Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home / Al-Quran / 021 Al Anbiya

021 Al Anbiya

JUZ XVII

SURAT 21

Al-Anbiyâ’: Para Nabi

(Diturunkan di Makkah, 7 ruku’, 112 ayat)

Mukaddimah Surah Buka

Ruku’ 1: Keputusan sudah dekat

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih.   1. Sudah dekat bagi manusia perhitungan mereka, sedangkan mereka berpaling, tak menghiraukan.   2. Tiada datang kepada mereka Peringatan baru dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarkan itu sambil bermain-main.   3. Hati mereka menganggap remeh. Dan orang-orang lalim berbicara dengan rahasia: Bukankah dia hanya manusia biasa seperti kamu? Apakah kamu akan menyerah begitu saja kepada sihir sedangkan kamu tahu?   4. Ia berkata: Tuhanku tahu (tiap-tiap) percakapan, baik di langit maupun di bumi. Dan Ia adalah Yang Maha-mendengar, Yang Maha-tahu.   5. Malahan mereka berkata: Impian yang kalut! Tidak, ia membuat-buat kebohongan; tidak, ia malahan penyair. Maka suruhlah dia membawa tanda bukti kepada kami, sebagaimana (para Nabi) yang sudah-sudah diutus (untuk membawa itu).1611   6. Sebelum mereka tiada kota yang Kami binasakan mau beriman; lalu apakah mereka akan beriman?1612   7. Dan tiada Kami mengutus sebelum engkau, kecuali hanya laki-laki yang Kami berikan wahyu kepada mereka; maka tanyakanlah kepada para penganut Peringatan jika kamu tak tahu.   8. Dan Kami tak membuat bagi mereka tubuh yang tak makan makanan, dan tak pula mereka kekal.1613   9. Lalu Kami tepati janji Kami kepada mereka; maka Kami menyelamatkan mereka dan orang-orang yang Kami kehendaki; dan Kami binasakan orang-orang yang melebihi batas.   10. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada engkau sebuah Kitab yang memberi kemuliaan kepada kamu. Apakah kamu tak mengerti?1614

Ruku’ 2: Kebenaran pasti menang

11. Dan sudah berapa kota yang Kami hancurkan yang (penduduknya) lalim, dan sesudah itu Kami bangkitkan kaum yang lain.   12. Maka sesudah mereka merasakan siksaan Kami, tiba-tiba mereka lari dari-padanya.   13. Janganlah kamu lari dan kembalilah kepada kehidupan yang bahagia, dan kepada tempat tinggal kamu, agar kamu ditanya.   14. Mereka berkata: Oh, celaka kami ini! Sesungguhnya kami ini orang yang lalim.   15. Dan tak henti-hentinya mereka menyeru, sampai mereka Kami jadikan seperti ladang yang diketam, punah.1615   16. Dan Kami tak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya, untuk main-main.1616   17. Sekiranya Kami menghendaki untuk mengambil hiburan, niscaya Kami mengambil itu dari hadapan Kami sendiri, Kami tak sekali-kali melakukan itu.1617   18. Tidak, malahan Kami lemparkan Kebenaran menghantam kepalsuan, maka pecahlah kepalanya, maka tiba-tiba lenyaplah itu.1618 Dan alangkah celaka kamu karena apa yang kamu lukiskan!   19. Dan siapa saja yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Dan orang-orang yang berada di sisi-Nya tak sombong untuk mengabdi kepada-Nya, dan tak pula jemu.   20. Mereka memahasucikan (Dia) malam dan siang tanpa kelemahan sedikit pun.   21. Apakah mereka mengambil tuhan dari bumi yang dapat memberi hidup?1619   22. Sekiranya di sana (langit dan bumi) ada tuhan selain Allah, niscaya itu akan kacau. Maha-suci Allah, Tuhannya Singgasana, di atas apa yang mereka lukiskan.1620   23. Ia tak dapat ditanya tentang apa yang Ia kerjakan, tetapi merekalah yang ditanya.   24. Apakah mereka mengambil tuhan selain Dia? Katakan: Bawalah tanda bukti kamu. Ini adalah peringatan bagi orang yang menyertai aku dan peringatan bagi orang sebelumku.1621 Tidak, malahan kebanyakan mereka tak tahu Kebenaran, maka mereka berpaling.   25. Dan tiada Kami mengutus Utusan sebelum engkau melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tak ada tuhan selain Aku, maka mengabdilah kepada-Ku.1622   26. Mereka berkata: Tuhan Yang Maha-pemurah memungut putra. Maha-suci Dia. Tidak, malahan mereka hamba yang terhormat.1623   27. Mereka tak mendahului Dia dalam pembicaraan, dan mereka berbuat sesuai dengan perintah-Nya.1624   28. Ia tahu apa yang ada di depan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, dan mereka tak memberi syafa’at kecuali terhadap orang yang Ia berkenan (kepadanya), dan mereka gemetar karena takut kepada-Nya.   29. Dan barangsiapa di antara mereka yang berkata: sesungguhnya aku adalah tuhan selain Dia, maka orang semacam itu akan Kami balas dengan Neraka. Demikianlah Kami membalas orang-orang yang lalim.

Ruku’ 3: Kebenaran Wahyu

30. Apakah orang-orang kafir tak tahu bahwa langit dan bumi itu dahulu tertutup, lalu itu Kami belah.1625 Dan Kami membuat dari air1626 segala sesuatu yang hidup. Apakah mereka tak akan beriman?   31. Dan di muka bumi Kami buat gunung-gunung yang kokoh agar (bumi) itu tak goncang, dan di sana Kami buat jalan yang lebar, agar mereka mengikuti jalan yang benar.1627   32. Dan Kami membuat langit sebagai atap yang terjaga; namun mereka berpaling dari tanda bukti itu.1628   33. Dia ialah Yang menciptakan malam dan siang dan matahari dan bulan. Semuanya mengapung pada garis orbitnya.   34. Dan tiada Kami menciptakan manusia sebelum engkau itu kekal. Apakah jika engkau mati, mereka itu kekal?   35. Tiap-tiap jiwa pasti merasakan mati. Dan Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kepada Kami kamu akan dikembalikan.1629   36. Dan apabila orang-orang kafir melihat engkau, tiada mereka memperlakukan engkau kecuali dengan olok-olok: Inikah orang yang berbicara tentang tuhan kamu? Dan mereka mengafiri pada waktu disebut nama Tuhan Yang Maha-pemurah.1630   37. Manusia itu diciptakan dari tergesa-gesa.1631 Aku akan memperlihatkan tanda bukti-Ku kepada kamu, maka janganlah kamu minta agar Aku mempercepat itu.1632   38. Dan mereka berkata: Bilamana ancaman ini dijatuhkan, jika kamu orang yang tulus?1633   39. Sekiranya orang-orang kafir tahu mereka tak mampu mengelakkan api dari wajah mereka dan dari punggung mereka, dan mereka tak akan ditolong.   40. Tidak, malahan itu akan mendatangi mereka dengan tiba-tiba dan membuat mereka tercengang, maka mereka tak mempunyai kekuatan untuk menolak itu, dan mereka tak diberi tangguh.   41. Dan sesungguhnya para Utusan sebelum engkau telah diperolok-olokkan; maka orang-orang yang mengejek di antara mereka telah ditimpa oleh apa yang mereka gunakan untuk mengolok-olok.1634

Ruku’ 4: Allah memperlakukan manusia dengan kasih sayang

42. Katakan: Siapakah yang akan menjaga kamu malam dan siang dari Tuhan Yang Maha-pemurah?1635 Tidak, malahan mereka berpaling dari mengingat-ingat Tuhan mereka.   43. Atau apakah mereka mempunyai tuhan yang dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Kami? (Tuhan-tuhan) itu tak mampu menolong diri sendiri dan tak dapat pula dipertahankan dari (siksaan) Kami.   44. Tidak, malahan Kami telah memberi perbekalan kepada mereka dan ayah-ayah mereka, sampai-sampai usia mereka diperpanjang. Apakah mereka tak melihat bahwa Kami mendatangi bumi, dengan mengurangi itu dari tepi-tepinya? Dapatkah mereka mencapai kemenangan   45. Katakanlah: Aku hanya memperingatkan kamu dengan Wahyu. Orang yang tuli tak mendengar panggilan bila mereka diberi peringatan.   46. Dan apabila letusan siksaan dari Tuhan dikau menimpa mereka, mereka akan berkata: Aduh, celaka sekali kami ini! Sesungguhnya kami ini orang yang lalim.   47. Dan Kami meletakkan neraca yang adil pada hari Kiamat, maka tak ada jiwa yang diperlakukan tak adil sedikit pun. Dan jika itu hanya seberat biji sawi, Kami akan mendatangkan itu. Dan sudah cukup bagi Kami sebagai Tuhan Yang membuat perhitungan.   48. Dan sesungguhnya Musa dan Harun telah Kami beri Pemisah dan Cahaya dan Peringatan bagi orang yang menjaga diri dari kejahatan.1636   49. (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan mereka dengan diam-diam, dan mereka takut akan Hari Kiamat.   50. Dan inilah Peringatan yang diberkahi yang Kami turunkan. Apakah kamu menolak itu?

Ruku’ 5: Nabi Ibrahim diselamatkan

51. Dan sesungguhnya Kami dahulu telah memberi kejujuran kepada Ibrahim, dan Kami tahu benar akan dia.1637   52. Tatkala ia berkata kepada ayahnya dan kaumnya: Arca-arca apakah ini, yang kamu setia menyembahnya?   53. Mereka berkata: Kami menemukan ayah-ayah kami menyembah itu.   54. Ia berkata: Sesungguhnya kamu dan ayah-ayah kamu selalu berada dalam kesesatan yang nyata.   55. Mereka berkata: Apakah engkau membawa Kebenaran untuk kami, ataukah engkau golongan orang yang main-main.   56. Ia berkata: Tidak, malahan Tuhan kamu Tuhannya langit dan bumi, Yang telah menciptakan itu; dan aku adalah orang yang menjadi saksi atas itu.   57. Dan demi Allah! Aku pasti merencanakan perlawanan terhadap berhala-berhala kamu setelah kamu pergi meninggalkan.   58. Maka ia hancurkan berhala itu kecuali pembesarnya; boleh jadi mereka kembali kepadanya.1638   59. Mereka berkata: Siapakah yang melakukan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya ia adalah golongan orang yang lalim.   60. Mereka berkata: Kami mendengar seorang pemuda yang disebut Ibrahim, berbicara tentang (berhala) itu.   61. Mereka berkata: Bawalah dia kemari di hadapan penglihatan manusia, agar mereka menyaksikan.   62. Mereka berkata: Wahai Ibrahim, apakah engkau yang melakukan ini terhadap tuhan-tuhan kami?   63. Ia berkata: Sesungguhnya (seseorang) telah melakukan itu. Ini pembesarnya, maka tanyakanlah kepadanya jika mereka dapat bicara.1639   64. Maka mereka kembali kepada diri sendiri dan berkata: Sesungguhnya kamu adalah orang yang lalim.   65. Lalu kepala mereka ditundukkan ke bawah,1640 (Ucapnya): Sesungguhnya engkau tahu bahwa berhala-berhala itu tak dapat bicara.   66. Ia berkata: Apakah kamu mengabdi kepada selain Allah yang tak dapat menguntungkan kamu dan tak pula merugikan kamu sedikit pun?   67. Cih kamu, dan (cih) apa yang kamu sembah selain Allah. Apakah kamu tak berakal?   68. Mereka berkata: Bakarlah dia, dan tolonglah tuhan kamu, jika kamu ingin berbuat sesuatu.   69. Kami berfirman: Wahai api, jadilah engkau dingin dan damai bagi Ibrahim.1641   70. Mereka berkehendak membuat rencana untuk melawan dia, tetapi Kami membuat mereka menderita rugi.1642   71. Dan Kami menyelamatkan dia dan Luth ke daerah yang Kami berkahi bagi sekalian bangsa.   72. Dan kepadanya Kami berikan Ishak; dan Ya’qub, cucunya. Dan semuanya Kami jadikan orang yang saleh.   73. Dan mereka Kami jadikan pemimpin (umat) dengan perintah Kami; dan Kami wahyukan kepada mereka supaya berbuat baik, menetapi shalat dan membayar zakat; dan hanya kepada Kami mereka mengabdi.   74. Dan Luth, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu, dan Kami menyelamatkan dia dari kota yang menjalankan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka itu kaum yang jahat, durhaka.   75. Dan ia (Luth) Kami masukkan dalam rahmat Kami. Sesungguhnya ia adalah golongan orang yang saleh.

Ruku’ 6: Allah selalu menyelamatkan para Nabi

76. Dan Nuh, tatkala dahulu ia menyeru, dan seruannya Kami ijabahi, maka ia dan orang-orangnya Kami selamatkan dari malapetaka yang besar.   77. Dan Kami menolong dia dari kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka mereka Kami tenggelamkan semua.   78. Dan Daud dan Sulaiman, tatkala mereka menjatuhkan keputusan tentang ladang, tatkala pada suatu malam, kambingnya suatu kaum berkeliaran di sana, dan Kami menyaksikan keputusan mereka.1643   79. Maka Kami memberi pengertian tentang itu kepada Sulaiman. Dan kepada mereka masing-masing Kami beri hikmah dan ilmu. Dan kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud.1644 Dan Kami adalah Yang melakukan itu.   80. Dan Kami mengajarkan kepadanya pembuatan baju besi untuk kamu, untuk melindungi kamu dalam pertempuran. Apakah kamu berterima kasih?1645   81. Dan Kami (taklukkan) kepada Sulaiman angin kencang yang bertiup atas perintah-Nya ke tanah yang Kami berkahi; Dan Kami adalah Yang Maha-tahu akan segala sesuatu.1646   82. Dan dari golongan setan ada sebagian yang menyelam untuknya, dan yang mengerjakan pekerjaan lain selain itu; dan Kami adalah Yang mengawasi terhadap mereka.1647   83. Dan Ayub, tatkala ia menyeru kepada Tuhannya (ucapnya): Kemalangan telah menimpa kami, dan Engkau adalah sebaik-baik Tuhan Yang Maha-pengasih.   84. Maka Kami mengijabahi seruannya, dan Kami singkirkan kemalangan yang menimpanya, dan Kami berikan keluarganya kepadanya, dan sesama mereka beserta mereka, sebagai rahmat dari Kami dan peringatan bagi orang-orang yang mengabdi.1648   85. Dan Ismail dan Idris dan Dzul-Kifli; semuanya adalah orang yang sabar.1649   86. Dan mereka Kami masukkan dalam rahmat Kami; sesungguhnya mereka adalah golongan orang yang saleh.   87. Dan Dzun-Nun,1650 tatkala ia pergi dengan marah,1651 dan ia mengira bahwa Kami tak akan menyempitkan dia,1652 maka ia menyeru di tengah-tengah kemalangan,1653 (Ucapnya): Tak ada Tuhan selain Engkau, Maha-suci Engkau! Sesungguhnya aku adalah golongan orang yang lalim.1654   88. Maka Kami mengijabahi seruannya, dan menyelamatkan dia dari duka-cita. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.   89. Dan Zakaria, tatkala ia menyeru kepada Tuhannya: Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku sendirian, dan Engkau adalah sebaik-baik Tuhan Yang mewaris.1655   90. Maka Kami mengijabahi seruannya, dan kepadanya Kami berikan Yahya, dan istrinya Kami buat pantas untuk dia.1656 Sesungguhnya mereka saling berlomba dalam kebaikan, dan menyeru Kami dalam keadaan senang dan susah; dan mereka senantiasa rendah hati di hadapan Kami.   91. Dan (wanita) yang menjaga kesuciannya,1657 maka kepadanya Kami tiupkan sebagian Roh Kami, dan ia dan anaknya Kami jadikan tanda bukti bagi sekalian bangsa.   92. Sesungguhnya umat kamu ini adalah umat satu, dan Aku adalah Tuhan kamu, maka mengabdilah kepada-Ku.1658   93. Dan mereka memutuskan perkara mereka di antara mereka; semuanya akan kembali kepada Kami.

Ruku’ 7: Orang tulus akan mewarisi bumi

94. Maka barangsiapa berbuat kebaikan dan ia itu mukmin, maka tak ada penolakan terhadap usahanya; dan sesungguhnya Kami menulis itu untuknya.   95. Dan haram bagi suatu kota yang telah Kami binasakan; mereka tak akan kembali.1659   96. Bahkan1660 tatkala Ya’juj dan Ma’juj dilepas, dan mereka mengalir dari tiap-tiap tempat yang tinggi.1661   97. Dan Janji yang Benar sudah dekat, lalu tiba-tiba penglihatan orang-orang kafir terbelalak, (ucapnya): Oh, celaka sekali kami ini! Sesungguhnya kami dahulu melalaikan ini; tidak, malahan kami adalah lalim.1661a   98. Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah bahan bakar Neraka; kamu akan tiba di sana1661b.   99. Seandainya mereka itu tuhan, niscaya mereka tak akan tiba di sana. Dan semuanya akan menetap di sana.   100. Di sana mereka akan mengeluh, dan di sana mereka tak dapat mendengar.1662   101. Sesungguhnya orang-orang yang lebih dahulu memperoleh kebaikan dari Kami, mereka akan dijauhkan dari Neraka.1663   102. Mereka tak mendengar sayup-sayup suara Neraka; dan mereka akan menetap di tempat yang menjadi keinginan jiwanya.1664   103. Teror yang besar tak akan mencemaskan mereka, dan Malaikat akan menjumpai mereka. Inilah harimu yang dijanjikan kepada kamu.   104. Pada hari tatkala langit Kami gulung seperti menggulung gulungan kertas yang ditulis. Sebagaimana Kami mulai ciptaan yang pertama, Kami mengulang itu. Perjanjian yang telah mengikat Kami. Kami akan melaksanakan itu.1665   105. Dan sesungguhnya telah Kami tulis dalam Kitab setelah peringatan, bahwa hamba Kami yang saleh akan mewaris bumi.1666   106. Sesungguhnya dalam ini adalah amanat bagi kaum yang mengabdi (kepada Kami).   107. Dan tiada Kami mengutus engkau kecuali sebagai rahmat bagi sekalian bangsa.1667   108. Katakanlah: Diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha-esa. Apakah kamu berserah diri?   109. Tetapi jika mereka berpaling, maka katakanlah: Aku memperingatkan kamu dengan jujur, dan aku tak tahu apakah barang yang dijanjikan kepada kamu sudah dekat ataukah masih jauh.   110. Sesungguhnya Ia tahu apa yang diucapkan dengan terang, dan Ia pun tahu apa yang kamu sembunyikan.   111. Dan aku tak tahu apakah ini mungkin sebagai ujian bagi kamu dan sebagai bekal hingga beberapa waktu.   112. Ia berkata: Tuhanku, adililah dengan benar. Dan Tuhan kami adalah Yang Maha-pemurah, Yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu sifatkan (kepada-Nya).

  1. Rupa-rupanya kaum kafir Quraisy amat bingung — demikian pula para tukang kritik Qur’an juga bingung — dengan apa Qur’an itu mereka persamakan. Mula-mula mereka menyebutnya sihir, yaitu gaya bahasanya yang amat fasih (T), karena sekalipun mereka memusuhi itu, namun itu memikat hati mereka.. Tetapi dalam Qur’an terdapat juga ramalan-ramalan yang tak mungkin hanya dihasilkan oleh gaya bahasa yang fasih saja, maka dari itu mereka menyebut itu impian yang kalut. Lalu mereka berpikir bahwa Qur’an mengandung maksud tertentu, karena Qur’an menyebut-nyebut kemenangan Nabi Suci dan kekalahan musuh yang kuat, oleh karena itu mereka menyebutnya bikin-bikinan belaka. Akhirnya mereka mengarang suatu perkataan yang dikira dapat mencakup semuanya, maka mereka menyebut Nabi Suci seorang penyair. Lalu mereka menuntut tanda bukti seperti yang diberikan kepada para Nabi yang sudah-sudah. Adapun yang dimaksud ialah kehancuran mereka, karena Qur’an berulangkali minta perhatian mereka akan nasib orang-orang sebelum mereka yang menolak Kebenaran. []
  2. Sebagai jawaban atas tuntutan mereka, mereka diberitahu bahwa apabila mereka tetap keras kepala dalam kejahatan dan kekafiran, mereka akan dijatuhi hukuman berupa kehancuran. []
  3. Jadi tiap-tiap Nabi mempunyai tubuh kasar yang membutuhkan makanan sekedar untuk menguatkannya, dan setiap Nabi pasti merasakan mati, karena itu, Nabi ‘Isa pun mempunyai tubuh yang membutuhkan makanan dan merasakan mati. Pendapat yang mengatakan Nabi ‘Isa masih hidup, sungguh bertentangan dengan ayat ini. []
  4. Manakala para musuh menuntut supaya didatangkan siksaan yang diancamkan, Qur’an selalu menjawab bahwa diturunkannya Qur’an adalah sebagai rahmat bagi mereka. Kebenaran itu dinyatakan pula di sini. Mereka menuntut tanda bukti seperti yang dibawa oleh para Nabi yang sudah-sudah, tetapi mereka diberitahu bahwa Qur’an diturunkan untuk menjadikan mereka bangsa yang besar dan mulia di dunia. Kata dzikr artinya mulia, masyhur, terkenal, terhormat, dan berarti pula peringatan (LL). Lihatlah 94:4; 43:44 yang menerangkan pula arti kata dzikr. []
  5. Kata hashîd (dipotong), itu mengibaratkan api yang dipadamkan, yang abunya masih membara. Ayat tersebut merupakan peringatan bagi para musuh. []
  6. Ini adalah kelanjutan dari peringatan yang diberikan oleh ayat sebelumnya. Kaum kafir telah diperlihatkan tanda bukti tentang kebenaran Nabi Suci, kini mereka disuruh mengingat bahwa tanda bukti itu bukanlah sia-sia. Menurut kodrat alam, tiap-tiap sebab pasti ada akibatnya, dan tiap-tiap tujuan harus dicapai menggunakan sarana. Hidup ini bukanlah senda gurau, melainkan serius. []
  7. In dalam kalimat inkunna adalah nafiyah, artinya, mengingkari apa yang diuraikan sebelumnya. Kata lahwun (hiburan) dalam ayat ini mengandung arti yang sama seperti kata lâ’ibun (mainmain) dalam ayat sebelumnya. Tapi para mufassir berpendapat bahwa kata lahwun menurut logat Yaman berarti istri atau anak. Jadi apa yang diuraikan dalam ayat ini ialah penolakan terhadap ajaran Kristen bahwa Nabi ‘Isa itu putra Allah (IJ). []
  8. Perhatikanlah keyakinan Nabi Suci yang mendalam tentang kemenangan akhir bagi Kebenaran di dunia. Terang sekali bahwa Kebenaran memancar dengan cemerlang dalam jiwa beliau. Kekuatan kegelapan dan kepalsuan yang pada waktu turunnya ayat ini menang di seluruh Tanah Arab, dapat dikalahkan pada zaman Nabi Suci masih hidup, sekalipun kekuasaan pada waktu itu nampak kuat, namun tak dapat menahan gerak lajunya Kebenaran. []
  9. []
  10. Di alam semesta nampak ada ketertiban, karena di seluruh alam semesta hanya berlaku satu undang-undang. Keesaan undang-undang membuktikan seterang-terangnya akan Keesaan Tuhan Yang menciptakan. Hendaklah diingat bahwa di sini Allah disebut Rabbul-‘Arsyi, maknanya Yang mengasuh ‘Arsy sampai sempurna; dengan demikian ‘Arsy atau Singgasana itu dipelihara Allah, jadi bukan Allah yang dipelihara oleh ‘Arsy. []
  11. Keesaan Allah merupakan kebenaran agung yang menjadi landasan semua agama, tak pernah seorang Nabi pun mengajarkan kemusyrikan. []
  12. []
  13. Ayat ini menolak ajaran Kristen bahwa Nabi ‘Isa putra Allah, dan di sini ditambahkan uraian bahwa mereka adalah hamba yang terhormat. Kata-kata ini menarik perhatian kita, bahwa selain Nabi ‘Isa banyak pula yang dikatakan sebagai putra Allah, tetapi julukan putra Allah itu tak lebih artinya daripada hamba Allah yang terhormat, oleh karena itu, Nabi ‘Isa sebagai putra Allah sebenarnya sama dengan itu. []
  14. Ayat ini membuktikan seterang-terangnya bahwa para Nabi itu tak berdosa. Pertama, para Nabi tak mendahului Allah dalam pembicaraan, artinya, para Nabi hanya berkata menurut apa yang diajarkan kepada mereka, dan mereka tak berbicara menurut kemauan mereka sendiri. Kedua, jika para Nabi berbuat, maka mereka hanya berbuat menurut apa yang diperintahkan oleh Allah. Jadi, baik kata-katanya maupun perbuatannya selalu menurut kehendak Allah. Oleh sebab itu, para Nabi tak mungkin dikatakan berdosa atau mendurhaka kepada Allah. Konteks ayat menunjukkan seterang-terangnya bahwa yang dibicarakan di sini ialah para Nabi, bukan Malaikat. []
  15. Boleh jadi yang dimaksud langit dan bumi di sini ialah seluruh alam semesta, atau terutama sekali tata-surya, yang asal mulanya berupa asap yang bergumpal-gumpal. Adapun yang dimaksud fataqa (membelah) ialah terciptanya bintang-bintang; atau boleh jadi yang dimaksud ialah terlemparnya planet dari tata-surya, dan pula simetri besar tentang susunan tata-surya, dan berputarnya berbagai benda langit. Terbukti bahwa dalam ayat 33 terdapat uraian tentang garis edar (orbit) dari berbagai planet. Tetapi ada kemungkinan pula bahwa ungkapan tentang langit dan bumi tertutup mengandung isyarat yang mendalam tentang penghentian untuk sementara waktu turunnya Wahyu Ilahi sebelum datangnya Nabi Muhammad yang ditandai oleh tak adanya Nabi di dunia selama enam ratus tahun dan merajalelanya kerusakan di dunia. Dalam hal ini, maka ungkapan Allah membelah bumi dan langit berarti turunnya Wahyu Ilahi yang memberi hidup kepada dunia. Dalam alam fisik, hujan juga dikatakan membelah bumi. []
  16. Ayat ini membuka rahasia kebenaran agung dalam dunia fisik, kebenaran yang baru-baru ini saja ditemukan oleh ilmu pengetahuan, dan yang pada zaman Nabi Suci belum diketahui oleh dunia pada umumnya, yakni air adalah sumber dari segala kehidupan. Akan tetapi di samping itu, ayat ini juga menarik perhatian akan kebenaran yang tak kalah pentingnya, yakni kebenaran rohani berupa Wahyu Ilahi, yang berulang kali diibaratkan dalam Qur’an Suci sebagai air yang memberi hidup kepada dunia, yang jika tak ada Wahyu, dunia akan mati dalam dosa dan kerusakan. []
  17. Bandingkanlah dengan 16:15, yang hampir sama bunyinya. Bagian pertama ayat ini dapat pula diartikan: “Dan di muka bumi Kami buat gunung-gunung yang kokoh agar itu menjadi sumber kegunaan bagi kamu”. Bandingkanlah dengan 79:32-33. Lihatlah tafsir nomor 1358. Adapun bagian terakhir ayat ini mengandung maksud yang dalam, yakni jalan yang ditunjukkan oleh para Nabi dari segala bangsa. []
  18. Di Tanah Arab terdapat ahli kebatinan, ahli astrologi, dan ahli nujum, yang semuanya pura-pura tahu tentang rahasia langit. Penjelasan tentang ini, lihatlah tafsir nomor 2530. Mereka diberitahu bahwa para ahli itu tak dapat menembus rahasia langit. Ayat ini berarti, Wahyu Ilahi (yang di sini disebut langit) terjaga dari segala macam serangan. []
  19. Mereka ditimpa kemalangan kecil, dan jika ini telah lenyap, mereka berganti mengalami keadaan senang. Semua itu merupakan ujian. Adapun siksaan yang lebih besar, yaitu tumbangnya kekuasaan mereka, masih terpendam bagi mereka. []
  20. Orang-orang Arab sebagai kaum penyembah berhala, mereka tak mau, seperti juga kaum Kristen, menyebut nama Allah dengan sebutan Ar-Rahmân (lihatlah 25:60). Oleh sebab itu dalam ayat ini dikatakan bahwa Allah Yang Maha-pemurah adalah kontras dengan berhala. []
  21. Sifat tergesa-gesa begitu menonjol dalam diri manusia, sehingga manusia dikatakan seakan-akan diciptakan dari tergesa-gesa. Selanjutnya ungkapan itu dijelaskan dalam kalimat berikutnya yang berbunyi: “Aku akan memperlihatkan tanda bukti-Ku kepada kamu, maka janganlah kamu minta agar Aku mempercepat itu”. []
  22. []
  23. Tanda bukti istimewa yang berulangkali mereka tuntut ialah siksaan yang dahsyat seperti yang dijatuhkan kepada umat terdahulu hendaklah pula dijatuhkan kepada mereka. []
  24. Orang-orang yang menolak Kebenaran selalu mengejek adanya gagasan tentang siksaan. Ayat ini dan ayat sebelumnya menerangkan dengan kata-kata tegas bahwa Kebenaran akhirnya akan menang. []
  25. Artinya, seandainya Allah itu tidak Maha-murah kepada kamu dan menjaga kamu, niscaya tak seorang pun dapat menjaga kamu. Atau, sekalipun Allah itu Yang Maha-pemurah, tetapi jika Ia harus menyiksa kamu karena keras kepala menjalankan kejahatan sampai sedemikian rupa, hingga menyebabkan murkanya Tuhan Yang Maha-pemurah, maka tak seorang pun dapat melindungi kamu dari siksaan. []
  26. Furqân (Pemisah) yang diberikan kepada Nabi Musa, artinya beliau selamat dari musuh yang kuat. Ayat terakhir dari ruku’ ini meramalkan bahwa peristiwa serupa akan diperlihatkan kepada Nabi Suci. []
  27. Sejarah Nabi Ibrahim termuat dalam beberapa Surat, di mana bermacam-macam uraian saling isi mengisi, dan jarang sekali terdapat cerita yang diulang. Berikut ini adalah daftar lengkap tentang ayat yang menguraikan Nabi Ibrahim: 2:124-132, 133, 135, 136, 140, 258, 260; 3:65-68, 84; 4:125; 6:74-82; 9:114; 11:69-76; 12:6; 14:35-41; 15:51-60; 16:120-123; 19:41-49; 21:51-72; 22:26-29; 26:69-89; 29:16-17, 24-27; 37:83-113; 38:45-46; 43:26-28; 51:24-34; 57:26; 60:4. []
  28. Riwayat Nabi Ibrahim menghancurkan berhala dikisahkan dalam literatur Jewish Rabbinical, Gen. R. 38, dan Tauna Debe Eliyahu 2:25 (Jewish En.). []
  29. Hendaklah diingat bahwa pada kalimat bal fa’alahû terdapat huruf waqaf (berhenti). Adapun kalimat kabîruhum hâdzâ berdiri sendiri (lepas dari kalimat bal fa’alahû). Kata fa’alahû artinya seseorang melakukan itu (Rz). Kata bal tak selamanya berarti tidak, yaitu kata ingkar yang mengandung arti pengingkaran terhadap apa yang diuraikan sebelumnya, kata bal acapkali hanya berarti dan atau sesungguhnya. LL menerangkan: “Kadang-kadang kata bal digunakan dalam arti pergantian dari pokok pembicaraan yang satu kepada pembicaraan yang lain tanpa membatalkan pokok pembicaraan sebelumnya, sama halnya seperti perkataan wa yang tersebut dalam Qur’an 25:20-21”. Kalimat selanjutnya yang berbunyi: kabîruhum hâdzâ berdiri sendiri; adapun artinya ialah ini pembesarnya, karena berhala ini tak dihancurkan oleh Nabi Ibrahim. Uraian berikutnya berbunyi: maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara. Mereka disuruh bertanya kepada berhala. Mereka menganggap bahwa berhala itu dapat memberi keuntungan, atau membawa kerugian kepada penyembahnya, namun berhala itu tak dapat menolong dirinya sendiri. Berhala-berhala itu dihancurkan, namun tak membahayakan sedikit pun kepada orang yang menghancurkannya. Bahkan berhala itu tak dapat memberitahukan kepada penyembahnya, siapa yang menghancurkannya. Hendaklah diingat bahwa Nabi Ibrahim tak pernah berusaha menyembunyikan perbuatannya. Sebenarnya, sebelum beliau menghancurkan berhala, beliau telah memperingatkan kaumnya bahwa beliau merencanakan suatu perlawanan terhadap berhala itu; lihatlah ayat 57. Hal ini beliau nyatakan di muka umum pada waktu beliau bertengkar dengan mereka. Sebagaimana diuraikan dalam ayat 58, tujuan Nabi Ibrahim membiarkan berhala yang paling besar tidak dihancurkan ialah agar mereka dapat kembali kepadanya. Seharusnya mereka berpikir dalam batin, mengapa mereka tak bertanya kepada berhala yang paling besar yang masih utuh itu, siapakah yang menghancurkan berhala-berhala lainnya. Hal ini diisyaratkan dalam ayat 64. Di sana mereka harus mengakui kekeliruan mereka menyembah barang yang tak dapat berbuat kebaikan maupun keburukan. Lihatlah ayat berikutnya. []
  30. Kepala mereka ditundukkan ke bawah karena malu, karena berhala mereka tak mampu menyebut nama orang yang merusak berhala-berhala itu. []
  31. Api berubah menjadi dingin dan damai bagi Nabi Ibrahim. Dalam kitab-kitab tafsir terdapat banyak dongengan yang menerangkan besarnya api dan lamanya Nabi Ibrahim dibakar. Tetapi para mufassir yang dapat dipercaya tak membenarkan dongengan itu, karena tak ada dasarnya. “Dongeng tentang ini banyak sekali versinya, tetapi menurut kitab Bahrul-Muhîth banyak sekali dongeng yang dibikin-bikin sehubungan dengan apa yang menimpa Nabi Ibrahim, sedang yang benar hanyalah apa yang diuraikan oleh Allah” (RM). Qur’an tak menerangkan dalam ayat mana pun bahwa Nabi Ibrahim benar-benar dimasukkan dalam api. Memang benar, sebagaimana diuraikan dalam ayat ini, bahwa musuh Nabi Ibrahim memutuskan untuk membakar beliau, membunuh beliau, atau membakar beliau (29:24). Tetapi baik dalam 21:70 maupun dalam 73:98, kita diberitahu seterang-terangnya bahwa mereka berkehendak membuat rencana untuk melawan dia, tetapi Kami membuat mereka menderita rugi (21:70), atau Kami jadikan mereka di bawah (37:98). Ini menunjukkan bahwa rencana mereka tidak ada hasilnya. Menurut 29:24, Allah menyelamatkan beliau dari api; tetapi ayat ini tak menerangkan apakah diselamatkannya beliau itu sebelum ataukah sesudah dimasukkan ke dalam api. Surat 21:71 menerangkan bahwa diselamatkannya beliau itu dilaksanakan dengan kepergian beliau ke negeri lain. Jadi semacam hijrah seperti yang dilakukan oleh Nabi Suci ke Madinah. Dan dalam sejarah Nabi Ibrahim, memang ada petunjuk yang mendalam tentang sejarah Nabi Suci. []
  32. Menurut sejarah Nabi Ibrahim yang diuraikan dalam Bibel, beliau pernah melawan Chedorlaomer, Raja Elam, dan sekutu-sekutunya, dan beliau mendapat kemenangan. Kitab-kitab Yahudi menyebutkan pula nama-nama raja yang ditaklukkan oleh Nabi Ibrahim. []
  33. []
  34. Di tempat lain dalam Qur’an diterangkan bahwa segala sesuatu yang ada di langit atau di bumi, itu dijadikan pelayan bagi manusia (45:13), dan di beberapa tempat dalam Qur’an diuraikan bahwa sungai, lautan, matahari dan bulan, siang dan malam, dsb. Semuanya dijadikan pelayan bagi manusia (16:12-14; 13:2, dsb). Semua itu menjelaskan apa yang dimaksud gunung-gunung dan burung-burung dijadikan pelayan bagi Nabi Daud. Suatu barang dikatakan dijadikan pelayan bagi manusia apabila manusia dapat memanfaatkannya. Selanjutnya hendaklah diingat, bahwa apa saja yang ada di langit dan di bumi semuanya memahasucikan Allah (17:44). Tetapi lihatlah tafsir nomor 2022, di sana terdapat uraian serupa, dan itu dimaksud untuk menunjukkan kemenangan Nabi Daud. Ayat-ayat lain yang menerangkan Nabi Daud, lihatlah 2:251; 4:163; 5:78, 85; 27:15-16; 34:10-13; 38:17-30. []
  35. Ayat ini menerangkan bahwa sebelum zaman Nabi Daud, orang tak tahu menahu tentang pembuatan baju besi. Ayat ini hanya menerangkan bahwa oleh karena beliau harus banyak melakukan pertempuran, maka beliau harus melengkapi pasukan Israil dengan perlengkapan yang sebaik mungkin. Lihatlah tafsir nomor 2023 dan 2024. []
  36. . Ayat-ayat lainnya yang menerangkan Nabi Sulaiman ialah: 2:102; 4:163; 6:85; 27:15-44; 34:12-14; 38:30-40. Armada Nabi Sulaiman besar sekali jasanya; inilah yang dimaksud oleh kalimat Kami taklukkan kepada Sulaiman angin kencang. Menurut sejarah yang termuat dalam Kitab Bibel, Nabi Sulaiman bersekutu dengan Bangsa Phoenic dalam armada perdagangan. Tiga tahun sekali beliau memberangkatkan armada dari Ezion-geber, di pangkalan Teluk ‘Aqabah ke Ophir, kira-kira di pantai sebelah timur jazirah Arab. Dari daerah sejauh itu, dan pula dari daerah-daerah lain yang beliau lalui, beliau memperoleh sejumlah besar emas dan hasil daerah tropis. Dengan pendapatan yang begitu besar, semakin bertambahlah kekayaan beliau yang hampir tak ada batasnya guna memperluas kemegahan ibu kota dan istana, dan untuk menyempurnakan pemerintahan dan kemiliteran” (Jewish Enc.). Bandingkan dengan 14:32 yang berbunyi: “Dan ia membuat perahu untuk melayani kamu agar itu berlayar di lautan dengan perintah-Nya”. []
  37. Di tempat lain di dalam Qur’an diuraikan: “Dan setan-setan, setiap ahli bangunan dan penyelam, dan yang lain dibelenggu dengan rantai” (38:37-38). Nabi Sulaiman mempekerjakan orang asing yang beliau taklukkan untuk bekerja sebagai penyelam dan membangun gedung. Kata syaithân artinya orang yang kelewat sombong, memberontak atau lancang, baik itu manusia, jin atau binatang (LL). Lihatlah tafsir nomor 2143. []
  38. Nabi Ayyub disebutkan lagi sesudah Nabi Sulaiman, bahkan lebih panjang lebar, dalam Surat 38 ayat 41-44. Di sana juga diterangkan bahwa kepada beliau diberikan pula keluarga beliau, dan sesama mereka beserta mereka. Tetapi di sana terdapat petunjuk bahwa kemalangan yang diuraikan dalam ayat ini berlainan dengan kepergian yang beliau lakukan sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepada beliau. Sebagai akibat dari bepergian, beliau kehilangan, atau terpisah dengan keluarga. Rupa-rupanya beliau lari untuk menyelamatkan diri ke suatu daerah, tetapi akhirnya beliau bukan saja berkumpul kembali dengan keluarga, melainkan pula berkumpul dengan orang lain yang seperti keluarga, yaitu orang-orang yang beriman di tempat pengungsian. Sebenarnya riwayat Nabi Ayyub yang diuraikan dalam Qur’an itu tak sama dengan riwayat Nabi Ayyub yang diuraikan dengan panjang lebar dalam Kitab Bibel. Uraian Qur’an benar-benar mengandung ramalan tentang hijrah Nabi Suci dari Makkah ke Madinah, dimana beliau bukan saja berkumpul dengan kaum mukmin dari Makkah, melainkan pula dengan kaum mukmin Madinah yang jumlahnya hampir sama. Lihatlah tafsir nomor 2144, 2145 dan 2146. []
  39. Kata Dzul-Kifli makna aslinya orang-orang yang mendapat bagian sebagian tetapi mencukupi (R). Para mufassir berlainan pendapatnya dalam mempersamakan Nabi Dzul-Kifli dengan nama para Nabi yang disebutkan dalam kitab Bibel, apakah beliau itu Zakaria ataukah Yusyak (Rz). Rodwell menerangkan, berdasarkan buku Travels and Niebuhr, bahwa orang-orang Arab menyebut Yehezkiel dengan nama Kifl. Oleh karena itu, dugaan bahwa Dzul-Kifli ialah Nabi Yehezkiel adalah masuk akal. Nabi Dzul-Kifli disebutkan sekali lagi dalam Qur’an, tanpa diriwayatkan sejarahnya seperti di sini, yakni dalam 38:34. []
  40. Dzun Nûn adalah nama Nabi Yunus yang lain, yang dengan nama itu beliau diceritakan dalam 6:87; dan 37:139. Nûn artinya ikan besar (R). Oleh sebab itu kata Dzun Nûn artinya Tuannya ikan. Dalam wahyu permulaan Nabi Yunus disebut Shâhibul-hût, artinya kawannya ikan (68:48). Rupa-rupanya julukan itu diambil dari peristiwa pengalaman beliau dengan ikan, yang untuk jelasnya lihatlah tafsir nomor 2123. []
  41. Di sini kita diberitahu bahwa Nabi Yunus pergi dengan marah; ternyata beliau marah terhadap umat beliau, dan beliau pergi meninggalkan mereka. Sungguh tak masuk akal sekali jika seorang Nabi marah kepada Allah. Selain itu, di sini beliau hanya dikatakan pergi, padahal orang tak mungkin dikatakan pergi dari Allah Yang ada di mana-mana. Menurut Imam Razi, Nabi Yunus marah kepada umat beliau karena mereka keras kepala. Lihatlah tafsir nomor 2121. []
  42. Salah sekali jika kalimat lan naqdira ‘alaih diterjemahkan Kami tak berkuasa terhadap dia. “Tak mungkin kata itu diambil dari kata al-qudrah (yang artinya kuasa atau mampu), karena orang yang berpikir demikian, ia adalah kafir”. Adapun arti kalimat itu ialah, dan dia (Nabi Yunus) mengira bahwa Kami tak akan menyempitkan dia, atau bahwa Kami tak dapat memutuskan yang bertentangan dengan dia (LL). Dalam Qur’an sendiri kata qadara digunakan dalam arti menyempitkan. Lihatlah 13:26, dimana kata yaqdiru berarti menyempitkan (rezeki); demikian pula dalam 65:7, dimana kata qudîra berarti ia disempitkan. Karena melihat umatnya keras kepala, maka Nabi Yunus pergi meninggalkan mereka dengan marah, dan beliau mengira atau malahan beliau tahu (zhanna) bahwa di tempat lain terbuka jalan bagi beliau untuk memimpin orang-orang pada jalan yang benar. []
  43. Kata zhulumâtil-bahr artinya melapetaka atau kesengsaraan di laut (LL). Kesengsaraan diibaratkan gelap gulita karena jika orang menderita kesengsaraan, sama seperti dalam gelap gulita, tak mampu menemukan jalan. []
  44. Mula-mula kata zhulm berarti an-naqsh artinya menderita rugi (LL). Dalam Qur’an, Surat 88 ayat 33, kebun dikatakan menghasilkan buah-buahannya dan ini tak ada kegagalan (lam tazhlim) sedikit pun; di sini kata zhulm makna aslinya menaruh sesuatu tidak pada tempatnya, menaruh sesuatu di tempat yang salah atau salah menempatkan sesuatu baik secara berlebihan atau kurang” (R, T, LL). Kata zhalama berarti pula membebankan sesuatu di luar kemampuan orang (LL), dan dalam arti ini kata zhulm kadang-kadang digunakan dalam arti yang baik apabila seseorang membebani dirinya dengan kewajiban yang berat untuk mencari ridla Ilahi. Dalam arti inilah Nabi Yunus dikatakan dalam ayat ini sebagai orang yang zhâlimîn dalam arti menderita kerugian, karena pergi dari tempat tinggalnya yang asli, atau, beliau gagal dalam menetapi kewajiban menjalankan risalah yang dipercayakan kepada beliau, atau dalam salah satu makna tersebut di atas. Hendaklah diingat, bahwa kata zhulm dapat berarti pula perbuatan kurang setia menjalankan kewajiban, sampai kepada perbuatan durhaka yang besar. []
  45. Yang mewaris artinya Yang tetap tinggal setelah semuanya binasa. []
  46. Yang dimaksud pantas di sini ialah pantas untuk hamil, karena semula ia diperkirakan mandul. []
  47. Di sini tak dikatakan sama sekali tentang immaculata conceptio (hamil tak bernoda dan pengertian suci dari dosa seperti ajaran Katolik, bahwa semua orang dilahirkan membawa dosa, kecuali Siti Maryam. Pent.). Menjaga kesucian bukanlah berarti melarang hubungan yang sah antara suami-istri. Penjelasan arti furûj lihatlah tafsir nomor 1714. []
  48. Landasan pokok semua agama yang diajarkan oleh semua Nabi di segala zaman dan segala bangsa hanyalah satu dan sama, yakni Allah Tuhan sarwa sekalian alam, dan hanya Dia Yang harus disembah. Oleh sebab itu, para Nabi dinyatakan di sini sebagai umat yang satu. Mereka memimpin manusia ke arah budi luhur melalui ibadah kepada Allah. Tetapi sebagaimana diterangkan oleh ayat berikutnya, umat para Nabi memecah persatuan itu. []
  49. Kata qaryah artinya kota. Adapun yang dimaksud qaryah di sini ialah ahlul-qaryah artinya penduduk kota. Kata haramun artinya dilarang. Jadi, arti bagian ayat ini ialah penduduk kota yang sudah dibinasakan dilarang hidup kembali. Adapun kalimat mereka tak akan kembali hanyalah suatu penjelasan. Tetapi sebagian mufassir, termasuk I’ab berpendapat bahwa kata haramun artinya wajib atau harus, dan untuk memperkuat pendapat itu dikutipnya syair dari zaman sebelum Islam (Rz). Ayat ini membuka rahasia kebenaran yang besar, bahwa orang yang sudah mati tak akan dikembalikan lagi ke dunia. Menurut suatu Hadits diriwayatkan bahwa Jabir bin Abdullah diberitahu oleh Nabi Suci, bahwa ayahnya, Abdullah, yang gugur dibunuh oleh musuh Islam dalam suatu pertempuran, pada waktu ia ditanya oleh Allah Yang Maha-kuasa tentang apakah yang paling ia sukai, ia menjawab bahwa ia ingin kembali ke dunia, dan gugur lagi dalam membela Kebenaran, tetapi ia mendapat jawaban bahwa itu tak mungkin, karena “firman telah keluar dari Aku, bahwa mereka tak akan kembali” (M. 24:15). Ternyata kata penutup Hadits itu adalah kata penutup ayat ini. Jadi, baik Qur’an maupun Hadits, dua-duanya menetapkan dengan tegas bahwa orang yang sudah mati tak mungkin kembali lagi ke dunia. []
  50. Ayat sebelum ini mengandung larangan bagi yang sudah mati untuk kembali hidup di dunia, atau bangkitnya suatu bangsa sesudah dibinasakan. Ayat ini menerangkan bahwa Ya’juj dan Ma’juj walaupun mereka menguasai seluruh dunia, mereka juga tunduk kepada undang-undang itu. Mengapa hatta berarti bahkan, lihatlah LL yang mengutip keterangan Rgh. []
  51. Tentang Ya’juj dan Ma’juj, lihatlah tafsir nomor 1523 dan 1524 yang di sana dijelaskan pula tentang ayat ini sehubungan dengan runtuhnya tembok yang dibangun untuk menahan serbuan Ya’juj dan Ma’juj. Adapun yang dimaksud mereka mengalir dari tiap-tiap tempat yang tinggi, ialah mereka akan merampas tiap-tiap tempat yang nyaman dan menguntungkan, hingga dikuraslah seluruh dunia. Pengertian semacam itu diungkapkan pula dalam Hadits dengan kata-kata yang berlainan; lihatlah tafsir nomor 1524a []
  52. 1661a Dengan merajalelanya Ya’juj dan Ma’juj, janji yang benar sudah dekat, yakni janji tentang menangnya Kebenaran. Qur’an berfirman: “Dia ialah Yang mengutus Utusan-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, agar Ia memenangkan itu di atas sekalian agama” (9:33). Hal ini diuraikan pula dalam 18:99, yang menerangkan pergolakan besar antara Ya’juj dan Ma’juj, lalu disusul dengan kalimat: lalu Kami akan menghimpun mereka semua. Lihatlah tafsir nomor 1525. Jadi saat merajalelanya Ya’juj dan Ma’juj di dunia, bersamaan itu pula Kebenaran akan tertanam merata ke segala penjuru bumi. Mula-mula materialisme tersebar di seluruh dunia, tetapi akan mengalami kegagalan. Lalu Kebenaran rohani memancarkan sinarnya, dan manusia akan merasa bahwa mereka bukan saja menaruh perhatian akan itu, melainkan pula merasa tak adil jika Kebenaran rohani itu ditindas. 1661b Bandingkanlah dengan 18:100 yang berbunyi: “Dan pada hari itu Kami perlihatkan kepada kaum kafir Neraka dengan jelas”. Lihatlah tafsir nomor 1525a Di sini, orang yang tak mau mendengarkan Kebenaran akan dibangkitkan di Akhirat dalam keadaan tuli, oleh karena itu mereka tak dapat mendengar. []
  53. Ayat ini menolak sama sekali gagasan yang tak benar bahwa mula-mula orang-orang tulus pun akan dimasukkan ke dalam Neraka. Malahan, sebagaimana diterangkan oleh ayat berikutnya, mereka tak akan mendengar sayup-sayup Neraka. []
  54. Yang paling diinginkan oleh jiwa orang-orang yang tulus ialah kenikmatan yang berupa berhubungan dengan Allah, justru karena kenikmatan itulah mereka hidup di Akhirat. []
  55. Macam-macam hal diuraikan dalam ayat ini. Hal pertama ialah tentang digulungnya langit seperti gulungan kertas yang ditulis. Adapun yang dimaksud ialah, peraturan lama akan dihapus sama sekali, sama seperti kertas yang telah selesai ditulis, lalu digulung. Tak sangsi lagi bahwa itu terjadi di Tanah Arab pada waktu datangnya Nabi Suci. Peraturan lama dihapus sama sekali dan diganti dengan peradaban baru. Kesempurnaan pembangunan di segala bidang aktivitas manusia, yang dilaksanakan oleh Nabi Suci adalah fakta yang kini diakui kebenarannya oleh jagad raya. Tetapi dalam uraian berikutnya dinyatakan: “Sebagaimana Kami mulai ciptaan yang pertama, Kami mengulang itu”. Tak sangsi lagi bahwa menghapus orde lama mengandung maksud menciptakan orde baru. Inilah yang dimaksud ciptaan pertama di sini, yakni mendatangkan orde (peraturan) baru pada waktu datangnya Nabi Suci. Lalu kita diberitahu bahwa pembuatan orde baru akan diulangi lagi. Ulangan pembuatan orde baru itu dilakukan sehubungan dengan apa yang telah diuraikan dalam permulaan Surat ini, yakni, Ya’juj dan Ma’juj akan menguasai seluruh dunia, dengan demikian Islam pun mengalami penindasan. Ajaran rohani Islam yang dapat menghidupkan jiwa telah mengalami kemunduran karena unggulnya pandangan kebendaan di dunia melalui Ya’juj dan Ma’juj yang menguasai seluruh dunia, tetapi kita diberitahu, bahwa kemunduran itu bersifat sementara, lalu kebangkitan rohani seperti kebangkitan rohani yang pertama akan terjadi di dunia. Pernyataan itu diikuti oleh pernyataan: “Perjanjian yang telah mengikat Kami”. Jadi tentang kemenangan akhir agama Kebenaran (agama Islam) di seluruh dunia berulang-ulang diuraikan di dalam Qur’an, baik dalam wahyu permulaan maupun wahyu belakangan, dan kemunduran agama Islam seperti yang dinyatakan di sini, juga diuraikan berulang-ulang dalam Qur’an, dan ada satu ayat yang menerangkan bahwa kemunduran Islam itu meliputi jangka waktu seribu tahun (32:5). Lihatlah tafsir nomor 1959. []
  56. Berulangkali Qur’an Suci memperingatkan kaum kafir bahwa Islam akan menang di bumi, dan hamba Allah yang tulus yang dahulu dikejar-kejar, pada suatu saat akan muncul menjadi penguasa di bumi. Kalimat ini juga mengandung ramalan tentang dikuasainya Tanah Suci di Yerusalem oleh kaum Muslimin, yang ini terpenuhi di zaman Khalifah ‘Umar. Bandingkanlah dengan kitab Zabur 37:29. Tetapi sebagaimana telah kami terangkan, Qur’an itu diturunkan untuk seluruh dunia, dan di sini kita diberitahu bahwa Kebenaran akan menang di seluruh dunia, dengan demikian, itu akan diwaris oleh hamba Allah yang tulus. Hal ini dijelaskan oleh ayat 107. []
  57. Tak sangsi lagi bahwa ayat ini mengandung maksud perlakuan kasih sayang dari Nabi Suci kepada para musuh beliau, tetapi arti yang sesungguhnya dari ayat ini ialah, datangnya Nabi Suci adalah sebagai rahmat bukan saja bagi Bangsa Arab, dengan menjadikan mereka suatu bangsa terkemuka di dunia, melainkan pula sebagai rahmat bagi segenap umat manusia. Nabi Suci sebagai rahmatan lil-‘âlamîn atau rahmat bagi segenap bangsa, itu menunjukkan bahwa sekalian bangsa akhirnya akan menerima rahmat Tuhan yang terbabar melalui Nabi Suci. Ajaran Qur’an bukan saja berguna bagi para pengikutnya, melainkan orang-orang yang menolak risalah beliau pun mau menerima prinsip-prinsip Qur’an, sekalipun mereka kelihatannya menolak itu. []

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *