Home / Al-Quran / 025 Al Furqan

025 Al Furqan

SURAT 25

Al-Furqân: Pemisah

(Diturunkan di Makkah, 6 ruku’, 77 ayat)

Mukaddimah Surah Buka

 

Ruku’ 1: Peringatan bagi segala bangsa

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih.

 

1. Maha-berkah Dia Yang telah menurunkan Pemisah kepada hamba-Nya, agar1 ia menjadi juru ingat bagi sekalian bangsa.2

 

2. Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, dan Yang tak memungut putra, dan Yang tak mempunyai sekutu dalam kerajaan, dan Yang menciptakan segala sesuatu, lalu menentukan ukurannya.3

 

3. Dan mereka mengambil tuhan selain Dia, yang tak menciptakan apa-apa, sedang mereka sendiri diciptakan; dan mereka tak menguasai bencana dan keuntungan bagi diri sendiri, dan mereka tak pula menguasai kematian dan kehidupan, dan tak (menguasai) pula kebangkitan kembali.

 

4. Dan orang-orang kafir berkata: Ini tiada lain hanyalah kebohongan, yang ia buat-buat dan yang orang-orang lain membantu dia dalam membuat-buat itu. Sesungguhnya mereka telah mendatangkan kelaliman dan kepalsuan.

 

5. Dan mereka berkata: Dongeng orang-orang zaman kuno, yang telah ia tulis, maka (dongeng) itu dibacakan kepadanya pagi dan petang.4

 

6. Katakan: Dialah Yang telah mewahyukan itu, Yang tahu akan rahasia langit dan bumi.1771a Sesungguhnya Dia itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

 

7. Dan mereka berkata: Utusan apakah ini? Ia makan makanan, dan berjalan di pasar. Mengapa bukan Malaikat yang diturunkan kepadanya untuk menjadi juru ingat bersama dia?5

 

8. Atau (mengapa tak) diberikan harta benda kepadanya, atau (mengapa ia tak) mempunyai kebun yang dari situ ia makan?6 Dan orang-orang lalim berkata: Kamu hanya mengikuti orang yang disihir.

 

9. Lihatlah bagaimana mereka mengemukakan perumpamaan kepada engkau — mereka telah tersesat, maka mereka tak mampu menemukan jalan.7
 

Ruku’ 2: Benarnya Peringatan

 

10. Maha-berkah Dia Yang jika Ia kehendaki, Ia akan memberi kepada engkau apa yang lebih baik dari itu, (yaitu) taman yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Dan Ia akan memberi pula kepada engkau istana-istana.8

 

11. Tetapi mereka mendustakan Sa’ah, dan bagi orang yang mendustakan Sa’ah, Kami sediakan Api (Neraka) yang menyala.

 

12. Jika (Neraka) itu terlihat oleh mereka dari tempat yang jauh, mereka akan mendengar (Neraka) itu menderu dan meraung.

 

13. Dan jika mereka dilempar di tempat yang sempit dalam (Neraka) itu dengan dibelenggu, di sana mereka memohon kebinasaan.

 

14. Pada hari ini janganlah kamu memohon satu kali kebinasaan, tetapi mohonlah kebinasaan berkali-kali.

 

15. Katakan: Apakah itu yang lebih baik, ataukah Surga yang Kekal yang dijanjikan kepada orang yang bertaqwa? Itulah ganjaran dan tempat istirahat bagi mereka.

 

16. Di sana mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki, menetap (di sana). Ini adalah janji Tuhan dikau yang harus dimohon.9

 

17. Pada hari tatkala Ia menghimpun mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka Ia berfirman: Kamukah yang menyesatkan hamba-hamba-Ku, ataukah mereka sendiri yang tersesat dari jalan?

 

18. Mereka berkata: Maha-suci Engkau! Tak pantas bagi kami bahwa kami mengambil pelindung selain Engkau, tetapi Engkau telah memberi kenikmatan kepada mereka dan kepada ayah-ayah mereka sehingga mereka lupa kepada Peringatan dan jadilah mereka orang yang rugi.10

 

19. Maka dari itu mereka mendustakan kamu tentang barang yang kamu katakan, lalu kamu tak dapat mengelakkan (kejahatan), dan tak dapat pula memperoleh pertolongan. Dan barangsiapa di antara kamu berbuat lalim, Kami akan mengicipkan kepada mereka siksaan yang besar.

 

20. Dan tiada Kami mengutus Utusan sebelum engkau, melainkan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar. Dan Kami telah membuat sebagian kamu sebagai ujian bagi sebagian yang lain. Sabarkah kamu? Dan Tuhan dikau senantiasa Yang Maha-melihat.11
JUZ XIX
 

Ruku’ 3: Hari Pemisah

 

21. Dan orang-orang yang tak berharap bertemu dengan Kami, berkata: Mengapa tak diturunkan Malaikat kepada kami, atau (mengapa) kami tak melihat Tuhan kami? Sesungguhnya mereka terlalu menyombongkan diri dan mendurhaka sebesar-besarnya.12

 

22. Pada hari tatkala mereka melihat Malaikat, (pada hari itu) tak ada kabar baik bagi orang-orang dosa, dan mereka berkata: Semoga ada penghalang yang kuat.13

 

23. Dan Kami menuju kepada perbuatan yang mereka lakukan, maka Kami menjadikan itu seperti debu yang berserakan.14

 

24. Pada hari itu para penghuni Taman baik sekali tempat tinggalnya dan baik pula tempat istirahatnya.

 

25. Dan pada hari itu tatkala langit pecah-belah dengan awan, dan para Malaikat diturunkan beruntun.15

 

26. Pada hari itu kerajaan benar-benar kepunyaan Tuhan Yang Maha-pemurah. Dan (hari) itu adalah hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir.

 

27. Dan pada hari tatkala orang lalim menggigit tangannya sambil berkata: Sekiranya aku mengambil jalan bersama Utusan!16

 

28. Oh, celaka sekali aku ini! Sekiranya aku tak mengambil orang itu sebagai kawan!

 

29. Sesungguhnya ia telah menyesatkan aku dari Peringatan setelah itu datang kepadaku. Dan setan itu senantiasa lari tanpa mengindahkan kepada manusia.

 

30. Dan Utusan berkata: Tuhanku, sesungguhnya kaumku memperlakukan Qur’an ini sebagai barang yang ditinggalkan.

 

31. Demikianlah tiap-tiap Nabi Kami buatkan musuh dari golongan orang yang berdosa; dan sudah cukup Tuhan dikau sebagai Yang memberi petunjuk dan Yang memberi pertolongan.

 

32. Dan orang-orang kafir berkata: Mengapa Qur’an tak diturunkan kepadanya sekaligus? Demikianlah, agar Kami memperkuat hatimu dengan itu, dan (agar) Kami menyusun itu dengan susunan yang baik.17

 

33. Dan tiada mereka mengajukan pertanyaan kepada engkau, melainkan Kami datangkan kepada engkau Kebenaran dan keterangan yang paling baik.18

 

34. Orang-orang yang dihimpun ke Neraka, mereka berada dalam kedudukan yang buruk, dan semakin tersesat dari jalan.
 

Ruku’ 4: Pelajaran dari nasib bangsa yang sudah-sudah

 

35. Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab kepada Musa, dan Kami telah membuat saudaranya, Harun, sebagai pembantu menyertai dia.

 

36. Lalu Kami berfirman: Pergilah kamu berdua ke tempat kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka mereka Kami binasakan sama sekali.

 

37. Dan kaum Nuh, mereka Kami tenggelamkan tatkala mereka mendustakan para Utusan, dan mereka Kami buat sebagai tanda bukti bagi manusia. Dan Kami telah menyiapkan siksaan yang pedih bagi kaum yang lalim.

 

38. Dan (pula) kaum ‘Ad dan kaum Tsamud dan para penghuni Rass dan banyak generasi di antara itu.19

 

39. Dan masing-masing mereka Kami jadikan percontohan, dan masing-masing mereka Kami binasakan sama sekali.20

 

40. Dan sesungguhnya mereka telah mendatangi suatu kota yang dihujani dengan hujan yang jahat.21 Apakah mereka tak melihat itu? Tidak, malahan mereka tak mengharap dibangkitkan kembali.

 

41. Dan jika mereka melihat engkau, maka tiada mereka memperlakukan engkau kecuali mengolok-olokkan: Inikah orang yang dibangkitkan Allah sebagai Utusan?

 

42. Hampir-hampir ia menyesatkan kami dari tuhan-tuhan kami sekiranya kami tak mengikuti (tuhan-tuhan) itu dengan sabar. Dan mereka akan tahu tatkala mereka melihat siksaan, siapakah yang lebih tersesat dari jalan.

 

43. Tahukah engkau orang yang mengambil keinginan rendahnya (hawa nafsunya) sebagai tuhan?22 Maukah engkau sebagai pelindungnya?

 

44. Apakah engkau mengira bahwa sebagian besar mereka mendengar atau mengerti? Mereka tiada lain hanyalah seperti binatang ternak; tidak, malahan mereka lebih tersesat lagi dari jalan.
 

Ruku’ 5: Pelajaran dari kodrat alam

 

45. Apakah engkau tak melihat bagaimana Tuhan dikau membentangkan bayang-bayang? Dan jika Ia menghendaki, Ia membuat itu diam (tak bergerak). Lalu Kami membuat matahari sebagai petunjuk (bayang-bayang) itu.

 

46. Lalu Kami mengambil (bayang-bayang) itu sedikit demi sedikit menuju kepada Kami.23

 

47. Dan Dia ialah Yang membuat malam sebagai penutup bagi kamu, dan (membuat) tidur untuk istirahat, dan (membuat) siang untuk bangun.

 

48. Dan Dia ialah Yang mengutus angin sebagai pengemban berita baik sebelum rahmat-Nya; dan Kami menurunkan air yang bersih dari awan.

 

49. Agar dengan itu Kami memberi hidup kepada kota yang mati,24 dan agar Kami memberi minum kepada sebagian makhluk Kami, yaitu binatang ternak dan kebanyakan manusia.

 

50. Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan itu berkali-kali di antara mereka agar mereka ingat, tetapi kebanyakan manusia tak menyetujui itu, kecuali mendustakan.

 

51. Dan jika Kami menghendaki, Kami dapat membangkitkan seorang juru ingat pada tiap-tiap kota.25

 

52. Maka janganlah engkau menuruti kaum kafir dan berjuanglah melawan mereka dengan (Qur’an) ini, dengan perjuangan yang hebat.26

 

53. Dan Dia ialah Yang membuat dua samudera mengalir dengan bebas, yang satu (airnya) tawar, segar, dan yang lain (airnya) asin, pahit. Dan antara dua (samudera) itu Ia membuat penghalang dan rintangan yang tak dapat ditembus.27

 

54. Dan Dia ialah Yang menciptakan manusia dari air, lalu Ia menjadikan untuknya keluarga sedarah dan keluarga seipar-besan.28 Dan Tuhan dikau senantiasa Yang Maha-kuasa.

 

55. Dan mereka menyembah barang selain Allah yang tak menguntungkan mereka dan tak pula membahayakan mereka. Dan orang kafir senantiasa membantu melawan Tuhannya.29

 

56. Dan tiada Kami mengutus engkau, melainkan sebagai pengemban kabar baik dan sebagai juru ingat.

 

57. Katakanlah: Aku tak minta upah kepada kamu sebagai imbalan perkara ini, kecuali siapa yang mau, boleh mengambil jalan yang menuju kepada Tuhannya.30

 

58. Dan bertawakallah kepada Tuhan Yang Maha-hidup, Yang tak mati, dan maha-sucikanlah dengan memuji Dia. Dan cukuplah Dia sebagai Yang Maha-waspada terhadap dosa-dosa hamba-Nya.31

 

59. Yang telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya dalam enam masa, dan Ia bersemayam di atas Singgasana, Yang Maha-pemurah. Maka tanyakanlah tentang Dia kepada orang yang waspada.32

 

60. Dan apabila dikatakan kepada mereka: Bersujudlah kepada Yang Maha-pemurah, mereka berkata: Apakah Yang Maha-pemurah itu? Apakah kami harus bersujud kepada apa yang engkau perintahkan kepada kami? Dan itu menambah mereka bertambah enggan.1799a
 

Ruku’ 6: Terlaksananya perubahan

 

61. Maha-berkah Dia Yang membuat bintang-bintang di langit, dan di sana Ia membuat pula matahari dan bulan yang menerangi.

 

62. Dan Dia ialah Yang membuat malam dan siang silih berganti, bagi orang yang mau ingat dan mau bersyukur.1799b

 

63. Adapun hamba Tuhan Yang Maha-pemurah ialah mereka yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menegur mereka, mereka berkata: Damai!33

 

64. Dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam dengan bersujud dan berdiri di hadapan Tuhan mereka.

 

65. Dan orang-orang yang berkata: Tuhan kami, hindarkanlah kami dari siksa Neraka; sesungguhnya siksa Neraka itu kejahatan yang kekal.

 

66. Sesungguhnya (Neraka) itu tempat tinggal dan tempat peristirahatan yang buruk.

 

67. Dan orang-orang yang jika mereka membelanjakan harta mereka tak terlalu boros dan tak terlalu pelit, dan mereka mengambil jalan tengah antara itu.

 

68. Dan orang-orang yang tak menyeru kepada tuhan lain di samping Allah, dan yang tak membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, kecuali dalam membela kebenaran, dan mereka tak melakukan perbuatan zina; dan barangsiapa melakukan itu, ia akan mendapat pembalasan atas dosa-(nya).

 

69. Pada hari Kiamat ia akan mendapat siksaan yang berlipat ganda, dan ia menetap di sana dalam kehinaan.

 

70. Kecuali orang-orang yang tobat dan beriman dan menjalankan perbuatan baik; bagi mereka Allah akan menukar keburukan mereka dengan kebaikan.1800a Dan Allah senantiasa Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

 

71. Dan barangsiapa tobat dan berbuat baik, maka ia sesungguhnya bertobat kepada Allah dengan tobat (yang baik).

 

72. Dan orang-orang yang tak mau memberi kesaksian palsu, dan jika mereka berlalu di tempat senda gurau, mereka berlalu dengan anggun.1800b

 

73. Dan orang-orang yang apabila mereka diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tak menjatuhkan diri dengan tuli dan buta.

 

74. Dan orang-orang yang berkata: Tuhan kami, berilah kami penglihatan yang sejuk terhadap istri kami dan keturunan kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.

 

75. Mereka akan diganjar dengan tempat-tempat yang tinggi karena mereka bersabar, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat.34

 

76. Mereka menetap di sana. Baik sekali tempat tinggal dan tempat peristirahatan itu.

 

77. Katakanlah: Tuhanku tak mempedulikan kamu sedikit pun, sekiranya bukan karena permohonan kamu. Tetapi kini kamu menolak, maka siksaan akan segera dijatuhkan.1801a

  1. []
  2. Furqân adalah salah satu nama Qur’an, karena Qur’an ini melaksanakan pemisahan antara Kebenaran dan kepalsuan; lihatlah tafsir nomor 228. Oleh karena Surat ini membahas perubahan besar yang dilaksanakan oleh Qur’an bagi kehidupan manusia, sebagaimana diterangkan dalam Surat sebelum ini, maka Surat ini dinamakan Al-Furqân. Ditambahkannya kata-kata Nabi Suci sebagai juru ingat bagi sekalian bangsa adalah untuk menunjukkan bahwa perubahan besar yang terjadi di Tanah Arab, akhirnya meluas ke seluruh dunia, dan semua bangsa akan memperoleh manfaat. []
  3. Ayat 2 dan 3 menerangkan berbagai macam kemusyrikan yang merajalela di dunia, yang akhirnya akan disapu bersih oleh ajaran Tauhid yang diajarkan oleh Islam. []
  4. Dalam ayat sebelumnya, kaum kafir menuduh bahwa Qur’an itu bikin-bikinan; dalam ayat ini mereka menuduh bahwa Nabi Suci telah menyuruh supaya beberapa dongeng orang-orang kuno ditulis oleh orang-orang yang membantu beliau, dan dongengan itulah yang dibacakan kepada beliau, dan beliau sebarkan sebagai wahyu dari Atas. Bagaimana mungkin suatu dongeng dapat melaksanakan tranformasi seperti yang dilaksanakan oleh Qur’an dalam mengubah hati manusia. Hal ini diterangkan lagi dalam ayat berikutnya.
    1771a Rahasia langit dan bumi yang hanya diketahui oleh Allah saja, mencakup pula rahasia kodrat manusia. Tranformasi kehidupan manusia selalu dilaksanakan melalui sarana Wahyu Ilahi, dan usaha mengubah hati yang semata-mata usaha manusia (tanpa Wahyu Ilahi), selalu mengalami kegagalan. []
  5. Nabi Suci menempuh kehidupan yang amat sederhana. Beliau mengerjakan segala pekerjaan dengan tangan beliau sendiri. Beliau membantu pekerjaan rumah tangga istri beliau. Beliau menjahit pakaian, menambatkan kambing, bahkan menambal terumpah sendiri. Memang kodrat beliau yang ramah-tamah dan baik hati, acapkali menyebabkan beliau membantu pekerjaan orang lain. Pada suatu waktu seorang wanita tak mampu menyelesaikan suatu pekerjaan, ia mohon bantuan beliau supaya mengantarnya ke jalan, beliau membantu wanita itu dan beliau meninggalkannya setelah pekerjaan itu selesai. Beliau manusia biasa, dan beliau makan seperti kebiasaan orang Arab yang sederhana. Itulah sebabnya mengapa kaum kafir menyebut beliau orang yang makan makanan. Jawaban terhadap ini diberikan dalam ayat 20, yakni semua Nabi adalah manusia biasa yang tunduk kepada hukum alam, demikian pula Nabi Muhammad. []
  6. Pengertian mereka tentang Utusan Allah, bahwa ia haruslah bergelimang dalam kekayaan. Sebenarnya harta itulah segala-galanya bagi mereka, dan mereka tak menganggap penting terhadap akhlak dan nilai-nilai hidup yang tinggi, yang untuk itulah Nabi Muhammad diutus. Disamping itu mereka diberitahu bahwa sekalipun kaum Muslimin harus menderita kekurangan, namun mereka akan memperoleh ganjaran di dunia ini juga karena telah mengorbankan segala-galanya. Bertumpuk-tumpuk harta ditaruh di bawah kaki para Sahabat Nabi Suci, dan mereka diberi kebun yang luas. Tetapi semua itu terjadi sesuai dengan undang-undang Tuhan, yakni terlaksananya secara berangsur-angsur sesuai dengan ramalan, sama seperti segala pertumbuhan di alam fisik, terlaksananya juga secara berangsur-angsur. []
  7. Di tempat lain di dalam Qur’an dikatakan bahwa kaum kafir berkata: “Mengapa Qur’an itu tak diwahyukan kepada seorang yang penting dalam kota? (43:31). Di mata kaum kafir, tak ada barang lain yang lebih penting daripada pangkat dan harta; begitu sempit pandangan mereka tentang kehidupan. Pemahaman mereka tentang hakikat nilai hidup yang hakiki betapa keliru, maka dari itu mereka tak dapat menemukan jalan. []
  8. Ayat ini mengandung ramalan yang terang bahwa Nabi Suci dan para pengikut beliau akan memperoleh barang-barang yang baik di dunia ini. Taman-taman di Mesopotamia, istana-istana Persia dan Romawi, akan diberikan kepada para pengikut Nabi Suci. []
  9. Kepada kaum mukmin telah dijanjikan Surga, tetapi untuk mendapat karunia ini kaum mukmin diharuskan memohon, karena permohonan kepada Allah adalah syarat mutlak untuk mencapai itu. []
  10. Kata-kata tak pantas bagi kami bahwa kami mengambil pelindung selain Engkau, menunjukkan bahwa orang-orang yang menyembah Allah sajalah yang tak akan minta kepada pengikutnya supaya menyembah kepada selain Allah . Terang sekali bahwa yang dituju di sini ialah Nabi Suci. []
  11. Ini adalah perintah kepada kaum Muslimin supaya sabar pada waktu menghadapi penganiayaan musuh, karena penganiayaan itu ujian yang akan memisahkan antara kebaikan dan keburukan. Penutup ayat yang berbunyi: Dan Tuhan dikau senantiasa Yang Maha-melihat, merupakan kata-kata hiburan bagi mereka, yakni Tuhan pasti akan menghukum kaum lalim. []
  12. Turunnya Malaikat dan Tuhan, artinya, siksaan yang diancamkan, hal ini diterangkan lebih jelas lagi dalam ayat berikutnya; lihatlah tafsir nomor 268. []
  13. Kata-kata hijram-mahjûran mempunyai arti yang bermacam-macam, tergantung kepada siapa yang mengucapkan kata-kata itu, apakah itu diucapkan oleh Malaikat, ataukah oleh orang durhaka. Jika yang mengucapkan itu Malaikat, maka itu berarti kabar baik merupakan barang haram bagi orang durhaka; ini sama artinya dengan ucapan bahwa mereka akan disiksa. Jika yang mengucapkan itu orang durhaka, maka kata-kata itu menjadi semacam permohonan untuk diletakkan suatu penghalang yang kuat antara mereka dan siksaan mereka. []
  14. Segala daya upaya kaum Quraisy dihancurkan sama sekali dalam perang Badar, dan segala usaha mereka untuk menghancurkan Kebenaran dibalas dengan setimpal. []
  15. Gambaran perang Badar semacam ini juga diuraikan dalam 8:11 yang menyebutkan seterang-terangnya turunnya hujan, dan menyebutkan pula turunnya Malaikat. Ayat berikutnya menerangkan bahwa hari itu adalah hari kemenangan bagi kaum Muslimin, yaitu orang yang beriman kepada Tuhan Yang Maha-pemurah; dan hari itu adalah hari kesukaran bagi kaum kafir. Sebenarnya, penderitaan dan kesukaran yang dialami oleh kaum Quraisy dalam peperangan selanjutnya dengan kaum Muslimin, tidaklah sepahit yang dialami oleh mereka dalam perang Badar. []
  16. Para mufassir menyebutkan nama orang-orang yang bertempur bersama Nabi Suci di Badar. Tetapi apa yang diuraikan dalam ayat ini bersifat umum, dan acapkali orang yang berbuat jahat menyesali perbuatan yang ia lakukan bila ia merasakan akibat dari perbuatan jahatnya itu. []
  17. Kata rattala artinya ia mengumpulkan dan menyusun dengan baik bagian-bagian yang diucapkan (LL). Qur’an diturunkan sepotong-sepotong agar Wahyu Ilahi itu menjadi sumber kekuatan bagi Nabi Suci yang mengalami keadaan yang beraneka ragam selama hidupnya. Selain itu, juga untuk membuktikan salahnya pendapat yang mengatakan bahwa Qur’an merupakan kumpulan kitab yang tak teratur bagian-bagian ceritanya dan tak saling berhubungan, karena diwahyukan dalam keadaan yang beraneka ragam. Untuk menolak pendapat itu, diterangkan bahwa semua urutan ayat-ayat Qur’an itu disusun dengan sempurna oleh Tuhan sendiri. Menurut ayat ini, susunan Qur’an adalah bagian dari rencana Tuhan yang dilaksanakan pada zaman Nabi Suci sebagai orang yang menerima Wahyu Ilahi. []
  18. Matsal artinya gambaran, keadaan atau perkara; dan dalam kalam ibarat, matsal berarti keadaan yang aneh atau mengagumkan (LL), atau berarti pula hujjah maknanya bukti (T). Adapun arti matsal dalam ayat ini ialah bahwa kaum kafir tak dapat mengemukakan pertanyaan yang aneh (Kf) atau sanggahan yang aneh (JB) yang tak dijawab oleh Nabi Suci dengan benar, atau tak diberi keterangan yang terbaik oleh beliau. Ayat ini meletakkan pokok ajaran yang penting, yaitu bahwa Qur’an itu bukan hanya berisi jawaban segala sanggahan yang menentangnya, melainkan pula mengemukakan bukti-bukti tentang benarnya apa yang telah dikatakan. Tak ada kitab suci lain di dunia ini yang dapat memenuhi tuntutan semacam itu. Ini menujukkan bahwa kedudukan Qur’an di atas sekalian kitab suci, dan wahyu yang merupakan wahyu yang tak ada bandingannya yang mampu mencukupi kebutuhan manusia dalam bidang rohani di segala zaman. []
  19. Menurut Zj, Rass adalah seluruh daerah yang didiami oleh sebagian kabilah Tsamud. Menurut mufassir lain, Rass adalah nama satu kota di Yamamah (T). Rass berarti pula sumur dan menurut suatu riwayat, mereka adalah kaum yang melempar Nabi mereka dalam sumur (JB). []
  20. Yang dimaksud ialah, tiap-tiap generasi telah diberi peringatan tentang jatuhnya siksaan dengan menyebut contoh-contoh umat sebelumnya yang telah binasa, tetapi karena generasi itu tak mengindahkan peringatan, maka mereka dibinasakan. []
  21. Kota yang dimaksud ialah kota Sodom yang terletak di tengah perjalanan ke Syria. []
  22. Ayat ini menerangkan betapa luas pengertian syirk menurut Qur’an. Syirk bukan hanya berarti menyembah berhala saja, yang perbuatan ini amatlah dikutuk, melainkan pula menganut kemauan seseorang dengan membuta-tuli, itu juga disebut syirk. Banyak sekali orang yang menganggap dirinya sebagai hamba Tuhan Yang Maha-esa, mereka menyembah berhala yang amat besar, yaitu hawa nafsu mereka. Di sini ajaran Ketuhanan Yang Maha-esa dibuat sempurna, yang tak terdapat di Kitab Suci lain. []
  23. Ayat ini dan ayat sebelumnya menerangkan bahwa Allah memperlakukan hamba-Nya dengan kasih sayang. Dia tak membinasakan mereka sekaligus. Matahari ketulusan telah terbit, dan nampak dengan terang tanda-tanda yang menunjukkan bahwa bayang-bayang kegelapan akan lenyap; tetapi sebagaimana terjadi di alam fisik, bayang-bayang kegelapan itu tak akan lenyap sekaligus, melainkan dengan berangsur-angsur mengecil sedikit demi sedikit. []
  24. Rahmat Allah yang muncul di alam fisik berupa hujan, muncul di alam rohani berupa Wahyu. Sebagaimana air hujan yang bersih dari langit memberi hidup kepada tanah yang mati, demikian pula hujan Wahyu yang suci dari Allah menghidupkan rohani manusia yang mati. []
  25. Tak sangsi lagi bahwa karena Sahabat Nabi ingat akan ayat ini, maka mereka menyebar ke segala penjuru dunia dengan mengemban risalah dan peringatan kepada tiap-tiap kota yang jauh letaknya.
    Tetapi alangkah sedikitnya kaum Muslimin zaman sekarang yang diilhami semangat seperti itu untuk membuktikan benarnya firman Qur’an.
    Tetapi hendaklah diingat, bahwa ayat ini tidaklah bertentangan dengan uraian 35:24 dll. yang menerangkan bahwa pada tiap-tiap bangsa telah dibangkitkan Nabi. Surat ini diawali dengan satu uraian bahwa Nabi Suci adalah juru ingat bagi sekalian bangsa. Sedang ayat ini menguraikan bahwa jika Allah menghendaki, Ia akan membangkitkan juru ingat pada tiap-tiap kota. Tetapi kesatuan umat manusia, yang ini merupakan tujuan utama sebagai kelanjutan dari Ketuhanan Yang Maha-esa, hal ini tidak terjadi. Oleh sebab itu, ayat berikutnya menyuruh Nabi Suci dan para pengikut beliau supaya berjuang sehebat-hebatnya untuk mencapai tujuan mulia itu. []
  26. Ayat ini memberi petunjuk yang terang tentang arti kata jihâd yang digunakan oleh Qur’an. Menurut ayat ini, yang disebut jihâd ialah berjuang sekuat tenaga untuk menyebarkan Kebenaran, malahan jihad semacam ini disebut jihâdul-kabîr atau perjuangan besar. Perang untuk membela agama juga disebut jihâd karena adakalanya perang amat diperlukan untuk melangsungkan hidupnya dan sejahteranya Kebenaran; jika perang tak diizinkan, niscaya Kebenaran akan terkikis habis. Semua mufassir sepakat arti kata jihad seperti itu. Hendaklah diingat bahwa jihâdul-akbar yang dapat dilakukan oleh setiap orang Islam ialah jihad dengan Qur’an, yang ini diisyaratkan oleh dlamir hu dalam kata bihî yang disebutkan pada akhir ayat, inilah jihad yang harus dilaksanakan oleh setiap orang Islam dalam segala keadaan. []
  27. Rupa-rupanya yang dituju oleh ayat ini ialah air tawar yang mengalir di sungai-sungai atau di bawah tanah, dan air laut yang asin. Tetapi mungkin pula ayat ini mengandung maksud yang lebih dalam, yakni dua samudera itu mengisyaratkan dua macam kehidupan yang dialami manusia di dunia, yakni (1) kehidupan yang segar karena iman dan amal yang mendatangkan kehidupan damai dan memuaskan, dan (2) kehidupan pahit karena kafir dan durhaka yang selalu membuat manusia tak mempunyai perasaan puas, bahkan semakin bertambah dahaga untuk mengejar keuntungan duniawi. Dua-duanya tetap ada di dunia dan berdampingan satu sama lain. []
  28. Ayat ini agaknya mengisyaratkan hijrah Nabi Suci ke Madinah. Nabi Muhammad mempunyai hubungan keluarga dengan orang-orang Makkah dari pihak ayah, dan mempunyai hubungan keluarga dengan orang-orang Madinah dari pihak ibu. Oleh karena keluarga beliau yang sedarah mengejar-ngejar beliau dan berniat ingin membunuh beliau, maka kini diingatkan hubungan beliau melalui perkawinan dengan pihak lain. Berdasarkan isyarat yang terdapat dalam Wahyu Ilahi ini, maka Nabi Suci mencari pengikut di kalangan orang-orang Madinah pada waktu musim haji. []
  29. Kaum kafir membantu perkara kekafiran, seperti mengingkari Kebenaran, sedangkan Nabi Suci bermaksud menegakkan Kebenaran di dunia. []
  30. []
  31. Maka dari itu, Allah tahu benar kapan Ia menjatuhkan siksaan, dan siapa yang dijatuhi siksaan. []
  32. Orang yang waspada ialah Nabi Suci, yang memiliki ilmu sejati tentang Ketuhanan. []
  33. 1799a Pembacaan ayat ini diikuti dengan sujud. Lihatlah tafsir nomor 978.
    1799b Di waktu malam dikatakan sebagai saat yang tepat untuk ingat, yakni untuk shalat, sedang waktu siang dikatakan sebagai saat yang tepat untuk bersyukur, yakni untuk bekerja dan mencari nafkah.
    Ayat ini sampai ayat terakhir menggambarkan perubahan besar yang telah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad saw. Sifat-sifat yang dikatakan di sini menjadi sifatnya hamba Tuhan Yang Maha-pemurah, berlawanan sama sekali dengan kejahatan-kejahatan yang dahulunya merajalela di Tanah Arab. Bangsa Arab adalah bangsa yang sombong, yang menginjak-nginjak hak sesama manusia, tetapi kini orang-orang yang beriman dikatakan di sini sebagai orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati dan hidup dengan andhap asor, dengan menaruh penghargaaan yang tinggi terhadap hak-hak orang lain (ayat 63). Pada zaman jahiliyah, mereka menghabiskan waktu malam untuk minum-minum dan pesta pora, tapi kini mereka tetap terjaga di malam hari untuk beribadah dan mabuk cinta kepada Allah (ayat 64). Pada zaman jahiliyah mereka membelanjakan harta dengan boros karena gengsi, dan mereka tak menghiraukan nasib kaum miskin yang mati kelaparan, tetapi sekarang mereka menghemat setiap sen yang dapat mereka hemat guna kepentingan orang lain (ayat 67). Pada zaman jahiliyah Bangsa Arab menyembah berhala, dan saling membunuh karena alasan yang sepele, dan pelacuran merajalela, tetapi sekarang mereka menjadi pembawa obor Keesaaan Ilahi, mereka sanggup menderita segala kesukaran untuk kepentingan Tuhan, dan membunuh manusia mereka pandang sebagai perkara yang menjijikkan, dan kesucian pria maupun kesucian wanita dianggap sebagai perkara yang amat tinggi nilainya, dan satu sama lain saling berlomba untuk mencapai ketulusan (ayat 68-71). Kebenaran dan kejujuran adalah sifat utama, yang dalam agama baru (agama Islam) menguasai jiwa manusia, maka dari itu mereka hidup penuh semangat dan kesungguhan, bersih dari kebodohan, kepercayaan takhayul dan perbuatan tak senonoh, yang menjadi ciri khas Bangsa Arab sebelum datangnya Islam (ayat 72-74).
    1800a Di sini kita diberitahu seterang-terangnya bahwa pembangunan telah terlaksana, Bangsa Arab yang sebelumnya tenggelam dalam perbuatan keji, kini diubah menjadi bangsa yang baik dan tulus, Bangsa Arab yang dahulunya gemar melakukan kejahatan, kini gemar melakukan perbuatan baik. Hanya kekuatan rohani Nabi Suci itulah yang telah mendatangkan perubahan yang mengagumkan itu.
    1800b Bangsa Arab bukan hanya menjauhkan diri dari kejahatan, melainkan pula menyingkiri segala sesuatu yang tak ada gunanya dan hampa. []
  34. Kelihatannya mereka diusir dari tempat kediaman mereka, tetapi mereka merasa seolah-olah diganjar dengan tempat-tempat yang tinggi, karena sekarang pandangan hidup mereka bukan lagi mengenai kebendaan, melainkan mengenai kerohanian. Di samping penghormatan dan ucapan selamat dari Malaikat, mereka dijanjikan mendapat penghormatan dan ucapan selamat di pusat kegiatan mereka yang baru, di kota Madinah, tempat mereka berhijrah, karena di tempat yang baru itu, terdapat persaudaraan Islam yang sama, yang siap menerima kaum Muhajir.
    1801a Kaum kafir Makkah menolak Kebenaran, maka dari itu kerendahan dan kehinaan yang diancamkan kepada musuh-musuh Kebenaran, kini sedang menantikan mereka. Kaum mukmin akhirnya dipisahkan dari kaum durhaka, maka dari itu siksaan akan segera dijatuhkan.[] []

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *