Home / Al-Quran / 007 Al Araf

007 Al Araf

SURAT 7

Al-Araf: Tempat Yang Luhur

(Diturunkan di Makkah, 24 ruku’, 206 ayat)

Mukaddimah Surah Buka

Ruku’ 1: Hancurnya para musuh

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih

1. Aku, Allah, Yang Maha-tahu, Yang Maha-benar853

 

2. (Ini adalah) Kitab yang diturunkan kepada engkau — maka janganlah ada kesempitan dalam dada engkau tentang ini,854 — agar dengan ini engkau memberi ingat, dan menjadi peringatan855 bagi kaum mukmin.

 

3. Ikutilah apa yang diturunkan kepada kamu dari Tuhan kamu, dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain Dia; sedikit sekali kamu memperhatikan.

 

4. Dan sudah berapa saja kota yang Kami binasakan! Maka siksaan Kami mendatangi pada malam hari atau tatkala mereka tidur pada siang hari.856

 

5. Namun tiada lain seruan mereka, ketika siksaan Kami mendatangi mereka, selain hanya berkata: Sesungguhnya kami ini orang lalim.

 

6. Lalu dengan sesungguhnya Kami akan bertanya kepada orang-orang yang kepada mereka diutus para Utusan, dan Kami akan bertanya kepada para Utusan.857

 

7. Lalu dengan sesungguhnya Kami akan menceritakan kepada mereka dengan pengetahuan, dan Kami tak pernah tidak hadir.858

 

8. Dan timbangan pada hari itu pasti benar; maka barangsiapa timbangan perbuatan baiknya berat, mereka adalah orang yang beruntung.859

 

9. Dan barangsiapa timbangan perbuatan baiknya ringan, mereka itu orang yang merusak jiwanya karena mereka mengafiri ayat-ayat Kami.860

 

10. Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu di bumi, dan Kami siapkan di sana bahan penghidupan untuk kamu, sedikit sekali kamu bersyukur.

Ruku’ 2: Perlawanan setan terhadap manusia

 

11. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu, lalu kamu Kami bentuk, lalu Kami berfirman kepada malaikat: Bersujudlah kepada Adam.861 Lalu mereka bersujud, kecuali iblis; ia bukanlah golongan yang bersujud.

 

12. Dia berfirman: Apakah yang menghalang-halangi engkau tak mau bersujud tatkala Aku perintahkan kepada engkau? Dia berkata: Aku lebih baik dari dia; Engkau menciptakan aku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.862

 

13. Dia berfirman: Pergilah dari (keadaan) ini, karena tak pantas bagi engkau berlaku sombong di sini. Maka dari itu keluarlah, sesungguhnya engkau adalah golongan orang yang hina.863

 

14. Dia berkata: Tangguhkanlah aku sampai (datangnya) hari tatkala mereka dibangkitkan.864

 

15. Dia berfirman: Sesungguhnya engkau golongan mereka yang diberi tangguh.

 

16. Dia berkata: Karena Engkau telah memutuskan aku tersesat, pasti aku akan duduk mengintai mereka di jalan Engkau yang benar.865

 

17. Lalu aku pasti akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dan dari kanan dan dari kiri mereka; dan Engkau tak menemukan kebanyakan mereka bersyukur.

 

18. Dia berfirman: Keluarlah dari (keadaan) ini, terhina dan terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti engkau, niscaya Neraka akan Aku penuhi dengan kamu semua.

 

19. Dan (Kami berfirman): Wahai Adam, tinggallah kamu dan istri kamu di Taman, dan makanlah sesuka kamu dan janganlah kamu berdekat-dekat dengan pohon ini, agar kamu tak menjadi golongan orang yang lalim.865a

 

20. Tetapi setan membisikkan pikiran jahat kepada mereka agar nampak kepada mereka apa yang tersembunyi dari mereka, yaitu aib mereka,866 dan ia (setan) berkata: Tuhan kamu melarang kamu dari pohon ini, agar kamu tak menjadi malaikat atau menjadi kekal.

 

21. Dan ia bersumpah kepada mereka: Sesungguhnya aku adalah penasihat yang jujur bagi kamu berdua.

 

22. Jadi, ia menjatuhkan mereka dengan tipu-daya. Maka tatkala mereka merasakan pohon itu, aib mereka menjadi terang bagi mereka, dan mereka mulai menutupi dirinya dengan daun-daun Taman.867 Dan Tuhan mereka menyeru kepada mereka: Bukankah aku telah melarang kamu berdua terhadap pohon itu, dan telah berfirman kepada kamu bahwa setan itu sesungguhnya musuh yang terang bagi kamu berdua?

 

23. Mereka berkata: Tuhan kami, kami telah berbuat aniaya terhadap diri kami; dan jika Engkau tak mengampuni kami, dan tak berbelas kasih kepada kami, niscaya kami menjadi golongan orang yang rugi.

 

24. Ia berfirman: Pergilah — sebagian kamu adalah musuh sebagian yang lain. Dan bagi kamu adalah tempat tinggal di bumi dan perlengkapan untuk sementara waktu.

 

25. Ia berfirman: Di sana kamu hidup dan di sana kamu meninggal, dan dari sana kamu akan dikeluarkan.868

Ruku’ 3: Peringatan terhadap bisikan setan

 

26. Wahai Bani Adam, sesungguhnya Kami menurunkan pakaian kepada kamu untuk menutupi aib kamu, dan pula (pakaian) untuk keindahan,869 dan pakaian untuk menjaga diri dari kejahatan — inilah (pakaian) yang paling baik.870 Ini adalah sebagian dari tanda-tanda Allah agar mereka ingat.

 

27. Wahai Bani Adam, janganlah sekali-kali kamu terkena godaan setan, sebagaimana ia telah mengeluarkan orang tua kamu dari Taman, merenggut dari mereka pakaian mereka871 agar ia perlihatkan kepada mereka aib mereka. Sesungguhnya ia melihat kamu, ia dan pasukannya, dari tempat yang kamu tak melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan sebagai kawan bagi orang-orang yang tak beriman.872

 

28. Dan apabila mereka berbuat keji, mereka berkata: Kami dapati ayah-ayah kami melakukan ini, dan Allah telah memerintahkan ini kepada kami. Katakanlah: Sesungguhnya Allah tak memerintahkan berbuat keji. Apakah kamu berkata terhadap Allah apa yang kamu tak tahu?873

 

29. Katakan: Tuhanku menyuruh berbuat adil.874 Dan tegakkanlah wajah kamu pada tiap-tiap shalat, dan berdoalah kepada-Nya dengan ikhlas patuh kepada-Nya. Sebagaimana Ia pada permulaan kali menciptakan kamu, demikianlah kamu akan kembali (kepada-Nya).875

 

30. Segolongan telah Ia beri petunjuk, dan segolongan lagi — pasti mendapat kebinasaan.876 Sesungguhnya mereka telah mengambil setan sebagai kawan, bukan Allah, dan mereka mengira bahwa mereka terpimpin pada jalan yang benar.

 

31. Wahai Bani Adam, pakailah perhiasan kamu pada setiap kali menjalankan shalat, dan makanlah dan minumlah dan janganlah melampaui batas; sesungguhnya Ia tak suka kepada orang yang melampaui batas.877

Ruku’ 4: Para Utusan diutus untuk mengangkat derajat manusia

 

32. Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah878 yang ia keluarkan untuk para hamba-Nya, dan rezeki yang baik? Katakanlah: Ini adalah untuk kaum mukmin dalam kehidupan dunia, (dan) semata-mata (untuk mereka) pada hari Kiamat.879 Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat kepada kaum yang tahu.

 

33. Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan pula perbuatan dosa dan pembangkangan yang tak benar, dan pula menyekutukan Allah yang untuk itu Ia tak menurunkan wewenang, dan pula berkata terhadap Allah apa yang kamu tak tahu.

 

34. Dan tiap-tiap umat mempunyai batas waktu;880 maka dari itu, jika batas waktu mereka tiba, ini tak dapat ditunda sedikit pun, dan tak dapat pula diajukan.

 

35. Wahai Bani Adam, apabila datang kepada kamu para Utusan dari kalangan kamu yang menceritakan kepada kamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa bertaqwa dan berbuat baik — ketakutan tak akan menimpa mereka dan mereka tak pula akan berduka cita.881

 

36. Adapun orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan berpaling daripadanya dengan sombong, — mereka adalah kawan Api; mereka menetap di sana.882

 

37. Siapakah yang lebih lalim daripada orang yang membuat-buat kebohongan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Mereka memperoleh bagian mereka dari Kitab;883 sampai tatkala para Utusan Kami datang kepada mereka untuk mematikan mereka, mereka (para Utusan) berkata: Di manakah apa yang kamu seru selain Allah? Mereka berkata: Mereka telah hilang dari kami. Dan mereka menjadi saksi atas diri mereka bahwa mereka kafir.

 

38. Ia berfirman: Masuklah dalam Api di antara umat yang telah berlalu sebelum kamu, dari golongan jin dan manusia. Setiap kali suatu umat masuk, ia mengutuk saudaranya;884 sampai tatkala mereka semua susul-menyusul masuk di dalamnya, yang terakhir di antara mereka berkata kepada yang pertama:885 Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, maka berikan siksa Neraka lipat dua kepada mereka. Dia berfirman: Masing-masing mendapat siksaan lipat dua, tetapi kamu tak tahu.886

 

39. Dan yang pertama di antara mereka berkata kepada yang terakhir di antara mereka: Kamu tak lebih baik daripada kami, maka rasakanlah siksaan karena apa yang kamu usahakan.

Ruku’ 5: Mereka yang mau menerima Risalah Tuhan

 

40. Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan berpaling daripadanya dengan sombong, pintu-pintu langit tak akan dibuka bagi mereka, dan mereka tak akan masuk Taman, sampai unta dapat melalui lubang jarum. Demikianlah Kami membalas orang-orang yang berdosa.887

 

41. Mereka mendapat tempat tidur dari ranjang api, dan di atas mereka adalah penutup (dari api). Dan demikianlah Kami membalas orang-orang yang lalim.

 

42. Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat baik — Kami tak membebani suatu jiwa kecuali menurut kemampuannya — mereka adalah penghuni Taman; mereka menetap di sana.

 

43. Dan Kami mencabut segala dendam kesumat yang ada dalam hati mereka —sungai-sungai mengalir di bawah mereka. Dan mereka berkata: Segala puji kepunyaan Allah, Yang telah memimpin kami kepada (keadaan) ini. Dan kami tak dapat menemukan jalan, sekiranya Allah tak memimpin kami. Sesungguhnya telah datang para Utusan Tuhan kami dengan membawa kebenaran. Dan diserukan kepada mereka: Ini adalah Surga yang diwariskan kepada kamu, karena apa yang telah kamu kerjakan.

 

44. Para penghuni Taman berseru kepada penghuni Neraka: Sesungguhnya kami telah menemukan benarnya barang yang Tuhan kami telah menjanjikan kepada kami; apakah kamu menemukan benarnya barang yang Tuhan kamu menjanjikan kepada kamu? Mereka berkata: Ya. Lalu seorang penyeru menyeru di antara mereka: Laknat Allah menimpa orang-orang yang lalim.

 

45. (Yaitu) orang yang menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah, dan berusaha membuat jalan itu bengkok, dan mereka mengafiri Akhirat.888

 

46. Dan di antara mereka terdapat tabir.889 Dan pada Tempat Yang Luhur890terdapat orang-orang yang mengenal semuanya dengan tanda-tandanya. Dan mereka menyeru kepada para penghuni Taman: Damai atas kamu! Mereka belum masuk di sana, walaupun mereka mengharapkan itu.891

 

47. Dan tatkala pandangan mata mereka dialihkan ke arah penghuni Neraka, mereka berkata: Tuhan kami, janganlah Engkau menempatkan kami bersama-sama orang yang lalim.891a

Ruku’ 6: Tak berdayanya kaum kafir

 

48. Dan para penghuni Tempat Yang Luhur berseru kepada orang yang mereka kenal dengan tanda-tandanya, serunya: Tak ada gunanya bagi kamu apa yang kamu tumpuk-tumpuk dan apa yang kamu sombongkan.892

 

49. Inikah orang-orang yang kamu bersumpah bahwa Allah tak akan menganugerahkan rahmat kepada mereka? Masuklah ke Taman; ketakutan tak akan menimpa kamu dan kamu tak akan berduka cita.

 

50. Dan penghuni Neraka berseru kepada para penghuni Taman: Tuangkanlah kepada kami sedikit air atau sedikit dari apa yang Allah rezekikan kepada kamu. Mereka berkata: Sesungguhnya Allah telah mengharamkan dua-duanya kepada kaum kafir.

 

51. (Yaitu) orang-orang yang mengambil agama mereka untuk senda gurau dan main-main, dan kehidupan dunia telah menipu mereka. Maka pada hari ini Kami melupakan mereka, sebagaimana mereka melupakan pertemuan hari mereka ini; dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami.893

 

52. Dan sesungguhnya telah Kami datangkan kepada mereka sebuah Kitab yang Kami bikin terang dengan ilmu, yaitu petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

 

53. Adakah mereka menantikan sesuatu selain hasil terakhir?894 Pada hari tatkala hasil terakhir datang, mereka yang dahulu melupakan ini akan berkata: Sesungguhnya para Utusan Tuhan kami telah membawa kebenaran. Adakah perantara bagi kami yang akan menjadi perantara untuk kami? Atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) lagi, sehingga kami dapat melakukan yang lain daripada perbuatan yang telah kami lakukan dahulu? Sesungguhnya mereka telah merugikan jiwa mereka, dan telah hilang dari mereka apa yang mereka buat-buat.

Ruku’ 7: Orang tulus akan sejahtera

 

54. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah, Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,894a dan Dia bersemayam di atas Singgasana.895 Dia membuat malam menyelimuti siang, yang kejar-mengejar tak ada putus-putusnya. Dan (Dia menciptakan) matahari dan bulan dan bintang-bintang, yang dibuat untuk melayani (manusia) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya daya cipta dan daya pimpin adalah kepunyaan Dia. Maha-berkah Allah, Tuhan sarwa sekalian alam.

 

55. Berdoalah kepada Tuhan kamu dengan rendah hati dan dengan suara lemah. Sesungguhnya Dia itu tak suka kepada orang yang melebihi batas.

 

56. Dan janganlah berbuat kerusakan di bumi setelah diperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harapan. Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat sekali kepada orang yang berbuat baik.896

 

57. Dan Dia ialah Yang mengutus angin dengan membawa kabar baik di muka rahmat-Nya;897 sampai tatkala (angin) itu membawa awan tebal, Kami giring itu ke tanah yang mati, lalu Kami turunkan air di sana,898lalu dengan itu Kami tumbuhkan segala macam buah-buahan. Demikianlah Kami menghidupkan orang mati, agar kamu ingat.899

 

58. Adapun tanah yang baik — tanam-tanamannya tumbuh (dengan lebat) atas izin Tuhannya. Dan tanah yang kurang baik — (tanam-tanamannya) tak tumbuh, kecuali hanya sedikit. Demikianlah Kami mengulang ayat-ayat bagi kaum yang bersyukur.900

Ruku’ 8: Nabi Nuh

 

59. Dengan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia berkata: Wahai kaumku, mengabdilah kepada Allah; kamu tak mempunyai Tuhan selain Dia. Sesungguhnya aku mengkhawatirkan kamu terhadap siksaan pada hari yang besar.901

 

60. Para pemuka dari kaumnya berkata: Sesungguhnya kami melihat engkau dalam kesesatan yang terang.

 

61. Dia berkata: Wahai kaumku, tak ada kesesatan dalam diriku, tetapi aku Utusan dari Tuhan sarwa sekalian alam.

 

62. Aku sampaikan kepada kamu risalah Tuhanku, dan kuberikan kepada kamu nasihat yang baik, dan kau tahu dari Allah apa yang kamu tak tahu.

 

63. Apakah kamu heran bahwa peringatan datang kepada kamu dari Tuhan kamu melalui seorang dari kalangan kamu, agar ia memperingatkan kamu dan agar kamu menjaga diri dari kejahatan, dan agar kamu diberi rahmat?

 

64. Tetapi mereka mendustakan dia, maka Kami menyelamatkan dia dan orang-orang yang menyertai dia dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka itu kaum yang buta.902

Ruku’ 9: Nabi Hud

 

65. Dan kepada kaum ‘Ad,903 (Kami utus) saudara mereka,904 Hud.905 Dia berkata: Wahai kaumku, mengabdilah kepada Allah; kamu tak mempunyai Tuhan selain Dia. Apakah kamu tak menjaga diri dari kejahatan?

 

66. Para pemuka orang-orang kafir dari kaumnya berkata: Sesungguhnya kami melihat engkau dalam kebodohan, dan sesungguhnya kami menganggap engkau golongan orang yang bohong.

 

67. Dia berkata: Wahai kaumku, tak ada kebodohan dalam diriku, tetapi aku adalah Utusan Tuhan sarwa sekalian alam.

 

68. Kusampaikan kepada kamu risalah Tuhanku, dan aku adalah penasihat yang boleh dipercaya bagi kamu.

 

69. Apakah kamu heran bahwa peringatan datang kepada kamu dari Tuhan kamu melalui seorang dari kalangan kamu, agar ia memperingatkan kamu. Dan ingatlah tatkala Ia membuat kamu sebagai pengganti sesudah kaum Nuh,906 dan membuat kamu bertambah perkasa.907 Maka ingatlah akan anugerah Allah, agar kamu beruntung.

 

70. Mereka berkata: Apakah engkau datang kepada kami agar kami mengabdi hanya kepada Allah saja dan meninggalkan apa yang disembah oleh ayah-ayah kami? Maka datangkanlah kepada kami apa yang engkau ancamkan kepada kami, jika engkau orang yang tulus.

 

71. Dia berkata: Sesungguhnya kecemaran dan kemurkaan telah menimpa kamu dari Tuhan kamu.908 Apakah kamu berbantah dengan aku tentang nama-nama yang kamu dan ayah-ayah kamu menamakannya?909 Allah tak menurunkan kekuasaan apa pun kepadanya. Maka nantikanlah, aku pun orang yang menanti bersama kamu.

 

72. Maka Kami menyelamatkan dia dan orang-orang yang menyertai dia dengan kemurahan dari Kami, dan Kami potong akar orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan mereka bukanlah orang yang beriman.910

Ruku’ 10: Nabi Shalih dan Nabi Luth

 

73. Dan kepada kaum Tsamud911 (Kami utus) saudara mereka, Shalih.912 Dia berkata: Wahai kaumku, mengabdilah kepada Allah; kamu tak mempunyai tuhan selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepada kamu tanda bukti dari Tuhan kamu. Ini adalah unta betina Allah — sebagai tanda bukti bagi kamu913 — maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan jangan sekali-kali kamu melukai dia, agar kamu tak terkena siksaan yang pedih.

 

74. Dan ingatlah tatkala Ia membuat kamu sebagai pengganti sesudah kaum ‘Ad, dan menempatkan kamu di bumi — kamu membuat istana di tanah yang datar, dan kamu memahat gunung sebagai rumah.914 Maka ingatlah akan anugerah Allah, dan janganlah kamu berbuat rusak di bumi, berbuat bencana.

 

75. Para pemuka kaum (Tsamud) yang sombong berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, kepada orang yang beriman di antara mereka: Tahukah kamu bahwa Shalih itu orang yang diutus oleh Tuhannya? Mereka berkata: Sesungguhnya kami orang yang beriman kepada apa yang untuk itu diutus.

 

76. Orang-orang yang sombong berkata: Sesungguhnya kami orang yang mengafiri apa yang kamu imankan.

 

77. Lalu mereka menyembelih unta betina, dan membangkang (berlaku angkuh) terhadap perintah Tuhan mereka, dan berkata: Wahai Shalih, datangkanlah kepada kami apa yang engkau ancamkan kepada kami jika engkau golongan orang yang diutus.

 

78. Maka gempa bumi menimpa mereka, dan mereka menjadi tubuh-tubuh yang tak bergerak dalam rumah mereka.915

 

79. Maka ia (Shalih) berpaling dari mereka, dan berkata: Wahai kaumku, sesungguhnya telah kusampaikan risalah Tuhanku kepada kamu, dan telah kunasihatkan kepada kamu, tetapi kamu tak suka kepada penasihat yang baik.916

 

80. Dan (Kami telah mengutus) Luth; tatkala ia berkata kepada kaumnya: Apakah kamu menjalankan perbuatan keji yang tak pernah dijalankan oleh seorang pun di dunia ini sebelum kamu.917

 

81. Sesungguhnya kamu mendatangi pria dengan nafsu birahi, bukan (mendatangi) wanita. Tidak, kamu adalah kaum yang melebihi batas.

 

82. Dan tiada lain jawab kaumnya hanyalah berkata: Usirlah mereka dari kota kamu; sesungguhnya mereka adalah orang yang menghendaki kesucian.

 

83. Maka Kami menyelamatkan dia dan pengikutnya917a kecuali istrinya, ia termasuk orang yang ditinggalkan.

 

84. Dan Kami siksa mereka dengan hujan.918 Lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa!

Ruku’ 11: Nabi Syu’aib

 

85. Dan kepada Madian (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: Wahai kaumku, mengabdilah kepada Allah! Kamu tak mempunyai tuhan selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepada kamu tanda bukti dari Tuhan kamu, maka penuhilah takaran dan timbangan, dan janganlah kamu mengurangi hak manusia akan barang-barang mereka, dan jangan pula berbuat kerusakan di bumi setelah diperbaikinya. Ini adalah baik bagi kamu jika kamu orang yang beriman.919

 

86. Dan janganlah kamu duduk mengintai di tiap-tiap jalan, dengan mengancam dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan berusaha membikin (jalan) itu bengkok. Dan ingatlah tatkala (bilangan) kamu sedikit, lalu Ia lipatkan (bilangan) kamu, dan lihatlah bagaimana kesudahan orang yang berbuat kerusakan.

 

87. Dan jika segolongan kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk itu, dan segolongan lagi tak beriman, maka bersabarlah sampai Allah mengadili antara kami, dan Ia adalah Hakim Yang paling baik.
JUZ IX

 

88. Para pemuka dari kaumnya yang sombong berkata: Wahai Syu’aib, kami pasti akan mengusir engkau dan orang-orang mukmin yang menyertai engkau dari kota kami, atau, engkau harus kembali ke dalam agama kami. Dia berkata: Sekalipun kami tak menyukai (ini)?

 

89. Sesungguhnya kami membuat-buat kebohongan terhadap Allah jika kami kembali kepada agama kamu, setelah Allah menyelamatkan kami dari (kesesatan) ini. Dan tak layak bagi kami untuk kembali kepada (agama kamu) kecuali jika Allah Tuhan kami menghendaki (itu). Tuhan kami meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya. Kami bertawakal kepada Allah. Tuhan kami! Berilah keputusan dengan benar antara kami dan kaum kami, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi keputusan.

 

90. Dan para pemuka orang-orang kafir dari kaumnya berkata: Jika kamu mengikuti Syu’aib, niscaya kamu menjadi orang yang rugi.

 

91. Maka gempa bumi menimpa mereka, lalu mereka menjadi tubuh-tubuh yang tak bergerak dalam rumah mereka.920

 

92. Orang-orang yang mendustakan Syu’aib seakan-akan tidak pernah tinggal di sana; orang-orang yang mendustakan Syu’aib adalah orang yang rugi.

 

93. Maka ia berpaling dari mereka dan berkata: Wahai kaumku, sesungguhnya telah kusampaikan kepada kamu risalah Tuhanku, dan kunasihatkan kepada kamu; lalu mengapa aku harus merasa sedih terhadap kaum kafir?921

Ruku’ 12: Orang-orang Makkah diperingatkan tentang siksaan

 

94. Dan Kami tak mengutus seorang Nabi di suatu kota, melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesengsaraan dan kesusahan, agar mereka berendah hati.922

 

95. Lalu keburukan, Kami tukar dengan kebaikan,923 hingga mereka menjadi makmur, dan mereka berkata: Sesungguhnya ayah-ayah kami telah mengalami kesusahan dan kesenangan. Maka Kami timpakan siksaan kepada mereka dengan tiba-tiba, sedangkan mereka tak merasa.

 

96. Dan sekiranya penduduk kota beriman dan menetapi kewajiban, niscaya Kami buka untuk mereka berkah-berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan, maka Kami timpakan siksaan kepada mereka karena perbuatan mereka.

 

97. Lalu apakah para penduduk kota merasa aman dari siksaan Kami yang mendatangi mereka pada malam hari selagi mereka tidur?

 

98. Atau apakah para penduduk kota merasa aman dari siksaan Kami yang mendatangi mereka pada pagi hari selagi mereka bermain-main?924

 

99. Apakah mereka merasa aman dari rencana Allah? Tak seorang pun merasa aman dari rencana Allah selain orang yang rugi.

Ruku’ 13: Nabi Musa diutus kepada Fir’aun dengan tanda bukti

 

100. Apakah belum terang bagi orang-orang yang mewaris bumi setelah penduduknya (yang dahulu), bahwa jika Kami kehendaki, Kami akan menimpakan siksaan kepada mereka karena dosa mereka, dan Kami cap hati mereka sehingga mereka tak dapat mendengar.

 

101. Itulah kota yang sebagian riwayatnya telah Kami ceritakan kepada engkau. Dan sesungguhnya Utusan mereka telah mendatangi mereka dengan tanda bukti yang terang, tetapi mereka tak mau beriman kepada apa yang mereka dustakan sebelumnya. Demikianlah Allah mencap hati kaum kafir.

 

102. Dan Kami tak menemukan sebagian besar mereka, (orang yang setia) kepada perjanjian; dan Kami menemukan sebagian besar mereka, orang yang durhaka.

 

103. Lalu sesudah mereka, Kami utus Musa dengan ayat-ayat Kami kepada Fir’aun dan para pemukanya, tetapi mereka tak mempercayai (ayat-ayat) itu. Lalu lihatlah, bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.925a

 

104. Dan Musa berkata: Wahai Fir’aun, sesungguhnya aku adalah seorang Utusan dari Tuhan sarwa sekalian alam.

 

105. Sudah sepantasnya aku tak berkata apa pun tentang Allah kecuali yang benar. Aku datang kepada kamu dengan tanda bukti yang terang dari Tuhan kamu, maka suruhlah kaum Bani Israil pergi bersama aku.

 

106. Dia berkata: Jika engkau datang dengan tanda bukti, perlihatkanlah itu, jika engkau golongan orang yang benar.

 

107. Maka ia melempar tongkatnya, lalu tiba-tiba itu adalah ular yang terang.

 

108. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka tiba-tiba itu nampak putih bagi orang yang melihat.926

Ruku’ 14: Fir’aun memanggil para tukang sihir

 

109. Para pemuka dari kaum Fir’aun berkata: Sesungguhnya (orang) ini adalah tukang sihir yang pandai.

 

110. Ia bermaksud mengusir kamu dari bumi kamu. Lalu apakah nasihat kamu?927

 

111. Mereka berkata: Tangguhkanlah dia dan saudaranya, dan kirimlah ke kota-kota (beberapa orang) yang akan mengumpulkan (tukang sihir).

 

112. (Agar) mereka mendatangkan kepada engkau tiap-tiap tukang sihir yang pandai.

 

113. Dan para tukang sihir menghadap Fir’aun, mereka berkata: Sungguhkah kami akan menerima ganjaran jika kami unggul!928

 

114. Ia berkata: Ya, bahkan kamu akan menjadi golongan orang yang dekat (kepadaku).

 

115. Mereka berkata: Wahai Musa, apakah engkau yang akan melempar, ataukah kami yang harus melempar (lebih dahulu)?

 

116. Ia berkata: Lemparlah. Maka tatkala mereka melempar, mereka menyulap penglihatan manusia, dan menimbulkan rasa takut kepada manusia, dan mereka menghasilkan sihir yang besar.

 

117. Dan Kami wahyukan kepada Musa: Lemparkanlah tongkat engkau. Maka tiba-tiba ini menelan barang tipuan mereka.929

 

118. Maka tegaklah barang benar, dan lenyaplah apa yang mereka lakukan.

 

119. Dan di sini mereka dikalahkan, dan mereka kembali sebagai orang yang hina.

 

120. Dan para tukang sihir merebahkan diri sambil bersujud.

 

121. Mereka berkata: Kami beriman kepada Tuhan sarwa sekalian alam.

 

122. Tuhannya Musa dan Harun.

 

123. Fir’aun berkata: Apakah kamu beriman kepada-Nya sebelum aku memberi izin kepada kamu? Sesungguhnya ini adalah rencana jahat yang kamu rencanakan dalam kota, agar kamu mengusir penduduknya dari (kota) ini, tetapi kamu akan tahu!

 

124. Aku pasti akan memotong tangan kamu dan kaki kamu berselang-seling, lalu kamu akan aku salib semua!

 

125. Mereka berkata: Sesungguhnya kepada Tuhan kami, kami akan kembali.

 

126. Dan tiada engkau membalas dendam kepada kami kecuali hanya karena kami beriman kepada ayat Tuhan kami, tatkala ini datang kepada kami. Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran kepada kami, dan matikanlah kami sebagai orang muslim (yang tunduk kepada Engkau)!930

Ruku’ 15: Penindasan terhadap Bani Israil berlanjut

 

127. Dan para pemuka dari kaum Fir’aun berkata: Apakah engkau akan membiarkan Musa dan kaumnya berbuat kerusakan di bumi dan meninggalkan engkau dan tuhan-tuhan dikau? Dia berkata: Kami akan membunuh anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup wanita mereka, dan sesungguhnya kami yang berkuasa atas mereka.931

 

128. Musa berkata kepada kaumnya: Mohonlah pertolongan Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi itu kepunyaan Allah — Ia mewariskan itu kepada siapa yang Ia kehendaki di antara hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik itu bagi orang yang bertaqwa.

 

129. Mereka berkata: Kami telah ditindas sebelum engkau datang kepada kami dan sesudah engkau datang kepada kami. Dia berkata: Boleh jadi Tuhan kamu akan membinasakan musuh kamu dan membuat kamu sebagai yang memerintah di bumi, lalu Ia akan melihat bagaimana kamu bertindak.932

Ruku’ 16: Nabi Musa memperlihatkan tanda bukti lebih banyak lagi

 

130. Dan sesungguhnya telah Kami timpakan kepada orang-orangnya Fir’aun musim kering dan berkurangnya buah-buahan, agar mereka ingat.

 

131. Tetapi apabila kebaikan mendatangi mereka, mereka berkata: Ini disebabkan karena kami. Dan apabila keburukan menimpa mereka, mereka melemparkan sebab keburukan itu kepada Musa dan orang-orang yang menyertai dia. Sesungguhnya nasib buruk mereka adalah dari Allah, tetapi kebanyakan mereka tak tahu.933

 

132. Dan mereka berkata: Apapun tanda bukti yang engkau bawa kepada kami untuk menyihir kami dengan itu — kami tak akan beriman kepada engkau.

 

133. Maka dari itu Kami kirimkan kepada mereka kematian yang merata,934 dan belalang, dan kutu, dan katak, dan darah (sebagai) tanda bukti yang terang.935 Tetapi mereka tetap bersikap sombong, dan mereka adalah kaum yang berdosa.

 

134. Dan tatkala wabah936menimpa mereka, mereka berkata: Wahai Musa, mohonlah untuk kami kepada Tuhan dikau seperti yang Ia janjikan kepada engkau. Jika wabah itu engkau singkirkan dari kami, niscaya kami akan beriman kepada engkau, dan kami akan menyuruh kaum Bani Israil pergi bersama engkau.

 

135. Tetapi setelah Kami singkirkan wabah itu dari mereka sampai batas waktu yang mereka capai, tiba-tiba mereka mengingkari janji mereka.937

 

136. Maka dari itu, Kami menuntut balas dari mereka, dan Kami tenggelamkan mereka di laut, karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami, dan mereka lalai akan ini.

 

137. Dan Kami wariskan kepada kaum yang dianggap lemah, tanah di sebelah Timur dan di sebelah Barat, yang Kami berkahi. Dan sabda baik Tuhan dikau telah terpenuhi dalam diri kaum Bani Israil — karena mereka sabar. Dan Kami hancurkan apa yang dibuat Fir’aun dan kaumnya, dan pula apa yang mereka bangun.938

 

138. Dan Kami bawa kaum Bani Israil melintasi lautan. Lalu sampailah mereka pada suatu kaum yang gemar menyembah berhala. Mereka berkata: Wahai Musa, bikinlah untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai juga tuhan-tuhan. Dia berkata: Sesungguhnya kamu kaum yang bodoh.939

 

139. Sesungguhnya itu, yang mereka sibuk di dalamnya, akan dibinasakan, dan apa yang mereka kerjakan akan sia-sia.

 

140. Ia berkata: Apakah akan kucarikan untuk kamu tuhan selain Allah, padahal Ia telah membuat kamu melebihi sekalian makhluk?940

 

141. Dan tatkala Kami selamatkan kamu dari orang-orangnya Fir’aun, yang menyiksa kamu dengan siksaan yang berat, dengan membunuh anak laki-laki kamu dan membiarkan hidup wanita kamu. Dan inilah cobaan yang berat dari Tuhan kamu.

Ruku’ 17: Nabi Musa menerima Risalah

 

142. Dan Kami tetapkan bagi Musa tiga puluh malam, dan Kami lengkapkan lagi dengan sepuluh, maka lengkaplah waktu yang ditetapkan oleh Tuhannya empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada saudaranya, Harun: Gantikanlah kedudukanku dalam (memimpin) kaumku, dan bekerjalah yang baik, dan janganlah mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan.

 

143. Dan setelah Musa sampai pada batas waktu yang Kami tetapkan, dan Tuhannya berfirman kepadanya, ia berkata: Tuhan-ku, perlihatkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau. Dia berfirman: Engkau tak dapat melihat Aku; tetapi lihatlah gunung itu; jika itu tetap tegak di tempatnya, niscaya engkau akan melihat Aku. Maka tatkala Tuhannya membabar Keluhuran-Nya pada gunung itu, Ia jadikan itu berkeping-keping, dan Musa jatuh pingsan. Lalu setelah ia sadar, ia berkata: Maha-suci Engkau! Aku bertobat kepada Engkau, dan aku adalah permulaan orang yang beriman.941

 

144. Dia berfirman: Wahai Musa! Sesungguhnya Aku memilih engkau melebihi sekalian manusia untuk (mengemban) risalah-Ku dan firman-Ku. Maka ambillah apa yang Aku berikan kepada engkau, dan jadilah engkau golongan orang yang bersyukur.

 

145. Dan Kami tetapkan942 kepadanya, pada loh batu, peringatan tentang apa saja, dan penjelasan tentang segala sesuatu. Maka peganglah ini dengan kuat, dan suruhlah umat engkau memegang ini dengan sebaik-baiknya. Aku akan memperlihatkan kepada kamu tempat tinggal orang-orang durhaka.943

 

146. Akan Aku palingkan dari ayat-ayat-Ku orang-orang yang takabur di bumi dengan tak benar. Dan apabila mereka melihat setiap tanda bukti, mereka tak beriman kepadanya; dan apabila mereka melihat jalan lurus, mereka tak mengambil jalan itu untuk jalan; dan apabila mereka melihat jalan salah, mereka mengambil itu untuk jalan. Ini disebabkan karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami, dan mereka lalai akan ini.

 

147. Adapun orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan pertemuan di Akhirat — perbuatan mereka akan sia-sia. Dapatkah mereka menerima pembalasan selain apa yang mereka kerjakan.

Ruku’ 18: Bangsa Israil menyembah anak sapi

 

148. Dan sepeninggal Musa, umatnya membuat dari perhiasan mereka, seekor anak sapi — sesosok tubuh (tak bernyawa),944 yang bersuara menguak. Apakah mereka tak tahu bahwa ini tak dapat bicara dengan mereka, dan tak dapat menunjukkan jalan? (Namun) mereka mengambil itu (sebagai tuhan), dan mereka lalim.

 

149. Dan setelah mereka merasa menyesal945 dan tahu bahwa mereka tersesat, mereka berkata: Jika Tuhan kami tak mengasihi kami dan mengampuni kami, niscaya kami menjadi golongan orang yang rugi.

 

150. Dan tatkala Musa kembali kepada kaumnya dengan marah bercampur susah, ia berkata: Buruk sekali apa yang kamu lakukan sepeninggalku! Apakah kamu mempercepat keputusan Tuhan kamu?946 Dan ia menjatuhkan loh batu dan memegang kepala saudaranya, dan ia tarik kepadanya. Ia (Harun) berkata: Wahai putra ibuku! Orang-orang menganggap aku lemah dan hampir-hampir membunuhku. Maka janganlah engkau membuat musuh-musuh bergembira karena aku, dan jangan pula menganggap aku menyertai orang-orang lalim.

 

151. Ia (Musa) berkata: Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku, dan masukkanlah kami dalam rahmat Engkau; dan Engkau adalah sebaik-baik Dzat Yang Maha-pengasih.947

Ruku’ 19: Kitab Taurat dan nubuat kedatangan Nabi Suci

 

152. Sesungguhnya, orang-orang yang mengambil anak sapi (sebagai tuhan) —mereka akan terkena murka Tuhannya, dan (terkena) kehinaan dalam kehidupan dunia. Dan demikianlah Kami membalas orang-orang yang membuat-buat kebohongan.

 

153. Adapun orang-orang yang berbuat jahat, lalu sesudah itu mereka bertobat dan beriman, niscaya sesudah itu Tuhan dikau adalah Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

 

154. Dan setelah Musa reda dari amarah-nya, ia memungut loh batu itu; dan dalam naskahnya terdapat petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka.948

 

155. Dan Musa memilih orang-orangnya, tujuh puluh pria, untuk jangka waktu yang Kami tentukan.949 Maka tatkala gempa bumi menimpa mereka, ia berkata: Tuhanku, jika Engkau kehendaki, niscaya Engkau binasakan mereka sebelum ini, demikian pula aku. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang bodoh di kalangan kami? Sesungguhnya ini tiada lain hanyalah cobaan Dikau. Engkau sesatkan dengan ini siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau pimpin siapa yang Engkau kehendaki. Engkau adalah pelindung kami, maka ampunilah kami, dan kasih sayangilah kami, dan Engkau adalah Yang Maha mengampuni.

 

156. Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia dan di Akhirat, karena sesungguhnya kami kembali kepada Engkau. Ia berfirman: Siksaan-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki, dan kasih sayang-Ku meliputi segala sesuatu. Ini akan Aku tetapkan bagi orang yang bertaqwa dan membayar zakat, dan orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.949a

 

157. Orang-orang yang mengikuti Nabi Utusan, yang Ummi,950 yang mereka dapati tertulis dalam Taurat dan Injil.951 Ia menyuruh mereka berbuat baik dan melarang mereka berbuat jahat, dan menghalalkan kepada mereka barang-barang yang baik, dan mengharamkan kepada mereka barang-barang yang kotor, dan menyingkirkan dari mereka beban mereka dan belenggu yang ada pada mereka. Maka dari itu orang-orang yang beriman kepadanya dan menghormatinya dan membantunya,952 dan mengikuti sinar terang yang diturunkan bersama dia —mereka adalah orang yang beruntung.

Ruku’ 20: Nikmat Tuhan kepada Bangsa Israil

 

158. Katakanlah: Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah Utusan Allah kepada kamu semua. Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi.953 Tak ada Tuhan selain Dia; Ia memberi hidup dan menyebabkan mati. Maka berimanlah kepada Allah dan Utusan-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan firman-Nya, dan ikutilah dia agar kamu terpimpin pada jalan yang benar.

 

159. Dan di antara kaum Musa ada segolongan yang memberi petunjuk dengan kebenaran, dan dengan (kebenaran) itu pula mereka menjalankan keadilan.953a

 

160. Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku, sebagai bangsa. Dan Kami wahyukan kepada Musa, tatkala kaumnya minta air kepadanya: Pukullah batu itu dengan tongkat dikau. Maka terpancarlah daripadanya dua belas mata air. Tiap-tiap suku tahu akan tempat minum mereka. Dan Kami naungkan awan di atas mereka, dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. Makanlah sebaik-baik barang yang Kami rezekikan kepada kamu. Dan tiada mereka berbuat lalim terhadap Kami, melainkan berbuat lalim terhadap mereka sendiri.

 

161. Dan tatkala dikatakan kepada mereka: Tinggallah kamu di kota ini dan makanlah daripadanya mana saja yang kamu sukai, dan mohonlah ampun, dan masukilah pintu dengan menunduk, niscaya Kami akan mengampuni segala kesalahan kamu. Kami akan menambah lebih banyak lagi kepada orang yang berbuat baik.

 

162. Tetapi orang-orang lalim di antara mereka menukar itu dengan perkataan yang lain daripada yang diucapkan kepada mereka; maka Kami kirimkan kepada mereka siksaan dari langit karena mereka berbuat lalim.953b

Ruku’ 21: Pendurhakaan Bangsa Israil

 

163. Dan tanyakanlah kepada mereka tentang kota yang terletak di dekat laut. Tatkala mereka melanggar Sabat, yaitu tatkala ikan mendatangi mereka pada hari Sabat mereka, di atas permukaan (laut), dan pada waktu bukan hari Sabat, (ikan) itu tak mendatangi mereka. Demikianlah Kami memberi cobaan kepada mereka karena mereka durhaka.954

 

164. Dan tatkala segolongan di antara mereka berkata: Mengapa kamu memberi nasihat kepada orang yang Allah hendak membinasakan mereka atau menyiksa mereka dengan siksaan yang berat? Mereka berkata: Agar bebas dari celaan di hadapan Tuhan kamu, dan agar mereka menjaga diri dari kejahatan.

 

165. Maka tatkala mereka lupa akan apa yang mereka diperingatkan, Kami selamatkan mereka yang menjauhkan diri dari kejahatan dan Kami timpakan kepada orang-orang lalim siksaan yang buruk karena mereka durhaka.

 

166. Maka tatkala mereka tetap berkeras kepala terhadap apa yang mereka dilarangnya, Kami berfirman kepada mereka: Jadilah (seperti) kera, terhina dan dibenci.954a

 

167. Dan tatkala Tuhan dikau menyatakan, bahwa Ia akan mengirimkan kepada mereka sampai Hari Kiamat, orang yang akan menimpakan siksaan yang berat kepada mereka. Sesungguhnya Tuhan dikau itu Yang Maha-cepat dalam pembalasan; dan sesungguhnya Dia itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

 

168. Dan di muka bumi, mereka Kami bagi menjadi (beberapa) golongan — di antara mereka ada yang saleh, dan di antara mereka ada yang tidak demikian. Dan kepada mereka Kami beri cobaan berupa kebaikan dan kemalangan, agar mereka mau kembali (kepada kebenaran).

 

169. Lalu sesudah mereka, datanglah keturunan yang jahat955 yang mewaris Kitab; mereka hanya mengambil barang-barang tak kekal dalam kehidupan yang rendah ini, dan mereka berkata: Pengampunan akan diberikan kepada kami. Dan apabila didatangkan lagi barang-barang seperti itu, mereka akan mengambilnya (juga).956 Apakah belum pernah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab, bahwa mereka tak akan berkata tentang Allah selain yang benar? Dan mereka mempelajari apa yang ada di dalamnya. Dan tempat tinggal Akhirat itu lebih baik lagi bagi orang-orang yang bertaqwa. Apakah kamu tak mengerti?

 

170. Adapun orang-orang yang berpegang teguh pada Kitab dan menegakkan shalat — sesungguhnya Kami tak akan menyia-nyiakan ganjaran orang yang memperbaiki (dirinya).

 

171. Dan tatkala Kami guncangkan gunung di atas mereka seakan-akan itu naungan, dan mereka mengira bahwa itu akan menjatuhi mereka: Peganglah kuat-kuat apa yang Kami berikan kepada kamu, dan ingatlah apa yang ada di dalamnya, agar kamu menjaga diri dari kejahatan.957

Ruku’ 22: Kodrat manusia mengakui adanya Tuhan

 

172. Dan tatkala Tuhan dikau melahirkan keturunan dari para putra Adam, dari punggung mereka, dan membuat persaksian atas diri mereka sendiri: Bukankah Aku Tuhan kamu? Mereka berkata: Ya, kami menyaksikan. Agar kamu tak berkata ada hari Kiamat : Sesungguhnya Kami tak tahu menahu tentang ini,958

 

173. Atau (agar) kamu tak berkata: Sesungguhnya ayah-ayah kami dahulu menyekutukan (Allah), dan kami adalah keturunan (mereka) sesudah mereka. Apakah engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang dusta?959

 

174. Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat, dan mudah-mudahan mereka kembali (kepada kebenaran).

 

175. Dan bacakanlah kepada mereka berita tentang orang yang telah Kami beri ayat-ayat Kami, tetapi ia menarik diri dari (ayat) itu, maka setan mengikuti dia dari dekat, maka jadilah ia golongan orang yang rusak binasa.960

 

176. Dan jika Kami kehendaki, niscaya Kami mengangkat dia dengan (ayat) itu; tetapi ia melekat di bumi961 dan mengikuti hawa nafsunya. Maka perumpamaan dia itu bagaikan anjing — jika engkau menghalaunya, ia mengeluarkan lidahnya; jika engkau membiarkannya, ia juga mengeluarkan lidahnya. Inilah perumpamaan orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah (ini) agar mereka berfikir.

 

177. Buruk sekali perumpamaan orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menganiaya jiwa mereka sendiri.

 

178. Barangsiapa mendapat pimpinan Allah, ia ada di jalan yang benar; dan barangsiapa ia biarkan dalam kesesatan — mereka adalah orang yang rugi.

 

179. Dan sesungguhnya Kami menciptakan untuk Neraka kebanyakan jin dan manusia — mereka mempunyai hati yang tak mereka gunakan untuk mengerti, dan mereka mempunyai mata yang tak mereka gunakan untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga yang tak mereka gunakan untuk mendengar. Mereka bagaikan ternak; tidak, malahan mereka lebih sesat lagi. Mereka adalah orang yang lengah.962

 

180. Dan kepunyaan Allah-lah nama-nama (sifat-sifat) yang baik,963 maka bermohonlah kepada-Nya dengan itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang melanggar kesucian964nama-Nya. Mereka akan dibalas atas apa yang mereka lakukan.

 

181. Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan adalah umat964a yang memberi petunjuk dengan kebenaran, dan dengan (kebenaran) itu mereka menjalankan keadilan.

Ruku’ 23: Datangnya siksaan

 

182. Adapun orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan Kami hancurkan sedikit demi sedikit dari arah yang mereka tak tahu.

 

183. Dan kepada mereka Aku berikan tangguh. Sesungguhnya rencana-Ku adalah paling berhasil.965

 

184. Apakah mereka tak berpikir (bahwa) sahabat mereka tidaklah gila? Dan ia hanyalah juru ingat yang terang.

 

185. Apakah mereka tak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang telah Allah ciptakan? Dan boleh jadi kehancuran mereka sudah dekat. Pemberitahuan apalagi yang akan mereka imankan sesudah itu?

 

186. Barangsiapa Allah biarkan dalam kesesatan, maka tak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Dan Ia membiarkan mereka dalam pendurhakaan mereka, membabi-buta kebingungan.

 

187. Mereka bertanya kepada engkau tentang Sa’ah,966 kapankah terjadinya? Katakan: Pengetahuan itu hanya ada pada Tuhanku. Tak seorang pun selain Dia yang dapat mewujudkan itu tepat pada waktunya. Ini adalah perkara penting baik di langit maupun di bumi. Ini tak datang kepada kamu kecuali dengan tiba-tiba. Mereka bertanya kepada engkau seakan-akan engkau cemas tentang itu. Katakanlah: Pengetahuan tentang itu ada pada Allah semata-mata, tetapi kebanyakan manusia tak tahu.

 

188. Katakanlah: Aku tak menguasai untung dan rugi bagi diriku sendiri kecuali apa yang Allah kehendaki. Dan sekiranya aku tahu tentang barang gaib, niscaya aku akan memperoleh banyak kebaikan; dan keburukan tak akan mengenai aku. Aku tiada lain hanyalah seorang juru ingat dan pemberi kabar baik kepada orang-orang yang beriman.967

Ruku’ 24: Firman terakhir

 

189. Dia ialah Yang menciptakan kamu dari satu jiwa, dan dari jenis yang sama Ia jadikan jodohnya, agar ia memperoleh ketenteraman pada dia.968 Maka setelah ia mencampuri dia, mengandunglah dia, kandungan yang ringan, lalu berjalanlah dia dengan (kandungan) itu. Lalu tatkala itu menjadi berat, berdoalah mereka kepada Allah Tuhan mereka: Jika Engkau berikan kepada kami (anak) yang saleh, niscaya kami akan menjadi orang yang bersyukur.969

 

190. Tetapi setelah Ia berikan kepada mereka (anak) yang saleh, mereka membuat sekutu-sekutu terhadap Dia mengenai apa yang Ia berikan kepada mereka. Maha-luhur Allah di atas segala barang yang mereka sekutukan.

 

191. Apakah mereka menyekutukan (Allah) dengan sesuatu yang tak dapat menciptakan apa-apa, malahan mereka sendiri diciptakan?

 

192. Mereka (sekutu) tak dapat memberi pertolongan kepada mereka, malahan mereka (sekutu) tak dapat menolong diri mereka sendiri.

 

193. Dan jika mereka kamu ajak kepada petunjuk (Tuhan), mereka tak mengikuti kamu. Sama saja bagi kamu apakah kamu mengajak mereka ataukah kamu diam saja.970

 

194. Mereka yang kamu seru selain Allah adalah hamba (Tuhan) seperti kamu;971 maka menyerulah kepada mereka, lalu biarlah mereka menjawab seruan kamu, jika kamu orang yang benar.

 

195. Apakah mereka mempunyai kaki yang dengan itu mereka berjalan, ataukah mereka mempunyai tangan yang dengan itu mereka memegang, ataukah mereka mempunyai mata yang dengan itu mereka melihat, ataukah mereka mempunyai telinga yang dengan itu mereka mendengar? Katakan: Menyerulah kepada sekutu-sekutu kamu, lalu bersekongkollah melawan aku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.

 

196. Sesungguhnya Pelindungku adalah Allah, Yang menurunkan Kitab, dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.

 

197. Adapun mereka yang kamu seru selain Dia, mereka tak mampu menolong kamu, dan tak pula menolong diri sendiri.972

 

198. Dan jika kamu ajak mereka kepada petunjuk (Tuhan), mereka tak mendengar; dan engkau melihat mereka memandang kepada engkau, tetapi mereka tak melihat.

 

199. Berilah ampun, dan suruhlah orang berbuat baik, dan berpalinglah dari orang yang bodoh.

 

200. Dan apabila tuduhan palsu973 dari setan menimpa engkau, mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia itu Yang Maha-mendengar, Yang Maha-tahu.

 

201. Sesungguhnya orang-orang yang menjaga diri dari kejahatan, apabila godaan974setan menimpa mereka, lalu mereka ingat, maka seketika itu mereka melihat.975

 

202. Dan saudara mereka976 menambah mereka dalam kesesatan, lalu mereka tak mau berhenti.

 

203. Dan apabila engkau tak membawa tanda bukti kepada mereka, mereka berkata: Mengapa engkau tak meminta (tanda bukti) itu? Katakanlah: Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dari Tuhanku. Ini adalah tanda bukti yang terang dari Tuhan kamu, dan pedoman dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

 

204. Dan apabila Qur’an dibaca, dengarkanlah itu dan diamlah, agar kamu memperoleh rahmat.

 

205. Dan ingatlah kepada Tuhan dikau dalam batinmu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan suara yang tak keras, pada pagi hari dan petang hari, dan janganlah menjadi golongan orang yang lalai.977

 

206. Sesungguhnya orang-orang yang berada di sisi Tuhan dikau, mereka tak sombong untuk mengabdi kepada-Nya, dan mereka memahasucikan Dia, dan bersujud kepada-Nya.978

  1. Dari empat huruf, alif, lam, mim dan shad, tiga huruf pertama adalah sama dengan huruf yang terdapat pada permulaan Surat kedua, maka dari itu, lihatlah tafsir nomor 11; adapun huruf shad adalah kependekan dari shadiq, artinya Yang Maha-benar. Yang janji-Nya tak akan meleset (AH); atau kependekan dari afshat artinya Yang Maha-memutuskan (I’Ab, AH); atau kependekan dari Shabur artinya Yang Maha-sabar atau Tuhan Yang Maha-tahan uji, Yang menangguhkan siksaan kepada orang jahat, dan membuat hamba-Nya yang tulus menderita penganiayaan dan kesukaran untuk sementara waktu. []
  2. Haraj artinya kesempitan; adapun kalimat sisipan maka janganlah ada kesempitan dalam dada engkau tentang ini, ini dimaksud untuk menghibur Nabi Suci yang pada waktu itu sedang menghadapi perlawanan yang amat berat, dikepung musuh dari segala penjuru, dan yang tampaknya tak banyak mengalami kemajuan dalam pekerjaan beliau. []
  3. Berulangkali Qur’an disebut Dzikr atau Dzikra artinya juru ingat. Karena selaras dengan kodrat manusia, Qur’an adalah juru ingat terhadap apa yang tertanam di dalam kodrat manusia. Atau, kata dzikra di sini berarti dzikr maknanya kehormatan atau kemuliaan sebagaimana diuraikan dalam 43:44: “Sesungguhnya (Qur’an) ini adalah kehormatan bagi engkau dan kaum dikau” (T, LL), dan dalam 38:1: “Demi Qur’an yang mempunyai kemuliaan” (S, LL). []
  4. Di sini musuh Nabi Suci diperingatkan akan mendapat siksaan yang sama seperti siksaan yang dialami oleh para musuh kebenaran sebelum mereka. Kebenaran harus ditegakkan, walaupun dengan kehancuran di pihak musuh, atau tumbangnya kekuasaan mereka, atau mereka benar-benar takluk. []
  5. Orang-orang yang kepada mereka diutus para Utusan, akan ditanya bagaimana mereka memperlakukan para Utusan, dan para Utusan juga akan ditanya bagaimana mereka bisa diterima. []
  6. Allah Yang Maha-tahu segala sesuatu akan menerangkan kepada mereka apa yang telah mereka lakukan; dengan kata lain, buah perbuatan mereka akan menjadi terang. []
  7. Wazn artinya ilmu tentang beratnya suatu barang (R). Sehubungan dengan kalimat permulaan ayat ini, R menambahkan bahwa yang diisyaratkan ialah membuat perhitungan yang adil terhadap manusia. Mjd berkata bahwa wazn artinya keputusan (IJ). Kata mawâzîn yang tercantum pada akhir ayat, adalah jamaknya kata mauzun artinya yang ditimbang, atau jamaknya kata mîzan artinya alat untuk menimbang atau timbangan. Dalam hal pertama, mawâzîn berarti perbuatan baik atau perbuatan utama, karena hanya perbuatan baik sajalah yang ditimbang — pendapat ini dibenarkan oleh Mjd; dalam hal kedua, mawâzîn diterjemahkan daun timbangan yang berat atau yang ringan, tetapi berat atau ringannya daun timbangan itu tak ada artinya dalam hal ini; berlainan sekali jika yang dimaksud berat atau ringan itu adalah perbuatan baik, yang orang terpuji karenanya. []
  8. Kata zhulm jika dibuat kata kerja transitif dengan ditambah huruf ha, ini mempunyai arti kufr. Tatkala menjelaskan kata zhalamû dalam ayat 103, LL berkata: “Kata ini dibuat kata kerja transitif dengan ditambah huruf ha seperti kalimat yang termuat dalam Qur’an (7:103 dan 17:59), karena kalimat ini berarti kafarû artinya mereka kafir.” []
  9. Apa yang diuraikan di sini tentang Adam, berlaku pula bagi sekalian manusia, ini dijelaskan oleh kata-kata ayat ini. Mula-mula manusia diciptakan, lalu dibentuk, lalu malaikat disuruh sujud kepada Adam, yang dalam hal ini melambangkan manusia, kalimat permulaan ayat ini memang membicarakan manusia seumumnya. Jadi, malaikat itu benar-benar disuruh bersujud kepada sekalian manusia, lihatlah tafsir nomor 56-58. []
  10. Terciptanya manusia dari tanah, berulangkali disebutkan dalam Qur’an. Bukan saja Adam yang diciptakan dari tanah, melainkan sekalian manusia juga diciptakan dari tanah; lihatlah tafsir nomor 443. Berlawanan dengan manusia yang diciptakan dari tanah, setan mengaku diciptakan dari api. Boleh jadi yang dimaksud ialah bahwa unsur yang terbesar dalam ciptaan manusia ialah tanah, sedangkan dalam ciptaan setan ialah api. Mungkin pula ini mengisyaratkan perangai dua golongan makhluk, manusia dan setan. Di tempat lain Qur’an berfirman: “Manusia itu diciptakan terburu-buru” (21:37), artinya, manusia itu suka terburu-buru. Demikian pula terciptanya setan dari api, ini yang dimaksud ialah, bahwa perangai setan itu panas, sedangkan perangai manusia sempurna rendah hati dan tenang karena manusia itu diciptakan dari tanah, yang berarti rendah hati dan tenang. Jadi, gambaran yang diberikan di sini mengisyaratkan ciri yang menonjol dari perangai dua makhluk itu. Di tempat lain, Qur’an menerangkan bahwa jin diciptakan dari api (15:27), demikian pula diterangkan bahwa iblis adalah dari golongan jin (18:50). []
  11. Kehinaan adalah hukuman yang selalu dialami oleh orang-orang yang melawan Nabi. Allah merendahkan derajat mereka yang takabur. []
  12. Cengkeraman setan tetap ketat selama manusia tak membangkitkan rohaninya. Kebangkitan di sini berarti bangkitnya rohani manusia. Jika yang dimaksud Hari Kiamat, maka arti kalimat ini ialah, setan akan menyesatkan manusia selama mereka hidup di dunia. []
  13. Aghwâhu (berasal dari kata ghawâ maknanya sesat), biasanya berarti menyesatkan dia, tetapi kadang-kadang berarti menyiksa dia karena sesat. Jadi, yughâwiyakum dalam 11:34, berarti: Allah menghendaki untuk menyiksa kamu karena sesat. Menurut Rz, kalimat itu berarti Tuhan membinasakan kamu. Tetapi kata ghawâ (yang bentuk kausatifnya ialah aghwâ) berarti khaba (T, LA), artinya ia kecewa atau gagal mencapai cita-cita, dan berarti pula fasada ‘alaihi ‘aisyuhû (LA) artinya hidupnya menjadi buruk bagi dia. Inilah makna yang tepat dari kata ghawâ dalam 20:121. Oleh sebab itu, kalimat ini dapat ditafsirkan dalam arti Engkau telah membuat kehidupan menjadi buruk bagiku, atau Engkau telah menyebabkan aku kecewa selalu.
    865a Apakah artinya pohon, lihatlah tafsir nomor 62. []
  14. Kata sauât artinya aib atau bagian badan yang harus ditutupi, atau berarti pula ucapan atau perbuatan yang orang merasa malu apabila dilihat orang lain, atau watak, adat istiadat atau tindakan buruk, memalukan dan tak pantas (T, LL). Bisikan jahat setan akan selalu membuat orang terbuka aibnya. []
  15. Kesadaran diri, bahwa ia telah melakukan sesuatu yang tak pantas adalah cara yang sebaik-baiknya untuk mencapai kesempurnaan. Menutupi badan dengan daun-daun, artinya usaha seseorang untuk menutupi kesalahan yang telah diperbuatnya. Pakaian yang melindungi seseorang dari keburukan, yang dikatakan dalam ayat 26 sebagai pakaian yang paling baik, menjelaskan arti kata menutupi di sini. Wahyu Ilahi memimpin manusia ke jalan yang benar, yang menyebabkan manusia mampu menutupi dirinya, atau menjaga diri dari kejahatan. Selanjutnya, ayat 27 yang berbunyi: “merenggut dari mereka pakaian mereka agar ia perlihatkan kepada mereka aib mereka” menunjukkan bahwa menutupi dengan daun-daun Taman adalah kalam ibarat; lihatlah tafsir nomor 781. Qur’an memberi pula petunjuk tentang kebutuhan jasmani manusia, namun dalam hal ini pun tersimpul pengertian bahwa yang dituju ialah meninggikan rohani manusia. []
  16. Ayat ini membuktikan seterang-terangnya bahwa semua manusia hidup dan mati di bumi. Nabi ‘Isa pun tak dikecualikan dari aturan ini. []
  17. Kata risy makna aslinya bulu atau bulu burung, yang dijadikan pakaian dan hiasan dari burung; lalu kata itu digunakan dalam arti pakaian yang indah atau pakaian yang amat menarik atau perhiasan dan kecantikan (LL). []
  18. Mula-mula pakaian digunakan untuk menutup aib; dengan kemajuan zaman, manusia semakin gemar mempercantik diri dengan pakaian; tetapi menurut Qur’an ada jenis pakaian yang ketiga, dan inilah pakaian yang paling baik, yaitu libâsut-taqwâ artinya pakaian kesucian atau pakaian yang menjaga diri dari kejahatan. Ini berarti selangkah lebih maju bagi manusia, karena akhlak adalah perhiasan jiwa; apabila orang melihat baiknya mempersolek diri, niscaya ia akan menyadari perlunya memperelok jiwa. []
  19. Bahwa yang dimaksud di sini bukanlah pakaian jasmani, ini jelas dari adanya kenyataan bahwa semua orang diperingatkan supaya awas terhadap serangan setan. Adapun pakaian yang direnggut dari Adam, ini sudah jelas, apalagi jika dilihat dari tiap-tiap keturunan Adam. Mjd berkata: “Ini adalah pakaian yang menjaga diri dari kejahatan; adapun yang dimaksud dengan sauat ialah keburukan yang menipu mereka karena pendurhakaan mereka” (AH). []
  20. Karena mereka tak beriman kepada kebenaran, maka setan dijadikan kawan mereka; orang yang memutus hubungan dengan sumber kesucian, pasti jatuh ke dalam kekotoran. []
  21. Sebagian mufassir berpendapat bahwa yang dimaksud perbuatan keji di sini ialah bertawaf mengelilingi Ka’bah dengan telanjang (Mjd, Ij). Akan tetapi uraian di sini bersifat umum dan tak perlu dibatasi. []
  22. Para mufassir menerangkan bahwa kata qisthi macam-macam artinya, di antaranya ialah Keesaan Ilahi; apa yang baik dan benar; kebenaran (AH). Tetapi semua itu sudah tercakup dalam makna qisthi yang asli, yaitu keadilan dalam arti luas. []
  23. []
  24. Haqqa ‘alaihi kadlâ artinya wajaba (wajib) atau tsabata (tetap) (T); menurut LL, dalam hal ini berarti suatu barang menjadi perlu karena sudah cocok dengan tuntutan keadilan bagi perkara ini. Adapun kata dlalalah kadang-kadang berarti hukuman terhadap dlalalah (R), atau berarti kerusakan (LL). Atau, arti kalimat ini ialah bahwa kesesatan atau tetap dalam kesesatan sudah cocok dengan tuntutan keadilan dalam perkara mereka. Sebenarnya, arti kalimat ini sudah jelas: Kesesatan itu sudah semestinya menjadi bagian mereka, karena mereka mengambil setan sebagai kawan. Barangsiapa senantiasa mengikuti setan, ia pasti akan tetap dalam kesesatan. []
  25. Kata zînat atau perhiasan di sini biasanya diartikan pakaian sehubungan dengan kebiasaan mengelilingi Ka’bah dengan telanjang. Tetapi kata zînat mempunyai arti yang luas. Menurut R, perhiasan hakiki ialah yang menyebabkan orang tak merasa hina atau merasa malu, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh sebab itu, memakai perhiasan di sini mempunyai dua macam. Pertama, keharusan memakai perhiasan jasmani, yaitu orang harus memakai pakaian apabila ia bershalat. Dalam shalat jama’ah, shalat Jum’at dan shalat ‘Id, sebelum kaum Muslimin pergi ke Masjid, mereka harus mandi, memakai pakaian yang baik, dan memakai wangi-wangian. Tetapi yang paling perlu ialah memakai perhiasan rohani. Orang Islam harus memakai perhiasan rohani, karena shalat itu sebenarnya dimaksud untuk membantu memperindah jiwa. Ia harus menjalankan shalat dengan hati yang bersih dari segala kotoran, dan dengan penuh cita-cita yang luhur dan perasaan yang mulia. []
  26. Yang dimaksud perhiasan Allah ialah perhiasan yang dihalalkan oleh Allah untuk dipakai oleh manusia. []
  27. Artinya: dalam kehidupan dunia, kaum mukmin dan kaum kafir sama-sama mendapat barang-barang yang baik, tetapi di Akhirat, semua yang baik itu hanya diberikan kepada orang yang mau menerima dan menjalankan ajaran-ajaran yang benar. []
  28. Batas waktu suatu bangsa ialah apabila bangsa itu dibinasakan atau disiksa karena perbuatannya yang jahat. Sebenarnya ayat ini membicarakan secara umum siksaan yang diancamkan kepada para musuh Islam. []
  29. []
  30. []
  31. Artinya, siksaan yang dijanjikan dalam Kitab akan menimpa mereka. []
  32. Yang dimaksud saudara di sini ialah umat yang sama kelakuannya. []
  33. Yang dimaksud “yang pertama dan yang terakhir” di sini ialah para pemimpin rakyat jelata. Sekalipun kata-kata ini dapat diartikan: “Yang pertama dan yang terakhir menurut waktu”, atau “yang pertama dan yang terakhir menurut kedudukan”, tetapi makna yang tersebut belakangan ini dikuatkan oleh ayat yang serupa, seperti 2:166; 14:21; 34:31-33; 40:47, dan sebagainya. []
  34. Rakyat jelata menginginkan agar para pemimpin disiksa dua kali lipat, karena dosa mereka sendiri dan dosa karena menyesatkan orang lain. Mereka diberitahu, jika para pemimpin bersalah karena menyesatkan mereka, mereka sendiri juga pantas mendapat siksaan dua kali lipat karena mengikuti para pemimpin dengan membabi-buta. []
  35. Artinya, mereka tak dapat masuk ke dalam Kerajaan Langit, dan karena nafsu duniawinya berlebihan, maka mereka tidak bisa terbang membubung tinggi ke cakrawala kehidupan rohani yang tinggi. []
  36. Yang dimaksud membikin bengkok jalan Allah ialah membisikkan keraguan terhadap Kebenaran. []
  37. Tabir yang memisahkan antara orang jahat dan orang tulus, yang dengan demikian orang jahat tak dapat melihat kenikmatan yang dinikmati orang tulus, akan berwujud seterang-terangnya di Akhirat. Jadi, yang memisahkan Surga dan Neraka itu bukan jarak, melainkan tabir, malahan, mereka saling dapat melihat dan mendengar satu sama lain. []
  38. A’râf jamaknya kata ‘arf, maknanya tempat tinggi; oleh sebab itu, Al-A’râf artinya tempat-tempat yang luhur. Banyak sekali diperbincangkan, apakah sebenarnya a’râf itu. Kebanyakan mufassir berpendapat bahwa a’râf ialah hijab yang diterangkan dalam ayat sebelumnya, atau sur (tembok) yang diterangkan dalam 57:13, sedang mufassir lain, di antaranya Hasan dan Zj, berpendapat bahwa kalimat ‘alâ a’râf sama artinya dengan kalimat ‘alâ ma’rifati jannati wan-nâr artinya atas pengetahuan Surga dan Neraka (Rz). Kami telah menerangkan sifat-sifat tabir yang disebutkan dalam ayat 46. Adapun tembok dalam 57:13, ini disebutkan sehubungan dengan pemisahan antara kaum mukmin dan kaum munafik. Oleh sebab itu, dua ayat itu bukanlah menguatkan paham bahwa a’râf ialah tempat yang terdekat di antara Surga dan Neraka. Adapun orang yang menurut ayat ini berada di tempat yang luhur, itulah hamba-hamba Allah yang tulus yang dalam 56:10-11 diterangkan: “Adapun orang yang paling depan ialah yang paling depan; mereka itulah orang yang terdekat kepada Allah”. Selain itu, para Nabi selalu dikatakan sebagai golongan tersendiri yang menjadi saksi atas umatnya. []
  39. Mereka seakan-akan berdiri di pintu Surga. Siap untuk masuk ke dalam. []
  40. 891a Demikianlah doa orang yang mengharapkan masuk Surga.
    Kata jam’ukum artinya kekayaan yang kamu tumpuk, tetapi dapat pula berarti banyaknya bilangan kamu atau besarnya jumlah kamu. []
  41. Kata nisyân bukan hanya digunakan dalam arti lupa. Kata ini digunakan pula dalam arti menghilangkan sesuatu dari pikiran dengan sengaja (R). Apabila kata ini diterapkan terhadap Allah, berarti Allah melalaikan mereka sekedar untuk memperlihatkan penghinaan Allah terhadap mereka (R). []
  42. Yang dimaksud hasil terakhir ialah keadaan terakhir tentang terwujudnya kebenaran yang sempurna dengan terpenuhinya ramalan-ramalan; kesudahannya atau akibatnya; lihatlah tafsir nomor 594. []
  43. 894a Kata yaum artinya waktu, waktu apa saja; lihatlah tafsir nomor 8. Tercipta-nya langit dan bumi dalam enam masa itu sebenarnya mengisyaratkan terjadinya langit dan bumi sampai keadaan seperti sekarang ini, melalui enam tingkatan. Dalam hal bumi, enam tingkatan itu diterangkan secara terperinci dalam 41:9-10. Lihatlah tafsir nomor 2199.
    Kata ‘arsy makna aslinya sesuatu yang dibangun untuk berteduh (LL), atau sesuatu yang diberi atap (R). Menurut R, singgasana raja disebut ‘arsy karena keluhurannya. Dan R menambahkan keterangan: Kata ‘arsy digunakan dalam arti kekuatan, kekuasaan dan pemerintahan. LL menyetujui keterangan R yang menerangkan bahwa “‘arsy adalah salah satu keadaan yang manusia tak tahu hakikatnya kecuali hanya namanya saja, dan barang itu bukan seperti yang diangan-angankan oleh orang awam yang masih picik pengetahuannya”. Sebenarnya, orang salah menafsirkan kata ‘arsy dan kursi dalam arti tempat bagi Allah. Sebagaimana diterangkan di muka, kata kursi artinya ilmu (tafsir no. 340); adapun arti kata ‘arsy yang sebenarnya ialah kekuasaan atau pengawasan terhadap makhluk.
    Kata istawâ apabila diiringi kata ‘ala artinya memerintah, menguasai suatu barang atau mempunyai kekuasaan atas barang itu; kata istawâ adalah sama dengan kata istaula (LL), artinya kokoh kuat (LL).
    Sebagaimana diterangkan dalam tafsir nomor 45, kata tsumma acapkali mempunyai makna yang sama dengan wa artinya dan.
    Selain di sini, kalimat istawâ ‘alal-‘arsy terdapat pula di enam tempat yang lain dalam Qur’an, yakni dalam 10:3, 13:2, 20:5, 25:59, 32:4 dan 57:4. Jika kita menelaah tempat-tempat ini, semuanya menunjukkan bahwa kalimat istawâ ‘alal-‘arsy selalu disebutkan sesudah menerangkan terciptanya langit dan bumi, dan disebutkan sehubungan dengan pengawasan Tuhan atas makhluk-Nya, dan sehubungan dengan undang-undang dan peraturan yang dibuat oleh Khalik Yang Maha-besar yang sekalian alam harus tunduk kepada-Nya, sebagaimana diterangkan dalam kalimat: sesungguh-nya daya cipta dan daya pimpin itu kepunyaan Dia. Dua hal yang disebutkan dalam permulaan ayat ialah khaliq dan ‘arsy, dan pada akhir ayat ialah khalq dan amr. Demikian pula dalam 10:3, kata ‘arsy disebutkan sesudah menerangkan terciptanya langit dan bumi, lalu diikuti penjelasan: yudabbirul-amra, artinya Dia mengatur perkara. Adapun yang dimaksud ialah bahwa setelah Allah menciptakan semesta alam, Ia tidak membiarkan itu berjalan sendiri dengan tak bergantung lagi kepada-Nya, tetapi Ia tetap memerintah dan mengatur perkara itu, sesuai dengan apa yang direncanakan-Nya. Dalam abad ilmu pengetahuan sekarang ini, banyak sekali yang mempunyai pendapat bahwa sekalipun mereka tetap berkesimpulan bahwa Tuhan Pencipta semesta alam itu Ada, yang mereka sebut sebagai Sebab Pertama atau Sebab Permulaan, namun mereka berpendapat bahwa setelah Ia selesai menciptakan alam semesta, ciptaan itu berjalan sendiri menurut undang-undang yang tak berubah-ubah, sedangkan Allah — sebagai Sebab Pertama — tak berurusan lagi dengan perkara itu. Pendapat itu tak dibenarkan oleh Qur’an; oleh sebab itu, setelah Qur’an mengutarakan terciptanya langit dan bumi, Qur’an mengutarakan ‘arsy yang artinya Allah memerintah alam semesta, sebagaimana diterangkan di atas. Untuk lebih menjelaskan hal tersebut, ayat ini diakhiri dengan kalimat tabârakallâhu rabbul-‘âlamîn, artinya Maha-berkah Allah, Tuhan (Yang memelihara) sarwa sekalian alam. Kalimat ini menunjukkan bahwa dunia sekarang ini masih dalam proses pertumbuhan, dan menurut atau sesuai rencana Ilahi, dunia sedang maju tahap demi tahap menuju ke arah kesempurnaan.
    Sebagaimana diterangkan dalam tafsir nomor 5, kalimat Rabbul-‘âlamîn mengisyaratkan lebih dalam lagi tentang evolusi rohani manusia yang sedang berjalan di bawah rencana Ilahi; dan sehubungan dengan itu, disebut-sebut kata ‘arsy, karena kesempurnaan manusia bukanlah terdiri dari bekerjanya undang-undang alam kebendaan yang terdapat di alam semesta, melainkan terdiri dari bekerjanya undang-undang rohani yang sangat diperlukan bagi kesempurnaan manusia. Amr (daya pimpin) yang pelaksanaannya acapkali disebutkan sehubungan dengan ‘arsy, ini adalah pengejawantahan kerajaan rohani yang oleh Nabi ‘Isa disebut Kerajaan Allah. Hal ini dijelaskan dalam 32:5, lihatlah tafsir nomor 1959. Dalam 40:15, kesempurnaan rohani manusia dijelaskan secara khusus sehubungan dengan ‘arsy: “Yang meninggikan derajat, Yang mempunyai ‘arsy — Ia menurunkan wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Ia kehendaki di antara hamba-Nya, agar Ia memperingatkan manusia tentang Hari Pertemuan”. Di sini diterangkan dengan jelas bahwa Yang mempunyai ‘arsy ialah Yang menurunkan wahyu kepada manusia, agar manusia dapat mencapai kesempurnaan rohani. Lebih jelas lagi, dalam surat ini diterangkan, bahwa hamba Allah yang tulus yang menyampaikan ayat-ayat Tuhan kepada manusia, disebut yang memikul ‘arsy. Setelah membicarakan tanda bukti Utusan Allah dan bagaimana orang-orang mendustakan mereka, Qur’an menambahkan keterangan: “Mereka yang memikul ‘arsy dan mereka yang di sekelilingnya, memuliakan dengan memuji-muji Tuhan mereka dan beriman kepada-Nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang beriman” (40:7). Yang memikul ‘arsy itu sebenarnya ialah yang memikul risalah Allah. []
  44. Terhadap Allah, orang harus mempunyai perasaan takut bercampur harapan, perasaan segan bercampur cinta, karena, perasaan takut bila tak disenangi Allah, ini sama artinya dengan mengharapkan kasih sayang Allah. []
  45. Rahmat Tuhan di sini berarti hujan. []
  46. []
  47. Menghidupkan orang yang mati rohaninya dengan wahyu Al-Qur’an, selalu diibaratkan menghidupkan bumi yang mati dengan hujan. Angin yang membawa kabar baik ialah kemajuan agama Islam yang kian hari kian bertambah kuat. []
  48. Di sini wahyu diibaratkan hujan, dan baik buruknya kodrat manusia diibaratkan baik buruknya tanah. Jika orang tak mengambil keuntungan dari wahyu, adalah kesalahan orang itu sendiri, bukan kesalahan wahyu, sama halnya seperti tanah yang tak mengambil faedahnya hujan, tanah itu akan tandus. []
  49. Untuk memperingatkan para musuh Nabi Suci tentang akibat buruk yang disebabkan perlawanan mereka, di sini diuraikan beberapa gambaran dari sejarah para Nabi, untuk menunjukkan bagaimana perlakuan Allah terhadap umat yang menolak peringatan juru ingat. Jika orang membaca sejarah para Nabi yang termuat dalam Qur’an, hendaklah ia ingat bahwa tujuan Qur’an bukanlah untuk menguraikan sejarah, melainkan untuk menggali ciri khas yang terdapat dalam sejarah berbagai bangsa, dan untuk menerangkan peristiwa-peristiwa yang mengandung ramalan tentang Nabi Suci, untuk menggambarkan bagaimana kesudahan orang yang menolak Kebenaran. Qur’an sendiri tak menguraikan secara rinci bagaimana beliau diterima oleh mereka; Qur’an hanya menguraikan secara garis besar bahwa setiap Nabi mengajarkan Tauhid, tiap-tiap Nabi sangat menekankan agar umatnya berbuat baik, tiap-tiap Nabi pasti menghadapi perlawanan yang hebat, dan tiap-tiap Nabi akhirnya mencapai kemenangan dalam menegakkan Kebenaran. Hanya ini sajalah, dengan sedikit variasi di sana sini, hakikat dan inti sejarah para Nabi yang diuraikan dalam Qur’an. Jadi bukanlah seperti apa yang diterangkan para kritikus Nasrani, bahwa apa yang ditulis sebagai sejarah para Nabi adalah “apa yang dialami oleh Muhammad”; tetapi apa yang dialami oleh para Nabi dari berbagai bangsa itulah yang mengandung ramalan tentang kemenangan akhir Nabi Muhammad. Hal ini terang sekali dari adanya kenyataan bahwa sejarah para Nabi yang menerangkan hancurnya para musuh beliau, pada umumnya termuat dalam wahyu Makkiyah; justru pada zaman Makkah itulah para musuh Nabi Suci dalam keadaan jaya, dan perjuangan Nabi Suci nampak tak berdaya.
    Ayat-ayat Qur’an yang menerangkan Nabi Nuh dan sejarahnya, termuat dalam 3:33; 6:84; 7:59-64; 10:71-73; 11:25-48; 14:9; 17:3; 21:76-77; 23:23-29; 25:37; 26:105-122; 29:14-15; 37:75-82; 51:46; 53:52; 54:9-16; 57:26; 66:10; 69:11-12; 71:1-28. []
  50. Keterangan yang lebih jelas lagi tentang banjir dan pembuatan perahu, termuat dalam 11:37-48 dan 23:27-29. Perlu dicatat di sini, bahwa Qur’an tak membenarkan adanya pendapat tentang banjir dunia, karena di sini disebutkan seterang-terangnya bahwa Nabi Nuh hanya diutus kepada kaumnya, bukan kepada semua bangsa. Hanya kepada kaumnya sajalah Nabi Nuh menyampaikan risalahnya, dan hanya kaumnya sajalah yang ditenggelamkan karena menolak risalah Allah yang disampaikan melalui Nabi Nuh. []
  51. Kaum ‘Ad dengan Nabinya, Hud, disebutkan di beberapa tempat dalam Qur’an: 7:65-72; 11:50-60; 14:9; 25:38; 26:123-140; 29:38; 41:13-16; 46:21-26; 51:41-42; 53:50; 54:18-21; 69:4, 6-8; 89:6-8. []
  52. ‘Ad adalah cucu Aram (tersebut dalam 89:7); Aram adalah cucu Nabi Nuh. Kabilah ‘Ad yang disebutkan di sini disebut ‘Ad pertama (53:50), untuk membedakan mereka dari kabilah Tsamud, yang disebut ‘Ad kedua. Kabilah ini mendiami padang pasir Al-Ahqaf (46:21) yang tertera dalam peta Arab, dan meliputi daerah Oman sampai Hadlramaut. Pendapat Rodwell bahwa “kabilah ‘Ad dan Tsamud — kabilah Tsamud disinggung oleh Diod. Sic. dan Ptolemy — mendiami sebelah utara Makkah”, adalah keliru jika ini mengenai kabilah ‘Ad, tetapi betul jika ini mengenai kabilah Tsamud. Sale menerangkan dalam tafsirnya: “’Ad adalah kabilah Arab kuno yang kuat, bersemangat dan menyembah berhala. Pada galibnya, mereka menyembah empat berhala: Saqiah, Hafizhah, Raziqah dan Salimah. Yang pertama dianggap sebagai tuhan yang menurunkan hujan, yang kedua dianggap sebagai penyelamat mereka dari segala bencana, yang ketiga dianggap yang mencukupi rezeki mereka, dan yang keempat dianggap yang menyembuhkan mereka apabila mereka terserang penyakit”.
    Anggota pria dari suatu kabilah, bisa disebut saudara mereka: “Jadi, ya akha Bakrin, artinya wahai orang kabilah Bakr” (LL). []
  53. Dalam Bibel, Nabi Hud disebut Eber, karena Nabi Hud dikatakan sebagai cucu Arphaxad, cucu Nabi Nuh (Rz). Bandingkanlah dengan Kitab Kejadian 10:24 tentang silsilah Eber. Anak laki-laki Nabi Hud bernama Joktan, dikatakan membangun kerajaan di Yunan. Dalam Bibel tak disebutkan bahwa Nabi Hud adalah seorang Nabi bagi kaum ‘Ad. []
  54. Membuat kaum ‘Ad sebagai khalifah atau pengganti, artinya mereka dijadikan bangsa yang memerintah dan mempunyai kerajaan besar. []
  55. Sebagian mufassir mengemukakan dongengan yang tak masuk akal bahwa perawakan mereka bukan kepalang besarnya. Kata-kata yang digunakan dalam Qur’an hanya berarti bahwa mereka bangsa yang kuat dan perkasa. []
  56. Yang dimaksud kecemaran di sini ialah kegemaran mereka menyembah berhala dan menolak beriman kepada Allah. Adapun murka Allah itu disebabkan perbuatan jahat mereka. Kata rijs mempunyai juga makna lain, yakni siksaan, dan dalam hal ini, bentuk fi’il madli menunjukkan pastinya kejadian itu, karena datangnya siksaan begitu pasti, hingga dapat dikatakan bahwa siksaan itu telah menimpa mereka. []
  57. Yang dimaksud di sini ialah berhala mereka; lihatlah tafsir nomor 903. []
  58. Mereka dibinasakan dengan angin topan yang menyerang mereka terus-menerus selama delapan hari (69:7). []
  59. Dalam Qur’an, kabilah Tsamud acapkali disebutkan bersama-sama kabilah ‘Ad. Kabilah Tsamud diuraikan dalam ayat 7:73-79; 11:61-68; 14:9; 15:80-84; 25:38; 26:141-159; 27:45-53; 29:38; 41:13-14, 17-18; 51:43-45; 53:51; 54:23-31; 69:4-5; 89:9; 91:11-15. Kabilah ‘Ad dan Tsamud sekalipun mereka mempunyai hubungan keluarga, namun mereka terpisah jauh, baik tempat maupun waktunya. Kabilah Tsamud terkenal sebagai cicit Aram, cucu Nabi Nuh. Jejak-jejak sejarahnya dapat dibaca dalam Ptolemy. Kabilah ini mengalami masa jayanya selama dua ratus tahun lebih, sesudah kabilah ‘Ad, dan mereka menempati daerah yang terkenal dengan nama AlHijr (15:80), dan tanah datarnya dengan nama Wadil-Qura yaitu batas daerah sebelah selatan Syria dan sebelah utara jazirah Arab. []
  60. Nabi Shalih adalah keturunan generasi keenam dari kabilah Tsamud. []
  61. Baik Qur’an maupun Hadits tak membenarkan dongengan tentang tubuh unta betina yang dikatakan luar biasa besarnya dan mengagumkan sekali bentuknya. Unta disebut unta betina Allah, karena unta itu diberikan sebagai tanda bukti Allah. Itu adalah unta betina biasa yang diberikan sebagai tanda bukti kepada mereka. Menyembelih unta adalah sebagai pertanda bahwa mereka tak mau menerima Kebenaran, dan tak mau menghentikan fitnah terhadap Nabi Shalih dan para pengikut beliau.
    Perlu dicatat di sini bahwa pemberian unta betina sebagai tanda bukti, bukanlah barang yang aneh; sekarang pun kita melihat bahwa bangunan kasar yang disebut Ka’bah, juga diberikan sebagai tanda bukti kepada manusia di seluruh dunia, sehingga barangsiapa mencoba merusaknya, ia pasti akan binasa. []
  62. Dalam bukunya, Essays on the Life of Muhammad, Sir Sayyid Ahmad Khan menulis: “Mereka melobangi gunung-gunung batu, dan setelah dipahat dan diukir, mereka tempati sebagai rumah. Gunung batu itu sampai sekarang dikenal dengan nama Atsalib. Baik orang Arab maupun orang asing yang melintasi jazirah Arab, dapat menyaksikan adanya perkampungan batu itu, yang tampak megah dan memberi kepuasan kepada orang yang melihatnya, dan dapat memberi keterangan tentang bangsa yang membuatnya. Demikian pula memperkuat dan membuktikan benarnya bagian sejarah kaum Tsamud yang diuraikan dalam Qur’an. []
  63. Siksaan yang menimpa kaum Tsamud digambarkan dengan berbagai nama. Di sini disebut rajfah artinya gempa bumi. Keadaan yang digambarkan dalam 27:52, rumah-rumah mereka runtuh, ini juga menunjukkan bahwa mereka dibinasakan dengan gempa bumi. Dalam 54:31 diuraikan bahwa siksaan mereka disebut shaihah, artinya pekikan suara atau teriakan, dan ini jelas mengisyaratkan suara gemuruh yang mendahului gempa bumi. Di tempat lain, dalam 51:44, disebut sha’iqah artinya siksaan yang membinasakan (LL), yang kadang-kadang sama artinya dengan kata shaihah. Dalam 69:5, kaum Tsamud dikatakan dibinasakan dengan siksaan yang disebut thaghiyah artinya siksaan yang sangat berat. Dua nama ini digunakan untuk menggambarkan gempa bumi. []
  64. Ternyata ini mengisyaratkan orang-orang yang diselamatkan dari bencana besar. []
  65. Menurut urutan waktu yang sedang dipaparkan dalam Surat ini, seharusnya yang diuraikan di sini adalah Nabi Ibrahim; tetapi nama beliau tak disebut karena dua sebab, pertama, karena yang namanya disebutkan di sini hanyalah para Nabi yang menyaksikan sendiri dibinasakannya musuh beliau, kedua, karena sejarah Nabi Ibrahim telah dibahas dalam Surat sebelumnya. Jadi, Surat ini dapat dikatakan sebagai pelengkap. Oleh karena itu, tibalah sekarang giliran Nabi Luth, kemenakan Nabi Ibrahim. Adapun ayat-ayat Qur’an yang menerangkan Nabi Luth ialah 6:86; 11:77-83; 15:61-74; 21:74-75; 26:160-173; 27:54-58; 29:32-35; 37:133-136; 51:32-37; 53:53-55; 54:34-38; 66:10. Nabi Luth adalah seorang Nabi yang bukan saja diburuk-burukkan dalam kitab-kitab Yahudi, melainkan pula dalam kitab Bibel. Memang benar bahwa dalam Bibel, Nabi Luth dianggap oleh Nabi Ibrahim sebagai hamba Allah yang tulus (Kejadian 18:23), tetapi selanjutnya kitab Bibel menguraikan bahwa Nabi Luth berdosa karena menjalankan hubungan mesum dengan anak perempuannya sendiri; ini menunjukkan bahwa perbuatan beliau itu hina sekali. Ternyata uraian ini dipalsukan. Jika ditanyakan, apakah Luth itu seorang Nabi, ini dijawab oleh tuan Sale bahwa Luth benar seorang Nabi, tetapi tuan Werry menjawab bahwa Luth bukan seorang Nabi.
    Jika uraian dalam Kitab Kejadian 19:38 itu benar, niscaya Luth bukanlah golongan orang tulus, sebaliknya, dalam Kitab Kejadian 18:23, yang menerangkan diselamatkannya Luth pada waktu Sodom dihancurkan, ini membuktikan seterang-terangnya bahwa Luth orang tulus. Namun Sale mengetengahkan bukti tambahan yang diambil dari Rasul Peter (Petrus) yang berkata: “Tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikut hawa nafsu mereka saja, sebab orang ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa”. (2 Petrus 2:7-8). Perasaan kesal hati karena kejahatan orang-orang Sodom, ini benar-benar menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang mengajarkan ketulusan di kalangan mereka. Lagi pula, apakah perlunya Nabi Luth, orang tulus, pindah ke Sodom, dan tinggal bersama orang jahat, jika bukan karena ditugaskan untuk memperbaiki kelakuan mereka. []
  66. 917a Kata ahli di sini berarti orang yang beriman kepada beliau (Bd). Mula-mula kata ini berarti keluarga, atau kerabat. Jadi, sama dengan kata ali; tetapi menilik makna aslinya, kata-kata itu mempunyai makna yang luas, dan mencakup semua yang mempunyai hubungan keluarga, misalnya anggota keluarga seagama, secita-cita, atau seketurunan (berasal dari kata ala artinya kembali atau hubungan keluarga). Memang benar bahwa ada sedikit perbedaan antara kata ali dan ahli; yang pertama digunakan sehubungan dengan keluarga orang-orang besar, sedang yang kedua, digunakan untuk manusia seumumnya (R).
    Kata mathar (makna aslinya hujan) baik dalam arti baik atau buruk, tergantung kepada kata pelengkapnya. Tetapi kata amthara di sini hanya digunakan sehubungan dengan siksaan (T). Siksaan yang menimpa kaum Nabi Luth, acapkali disebut mathar (hujan), sedang dalam 11:82 dan 15:74, dikatakan bahwa mereka dihujani batu, dan dalam 54:34, siksaan mereka disebut hasib, makna aslinya melempar batu. Sebenarnya siksaan mereka berupa meletusnya gunung berapi yang dibarengi gempa bumi. []
  67. Adapun ayat-ayat yang menerangkan Nabi Syu’aib, termuat dalam 11:84-89; 15:78-79; 26:176-191 dan 29:36-37. Nabi Syu’aib adalah keturunan generasi kelima dari Nabi Ibrahim. Madian atau Midian adalah nama putra Nabi Ibrahim dengan Keturah (Kitab Kejadian 25:2); adapun kota Madian terletak di pinggir Laut Merah, di sebelah tenggara Gunung Sinai yang didiami oleh keturunan beliau, dan disebut Modiana oleh Ptolemy. Pada umumnya orang berpendapat bahwa Syu’aib adalah nama lain dari Jetro. Kalimat jangan pula kamu merugikan manusia dengan barang-barang mereka adalah perintah agar jangan mengambil atau merampas hak-hak sesama manusia, atau, jangan berlaku tak adil terhadap sesamanya dalam barang-barang yang menjadi miliknya. []
  68. Siksaan ini disebutkan dua kali. Pertama, disebut raifah atau gempa bumi, kedua, dalam 11:94 disebut saihah yang makna aslinya sama yakni gempa bumi juga. []
  69. Nabi Syu’aib benar-benar telah memperingatkan kaumnya. Jika mereka tak mengambil manfaat dari nasihat beliau, ini adalah kesalahan mereka sendiri. []
  70. Terang sekali bahwa sejarah tiap-tiap bangsa dimaksud untuk menjadi peringatan bagi semua orang yang memusuhi kebenaran. Dan terang pula bahwa apabila kesengsaraan dan kesusahan ditimpakan kepada suatu bangsa, ini dimaksud untuk memperbaiki rohani mereka, agar mereka rendah hati. []
  71. Yang dimaksud kebaikan dan keburukan di sini ialah kesengsaraan dan kesusahan. []
  72. Kata dluha yang di sini diterjemahkan pagi hari adalah waktu sesudah matahari terbit, yang menurut sebagian mufassir, pada saat matahari masih rendah, dan menurut mufassir lain, pada saat matahari agak tinggi (LL). Kata bermain-main di sini dapat diartikan bermain sungguh-sungguh, atau dapat diartikan pula kesibukan yang harus mereka lakukan, sehingga mereka lupa akan cita-cita yang tinggi. []
  73. 925a Sejarah Nabi Musa telah diuraikan secara singkat sehubungan dengan kekeras-kepalaan kaum Bani Israil. Akan tetapi di sini diuraikan agak terperinci, dimulai dari sini sampai akhir ruku’ 21. Adapun alasan diuraikannya sejarah agak panjang lebar, ini disebabkan adanya kenyataan bahwa Nabi Suci lebih banyak persamaannya dengan Nabi Musa daripada dengan Nabi-nabi yang lain, dan dalam ramalan Nabi Musa, beliau disebut “yang seperti Nabi Musa”. Ayat-ayat Qur’an yang menerangkan sejarah Nabi Musa termuat dalam 2:49-71; 4:153; 5:20-26; 7:103-156; 10:75-92; 11:96-99; 17:101-104; 18:60-82; 19:51-52; 20:9-98; 23:45-49; 26:10-68; 27:7-14; 28:3-44; 37:114-122; 40:23-55; 43:46-56; 44:17-33; 51:38-40; 61:5 dan 79:15-26. []
  74. Di sini kami mempunyai contoh lagi tentang benarnya keterangan Qur’an yang berlainan dengan keterangan kitab Bibel. Ini menunjukkan tak lengkapnya uraian kitab Bibel. Dalam kitab Keluaran pasal 4 diterangkan dengan jelas bahwa Nabi Musa diberi dua tanda bukti — yaitu tongkatnya berubah menjadi ular, dan tangannya menjadi putih jika dimasukkan ke dalam dadanya; dan dalam kitab Keluaran 4:8 diterangkan dengan jelas bahwa Nabi Musa diperintah untuk memperlihatkan dua tanda bukti tersebut kepada Fir’aun. Akan tetapi jika kita baca ayat 7, yang menerangkan diperlihatkannya mukjizat tersebut kepada Fir’aun, ternyata yang disebut hanya mukjizat tongkat saja.
    Ada satu soal lagi yang patut dipertimbangkan di sini, yaitu sifat dari dua mukjizat itu. Sebagaimana diterangkan di tempat lain dalam Qur’an, tongkat Nabi Musa adalah tongkat biasa: “Aku bersandar atas itu, dan aku menyambit daun-daun dengan itu untuk kambingku, dan aku gunakan pula untuk keperluan lain” (20:18). Dalam Qur’an tak diterangkan bahwa manakala tongkat dilempar, tongkat berubah menjadi ular. Bahkan pada waktu kaum Bani Israil dalam keadaan bahaya, Nabi Musa tak menggunakan tongkat itu. Hanya dalam dua peristiwa saja tongkat itu dikatakan berubah menjadi ular, yaitu (1) tatkala Nabi Musa berwawancara dengan Allah sebelum pergi ke Fir’aun; (2) tatkala beliau pertama kali menghadap Fir’aun atau tatkala Fir’aun memanggil para tukang sihir untuk dimintai bantuannya.
    Dalam peristiwa pertama memang kelihatan oleh Nabi Musa sendiri bahwa tongkat berubah menjadi ular, yaitu tatkala beliau dalam keadaan kasyaf — suatu keadaan yang untuk sementara waktu orang dipindahkan ke alam rohani. Inilah keadaan yang dialami oleh para Nabi dan orang-orang tulus pada waktu mereka menerima wahyu Ilahi; memang dalam keadaan itu mereka tidak tidur, tetapi mereka yakin bahwa dalam keadaan itu jiwa mereka membubung tinggi keluar batas alam fisik, sehingga dapat menangkap apa yang tak dapat ditangkap oleh mata wadag, dan dapat mendengar apa yang tak dapat didengar oleh telinga wadag. Oleh sebab itu, dalam peristiwa pertama, Nabi Musa dapat melihat perubahan tongkat dan tangan, di kala beliau dalam keadaan yang sama seperti pada waktu beliau menerima wahyu. Adapun peristiwa kedua, perubahan tongkat menjadi ular, bukan saja disaksikan oleh Nabi Musa sendiri, melainkan disaksikan pula oleh orang lain. Tetapi sebenarnya, pengaruh penglihatan kasyaf itu kadang-kadang begitu kuat, sehingga selain bisa dinikmati sendiri, juga bisa dinikmati oleh orang lain. Tetapi apa pun keadaan yang sebenarnya, mukjizat Nabi Musa bukanlah dimaksud untuk pertunjukan. Mukjizat ‘asha atau tongkat berubah menjadi ular, itu mengisyaratkan suatu kebenaran agung, yaitu para pengikut Nabi Musa yang digambarkan seperti tongkat, akan mengalahkan musuh-musuhnya; adapun arti tangan Nabi Musa menjadi putih, ini adalah dalil yang dibawa oleh Nabi Musa akan memancarkan sinar yang terang. Adapun keterangan dua peristiwa tersebut, lihatlah tafsir nomor 1581 dan 1582. []
  75. Kata amr di sini berarti nasihat. Orang berkata: murnî artinya nasihatilah aku (LL). Kata-kata ini agaknya diucapkan oleh Fir’aun. []
  76. Bandingkanlah dengan Kitab Keluaran 7:11: “Kemudian Firaun pun memanggil orang-orang berilmu dan para ahli sihir”. []
  77. Bandingkanlah dengan Kitab Keluaran 7:12: “Masing-masing mereka melemparkan tongkatnya, dan tongkat-tongkat itu menjadi ular. Tetapi tongkat Harun menelan tongkat-tongkat mereka”. Di sini pertunjukan sihir tukang sihir dikatakan sebagai tipuan. []
  78. Kitab Bibel tak menerangkan para tukang sihir beriman kepada Tuhan Yang mengutus Nabi Musa setelah mereka dikalahkan. Sebaliknya, Kitab Bibel menerangkan bahwa mereka tetap menentang Nabi Musa tatkala mereka belakangan diperlihatkan tanda bukti yang lain, sekalipun hati mereka agak terpengaruh oleh kebenaran Nabi Musa; terbukti bahwa mereka pada lain waktu berkata kepada Fir’aun, bahwa apa yang dikerjakan oleh Musa nampak adanya “alamat kuasa Allah” (“tangan Allah”) (Kitab Keluaran 8:19). Sekalipun mereka mempunyai keyakinan demikian, mereka tetap menentang Nabi Musa dan menderita penyakit bisul seperti juga kaum Fir’aun (Kitab Keluaran 9:11). Tetapi menurut literatur Yahudi, sebagian orang Mesir mengikuti Nabi Musa tatkala beliau pergi ke Mesir; hal ini dikuatkan oleh Bibel: “Juga banyak orang dari berbagai-bagai bangsa turut dengan mereka” (Kitab Keluaran 12:38). “Tatkala sudah tiba waktunya Nabi Musa turun dari gunung, datanglah orang-orang Mesir berbondong-bondong, dipimpin oleh dua orang tukang sihir, Yanos dan Yambros, yaitu orang yang pernah meniru-niru Nabi Musa dalam memperlihatkan tanda bukti dan membuat wabah di Mesir” (Jewis Ency.). Dan tukang sihir itu disebutkan dalam 2 Timotius 3:8, yang menguatkan benarnya keterangan yang termuat dalam Qur’an, dan tak lengkapnya riwayat yang diuraikan dalam Kitab Bibel.
    Hendaklah dicatat, bahwa para tukang sihir tak mungkin beriman, kecuali setelah mereka mendengar dalil-dalil yang dikemukakan oleh Nabi Musa tentang adanya Allah dan Hari Akhir yang menyebabkan iman mereka begitu kuat hingga mereka bersedia mengorbankan nyawa mereka guna kepentingan agama. Ini menunjukkan bahwa sebelum Nabi Musa memperlihatkan tanda bukti, beliau telah terlebih dahulu menerangkan kebenaran kepada masyarakat. []
  79. Perkataan yang saya terjemahkan “yang berkuasa” ialah “qâhir” artinya orang yang menang, yang mengalahkan atau yang menaklukkan orang lain (LL). []
  80. Yang dimaksud bumi di sini ialah Tanah yang dijanjikan yang dituju oleh Nabi Musa dan kaumnya. Dijadikannya mereka sebagai yang memerintah di bumi, ini dengan syarat apabila mereka berbuat baik, hal ini diisyaratkan dalam kata penutup ayat ini. []
  81. Kata nasib buruk adalah terjemahan dari kata thâ’ir, makna aslinya burung. Untuk lebih jelasnya, lihatlah tafsir nomor 1417. Nasib buruk mereka adalah dari Allah, artinya, nasib buruk yang mereka alami itu dibuat oleh Allah sebagai hasil perbuatan jahat mereka sendiri. []
  82. Kata thûfân dari kata thâfa artinya mengelilingi, makna aslinya kemalangan yang menimpa manusia dari segala penjuru (R), oleh sebab itu berarti banjir atau air bah, atau berarti pula kematian, kematian yang cepat atau kematian yang merata atau kematian yang merajalela (LL). Oleh karena itu, kata ini dapat diartikan wabah atau banjir yang menyebabkan banyak kematian. Kematian yang merata adalah terjemahan thûfân yang betul, dan dibenarkan pula oleh Imam Bukhari (B. 65:VII). []
  83. Kitab Bibel menyebutkan tanda bukti seperti berikut: (1) Air berubah menjadi darah; (2) katak; (3) kutu; (4) lalat; (5) penyakit sampar yang menimpa manusia dan binatang; (6) hujan es; (7) belalang; (8) gelap gulita; (9) kematian anak pertama. Dari tanda-tanda itu, Qur’an hanya menyebut nomor dua, tiga dan tujuh dengan kata-kata yang terang; adapun nomor empat sudah tercakup dalam nomor tiga, adapun nomor lima dan enam, sudah tercakup dalam kata thûfân atau kematian yang merata; hujan es tak disebutkan, tetapi rusaknya buah-buahan yang disebabkan hujan es, sudah disebutkan dalam ayat 130 sebagai pengganti gelap-gulita. Qur’an menyebut musim kering, yang agaknya inilah malapetaka yang sebenarnya, yang mengakibatkan kegelapan, baik arti kiasan maupun arti yang sebenarnya, karena dalam musim kering biasanya timbul angin topan yang menyebabkan tanah tampak gelap. Dua tanda bukti tersebut dalam ayat 130 ditambah lima tanda bukti di sini, adalah tujuh tanda bukti, dan jika ditambah lagi dengan dua tanda bukti, yaitu tongkat dan tangan putih, lengkaplah menjadi sembilan tanda bukti yang diisyaratkan dalam 17:101 dan 27:12. []
  84. Yang dimaksud ialah wabah yang disebutkan dalam ayat sebelumnya. []
  85. Jika kita baca Kitab Keluaran 8:11, di sana diterangkan bahwa Fir’aun selalu ingkar janji untuk melepaskan kaum Bani Israil — janji yang dia buat atas persyaratan bahwa suatu bencana akan disingkirkan. []
  86. Tanah yang diberkahi ialah Tanah Suci yang dijanjikan Tuhan kepada Nabi Ibrahim. Yang dimaksud Sabda baik di sini ialah yang termuat dalam Kitab Kejadian 17:8. Yang dimaksud di sebelah Timur dan di sebelah Barat ialah, daerah sebelah Timur dan daerah sebelah Barat Tanah Suci, atau tanah di sebelah Timur dan di sebelah Barat sungai Yordan. []
  87. Pada waktu kaum Bani Israil mengembara di Syria, mereka memang berjumpa dengan bangsa yang menyembah berhala. Mereka sendiri mempunyai kecenderungan untuk menyembah berhala: “Ketika bangsa itu melihat bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: “Mari buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari Mesir — kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia” (Kitab Keluaran 32:1). Banyak anekdot yang menerangkan bahwa mereka cenderung untuk menyembah berhala. []
  88. Alasan yang dikemukakan oleh Nabi Musa untuk menentang penyembahan berhala adalah alasan yang berulangkali dikemukakan oleh Qur’an, yakni, karena manusia itu raja sekalian makhluk, dan melebihi sekalian makhluk, maka sudah semestinya tak boleh menyembah makhluk lain yang derajatnya lebih rendah dari manusia. []
  89. Diriwayatkan dalam Hadits bahwa kenikmatan Surga yang paling besar ialah berjumpa dengan Allah. Kata-kata yang ditujukan kepada Nabi Musa: Engkau tak dapat melihat Aku, ini tak menyangkal adanya kenikmatan melihat Allah di Surga. Adapun yang disangkal ialah, melihat Allah dengan mata wadag. Tampaknya permohonan Nabi Musa ini didasarkan atas tuntutan para pinisepuh Israil, tersebut dalam 2:55. Namun ada keterangan lain yang akan kami terangkan di sini. Apa yang dikehendaki Nabi Musa ialah melihat terjelmanya keagungan Tuhan, yang sedianya dicadangkan untuk Nabi Muhammad. Sedangkan tugas yang dikerjakan oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa tidaklah sebanding dengan tugas yang dicadangkan kepada Nabi Muhammad. Nabi ‘Isa berkata, bahwa masih banyak perkara yang belum beliau ajarkan kepada para pengikut beliau, tetapi nanti apabila Roh Kebenaran telah tiba, dialah yang akan memimpin mereka ke dalam semua Kebenaran. Tak sebandingnya tugas Nabi Musa tatkala beliau melihat terbabarnya Keagungan Tuhan. []
  90. Kataba artinya Dia (Allah) memerintahkan, menetapkan, atau mewajibkan (LL). Peringatan tentang apa saja dan penjelasan tentang segala sesuatu, ini tak boleh diambil secara serampangan, tapi terbatas pada ajaran-ajaran yang diperlukan pada zaman Nabi Musa. []
  91. Artinya, akan datang waktunya bagi kaum Bani Israil bahwa mereka akan menjadi bangsa yang durhaka karena mereka tak menetapi perintah Tuhan. []
  92. Kata jasad artinya tubuh dan berarti pula merah atau kuning tua. Maka yang pertama lazim digunakan oleh para mufassir; adapun artinya ialah, bahwa anak sapi yang dibuat oleh umat Nabi Musa ini berupa tubuh yang tak bernyawa. Namun ini dibuat begitu rupa, hingga ia dapat bersuara menguak seperti anak sapi. Adapun makna yang lain, menggambarkan sifat anak sapi yang sebenarnya; oleh karena anak sapi ini dibuat dari perhiasan emas, anak sapi ini berwarna merah atau kuning tua. []
  93. Suqitha fî aidîhim adalah kalimat yang disepakati oleh para mufassir dengan arti: mereka menyesal (berasal dari kata saqatha artinya jatuh). Diriwayatkan dalam Hadits, bahwa orang tak mengenal kalimat ini sebelum turunnya Al-Qur’an (LL). Imam Bukhari menjelaskan kalimat ini: Tiap-tiap orang yang menyesal, dikatakan suqitha fî yadîhî (Bu. 65:VII). Tetapi kalimat ini dapat pula berarti nadm artinya penyesalan dihadapkan kepada mereka. Penyesalan kaum Bani Israil itu terjadi setelah Nabi Musa kembali (2:54), walaupun ayat ini disebutkan lebih dahulu. Sebenarnya, urutan ayat di sini bukanlah urutan sejarah, melainkan dihubungkan antara dosa dan penyesalan, sedangkan uraian tentang peristiwa yang menyebabkan penyesalan, disebutkan belakangan. []
  94. Kata ‘ajila digunakan sebagai kata kerja transitif dalam arti sabaqa. Adapun artinya, apakah kamu mempercepat perintah Tuhan kamu? Kata amr atau perintah ditafsirkan dalam arti waktu yang ditetapkan atau keputusan. []
  95. Alasan yang dikemukakan oleh Nabi Harun dan diterima oleh Nabi Musa, ini menunjukkan seterang-terangnya bahwa Nabi Harun benar-benar tak bersalah, baik dalam perkara membuat anak sapi maupun dalam menyembah anak sapi. Uraian Bibel yang menuduh Nabiyullah yang tulus telah berbuat dosa yang paling mengerikan, ini tak benar dan harus ditolak. Permohonan ampun di sini bukanlah berhubungan dengan penyembahan anak sapi; hal ini jelas dari adanya kenyataan, bahwa dalam ayat ini, bukan Nabi Harun saja yang mohon ampun, melainkan pula Nabi Musa. Istighfar di sini, seperti berulangkali diterangkan oleh Qur’an, adalah senada dengan memohon perlindungan Tuhan yang harus dimohon oleh setiap orang agar tidak jatuh dalam perbuatan dosa, karena manusia itu lemah dan mempunyai tabiat kurang sempurna. Adapun penjelasan kata ghafar yang lebih jelas, lihatlah tafsir nomor 380. []
  96. Menurut Kitab Keluaran 32:19, karena Nabi Musa sangat marah, maka “dilemparkanlah kedua loh itu dari tangannya dan dipecahkannya pada kaki gunung itu”; dan dalam Kitab Keluaran pasal 34 diuraikan, bagaimana loh batu itu diperbaiki. Uraian Qur’an berbeda dengan itu. Qur’an tidak menerangkan bahwa loh batu itu dipecahkan atau diperbaiki kembali, tetapi disebutkan bahwa loh batu itu diambil lagi oleh Nabi Musa setelah marahnya reda, sedang tulisannya masih tetap utuh. []
  97. Kitab Keluaran 24:1 menerangkan bahwa Nabi Musa naik ke gunung bersama-sama tujuh puluh sesepuh Bani Israil, walaupun mereka dilarang “mendekati Tuhan”, dan pada saat itu Nabi Musa berada di gunung selama empat puluh hari dan empat puluh malam (Kitab Keluaran 24:18). Sekalipun di dalam Bibel diterangkan bahwa Nabi Musa berangkat lagi ke gunung setelah peristiwa penyembahan anak sapi, dan tinggal di sana sampai empat puluh hari dan empat puluh malam (Kitab Keluaran 34:28), namun peristiwa yang digambarkan dalam Qur’an adalah kepergian Nabi Musa yang pertama. Qur’an tidak menyebut-nyebut keberangkatan Nabi Musa yang kedua . []
  98. 949a Tak ada sifat Tuhan yang lain selain sifat kasih sayang, yang dalam Qur’an sangat menonjol. Di dunia ini memang terdapat kejahatan, dan mereka yang menjalankan kejahatan harus dihukum, tetapi perhatikanlah perbedaan yang mencolok: Dan kasih sayang-Ku meliputi segala sesuatu. Jadi sebenarnya, siksaan itu pun kasih sayang Tuhan, karena yang dimaksud bukanlah untuk menyiksa, melainkan untuk memperbaiki orang yang berbuat jahat. Di sini kita diberitahu bahwa kasih sayang Tuhan itu terutama sekali ditujukan bagi orang yang bertaqwa dan beriman kepada Wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.
    Kata ummi artinya orang yang tak dapat menulis dan membaca tulisan; lihatlah tafsir nomor 117. Bangsa Arab disebut bangsa ummi, dan Nabi yang Ummi dapat diartikan Nabi dari bangsa yang ummi (bangsa Arab), karena beliau seperti mereka; atau beliau disebut ummi karena beliau tak dapat membaca dan menulis (R). Tetapi menurut mufassir lain, Nabi Suci disebut ummi karena beliau dari Ummul-Qura (Makkah), yakni kota Metropolitan Arabia (MB).
    Pendapat Rodwell, kata ummi berarti orang asing dalam arti bukan Bangsa Yahudi, atau bangsa biadab, ini tak dibenarkan oleh dalil-dalil yang diakui keabsahan-nya. Lihatlah 2:78 yang menyebut bangsa Yahudi sebagai bangsa ummi. Memang benar bahwa LL menyebutkan kata gentile (bukan orang Yahudi) sebagai artinya ummi, tetapi menilik dalil-dalil yang beliau kutip menunjukkan seterang-terangnya bahwa jika kata gentile berarti ummi, ini mengandung arti umum, yaitu orang yang termasuk suatu keturunan atau kabilah. Oleh sebab itu, kesimpulan tuan Lane bahwa, dalam arti kiasan dan arti kedua, kata ummi berarti orang yang biadab, ini tak ada landasannya sama sekali.
    Adalah kenyataan yang disepakati oleh semua pihak, bahwa Nabi Suci tak dapat membaca dan menulis sebelum diturunkannya Wahyu kepada beliau. Dalam hal ini Qur’an menegaskan: “Dan sebelumnya engkau tak membaca suatu kitab, dan tak menulis itu dengan tangan kanan dikau” (29:48). Tetapi setelah diturunkannya Wahyu, terdapat perbedaan pendapat tentang Nabi Suci, apakah beliau dapat membaca dan menulis ataukah tidak. Kami tak ingin mencampuri pertentangan pendapat ini sampai hal yang sekecil-kecilnya, cukuplah kami kemukakan pendapat kami sendiri bahwa sekalipun ada alasan untuk mempercayai bahwa beliau dapat menulis, namun nyatanya surat-urat beliau senantiasa ditulis oleh orang lain. Lihatlah tafsir nomor 1919. []
  99. Dalam Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian baru, terdapat banyak ramalan tentang datangnya Nabi Suci. Di sini hanya disebut-sebut Kitab Taurat dan Injil, karena Nabi Musa dan Nabi Isa adalah nabi Israel yang pertama dan terakhir. Kitab Ulangan 18:15-18 menerangkan seterang-terangnya bahwa akan datang seorang Nabi (yang seperti nabi musa) dari kalangan saudara Bani Israil, yaitu Bani Ismail atau Bangsa Arab, sedang Kitab Ulangan 33:2 menerangkan tentang memancarnya cahaya Pengejawantahan Tuhan yang datang dengan cahaya gemerlapan “dari gunung Paran”. Kitab Bibel penuh dengan ramalan tentang datangnya Nabi Suci. Matius 13:31; 21:33-34, Markus 12:1-11 dan Lukas 20:9-18 menerangkan bahwa Pemilik kebun anggur datang setelah anaknya (yaitu Yesus) dianiaya; Yahya 1:22; 14:16; 14:26, semuanya memuat ramalan-ramalan tentang datangnya Nabi Suci. []
  100. Pendapat Noldeke, bahwa kata-kata ini mengisyaratkan Sahabat Anshar, demikian pula kesimpulan Rodwell, bahwa ayat ini ayat yang ditambahkan pada waktu di madinah, ini tak perlu ditanggapi dengan serius. Apakah pada waktu Nabi Suci di Makkah tak mempunyai orang-orang yang membantu beliau? []
  101. Berlainan dengan para Nabi yang disebutkan dalam Surat ini, yang dikatakan hanya diutus kepada kaumnya (qaumihi), di sini Nabi Muhammad dikatakan diutus kepada semua bangsa, kepada seluruh umat manusia. Jadi datangnya Nabi Muhammad adalah saat berubahnya keadaan sejarah umat manusia. Zaman Nabi nasional telah berakhir, dan tibalah zaman baru yang seluruh umat manusia akhirnya dipersatukan di bawah seorang pemimpin rohani. Enam ratus tahun sebelum beliau, Nabi ‘Isa sebagai Nabi nasional terakhir, berkata kepada seorang wanita yang bukan kaum Bani Israil: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israil” (Matius 15:24), dan karena terus didesak, beliau menambahkan kata-kata: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing” (Matius 15: 26). Akan tetapi pada era baru ini, nasionalisme berkembang menjadi lebih luas lagi, yaitu kesatuan umat (universal); adapun landasan ide ini diletakkan oleh Qur’an Suci.
    953a Jadi Qur’an mengakui bahwa di kalangan Bangsa Yahudi terdapat pula orang-orang yang baik.
    953b Adapun keterangan ayat 160-162, lihatlah tafsir nomor 96, 97, 89, 90, 91, 92, 93, 94, 95. []
  102. Pada umumnya para mufassir berpendapat bahwa yang dimaksud di sini ialah kota Ela, yang terletak di pantai Laut Merah. Peristiwa yang diisyaratkan di sini adalah contoh pelanggaran kaum Yahudi terhadap Sabat. Ikan-ikan mengapung di permukaan laut pada hari Sabat, karena pada hari itu ikan-ikan merasa aman. Inilah cobaan Tuhan terhadap kaum Yahudi tentang apakah mereka melanggar undang-undang ataukah tidak. []
  103. 954a Lihatlah tafsir nomor 107.
    Para ahli Kamus menyetujui adanya perbedaan antara kata khalf dan khalaf; yang pertama diterapkan terhadap anak atau keturunan yang jahat, sedang yang kedua diterapkan terhadap anak atau keturunan yang baik (LL). []
  104. Mula-mula mereka melakukan kejahatan karena ingin memiliki barang-barang dunia yang tak kekal, sambil berkata bahwa mereka pasti akan diampuni. Kemudian mereka gemar berbuat jahat, dan setiap ada kesempatan, mereka mengulangi lagi kejahatan seperti yang sudah-sudah. Mereka tak merasa menyesal. []
  105. Dongeng-dongeng yang digubah oleh para mufassir sehubungan dengan kata-kata sederhana ini harus ditolak. Kata-kata ini hanya menceritakan pengalaman para tokoh Israil tatkala mereka berdiri di kaki gunung yang menjulang di atas mereka. Tiba-tiba terjadi gempa bumi (sebagaimana diisyaratkan dalam ayat 155) yang mereka mengira bahwa gunung itu akan menimpa mereka. Menurut LA, kata nataq makna aslinya za’za, artinya bergerak, berontak, berguncang atau menaruh suatu barang dalam keadaan gempar. Jadi, penggunaan kata nataqnâ sebagai pengganti rafa’nâ (2:63), menerangkan sejelas-jelasnya bahwa gunung itu diguncangkan sehebat-hebatnya oleh gempa bumi, sedang para tokoh Israil berada di kaki gunung itu. Nataq mempunyai juga makna lain, yaitu tumbang dari akarnya, tetapi makna itu tak sesuai di sini. []
  106. Ayat ini bukan membicarakan dilahirkannya keturunan dari Adam, melainkan dilahirkannya keturunan dari Bani Adam, dan terang sekali bahwa yang dimaksud ialah terjadinya tiap-tiap manusia. Oleh sebab itu, kesaksian di sini ialah kesaksian yang diberikan oleh kodrat manusia itu sendiri. Sebenarnya, kesaksian itu ialah seperti yang diterangkan di tempat lain di dalam Qur’an sebagai kesaksian yang diberikan oleh kodrat manusia: “Kodrat ciptaan Allah , Yang Ia ciptakan manusia atas kodrat itu” (30:30). []
  107. Bahasa Arab mubthil artinya orang yang mengatakan sesuatu yang di dalamnya tak mengandung kebenaran atau kenyataan (R, LL). []
  108. Yang diisyaratkan di sini ialah Bal’am, Ummayah bin Abi Salt, Abu ‘Amir dan semua kaum munafik. Akan tetapi keterangan yang paling tepat ialah yang diberikan oleh Qatadah, yang menerangkan: Ayat ini menerangkan secara umum, yakni orang yang menerima petunjuk, lalu berpaling dari petunjuk itu. Pendapat ini dikuatkan oleh akhir ayat 176 yang berbunyi: Inilah perumpamaan orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. []
  109. Yang dimaksud bumi di sini ialah yang bersifat duniawi atau bersifat kebendaan. Orang-orang yang dibicarakan di sini ialah orang yang tak mengindahkan sama sekali nilai hidup yang tinggi. []
  110. Kebanyakan manusia dan jin diciptakan untuk Neraka; tetapi mereka tiada lain hanyalah orang-orang yang lengah, yang tak mengindahkan apa yang diajarkan kepada mereka. Mereka mempunyai hati, tetapi tak mereka gunakan untuk memahami kebenaran; mereka diberi mata, tetapi tak mereka gunakan untuk melihat kebenaran; mereka diberi telinga, tetapi tak mereka gunakan untuk mendengarkan kebenaran. Dikemukakannya hal ini sekedar untuk menunjukkan bahwa Allah tidaklah menciptakan mereka berbeda dengan makhluk lain, tetapi mereka tak mau menggunakan kemampuan-kemampuan yang diberikan oleh Allah kepada mereka. []
  111. Asmâul-Husna artinya nama-nama yang menyatakan sifat Tuhan yang teramat mulia. Bermohon dengan itu, artinya manusia harus selalu ingat akan sifat-sifat Tuhan, dan berusaha keras untuk memiliki sifat-sifat Tuhan itu, karena hanya dengan itu sajalah manusia dapat mencapai kesempurnaan. []
  112. Kata yulhidûn berasal dari kata alhada artinya menyimpang dari jalan yang benar bagi suatu hal (LL). Menurut R, alhada artinya menyimpang dari jalan yang benar dalam hal nama-nama Allah, atau melanggar kesucian nama-nama-Nya; dan ini ada dua macam; pertama, dengan memberi-Nya sifat yang tak pantas atau tak tepat bagi Dia, dan kedua, menafsirkan sifat-sifat Tuhan dengan cara tak pantas bagi Dia. Oleh sebab itu, segala bentuk kemusyrikan merupakan pelanggaran terhadap kesucian asma Tuhan.
    964a Diriwayatkan bahwa Nabi Suci bersabda: “Inilah umatku” (IJ, V. IX, hlm. 86). []
  113. Arti kata kaid (yang di sini diterjemahkan rencana) banyak disalah mengertikan; sama halnya seperti kata makr. Kaid artinya pekerjaan seni, kecerdikan, keahlian dan keterampilan dalam mengurus atau mengatur suatu perkara dengan pertimbangan yang cermat, terampil mengurus yang rumit-rumit berdasarkan kemauan yang bebas (LL). Jadi, kada (masdarnya kaid) berarti mencari akal, merancang, merencanakan sesuatu, baik sesuatu itu baik maupun buruk (LA). Selanjutnya, kata kada (fi’il mudlari’nya yakidu) berarti pula mengerjakan atau mengusahakan suatu hal, bersusah payah, berusaha keras, bercita-cita, berjuang, menjalankan, melaksanakan atau memperjuangkan sesuatu untuk suatu kemenangan atau menghasilkan suatu tujuan (LL). Dalam suatu sya’ir Al-‘Ajjajj, kata kaid yang dihubungkan dengan kata Allah, diterjemahkan oleh LL dalam arti peraturan Allah yang penuh kecermatan. []
  114. Yakni sa’ah yang diancamkan kepada mereka sebagai sa’ah kehancuran mereka. Dalam Qur’an, kata sa’ah digunakan dalam arti hancurnya kaum durhaka di dunia, atau wujudnya pembalasan atau siksaan yang sempurna di Akhirat. []
  115. Kesederhanaan dan keluhuran pernyataan tentang tugas Nabi Suci, benar-benar tak ada bandingannya. Beliau memberi kabar gembira tentang kemenangan kepada orang-orang yang beriman; beliau memperingatkan kepada orang-orang jahat tentang akibat buruk perbuatan jahat mereka, baik di dunia ini maupun di Akhirat kelak; akan tetapi beliau tak mengaku mempunyai kekuatan Tuhan. Diriwayatkan bahwa bertepatan dengan hari wafatnya putra beliau, Ibrahim, terjadilah gerhana matahari penuh. Sebagian orang mulai mendesas-desuskan bahwa gerhana matahari tersebut disebabkan meninggalnya putra beliau; tetapi beliau sangat jujur untuk tidak membiarkan orang-orang mempercayai kepercayaan takhayul, walaupun keadaan itu baik sekali untuk meningkatkan martabat beliau di hadapan para Sahabat. Beliau lalu naik mimbar dan memberi nasihat: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua pertanda Allah. Dua-duanya mengalami gerhana bukan karena matinya seseorang dan bukan pula karena hidupnya seseorang. Maka dari itu, kamu melihat gerhana, ingatlah kepada Allah, dan mahasucikanlah Dia dan berdoalah kepada-Nya dan bersedekahlah” (B. 16:2). []
  116. Kata sakn makna aslinya diam, tak bergerak; tetapi sakana ilaihi artinya bertumpu atau bersandar kepadanya hingga merasa senang dan tenteram; atau cenderung kepadanya atau menjadi jinak (LL). []
  117. Jika ayat ini hanya ditujukan kepada Adam dan Hawa, ini tak dibenarkan oleh semua mufassir yang dapat dipercaya. Ayat ini menggambarkan keadaan manusia seumumnya dan mengisyaratkan kesaksian atas kodratnya, apabila manusia ditimpa kesusahan, ia selalu kembali kepada Allah, tetapi apabila manusia dalam keadaan senang, ia menganut tuhan lain atau kepada hawa nafsunya. Ayat ini terang-terangan mencela para penyembah berhala karena menyekutukan Allah, sebagaimana diterangkan dalam ayat 190 dan ayat berikutnya dengan menggunakan bentuk jamak (syuraka). []
  118. Ayat ini membicarakan tak acuhnya orang-orang yang terkutuk. Akan tetapi, ajakan kepada Kebenaran harus diperluas kepada semua orang, sekalipun sebagian orang tak mau mengambil manfaat dari Kebenaran itu. Selanjutnya ayat ini dijelaskan oleh ayat 198 dan 199. []
  119. Ibâd jamaknya kata ‘abdi, artinya hamba atau budak, dan diterapkan terhadap manusia dalam arti hamba Tuhan Yang Maha-pencipta. Setiap makhluk, karena dikuasai oleh Allah, baik manusia, berhala maupun tuhan palsu lainnya, di sini disebut ‘ibâd artinya, dikuasai sepenuhnya oleh Allah. []
  120. Di sini diramalkan bahwa bukan saja pasukan musuh akan mengalami kegagalan dalam pertempuran, karena tak memperoleh pertolongan dari tuhan mereka, melainkan pula tuhan mereka, yakni berhala-berhala itu sendiri, akan dihancurkan dan tak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri. []
  121. Nazaghahû makna aslinya mencela dia, menuduh dia menjalankan kejaha-tan, dan memburuk-burukkan dia (T). Dan berarti pula menabur benih perpecahan; dalam arti inilah kata itu digunakan dalam 12:100. Menurut R, nazaghahu berarti mencampuri suatu perkara, dengan tujuan merusak perkara itu. Kami memilih makna yang pertama, karena kata nazgh itu sama artinya dengan tuduhan palsu; dalam hal ini kata setan, sebagaimana berulangkali diterangkan dalam Qur’an, berarti musuh yang seperti setan, yang menyebarkan berbagai berita bohong tentang Nabi Suci, yang untuk menghadapi ini, beliau dimohon untuk berlindung kepada Allah. []
  122. Thâif artinya godaan (LL), makna aslinya berkeliling. Yang dimaksud godaan setan ialah terjadinya peristiwa yang menyedihkan atau datangnya bencana karena tangan-tangan setan, atau perbuatan keji yang dilancarkan terhadap orang tulus. Godaan setan berarti kemarahan yang menyebabkan gelap-mata. []
  123. Karena mendapat kesadaran batin, mereka melihat cara-cara untuk mengatasi kesulitan, atau, berarti pula kemarahan yang tak menyebabkan gelap-mata. []
  124. Artinya, kawan setan atau sekutu setan dari kalangan manusia. []
  125. âshâl jamaknya ashl atau âshil, artinya petang hari. Walaupun perintah untuk dzikir kepada Allah ini bersifat umum, dan manusia wajib memahasucikan Allah setiap saat, tetapi di sini digunakan bentuk jamak bagi petang hari, karena kenyataan menunjukkan bahwa pada pagi hari hanya terdapat satu shalat wajib, yaitu shalat Subuh, sedang pada petang hari terdapat empat shalat wajib, yaitu Zuhur, ‘Ashar, Maghrib dan ‘Isya. []
  126. Pembacaan ayat ini diikuti dengan sujud sungguh-sungguh, sehingga keadaan badan jasmani benar-benar selaras dengan keadaan batin. Dalam Qur’an terdapat lima belas ayat, yang kaum mukmin diharuskan bersujud, sebagaimana Nabi Suci sendiri bersujud pada waktu membaca ayat-ayat ini, baik pada waktu shalat maupun dalam keadaan biasa. Adapun ayat-ayat yang dimaksud, selain ayat ini, adalah 13:15; 16:50; 17:109; 19:58; 22:18, 77; 25:26, 60; 32:15; 38:24; 41:38; 53:62; 84:21, dan 96:19.[] []

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *