Home / Al-Quran / 009 Al Baraah

009 Al Baraah

SURAT 9

Al Baraah: Permakluman Bebas

(Diturunkan di Madinah, 16 ruku’; 129 ayat)

 

Mukaddimah Surah Buka

Ruku’ 1: Permakluman bebas

 

1. Permakluman bebas dari Allah dan Utusan-Nya kepada orang-orang musyrik yang membuat perjanjian dengan kamu.1030

 

2. Maka berkelilinglah di bumi selama empat bulan, dan ketahuilah bahwa kamu tak dapat melarikan diri dari Allah, dan bahwa Allah akan menghinakan kaum kafir.

 

3. Dan pengumuman dari Allah dan Utusan-Nya kepada manusia pada waktu haji akbar1031 bahwa Allah itu bebas dari tanggung jawab terhadap kaum musyrik, begitu pula Utusan-Nya. Maka dari itu jika kamu bertobat, ini adalah baik bagi kamu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa kamu tak dapat melarikan diri dari Allah. Dan kabarkanlah kepada orang-orang kafir tentang siksaan yang pedih.

 

4. Terkecuali kaum musyrik yang membuat perjanjian dengan kamu, lalu mereka tak merugikan kamu sedikit pun, dan tak membantu siapa-siapa untuk melawan kamu, maka penuhilah perjanjian mereka sampai habis batas waktu mereka. Sesungguhnya Allah itu suka kepada orang yang menetapi kewajiban.1032

 

5. Maka apabila bulan-bulan suci telah berlalu, bunuhlah kaum musyrik,1033 di mana saja kamu berjumpa dengan mereka, dan tawanlah mereka dan kepunglah mereka dan hadanglah mereka di tiap tempat penghadangan. Tetapi jika mereka bertobat dan menegakkan shalat dan membayar zakat, bebaskanlah jalan mereka. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.1034

 

6. Dan jika salah seorang di antara kaum musyrik minta perlindungan kepada engkau, berilah perlindungan kepadanya sampai ia mendengar firman Allah, lalu antarlah dia ke tempat yang aman. Ini disebabkan karena mereka kaum yang tak tahu.1035

Ruku’ 2: Alasan bebas dari ikatan

 

7. Bagaimana mungkin bagi kaum musyrik ada perjanjian dengan Allah dan Utusan-Nya; terkecuali mereka yang membuat perjanjian dengan kamu di Masjid Suci. Maka selama mereka setia kepada kamu, maka setialah kepada mereka. Sesungguhnya Allah itu suka kepada orang yang menetapi kewajiban.1036

 

8. Bagaimana (mungkin), sedang jika mereka menang melawan kamu, mereka tak menghormati ikatan keluarga dan tak menghormati pula perjanjian dalam perkara kamu. Mereka menyenangkan kamu dengan mulut mereka, sedang hati mereka menolak; dan kebanyakan mereka durhaka.

 

9. Mereka mengambil harga yang rendah sebagai pengganti ayat-ayat Allah, maka mereka menghalang-halangi (orang) dari jalan-Nya. Sungguh buruk apa yang mereka kerjakan.

 

10. Mereka tak menghormati ikatan keluarga dan tak menghormati pula perjanjian, dalam perkara orang mukmin. Dan itulah orang-orang yang melebihi batas.1037

 

11. Tetapi jika mereka bertobat dan menegakkan shalat dan membayar zakat, mereka adalah saudara kamu dalam agama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat kepada kaum yang mengetahui.

 

12. Dan apabila mereka melanggar sumpah mereka setelah mereka berjanji dan menghina agama kamu, maka perangilah para pemimpin kaum kafir — sesungguhnya sumpah mereka bukanlah apa-apa — agar mereka berhenti.1038

 

13. Mengapa kamu tak mau memerangi kaum yang melanggar sumpah mereka dan bermaksud mengusir Utusan, dan mereka mendahului menyerang kamu? Takutkah kamu kepada mereka? Padahal yang lebih berhak kamu takuti ialah Allah, jika kamu mukmin.

 

14. Perangilah mereka; Allah akan menyiksa mereka dengan tangan kamu, dan akan menghinakan mereka dan menolong kamu mengalahkan mereka, dan akan melegakan dada kaum mukmin.

 

15. Dan pula Ia akan melenyapkan murka hati mereka.1039 Dan Allah kembali (kasih sayang) kepada siapa yang Ia kehendaki. Dan Allah itu Yang Maha-tahu, Yang Maha-bijaksana.

 

16. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan begitu saja, padahal Allah belum tahu siapa di antara kamu yang berjuang, dan tak mengambil kawan selain Allah dan Utusan-Nya dan kaum mukmin. Dan Allah itu Yang Maha-waspada terhadap apa yang kamu kerjakan.

Ruku’ 3: Pelayanan kaum musyrik terhadap Masjid Suci

 

17. Kaum musyrik tak berhak merawat (dan memakmurkan) masjid-masjid Allah, karena mereka berdiri saksi atas kekafiran mereka sendiri. Inilah orang yang sia-sia perbuatannya; dan mereka menetap di Neraka.1040

 

18. Yang berhak merawat (dan memakmurkan) masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan menegakkan shalat dan membayar zakat dan tidak takut kepada siapa pun selain Allah. Mudah-mudahan mereka itu termasuk golongan orang yang terpimpin.

 

19. Apakah orang yang memberi minum kepada orang-orang haji dan merawat (dan memakmurkan) Masjid Suci1041 kamu anggap sebagai orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir dan berjuang di jalan Allah? Mereka tak sama menurut penglihatan Allah. Dan Allah tak memberi petunjuk kepada kaum lalim.

 

20. Orang-orang yang beriman dan berhijrah dan berjuang di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwa mereka, ini lebih besar derajatnya di sisi Allah. Dan inilah orang-orang yang jaya.

 

21. Tuhan mereka memberi kabar baik kepada mereka tentang rahmat dan perkenan dari Dia sendiri, dan Taman yang di dalamnya mereka memperoleh kenikmatan yang kekal.

 

22. Mereka menetap di sana selama-lamanya. Sesungguhnya Allah itu mempunyai ganjaran yang agung di sisi-Nya.

 

23. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil ayah kamu dan saudara kamu sebagai kawan jika mereka lebih suka kepada kekafiran daripada iman. Dan barangsiapa mengambil mereka sebagai kawan, mereka adalah orang yang lalim.

 

24. Katakanlah: Jika ayah kamu dan anak kamu dan saudara kamu dan istri kamu dan keluarga kamu dan kekayaan yang kamu peroleh, dan perdagangan yang kamu khawatirkan pudarnya, dan rumah-rumah yang kamu senangi, ini lebih kamu cintai daripada Allah dan Utusan-Nya dan perjuangan di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Dan Allah tak memberi petunjuk kepada kaum durhaka.1042

Ruku’ 4: Islam memperoleh kemenangan di Tanah Arab

 

25. Sesungguhnya Allah telah menolong kamu dalam banyak medan perang, dan pula pada waktu perang Hunain, tatkala banyaknya jumlah kamu membuat kamu besar hati, tetapi ini tak berguna sedikit pun bagi kamu, dan bumi yang luas menjadi sempit bagi kamu, lalu kamu berbalik punggung.1043

 

26. Lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Utusan-Nya dan kepada kaum mukmin, dan menurunkan balatentara yang kamu tak melihatnya, dan menyiksa orang-orang kafir. Dan inilah pembalasan bagi kaum kafir.1044

 

27. Lalu sesudah itu Allah kembali kasih sayang kepada orang yang Ia kehendaki. Dan Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.1045

 

28. Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya kaum musyrik itu kotor,1046 maka janganlah mereka mendekati Masjid Suci sesudah tahun ini, (tahun) mereka.1047 Dan apabila kamu khawatir menderita miskin, Allah akan mencukupi kamu dari karunia-Nya, jika Ia kehendaki.1048 Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-tahu, Yang Maha-bijaksana.

 

29. Perangilah orang-orang yang tak beriman kepada Allah dan tak pula kepada hari Akhir, dan tak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Utusan-Nya, dan tak mengikuti Agama yang benar, di antara orang-orang yang telah diberi Kitab, sampai mereka membayar pajak sebagai pengakuan kedaulatan, dan mereka adalah rakyat taklukan.1049

Ruku’ 5: Islam akan menang di dunia

 

30. Dan kaum Yahudi berkata: ‘Uzair adalah putra Allah; dan kaum Nasrani berkata: Al-Masih adalah putra Allah. Ini adalah ucapan mereka dengan mulut mereka.1050 Mereka meniru-niru ucapan kaum kafir sebelum (mereka).1051 Laknat Allah atas mereka! Bagaimana mereka dielakkan (dari kebenaran)!

 

31. Mereka mengambil ulama mereka dan rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah, dan (pula) Al-Masih bin Maryam. Dan mereka tiada lain hanya disuruh mengabdi kepada Tuhan Yang Maha-esa — tak ada Tuhan selain Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.1052

 

32. Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah tak memperkenankan itu kecuali hanya menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tak suka.1053

 

33. Dia ialah Yang mengutus Utusan-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, agar Ia memenangkan itu di atas sekalian agama,1054 walaupun orang-orang musyrik tak suka.

 

34. Wahai orang yang beriman, sesungguhnya kebanyakan ulama (Ahli Kitab) dan rahib, makan harta manusia dengan curang, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Adapun orang yang menimbun emas dan perak dan tak membelanjakan itu di jalan Allah, beritahukanlah kepada mereka siksaan yang pedih.1055

 

35. Pada hari tatkala (emas dan perak) dipanaskan dalam Api Neraka, lalu dahi mereka dan lambung mereka dan punggung mereka diselar dengan itu: Inilah yang kamu timbun bagi kamu sendiri, maka rasakanlah apa yang kamu timbun.1056

 

36. Sesungguhnya hitungan bulan menurut Allah ialah dua belas bulan dalam undang-undang Allah, sejak Dia menciptakan langit dan bumi — di antaranya ada empat yang suci. Inilah agama yang benar, maka janganlah berbuat lalim terhadap diri kamu dalam (bulan suci) itu.1057 Dan perangilah semua orang musyrik sebagaimana mereka memerangi kamu semua.1058 Dan ketahuilah bahwa Allah itu menyertai orang-orang yang menetapi kewajiban.

 

37. Menangguhkan (bulan suci)1059 hanyalah menambah kekafiran, yang dengan itu orang-orang kafir disesatkan. Mereka menghalalkan itu satu tahun dan mengharamkan itu satu tahun, agar mereka dapat mencocokkan bilangan (bulan) yang dibikin suci oleh Allah, dengan demikian mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah. Perbuatan buruk mereka ditampakkan indah bagi mereka. Dan Allah tak memberi petunjuk kepada kaum kafir.

Ruku’ 6: Pengiriman pasukan ke Tabuk

 

38. Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu, tatkala dikatakan kepada kamu: Berangkatlah (berjuang) di jalan Allah, kamu lebih berat condong ke bumi. Apakah kamu lebih puas dengan kehidupan dunia daripada (kehidupan) Akhirat? Padahal kesenangan hidup di dunia lebih kecil sekali jika dibandingkan dengan (kehidupan) di Akhirat.1060

 

39. Jika kamu tak berangkat, Ia akan menyiksa kamu dengan siksaan yang pedih,1061 dan akan menggantikan kamu dengan umat lain, dan kamu tak akan merugikan Dia sedikit pun. Dan Allah itu Yang berkuasa atas segala sesuatu.

 

40. Jika kamu tak menolong dia, Allah sungguh-sungguh telah menolong dia tatkala orang-orang kafir mengusir dia — dia adalah yang kedua dari (orang) dua; tatkala dua orang itu berada dalam gua, tatkala dia berkata kepada kawannya: Jangan merasa sedih, sesungguhnya Allah itu menyertai kita.1062 Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya dan memperkuat dia dengan balatentara yang kamu tak melihatnya, dan membuat rendah kalimah kaum kafir. Dan kalimah Allah adalah yang amat luhur. Dan Allah itu Yang Maha-perkasa, Yang Maha-bijaksana.

 

41. Berangkatlah, baik ringan maupun berat,1063 dan berjuanglah di jalan Allah dengan harta kamu dan jiwa kamu. Ini adalah baik bagi kamu jika kamu mengetahui.

 

42. Seandainya itu suatu keuntungan yang dekat dan perjalanan yang pendek, niscaya mereka akan mengikuti engkau, tetapi perjalanan yang sukar itu terlalu jauh bagi mereka.1064 Dan mereka bersumpah demi Allah: Jika kami mampu, niscaya kami berangkat bersama kamu. Mereka membinasakan jiwa mereka sendiri; dan Allah tahu bahwa mereka pembohong.

Ruku’ 7: Kaum munafik

 

43. Allah memaafkan engkau!1065 Mengapa engkau memberi izin kepada mereka hingga orang-orang yang berkata benar menjadi terang bagi engkau, dan engkau tahu akan orang-orang yang dusta?

 

44. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tak minta izin kepada engkau (untuk tak ikut) berjuang (di jalan Allah) dengan harta mereka dan jiwa mereka. Dan Allah Maha-tahu akan orang-orang yang bertaqwa.

 

45. Adapun yang minta izin kepada engkau hanyalah mereka yang tak beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan hati mereka ragu-ragu, maka dalam keragu-raguannya mereka bimbang.

 

46. Dan sekiranya mereka berniat pergi, niscaya mereka mempersiapkan perlengkapan untuk itu; tetapi Allah tak menyukai kepergian mereka. Maka dari itu Ia lemahkan semangat mereka, dan dikatakan (kepada mereka): Tinggallah di rumah bersama mereka yang tinggal di rumah.

 

47. Seandainya mereka berangkat dengan kamu, mereka tiada lain hanya menambah kesukaran kamu, dan mereka berlari kian-kemari di antara kamu sambil berusaha (menyebarkan) fitnah di antara kamu. Dan di antara kamu pasti ada yang mau mendengarkan mereka. Dan Allah Maha-tahu akan orang-orang lalim.1066

 

48. Sesungguhnya mereka dari dahulu pun telah berusaha (menyebarkan) fitnah, dan mereka membuat rencana jahat untuk melawan engkau sampai datanglah kebenaran; dan perkara Allah itulah yang menang, sekalipun mereka tak menyukai-(nya).

 

49. Dan di antara mereka ada yang berkata: Berilah izin kepadaku dan janganlah menguji aku. Sesungguhnya dalam ujian itu mereka jatuh, dan sesungguhnya Neraka itu melingkupi kaum kafir.

 

50. Jika engkau memperoleh kebaikan, mereka merasa sedih; dan jika engkau ditimpa kemalangan, mereka berkata: Sesungguhnya kami dari dahulu telah berhati-hati terhadap urusan kami. Dan mereka berlalu dengan sukacita.

 

51. Katakanlah: Tak ada kesusahan akan menimpa kami selain apa yang telah ditetapkan oleh Allah kepada kami. Dia adalah Pelindung kami; dan hendaklah kaum mukmin bertawakal kepada Allah.

 

52. Katakan: Apakah kamu menantikan untuk kami selain salah satu dari dua kebaikan? Dan kami pun menantikan untuk kamu bahwa Allah akan menimpakan kepada kamu siksaan dari Dia sendiri atau dari tangan kami. Maka nantikanlah; kami pun menantikan bersama kamu.1067

 

53. Katakan: Belanjakanlah (harta kamu) dengan suka-rela atau dengan paksa; ini tak akan diterima dari kamu. Sesungguhnya kamu adalah kaum yang durhaka.

 

54. Dan tak ada sesuatu yang menghalang-halangi diterimanya sumbangan mereka selain karena mereka kafir kepada Allah dan Utusan-Nya dan karena mereka tak mendatangi shalat kecuali dengan malas, dan karena mereka tak membelanjakan (harta mereka) kecuali karena terpaksa.

 

55. Maka janganlah engkau kagum akan harta mereka dan anak-anak mereka. Dengan itu, Allah hanya menghendaki menyiksa mereka dalam kehidupan dunia. Dan (agar) dicabutlah nyawa mereka selagi mereka kafir.1068

 

56. Dan mereka bersumpah demi Allah bahwa mereka dari golongan kamu. Padahal mereka bukan dari golongan kamu, melainkan mereka itu kaum penakut.

 

57. Sekiranya mereka menemukan tempat perlindungan atau gua atau tempat persembunyian, niscaya mereka menuju ke sana, lari secepat-cepatnya.

 

58. Dan di antara mereka ada yang mencela engkau tentang hal sedekah. Tetapi jika mereka diberi bagian, mereka merasa puas, dan jika mereka tak diberi bagian dari itu, tiba-tiba mereka marah.

 

59. Dan sekiranya mereka puas dengan apa yang diberikan oleh Allah dan Utusan-Nya, dan berkata: Allah sudah cukup bagi kami; Allah akan memberikan (lebih banyak) kepada kami dari karunia-Nya, demikian pula Utusan-Nya; sesungguhnya kami hanyalah bermohon kepada Allah.

Ruku’ 8: Kaum munafik

 

60. Sedekah (zakat) itu hanya untuk kaum melarat dan kaum miskin, dan para petugas yang mengurusi itu, dan orang yang hatinya dibuat condong ke arah (Kebenaran), dan untuk (membebaskan) tawanan, dan orang yang banyak hutang, dan di jalan Allah, dan mereka yang dalam perjalanan — peraturan dari Allah. Dan Allah itu Yang Maha-tahu, Yang Maha-bijaksana.1069

 

61. Dan di antara mereka ada orang yang sangat mengganggu Nabi dan berkata: Ia adalah telinga.1070 Katakanlah: Telinga yang mendengarkan kebaikan bagi kamu — ia beriman kepada Allah dan percaya kepada kaum mukmin, dan (ia adalah) rahmat bagi orang yang beriman di antara kamu. Adapun orang yang mengganggu Utusan Allah, mereka mendapat siksaan yang pedih.

 

62. Mereka bersumpah kepada kamu demi Allah, sekedar untuk menyenangkan hati kamu; padahal Allah dan Utusan-Nya itulah yang lebih berhak bahwa mereka berkenan kepada-Nya, jika mereka itu mukmin.1071

 

63. Apakah mereka tak tahu bahwa barangsiapa menentang Allah dan Utusan-Nya, a akan mendapat Api Neraka untuk menetap di sana. Ini adalah kehinaan yang besar.

 

64. Kaum munafik takut kalau-kalau ada Surat yang diturunkan mengenai mereka yang menceritakan kepada mereka tentang apa yang ada dalam hati mereka. Katakan: Teruskanlah ejekan kamu, sesungguhnya Allah akan membentangkan apa yang kamu takutkan.

 

65. Dan jika engkau tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan berkata: Kami hanya bersenda gurau dan bermain-main. Katakan: Apakah kamu memperolok-olokkan Allah dan ayat-ayat-Nya dan Utusan-Nya?

 

66. Janganlah kamu meminta maaf, sesungguhnya kamu menjadi kafir setelah kamu beriman. Jika Kami mengampuni segolongan dari kamu, Kami akan menyiksa segolongan (yang lain), karena mereka bersalah.1072

Ruku’ 9: Kaum munafik

 

67. Kaum munafik pria dan kaum munafik wanita, semuanya sama. Mereka menyuruh berbuat jahat dan melarang berbuat baik dan menggenggam tangan mereka. Mereka melupakan Allah, maka Ia melupakan mereka. Sesungguhnya kaum munafik itu durhaka.

 

68. Kepada kaum munafik pria dan kaum munafik wanita dan kaum kafir, Allah menjanjikan Api Neraka, mereka menetap di sana. Ini sudah cukup bagi mereka. Dan Allah melaknati mereka, dan mereka mendapat siksaan yang sangat lama.

 

69. Sama halnya seperti orang-orang sebelum kamu — mereka lebih kuat daripada kamu dalam hal kekuatan, dan mempunyai lebih banyak harta dan anak. Maka mereka menikmati bagian mereka, maka nikmatilah bagian kamu sebagaimana orang-orang sebelum kamu menikmati bagian mereka, dan bersenda-guraulah kamu seperti mereka bersenda-gurau. Ini adalah orang yang sia-sia amalnya di dunia dan di Akhirat, dan ini adalah orang yang rugi.

 

70. Apakah riwayat orang-orang sebelum mereka belum sampai kepada mereka (yaitu tentang) kaumnya Nuh dan ‘Ad dan Tsamud, dan kaumnya Ibrahim dan penduduk Madian dan kota-kota lain yang sudah hancur. Para Utusan mendatangi mereka dengan tanda bukti yang terang. Maka bukanlah Allah yang berbuat lalim terhadap mereka, melainkan merekalah yang berbuat lalim terhadap diri mereka sendiri.

 

71. Adapun kaum mukmin pria dan kaum mukmin wanita, sebagian mereka adalah kawan sebagian yang lain. Mereka menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat jahat, dan mereka menegakkan shalat dan membayar zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Utusan-Nya. Inilah orang-orang yang Allah akan memberi rahmat kepada mereka. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-perkasa, Yang Maha-bijaksana.

 

72. Allah menjanjikan kepada kaum mukmin pria dan kaum mukmin wanita sebuah Taman yang di dalamnya mengalir sungai-sungai untuk menetap di sana, dan tempat tinggal yang baik di Taman yang kekal. Dan yang paling besar ialah perkenan dari Allah. Ini adalah hasil yang besar.

Ruku’ 10: Kaum munafik

 

73. Wahai Nabi, berjuanglah sehebat-hebatnya melawan kaum kafir dan kaum munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Dan tempat tinggal mereka ialah Neraka, dan buruk sekali tempat yang dituju itu.1073

 

74. Mereka bersumpah demi Allah, bahwa mereka tak berkata apa-apa. Dan sesungguhnya mereka telah mengucapkan kata-kata kekafiran, dan mereka menjadi kafir setelah mereka Islam, dan mereka mencita-citakan apa yang tak dapat mereka capai.1074 Dan mereka membalas dendam hanya oleh karena Allah dan Utusan-Nya telah membikin mereka kaya dari karunia-Nya.1075 Maka jika mereka tobat, ini lebih baik bagi mereka; dan jika mereka berpaling, Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di dunia dan Akhirat; dan di bumi, mereka tak mempunyai kawan dan penolong.

 

75. Dan di antara mereka ada yang berjanji kepada Allah: Jika Ia memberikan karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan memberi sedekah, dan kami menjadi golongan orang yang saleh.

 

76. Tetapi setelah Ia berikan kepada mereka karunia-Nya, mereka menjadi kikir karenanya dan berpaling, dan mereka enggan.

 

77. Maka dari itu Ia membalas mereka dengan kemunafikan dalam hati mereka, sampai hari pertemuan mereka dengan Dia, karena mereka mengingkari janji mereka kepada Allah, dan karena mereka dusta.

 

78. Apakah mereka tak tahu bahwa Allah tahu akan pikiran mereka yang dirahasiakan dan percakapan (perundingan) rahasia mereka, dan bahwa Allah itu Yang Maha-tahu akan barang gaib?

 

79. Orang-orang yang mencela kaum mukmin yang dengan sukarela memberi sedekah, demikian pula terhadap orang yang tak dapat menemukan sesuatu (untuk disedekahkan) kecuali dengan kerja keras — mereka mengejek mereka. Allah membalas ejekan mereka; dan mereka mendapat siksaan yang pedih.1076

 

80. Mohonlah ampun untuk mereka atau tak kau mohonkan ampun untuk mereka. Bahkan seandainya engkau mohonkan ampun untuk mereka tujuh puluh kali, Allah tak akan memberi ampun kepada mereka. Ini disebabkan karena mereka mengafiri Allah dan Utusan-Nya. Dan Allah tak memberi petunjuk kepada kaum yang durhaka.1077

Ruku’ 11: Kaum munafik

 

81. Mereka yang ditinggalkan di rumah bergembira karena mereka duduk-duduk saja sepeninggal Utusan Allah, dan mereka enggan berjuang di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwa mereka, dan mereka berkata: Janganlah kamu berangkat pada waktu panas. Katakanlah: Api Neraka itu lebih panas. Sekiranya mereka mengerti.

 

82. Maka biarlah mereka tertawa sedikit dan menangis yang banyak — pembalasan terhadap apa yang mereka usahakan.1078

 

83. Maka jika Allah memulangkan engkau kepada segolongan dari mereka, dan mereka mohon izin kepada engkau untuk pergi (perang), katakanlah: Kamu tak boleh pergi bersama aku lagi untuk selama-lamanya, dan tak boleh pula memerangi musuh bersamaku lagi. Sesungguhnya kamu, sejak pertama kali, lebih suka duduk-duduk (di rumah); maka (sekarang) duduklah kamu bersama orang yang tinggal di belakang.1079

 

84. Dan janganlah sekali-kali engkau menshalati salah seorang di antara mereka yang mati, dan jangan (pula) berdiri di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka itu mengafiri Allah dan Utusan-Nya, dan mereka mati selagi mereka durhaka.1080

 

85. Janganlah engkau kagum pada harta mereka dan anak mereka. Sesungguhnya Allah hanya menghendaki untuk menyiksa mereka dengan itu di dunia, dan agar nyawa mereka melayang selagi mereka kafir.

 

86. Tatkala diturunkan sebuah Surat, yang bunyinya: Berimanlah kepada Allah dan berjuanglah bersama Utusan-Nya, maka yang kaya di antara mereka mohon permisi kepada engkau dan berkata: Biarlah kami tinggal (di belakang) agar kami menyertai orang yang duduk-duduk (di rumah).

 

87. Mereka lebih suka menyertai orang-orang yang tinggal di belakang, dan hati mereka dicap, maka dari itu mereka tak mengerti.

 

88. Akan tetapi Utusan dan orang-orang yang beriman bersama dia, berjuang sekuat tenaga dengan harta mereka dan jiwa mereka. Ini adalah orang yang mempunyai banyak kebaikan, dan ini adalah orang yang beruntung.

 

89. Allah menyiapkan untuk mereka Taman yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; mereka menetap di sana. Inilah hasil yang besar.

Ruku’ 12: Kaum munafik

 

90. Dan orang yang tak memenuhi kewajiban1081 di antara penduduk padang pasir1082 datang (kepada engkau) agar mereka diberi izin, sedang orang yang mendustakan Allah dan Utusan-Nya duduk (di rumah). Siksaan yang pedih akan menimpa orang yang kafir di antara mereka.

 

91. Tak ada kesalahan bagi orang yang lemah, dan tak pula bagi orang yang sakit, dan tak pula bagi orang yang tak menemukan apa-apa untuk dibelanjakan, jika mereka jujur terhadap Allah dan Utusan-Nya. Tak ada jalan (untuk menyalahkan) orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

 

92. Dan tak (ada kesalahan) bagi orang yang tatkala mereka datang kepada engkau agar engkau mengangkut mereka, engkau berkata: Aku tak menemukan angkutan untuk mengangkut kamu.1083 Mereka pulang sambil mata mereka mencucurkan air mata karena dukacita, karena mereka tak menemukan barang untuk dibelanjakan.

 

93. Adapun jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap mereka yang mohon izin kepada engkau (tak ikut jihad), sedangkan mereka itu kaya. Mereka lebih suka orang-orang yang tinggal di belakang; dan Allah telah mencap hati mereka, maka dari itu mereka tak tahu.
JUZ XI

 

94. Mereka meminta maaf kepada kamu tatkala kamu kembali kepada mereka. Katakan: Janganlah kamu meminta maaf, kami tak percaya kepada kamu; Allah telah memberitahukan kepada kami tentang perkara kamu. Dan kini Allah dan Utusan-Nya melihat perbuatan kamu, lalu kamu akan dikembalikan kepada Yang Maha-tahu barang gaib dan barang yang kelihatan, dan Ia akan memberitahukan kepada kamu apa yang kamu lakukan.1084

 

95. Mereka bersumpah kepada kamu demi Allah tatkala kamu kembali kepada mereka, sehingga kamu akan membiarkan mereka. Maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya mereka itu kotor, dan tempat tinggal mereka ialah Neraka — pembalasan terhadap apa yang mereka usahakan.1085

 

96. Mereka bersumpah kepada kamu agar kamu senang kepada mereka. Tetapi jika kamu senang kepada mereka, sesungguhnya Allah itu tak senang kepada kaum yang durhaka.

 

97. Para penduduk padang pasir adalah paling kafir dan paling munafik, dan paling cenderung untuk tak tahu batas-batas yang diturunkan oleh Allah kepada Utusan-Nya. Dan Allah itu Yang Maha-tahu, Yang Maha-bijaksana.

 

98. Dan di antara penduduk padang pasir ada yang menganggap apa yang mereka belanjakan itu sebagai denda, dan menunggu-nunggu giliran nasib buruk bagi kamu. Giliran nasib buruk akan menimpa mereka. Dan Allah itu Yang Maha-mendengar, Yang Maha-tahu.1086

 

99. Dan di antara penduduk padang pasir ada yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan menganggap apa yang mereka belanjakan, demikian pula doa Utusan, menyebabkan mereka dekat kepada Allah. Memang benar bahwa itu menyebabkan mereka dekat (kepada Allah); Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

Ruku’ 13: Kaum munafik

 

100. Adapun orang yang paling depan, yang paling pertama di antara (sahabat) Muhajir dan (sahabat) Anshar,1087 dan orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan — Allah amat berkenan kepada mereka dan mereka berkenan kepada-Nya, dan Ia menyiapkan bagi mereka Taman yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, mereka menetap di sana untuk selama-lamanya. Inilah hasil yang besar.1088

 

101. Dan segolongan orang yang mengelilingi kamu di antara penduduk padang pasir Arab terdapat kaum munafik; demikian pula di antara penduduk Madinah — mereka berkeras-kepala dalam kemunafikan. Engkau tak tahu mereka;1089 Kami tahu mereka. Kami akan menyiksa mereka dua kali,1090lalu mereka akan dikembalikan kepada siksaan yang mengerikan.

 

102. Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui kesalahan mereka.1091 — mereka mencampur perbuatan baik dengan perbuatan lain yang buruk. Boleh jadi Allah akan kembali (kasih sayang) kepada mereka. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

 

103. Ambillah sedekah dari harta mereka — yang dengan itu, engkau akan membersihkan mereka dan menyucikan mereka — dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa engkau adalah ketenangan bagi mereka. Dan Allah itu Yang Maha-mendengar, Yang Maha-tahu.1092

 

104. Apakah mereka tak tahu bahwa Allah itu Yang menerima tobat hamba-hamba-Nya dan Yang menerima sedekah, dan bahwa Allah itu Yang berulang-ulang (kasih sayang-Nya), Yang Maha-pengasih.

 

105. Dan katakan: Beramallah; Allah akan melihat amal kamu, demikian pula Utusan-Nya dan kaum mukmin. Dan kamu akan dikembalikan kepada Yang Maha-tahu barang gaib dan barang yang kelihatan, lalu Ia akan memberitahukan kepada kamu apa yang kamu kerjakan.

 

106. Adapun lain-lainnya, mereka harus menantikan perintah Allah, apakah Ia akan menyiksa mereka ataukah akan kembali (kasih sayang) kepada mereka. Dan Allah itu Yang Maha-tahu, Yang Maha-bijaksana.1093

 

107. Demikian pula orang yang membangun Masjid untuk membencanai (Islam) dan (membantu) kekafiran, dan mendatangkan perpecahan di antara kaum mukmin, dan (dijadikan) tempat perlindungan bagi orang yang dahulu memerangi Allah dan Utusan-Nya. Dan mereka bersumpah dengan sungguh-sungguh: Kami tak menghendaki apa-apa selain kebaikan. Dan Allah menyaksikan bahwa mereka itu sesungguhnya orang yang dusta.1094

 

108. Janganlah engkau sekali-kali berdiri di sana. Sesungguhnya Masjid yang dibangun berdasarkan taqwa sejak hari permulaan, itu lebih berhak jika engkau berdiri di sana. Di sana adalah orang-orang yang suka menyucikan dirinya. Dan Allah mencintai orang-orang yang menyucikan dirinya.1095

 

109. Apakah orang yang melandasi bangunannya atas dasar taqwa kepada Allah dan perkenan-Nya itu yang baik, ataukah orang yang melandasi bangunannya pada tepi tebing yang retak, lalu itu longsor dengan (membawa) dia ke dalam Api Neraka? Dan Allah tak memberi petunjuk kepada kaum yang lalim.

 

110. Bangunan yang mereka bangun, akan selalu menjadi sumber kegelisahan dalam hati mereka, kecuali apabila hati mereka diiris-iris. Dan Allah itu Yang Maha-tahu, Yang Maha-bijaksana.1096

Ruku’ 14: Kaum mukmin

 

111. Sesungguhnya Allah telah membeli dari kaum mukmin, jiwa-raga mereka dan harta mereka — (dan sebagai gantinya) mereka akan memperoleh Taman. Mereka berperang di jalan Allah, maka mereka membunuh dan dibunuh. Ini adalah janji yang mengikat Dia (yang Ia janjikan) dalam Taurat dan Injil dan Qur’an,1097 Dan siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah? Maka dari itu bergembiralah dengan janji kamu yang telah kamu janjikan. Dan ini adalah hasil yang besar.

 

112. Orang yang tobat (kepada Allah), yang mengabdi (kepada-Nya), yang memuji-muji (Dia), yang puasa, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh apa yang baik dan melarang apa yang buruk, dan yang menjaga batas Allah — dan berilah kabar baik kepada kaum mukmin.

 

113. Tak layak bagi Nabi dan orang yang beriman untuk memohonkan ampun bagi kaum musyrik, walaupun mereka kerabat yang dekat, setelah jelas bagi mereka bahwa mereka kawan Api yang menyala.1098

 

114. Adapun permohonan ampun Ibrahim bagi orangtuanya itu tiada lain hanya karena janji yang ia janjikan kepadanya; tetapi setelah jelas bagi dia bahwa ia musuh Allah, dia membebaskan diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim itu halus perasaannya, penyantun.

 

115. Dan bukanlah (sifat) Allah untuk menyesatkan suatu kaum, setelah Ia memberi petunjuk kepada mereka; sampai-sampai Ia menjelaskan kepada mereka tentang apa yang mereka harus menjaga diri. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-tahu akan segala sesuatu.1099

 

116. Sesungguhnya Allah itu Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. Ia memberi hidup dan menyebabkan mati. Dan selain Allah, kamu tak mempunyai pelindung dan tak pula penolong.

 

117. Sesungguhnya Allah telah kembali kasih sayang kepada Nabi dan para (sahabat) Muhajir dan Anshar yang mengikuti dia pada saat yang penuh kesukaran, setelah hati segolongan mereka hampir-hampir menyimpang; lalu Ia kembali kasih sayang kepada mereka. Sesungguhnya Dia itu Yang Maha-belas kasih, Yang Maha-pengasih kepada mereka;1100

 

118. Dan (Dia kembali kasih sayang kepada) tiga orang yang ditinggalkan; sampai tatkala bumi yang luas itu terasa sempit bagi mereka, dan jiwa mereka juga terasa sempit bagi mereka; dan mereka mengira bahwa ada tempat berlindung dari Allah selain hanya kepada-Nya, lalu Ia kembali kasih sayang kepada mereka agar mereka bertobat (kepada-Nya). Sesungguhnya Allah itu Yang berulang-ulang (kasih sayang-Nya), Yang Maha-pengasih.1101

Ruku’ 15: Apa yang harus dilakukan oleh kaum mukmin

 

119. Wahai orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan sertailah orang-orang yang tulus.

 

120. Tak layak bagi penduduk Madinah dan sekitarnya di antara penduduk padang pasir Arab untuk tinggal di belakang Utusan Allah, dan tak (layak pula apabila) mereka menyayangi jiwa mereka melebihi jiwanya (Utusan).1102 Ini disebabkan karena tiada dahaga menimpa mereka, dan tiada letih, dan tiada lapar di jalan Allah, dan tiada pula mereka menginjak jalan yang membangkitkan amarah kaum kafir, dan tiada pula mereka melukai musuh, melainkan ini (semua) dibukukan untuk mereka sebagai amal saleh. Sesungguhnya Allah itu tak menyia-nyiakan ganjaran orang yang berbuat baik;1103

 

121. Dan tiada mereka membelanjakan sesuatu, baik kecil maupun besar, dan tiada pula mereka melintasi suatu lembah, melainkan ini (semua) ditulis untuk mereka, agar Allah mengganjar mereka sebaik-baik barang yang mereka lakukan.

 

122. Dan janganlah kaum mukmin pergi semuanya (ke medan pertempuran). Mengapa tidak pula berangkat satu rombongan dari tiap-tiap golongan di antara mereka, agar mereka dapat mengusahakan diri untuk memperoleh pengetahuan agama,1104 dan agar mereka dapat memberi ingat kepada kaum mereka setelah mereka kembali kepada mereka, agar mereka berhati-hati.

Ruku’ 16: Yang sangat dikhawatirkan oleh Nabi Suci

 

123. Wahai orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang berdekatan dengan kamu1105 dan biarlah mereka menemukan adanya keteguhan pada kamu.1106 Dan ketahuilah bahwa Allah itu menyertai orang yang menetapi kewajiban.

 

124. Dan apabila diturunkan suatu Surat, sebagian mereka ada yang berkata: Siapakah di antara kamu yang dengan ini bertambah imannya? Adapun orang yang beriman, ini akan menambah iman mereka dan mereka bergembira.

 

125. Adapun orang yang dalam hatinya terdapat penyakit, ini akan menambah kotor (hati) mereka yang kotor, dan mereka mati selagi mereka kafir.1107

 

126. Apakah mereka tak tahu bahwa mereka diuji sekali atau dua kali pada tiap tahun, namun mereka tak mau bertobat, dan tak pula mereka ingat.1108

 

127. Dan apabila diturunkan suatu Surat, satu sama lain saling memandang; apakah salah seorang melihat kamu? Lalu mereka pergi. Allah telah membelokkan hati mereka karena mereka adalah kaum yang tak mengerti.

 

128. Sesungguhnya telah datang kepada kamu seorang Utusan dari kalangan kamu sendiri, pedih terasa olehnya kamu jatuh dalam kesengsaraan, sangat cemas terhadap kamu, belas kasih terhadap kaum mukmin.1108a

 

129. Tetapi jika mereka berpaling, maka katakanlah: Allah sudah cukup bagiku — tak ada Tuhan selain Dia. Aku bertawakal kepada-Nya, dan Dia itu Tuhan Yang Memiliki Singgasana yang agung.

  1. Ayat ini harus dibaca bersama ayat 4 yang menerangkan pengecualian bagi mereka yang setia menetapi perjanjian. Memang benar bahwa kabilah kaum kafir Arab berulang kali membatalkan perjanjian dengan kaum Muslimin (8:56), namun kaum Muslimin diperintahkan supaya menerima perjanjian perdamaian jika kaum kafir menghendaki itu, walaupun mereka berulang kali melanggar perjanjian (8:61). Tetapi kejadian seperti itu tak boleh berlangsung terus, karena tak mungkin kita percaya kepada orang yang bertabiat demikian. Pelanggaran perjanjian terjadi secara besar-besaran pada waktu kaum Muslimin pergi ke Tabuk. Tiga belas ayat pertama dalam Surat ini diundangkan oleh Sayyidina ‘Ali pada musim haji tahun hijriah kesembilan; kemudian dibuat pengumuman (1) Sesudah ini, kaum musyrik tak boleh mendekati Masjid Suci lagi; (2) orang tak boleh bertawaf lagi mengelilingi Ka’bah dengan bertelanjang (B. 65:IX,3). Kabilah yang diberi ultimatum oleh Sayyidina ‘Ali ini menyatakan sikapnya dengan menjawab: “Hai ‘Ali, sampaikanlah kepada saudara sepupumu (Muhammad), bahwa kami membatalkan perjanjian, dan tak ada perjanjian lagi antara kami dan dia, kecuali melempar lembing dan memancung dengan pedang” []
  2. ang dimaksud waktu haji akbar ialah tanggal 9 Dzulhijjah tatkala semua jama’ah Haji berkumpul di padang ‘Arafah, atau mungkin pula tanggal 10 Dzulhijjah tatkala mereka berkumpul di Mina. []
  3. Diriwayatkan bahwa hanya dua kabilah saja yang setia menepati perjanjian, yakni kabilah Bani Damrah dan Bani Kananah. Pengecualian yang diberikan di sini menunjukkan seterang-terangnya bahwa kaum Muslimin bukan berperang melawan kaum musyrik karena agama, melainkan karena mereka tak setia kepada perjanjian. []
  4. Berdasarkan pengecualian yang disebutkan dalam ayat sebelumnya, terang sekali bahwa yang dimaksud kaum musyrik bukanlah semua kaum musyrik di seluruh dunia, bahkan bukan pula semua kaum musyrik yang ada di Tanah Arab, melainkan hanya kaum kafir Arab yang berkumpul pada waktu musim haji yang mula-mula membuat perjanjian dengan kaum Muslimin, kemudian mereka mengingkari perjanjian tersebut. []
  5. Pengecualian yang disebutkan di sini, banyak menimbulkan salah pengertian. Sebagian mufassir mengira bahwa di sini kaum kafir disuruh memilih, apakah pedang ataukah Qur’an. Tetapi pendapat ini jauh dari kebenaran. Perintah yang termuat dalam bagian pertama ayat ini menyatakan bahwa seluruh ayat hanya membicarakan suatu kabilah kafir Arab yang membatalkan perjanjian dengan kaum Muslimin, dan kemudian kaum Muslimin berganti memberi pengumuman tentang batalnya perjanjian itu. Perintah untuk membunuh dan menawan serta mengepung dan menghadang mereka adalah dengan perintah bertempur melawan mereka, karena hanya dalam keadaan perang sajalah orang diperbolehkan menjalankan perbuatan semacam itu. Mereka begitu sering membatalkan perjanjian, hingga mereka tak dapat dipercaya lagi. Namun jika mereka suka bergabung dalam persaudaraan Islam, dan benar-benar mau mengubah tingkah laku mereka, hukuman yang seharusnya diberikan kepada mereka dapat ditiadakan. Ini hanyalah soal mengampuni orang salah yang mau bertobat. Hendaklah diingat bahwa yang harus dipenuhi bukanlah pernyataan iman dimulut belaka, melainkan perubahan tingkah-laku mereka secara total, dengan menjauhkan diri dari segala macam perbuatan jahat seperti yang sudah-sudah. Oleh sebab itu, disamping menyatakan iman dengan mulut, mereka diharuskan menegakkan shalat dan membayar zakat. Hal ini dijelaskan dalam ayat berikutnya dan ruku’ sebelumnya. []
  6. Ayat ini menerangkan seterang-terangnya bahwa Nabi Suci tak pernah memberi perintah untuk membunuh orang karena soal agama. “Kamu harus memberi jaminan keamanan agar ia dapat pulang ke rumahnya dengan selamat apabila ia tak mau memeluk agama Muhammad” (Tafsir tuan Sale). []
  7. Selama kaum musyrik setia menetapi perjanjian mereka, kaum Muslimin juga harus setia pada perjanjian yang ditetapkan. Seperti juga halnya dalam perang, kaum Muslimin dilarang mendahului melancarkan serangan, sampai musuh menyerang terlebih dulu, demikian pula dalam hal membatalkan perjanjian, musuhlah yang pertama-tama membatalkan perjanjian itu. []
  8. Hendaklah diingat bahwa Qur’an berulangkali menerangkan bahwa kaum kafir bukanlah diperangi karena kekafiran mereka, melainkan karena mendahului melancarkan serangan, atau membatalkan perjanjian. Bagi para penjahat semacam itu, tak ada obat lain kecuali hanya dengan terang-terangan membatalkan dan mengikis habis segala kejahatan mereka. []
  9. Sekali lagi hendaklah diingat bahwa para pemimpin kaum kafir harus diperangi karena mereka melanggar sumpah mereka sendiri setelah mereka berjanji. []
  10. Para mufassir menerangkan bahwa yang diisyaratkan dalam ayat ini ialah orang-orang Khuza’ah, yang karena masuk Islam, mereka menderita sehebat-hebatnya di bawah tekanan kabilah Bani Bakar yang dibantu oleh Quraisy, tetapi mungkin pula yang diisyaratkan di sini ialah kaum Muslimin seumumnya yang menderita penganiayaan sehebat-hebatnya di bawah tekanan kaum kafir. Sudah tentu jatuhnya siksaan yang menimpa kaum kafir amat melegakan hati kaum Muslimin. []
  11. Yang dimaksud masjid-masjid Allah di sini ialah Masjid Suci di Makkah yang menjadi pusat semua masjid di dunia. Hal ini dijelaskan oleh ayat 19 dengan menggunakan kata Masjid Suci sebagai pengganti kata masjid-masjid Allah. Sudah lama Masjid Suci di bawah kekuasaan kaum musyrik. Mereka menetap, mengunjungi, memperbaiki dan menempatkan banyak berhala di sana. Dengan jatuhnya kota Makkah ke tangan kaum Muslimin, Masjid Suci itu dibersihkan dari segala berhala, dan kini menjadi lambang ketauhidan seperti pada zaman Nabi Ibrahim. Oleh sebab itu, kaum musyrik kini tak mempunyai hubungan lagi dengan Masjid Suci tersebut. []
  12. Pada umumnya para mufassir menganggap bahwa yang dituju ayat ini ialah Sayyidina ‘Abbas, paman Nabi Suci yang tugasnya memberi minum kepada jama’ah haji dan menjaga Masjid Suci. Tetapi sebenarnya ayat ini membandingkan perbuatan yang tak seberapa berupa sedekah, dengan perbuatan yang menyangkut kepentingan umum, dan besarnya tanggung jawab tiap-tiap orang untuk ikut berjuang sehebat-hebatnya guna menegakkan Kebenaran. []
  13. Orang Islam boleh mempunyai kekayaan, boleh melakukan perdagangan, boleh mempunyai rumah megah, tetapi semua itu tak boleh dicintai melebihi cintanya pada Allah dan perjuangan di jalan Allah. Dengan perkataan lain, ia harus siap mengorbankan semua itu guna kepentingan tujuan yang maha tinggi, karena semua itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan tujuan yang maha tinggi itu. Perbedaan pokok antara ajaran Bibel dengan ajaran Qur’an ialah, Bibel mengutuk sama sekali menumpuk kekayaan, sedangkan Qur’an tak melarang orang menjadi kaya, asalkan tak tergoda oleh kekayaan itu sampai ia lupa akan tugas dan tanggung jawab yang tinggi. Mencari kekayaan tak ada bahayanya selama kekayaan itu tak dijadikan tujuan hidup, melainkan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan. []
  14. Tak sangsi lagi bahwa adanya permakluman bebas dari ikatan, menimbulkan kecemasan dalam batin kaum Muslimin, bahwa perjuangan akan semakin menghebat. Oleh sebab itu, mereka diberi jaminan pertolongan Allah, sebagaimana sering mereka alami di waktu yang sudah-sudah.
    Perang Hunain terjadi pada tahun Hijrah kedelapan di lembah Hunain lebih kurang tiga mil dari Makkah; berbeda dengan pertempuran lain-lainnya, di sini pasukan Islam lebih besar jumlahnya dari pasukan musuh yang terdiri dari kabilah Hawazin dan Tsaqif yang jumlahnya lebih kurang 4000 orang, sedangkan kaum Muslimin diriwayatkan berjumlah sepuluh sampai dua belas ribu orang. Pasukan pemanah musuh sangat ulung dan menduduki posisi yang amat baik di celah-celah gunung. Sebaliknya, dalam pasukan Islam ikut pula 2000 orang Makkah yang dari antara mereka masih menyembah berhala. Celakanya, pasukan inilah yang berada di barisan depan, dan mereka tak kuat menghadapi pasukan pemanah musuh, sehingga mereka berbalik punggung dan menyebabkan kacau-balaunya seluruh pasukan. Akan tetapi Nabi Suci segera menyerbu ke depan menghadapi pasukan pemanah musuh, mula-mula sendirian, namun segera disusul oleh para sahabat, dan akhirnya memperoleh kemenangan, sebagaimana diterangkan dalam ayat berikutnya. []
  15. []
  16. Boleh jadi yang diisyaratkan di sini ialah tawanan perang Hawazin yang berjumlah ribuan orang dan semuanya dibebaskan sebagai kemurahan Nabi Suci, atau mungkin pula mengisyaratkan masuknya mereka dalam Islam. []
  17. Karena mereka gemar berbuat jahat dan bertawaf mengelilingi Ka’bah dengan telanjang. Bandingkanlah dengan 5:90 yang menerangkan bahwa berhala itu kotor. []
  18. Tahun diumumkannya larangan ini ialah tahun kesembilan Hijriah. []
  19. Pentingnya kota Makkah sebagai pusat perdagangan terletak pada kenyataan, bahwa tiap-tiap musim haji, orang-orang dari seluruh Arab berduyun-duyun pergi ke Makkah dan melakukan perdagangan di sana. Larangan yang disebutkan dalam permulaan ayat, mudah diterka bahwa larangan itu sangat mempengaruhi perdagangan, dan akibatnya mempengaruhi pula kemakmuran kota Makkah; akan tetapi hendaklah diingat bahwa urusan duniawi atau bisnis janganlah dicampur aduk dengan urusan rohani berupa pelaksanaan pembangunan akhlak menurut Islam. []
  20. Ayat yang membicarakan pertempuran dengan kaum kafir Arab baru saja berakhir, dan ayat ini mengetengahkan soal pertempuran dengan kaum Ahli Kitab. Walaupun kaum Yahudi sudah lama membantu kaum kafir Arab, dalam usaha mereka menghancurkan Islam, namun kerajaan Kristen Romawi yang kuat, baru dalam taraf menghimpun pasukan untuk menaklukkan agama baru, maka dari itu disusul peristiwa pengiriman pasukan ke Tabuk, yang ini merupakan pokok persoalan yang dalam Surat ini dibahas dalam sebagian besar ayat berikut ini. Oleh karena tujuan Kerajaan Kristen hanya untuk menaklukkan kaum Muslimin, maka kata-kata yang menguraikan kekalahan mereka oleh kaum Muslimin, berlainan dengan kata-kata yang menguraikan kekalahan kaum kafir Arab. Qur’an tak pernah menuntut untuk menjadikan kaum Kristen sebagai rakyat taklukan. Sebaliknya, kaum kafir Arab-lah yang menghendaki untuk menindas Islam dengan pedang, dan kaum Kristenlah yang pertama kali berusaha untuk menjadikan kaum Muslimin Arab sebagai bangsa taklukan. Maka dari itu, hukuman mereka masing-masing sepadan dengan niat mereka terhadap kaum Muslimin. Kata jizyah berasal dari kata jaza artinya memberi kepuasan, dan menurut LL berarti pajak yang dipungut dari rakyat merdeka yang tak beragama Islam yang berada di bawah pemerintahan Islam, yang dengan pajak ini mereka dijamin mendapat perlindungan; atau menurut AH berarti pajak yang dipungut dari rakyat merdeka yang tak beragama Islam, sebagai imbalan jaminan perlindungan karena mereka dibebaskan dari wajib militer.
    Kalimat ‘an yadin ditafsirkan bermacam-macam. Kata yadin makna aslinya tangan, dan ini digunakan dalam arti kekuasaan atau kekuatan, karena kelebihan manusia di atas binatang, yakni manusia dapat menggunakan keterampilan tangannya. Jadi yang terang dari kalimat itu ialah, mengakui kedaulatan kamu dalam melindungi kehidupan mereka, dan sebagainya (AH). Dapat ditambahkan di sini bahwa izin perang yang diberikan kepada kaum Muslimin, ini tunduk kepada persyaratan, bahwa musuh mendahului mengangkat senjata. Allah berfirman: “Berperanglah di jalan Allah melawan mereka yang memerangi kamu” (2:190). Nabi Suci tak pernah melanggar persyaratan ini, demikian pula para pengikut beliau. Beliau menerangi kaum kafir Arab karena mereka mendahului mengangkat senjata dengan niat membinasakan kaum Muslimin, dan beliau memimpin pasukan melawan kaum Kristen, tatkala kerajaan Romawi memulai memobilisir pasukannya untuk menaklukkan kaum Muslimin. Dan beliau begitu teliti hingga tatkala beliau tahu bahwa pihak musuh (di Tabuk) belum mengambil inisiatif untuk berperang, beliau tidak menyerang kerajaan Romawi, bahkan beliau pulang kembali ke Madinah tanpa menjalankan peperangan. Tetapi di kemudian hari, Kerajaan Romawi, sama seperti kerajaan Persia, membantu para musuh Islam dan membangkitkan kerusuhan terhadap Kerajaan Islam yang baru saja didirikan, dan akibatnya, dua kerajaan tersebut terpaksa mengadu kekuatan dengan kaum Muslimin, dan meskipun Bangsa Persi maupun Romawi terkenal sebagai bangsa yang kuat dan memiliki tentara yang kuat organisasinya dan memiliki sumber perlengkapan yang tak terbatas, dan dua-duanya melancarkan serangan serentak untuk menaklukkan Islam, namun hasilnya seperti apa yang diramalkan dengan jelas dalam ayat ini — dua Kerajaan itu dijadikan negara taklukan oleh bangsa yang tak berarti seperti Bangsa Arab itu. []
  21. Ada sekte Yahudi yang mengangkat ‘Uzair sebagai Tuhan, atau anak Allah. Ini dibuktikan oleh ahli sejarah Islam. Dalam Kitâbun-Nikâh, Qasthalani berkata bahwa ada golongan Yahudi yang mempunyai kepercayaan demikian. Selain itu, kaum Yahudi tak membantah keterangan itu. Qur’an hanya menyebutkan masalah itu di sini sehubungan dengan doktrin agama Kristen, dan dalam Surat-Surat sebelumnya, Qur’an tak pernah mencela kaum Yahudi secara langsung dalam kebanyakan perdebatannya dengan kaum Kristen, dan ini menunjukkan bahwa umat Yahudi secara keseluruhan, tak melibatkan diri dalam kepercayaan yang salah itu.
    Ada hal lain yang perlu dijelaskan di sini, yakni penggunaan kata putra secara luas. Di tempat lain Qur’an menerangkan bahwa kaum Yahudi dan Kristen menyebut dirinya anak atau putra Allah dan kekasih Allah (5:18), yang maksudnya hanyalah menganggap dirinya satu-satunya kekasih Tuhan. Jadi, kepercayaan terhadap ‘Uzair dapat ditafsirkan seperti itu, karena ada bukti yang jelas bahwa para ulama Yahudi (Talmudis) jika mereka menerangkan ‘Uzair, selalu menggunakan bahasa yang berlebihan. ‘Uzair adalah yang paling dihormati di antara para Nabi Bani Israil. Dalam kiatab-kitab Yahudi, ‘Uzair dianggap “sebagai orang yang paling pantas menerima syari’at Yahudi seandainya ini belum terlanjur diberikan kepada Nabi Musa. Beliau dianggap dan dicatat sebagai jenis orang yang paling ahli dan paling mahir dalam undang-undang. Para ulama Yahudi mengaitkan nama beliau dengan berbagai lembaga yang penting-penting” (Jewish Encyclopaedia). []
  22. Di sini kita diberitahu bahwa ajaran Yesus putra Allah, itu diambil dari kepercayaan kaum musyrik zaman dahulu. Penelaahan akhir-akhir ini membuktikan benarnya hal tersebut tanpa ragu sedikit pun. Sebenarnya, tatkala Paulus melihat bahwa kaum Yahudi tak mau menerima Nabi ‘Isa sebagai Utusan Allah, ia memperkenalkan ajaran kaum penyembah berhala tentang anak Allah ke dalam agama Nasrani, sehingga ajaran ini lebih dapat diterima oleh kaum yang biasa menyembah berhala. []
  23. Sebagian besar mufassir sepakat bahwa yang dimaksud di sini bukanlah mengambil ulama mereka dan rahib mereka sebagai Tuhan sungguh-sungguh; adapun yang dimaksud ialah mengikuti segala perintah dan larangan mereka secara membuta-tuli; oleh sebab itu mereka digambarkan sebagai orang yang menjadikan mereka sebagai Tuhan, seakan-akan mereka mempunyai derajat Ketuhanan. Diriwayatkan dalam Hadits bahwa pada waktu ayat ini diturunkan, ‘Adi bin Hatim, orang Kristen yang memeluk Islam, bertanya kepada Nabi Suci tentang apakah yang dimaksud oleh ayat ini, “karena kami tak pernah menyembah ulama dan rahib kami”. Nabi Suci menjawab: “Bukankah orang-orang menganggap halal apa yang dinyatakan halal oleh ulama mereka, sekalipun ini diharamkan oleh Allah?”. ‘Adi bin Hatim pun membenarkan ini, lalu Nabi Suci bersabda: “Itulah yang dimaksud oleh ayat ini”. (Tr. 44:9)(IJ). Kaum Muslimin yang bersikap seperti itu terhadap ulama atau kyai mereka, ini berarti berbuat kesalahan yang sama. []
  24. Ini adalah ramalan tentang kemenangan akhir bagi agama Islam pada waktu agama ini menghadapi perlawanan keras dari kaum Yahudi dan Nasrani. Semua perlawanan terhadap Kebenaran, baik yang dilakukan dengan kekerasan maupun dengan cara propaganda, di sini diibaratkan memadamkan cahaya Allah dengan mulut, sekedar untuk menunjukkan bahwa usaha semacam itu akan gagal. Cahaya Ilahi dibuat sempurna, artinya, Islam memperoleh kemenangan di dunia, sebagaimana diterangkan dalam ayat berikutnya. []
  25. Ramalan tentang kemenangan Islam di seluruh dunia diulangi sampai tiga kali dalam Qur’an dengan kalimat yang sama, yakni di sini dan di 48:28 dan 61:9. Baik di sini maupun di 61:9, ramalan itu disebutkan sehubungan dengan agama Kristen, sedangkan dalam 48:28, ramalan itu disebutkan sehubungan dengan perlawanan kaum kafir Arab terhadap Islam. Di Tanah Arab sendiri, Islam memperoleh kemenangan pada waktu Nabi Suci masih hidup. Penyembahan berhala disapu bersih dari Tanah Arab, sedang kaum Yahudi dan Nasrani banyak yang menerima agama Islam yang benar dan menjadi pemeluknya. Wafatnya Nabi Suci tak sekali-kali menghambat gerak lajunya agama Islam, bahkan hal itu menjadi isyarat pesatnya kemajuan agama ini yang tak ada taranya. Dalam abad kesatu Hijriah, bukan saja umat Kristen di negeri Mesir, Afrika Utara, Asia Kecil, Persia dan Asia Tengah, berduyun-duyun memeluk Islam, melainkan terbuka pula fakta yang mengagumkan bahwa setelah Islam mengadakan hubungan dengan agama-agama besar di dunia, seperti agama Zaratustra di Persia, agama Hindu dan Buddha di India dan Afghanistan, agama Kong Hu Chu di Cina dan sebagainya, Islam dapat merebut hati para pengikut agama-agama itu; dan banyak di antara mereka menjadi pemeluk agama Islam, sehingga terjemalah kesatuan umat yang besar di dunia, yang dikenal pada waktu itu, dan cahaya Islam menerangi seluruh dunia dari ujung paling Timur sampai ke ujung paling Barat.
    Adapun sebab kemenangan Islam yang tak ada taranya dalam sejarah agama, ini tak sukar dicari penyebabnya. Islam adalah Agama yang Benar. Islam mengajarkan seluruh kebenaran dan menciptakan hidup baru kepada semua orang yang mau menerimanya, sedangkan agama-agama lain hanya mengajarkan sebagian kebenaran. Agama-agama lain hanya mau menerima Nabi ini dan Nabi itu saja, tetapi agama Islam menerima segenap Nabi di dunia. Pengertian agama-agama lain tentang Keesaan Ilahi amatlah kabur, karena mereka mencampur-adukkan Kebenaran dengan kemusyrikan, sedangkan Islam mengajarkan Tauhid murni. Jadi, Islam menyajikan Penerangan yang Sempurna tentang Ketuhanan Yang Maha-esa, dan seluruh Kebenaran yang berhubungan dengan kenabian, diberikan kepada segenap umat. Kebenaran firman — Dia ialah Yang mengutus Utusan-Nya dengan petunjuk dan Agama yang Benar agar Ia memenangkan itu di atas sekalian agama — memancar dengan amat cemerlang. Namun dalam satu Hadits sahih kita diberitahu, bahwa pada zaman akhir, manifestasi terpenuhinya firman itu akan kita saksikan pada waktu munculnya Masih umat ini (Masih umat Islam) (IJ, Rz). Dan terpenuhinya kebenaran besar itu sudah mulai tampak, karena ajaran Islam terus diterima sedikit demi sedikit oleh kalangan dunia luas, sekalipun kekuasaan politik Islam masih dalam keadaan memprihatinkan. []
  26. Mencari kekayaan tidak dilarang, tetapi menumpuk kekayaan dengan tak dibelanjakan untuk membela kebenaran dan kesejahteraan umat, ini sungguh tercela. []
  27. Qur’an Suci menerangkan bahwa hukuman suatu kejahatan adalah seimbang dengan kejahatan itu. Di dunia ini pun, orang akan merasakan siksaan yang setara dengan sifat kejahatan yang ia lakukan. Jadi, diselar (dicap) dengan tumpukan emas dan perak yang dipanaskan, adalah hukuman yang tepat bagi para penumpuk emas dan perak. []
  28. Yang diisyaratkan di sini ialah adat-istiadat kaum kafir Arab mengundurkan waktu ibadah haji pada bulan yang lain yang bukan waktunya. Lihatlah ayat berikutnya. Tak ada kesepakatan pendapat, apakah pengunduran waktu itu dimaksud untuk memperpanjang harinya agar tahun matahari dan tahun bulan menjadi sesuai; atau apakah menghentikan pertempuran secara terus-menerus selama seperempat tahun itu dianggap terlalu lama; tetapi yang sudah pasti ialah, pengunduran waktu semacam itu mendatangkan kesengsaraan besar bagi kebanyakan manusia. []
  29. Pertempuran dalam bulan-bulan suci itu dilarang (2:217). Selain itu, kaum Muslimin diberitahu supaya memerangi kaum musyrik sebagaimana mereka memerangi kaum Muslimin, artinya, oleh karena kaum musyrik bersatu-padu memerangi kaum Muslimin, kaum Muslimin pun harus bersatu-padu untuk memerangi mereka. []
  30. Menurut kebanyakan mufassir, nasî’ berarti menangguhkan, adapun yang dimaksud di sini ialah adat kebiasaan menangguhkan hal-ihwal yang harus dijalankan dalam bulan suci, dengan demikian mereka membuat bulan biasa menjadi bulan suci, sedangkan bulan suci diperlakukan seperti bulan biasa. Adat kebisaan itu mengganggu keamanan orang yang dijamin keamanannya selama bulan-bulan suci, maka dari itu adat kebiasaan itu dicela. Menurut mufassir lain, nasî’ berarti penambahan (bulan); adapun yang dimaksud ialah adat kebiasaan menyisipkan satu bulan pada tiap-tiap empat tahun. AH memilih arti pertama dan berkata bahwa tiga bulan berturut-turut, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram — bagi mereka dianggap terlalu lama untuk menahan diri dari kebiasaan merampok dan menumpahkan darah; oleh sebab itu, mereka melanggar kesucian bulan Muharram, dan sebagai gantinya, bulan berikutnya, yakni bulan Safar, dijadikan bulan suci. []
  31. Yang diisyaratkan di sini ialah pemberangkatan pasukan ke Tabuk, yang terjadi pada pertengahan tahun kesembilan Hijriah karena ada ancaman dari Kerajaan Romawi. Banyak sekali kesukaran dalam menghimpun pasukan untuk menghadapi tentara Romawi yang kuat. Adapun kesukaran pokok yang dirinci oleh Rz adalah (1) Musim kering yang panjang, (2) jauhnya perjalanan ke daerah perbatasan Syria, (3) buah-buahan mulai masak, yang pada saat itu sudah waktunya untuk dipetik, (4) panas terik yang luar biasa, dan (5) kuatnya tentara Romawi, baik organisasi maupun persenjataannya. Kendati menghadapi kesukaran-kesukaran seperti itu, namun 30.000 orang dapat disiapkan di bawah panji-panji Nabi Suci. []
  32. Yang dituju ayat ini dan ayat berikutnya ialah orang yang mengaku beriman, tetapi keberatan memenuhi ajakan Nabi Suci untuk ikut serta dalam pasukan ke Tabuk. []
  33. Yang diisyaratkan di sini ialah hijrah Nabi Suci dari Makkah pada waktu beliau terpaksa sembunyi di Gua Tsur, lebih kurang tiga mil dari Makkah yang hanya ditemani oleh seorang Sahabat, yakni Abu Bakar. Kaum mukmin diberitahu bahwa Allah telah menyelamatkan Nabi Suci dari tangan musuh tatkala beliau dikepung oleh seluruh musuh yang hanya ditemani oleh seorang Sahabat, dan sekarang Allah akan menolong beliau lagi.
    Kesetiaan Sayyidina Abu Bakar kepada Nabi Suci begitu besar, sehingga beliau memilih dia sebagai “satu-satunya teman” yaitu yang kedua dari orang dua, tatkala beliau mengalami keadaan yang paling gawat dalam hidup beliau. Kutipan berikut ini yang diambil dari tulisan Muir, menjelaskan peristiwa tersebut: “Beliau langsung menuju rumah Abu Bakar, dan setelah berunding sebentar, beliau membulatkan tekad untuk selekas mungkin berhijrah. Abu Bakar meneteskan air mata karena senangnya; akhirnya tibalah saat berhijrah, dan dia menemani Nabi Suci dalam perjalanan …. Di bawah lindungan malam, mereka keluar melalui jendela belakang, dan tanpa diketahui oleh siapa pun mereka lolos melalui pinggiran kota sebelah selatan. Mereka terus berjalan ke arah selatan, dan dalam keadaan gelap, mereka mendaki bukit-bukit tandus dan terjal, hingga akhirnya sampailah mereka di puncak gunung Tsur yang tinggi, yang jaraknya lebih kurang satu setengah jam berjalan kaki dari kota, dan mereka sembunyi di dalam goa yang berdekatan dengan puncak …. Satu-satunya teman atau dalam istilah Arab berbunyi yang kedua dari orang dua, menjadi salah satu sebutan terhormat bagi Abu Bakar ….. Sudah tentu Muhammad dan teman beliau merasa dalam keadaan bahaya. Sambil mengamat-amati celah-celah sebelah atas yang kemasukan sinar pagi, Abu Bakar membisikkan suaranya: “Apakah jadinya jika orang melalui celah-celah itu melihat kita di bawah kaki mereka?”. Nabi Suci menjawab: “Wahai sahabat Abu Bakar, janganlah berpikir demikian. Kita memang berdua, tetapi Allah yang ketiga, di tengah-tengah kita”. []
  34. Artinya, apakah sukar bagi kamu ataukah tidak untuk maju ke depan, atau apakah kamu bersenjata lengkap ataukah tidak. []
  35. Tabuk terletak antara Madinah dan Damaskus. Kebiasaan Bangsa Arab hanyalah bertempur di dekat rumahnya, oleh sebab itu, alasan pokok yang menyebabkan kaum munafik lebih suka tinggal di belakang, ialah karena jauhnya jarak. []
  36. ‘Afallâhu ‘anka, makna aslinya Allah mengampuni engkau, ini bukan berarti pengampunan dosa; sebenarnya kalimat ini adalah sama dengan kalimat semoga Allah memberkahi engkau, atau semoga Allah meluruskan perkara engkau! Dalam pertempuran yang sudah-sudah, kaum munafik selalu tak ikut serta, dengan alasan ini atau itu. Tetapi keberangkatan pasukan Nabi Suci yang terakhir ini, Allah bermaksud mendatangkan pemisahan yang terang, dan membersihkan umat Islam dari unsur kemunafikan. Pemisahan ini benar-benar dilaksanakan, sebagaimana diterangkan dalam ayat 83 dan 84; dalam dua ayat ini Nabi Suci diberitahu, bahwa segala hubungan rohaniah dengan kaum munafik harus diputus. []
  37. Ayat ini diturunkan selama dalam perjalanan ke Tabuk, yang kebanyakan kaum munafik tak ikut serta. Hanya sebagian kecil saja yang ikut dalam ekspedisi, yang diberi tugas oleh mereka untuk memberitahukan kepada mereka segala sesuatu yang terjadi dalam perjalanan. []
  38. Yang dimaksud dua kebaikan ialah (1) mempertaruhkan nyawanya untuk membela Kebenaran, dan (2) menikmati kemenangan akhir bagi Kebenaran. Kaum Muslimin tak pernah berpikir bahwa mereka akan dikalahkan. Mereka hanya satu di antara dua pilihan: Mati membela Kebenaran, atau hidup dengan kemenangan.
    Satu-satunya hukuman yang ditimpakan oleh kaum Muslimin kepada kaum munafik ialah, disebutnya nama mereka satu demi satu dan disuruhnya meninggalkan Masjid (IJ). Selainnya itu, kemerdekaan mereka tak diganggu gugat. Diriwayatkan bahwa di antara mereka ada yang sampai zaman Khalifah ‘Utsman, menikmati hidup senang di Madinah sebagai penduduk yang mempunyai hak penuh; satu-satunya perlakuan yang diriwayatkan berbeda dengan lain-lainnya ialah, Nabi Suci tak mau menerima zakat dari kaum munafik, demikian pula tiga Khalifah berikutnya. Lihatlah ayat berikutnya. []
  39. Kaum munafik mengalami siksaan dunia tentang harta dan anak-anak mereka, karena dua hal (1) karena mereka mengaku muslim, mereka harus ikut ambil bagian dalam segala urusan pembelaan; (2) kebanyakan anak-anak mereka menjadi mukmin sejati, dan kaum munafik tahu bahwa setelah mereka meninggal dunia, harta mereka dan anak-anak mereka menjadi sumber kekuatan Islam, padahal agama inilah yang ingin mereka hancurkan dengan usaha keras mereka. []
  40. Yang dimaksud sadaqât di sini ialah sedekah wajib yang lazim disebut zakat, bukan sedekah sukarela, karena dalam akhir ayat diterangkan bahwa sadaqât ini disebut peraturan dari Allah. Ayat ini menegaskan, kepada siapa zakat itu dibagikan. Seluruhnya ada delapan golongan yang berhak menerima zakat. Pertama, golongan kaum melarat atau orang yang sempit segala-galanya; lalu golongan kaum miskin, yaitu orang yang memerlukan bantuan material agar mereka mampu mencari nafakah sendiri. Pelajar, seniman dan karyawan yang tak memiliki alat kerja, termasuk golongan kaum miskin. Ketiga, golongan yang ditugaskan untuk mengumpulkan dan mengurus administrasi zakat. Ini menunjukkan bahwa peraturan zakat dimaksud untuk membangun Kas Negara yang urusannya diserahkan kepada satu badan pemerintahan. Qur’an tak mengakui zakat sebagai lembaga amal partikelir. Sayang sekali bahwa peraturan zakat seperti yang dijarkan Qur’an ini sangat diabaikan oleh kaum Muslimin. Golongan keempat disebut mu’allafati qulûbuhum atau orang yang hatinya dibuat condong ke arah Kebenaran. Tentang hal dakwah, selalu ada golongan orang yang mau mendengar, tetapi untuk menyampaikan Kebenaran kepada mereka sangat diperlukan dana. Ada pula orang yang sangat membutuhkan bantuan material setelah mereka menerima Kebenaran. Biaya untuk keperluan itu, menurut ayat ini dapat diambil dari zakat. Golongan kelima, bertalian dengan pembebasan tawanan perang. Dengan demikian, Islam meletakkan landasan pokok untuk menghapus perbudakan. Golongan keenam ialah, mereka yang mempunyai banyak pinjaman, yaitu orang yang banyak hutang untuk maksud yang baik. Islam menghendaki agar setiap anggota masyarakat hidup dalam suasana bebas, oleh karena itu, orang yang terlalu berat memikul pinjaman, harus dibebaskan dari beban yang berat itu. Orang yang menghambur-hamburkan kekayaan, tak termasuk golongan ini. Golongan ketujuh, ialah yang disebut istilah umum fî sabîlillâh atau di jalan Allah. Sebagian mufassir membatasi arti kalimat ini bagi orang yang bertempur (untuk membela agama dan umat), atau orang yang pekerjaannya menyiarkan Islam; sedangkan mufassir lain berpendapat bahwa kalimat ini mempunyai arti yang luas dan mencakup segala macam tujuan sedekah. Golongan kedelapan, ialah orang yang sedang bepergian, yaitu orang yang tak dapat meneruskan perjalanan karena mengalami kesulitan bekal di jalan, tak dibeda-bedakan bangsa apa atau agama apa mereka itu. []
  41. Kata udzun makna asalinya telinga; kata ini digunakan dalam arti orang yang mendengar dan mempercayai apa saja yang dikatakan kepadanya, yang karena berlebihan mendengarnya seakan-akan dia itu telinga, atau alat pendengaran; sama halnya seperti mata-mata yang biasa diberi julukan ‘ain makna aslinya mata (LL). Kaum munafik suka sekali membuat pernyataan yang bersifat penghinaan terhadap Nabi Suci, antara lain dikatakan, bahwa beliau adalah orang yang percaya kepada apa saja yang beliau dengar, dengan demikian mereka yakin bahwa beliau dibuat percaya begitu saja tentang kemunafikan mereka. Rodwell salah sekali tatkala menerangkan dalam tafsirnya, bahwa udzun berarti luka hati. Dalam hal ini Palmer juga membuat kesalahan. Kesalahan itu disebabkan kekhilafan dimana ia mencampur-baurkan kata udzun dengan adzan yang berasal dari kata adza yang artinya berlainan sekali. []
  42. Walaupun Allah dan Utusan-Nya disebutkan bersama-sama, namun kewajiban kaum mukmin di sini hanyalah berkenan kepada-Nya, artinya kepada Allah saja. []
  43. Sejarah menunjukkan bahwa sebagian besar kaum munafik akhirnya bertobat, dan dengan ikhlas menggabungkan diri dalam barisan kaum Muslimin. []
  44. Jahada artinya berjuang atau berusaha keras; Jihâd ialah menggunakan kekuatan sehebat-hebatnya untuk melawan perkara yang tak dapat dibenarkan (LL).
    Adapun jihâd dalam arti perang adalah arti nomor dua. Adapun yang berulangkali digunakan dalam Qur’an ialah jihad dalam arti yang pertama. Sebenarnya orang yang telah mengaku Islam, sekalipun pengakuan mereka tidak sungguh-sungguh, mereka tak pernah diperangi, seperti pada waktu ekspedisi ke Tabuk dan pada waktu perang Uhud. “Terjemahan yang benar ialah jihâd berarti berjuang atau berusaha keras, dan dalam arti ini, perkataan itu tak menunjukkan bahwa perjuangan itu harus dilakukan dengan pedang saja atau dengan lisan atau dengan cara lain” (Rz).
    Di sini Nabi Suci diperintahkan berjihad melawan kaum kafir dan kaum munafik. Oleh karena itu, satu-satunya arti yang dapat diterapkan di sini ialah bahwa beliau harus meneruskan penyiaran Islam sehebat-hebatnya baik terhadap kaum kafir maupun terhadap kaum munafik. []
  45. Mereka mengadakan persekutuan rahasia dengan para musuh Islam, dan berusaha keras untuk membunuh Nabi Suci dan menghancurkan Islam. []
  46. Datangnya kaum Muslimin di Madinah membuat kaya penduduk Madinah. Apakah tak mengherankan bahwa orang-orang yang menjadi untung karena datangnya Islam, lalu memusuhi orang yang berbuat baik kepada mereka? []
  47. Tatkala diadakan pengumpulan dana untuk memberangkatkan pasukan ke Tabuk, kaum Muslimin yang kaya memberi sumbangan dalam jumlah besar, sedangkan kaum Muslimin yang miskin, juga memberi sumbangan sesuai dengan kemampuannya, tetapi semua itu dari hasil kerja keras mereka. Kaum munafik hanya mencela mereka, dengan menuduh bahwa kaum Muslimin kaya hanya memamerkan kekayaannya, sedang yang miskin dicela hanya memberi sumbangan tak berarti, mereka dituduh hanya ingin terhitung sebagai penyumbang. Adapun uraian tentang pembalasan Allah terhadap mereka, lihatlah tafsir nomor 27. []
  48. Mulai saat itu, hubungan rohani dengan kaum munafik terputus. Di sini kata tujuh puluh bukan berarti tujuh puluh betul-betul. Adapun arti kata tujuh puluh, lihatlah tafsir nomor 46. Akan tetapi nampaknya Nabi Suci mengartikan kata tujuh puluh secara harfiah pada waktu menshalatkan jenazah ‘Abdullah bin Ubayy, pemimpin kaum munafik. “Pada waktu ‘Abudullah bin Ubayy mati, Nabi Suci dimohon supaya mengimami shalat jenazah. Nabi Suci bangkit, tetapi Sayyidina ‘Umar menahan sambil memegang jubah beliau dengan mengajukan keberatan karena ‘Abdullah bin Ubayy sangat munafik, dan selama hidupnya selalu memperlihatkan sikap permusuhan. Nabi Suci menjawab bahwa Allah memberikan dua macam pilihan kepada beliau, sebagaimana diisyaratkan di dalam ayat ini: “Mohonkanlah ampun untuk mereka atau tak kau mohonkan ampun untuk mereka”, dan beliau memohonkan ampun untuknya lebih dari tujuh puluh kali, asalkan dengan perbuatan ini, pengampunan dapat diberikan kepada yang meninggal dunia. Lalu beliau menshalatkannya. Lalu turunlah ayat 84 untuk tidak lagi menshalatkan jenazah orang yang sudah diketahui bahwa mereka itu munafik” (B. 23:84).
    Kejadian ini menunjukkan betapa baik dan murah hati Nabi Suci terhadap musuh beliau yang paling jahat sekalipun. Selama hidupnya, ‘Abdullah bin Ubayy selalu memimpin gerakan kemunafikan melawan Nabi Suci, dengan demikian, dia bukan saja musuh beliau yang paling jahat, melainkan pula musuh beliau yang paling berbahaya, karena dia tahu segala gerak-gerik kaum Muslimin, dan menipu mereka pada saat yang gawat. Namun Nabi Suci suka mengampuni semua kesalahannya. []
  49. []
  50. Hendaklah diingat bahwa ini adalah satu-satunya hukuman yang diberikan kepada kaum munafik, yakni untuk seterusnya mereka tak diperbolehkan lagi ikut dalam pasukan kaum Muslimin yang bertempur melawan musuh. Diriwayatkan bahwa salah seorang kaum munafik, yakni Tsa’labah, yang riwayatnya diuraikan oleh para mufassir di bawah ayat 75, zakatnya ditolak oleh Nabi Suci dan oleh tiga Khalifah berikutnya. Ayat 103 juga memberi kesimpulan yang sama; lihatlah tafsir nomor 1092. Hanya ini sajalah kerugian yang diderita oleh kaum munafik, bila ini sudah betul disebut kerugian. Mereka tak dianggap lagi sebagai anggota masyarakat Islam, tetapi sebagai penduduk, mereka tetap mempunyai hak yang sama seperti penduduk lainnya. []
  51. Kini Nabi Suci diberitahu, bahwa sekalipun lahiriah mereka mengaku Islam, tetapi batin mereka tetap kafir, maka dari itu, shalat jenazah yang hanya diperuntukkan bagi kaum Muslimin, tak boleh dilakukan terhadap mereka. Hendaklah diingat, bahwa melalui wahyu Ilahi, Nabi Suci diberitahu bahwa mereka itu kafir. Selanjutnya, terang pula dari kata-kata ayat ini bahwa orang yang sudah ketahuan munafik, tak boleh dibunuh, tetapi dibiarkan hidup sampai mereka mati secara wajar. ‘Abdullah bin Ubayy yang mati pada zaman Nabi Suci dan perkara Tsa’labah yang mati pada zaman Khalifah ‘Utsman, cukup membuktikan benarnya uraian ini, sedangkan bukti lain, tak ada satu Hadits pun yang menerangkan bahwa orang munafik harus dijatuhi hukuman mati.
    Yang dimaksud berdiri di sisi kubur ialah kebiasaan Nabi Suci mendoakan orang mati sambil berdiri di atas kubur setelah upacara pemakaman. []
  52. Kata mu’adzdzir adalah isim fa’il (bentuk nominatif) dari kata ‘adzdzara, artinya alpa, kekurangan, lalai terhadap urusan, mengemukakan alasan (LA). []
  53. Al-A’râb adalah nama benda umum untuk menamakan kelompok (menurut Az, jamaknya kata A’rûbi) (LL), artinya penduduk padang pasir Arab, yang berpindah-pindah ke sana ke mari untuk mencari rumput dan air, baik mereka orang Arab asli ataupun bekas budak belian. Berlainan dengan kata ‘Arab yang artinya keturunan Bangsa Arab asli (LA). []
  54. Terang sekali bahwa yang mereka inginkan untuk mengikuti pasukan ke medan perang, dan yang Nabi Suci tak dapat menemukan untuk mereka, ialah binatang pengangkut yang akan mengangkut mereka dan perbekalan maupun perlengkapan mereka. []
  55. Sudah jelas bahwa ayat-ayat ini diturunkan pada waktu Nabi Suci sedang pergi dari Madinah; oleh sebab itu pernyataan yang diuraikan dalam ayat ini bersifat ramalan, yang benar-benar terpenuhi setelah beliau kembali ke Madinah. []
  56. Diriwayatkan bahwa Nabi Suci, sepulang dari Tabuk, beliau melarang kaum Muslimin mengadakan hubungan dengan kaum munafik. Perintah ini dikeluarkan untuk menaati wahyu yang beliau terima dalam perjalanan, sebagaimana diterangkan dalam ayat 83 dan 84. []
  57. Kaum munafik menyumbangkan sesuatu hanyalah untuk dilihat orang, mereka juga membayar zakat, tetapi tujuan mereka hanyalah untuk diperlakukan sama seperti kaum Muslimin.

     

    Dawâ’ir jamaknya dâ’irah, artinya lingkaran. Suatu bencana disebut dâ’irah karena bencana itu mengelilingi orang dari segala jurusan; dâ’irah berarti pula giliran nasib buruk, berasal dari kata dâra yang artinya berulang. Dâ’iratussau’ artinya bencana yang menimpa dan membinasakan (LL). Pernyataan tersebut bersifat ramalan. []

  58. Muhâjirîn jamak dari kata muhajir makna aslinya mengungsi atau meninggalkan rumah; kata anshar jamak dari kata nashr artinya menolong. Dalam sejarah Islam, yang dimaksud muhajir ialah semua Sahabat Nabi Suci yang memeluk Islam, terpaksa mengungsi ke Abbisinia atau ke Madinah; pengungsian ke Madinah yang meliputi hampir semua kaum Muslimin penduduk Makkah, terkenal dengan nama Hijrah, dan tahun Islam dimulai dari peristiwa Hijrah ini. Adapun Anshar ialah kaum Muslimin penduduk Madinah, yang karena memeluk Islam sebelum Hijrah, mereka memberi perlindungan kepada Sahabat Muhajir yang hijrah dari Makkah. Adapun yang dimaksud “orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan”, ialah kaum Muslimin yang memeluk Islam sesudah zaman Sahabat, dan mengikuti perbuatan baik mereka. []
  59. []
  60. Ketidakjujuran hati tak dapat dilihat orang — ini hanya dapat dilihat oleh Allah. Namun akhirnya terjadi saat-saat yang memisahkan antara kaum munafik dan kaum Muslimin setelah sekian lama saling bergaul. []
  61. Di dunia, kaum munafik mendapat siksaan dua kali. (1) mereka harus menyumbangkan dana untuk membela keselamatan umat Islam, dan harus membayar zakat, semua itu mereka lakukan secara terpaksa dan bertentangan dengan keyakinan mereka; sudah tentu ini merupakan sumber siksaan bagi mereka. (2) Mereka menderita siksaan tersebut hanyalah karena mereka ingin dianggap sebagai umat Islam, tetapi akhirnya mereka dipisahkan dari masyarakat Islam, dalam Hadits diriwayatkan bahwa dalam suatu Khutbah Jum’at, Nabi Suci menyebut satu demi satu nama kaum munafik, dan mereka dipersilahkan keluar dan dilihat oleh orang banyak. Sudah tentu peristiwa yang memalukan itu merupakan siksaan pula bagi mereka. []
  62. Menurut Hadits, jumlah kaum munafik yang mengaku salah, berkisar sekitar tiga sampai sepuluh orang saja. Mereka ikhlas mengakui kesalahan mereka. []
  63. Oleh karena mereka memperlihatkan keikhlasan dalam mengakui kesalahan mereka, mereka pun diperlakukan lemah-lembut. Sedekah mereka tak ditolak. Di sini dikatakan, bahwa diterimanya sedekah mereka oleh Nabi Suci, tujuannya demi menyucikan mereka dari kejahatan yang pernah dilakukan, sedangkan doa Nabi Suci untuk mereka digambarkan sebagai hal yang mendatangkan perasaan damai dan ketenangan bagi mereka. []
  64. Pada umumnya para mufassir mengira bahwa ayat ini mengisyaratkan tiga orang mukmin yang tak mau mengikuti pasukan yang berangkat ke medan tempur, yakni Ka’b bin Malik, Halal bin Umayyah dan Murarah bin Rabi’ (B. 64:81). Tetapi sebagian mufassir lain berpendapat bahwa ayat ini mengisyaratkan kaum munafik seumumnya. []
  65. I’Ab dan mufassir lain menerangkan bahwa atas anjuran Abu ‘Amir, dua belas orang munafik dari Kabilah Bani Ghanam membangun satu Masjid di dekat Masjid Quba, dengan tujuan untuk membencanai Masjid Quba tersebut. Abu ‘Amir, setelah sekian lama memerangi Nabi Suci, ia lari ke Syria setelah usai perang Hunain, dari sana ia menulis surat kepada kawan-kawannya di Madinah bahwa ia akan datang bersama tentara yagn kuat untuk menggempur Nabi Suci, dan ia minta agar kawan-kawannya membangun satu Masjid untuknya. Tetapi Abu ‘Amir keburu mati di Syria; lalu para pendiri Masjid menghendaki agar Nabi Suci mau menghadiri dan memberkahi pembangunan itu, tapi beliau dilarang oleh Wahyu Ilahi, dan Masjid itu dibongkar (AH). []
  66. Sebagian mufassir berpendapat bahwa yang dimaksud di sini ialah Masjid Quba, tetapi kebanyakan mufassir berpendapat bahwa yang dimaksud di sini ialah Masjid Nabi Suci di Madinah. Kata-kata ini bersifat umum, dan mencakup semua Masjid yang dibangun untuk ibadah kepada Allah. []
  67. Hati mereka terasa diiris-iris oleh rasa penyesalan, atau tobat yang tulus ikhlas. []
  68. Janji yang dikatakan mengikat Allah, seperti yang diterapkan dalam Qur’an dan Kitab Suci yang sudah-sudah, ialah Allah akan menganugerahkan berkah-Nya kepada kaum mukmin jika mereka berjuang di jalan-Nya dengan jiwa raga dan harta mereka: “Allah telah membeli dari kaum mukmin, jiwa raga mereka dan harta mereka — (dan sebagai gantinya) mereka akan memperoleh taman.” Kitab Injil juga memberi janji seperti itu: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di Surga” (Matius 19:21). “Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau, jadi apakah yang akan kami peroleh?” Kata Yesus kepada mereka: “Dan setiap orang yang karena namaKu meninggalkan Rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Matius 19:27, 29). Ajaran Nabi Musa berisi pula janji yang sama. Misalnya, janji Tuhan: “Maka dengarlah, hai orang Israil, lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan Tuhan, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah susu dan madunya”, ini menjadi syarat atas: “Tuhan itu Allah kita, Allah itu Esa! Kasihanilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”. (Kitab Ulangan 6:3-5). Pernyataan ini sama dengan orang yang berjuang di jalan Allah dengan jiwa-raga dan hartanya. Hendaklah diingat bahwa kalimat mereka berperang di jalan Allah, maka mereka membunuh dan dibunuh, ini bukan bagian dari janji Allah, melainkan uraian tentang keadaan para Sahabat, yang membuktikan bahwa mereka setia menepati janji mereka. Janji mengorbankan jiwa raga dan harta, ini dapat dilakukan dengan berbagai cara menurut keadaan, dan para Sahabat Nabi tetap setia menepati janji, baik selama tiga belas tahun di Makkah, maupun selama sepuluh tahun di Madinah. []
  69. Hendaklah diingat bahwa ayat ini bukanlah melarang memohonkan ampun bagi kaum kafir seumumnya, melainkan hanya terbatas bagi kaum kafir yang jelas-jelas akan dimasukkan ke Neraka. Pada umumnya para mufassir berpendapat bahwa yang menetapkan kaum kafir yang jelas akan masuk Neraka ialah (1) orang yang ditunjuk oleh Wahyu Allah, (2) orang yang mati dalam kekafiran, (3) orang yang menyembah berhala. Pada waktu Nabi Suci dimohon supaya mendoakan orang-orang yang memerangi beliau agar mereka dihancurkan, beliau berdoa: “Ya Allah, ampunilah mereka, karena mereka tak tahu”. Selama orang itu masih hidup, walaupun ia ngotot dalam kekafirannya, orang tak dilarang memohonkan ampunan atau petunjuk baginya. Tetapi setelah ia mati, Allah-lah yang akan memperlakukan dia menurut kehendak-Nya, dan Dia adalah Yang Maha-pengasih. Menurut sebuah Hadits, setelah semuanya memberi syafa’at, Allah Yang Maha-pengasih mengambil segenggam penghuni Neraka, lalu dilemparkan ke dalam sungai kehidupan, dan mereka adalah orang yang tak pernah berbuat kebaikan di dunia (B. 98:24); dan hendaklah diingat bahwa genggaman Allah itu seluas langit dan bumi (39:67). Akan tetapi menurut ayat ini, shalat jenazah, yaitu shalat untuk memohonkan ampun, hanya diperuntukkan bagi kaum Muslimin saja, bukan untuk orang yang mati dalam kekafiran. []
  70. Ayat ini menerangkan sejelas-jelasnya bahwa Allah tak pernah menyesatkan orang; dan bagaimana mungkin Dia menyesatkan orang, padahal Dia sendiri Yang memberi petunjuk dan juga menjelaskan kepada mereka kejahatan-kejahatan yang harus mereka jauhi; demikianlah firman Qur’an. []
  71. Taubah di sisi Allah berarti ia kembali kasih sayang kepada hamba-Nya, dan mengubah keadaan mereka pada tingkat yang lebih tinggi dari yang sudah lalu. Sebenarnya, hubungan ayat ini dengan ayat sebelum dan sesudahnya, menunjukkan dengan jelas apa arti taubah itu, karena taubah Allah itu bertalian dengan Nabi Suci dan para Sahabat beliau yang dengan tulus ikhlas mengikuti beliau pada waktu penuh kesukaran. Jadi, taubah Allah di sini bertalian dengan orang-orang yang tetap patuh walaupun keadaan sulit, dan bukan bertalian dengan orang yang tak patuh; adapun mengenai orang yang tak patuh, ini dibahas dalam ayat berikutnya. Gerakan pasukan ke Tabuk dikenal dengan nama Ghazwanil-‘usrah, artinya Gerakan pasukan yang penuh kesukaran, karena waktu itu sedang musim panas yang luar biasa, juga ke Tabuk itu harus menempuh perjalanan yang sangat jauh, ditambah lagi kurangnya perlengkapan perang. Selama jangka waktu kurang lebih dua puluh satu tahun sejak terutusnya Nabi Suci, gerakan pasukan ke Tabuk merupakan situasi yang paling berat bagi kaum Muslimin. Adapun segolongan orang yang hatinya hampir-hampir menyimpang, ini diuraikan dalam ayat berikutnya. []
  72. Tiga orang ini ialah dari golongan Sahabat Anshar yang nama-namanya diterangkan di dalam tafsir nomor 1093. Yang ditinggalkan artinya ditinggalkan pada waktu pasukan berangkat atau ditinggalkan sehubungan dengan perintah Allah mengenai mereka, karena mereka orang yang diuraikan dalam ayat 106: “Adapun lain-lainnya mereka harus menantikan perintah Allah, apakah Ia akan menyiksa mereka ataukah kembali (kasih sayang) kepada mereka”. Penjelasan ini diberikan oleh Ka’ab bin Malik sendiri, salah satu dari tiga orang tersebut (AH). Hubungan mereka dengan kaum Muslimin terputus selama lima puluh hari. Ka’ab bin Malik adalah orang penting; pada waktu ia menerima surat dari Raja Ghassan, yang menawarkan kedudukan penting kepadanya, asalkan dia mau meninggalkan Nabi Suci, dia membakar surat itu sambil menunjukkan sikap seakan-akan ia dihina karena adanya tawaran ini, dan ia tak mengirim jawaban (Ibnu Hisyam). []
  73. Artinya ialah agar mereka jangan hanya ingin enak sendiri, senang sendiri dan selamat sendiri saja dengan mengabaikan Nabi Suci; dengan kata lain, mereka harus tetap menyertai Nabi Suci, baik dalam kesulitan maupun kesengsaraan. []
  74. Nâla minhu artinya melukai dia; nâla min ‘aduwwihi artinya mencapai tujuan yang ia inginkan dari musuh (LL). []
  75. Diketengahkannya masalah studi tentang agama di sini menunjukkan adanya pengarahan yang dituju oleh Qur’an Suci. Di tengah-tengah uraian tentang undang-undang perang, tiba-tiba Qur’an mengetengahkan masalah pembentukan barisan muballigh, ini menunjukkan bahwa pembentukan muballigh adalah kepentingan Islam yang amat besar. Hanya dengan jalan tabligh sajalah Kebenaran dapat tersiar. Maka dari itu, sekalipun umat Islam sedang berjuang mati-matian mengatasi kekuatan musuh yang jauh lebih kuat, namun pekerjaan tabligh tak boleh diabaikan. []
  76. Ini disebabkan mereka menindas kaum Muslimin. Adapun tujuannya ialah untuk menghentikan penindasan. []
  77. Sehingga kamu tak mudah menyerah kepada mereka. []
  78. Dengan turunnya Surat baru, kekotoran hati mereka semakin bertambah, karena dengan wahyu, keras kepala mereka semakin bertambah, dan hati mereka semakin keras untuk menentang Kebenaran. []
  79. Ujian ini berupa gerakan pasukan yang sewaktu-waktu dikerahkan oleh kaum Muslimin, yang ini menyebabkan terjadinya pemisahan antara kaum munafik dan kaum mukmin sejati.
    1108a Inilah gambaran yang sebenarnya tentang kecemasan hati yang bukan saja terhadap pengikut beliau, dan bukan pula terhadap suatu kabilah atau suatu bangsa, melainkan terhadap seluruh umat manusia. Beliau cemas akan penderitaan tiap-tiap orang, dan beliau mendambakan kesejahteraan seluruh umat manusia. Yang dimaksud seluruh umat manusia di sini, ini disebutkan dalam kata penutup ayat ini. Memang ada uraian khusus yang ditujukan kepada para pengikut beliau, yaitu terhadap mereka ditambahkan kata-kata belas kasih terhadap kaum Muslimin.[] []

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *