Home / Al-Quran / 022 Al Hajj

022 Al Hajj

SURAT 22

Al Hajj: Haji

(Diturunkan di Makkah, 10 ruku’, 78 ayat)

Mukaddimah Surah Buka

 

Ruku’ 1: Keputusan Tuhan

Dengan nama Allah, Yang maha-pemurah, Yang Maha-pengasih.

 

1. Wahai manusia, bertaqwalah kepada Tuhan kamu; sesungguhnya guncangan1668 Sa’ah adalah sesuatu yang mengerikan.1669

 

2. Pada hari kamu melihat itu, tiap-tiap wanita yang menyusui, lupa akan anaknya yang masih menyusui, dan tiap-tiap wanita yang hamil akan menggugurkan kandungannya, dan engkau melihat manusia bagaikan orang yang mabuk padahal mereka tak mabuk, tetapi siksaan Allah adalah dahsyat.

 

3. Di antara manusia ada yang bertengkar tentang Allah tanpa ilmu dan mengikuti setan yang memberontak.1670

 

4. Baginya telah ditulis bahwa siapa saja yang mengambil dia sebagai kawan, ia akan menyesatkan dia dan menuntun dia ke Api yang menyala.

 

5. Wahai manusia, jika kamu ragu-ragu tentang Hari Kebangkitan,1671 maka sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah,1672 lalu dari benih manusia, lalu dari segumpal darah, lalu dari segumpal daging, yang disempurnakan bentuknya dan tidak disempurnakan agar Kami jelaskan kepada kamu.1673 Dan Kami menempatkan dalam rahim ibu apa yang Kami kehendaki sampai jangka waktu yang ditentukan; lalu Kami mengeluarkan kamu sebagai bayi, lalu kamu mencapai kedewasaan kamu. Dan di antara kamu ada yang dimatikan, dan di antara kamu ada pula yang dikembalikan menjadi pikun,1674 sehingga ia tak tahu apa-apa setelah ia tahu. Dan engkau melihat bumi gersang, tetapi setelah Kami turunkan air di atasnya, (bumi) itu bergerak dan menggembung dan menumbuhkan bermacam-macam tumbuhan yang indah.1675

 

6. Itu disebabkan karena Allah itu Yang Maha-benar, dan Ia menghidupkan orang yang mati, dan Ia berkuasa atas segala sesuatu.

 

7. Dan Sa’ah itu pasti datang, tak ada keragu-raguan tentang itu; dan Allah akan membangkitkan orang yang ada dalam kubur.1676

 

8. Dan di antara manusia ada yang membantah Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab yang menerangi.

 

9. Berpaling dengan sombong1677 untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Ia akan mendapat kehinaan di dunia, dan pada hari Kiamat akan Kami icipkan kepadanya siksaan yang membakar.

 

10. Itu disebabkan karena apa yang dahulu dilakukan oleh tangan dikau, dan Allah itu tak berbuat tak adil kepada hamba-(Nya).

Ruku’ 2: Kepastian pertolongan Tuhan

 

11. Dan di antara manusia ada yang mengabdi kepada Allah (dengan berdiri) di tepi jurang;1678 sehingga apabila ia memperoleh kebaikan, ia merasa puas dengan itu; tetapi apabila ia mendapat cobaan Tuhan, ia berbalik muka (kafir). Ia menderita rugi di dunia dan Akhirat. Itu adalah kerugian yang nyata.

 

12. Ia menyeru kepada selain Allah, yang tak merugikan dia dan tak menguntungkan dia. Itu adalah kesesatan yang jauh.

 

13. Ia menyeru kepada orang yang lebih dekat memberi kerugian daripada memberi keuntungan. Sungguh buruk sekali pelindung itu, dan buruk sekali kawan itu.

 

14. Sesungguhnya Allah memasukan orang-orang beriman dan berbuat baik ke dalam Taman yang di dalamnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya Allah menjalankan apa yang Ia kehendaki.

 

15. Barangsiapa mengira bahwa Allah tak akan menolong dia (Nabi Suci) di dunia dan Akhirat, hendaklah ia naik dengan sebuah alat ke langit, lalu potonglah itu, lalu lihatlah, apakah rencananya dapat menghilangkan apa yang menyebabkan dia marah.1679

 

16. Dan demikianlah, Kami menurunkan tanda bukti yang terang, dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Ia kehendaki.

 

17. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan kaum Yahudi, dan kaum Sabi’ah, dan kaum Kristen, dan kaum Majusi, dan orang-orang musyrik — pada hari Kiamat Allah akan memutuskan di antara mereka. Sesungguhnya Allah itu saksi atas segala sesuatu.1680

 

18. Apakah engkau tak tahu bahwa kepada Allah bersujud siapa saja yang ada di langit dan siapa saja yang ada dibumi dan matahari dan bulan dan bintang dan pohon-pohon dan binatang dan kebanyakan manusia. Dan banyak pula yang harus mendapat siksaan. Dan barangsiapa dihinakan oleh Allah, tak seorang pun dapat memberi kehormatan kepadanya. Sesungguhnya Allah itu mengerjakan apa yang Ia kehendaki.1681

 

19. Ini adalah dua golongan musuh,1682 yang bertengkar tentang Tuhan mereka. Maka orang-orang yang kafir, mereka mendapat pakaian yang dipotong-potong dari api. Air mendidih akan dituangkan di atas kepala mereka.

 

20. Air mendidih itu akan melelehkan apa yang ada dalam perut mereka, demikian pula kulit mereka.

 

21. Dan mereka akan mendapat cambuk dari besi.1683

 

22. Setiap kali mereka hendak keluar dari sana, karena susah,1684 mereka dikembalikan lagi di dalamnya; dan (dikatakan kepada mereka): Rasakanlah siksaan yang membakar.

Ruku’ 3: Kaum mukmin pasti menang

 

23. Sesungguhnya Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan berbuat baik ke Taman yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; di sana mereka diberi perhiasan gelang emas dan mutiara. Dan di sana mereka akan diberi pakaian sutera.1685

 

24. Dan mereka akan diberi petunjuk tentang ucapan yang baik; dan mereka akan diberi petunjuk tentang jalan yang terpuji.

 

25. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan dari Masjid Suci yang Kami jadikan itu sama bagi manusia, baik yang menetap di situ maupun pengunjung.1686 Dan barangsiapa bermaksud menjalankan kejahatan di situ, dengan sewenang-wenang, Kami akan mengicipkan kepadanya siksaan yang pedih.

Ruku’ 4: Haji

 

26. Dan tatkala Kami menunjuk suatu tempat di Rumah (Suci) kepada Ibrahim, firman-Nya: Janganlah engkau menyekutukan Aku dengan sesuatu, dan sucikanlah Rumah-Ku bagi orang-orang yang bertawaf, dan orang-orang yang berdiri shalat, dan orang-orang yang berruku, dan orang-orang yang bersujud.

 

27. Dan umumkanlah ibadah haji kepada manusia,1687 mereka akan datang kepada engkau dengan jalan kaki, dan dengan naik setiap unta yang kurus, yang datang dari tiap-tiap tempat yang jauh.1688

 

28. Agar mereka menyaksikan berbagai keuntungan (yang diberikan) kepada mereka, dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang ditentukan atas apa yang Allah rezekikan kepada mereka berupa binatang ternak; lalu makanlah sebagian itu dan berilah makan kepada orang yang sengsara dan orang fakir.1689

 

29. Lalu hendaklah mereka menyelesaikan perbuatan-perbuatan yang perlu tentang pembersihan, dan hendaklah mereka memenuhi nazar mereka, dan hendaklah mereka menjalankan thawaf di (sekeliling) Rumah Kuno.1690

 

30. Itulah (suatu keharusan). Dan barangsiapa menghormati peraturan-peraturan Allah yang suci, itu adalah baik bagi dia di hadapan Tuhannya. Dan dihalalkan kepada kamu binatang ternak, kecuali yang telah dibacakan kepada kamu, maka jauhilah kekotoran berhala, dan jauhilah ucapan yang tidak benar.

 

31. Dengan tulus kepada Allah, tak musyrik kepada-Nya. Barangsiapa musyrik kepada Allah, maka ia seakan-akan jatuh dari atas, lalu seekor burung menyambarnya, atau angin menghembusnya ke tempat yang jauh.

 

32. Itulah (suatu keharusan). Dan barangsiapa menghormati peraturan-peraturan Allah, maka sesungguhnya itu adalah sebagian dari ketulusan hati.

 

33. Di sana kamu memperoleh banyak faedah sampai waktu yang ditentukan, lalu tempat pengorbanan mereka ialah Rumah Kuno.

Ruku’ 5: Kurban

 

34. Dan bagi tiap-tiap umat Kami tetapkan ibadah (kurban) atas apa yang Kami rezekikan kepada mereka berupa binatang ternak, agar mereka ingat akan nama Allah. Maka Tuhan kamu ialah Tuhan Yang Maha-esa, maka dari itu berserah dirilah kepada-Nya. Dan berilah kabar baik kepada orang yang rendah hati.1691

 

35. (Yaitu) orang yang apabila nama Allah disebut, hati mereka merasa gemetar, dan orang yang sabar terhadap kesengsaraan yang menimpa mereka, dan orang yang menetapi shalat, dan orang yang membelanjakan sebagian barang yang Kami rezekikan kepada mereka.1692

 

36. Dan unta, Kami jadikan itu sebagai tanda bukti Allah bagi kamu,1693 di dalamnya terdapat banyak kebaikan. Maka sebutlah nama Allah atas itu sambil berdiri bershaf-shaf. Lalu tatkala (unta itu) rebah ke samping, maka makanlah sebagian, dan berilah makan kepada orang miskin yang menerima nasib dan orang minta-minta.1694 Demikianlah Kami tundukkan (unta) itu kepada kamu agar kamu bersyukur.

 

37. Dagingnya dan darahnya tak sekali-kali mencapai Allah. Tetapi yang mencapai Dia ialah taqwa kamu.1695 Demikianlah Kami tundukkan (unta) itu kepada kamu agar kamu mengagungkan Allah karena Ia telah memimpin kamu. Dan berilah kabar baik kepada orang yang berbuat baik (kepada orang lain).

 

38. Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah tak suka kepada tiap orang yang durhaka, tak terima kasih.1696

Ruku’ 6: Kaum mukmin diizinkan perang

 

39. (Perang) diizinkan kepada orang-orang yang diperangi, karena mereka dianiaya. Dan sesungguhnya Allah itu kuasa untuk menolong mereka.1697

 

40. (Yaitu) orang-orang yang diusir dari rumah mereka tanpa alasan yang benar, kecuali hanya karena mereka berkata: Tuhan kami ialah Allah. Dan sekiranya tak ada tangkisan Allah terhadap sebagian manusia oleh sebagian yang lain, niscaya akan ditumbangkan biara-biara, dan gereja-gereja, dan kanisah-kanisah, dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak diingat nama Allah. Dan sesungguhnya Allah akan menolong orang yang menolong Dia. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-kuat, Yang Maha-perkasa.1698

 

41. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami tempatkan di bumi, mereka menetapi shalat dan membayar zakat, dan menyuruh berbuat baik, dan melarang berbuat jahat. Dan akibat semua perkara adalah kepunyaan Allah.

 

42. Dan apabila mereka mendustakan engkau, maka sesungguhnya sebelum mereka, kaum Nuh dan ‘Ad dan Tsamud, telah mendustakan (para Nabi).

 

43. Demikian pula kaum Ibrahim dan kaum Luth.

 

44. Dan para penduduk Madyan. Dan Musa pun didustakan. Tetapi kepada kaum kafir Kami beri penangguhan hukuman, lalu mereka Kami tangkap, maka alangkah dahsyatnya kebencian Kami.

 

45. Sudah banyak kota yang kami binasakan selagi itu lalim, maka robohlah itu di atas atapnya; dan sudah banyak sumur yang ditinggalkan, dan istana yang menjulang tinggi.

 

46. Apakah mereka tak berjalan-jalan di bumi, sehingga mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka akan mengerti, atau telinga yang dengan itu mereka akan mendengar? Karena sesungguhnya bukan karena mata yang buta, melainkan yang buta ialah hati yang berada dalam dada.1699

 

47. Dan mereka minta kepada engkau supaya cepat-cepat menurunkan siksaan, dan Allah tak sekali-kali mengingkari janji-Nya. Dan sesungguhnya hari itu menurut Tuhan dikau adalah seperti seribu tahun menurut perhitungan kamu.1700

 

48. Dan sudah banyak kota yang Kami beri penangguhan hukuman selagi (kota) itu lalim, lalu itu Kami tangkap. Dan kepadaKu-lah itu kembali.

Ruku’ 7: Perlawanan terhadap Nabi Suci

 

49. Katakanlah: Wahai manusia, aku hanyalah seorang juru ingat yang terang kepada kamu.

 

50. Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat baik, mereka mendapat pengampunan dan rezeki yang mulia.

 

51. Dan orang-orang yang berusaha menentang ayat-ayat Kami, mereka adalah penghuni Api yang menyala.

 

52. Dan tak pernah Kami mengutus Utusan sebelum engkau, dan tak pula seorang Nabi, melainkan jika ia mempunyai keinginan, setan membuat bisikan jahat dalam keinginannya; tetapi Allah menghapus apa yang dibisikkan oleh setan itu, lalu Allah menegakkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah itu Yang Maha-tahu, Yang Maha-bijaksana.1701

 

53. Agar Ia membuat apa yang dibisikkan oleh setan menjadi cobaan bagi orang yang dalam hatinya terdapat penyakit dan yang keras hatinya.1702 Dan sesungguhnya orang-orang lalim itu berada dalam perlawanan yang dahsyat.

 

54. Dan agar orang-orang yang diberi ilmu tahu bahwa itu adalah Kebenaran dari Tuhan dikau, maka dari itu mereka beriman kepada-Nya, hingga mereka berendah hati di hadapan Dia. Dan sesungguhnya Allah itu Yang memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada jalan yang benar.1703

 

55. Dan orang-orang kafir tak henti-hentinya dalam kebimbangan tentang itu, sampai Sa’ah mendatangi mereka dengan tiba-tiba, atau datang kepada mereka siksaan hari yang membinasakan.1704

 

56. Pada hari itu kerajaan adalah kepunyaan Allah. Ia akan mengadili antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan berbuat baik, berada dalam Taman kenikmatan.

 

57. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka memperoleh siksaan yang hina.

Ruku’ 8: Kaum mukmin akan ditegakkan

 

58. Dan orang-orang yang hijrah di jalan Allah,1705 lalu dibunuh atau mati, Allah pasti akan memberi kepada mereka rezeki yang baik. Sesungguhnya Allah itu sebaik-baik Tuhan Yang memberi rezeki.

 

59. Ia pasti akan memasukkan mereka ke tempat masuk yang mereka merasa puas. Dan sesungguhnya Allah itu Yang Maha-tahu, Yang Maha-penyantun.

 

60. Pasti demikian. Dan barangsiapa membalas yang seimbang dengan apa yang ditimpakan kepadanya dan ia ditindas, Allah pasti akan memberi pertolongan kepadanya. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-pemaaf, Yang Maha-pengampun.1706

 

61. Itu disebabkan karena Allah itu memasukkan malam dalam siang, dan memasukkan siang dalam malam; dan karena Allah itu Yang Maha-mendengar, Yang Maha-melihat.1707

 

62. Itu disebabkan karena Allah itu Yang Maha-benar, dan bahwa apa yang mereka seru selain Dia adalah barang palsu; dan karena Allah itu Yang Maha-luhur, Yang Maha-agung.

 

63. Apakah engkau tak melihat bahwa Allah menurunkan air dari awan, lalu bumi menjadi hijau. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-tahu akan yang halus-halus, Yang Maha-waspada.

 

64. Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi ialah kepunyaan-Nya. Dan sesungguhnya Allah itu Yang Maha-kaya, Yang Maha-terpuji.

Ruku’ 9: Perlakuan kasih sayang terhadap manusia

 

65. Apakah engkau tak melihat bahwa Allah telah membuat untuk melayani kamu apa saja yang ada di bumi, dan pula kapal yang berlayar di laut dengan perintah-Nya. Dan Ia menahan langit agar tak jatuh di bumi, kecuali dengan izin-Nya. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-belas kasih, Yang Maha-penyayang kepada manusia.1708

 

66. Dan Dia ialah Yang menghidupkan kamu, lalu mematikan kamu, lalu menghidupkan kamu. Sesungguhnya manusia itu tak berterima kasih.

 

67. Kepada tiap-tiap umat Kami tetapkan laku-laku ibadah yang harus mereka lakukan,1709 maka janganlah mereka berbantah dengan engkau tentang perkara itu, dan menyerulah kepada Tuhan dikau. Sesungguhnya engkau ada pada petunjuk yang benar.

 

68. Dan jika mereka bertengkar dengan engkau, maka katakanlah: Allah itu Yang Maha-tahu akan apa yang kamu lakukan.

 

69. Pada hari Kiamat, Allah akan mengadili kamu tentang apa yang kamu berselisih.

 

70. Apakah engkau tak tahu bahwa Allah itu Maha-tahu tentang apa yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya itu dalam Kitab. Sesungguhnya itu adalah mudah bagi Allah.

 

71. Dan mereka mengabdi kepada selain Allah, yang Ia tidak menurunkan kekuasaan kepadanya, dan mereka tak mempunyai pengetahuan tentang itu. Dan orang-orang yang lalim tak mempunyai penolong.

 

72. Dan jika ayat-ayat Kami yang terang dibacakan kepada mereka, engkau akan melihat suatu penolakan pada wajah orang-orang kafir; mereka hampir-hampir menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka. Katakanlah: Apakah kuberitahukan kepada kamu yang lebih buruk daripada itu? Neraka. Allah mengancamkan itu kepada orang-orang kafir. Buruk sekali tempat perlindungan itu.

Ruku’ 10: Kemusyrikan akan dilenyapkan

 

73. Wahai manusia, dikemukakanlah sebuah perumpamaan, maka dengarkanlah itu. Sesungguhnya orang-orang yang menyeru kepada selain Allah, mereka ini tak dapat menciptakan seekor lalat, walaupun mereka bergabung untuk itu. Dan apabila seekor lalat menggondol sesuatu dari mereka, mereka tak dapat mengambilnya kembali dari (lalat) itu. Baik yang menyeru maupun yang diseru, (dua-duanya) adalah lemah.1710

 

74. Mereka tak menghargai Allah dengan penghargaan yang benar. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-kuat, Yang Maha-perkasa.

 

75. Allah memilih para Utusan dari kalangan malaikat dan dari manusia. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-mendengar, Yang Maha melihat.

 

76. Ia tahu apa yang ada di depan dan apa yang ada di belakang mereka. Dan kepada Allah segala perkara akan dikembalikan.

 

77. Wahai orang-orang yang beriman, berruku’lah dan bersujudlah, dan mengabdilah kepada Tuhan kami, dan berbuatlah kebajikan agar kamu beruntung.1710a

 

78. Dan berjuanglah di (jalan) Allah dengan perjuangan yang benar. Ia telah memilih kamu, dan Ia tak membuat kesukaran kepada kamu dalam hal agama-agama ayah kamu Ibrahim. Ia menamakan kamu kaum Muslimin, sebelumnya dan dalam ini,1711 agar Utusan menjadi saksi terhadap kamu, dan agar kamu menjadi saksi terhadap manusia.1711a Maka tetapilah shalat dan bayarlah zakat, dan berpegang teguh­lah kepada Allah, Ia adalah Pelindung kamu, baik sekali Pelindung itu dan baik pula Penolong itu.

  1. Kata zalzalah makna aslinya menempatkan di dalam keadaan gempar atau agitasi (LL). Perlu kiranya dicatat bahwa kata zalzalah digunakan secara khusus sehubungan dengan perang dengan arti meniupkan ketakutan dalam hati. Demikianlah dalam 33:11, dan pula dalam doa Nabi Suci, kata zalzalah digunakan sehubungan dengan ketakutan dan kesengsaraan dalam pertempuran. Dan kata zalâzil jamaknya kata zalzalah berarti kesukaran, cobaan, kesengsaraan (LL). []
  2. Dalam Qur’an, kata as-sâ’ah tidak selalu harus berarti hari Kiamat. Kata as-sâ’ah acapkali berarti jatuhnya hukuman di dunia, saat tatkala hukuman yang diancamkan dijatuhkan sungguh-sungguh kepada suatu kaum, dan rupa-rupanya arti inilah yang dimaksud di sini. Sebagian mufassir berpendapat bahwa bumi diguncang itu berarti pertanda dekatnya hari Kiamat, tetapi sekalipun demikian, dapat pula berarti mala-petaka besar, seperti terjadinya perang besar. []
  3. Sebagaimana diterangkan berulangkali dalam Qur’an, di sini pun yang dimaksud setan ialah setan yang berbentuk manusia. []
  4. Kata ba’ts (kebangkitan) dalam Qur’an mempunyai tiga macam arti. (1) Bangkit dari alam kubur pada hari Kiamat sesuai perbuatan mereka yang baik atau yang buruk. (2) Bangkitnya orang yang mati rohaninya karena dihidupkan oleh para Nabi. (3) Bangkitnya para Nabi karena diutus oleh Allah untuk memimpin manusia. Kata ba’ts yang digunakan di sini dapat mencakup tiga macam arti itu, baik berkenaan dengan mengafiri Hari Kiamat, atau mengafiri Allah membangkitkan Nabi Suci, atau mengafiri Nabi Suci membangkitkan rohani manusia. Alasan yang termuat dalam ayat ini dan ayat berikutnya dapat diterapkan terhadap tiga macam arti tersebut, tetapi terutama sekali mengenai kebangkitan rohani bagi orang yang mati rohaninya. []
  5. Kata-kata ini menjelaskan arti terciptanya Adam atau manusia dari tanah yang acapkali diuraikan dalam Qur’an. Di sini diterangkan bahwa semua orang diciptakan dari tanah. Terciptanya manusia dari tanah mengandung arti bahwa segala kehidupan itu berasal dari tanah. []
  6. Di sini diuraikan berbagai tingkatan yang dilalui oleh setiap jabang bayi. Adapun tujuannya ialah untuk menunjukkan betapa hinanya mula-mula manusia. Atau dapat pula mengisyaratkan berbagai tingkatan yang dilalui oleh manusia dalam menempuh evolusi hingga mencapai tahap kesempurnaan sekarang ini. Hendaklah orang suka menaruh perhatian akan adanya kenyataan, bahwa sebagaimana evolusi fisik manusia berproses sedikit demi sedikit, demikian pula pertumbuhan dan perkembangan rohani manusia juga berproses sedikit demi sedikit. []
  7. Kata ardzalil-‘umuri artinya pikun atau sudah jompo. []
  8. Bumi bergerak dan menggembung, artinya bergerak dan menggembung karena menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Bandingkanlah dengan 41:39; dan lihatlah tafsir nomor 2210. Perumpamaan itu menarik perhatian adanya kenyataan bahwa Wahyu itu menghidupkan jiwa yang mati sebagaimana hujan menghidupkan bumi yang mati. Hal ini dijelaskan oleh ayat berikutnya yang berbunyi: “Ia menghidupkan orang yang mati, dan Ia berkuasa atas segala sesuatu”. []
  9. Untuk dapat mengerti apa yang dimaksud orang yang ada dalam kubur, bandingkanlah dengan 35:22 yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah membuat mendengar orang yang Ia kehendaki, dan engkau tak dapat membuat mendengar orang yang ada dalam kubur”. Adapun artinya ialah, sekalipun orang itu tak dapat diperbaiki, namun ia tetap akan dibina ke arah kehidupan rohani. []
  10. Kata tsâniya ‘ithfihî makna aslinya melipat, menggulung atau memutar tepinya. Kata ‘ithf artinya bagian tubuh manusia mulai dari kepala sampai ke pinggang. Tetapi kata ‘ithfihî di sini digunakan sebagai kalam ibarat dalam arti berkelakuan sombong (LL), atau berpaling (R). []
  11. Kata ‘alâ harfin yang artinya di tepi jurang, dapat diterangkan bermacam-macam, yang dalam segala hal sama artinya. LL mengutip banyak keterangan tentang ini. Kata itu dapat pula diartikan berdiri jauh tentang agama dalam keadaan turun naik, seperti halnya tentara yang berada di bagian luar, yang jika yakin akan menang dan mendapat rampasan, mereka bertempur dengan gigih, tetapi jika tidak yakin, mereka melarikan diri. Atau dapat pula diartikan orang yang mengabdi kepada Allah dengan ragu-ragu atau bimbang, tak mantap, bagaikan orang yang berdiri di tepi jurang, atau orang yang mengabdi kepada Allah hanya dalam satu kondisi, yaitu pada waktu dalam keadaan kecukupan. Semua itu menjelaskan sikap orang yang ragu-ragu, yang sewaktu-waktu siap meninggalkan agamanya dengan alasan apa saja. []
  12. Ayat ini acapkali disalahtafsirkan karena mereka salah mengerti tentang dlamir (kata ganti) hu dalam kalimat yanshurahu, yang dlamir itu sebenarnya ditujukan kepada Nabi Suci. Kesukaran kedua sehubungan dengan pelengkap kata yaqtha’ yang artinya memotong, yang semestinya harus ditujukan pada pertolongan Allah, yang ini diberitahukan kepada para musuh, bahwa itu akan diberikan kepada Nabi Suci, walaupun para musuh berjuang sekuat tenaga untuk meniadakan pertolongan Allah itu. Hal ini diterangkan sejelas-jelasnya pada penutup ayat ini. Ramalan tentang kemenangan akhir bagi Kebenaran, dan tentang pertolongan Allah kepada Nabi Suci, diuraikan berulangkali dalam Qur’an, dan kaum kafir marah karena hal ini. Mereka diberitahu bahwa pertolongan Tuhan pasti akan datang, dan mereka berusaha keras untuk melawannya begitu rupa sehingga jika mereka dapat, mereka akan naik ke langit untuk memotong segala pertolongan Allah yang akan diberikan kepada Nabi Suci. Atau, ayat ini dapat diartikan bahwa mereka boleh saja melampiaskan kemarahan sekuat-kuatnya dan berbuat nekad, namun mereka tak mampu menghentikan datangnya pertolongan Allah. Dengan kata lain, pertolongan Allah yang dijanjikan kepada Nabi Suci, pasti akan sampai kepada beliau, walaupun usaha untuk menentang itu dilakukan sehebat-hebatnya dan betapa pun besarnya kekecewaan para musuh. []
  13. Ini mengandung arti bahwa beda-bedanya kepercayaan dalam agama tidaklah menyebabkan siksaan di dunia; siksaan mengenai ini akan diputuskan di Akhirat. Adapun yang menyebabkan siksaan di dunia, ialah apabila mereka berbuat rusak dan melanggar batas dalam menjalankan perbuatan jahat. []
  14. Selesai membaca ayat ini, segera diikuti sujud; lihatlah tafsir nomor 978. []
  15. Yang dimaksud dua golongan musuh ialah kaum Muslimin dan kaum kafir. Hendaklah diingat, bahwa dua golongan musuh yang mula-mula hanya bertengkar tentang Tuhan mereka, kini berubah menjadi perkara berat, dan nasib dua golongan itu dalam pertempuran yang akan datang, sudah diramalkan dengan terang; bagi kaum kafir diramalkan dalam 22:19-22, dan bagi kaum mukmin diramalkan dalam 22:23-24. []
  16. Cambuk besi artinya kalah. Kata qama’ahû yang dari akar kata itu digubah menjadi maqmâ’, maknanya cambuk. Adapun artinya ialah ia mengalahkan dia dan menaklukkannya (T). []
  17. Kata min ghammin (karena susah), itu merupakan penjelasan dari kata min hâ (dari sana), dengan demikian menjelaskan sifat yang diuraikan dalam ayat ini dan ayat sebelumnya. Kesusahan itulah yang senantiasa membakar jiwa mereka dan melelahkannya. []
  18. Peristiwa berikut ini yang diriwayatkan oleh Baihaqi menunjukkan bahwa para Sahabat mengartikan ramalan yang diuraikan dalam ayat ini dengan arti lain: “Gelang-gelang milik Kisra, Raja Persia, diserahkan kepada Sayyidina ‘Umar, dan beliau menyuruh Suraqah bin Malik supaya memakai gelang itu, dan ia mengucapkan alhamdulillâh”. Adapun alasan Sayyidina ‘Umar menyuruh Surakah memakai gelang emas itu, diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Hadits lain, yang menurut Hadits itu Nabi Suci bersabda kepada Suraqah: “Bagaimana perasaanmu jika engkau memakai gelangnya Raja Kisra?” (Khashâ’ishul-Kubrâ, jilid II hlm. 113). []
  19. Kata ‘âkif dapat pula berarti penduduk kota Makkah, dan kata bâd berarti penduduk padang pasir, atau kata ‘âkif dapat berarti pula orang yang selamanya menetap di Masjid Suci, dan kata bâd berarti orang yang kadang-kadang mengunjungi Masjid Suci. Karena Masjid Suci dikuasai oleh kaum kafir, mereka merintangi kaum Muslimin untuk memakai Masjid Suci itu. Mereka diberitahu bahwa keadaan itu akan segera berakhir, karena Masjid Suci harus terbuka bagi para pengunjung, dan ini hanya dapat terlaksana apabila kaum Muslimin menjadi penguasa Masjid Suci itu. []
  20. Ayat ini ditujukan kepada Nabi Suci, yang mengandung ramalan yang kuat, bahwa kota Makkah akan menjadi pusat yang akan didatangi orang-orang untuk menjalankan ibadah haji. Ini justeru diumumkan pada waktu Nabi Suci diusir dari Makkah oleh musuh-musuh beliau, yang menjadi penguasa tunggal kota itu. Justru tatkala kota Makkah tampak kehilangan segala kemungkinan untuk menjadi pusat agama Islam, dan tatkala kaum Muslimin sendiri berada dalam bahaya akan dibinasakan sama sekali, diundangkanlah ramalan yang kuat dengan kata-kata yang amat tajam, bahwa Islam akan tersiar di seluruh dunia, dan kota Makkah akan menjadi pusat dunia, yang akan dikunjungi oleh orang-orang yang menjalankan ibadah haji dari segala bangsa. []
  21. Di sini khusus disebutkan unta yang kurus untuk menunjukkan jarak jauh yang harus ditempuh oleh orang-orang yang menjalankan ibadah haji. Ditambahkannya kalimat dari tiap-tiap jalan yang jauh menunjukkan bahwa orang-orang akan datang dari penjuru dunia yang jauh-jauh. []
  22. Ibadah kurban adalah suatu ibadah yang harus dihubungkan dengan ibadah haji, karena setiap orang yang menjalankan ibadah haji harus mengurbankan binatang ternak. Jadi ini adalah ajaran Kurban yang diajarkan dalam ibadah haji. Perlu ditambahkan di sini bahwa ibadah haji menggema di seluruh dunia Islam, karena setiap orang Islam yang mampu, diharuskan mengurbankan binatang ternak pada waktu musim haji; pokok persoalan ini dibicarakan lagi dalam ruku’ berikutnya. []
  23. Disebutnya Ka’bah sebagai Rumah Kuno dalam ayat ini dan ayat 33, menunjukkan bahwa Ka’bah itu begitu tua, hingga Ka’bah itu dikenal di seluruh Tanah Arab dengan sebutan Rumah Kuno, yang menunjuk kepada usianya yang amat kuno sekali; lihatlah tafsir nomor 168a. []
  24. Ajaran agama tentang kurban, walaupun tak sama bentuknya, dijalankan oleh segala bangsa di dunia. Tetapi menurut agama Islam, kurban itu mempunyai arti yang dalam. Bentuk lahirnya tetap dijalankan seperti pada zaman dahulu, tetapi menurut Islam, kurban itu tidak lagi mengandung maksud seperti agama yang sudah-sudah, misalnya, untuk meredakan murka Tuhan, atau untuk menebus dosa. Menurut Islam, kurban itu untuk kepentingan orang yang berkurban itu sendiri; jadi kurban itu menjadi perlambangnya orang yang siap untuk mengorbankan nyawanya bila itu diperlukan, dan mengorbankan segala barang yang dicintai dan disenangi guna membela Kebenaran. Oleh sebab itu, ayat yang menerangkan bab kurban, segera disusul dengan ayat yang memerintahkan supaya berserah diri sepenuhnya kepada Allah Yang Maha-esa, yaitu satu-satunya Yang pantas dijadikan tujuan hidup dan tujuan kecintaan. []
  25. Pada waktu orang memotong binatang yang dikurbankan, orang harus menyebut nama Allah; adapun yang dimaksud ialah agar hati mereka merasa gemetar pada waktu menyebut nama itu. Jadi, pada saat mengurbankan binatang yang ia kuasai, hendaklah seseorang sadar akan betapa pentingnya mereka mengurbankan jiwanya di jalan Allah, Yang menguasai segala sesuatu. Oleh sebab itu, ayat yang menerangkan kurban segera disusul dengan ayat yang menyuruh kaum mukmin supaya berlaku sabar dan tabah pada waktu mendapat cobaan Tuhan. Jadi mengurbankan binatang mengingatkan kepada manusia supaya ia siap mengorbankan hidupnya guna membela Kebenaran. []
  26. Arti yang terkandung di sini sama dengan arti yang terkandung dalam ayat sebelumnya. Unta yang dibawa ke Makkah untuk dikurbankan oleh orang yang menjalankan ibadah haji, di sini dinyatakan sebagai tanda bukti lahiriah agama Allah yang benar, yakni agama berserah diri sepenuhnya kepada Allah, dan mengorbankan segala yang ia miliki di jalan Allah, sekalipun nyawanya sendiri. []
  27. Daging binatang yang dikurbankan tak boleh disia-siakan, tetapi hendaklah dibagikan kepada fakir miskin. Mengubur daging kurban yang banyak sekali jumlahnya di Makkah pada musim haji tidaklah selaras dengan perintah Qur’an Suci dan Hadits Nabi, padahal itu dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. []
  28. Ayat ini menetapkan dengan pasti bahwa yang diterima oleh Allah bukanlah kurban dalam bentuk lahir, melainkan yang diterima ialah arti terdalam yang menjadi dasarnya kurban itu. Hendaklah diingat bahwa gagasan tentang penebusan dosa, tak dikenal dalam kurban secara Islam. Yang disuruh berkurban oleh Islam hanyalah orang- orang yang tulus. Hal ini diisyaratkan dalam ayat yang berbunyi: yang mencapai Dia adalah taqwa kamu. []
  29. Mulai ayat ini, yaitu ayat terakhir ruku’ ini, diketengahkan pokok persoalan baru tentang hal perang di jalan Allah, yang dibahas panjang lebar dalam ruku’ berikutnya. Ini menerangkan tentang hubungan antara dua pokok persoalan. Setelah membahas pokok persoalan tentang kurban secara teori, kaum Muslimin benar-benar dipersiapkan untuk melaksanakan kurban dalam praktek. Oleh sebab itu mereka diberitahu bahwa waktunya sudah dekat tatkala mereka diharuskan mengorbankan nyawanya untuk membela Kebenaran, yang kini diusahakan hendak dibasmi oleh pihak musuh. Oleh karena itu sebagai kelanjutan yang tepat dari ajaran kurban ialah perang untuk membela Kebenaran, karena perang itu menjelaskan arti yang dalam tentang kurban, dan mewujudkan ajaran kurban dalam praktek. []
  30. Menurut riwayat Hadits yang sahih, ayat ini merupakan ayat permulaan yang mengizinkan perang kepada kaum Muslimin. Tak ada bukti yang menunjukkan bahwa ayat ini diturunkan di Makkah. Di samping itu, dengan diwahyukannya ayat ini, maka pada saat bai’at Aqabah dilakukan, Nabi Suci meminta orang-orang Madinah untuk berjanji bahwa mereka akan membela Nabi Suci dari serangan musuh seperti halnya mereka membela anak-anak mereka sendiri. Kata-kata ayat yang mengizinkan perang kepada kaum Muslimin, menunjukkan seterang-terangnya, bahwa perang itu mula-mula dilancarkan oleh pihak musuh terhadap kaum Muslimin. Kedua, kaum Muslimin telah menderita penindasan yang berat di tangan pihak musuh. Kata-kata ayat berikutnya yang berbunyi: orang-orang yang diusir dari rumah mereka, dapat ditujukan kepada pengungsian kaum Muslimin ke Abisinia atau hijrah ke Madinah, yang dimulai segera setelah bai’at Aqabah. []
  31. Kemerdekaan beragama yang telah ditegakkan oleh Islam empat belas abad yang lampau, belum pernah diungguli oleh bangsa apa pun yang paling beradab dan paling toleran sekalipun. Perlu sekali diingat, bahwa kaum Muslimin harus mengorbankan nyawanya bukan saja untuk menghentikan penindasan pihak musuh dan menyelamatkan Masjid mereka, melainkan pula untuk menyelamatkan Gereja, Kanisah dan Biara; pendek kata, untuk menegakkan kemerdekaan beragama dengan sempurna. Masjid-masjid, walaupun di dalamnya paling banyak disebut nama Allah, namun dalam urutan perlindungan, dijatuhkan sesudah perlindungan terhadap Gereja, Biara dan Kanisah. Kaum Muslimin zaman permulaan mengikuti petunjuk itu sebaik-baiknya, dan tiap-tiap komandan pasukan memberi perintah kepada bawahannya supaya menghormati segala rumah ibadah, bahkan harus menghormati pula biara, para rahib berikut para penghuninya. []
  32. Hendaklah diingat bahwa Qur’an berulangkali membicarakan orang buta, orang tuli dan orang mati dengan arti buta rohaninya, tuli rohaninya dan mati rohaninya sebagaimana dinyatakan seterang-terangnya di sini. []
  33. Tak sangsi lagi bahwa orang yang dibicarakan di sini ialah para musuh Kebenaran yang akan datang di kemudian hari, yang menghalangi kemajuan Islam selama seribu tahun. Bandingkanlah dengan tafsir nomor 1602 dan 1603. Kemudian Islam selama seribu tahun, dibicarakan lagi dalam 32:5; lihatlah tafsir nomor 1959. []
  34. Di sini sebagian mufassir kurang hati-hati, mereka membuat dongengan palsu yang oleh tukang kritik Kristen disebut “kekhilafan Nabi Suci”. Mereka berkata bahwa dalam peristiwa ini Nabi Suci mengakui bahwa berhala yang disembah oleh orang-orang Arab dapat menjadi perantara orang-orang Arab dengan Allah Ta’ala. Peristiwa semacam itu tak pernah terjadi, ini diuraikan dalam tafsir nomor 2328. Dongengan itu ditolak oleh para mufassir yang sehat dan dapat dipercaya. Ibnu Katsir berkata: “Banyak mufassir yang di sini membuat dongengan tentang gharânîq …. Tetapi dongeng itu diambil dari sumber yang tak dapat ditelusur sampai ke salah seorang Sahabat”. Menurut Imam Razi, para mufassir yang berniat teliti dan benar, berkata bahwa dongengan itu palsu dan bikin-bikinan belaka. Bd juga mempunyai pendapat yang sama.
    Ayat ini tak berarti, dan tak mungkin berarti bahwa pada waktu seorang Nabi membaca suatu wahyu, setan memasukkan kata-katanya sendiri ke dalam wahyu yang sedang dibaca itu. Sungguh tidak masuk akal, dan Qur’an pun membantahnya dengan ayat: “Ia tak membeberkan rahasia-Nya kepada seorang pun, kecuali kepada seorang Utusan yang Ia pilih, karena sesungguhnya Ia membuat pengawal dan penjaga dia di depannya dan di belakangnya, sehingga Ia tahu apa yang sungguh-sungguh mereka sampaikan tentang risalah Tuhan mereka” (72:26-28). Selain itu, tak masuk akal bahwa peristiwa yang penting, yaitu tentang pengakuan Nabi Suci bahwa berhala dapat bertindak sebagai perantara, itu baru disebutkan dalam Qur’an setelah delapan tahun terjadi. Surat 53, yang di dalamnya dikatakan terjadi perubahan (tentang sikap Nabi Suci), itu diturunkan sebelum tahun kelima Bi’tsah, sedangkan Surat ini diturunkan pada malam hari menjelang hijrah Nabi Suci dari Makkah ke Madinah. Selama waktu yang panjang itu, lebih separuh Qur’an telah diturunkan, namun tak ada satu ayat pun yang meriwayatkan dongengan semacam itu; dan itu bahwa tak perlu disebutkan dalam Surat yang bukan pada tempatnya, ini sudah cukup sebagai alasan untuk menolak dongengan semacam itu.
    Marilah sekarang kita teliti kata-kata ayat ini. Menurut semua kitab kamus, kata tamannâ berarti ia mempunyai keinginan, dan menurut T, kata tamannî berarti keinginan untuk meraih sesuatu yang disenangi oleh seseorang. Nah, apa yang diingini oleh setiap Nabi ialah menegakkan Kebenaran yang diwahyukan kepadanya, dan keinginan setiap Nabi inilah yang dianggap oleh setan, dengan jalan menghasut manusia, meniupkan bisikan jahat kepadanya, sebagaimana diuraikan dalam ayat ini, sekedar untuk melawan Kebenaran. Inilah arti yang sebenarnya dari ayat ini. Hal ini dapat dilihat dalam konteks ayat yang membahas ditegakkannya Kebenaran, dan keinginan para musuh untuk menghancurkan Kebenaran. Lihatlah ayat sebelumnya yang mengutuk orang yang memerangi Kebenaran di muka bumi. Dan dalam ayat ini kita diberitahu bahwa rencana pihak musuh akan digagalkan, dan Kebenaran akan ditegakkan di muka bumi []
  35. Perlawanan setan terhadap Nabi Suci merupakan cobaan Tuhan terhadap orang yang lemah jiwanya, yang tak tahan menghadapi penganiayaan musuh yang kelewat batas. []
  36. []
  37. Kata ‘aqîm jika diterapkan terhadap rahim ibu, artinya mandul; jika diterapkan terhadap angin artinya tak dapat membuahkan (LL). Oleh sebab itu kata-kata hun ‘aqîm dalam 51:41, artinya angin yang membinasakan; dan kata ‘aqîm dalam ayat ini berarti hari yang membinasakan, yaitu hari yang tak membawa kebaikan. Ayat ini dan ayat berikutnya adalah ramalan tentang tegaknya Kebenaran — yaitu tegaknya Kerajaan Allah dan kalahnya kekuatan jahat. []
  38. Hanya karena di sini dicantumkan kata hâjarû (hijrah) tidaklah menunjukkan bahwa ayat ini diturunkan di Makkah, karena hijrahnya kaum Muslimin ke Abisinia terjadi pada tahun kelima Bi’tsah. Selain itu, hendaklah diingat, bahwa pada waktu kaum Muslimin hijrah ke Madinah, hanya Nabi Suci, Sayyidina Abubakar dan Sayyidina ‘Ali sajalah yang berangkat dari Makkah paling akhir. Seorang pemimpin sejati dan murah hati, berangkat paling belakang untuk melihat para pengikutnya yang setia berangkat lebih dulu, sehingga keselamatan mereka dapat dijamin. Tak sangsi lagi apabila Nabi Suci berangkat mendahului para pengikutnya, niscaya mereka akan menjumpai kesukaran akan nasib mereka di tangan pihak musuh yang marah. Kata-kata ayat yang berbunyi orang-orang yang hijrah karena Allah lalu dibunuh atau mati, ini terang sekali suatu ramalan. []
  39. Ayat ini memberi izin kepada kaum Muslimin yang telah lama dikejar-kejar dan ditindas untuk menghukum musuh mereka. Tetapi di samping itu, kaum Muslimin dianjurkan supaya memberi ampun dan memberi maaf, sehubungan dengan dicantumkannya dua sifat Tuhan pada akhir ayat. []
  40. Nampaknya yang dituju oleh silih bergantinya siang dan malam di sini ialah, perputaran nasib yang diisyaratkan dalam ayat sebelumnya, karena umat yang ditindas tak dapat menghukum orang yang menindas, terkecuali jika umat itu berhasil menguasai mereka. Penguasaan terhadap mereka diisyaratkan dalam dua sifat Tuhan yang dicantumkan pada akhir ayat. Ayat berikutnya juga mengandung maksud seperti itu. []
  41. Bagian pertama ayat ini menjanjikan kemenangan kepada kaum Muslimin, sedang bagian terakhir ayat ini memperingatkan kepada para musuh bahwa Allah menahan jatuhnya siksaan kepada mereka untuk sementara waktu, karena Ia adalah Yang Maha-belas kasih dan Yang Maha-penyayang kepada manusia. Kata menahan langit artinya menahan siksaan yang diancamkan kepada para musuh, bahwa itu akan dijatuhkan dari langit kepada mereka. []
  42. Suatu prinsip bahwa semua orang akan diberi cahaya rohani itu diulang berkali-kali dalam Qur’an Suci. []
  43. Ayat ini menerangkan, bahwa Tuhan palsu tak mampu menciptakan barang hidup, sekalipun dalam bentuk yang paling rendah. Demikian pula tak dapat menjalankan kontrol sedikit pun terhadap makhluk. Di samping itu, ayat ini juga mengandung ramalan yang terang bahwa tuhan-tuhan palsu (berhala) akan disingkirkan dari Masjid Suci dan baik yang disembah maupun para penyembahnya akan dibikin tak berdaya. []
  44. 1710a Pembacaan ayat ini diikuti dengan sujud sungguh-sungguh. Lihatlah tafsir nomor 978.
    Yang dituju oleh kata sebelumnya, ialah wahyu Nabi Ibrahim, yang berdoa agar di antara keturunan beliau timbul suatu umat yang muslim (2:128). Adapun yang dituju oleh kalimat dalam ini ialah Al-Qur’an. Adapun arti kata Islâm dan muslim, lihatlah tafsir nomor 156 dan 400. Akar katanya ialah salm dan silm, yang dua-duanya berarti damai (R). Oleh karena itu, orang Islam ialah orang yang menempuh hidup damai, yaitu damai dengan Allah, artinya berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah, dan damai dengan sesama manusia, yang artinya tak berbuat bencana kepada sesama manusia, sebagaimana diterangkan dalam Hadits (B. 2:3).
    1711a Bandingkanlah dengan 2:143 yang di sana digunakan pula kata-kata yang sama. Adapun artinya ialah, bahwa umat Islam itu ditentukan untuk memegang peran sebagai imam bagi segenap manusia. Lihatlah tafsir nomor 183.[] []

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *