yang dilaksanakan oleh beliau di dunia, yang dengan kata lain, berarti menangnya agama Islam; tetapi di sini hanya dikatakan bahwa apabila sebagian tanda bukti Tuhan datang, iman tak akan berfaedah lagi bagi seseorang. Satu-satunya keadaan yang iman tak ada faedahnya bagi seseorang ialah, apabila orang mendekati mati. Oleh sebab itu, kami berpendapat bahwa yang dimaksud datangnya “sebagian tanda bukti Tuhan dikau” ialah tanda-tanda apabila orang mendekati mati. Matinya seseorang disebut juga kiamat sugra: “Barangsiapa mati, terjadilah kiamat” (Maj. 26:6). []
  96. Ayat ini terutama sekali ditujukan kepada kaum Yahudi dan Nasrani, tetapi mencakup pula sekte-sekte agama yang memecah belah keutuhan agama mereka, yang dipecah menjadi beberapa sekte, yang saling menghabiskan tenaga untuk bercekcok satu sama lain yang seharusnya mereka memajukan kepentingan bersama. []
  97. Tak ada kitab suci lain selain Qur’an yang begitu menonjol dalam mengemukakan sifat kemurahan Tuhan yang berlimpah-limpah. Perbuatan buruk memang akan dibalas dengan keburukan pula, namun hanya setimpal dengan keburukan itu, tetapi perbuatan baik diganjar sepuluh kali lipat. Menurut Hadits Nabi, perbuatan buruk akan diampuni atau diberi hukuman yang setimpal, tetapi perbuatan baik diganjar sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus (B. 81:33). Jadi, ayat ini hanya menyebut hukuman maksimum bagi perbuatan buruk, dan ganjaran minimum bagi perbuatan baik. []
  98. Pengertian berserah diri sepenuhnya (aslama) kepada Allah, yang tersimpul dalam perkataan Islam, ini terjelma dengan sempurna dalam diri Nabi Suci, yang menjadi permulaan kaum Muslim (ayat 163). Ada berbagai motif yang mendorong manusia untuk melakukan perbuatan, misalnya cinta kepada diri sendiri, kepada istri dan anak, kepada handai taulan dan kaum kerabat, kepada nusa dan bangsa, tak sangsi lagi bahwa semakin luhur, semakin suci dan semakin mulia sesuatu yang dituju, semakin mulia pula perbuatan yang dilakukan; tetapi di atas semua itu, bahkan di atas tujuan yang paling tinggi yang dicita-citakan oleh manusia, adalah kecintaan manusia kepada Tuhan. Mungkin perbuatan yang dilakukan itu ditujukan untuk kebahagiaan diri sendiri, atau kebahagiaan orang yang amat dicintainya, atau untuk kemakmuran nusa dan bangsa, tetapi perbuatan yang dilakukan itu harus bersumber atau berlandaskan cinta kepada Tuhan; hanya demikian itulah perbuatan tanpa pamrih dan perlakuan adil terhadap sesama makhluk dapat terlaksana. Inilah tujuan hidup yang paling tinggi, dan tiap-tiap orang Islam diajarkan supaya mencita-citakan hidup yang paling tinggi itu. Ia diajarkan supaya selalu berdoa agar menggunakan kata-kata yang tercantum dalam ayat ini pada tiap-tiap permulaan shalat (iftitah). Bedanya, dalam doa iftitah, kalimat penutup berbunyi: wa ana minal-muslimîn artinya aku adalah golongan orang yang berserah diri, sedangkan dalam ayat 163, karena melukiskan Nabi Suci, maka diakhiri dengan kalimat: ana awwalul-muslimîn, artinya aku adalah permulaan orang yang berserah diri. []
  99. Kalimat “Dan tiada orang yang memikul beban, akan memikul beban orang lain” adalah firman Qur’an yang menolak doktrin Kristen tentang penebusan dosa. Di tempat lain, terdapat ayat yang berbunyi: “Tiada orang yang memikul beban, akan memikul beban orang lain, dan manusia tak dapat memperoleh apa-apa selain apa yang ia usahakan” (53:38-39). Setiap orang yang dilahirkan disebut yang memikul beban,ini bukan karena ia berdosa, melainkan karena ia memulai hidupnya dengan tanggungjawab yang harus ia pikul sendiri. Pernyataan bahwa Yesus Kristus memasuki hidupnya tanpa tanggungjawab yang harus beliau pikul, ini tak ada dasarnya. Jika kita mau mempelajari hidup beliau, tampak sekali adanya rasa tanggungjawab, dan tampak pula adanya perhatian beliau terhadap tanggungjawab tersebut. []
  100. Karena kaum Muslimin mempunyai cita-cita hidup yang amat tinggi, di sini mereka diberitahu bahwa mereka akan dijadikan penguasa di bumi. Tetapi keunggulan mereka di atas umat lain-lainnya bukanlah disebabkan kejayaan atau kekuasaan politik, melainkan karena mereka berserah diri sepenuhnya kepada Allah, sehingga shalat mereka dan pengorbanan mereka bukanlah untuk nusa dan bangsa, melainkan untuk Allah, yaitu Rabb, Yang memelihara sekalian umat manusia sampai sempurna. Oleh sebab itu, kaum Muslimin amat memperhatikan perbaikan seluruh umat manusia. Namun pada akhir ayat, mereka diberitahu bahwa apabila mereka jatuh dan mengikuti jalan kejahatan, mereka akan dihukum, walaupun akhirnya mereka akan ditolong oleh Tuhan Yang Maha-pengampun dan Maha-pengasih.[] []

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *