Home / Al-Quran / 005 Al Maidah

005 Al Maidah

SURAT 5

Al Maidah: Hidangan

(Diturunkan di Madinah, 16 ruku’, 120 ayat)

 

Mukaddimah Surah Buka

Ruku’ 1: Kesempurnaan agama pada Islam

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih

 

1. Wahai orang-orang yang beriman, tepatilah janji.656 Dihalalkan kepada kamu binatang ternak, kecuali apa yang dibacakan kepada kamu, dengan tak melanggar larangan berburu pada waktu kamu sedang menjalankan haji.657 Sesungguhnya Allah itu mengatur apa yang Ia kehendaki.

 

2. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar tanda-tanda Allah,658 dan jangan pula (melanggar) Bulan Suci, dan jangan pula (mengganggu) binatang kurban, dan jangan pula binatang kurban yang dikalungi bunga,659 dan jangan pula (mengganggu) orang-orang yang sedang berkunjung ke Rumah Suci untuk mencari anugerah dan perkenan Tuhan mereka. Dan jika kamu selesai menjalankan ibadah haji, maka berburulah. Dan janganlah kebencian orang-orang dengan menghalang-halangi kamu dari Masjid Suci — menyebabkan kamu melanggar batas. Dan tolong-menolonglah dalam kebajikan dan kebaktian, dan janganlah kamu tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan,660 dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu keras sekali pembalasan(-Nya).

 

3. Diharamkan kepada kamu bangkai, dan darah, dan daging babi, dan apa yang (disembelih) dengan disebut selain (nama) Allah, dan binatang yang mati terjerat, dan binatang yang mati karena dipukul, dan binatang yang mati karena jatuh, dan binatang yang mati karena tertanduk, dan binatang yang diterkam oleh binatang buas, kecuali apa yang kamu sembelih;661 dan binatang yang disembelih di atas mezbah662 (untuk berhala) dan apa yang kamu bagi dengan anak panah;663 ini adalah perbuatan durhaka. Pada hari ini orang-orang kafir merasa putus asa tentang agama kamu, maka janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kamu Agama kamu dan Aku lengkapkan nikmat-Ku kepada kamu dian Aku pilihkan untuk kamu Islam sebagai agama.664 Akan tetapi barangsiapa terpaksa karena kelaparan, bukan cenderung akan dosa, maka sesungguhnya Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

 

4. Mereka bertanya kepada engkau tentang apa yang dihalalkan kepada mereka. Katakanlah: Yang dihalalkan kepada kamu ialah barang yang baik-baik dan apa yang kamu ajarkan kepada binatang buas dan burung buas, dengan dilatihnya untuk berburu — kamu mengajarkan tentang apa yang Allah ajarkan kepada kamu; maka itu makanlah apa yang ditangkapnya untuk kamu dan sebutkan nama Allah atas itu; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-cepat dalam perhitungan.665

 

5. Pada hari ini dihalalkan kepada kamu (semua) barang yang baik. Dan makanan kaum Ahli Kitab halal bagi kamu, dan makanan kamu juga halal bagi mereka.666 Demikian pula wanita yang suci di antara kaum mukmin, dan wanita yang suci di antara kaum Ahli Kitab sebelum kamu667 jika kamu berikan kepada mereka maskawin mereka, dengan mengawini (mereka), bukan dengan zina dan bukan dengan diam-diam mengambil mereka sebagai gundik. Dan barangsiapa menolak iman,668 maka sungguh sia-sialah amalnya; dan di Akhirat ia termasuk golongan orang yang rugi.

Ruku’ 2: Kewajiban bertindak jujur

 

6. Wahai orang yang beriman, apabila kamu hendak berdiri shalat, cucilah muka kamu dan tangan kamu hingga siku, dan sapulah kepala kamu, dan (cucilah) kaki kamu hingga dua mata kaki. Dan jika kamu junub,668a maka bersihkanlah (tubuh kamu). Dan jika kamu sakit atau sedang bepergian, atau (jika) salah seorang di antara kamu datang dari jamban, atau setelah kamu menjamah wanita, dan kamu tak menemukan air, maka bertayamumlah dengan debu yang suci, maka sapulah muka kamu dan tangan kamu dengan itu. Allah tak bermaksud hendak meletakkan beban atas kamu, tetapi Dia hanya bermaksud hendak menyucikan kamu dan melengkapkan nikmat-Nya kepada kamu agar kamu berterima kasih.

 

7. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kamu dan perjanjian-Nya, yang ia ikatkan kepada kamu tatkala kamu berkata: Kami mendengar dan kami taat.669 Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah tahu apa yang ada dalam hati.

 

8. Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang jujur karena Allah, (jadilah kamu) saksi yang adil; dan janganlah kebencian orang-orang mendorong kamu untuk berlaku tak adil. Berlaku adillah kamu; ini lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-waspada akan apa yang kamu lakukan.

 

9. Allah menjanjikan kepada orang-orang beriman dan berbuat baik, bahwa mereka akan memperoleh pengampunan dan ganjaran yang besar.

 

10. Adapun orang-orang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka adalah kawan Api yang menyala.

 

11. Wahai orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah kepada kamu tatkala orang-orang memutuskan untuk membentangkan tangan mereka melawan kamu, tetapi Ia menahan tangan mereka dari kamu; dan bertaqwalah kepada Allah. Dan kepada Allah hendaklah kaum mukmin bertawakal.670

Ruku’ 3: Kaum Kristen ingkar janji

 

12. Dan sesungguhnya Allah telah membuat perjanjian dengan kaum Bani Israil, dan Kami bangkitkan di antara mereka dua belas pemimpin.671 Dan Allah berfirman: Sesungguhnya Aku menyertai kamu. Jika kamu menegakkan shalat dan membayar zakat dan beriman kepada Utusan-Ku dan membantu mereka dan mempersembahkan kepada Allah persembahan yang baik, niscaya Aku menutupi perbuatan kamu yang buruk, dan Aku memasukkan kamu dalam Taman yang di dalamnya mengalir sungai-sungai. Tetapi barangsiapa di antara kamu kafir sesudah itu, ia sungguh-sungguh tersesat dari jalan yang benar.672

 

13. Tetapi karena ingkar mereka akan janji mereka, mereka Kami kutuk, dan hati mereka Kami bikin keras. Mereka mengubah beberapa kalimat dari tempatnya, dan melalaikan bagian yang dengan itu mereka diperingatkan. Dan engkau akan selalu menemukan pengkhianatan di kalangan mereka, terkecuali hanya sedikit di antara mereka — maka maafkanlah dan ampunilah mereka. Sesungguhnya Allah itu suka kepada orang yang berbuat baik (kepada orang lain).

 

14. Dan di antara mereka ada yang berkata, kami ini orang Kristen, Kami telah membuat perjanjian dengan mereka,673 tetapi mereka melalaikan sebagian dari apa yang dengan itu mereka diperingatkan; maka dari itu Kami bangkitkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari Kiamat. Dan Allah akan memberi tahukan kepada mereka apa yang mereka lakukan.674

 

15. Wahai kaum Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Utusan Kami, yang menjelaskan kepada kamu banyak hal yang kamu sembunyikan tentang Kitab, dan mengabaikan banyak lagi.675 Sesungguhnya telah datang dari Allah kepada kamu, cahaya dan Kitab yang terang.676

 

16. Dengan itu, Allah memimpin pada jalan keselamatan kepada siapa yang mengikuti perkenan-Nya, dan mengeluarkan mereka dari gelap ke sinar terang dengan izin-Nya, dan memimpin mereka pada jalan yang benar.

 

17. Sungguh kafir orang yang berkata: Sesungguhnya Allah, Dia itu Masih bin Maryam. Katakanlah: Lalu siapakah yang dapat menguasai sesuatu untuk menentang Allah, jika Ia menghendaki untuk membinasakan Masih bin Mar­yam dan ibunya dan sekalian manusia di bumi?677 Dan kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya adalah kepunyaan Allah. Ia menciptakan apa yang Ia kehendaki. Dan Allah itu Yang berkuasa atas segala sesuatu.

 

18. Kaum Yahudi dan kaum Nasrani berkata: Kami adalah putra Allah dan kekasih-Nya. Katakanlah: Mengapa Ia menyiksa kamu karena dosa kamu?678 Tidak, kamu hanyalah manusia biasa di antara mereka yang Ia ciptakan. Ia memberi ampun kepada siapa yang Ia kehendaki dan memberi siksaan kepada siapa yang Ia kehendaki.679 Dan kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya adalah kepunyaan Allah; dan kepada-Nyalah tempat kembali terakhir.

 

19. Wahai kaum Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Utusan Kami yang memberi penjelasan kepada kamu setelah terjadinya penghentian para Utusan,680 agar kamu tak berkata: Kami tak kedatangan orang yang mengemban kabar baik dan juru ingat. Sesungguhnya telah datang kepada kamu orang yang mengemban kabar baik dan juru ingat. Dan Allah itu Yang berkuasa atas segala sesuatu.

Ruku’ 4: Bangsa Israil ingkar janji

 

20. Dan tatkala Musa berkata kepada kaumnya: Wahai kaumku, ingatlah akan nikmat Allah kepada kamu tatkala Ia membangkitkan para Nabi di antara kamu, dan membuat kamu raja, dan memberikan kamu apa yang tak Ia berikan kepada satu jua pun di antara bangsa-bangsa.681

 

21. Wahai kaumku, masuklah ke Tanah Suci yang telah Allah tentukan untuk kamu, dan janganlah kamu berbalik punggung, karena jika demikian, kamu akan kembali sebagai orang yang rugi.

 

22. Mereka berkata: Wahai Musa, di sana terdapat kaum yang gagah perkasa, dan kami tak akan masuk ke sana sampai mereka keluar dari sana; jika mereka keluar dari sana, niscaya kami akan masuk.682

 

23. Dua orang dari golongan orang yang takut (kepada Allah) yang telah Allah berikan nikmat kepadanya, berkata: Masuklah melawan mereka melalui pintu, karena jika kamu memasuki itu, kamu akan menang, dan bertawakallah kepada Allah jika kamu mukmin.683

 

24. Mereka berkata: Wahai Musa, kami selamanya tak akan masuk ke sana selama mereka masih berada di sana; maka pergilah engkau dan Tuhan dikau, dan bertempurlah; kami akan duduk saja di sini.

 

25. Ia (Musa) berkata: Tuhanku, aku tak dapat menguasai siapa pun selain diriku dan saudaraku; maka pisahkanlah antara kami dan kaum yang durhaka.684

 

26. Ia berfirman: (Tanah Suci) ini diharamkan kepada mereka empat puluh tahun — mereka akan mengembara di bumi. Maka janganlah engkau berduka cita terhadap kaum yang durhaka.685

Ruku’ 5: Kabil dan Habil, komplotan untuk membunuh Nabi Suci

 

27. Dan ceritakanlah kepada mereka dengan benar tentang riwayat dua putra Adam. Tatkala mereka menyajikan kurban, tetapi yang diterima hanyalah dari yang satu di antara mereka, dan dari yang lain tak diterima. Ia berkata: Sesungguhnya aku akan membunuh engkau. (Yang lain) berkata: Allah akan menerima dari orang yang bertaqwa.686

 

28. Jika engkau merentangkan tangan dikau kepadaku untuk membunuhku, aku tak akan merentangkan tanganku untuk membunuh engkau. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan sarwa sekalian alam.

 

29. Sesungguhnya aku lebih suka bahwa engkau akan memikul dosa karena membunuhku dan dosamu sendiri,687 lalu engkau akan menjadi golongan penghuni Api; dan itulah pembalasan kaum lalim.

 

30. Akhirnya jiwanya dibuat mudah baginya untuk membunuh saudaranya, maka ia membunuh dia; maka dari itu ia menjadi golongan orang yang rugi.

 

31. Lalu Allah mengutus burung gagak menggaruk-garuk tanah untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana untuk menanam mayat saudaranya.688 Ia berkata: Aduhai! Celaka aku! Apakah aku tak mampu berbuat seperti burung gagak itu dan menanam mayat saudaraku? Demikianlah ia menjadi golongan orang yang menyesal.

 

32. Oleh sebab itu Kami tetapkan kepada Bani Israil bahwa barangsiapa membunuh orang, kecuali jika orang itu membunuh orang lain atau berbuat rusak di bumi, ia seakan-akan membunuh manusia semua. Dan barangsiapa menyelamatkan orang, maka ia seakan-akan menyelamatkan manusia semua.689 Dan sungguh telah datang kepada mereka para Utusan-Ku dengan tanda bukti, tetapi sesudah itu, kebanyakan mereka berbuat melebihi batas di bumi.

 

33. Adapun hukuman orang yang memerangi Allah dan Utusan-Nya dan berbuat rusak di bumi,690 mereka harus dibunuh atau disalib atau dipotong tangan mereka atau kaki mereka berselang-seling, atau dipenjara.691 Inilah kehinaan bagi mereka di dunia, dan di Akhirat mereka akan mendapat siksaan yang berat.

 

34. Terkecuali mereka yang bertobat sebelum kamu mengalahkan mereka;692 maka ketahuilah bahwa Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

Ruku’ 6: Hukuman bagi orang yang melanggar

 

35. Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan carilah cara-cara mendekat kepada-Nya; dan berjuanglah di jalan-Nya agar kamu beruntung.

 

36. Sesungguhnya orang-orang kafir, sekali pun mereka mempunyai apa yang ada di bumi semuanya, dan ditambah sebanyak itu lagi, agar dengan itu mereka dapat menebus siksaan pada hari Kiamat, ini tak akan diterima dari mereka; dan mereka akan mendapat siksaan yang pedih.

 

37. Mereka ingin sekali keluar dari Api, dan mereka tak dapat keluar dari sana; dan bagi mereka adalah siksaan yang sangat lama.

 

38. Adapun pencuri pria dan pencuri wanita, potonglah tangan mereka sebagai hukuman atas perbuatan mereka, hukuman teladan dari Allah. Dan Allah itu Yang Maha-perkasa, Yang Maha-bijaksana.693

 

39. Tetapi barangsiapa bertobat setelah berbuat lalim dan memperbaiki diri, Allah akan kembali kepadanya (dengan kasih sayang). Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

 

40. Apakah engkau tak tahu bahwa Allah itu Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi? Ia menyiksa siapa yang Ia kehendaki dan mengampuni siapa yang Ia kehendaki. Dan Allah itu Yang berkuasa atas segala sesuatu.

 

41. Wahai Utusan, janganlah engkau merasa susah terhadap mereka yang buru-buru menjadi kafir dari kalangan orang yang berkata dengan mulut mereka: Kami beriman, tetapi hati mereka tak beriman; demikian pula dari kalangan kaum Yahudi — mereka adalah orang yang mendengarkan demi untuk membuat kebohongan, orang yang mendengarkan untuk orang lain yang tak datang kepada engkau.694 Mereka mengubah kata-kata setelah itu ditaruh di tempat (yang benar), mereka berkata: Jika kamu diberi ini, ambillah itu dan jika kamu tak diberi ini, maka berhati-hatilah kamu. Dan barangsiapa Allah bermaksud mengujinya, engkau tak mempunyai kekuasaan sedikit pun untuk melawan Allah guna kepentingan dia. Mereka adalah orang yang Allah tak berniat menyucikan hati mereka. Mereka memperoleh kehinaan di dunia, dan mereka mendapat siksaan yang berat di Akhirat.

 

42. Mereka suka mendengarkan demi membuat kebohongan, mereka suka makan barang haram, maka dari itu jika mereka datang kepada engkau, berilah pengadilan antara mereka, atau berpalinglah dari mereka. Dan jika engkau berpaling dari mereka, mereka tak dapat membencanai engkau sedikit pun. Dan jika engkau mengadili (mereka), adililah mereka dengan adil. Sesungguhnya Allah itu suka kepada orang-orang yang adil.695

 

43. Dan bagaimana mereka membuat engkau hakim, sedangkan mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya berisi hukum Allah? Namun mereka berpaling sesudah itu! Dan mereka bukanlah orang yang beriman.696

Ruku’ 7: Qur’an dan Kitab Suci yang lain-lain

 

44. Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat yang di dalamnya berisi petunjuk dan cahaya.697 Para Nabi yang berserah diri (kepada Allah) mengadili dengan itu kepada orang-orang Yahudi, dan para pendeta dan ulama mereka, karena mereka diharuskan menjaga Kitab Allah,698 dan menjadi saksi atas itu. Maka dari itu janganlah kamu takut kepada manusia, dan takutlah kepada-Ku, dan jangan pula kamu mengambil harga yang rendah sebagai pengganti ayat-ayat-Ku. Dan barangsiapa tak mengadili dengan apa yang telah Allah turunkan, mereka adalah kafir.699

 

45. Dan dalam (Taurat) itu telah Kami tetapkan kepada mereka, bahwa jiwa (harus dibayar) dengan jiwa, dan mata dengan mata, dan hidung dengan hidung, dan telinga dengan telinga, dan gigi dengan gigi, dan terhadap luka adalah pembalasan.700 Tetapi barangsiapa merelakan itu, ini menjadi tebusan bagi dia.701 Dan barangsiapa tak mengadili dengan apa yang Allah turunkan, mereka adalah lalim.

 

46. Dan sesudah mereka, mengikuti jejak mereka, Kami utus ‘Isa bin Maryam, membetulkan apa yang ada sebelum dia, yaitu Taurat; dan Kami berikan kepadanya Injil yang di dalamnya berisi petunjuk dan cahaya, yang membetulkan apa yang ada sebelumnya yaitu Taurat, dan pimpinan dan peringatan bagi orang yang bertaqwa.702

 

47. Dan hendaklah kaum Ahli Injil mengadili dengan apa yang Allah wahyukan di dalamnya. Dan barangsiapa tak mengadili dengan apa yang Allah turunkan, mereka durhaka.

 

48. Dan Kami telah menurunkan kepada engkau Kitab dengan Kebenaran, yang membetulkan apa yang ada sebelumnya tentang Kitab, dan yang menjadi penjaga baginya,703 maka adililah antara mereka dengan apa yang Allah turunkan, dan janganlah engkau menuruti keinginan rendah mereka, (dengan menyimpang) dari kebenaran yang datang kepada engkau. Kepada tiap-tiap orang di antara kamu, telah Kami tetapkan undang-undang dan jalan.704 Dan jika Allah menghendaki, niscaya Ia akan membuat kamu satu umat, tetapi Ia akan menguji kamu dengan apa yang Ia berikan kepada kamu.705 Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Kepada Allah-lah kamu akan kembali, lalu Ia akan memberitahukan kepada kamu apa yang kamu berselisih di dalamnya.

 

49. Dan hendaklah engkau mengadili antara mereka dengan apa yang Allah turunkan, dan jangan engkau menuruti keinginan rendah mereka, dan berhati-hatilah terhadap mereka, agar mereka tak menyesatkan engkau dari sebagian yang Allah turunkan kepada engkau. Lalu jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwa Allah menghendaki untuk menimpakan kemalangan kepada mereka karena sebagian dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia itu durhaka.

 

50. Hukum jahiliahkah yang mereka kehendaki? Dan siapakah yang pengadilannya lebih baik daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?

Ruku’ 8: Hubungan antara kaum Muslimin dan musuh

 

51. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil kaum Yahudi dan kaum Nasrani sebagai kawan. Sebagian mereka adalah kawan sebagian yang lain. Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka sebagai kawan, maka ia adalah golongan mereka. Sesungguhnya Allah itu tak memberi petunjuk kepada kaum yang lalim.706

 

52. Tetapi engkau akan melihat orang-orang yang mempunyai penyakit dalam hati mereka, cepat-cepat masuk dalam golongan mereka, katanya: Kami khawatir kalau-kalau malapetaka menimpa kami.707 Boleh jadi Allah mendatangkan kemenangan atau perintah dari Dia, maka mereka akan menyesali apa yang mereka sembunyikan dalam batin mereka.708

 

53. Dan orang-orang yang beriman berkata: Inikah orang-orang yang bersumpah demi Allah dengan sekuat sumpah mereka, bahwa mereka benar-benar menyertai kamu? Amal mereka tak akan ada buahnya, dan mereka akan menjadi orang yang rugi.709

 

54. Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan kaum yang Allah cinta kepada mereka, dan mereka cinta kepada-Nya, yang rendah hati terhadap kaum mukmin, dan gagah berani terhadap kaum kafir; mereka berjuang di jalan Allah dan tak takut celaan orang yang mencela. Inilah karunia Allah — Ia berikan ini kepada siapa yang Ia kehendaki. Dan Allah itu Yang Maha-luas pemberian-Nya, Yang Maha-tahu.710

 

55. Kawan kamu hanyalah Allah dan Utusan-Nya dan orang-orang yang beriman, yaitu orang yang menegakkan shalat dan membayar zakat, dan mereka berruku’.711

 

56. Dan barangsiapa berkawan dengan Allah dan Utusan-Nya dan orang-orang yang beriman, maka sesungguhnya pasukan Allah itulah yang menang.

Ruku’ 9: Para pengejek

 

57. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu berkawan dengan orang-orang yang mengambil agama kamu untuk tertawaan dan main-main, dari golongan orang-orang yang sebelumnya telah diberi Kitab, dan kaum kafir; dan bertaqwalah kepada Allah jika kamu mukmin.712

 

58. Dan jika kamu menyeru untuk bershalat, mereka menjadikan itu sebagai olok-olok dan main-main. Ini disebabkan karena mereka kaum yang tak mau mengerti.

 

59. Katakanlah: Wahai kaum Ahli Kitab, apakah kamu mengecam713 kami hanya karena kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelum kami, sedang kebanyakan kamu durhaka?

 

60. Katakan: Apakah kuberitahukan kepada kamu yang lebih buruk dari ini tentang pembalasan dari Allah? Yaitu orang yang dilaknati oleh Allah, dan yang Ia murka kepadanya, dan yang Ia jadikan kera dan babi, dan orang yang menyembah setan. Inilah orang yang paling buruk tempatnya, dan yang paling tersesat dari jalan yang benar.714

 

61. Dan apabila mereka datang kepada kamu, mereka berkata: Kami beriman; dan sesungguhnya mereka masuk dengan kekafiran dan keluar dengan (kekafiran) itu. Dan Allah itu Yang Maha-tahu apa yang mereka sembunyikan.

 

62. Dan engkau melihat kebanyakan mereka berlomba-lomba dalam dosa dan durhaka, dan makan perolehan yang tak halal. Sungguh buruk sekali apa yang mereka lakukan.715

 

63. Mengapa para pendeta dan ulama (mereka) tak melarang ucapan mereka yang penuh dosa dan (melarang) makan perolehan yang tak halal? Sungguh buruk sekali apa yang mereka kerjakan.

 

64. Dan kaum Yahudi berkata: Tangan Allah terbelenggu. Tangan mereka itulah yang terbelenggu, dan mereka dikutuk karena apa yang mereka ucapkan. Tidak, kedua Tangan-Nya terbentang lebar.716 Ia memberi nafakah sebagaimana Ia kehendaki. Dan sesungguhnya apa yang diturunkan kepada engkau dari Tuhan dikau, pasti menyebabkan kebanyakan mereka bertambah durhaka dan kafir. Dan Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari Kiamat. Setiap kali mereka menyalakan api untuk perang, Allah memadamkan itu, dan mereka berusaha membuat kerusakan di bumi.716a Dan Allah tak suka kepada orang yang membuat kerusakan.

 

65. Dan sekiranya kaum Ahli Kitab beriman dan bertaqwa, niscaya Kami singkirkan dari mereka keburukan mereka, dan Kami masukkan mereka dalam Taman kenikmatan.

 

66. Dan sekiranya mereka menjalankan Taurat dan Injil dan apa yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka, niscaya mereka akan makan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Dan di antara mereka ada golongan yang tetap berada di jalan tengah; dan kebanyakan mereka — buruk sekali apa yang mereka lakukan.717

Ruku’ 10: Agama Nasrani menyimpang dari Kebenaran

 

67. Wahai Utusan, sampaikanlah apa yang diturunkan kepada engkau dari Tuhan dikau; dan jika engkau tak melakukan itu, engkau tak menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah akan melindungi engkau dari manusia. Sesungguhnya Allah itu tak memberi petunjuk kepada kaum kafir.718

 

68. Katakanlah: Wahai kaum Ahli Kitab, kamu tak mengikuti sesuatu yang baik, sampai kamu menjalankan Taurat dan Injil dan apa yang diturunkan kepada kamu dari Tuhan kamu.719 Dan sesungguhnya apa yang diturunkan kepada engkau dari Tuhan dikau menyebabkan kebanyakan mereka bertambah durhaka dan kafir; maka janganlah engkau berduka cita terhadap kaum kafir.

 

69. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang Yahudi dan Sabi’ah dan Nasrani — siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir dan berbuat baik, —ketakutan tak akan menimpa mereka dan mereka tak akan susah.

 

70. Sesungguhnya Kami telah membuat perjanjian dengan Bani Israil, dan Kami telah mengutus para Utusan kepada mereka. Setiap kali Utusan datang kepada mereka dengan apa yang tak menyenangkan hati mereka, segolongan, mereka dustakan, dan segolongan lagi mereka bunuh.

 

71. Dan mereka mengira bahwa tak akan ada bencana,720 maka mereka menjadi buta dan tuli; lalu Allah kembali kepada mereka dengan kasih sayang, tetapi kebanyakan mereka menjadi buta dan tuli (kembali).721 Dan Allah itu Yang Maha-melihat apa yang mereka lakukan.

 

72. Sungguh kafir mereka yang berkata: Allah, ialah Masih bin Maryam. Dan Masih berkata: Wahai Bani Israil, mengabdilah kepada Allah Tuhanku dan Tuhan kamu.722 Sesungguhnya siapa saja yang menyekutukan Allah, Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempat tinggalnya ialah Neraka. Dan bagi kaum lalim, mereka tak mempunyai penolong.

 

73. Sungguh kafir mereka yang berkata: Allah itu yang ketiga dari tiga.723 Dan tak ada Tuhan selain Tuhan Yang Maha-esa. Dan jika mereka tak mau menghentikan apa yang mereka ucapkan, niscaya orang-orang kafir di antara mereka akan terkena siksaan yang pedih.723a

 

74. Lalu apakah mereka tak akan bertobat kepada Allah dan mohon ampun kepada-Nya? Dan Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

 

75. Masih bin Maryam hanyalah seorang Utusan; sungguh telah berlalu para Utusan sebelum dia. Adapun ibunya adalah wanita tulus. Dua-duanya makan makanan.724 Lihatlah bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat kepada mereka, kemudian lihatlah bagaimana mereka dibelokkan.

 

76. Katakan: Apakah kamu mengabdi kepada selain Allah, yang tak menguasai apa yang merugikan dan menguntungkan kamu? Adapun Allah — Dia ialah Yang Maha-mendengar, Yang Maha-tahu.

 

77. Katakanlah: Wahai kaum Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam agama kamu secara tidak benar, dan jangan pula kamu mengikuti orang-orang zaman dahulu yang tersesat dan menyesatkan banyak orang, dan mereka tersesat dari jalan yang benar.724a

Ruku’ 11: Dekatnya agama Nasrani kepada Islam

 

78. Orang-orang kafir di antara kaum Bani Israil dikutuk oleh mulut Daud dan ‘Isa bin Maryam. Ini disebabkan karena mereka durhaka dan melebihi batas.725

 

79. Mereka tak saling mencegah perbuatan tak senonoh yang mereka lakukan. Sungguh buruk sekali apa yang mereka lakukan.

 

80. Engkau melihat kebanyakan mereka berkawan dengan orang-orang kafir. Sungguh buruk sekali apa yang sebelumnya telah dilakukan oleh jiwa mereka terhadap mereka, sehingga Allah murka terhadap mereka, dan mereka menetap dalam siksaan.

 

81. Dan sekiranya mereka beriman kepada Allah dan Nabi726 dan apa yang diturunkan kepadanya, niscaya mereka tak mengambil (kaum kafir) sebagai kawan, tetapi kebanyakan mereka durhaka.

 

82. Sesungguhnya engkau akan menemukan kaum Yahudi sebagai orang yang paling keras memusuhi orang-orang yang beriman; demikian pula orang-orang musyrik; dan engkau akan menemukan yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman, ialah orang-orang yang berkata: Kami adalah kaum Nasrani. Ini disebabkan karena sebagian mereka adalah pendeta dan rahib, dan karena mereka itu tak sombong.727

 

JUZ VII

83. Dan tatkala mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Utusan, engkau melihat mata mereka mencucurkan air mata karena mengenal kebenaran. Mereka berkata: Tuhan kami, kami beriman, maka tulislah kami bersama mereka yang menyaksikan.728

 

84. Dan mengapa kami tak beriman kepada Allah dan kepada Kebenaran yang telah datang kepada kami, padahal kami sangat mendambakan agar Tuhan kami, memasukkan kami bersama orang-orang yang saleh.

 

85. Maka Allah mengganjar mereka atas apa yang mereka ucapkan, dengan Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, mereka menetap di sana. Dan inilah ganjaran orang yang berbuat baik.

 

86. Adapun orang-orang kafir dan yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka adalah kawan Api yang menyala.

Ruku’ 12: Dosa-dosa umat terdahulu harus menjadi peringatan

 

87. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan barang baik yang Allah halalkan kepada kamu, dan jangan pula kamu melebihi batas. Sesungguhnya Allah tak suka kepada orang yang melebihi batas.729

 

88. Dan makanlah yang halal dan yang baik dari barang yang telah Allah berikan kepada kamu, dan bertaqwalah kepada Allah Yang kepada-Nya kamu beriman.

 

89. Allah tak akan minta pertanggung-jawaban kamu atas sumpah kamu yang untuk main-main, tetapi Ia akan minta pertanggung-jawaban kamu atas sumpah yang dilakukan dengan sengaja; maka tebusannya730 ialah memberi makan sepuluh orang miskin yang seimbang dengan makanan yang kamu berikan kepada keluarga kamu, atau memberi pakaian mereka, atau memerdekakan budak. Tetapi barangsiapa tak menemukan (tak sanggup mengerjakan itu), ia harus berpuasa tiga hari. Inilah tebusan sumpah kamu jika kamu bersumpah. Dan jagalah sumpah kamu.731 Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kamu agar kamu bersyukur.

 

90. Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, dan judi, dan (sesaji) kepada berhala, dan (mengadu nasib dengan) panah731a adalah perbuatan keji dari pekerjaan setan; maka jauhilah itu agar kamu beruntung.732

 

91. Sesungguhnya setan itu hanya ingin membangkitkan permusuhan dan kebencian di antara kamu dengan perantaraan minuman keras dan judi, dan menghalang-halangi kamu dari ingat kepada Allah dan dari shalat. Apakah kamu mau menghentikan (pekerjaan itu)?733

 

92. Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Utusan dan berhati-hatilah. Tetapi jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa tugas Utusan Kami hanyalah untuk menyampaikan risalah yang terang.

 

93. Tak ada cacat bagi orang yang beriman dan berbuat baik tentang apa yang mereka makan734 jika mereka bertaqwa dan beriman dan berbuat baik, lalu mereka bertaqwa dan beriman, lalu bertaqwa dan berbuat baik (kepada orang lain). Dan Allah itu suka kepada orang yang berbuat baik.

Ruku’ 13: Ka’bah tak dapat dilanggar kesuciannya

 

94. Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dalam hal binatang buruan yang diperoleh dengan tangan kamu dan lembing kamu, agar Allah dapat mengetahui siapa yang takut kepada-Nya dalam rahasia. Maka barangsiapa melanggar sesudah ini, ia akan mendapat siksaan yang pedih.

 

95. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan pada waktu kamu menjalankan haji.735 Dan barangsiapa di antara kamu membunuh itu dengan sengaja, maka dendanya ialah binatang ternak yang sama seperti binatang yang dibunuh, sesuai dengan apa yang diputuskan oleh dua orang yang adil di antara kamu, sebagai binatang kurban yang harus dibawa ke Ka’bah; atau, tebusannya ialah memberi makan kaum miskin, atau berpuasa yang seimbang dengan itu, agar ia merasakan akibat perbuatannya yang tak baik. Allah mengampuni apa yang terjadi di waktu lampau. Dan barangsiapa kembali (kepada itu), Allah akan menghukumnya. Dan Allah itu Yang Maha-perkasa, Yang menguasai Pembalasan.

 

96. Dihalalkan kepada kamu binatang buruan laut736 dan makanannya,737 sebagai bekal bagi kamu dan bagi orang yang bepergian, adapun binatang buruan darat itu diharamkan kepada kamu selama kamu menjalankan ibadah haji; dan bertaqwalah kepada Allah, Yang kepada-Nya kamu akan dihimpun.

 

97. Allah telah membuat Ka’bah,738 Rumah Suci, sebagai sendi kekuatan bagi manusia,739 dan bulan suci dan kurban, dan (kurban) yang dikalungi bunga. Demikian itu agar kamu tahu bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan bahwa Allah itu Yang Maha-tahu akan segala sesuatu.

 

98. Ketahuilah bahwa Allah itu keras sekali dalam menghukum (kejahatan), dan bahwa Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

 

99. Tugas Utusan itu hanyalah menyampaikan (risalah). Dan Allah tahu apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.

 

100. Katakanlah: Buruk dan baik itu tak sama, walaupun banyaknya keburukan sangat menyenangkan engkau. Bertaqwalah kepada Allah wahai orang yang berakal, agar kamu beruntung.

Ruku’ 14: Beberapa petunjuk bagi kaum Muslimin

 

101. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu bertanya tentang apa saja yang jika dijelaskan kepada kamu akan menyebabkan kesukaran bagi kamu; dan jika kamu bertanya tentang itu pada waktu Qur’an diturunkan, niscaya itu akan dijelaskan kepada kamu. Allah memaafkan itu; dan Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-penyantun.740

 

102. Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu telah mengajukan pertanyaan semacam itu, lalu dengan itu mereka menjadi kafir.741

 

103. Allah tak membuat aturan tentang bahirah atau saibah atau washilah atau hami, tetapi kaum kafirlah yang membuat-buat kebohongan terhadap Allah. Dan kebanyakan mereka tak mengerti.742

 

104. Dan apabila dikatakan kepada mereka: Mari kepada apa yang telah Allah turunkan dan kepada Utusan, mereka berkata: Sudah cukup bagi kami apa yang kami dapatkan pada ayah kami. Apa! Walaupun ayah mereka tak tahu apa-apa dan tak mengikuti jalan yang benar.

 

105. Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah jiwa kamu — orang yang sesat tak dapat membahayakan kamu jika kamu berada pada jalan yang benar. Kepada Allah kamu semua akan kembali, maka Ia akan memberitahukan kepada kamu apa yang kamu lakukan.

 

106. Wahai orang-orang yang beriman, panggillah saksi di antara kamu apabila kematian mendekati salah seorang di antara kamu pada waktu membuat wasiyat, dua orang yang adil di antara kamu; atau dua orang lain yang bukan dari golongan kamu,743 apabila kamu sedang bepergian di bumi lalu kamu tertimpa bahaya kematian. Hendaklah kamu menahan mereka sesudah shalat. Lalu jika kamu ragu-ragu (tentang mereka), hendaklah mereka bersumpah demi Allah: Kami tak akan mengambil harga yang rendah sebagai pengganti (sumpah) ini, walaupun terdapat hubungan keluarga, dan kami tak akan menyembunyikan kesaksian Allah,744 karena jika demikian, kami akan menjadi golongan orang yang berdosa.

 

107. Jika diketahui bahwa mereka berbuat dosa, maka dua (saksi) lain dari golongan yang menentang dua (saksi) pertama, harus menggantikan tempat mereka; lalu mereka bersumpah demi Allah, kesaksian kami adalah lebih benar daripada kesaksian mereka, dan kami tak melanggar batas, karena jika demikian, kami akan menjadi golongan orang yang lalim.

 

108. Ini adalah lebih dekat (kemungkinannya) bahwa mereka akan memberi kesaksian yang benar,745 atau mereka takut bahwa sumpah yang lain akan diambil setelah sumpah mereka. Dan bertaqwalah kepada Allah dan dengarkanlah. Dan Allah tak memberi petunjuk kepada kaum yang durhaka.

Ruku’ 15: Kecintaan umat Kristen terhadap kehidupan dunia

 

109. Pada hari tatkala Allah mengumpulkan para Utusan dan berfirman: Jawaban apakah yang kamu peroleh? Mereka berkata: Kami tak mempunyai pengetahuan. Sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha-tahu akan barang gaib.746

 

110. Tatkala Allah berfirman: Wahai ‘Isa bin Maryam, ingatlah akan nikmat-Ku kepada engkau dan kepada ibu kau, tatkala Aku kuatkan engkau dengan Roh Suci; engkau berbicara kepada manusia dalam buaian dan dalam usia lanjut; dan (ingatlah) tatkala Aku ajarkan kepada engkau Kitab dan Hikmah dan Taurat dan Injil; dan tatkala engkau membuat barang dari tanah seperti bentuk burung dengan izin-Ku, lalu engkau tiup di dalamnya, maka jadilah itu burung dengan izin-Ku; dan engkau menyembuhkan orang buta dan orang sakit lepra dengan izin-Ku; dan (ingatlah) tatkala engkau membangkitkan orang mati dengan izin-Ku;747 dan tatkala Aku mencegah kaum Bani Israil dari engkau, tatkala engkau mendatangi mereka dengan tanda bukti yang terang — tetapi orang-orang kafir di antara mereka berkata: Sesungguhnya ini hanyalah sihir yang terang.

 

111. Dan tatkala Aku wahyukan kepada para murid (Nabi ‘Isa): Berimanlah kepada-Ku dan kepada Utusan-Ku, mereka berkata: Kami beriman, dan saksikanlah bahwa kami orang yang berserah diri.

 

112. Tatkala para murid (Nabi ‘Isa) berkata: Wahai ‘Isa bin Maryam, apakah Tuhan dikau berkenan menurunkan kepada kami hidangan dari langit?748 Ia berkata: Bertaqwalah kepada Allah jika kamu mukmin.

 

113. Mereka berkata: Kami ingin makan dari (hidangan) itu, dan agar hati kami menjadi tenteram, dan agar kami tahu bahwa sesungguhnya engkau telah berkata benar kepada kami; dan agar kami termasuk golongan orang yang menyaksikan itu.

 

114. ‘Isa bin Maryam berkata: Wahai Allah Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit, yang ini akan menjadi kegembiraan yang senantiasa berulang bagi kami,749 baik bagi yang pertama dari kami maupun yang terakhir dari kami, dan (pula) menjadi tanda bukti dari Engkau; dan berilah kami rezeki, dan Engkau adalah Pemberi rezeki yang paling baik.750

 

115. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menurunkan (hidangan) itu kepada kamu, tetapi barangsiapa di antara kamu kafir sesudah itu, ia akan Aku siksa dengan siksaan yang belum pernah Aku siksakan kepada salah satu di antara bangsa-bangsa.750a

Ruku’ 16: Doktrin yang salah diajarkan setelah Nabi ‘Isa wafat

 

116. Dan tatkala Allah berfirman: Wahai ‘Isa bin Maryam, apakah engkau berkata kepada manusia: Ambillah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?751 Dia menjawab: Maha-suci Engkau! Tak pantas bagiku mengatakan apa yang aku tak berhak (mengatakannya). Jika aku mengatakan itu, Engkau pasti mengetahuinya. Engkau tahu apa yang ada dalam batinku, dan aku tak tahu apa yang ada dalam batin Dikau. Sesungguhnya Engkau Yang Maha-tahu akan barang-barang gaib.

 

117. Aku tak berkata apa-apa kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: Mengabdilah kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu; dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka, tetapi setelah Engkau mematikan aku, Engkaulah Yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Yang Maha-menyaksikan segala sesuatu.752

 

118. Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka hamba Engkau; dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau itu Yang Maha-perkasa, Yang Maha-bijaksana.752a

 

119. Allah berfirman: Ini adalah hari yang orang-orang tulus akan merasakan faedah ketulusan mereka. Mereka memperoleh Taman yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, mereka menetap di sana untuk selama-lamanya. Allah berkenan kepada mereka dan mereka berkenan kepada-Nya. Ini adalah hasil yang besar.

 

120. Kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya adalah kepunyaan Allah; dan Dia itu Yang menguasai segala sesuatu.

  1. Menghormati segala perjanjian, kontrak, persetujuan, persekutuan, yang sama-sama tercakup dalam kata ‘uqûd (jamaknya kata ‘aqd, artinya ikatan, LL), artinya ikatan pula segala peraturan Allah yang dibuat untuk kesejahteraan individu dan masyarakat, adalah kewajiban nomor satu bagi hubungan sosial. Kata ‘uqûd mencakup pula perjanjian yang ditetapkan oleh Allah, dan persetujuan bersama yang dibuat oleh manusia (LL). Jadi, di sini orang diajarkan supaya menghormati undang-undang, baik undang-undang agama maupun undang-undang dunia. []
  2. Larangan berburu pada waktu menjalankan ibadah Haji, ini sehubungan dengan keamanan Ka’bah, sehingga binatang buas pun harus dilindungi keamanannya selama ibadah Haji; lihatlah tafsir nomor 735. Kalimat kecuali apa yang dibacakan kepada kamu, bertalian dengan makanan yang diharamkan, yang diuraikan dalam 2:173; 6:146: 16:115, dan lebih terperinci lagi dalam ayat 3 di sini. []
  3. Sya’â’ir jamaknya sya’irah artinya tanda (R). Kata ini berasal dari sya’âra artinya ia tahu sesuatu; oleh karena itu sya’â’irillah artinya sesuatu, yang melalui sesuatu itu Allah dapat diketahui. Menurut IJ, kalimat ini berarti segala kewajiban yang dibebaskan oleh Allah kepada manusia, mencakup pula segala peraturan, kewajiban, perintah dan larangan Allah. Hasan berkata: Sya’â’irillâh artinya dînullâh atau agama Allah. Segala upacara yang berhubungan dengan ibadah Haji, demikian pula tempat-tempat di mana upacara itu dijalankan, disebut sya’â’irillâh. Oleh sebab itu, dalam 2:158, Shafa dan Marwah juga disebut sya’â’irillâh. []
  4. Hadya jamaknya hadyah artinya apa yang digiring ke Makkah; dan qalâ’id jamaknya qilâdah artinya kalung atau apa yang dikalungkan pada leher binatang, yaitu binatang yang dibawa ke Makkah untuk dijadikan kurban (LA, LL); oleh sebab itu, arti kata qalâ’id ialah binatang yang dikalungi bunga. Kata qalâ’id yang dipakai untuk menggambarkan binatang semacam itu, ini dipakai untuk menyatakan rasa hormat yang setinggi-tingginya terhadap binatang itu, karena binatang itu memakai tanda yang menunjukkan bahwa binatang itu dimaksud untuk dikurbankan. Hendaklah diingat bahwa binatang yang dikalungi bunga hanyalah binatang unta; adapun hadya ini mencakup segala macam binatang yang dikurbankan. []
  5. Ajaran yang digariskan di sini tentang berbuat adil terhadap orang lain, sekalipun terhadap orang yang dibenci, ini patut dipuji. Hukum modern pada zaman modern ini sangat memerlukan ajaran berbuat adil semacam ini. tuntutan perlakuan adil terhadap segala bangsa — baik yang dibenci maupun yang disenangi — ini hanya terdapat dalam Islam saja yang memenuhi syarat sebagai agama internasional. []
  6. Pengecualian ini diterapkan terhadap lima golongan tersebut. Kata infinitif (masdar) tadzkiyah artinya mengeluarkan panas yang berasal dari kodrat. Menurut istilah kata itu berarti menyembelih dengan cara yang sudah ditentukan (R, LL). Adapun yang dimaksud ialah jika binatang itu baru dimakan sebagian oleh binatang buas, dan kedapatan masih hidup, lalu disembelih dengan cara yang benar, dagingnya halal dimakan. []
  7. Menurut Ibnu Juraij, mezbah adalah batu yang dipasang di sekeliling Ka’bah; biasanya binatang yang dikurbankan untuk berhala, dipotong di atas atau di dekat mezbah, darahnya dipercikkan dan dagingnya diletakkan di atas mezbah (Rz). []
  8. Menurut R, istaqsamtuhû artinya aku minta kepadanya supaya membagi, an beliau menambahkan keterangan: “Kemudian perkataan ini digunakan dalam arti pernujuman”. Jika ini yang diambil, maka azlâm (yang makna aslinya anak panah tanpa mata dan tanpa hulu), berarti anak panah tanpa mata, yang dipakai dalam permainan hazard. Bangsa Arab menggunakan anak panah semacam itu untuk membagi daging unta yang dibeli secara kredit (LL). Arti ini cocok sekali dengan kalimat di muka dan di belakangnya, karena ayat ini disebut maisir. Bandingkanlah dengan 6:146 yang menerangkan bahwa menyembelih dengan disebut selain nama Allah, disebut perbuatan durhaka; di sini pun diterangkan bahwa membagi dengan anak panah juga disebut perbuatan durhaka; oleh sebab itu, maka inilah yang paling betul. Boleh jadi, binatang yang dikurbankan untuk berhala itu sesudah disembelih, pembagian dagingnya dilakukan dengan anak panah. Tetapi menurut mufassir lain, kata istaqsamû artinya ingin tahu apa yang akan terjadi pada dirinya melalui azlâm. Apabila orang hendak bepergian, atau hendak melangsungkan perkawinan, atau hendak melakukan sesuatu yang amat penting, ia mencabut anak panah yang mempunyai tulisan: Anak panah kesatu ditulis: “Tuhanku menyuruh aku”, yang kedua ditulis: “Tuhanku melarang aku”, sedang yang nomor tiga tak ditulis apa-apa. Ia melakukan atau tak melakukan perbuatan yang diinginkan, tergantung kepada anak panah yang ia cabut, dan jika yang dicabut kebetulan yang tak ada tulisannya, maka pencabutan anak panah diulangi lagi (Rz). []
  9. Dalil yang menerangkan bahwa ayat ini diturunkan paling akhir, telah kami uraikan dalam kata pengantar Surat ini. Persoalan yang dibahas dalam ayat ini menunjukkan bahwa ayat ini diturunkan menjelang akhir hayat Nabi Suci; oleh sebab itu, semua mufassir berpendapat bahwa sesudah ayat ini, tak ada ayat lagi yang diturunkan. Nabi Suci wafat kira-kira delapan puluh satu atau delapan puluh dua hari sesudah turunnya ayat ini. Ayat ini menjadi bukti yang terang akan sempurnanya agama dalam Islam. Dalam kitab suci agama lain tak ada pengakuan semacam ini. Malahan sebelum datangnya Nabi Suci Muhammad, Nabi ‘Isa berkata: “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yohanes 16:12-13). Jadi Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir, karena agama telah dibuat sempurna dan tak diperlukan lagi datangnya seorang nabi sesudah beliau. []
  10. Binatang yang mati diterkam oleh binatang buas atau burung buas yang sudah dilatih berburu, ini halal dimakan. Tetapi pada waktu melepas binatang buas atau burung buas untuk mencari mangsanya, orang harus menyebut nama Allah. Binatang yang mati dipanah atau ditembak, ini juga halal jika dipenuhi syarat-syarat tersebut. Dalam hal ini, jika binatang tak mati sebelum jatuh di tangan pemburu, binatang itu harus disembelih; tetapi jika itu sudah mati, maka hukumnya juga halal. []
  11. Di sini timbul persoalan, apakah makanan kaum Ahli Kitab itu halal jika makanan itu terang-terangan mengandung barang haram menurut Qur’an. Pertanyaan ini harus dijawab: “Tidak halal”. Barang yang terang-terangan diharamkan, tak mungkin menjadi halal hanya karena dihidangkan oleh kaum Yahudi ataupun kaum Nasrani. Menurut I’Ab, yang dimaksud tha’am di sini ialah dzahibah (binatang yang disembelih) (B. 72:22). Jadi binatang yang disembelih oleh kaum Yahudi atau kaum Nasrani, ini halal dimakan jika disembelih dengan menyebut nama Allah. Jika binatang itu disembelih tanpa menyebut nama Allah, ini menurut sebagian ulama diharamkan, tetapi menurut ulama lain dihalalkan. Lihatlah tafsir nomor 816, yang di sana kami kutip Hadits Bukhari 72:22, yang menerangkan bahwa binatang yang disembelih oleh kaum Ahli Kitab, ini diharamkan jika terdengar bahwa yang menyembelih menyebut nama selain Allah. []
  12. Undang-undang Yahudi maupun undang-undang Nasrani tentang hal ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan undang-undang Islam. Dalam agama Islam, perkawinan dengan kaum penyembah berhala dilarang sama sekali (2:221), tetapi perkawinan dengan orang yang agamanya didasarkan atas kitab suci, yang golongan ini mencakup hampir semua umat di dunia, ini dengan tegas diperbolehkan. Mengawinkan wanita Muslim dengan pengikut agama lain, ini tak disebut dengan tegas, tetapi dalam praktek, orang-orang tak menyetujui hal ini sejak zaman dahulu, karena wanita dari golongan agama lain, memang akan merasa senang jika tinggal dalam rumah tangga kaum Muslimin mengingat kedudukan dan hak yang diberikan oleh Islam kepada kaum wanita. Tetapi wanita Islam akan merasa susah jika tinggal dalam keluarga Non Muslim, karena mereka kehilangan hak yang mereka nikmati seperti dalam masyarakat Islam. Hendaklah diingat bahwa undang-undang yang diuraikan di sini, ini tak terbatas kepada kaum Yahudi ataupun Kristen melainkan mencakup pula semua pemeluk agama yang didasarkan atas Kitab Suci. Oleh sebab itu, ­para sahabat Nabi menerapkan undang-undang ini terhadap orang-orang Persi. Adapun undang-undang Yahudi, lihatlah Kitab Ulangan 7:3 yang menyatakan: “Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kau berikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kau ambil bagi anakmu laki-laki”. Paulus mengikuti undang-undang Yahudi: “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” (2 Korintus 6:14). []
  13. Macam-macam sekali penjelasan para mufassir tentang menolak iman. Sebagian mufassir berpendapat bahwa yang dimaksud ialah menolak Allah; mufassir lain: menolak Keesaan Allah, sedang mufassir lain lagi berpendapat bahwa iman di sini berarti wahyu Al-Qur’an.
    668a Artinya, wajib memandikan seluruh badan; lihatlah tafsir nomor 578. []
  14. Pada umumnya para mufassir menduga bahwa yang dimaksud perjanjian di sini ialah bai’at yang dilakukan orang-orang Madinah di ‘Aqabah (bai’at ‘Aqabah), tetapi sebagian mufassir berpendapat bahwa yang dimaksud perjanjian di sini ialah penerimaan hukum Islam, sedang sebagian lagi berpendapat bahwa yang dimaksud perjanjian di sini ialah kesaksian kodrat manusia, sebagaimana disebutkan dalam 7:172, sedang sebagian lagi berpendapat bahwa yang dimaksud perjanjian di sini ialah bai’at di Hudaibiyah (IJ), yang disebutkan pula dalam 48:10. []
  15. Peristiwa tentang usaha para musuh Islam untuk membunuh Nabi Suci atau membinasakan kaum Muslimin adalah terlalu banyak untuk disebutkan di sini. Namun para mufassir berpendapat bahwa ayat ini ditujukan kepada usaha kabilah Bani Nadzir untuk membunuh Nabi Suci. []
  16. Sungguh aneh apa yang kami jumpai dalam tafsir tuan Rodwell tentang ayat ini, yakni Nabi Suci “membuat-buat cerita tentang dua belas pemimpin suku”, padahal nama dua belas pemimpin suku ini disebutkan seterang-terangnya dalam Kitab Bilangan 1:5-15, dan dalam ayat 16, mereka disebut kepala suku bangsanya, sedang dalam ayat 44 diuraikan: “Penghulu-penghulu orang Israil, dua belas orang banyaknya”. Selanjutnya dalam Kitab Bilangan 13:3-15 disebutkan dua belas kepala Bani Israil yang diutus supaya menyelidiki tanah Kanaan. []
  17. Tanah ini dilukiskan oleh Yoshua dan Kaleb sebagai “suatu negeri yang berlimpah air susu dan madu” (Kitab Bilangan 14:8). []
  18. “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yohanes 16:12-13). Kerajaan Allah yang sering disebut-sebut dalam Bibel itu tidak lain hanyalah kerajaan rohani yang didirikan oleh Nabi Suci, jadi, sebenarnya Kitab Bibel itu hanya kabar baik tentang datangnya Nabi Suci. []
  19. Ramalan bahwa di antara Bangsa-bangsa Nasrani akan selalu terjadi permusuhan dan kebencian, ini benar-benar terbukti kebenarannya di segala abad, dan lebih jelas lagi pada abad kita sekarang ini. Mereka hanya akan memperoleh perdamaian jika mereka mau memeluk Islam. []
  20. Banyak sekali kebenaran yang dihilangkan oleh kaum Yahudi dan kaum Nasrani, kitab suci mereka banyak mengalami kerusakan; dan banyak pula kebenaran yang terdapat di dalamnya, tetapi tak dijalankan oleh mereka. Sedangkan sebagian kebenaran yang mempunyai nilai permanen, terjaga dalam Qur’an, tetapi lain-lainnya yang hanya diberikan untuk memenuhi kebutuhan mereka pada waktu itu, kini tak diperlukan lagi — hal ini diisyaratkan dalam kalimat mengabaikan banyak lagi. Atau, yang dituju oleh kalimat ini ialah ramalan tentang datangnya Nabi Suci, karena Qur’an hanya menyinggung sedikit tentang ramalan itu []
  21. Dua hal yang di sini dikatakan datang dari Allah, ialah cahaya dan Kitab yang terang. Cahaya ialah Nabi Suci dan Kitab yang terang ialah Qur’an. Nabi Suci adalah cahaya rohani yang paling besar, yang dipancarkan di dunia. Oleh sebab itu beliau disebut matahari yang memancarkan cahaya: “Wahai Nabi, Kami mengutus engkau sebagai saksi dan sebagai pengemban berita baik dan sebagai juru ingat, dan sebagai orang yang menyeru kepada Allah, dan sebagai matahari yang memancarkan cahaya” (33:45-46). []
  22. Yang dimaksud ialah Nabi ‘Isa dan ibunya, Siti Maryam, dan semua orang yang ada di bumi, sama-sama merasakan mati. Oleh sebab itu, Nabi ‘Isa hanyalah manusia biasa, bukan Tuhan, karena jika beliau itu Tuhan, niscaya tak akan mati. Kadang-kadang kata in berarti idz maknanya jika (Mgh, LL), dan makna inilah yang dipakai di sini. Keliru sekali jika kalimat ini mengisyaratkan hal yang akan terjadi kemudian hari, karena dalam kalimat ini, Nabi ‘Isa disebutkan bersama-sama Siti Maryam dan generasi yang hidup pada waktu itu; jadi kematian mereka adalah kejadian di masa lampau. []
  23. Dalam Injil dikatakan: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9). Kaum Kristen mengira bahwa yang dibicarakan di sini ialah golongan mereka sendiri. Kaum Yahudi menganggap dirinya sebagai bangsa pilihan, karena mereka berpikir bahwa hanya merekalah yang dipilih oleh Allah untuk menerima wahyu-Nya dengan mengecualikan bangsa-bangsa lain di dunia. Jadi, mereka menganggap dirinya sebagai kawan Allah. Mereka diberitahu bahwa dosa mereka begitu besar, hingga mereka mendapat siksaan, bahkan siksaan di dunia ini pula. Bagaimana mungkin bangsa yang tenggelam dalam dosa dapat menjadi kawan Allah atau anak Allah? []
  24. Dilaksanakannya pengampunan dan siksaan adalah sesuai dengan hukum Tuhan, adapun penebusan dosa yang katanya dilakukan oleh Yesus Kristus, tak dapat mengubah hukum itu. []
  25. Pada waktu Nabi Besar Tanah Arab muncul, dunia sudah lama tak kedatangan Nabi. Tak ada bangsa di dunia yang mengaku kedatangan Nabi, antara zaman Nabi ‘Isa sampai zaman Nabi Muhammad. Dunia seakan-akan sedang mempersiapkan datangnya seorang Nabi Besar yang diutus untuk segala bangsa di dunia. Oleh sebab itu, terjadi penghentian waktu kenabian. Oleh sebagian orang, nama Khalid disebut-sebut sebagai Nabi antara Nabi ‘Isa dan Nabi Muhammad, tetapi tak ada satu Hadits sahih pun yang menerangkan hal ini, demikian pula tak ada bukti sejarah yang membuktikan bahwa sesudah Nabi ‘Isa ada seorang Nabi yang bernama Khalid. Sebaliknya ada satu Hadits sahih yang menerangkan sabda Nabi Suci tentang Nabi ‘Isa: “Tak ada Nabi antara dia dan aku” (B. 21:48). []
  26. Di sini tak terdapat kesimpangsiuran. Di sini Bani Israil diberitahu bahwa mereka telah dianugerahi dua macam nikmat: (1) Nabi-nabi telah dibangkitkan di kalangan mereka; (2) banyak dari mereka yang telah dijadikan raja. Yang diisyaratkan di sini bukanlah mengenai sejarah kaum Bani Israil pada zaman permulaan, melainkan mengenai seluruh sejarah Bani Israil yang dimulai sejak zaman Nabi Musa, karena kedatangan Nabi Musa inilah yang menyebabkan adanya perubahan, baik dalam bidang rohani maupun dalam bidang politik. Bukan hanya karena munculnya dua Nabi: Musa dan Harun, melainkan dengan adanya undang-undang Musa, terjelmalah landasan pokok yang menjanjikan kepada Bani Israil datangnya banyak para Nabi di kalangan mereka. Di lapangan politik, tak ayal lagi mereka muncul sebagai bangsa merdeka, yang memerintah sendiri, bukan lagi sebagai budaknya Bangsa Mesir. Mereka memperoleh kedudukan sebagai negara kerajaan; tetapi kata-kata ini mengandung pula ramalan tentang perkembangan mereka di kemudian hari sebagai bangsa yang memerintah. Dominasi mereka di lapangan rohani dan di lapangan politik, adalah terang-terangan nikmat Allah yang tak diberikan kepada bangsa lain yang sezaman dengan mereka. []
  27. “…dan semua orang yang kamu lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya (Kitab Bilangan 13:32). Adapun keengganan kaum Bani Israil dan penolakan mereka untuk bertempur melawan musuh, lihatlah Kitab Bilangan 14.1-4. []
  28. Tetapi Yosua (Yusak) bin Nun dan Kaleb bin Yefune … berkata kepada segenap umat Israil … jika Tuhan berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Hanya janganlah memberontak kepada Tuhan., dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu … sedang Tuhan menyertai kita; janganlah takut kepada mereka” (Kitab Bilangan 14:6-9). []
  29. []
  30. “Pastilah tidak akan melihat negeri yang Ku janjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka! Semua yang menista Aku ini tidak akan melihatnya” (Kitab Bilangan 14:23). Empat puluh tahun yang diuraikan di sini menggambarkan usia generasi itu. []
  31. Tampaknya yang diisyaratkan di sini ialah kisah Qabil dan Habil. Bandingkanlah dengan Kitab Kejadian 4:3-12. Namun sebagian mufassir berpendapat bahwa yang diisyaratkan di sini ialah dua orang dari kalangan kaum Bani Israil, mengingat bahwa tiap-tiap orang dapat disebut anak Adam (Rz). Tetapi kisah ini secara kiasan dapat ditujukan kepada komplotan kaum Yahudi yang merencanakan membunuh Nabi Suci. Kaum Bani Israil diibaratkan sebagai saudara yang agresif dan kejam, sedang kaum Bani Ismail, yang diwakili Nabi Suci, diibaratkan sebagai saudaranya yang lurus. Hendaklah diingat bahwa dalam ayat 11 diuraikan tentang komplotan kaum Yahudi yang merencanakan membunuh Nabi Suci, dan dua ruku’ berikutnya seakan-akan ruku’ sisipan yang memperingatkan kaum Yahudi dan Nasrani tentang perjanjian yang mereka ingkari; dan persoalan yang dibahas dalam ayat 11 dilanjutkan lagi di sini dan ruku’ berikutnya. []
  32. Di sini kata itsmi bukan berarti dosaku, melainkan dosa yang dilakukan terhadap aku, yaitu dosa membunuh; sedang kata itsmika artinya dosa kau sendiri, yaitu dosa yang sudah-sudah, yang menyebabkan kurbannya tak diterima. Saudara yang lurus memberitahukan kepada saudaranya yang jahat, bahwa sekalipun ia tahu bahwa saudaranya akan membunuh dia, ia tak akan mendahului menggerakkan tangannya untuk membunuh dia, sebaliknya ia lebih suka agar saudaranya yang bersalah itu terus menambah dosanya. []
  33. Kitab Bibel tak menguraikan hal ini; tetapi tak mustahil bahwa orang yang masih primitif belajar dari tingkah-laku makhluk lain. []
  34. ada umumnya orang berpendapat bahwa ayat ini mengisyaratkan besarnya dosa membunuh yang menuntut hukuman mati. Tetapi kalimat membunuh orang dapat pula diartikan membunuh Nabi Suci yang datang untuk menegakkan kebenaran. Membunuh guru besar kebenaran, benar-benar sama dengan membunuh manusia semua; dan menyelamatkan Sang-penyelamat, benar-benar sama dengan menyelamatkan manusia seluruhnya. Jadi ayat ini mengisyaratkan komplotan kaum Yahudi untuk membunuh Nabi Suci, dan inilah sebabnya mengapa di sini khusus disebut-sebut Bani Israil. []
  35. Mula-mula kata-kata yang digunakan di sini mengandung arti semua musuh Islam yang melancarkan serangan terhadap kaum Muslimin dan berbuat jahat dengan membunuh dan merampok harta benda kaum Muslimin yang tak bersalah yang ditawan oleh mereka. Tetapi pada umumnya para mufassir juga membenarkan bahwa ayat ini mencakup pula semua perampok dan pembunuh yang berbuat keonaran dalam masyarakat yang sudah tertib. Sebenarnya, tatkala peperangan telah usai, dan kerajaan Islam telah berdiri dengan tegak di seluruh jazirah Arab, para musuh Islam yang tak mampu melawan pemerintah secara terang-terangan, mereka hanya merampok dan membunuh untuk mengganggu ketertiban dan keamanan, yang pada waktu itu telah ditegakkan di seluruh jazirah. Oleh sebab itu, sekalipun asal-mulanya yang dibicarakan dalam ayat ini hanya mengenai musuh-musuh Islam, tetapi kata-katanya bersifat umum dan mencakup segala tindak pidana pembunuhan dan perampokan.
    Hukuman yang diuraikan di sini ada empat macam, ini menunjukkan seterang-terangnya bahwa hukuman yang harus dijatuhkan terhadap suatu tindak pidana, harus diselaraskan dengan keadaan terjadinya tindak pidana itu, dan harus diselaraskan pula dengan waktu dan tempat terjadinya tindak pidana itu. Misalnya, jika pembunuhan dilakukan pada waktu terjadinya perampokan, maka yang bersalah harus dihukum berupa hukuman gantung, jika tindak pidana itu termasuk kejahatan besar; atau disalib dengan membiarkan badannya tergantung pada kayu palang, jika tindak pidana itu berupa mengacau negara, agar orang-orang menjadi jera. Pada lain perkara, hukuman itu berupa hukuman kurungan (penjara), jika orang yang bersalah belum perlu mendapat hukuman yang lebih berat berupa potong tangan. Dalam menentukan hukuman yang akan dijatuhkan, hakim harus mengambil segala pertimbangan yang ia anggap perlu. Perkara khusus yang dibahas dalam ayat ini ialah perkara kabilah ‘Urainah. Beberapa orang dari kabilah ini menghadap Nabi Suci untuk memeluk Islam, Mereka jatuh sakit, dan oleh Nabi Suci mereka dikirim ke suatu tempat yang agak jauh letaknya dari ­Madinah, yang berlainan udaranya, agar sakitnya lekas sembuh. Tetapi setelah mereka sembuh, mereka membunuh orang-orang yang merawat mereka dan membawa lari untanya. Lalu mereka merampok dan memperkosa wanita, kemudian mereka dijatuhi hukuman berat (B. 4:66 dan penjelasan tentang ini dalam kitab ‘Aini). Banyak kasus lain lagi yang sifatnya seperti itu yang ditulis oleh IJ. []
  36. Yunfau minal-ardli makna aslinya dibuang dari bumi, tetapi menurut Imam Abu Hanifah, artinya hukuman kurungan (Al-habs), dan kebanyakan ulama ahli kamus mau menerima ini (Rz). LA juga memberi penjelasan bahwa kalimat tersebut berarti dimasukkan dalam penjara. Adapun alasannya sudah terang. Tak ada orang yang dibuang dari bumi selain orang yang dimasukkan ke dalam penjara. Jika kata Al-ardl diartikan daerah, maka kalimat tersebut berarti dibuang dari daerahnya. []
  37. Ayat ini membicarakan orang-orang sebelum mereka ditangkap, mereka mengubah haluan hidup mereka — mereka bertobat sebelum kamu mengalahkan mereka. Sudah tentu yang dimaksud di sini ialah mengubah haluan hidup yang dapat dilihat oleh semua orang. Hal ini terang hanya mengenai perkara di mana musuh yang bersalah karena membunuh dan merampok, lalu menjadi muslim sebelum ia ditangkap oleh kaum Muslimin. Jika ia berada di tempat tawanan, ia tak boleh dituntut dan dihukum atas tindak pidana yang telah ia lakukan. []
  38. Hukuman potong tangan dapat diartikan sungguh-sungguh atau kiasan. Ada pepatah yang berbunyi: qatha’a lisânahû makna aslinya memotong lidahnya, tetapi yang dimaksud ialah membungkam mulutnya (LA). Maka dari itu, jika Qath’ulyadni diambil sebagai kalam ibarat, maka artinya hanyalah mengurung pencuri dengan hukuman penjara atau dengan cara lain. Dan jika diambil makna aslinya, maka ini tidak berarti bahwa setiap pencuri harus dipotong tangannya, dan ini adalah kenyataan yang diakui kebenarannya oleh semua sarjana hukum. Tetapi apa yang ingin kami tekankan ialah bahwa pemotongan tangan adalah hukuman tertinggi. Sebagaimana diterangkan dalam tafsir nomor 690 tentang masalah perampokan, hukuman tertinggi adalah hukuman mati, dan hukuman terendah adalah hukuman kurungan. Mencuri adalah tindak pidana yang lebih ringan daripada merampok, oleh sebab itu, hukuman terendah bagi pencuri, tak mungkin lebih berat dari hukuman terendah bagi perampok. Dalam hal perampokan, jika diurutkan ke atas dalam hal beratnya hukuman, mula-mula berupa hukuman kurungan, lalu dipotong tangan dan kakinya, kemudian hukuman mati. Oleh sebab itu, apa yang diutarakan oleh Qur’an di sini ialah bahwa hukuman potong tangan adalah hukuman tertinggi bagi pencuri; adapun hukuman terendah tetap sama, yaitu hukuman kurungan.
    Sebagaimana diterangkan dalam ayat 33, berat dan ringannya hukuman itu bergantung kepada keadaan perkara, dan pertimbangan hakim. Tindak pidana merampok dapat dijatuhi hukuman berat atau ringan, bergantung kepada akibat yang diderita oleh korban perampokan, apakah kehilangan jiwa ataukah harta. Dalam hal mencuri, kerugian yang diderita hanyalah kehilangan harta, bukan nyawa; oleh sebab itu dalam hal ini hukuman mati ditiadakan; tingkat hukuman selanjutnya, yaitu memotong tangan, ini dipertahankan sebagai hukuman tertinggi, dan hukuman tertinggi ini bergantung kepada besarnya tindak pidana. Tuntutan hukuman tertinggi hanya dilakukan apabila tindak pidana itu berat, atau pencuri itu sudah terlalu sering melakukan tindak pidana pencurian. Oleh sebab itu, hukuman tertinggi hanya dijatuhkan terhadap pencuri yang melakukan pencurian sebagai kebiasaan. Adapun pertimbangan yang kami jadikan patokan untuk membuat penggolongan yang berbeda-beda adalah: (a) Hukuman itu disebut hukuman teladan, dan hukuman teladan itu hanya dijatuhkan apabila tindak pidana itu berat, atau pelakunya terlalu sering melakukan tindak pidana. (b) Hukuman tak dijatuhkan jika pelakunya bertobat dan tak melakukan lagi perbuatan jahat. Ayat selanjutnya menerangkan bahwa hukuman potong tangan hanya dijatuhkan terhadap pencuri yang tak memperbaiki diri, yaitu pencuri yang melakukan kejahatan sebagai kebiasaan. Selain itu, apa yang dituntut ialah bertobat dan memperbaiki diri. Untuk memberi kesempatan memperbaiki diri, orang perlu diberi kebebasan bekerja sebelum ia dijatuhi hukuman berat. (c) Hukuman potong tangan telah diterangkan sehubungan dengan tindak pidana yang lebih berat lagi, yang disebutkan dalam ayat 33, padahal tindak pidana yang berat itu dapat pula dijatuhi hukuman kurungan, oleh sebab itu mencuri, yang sifatnya lebih ringan dari perampokan, tak selamanya harus dihukum berat, berupa hukuman potong tangan.
    Memang benar bahwa menurut Hadits, pernah dilakukan hukuman potong tangan terhadap orang yang hanya pertama kali mencuri, tetapi ini disebabkan karena keadaan yang luar biasa sehubungan dengan keadaan masyarakat pada waktu itu. Hanya hakimlah yang dapat memutuskan, kapan pencuri harus dijatuhi hukuman tertinggi dan kapan tidak. Menurut satu Hadits, hukuman potong tangan dijatuhkan apabila barang yang dicuri bernilai seperempat dinar; tetapi menurut Hadits lain, hukuman itu baru dijatuhkan apabila barang yang dicuri bernilai satu dinar atau lebih (AD 37:12, Ns. 46:7). Ada pula Hadits yang menerangkan, jika pencurian dilakukan pada waktu bepergian, maka pencuri tak dijatuhi hukuman potong tangan (AD. 37:14). Hadits lain lagi menerangkan bahwa hukuman potong tangan tak dijatuhkan terhadap pencuri yang mencuri buah-buahan yang masih di pohon (AD. 37:13). Demikian pula dalam hal menggelapkan barang, juga tak dilakukan hukuman potong tangan (AD. 37:14). Sahabat Marwan hanya menjatuhkan hukuman rotan kepada orang yang mencuri korma (AD. 37:13). Hadits lain menerangkan bahwa orang yang mencuri jubah yang sedang ditiduri, yang bernilai 30 dirham, lalu pemilik jubah itu menjualnya kepada orang yang mencurinya, penyelesaian antara kedua orang itu dibenarkan oleh Nabi Suci (AD. 37:15). Kesimpulannya, kata assariqu yang kami terjemahkan orang yang ketagihan mencuri, ini bukan saja disebabkan karena alasan tersebut di atas, melainkan pula disebabkan karena penjelasan qira’ahnya ialah as-sarriq yaitu isim muballaghah, atau kata benda intensif dari akar kata yang sama. []
  39. Artinya, mereka mendengarkan, tetapi tujuan mereka hanyalah untuk membuat-buat kebohongan, dan untuk menyampaikan berita palsu kepada orang-orang yang tak datang kepada Nabi Suci. Tetapi kalimat ini dapat pula ditafsirkan bahwa mereka mendengarkan kebohongan-kebohongan yang diucapkan oleh para pendeta mereka, yang tak datang kepada engkau. Sebenarnya, mereka hanyalah bekerja sebagai mata-mata. []
  40. Menurut perjanjian yang dibuat antara berbagai suku di Madinah pada waktu datangnya Nabi Suci di sana, (lihatlah tafsir nomor 126), segala macam perselisihan harus dimintakan keputusan kepada Nabi Suci, tetapi pada waktu itu kaum Yahudi memusuhi Nabi Suci, hingga beliau ­diizinkan untuk menolak mengadili mereka. Namun, jika beliau mengadili mereka, beliau disuruh mengadili dengan adil. Tindakan beliau yang adil, sekalipun kaum Yahudi sangat memusuhi beliau, dan sekalipun beliau tahu bahwa mereka selalu bersekongkol dengan musuh untuk menghancurkan Islam, ini menunjukkan bahwa beliau memiliki kejujuran yang amat tinggi yang pernah dicapai oleh manusia. []
  41. Pengadilan Tuhan dalam kitab Taurat yang diisyaratkan di sini, dapat diartikan perintah Tuhan dalam kitab Taurat, yang tak ditaati oleh kaum Yahudi; atau dapat pula diartikan ramalan tentang datangnva Nabi Suci yang mereka tolak. []
  42. Para kritikus Kristen mengira bahwa ayat 44-47 membuktikan murninya teks kitab Taurat dan Injil. Ini tidak benar. Memang benar bahwa kitab Taurat adalah wahyu Tuhan yang berisi cahaya dan petunjuk. Adapun yang tidak benar ialah anggapan bahwa cahaya dan petunjuk tersebut tetap utuh dan tak rusak sepanjang zaman. Memang benar bahwa kitab tersebut berisi cahaya dan petunjuk, tetapi cahaya dan petunjuk itu hanya diperuntukkan bagi satu bangsa — Bani Israil — dan untuk waktu yang terbatas. Sekalipun kitab Taurat berisi cahaya dan petunjuk, namun kepada Bani Israil diturunkan pula kitab Injil; ini menunjukkan seterang-terangnya bahwa cahaya dan petunjuk yang termuat dalam kitab Taurat belum mencukupi kebutuhan Bangsa Israil di sepanjang zaman, apalagi bangsa-bangsa lain. []
  43. Di sini diterangkan bahwa para pendeta dan ulama Yahudi “disuruh menjaga Kitab Allah” yaitu Taurat. Qur’an tak menerangkan bahwa mereka benar-benar berhasil dalam melaksanakan tugas itu. Sebaliknya dalam 2:75-79 diterangkan bahwa kitab-kitab itu mengalami kerusakan. Berlainan sekali dengan penjagaan terhadap Qur’an yang dikatakan menjadi tugas Allah sendiri. “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Peringatan dan sesungguhnya Kami penjaganya” (25:9). []
  44. Hendaklah diingat bahwa yang dimaksud mengadili, bukanlah hanya mengadili tindak pidana dan perkara perdata saja, melainkan pula mengadili semua perkara agama, sehingga orang yang tidak mau mengadili wahyu yang diterima oleh Nabi Suci dengan hukum yang termuat dalam kitab Taurat, ia kafir. Hendaklah diingat bahwa di sini tak digunakan kata Taurat, melainkan apa yang telah Allah turunkan, karena kata-kata ini mengandung maksud yang dalam. Ini menunjukkan bahwa kitab Taurat yang ada sekarang ini, tak seluruhnya dianggap oleh Qur’an sebagai Wahyu Ilahi. []
  45. Bandingkanlah dengan Kitab Keluaran 21:23-25 dan Kitab Imamat Orang Lewi 24:19-21. []
  46. Jika seseorang melepaskan haknya untuk membalas saudaranya, ini akan menjadi tebusan kesalahan yang ia lakukan. []
  47. Lukisan tentang Injil sebagai Kitab yang berisi cahaya dan petunjuk, mengandung arti yang sama seperti lukisan tentang Kitab Taurat; untuk ini lihatlah tafsir nomor 697. Sebagai tambahan, di sini diterangkan bahwa Kitab Injil membetulkan kitab Taurat, walaupun kenyataannya kitab Injil mengetengahkan banyak doktrin baru yang tak terdapat dalam syari’at Musa, misalnya tentang hal perceraian, undang-undang pembalasan dan sebagainya. Lukisan tentang kitab Injil ini menunjukkan bahwa yang dimaksud membetulkan ialah menguatkan prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran umum tentang iman, misalnya tentang Ketuhanan Yang Maha-esa dan berlaku adil terhadap manusia, atau pernyataan seorang Nabi tentang benarnya para Nabi yang sudah-sudah, misalnya pernyataan yang dinyatakan oleh Nabi ‘Isa tentang benarnya Nabi Musa, dan pernyataan yang dinyatakan oleh Nabi Musa dan Nabi ‘Isa tentang benarnya Nabi Suci. Dalam arti inilah Qur’an dikatakan sebagai Kitab yang membetulkan kitab Taurat dan Injil. []
  48. Qur’an disebut muhaimin atau yang menjaga semua kitab suci yang sudah-sudah; jadi, semua ajaran yang mempunyai nilai permanen dalam kitab suci yang sudah-sudah, tetap terpelihara dalam Qur’an. Kitab suci yang sudah-sudah berisi cahaya dan petunjuk bagi umat yang kedatangan kitab itu, dan mereka disuruh mengadili dengan kitab itu; tetapi karena Qur’an sekarang menjadi Kitab yang mengadili semua kebenaran, di mana pun kebenaran itu berada, maka hanya Qur’an sajalah satu-satunya Kitab Suci yang harus diikuti. []
  49. Yang dimaksud menetapkan undang-undang dan jalan bagi tiap-tiap orang, ialah memberikan berbagai undang-undang kepada berbagai bangsa menurut kebutuhan sebelum diturunkannya Qur’an, sedangkan Qur’an dimaksud untuk memenuhi kebutuhan segala bangsa di segala zaman. Berulang-ulang Qur’an menyatakan bahwa secara prinsip, tiap umat pernah kedatangan Nabi. Lihatlah 10:47, 13:7 dan 35:24. []
  50. Ini adalah salah satu keistimewaan manusia. Kedudukan manusia di atas sekalian makhluk karena manusia dikaruniai kekuatan kemerdekaan bertindak, sehingga manusia bebas memilih jalan ini atau jalan itu. Berlainan sekali dengan makhluk lain, yang harus mengikuti begitu saja hukum kodrat yang sudah ditentukan kepadanya. Oleh karena manusia mempunyai kebebasan bertindak, manusia dapat mengikuti bermacam-macam jalan, memasuki bermacam-macam golongan. Sebenarnya jika kodrat manusia dibuat begitu rupa, hingga tak mampu menggunakan kekuatan kemerdekaan bertindak, manusia akan menjadi satu umat, akan tetapi dengan demikian daya-daya rohani manusia yang menyebabkan manusia melebihi makhluk lain, tak akan terwujud. Selain itu, kalimat ini dapat diartikan: Jika Allah menghendaki, Ia akan membuat kamu satu umat. Ini mengisyaratkan keadaan manusia pada akhir zaman. Sebenarnya sekalian bangsa saat ini kesadarannya sedang tumbuh bahwa mereka adalah satu umat. []
  51. Semua kaum kafir, walaupun mereka saling bertengkar, namun mereka melancarkan serangan bersama terhadap Islam, inilah yang dimaksud oleh kalimat sebagian mereka adalah kawan sebagian yang lain. Kaum Muslimin diperingatkan agar jangan mengharapkan pertolongan atau persahabatan dari siapa saja di antara golongan yang memusuhi, baik kaum Yahudi, Nasrani ataupun kaum penyembah berhala. Ini akan melemahkan keyakinan kaum Muslimin terhadap kemenangan akhir Islam, karena takut pada kekuatan musuh, lalu mencari pertolongan atau persahabatan di sana-sini di antara golongan yang memusuhi mereka, sebagaimana diuraikan dalam ayat berikutnya. Apabila dua bangsa sedang dalam keadaan perang, maka warga suatu bangsa yang mencari persahabatan dengan pihak musuh, harus diperlakukan sebagai musuh; inilah sebenarnya yang dimaksud oleh Qur’an di sini. []
  52. Yang dimaksud cepat-cepat masuk dalam golongan mereka, ialah cepat-cepat mencari persahabatan atau pertolongan dari mereka. Kaum munafik melakukan ini, karena takut pembalasan kaum Muslimin. []
  53. Yang dimaksud kemenangan ialah kemenangan bagi kaum Muslimin, dan ini mengisyaratkan seterang-terangnya akan jatuhnya kota Makkah. Dan ini menunjukkan pula bahwa ayat ini diturunkan pada tahun ke-8 Hijriah, sebelum jatuhnya kota Makkah. Adapun yang dimaksud amr atau perintah, ialah berdirinya Kerajaan Islam, yang ini berarti menangnya agama Islam; hal ini diisyaratkan lebih lanjut dalam ayat 54 yang mengisyaratkan kemenangan rohani agama Islam; lihatlah tafsir nomor 710. []
  54. Ini adalah ramalan bahwa apa yang dilakukan kaum munafik untuk melawan Nabi Suci akan sia-sia. Mereka tak akan mencapai tujuan yang mereka inginkan, dan akhirnya bukan Nabi Suci yang rugi melainkan mereka sendiri yang menderita rugi. []
  55. Di Makkah kaum Muslimin ditindas sehebat-hebatnya, dan di Madinah kesukaran kaum Muslimin bukan semakin berkurang, melainkan sepuluh kali lipat lebih berat karena dikepung oleh kabilah-kabilah yang haus darah. Namun mereka menghadapi segala kesukaran itu dengan penuh kesabaran, dan jarang sekali orang yang murtad. Pada tahun ke-6 Hijriah, Raja Heraclius bertanya kepada Abu Sufyan, salah seorang pemimpin musuh Nabi Suci: “Adakah orang yang murtad karena benci terhadap agamanya?”. Abu Sufyan menjawab: “Tidak!”. Raja Heraclius bertanya lagi: “Apakah pengikutnya semakin bertambah ataukah berkurang?”. Abu Sufyan menjawab: “Pengikutnya semakin bertambah” (B. 1:1). Memang, sebenarnya tak pernah terjadi kemurtadan yang melemahkan barisan Islam. []
  56. Setelah memperingatkan kaum lemah-hati supaya jangan berkawan dengan musuh, kini Qur’an menerangkan siapakah kawan mereka yang sebenarnya yang dapat memberi pertolongan pada waktu mereka sedang ditimpa kesusahan dan kesukaran. Satu-satunya kawan sejati bagi kaum mukmin ialah Allah; hanya Dia sajalah yang dapat memberi pertolongan pada waktu kaum mukmin dalam bahaya. Tetapi Utusan Allah berada di tengah-tengah mereka, dan jika Allah itu Kawan sejati kaum mukmin, demikian pula Utusan Allah, yang hatinya penuh kasih sayang kepada kaum mukmin sejati. []
  57. Kaum Muslimin dilarang berkawan dengan mereka yang menertawakan agama mereka dan Nabi mereka. Berkawan dengan orang-orang semacam itu pasti akan menyebabkan hati kaum Muslimin bengkok. []
  58. Kata naqma yang diikuti dengan min artinya mengecam (R). []
  59. Orang-orang yang di sini dikatakan menjadi kera dan babi ialah kaum Yahudi. Lihatlah tafsir nomor 107 yang menjelaskan arti kata itu. Sungguh menarik perhatian sekali bahwa sekalipun orang yang dibicarakan di dua tempat ini adalah sama, tetapi di tempat yang satu, mereka dikatakan menjadi kera, dan di tempat lain, yaitu dalam ayat ini, mereka dikatakan menjadi kera dan babi. Dan dalam ayat ini ditambahkan bahwa mereka dikatakan menyembah setan. Pada akhir ayat diterangkan bahwa orang yang dijadikan kera dan babi dan menyembah setan, “berada di tempat yang buruk dan paling tersesat dari jalan yang benar”; ini membuktikan dengan pasti bahwa mereka masih tetap manusia, karena jika mereka kera dan babi sungguh-sungguh, mereka tak mungkin dikatakan tersesat dari jalan yang benar. Ayat berikutnya lebih menjelaskan lagi hal ini, karena di sana diuraikan bahwa mereka yang dijadikan kera dan babi, datang kepada Rasulullah dengan kekafiran, dan pergi juga dengan kekafiran. []
  60. Suht artinya harta yang diharamkan, yang diperoleh secara tidak halal (LL). Perkataan ini dapat diterapkan terhadap barang suapan (R). []
  61. Kebanyakan umat Islam yang mau menerima kebenaran adalah kaum miskin. Selain itu, kekayaan mereka telah mereka tinggalkan di Makkah. Kaum Muslimin di Madinah adalah petani, yang tentu saja tak kaya. Sebaliknya, kaum Yahudi adalah pengusaha, dan oleh karena mereka mengambil keuntungan berlipat-lipat, mereka menjadi kaya-raya; oleh sebab itu, mereka mencela kaum Muslimin dengan ucapan bahwa tangan Allah terbelenggu. Bandingkanlah dengan 3:181, dan lihatlah tafsir nomor 524. Kalimat kedua tangan-Nya terbuka lebar, ini berarti bahwa Allah akan membikin kaya kaum Muslimin, baik materi maupun rohani.
    716a Dari uraian ini terang sekali bahwa kaum Yahudi membantu kaum Quraisy yang melancarkan serangan terhadap Islam. Sebenarnya mereka menjanjikan bantuan dari dalam, apabila kaum Quraisy menyerang kota Madinah; boleh jadi merekalah yang membiayai pertempuran. Allah menimbulkan permusuhan di antara mereka, ini mungkin mengisyaratkan permusuhan antara kaum Yahudi dan kaum Nasrani, karena dua golongan ini berulangkali disebutkan dalam Surat ini. []
  62. Jika sekiranya mereka memperhatikan Taurat dan Injil yang berisi ramalan tentang datangnya Nabi Suci, niscaya mereka beriman kepada Wahyu Qur’an. Makan dari atas mengisyaratkan rezeki rohani, dan makan dari bawah kaki mengisyaratkan rezeki duniawi; artinya mereka akan diberi dua macam rezeki sebanyak-banyaknya. Sikap lapang dada agama Islam, sekalipun terhadap musuh, menarik perhatian sekali. Sekalipun sikap permusuhan mereka terhadap Islam amat kuat, namun ada segolongan kaum Yahudi dan Nasrani yang dikatakan tetap berada di jalan tengah. []
  63. Di Makkah, satu-satunya musuh Nabi Suci ialah kaum Quraisy. Kepindahan beliau ke Madinah menambah kesukaran beliau lipat sepuluh kali. Umat Yahudi adalah umat kuat; berbicara terus terang kepada mereka sedikit saja, dapat membuat mereka lawan yang paling kejam. Demikian pula halnya dengan kaum Nasrani. Selain itu, banyak pula kabilah Arab yang berhasil dihasut oleh kaum Quraisy untuk memihak mereka. Oleh Karena itu, Nabi Suci dijanjikan akan selalu mendapat perlindungan Tuhan dalam menghadapi segala macam bahaya yang datang dari segala jurusan yang mengancam keselamatan beliau. Tetapi ayat ini juga mengisyaratkan perlindungan rohani Nabi Suci. Tatkala menerangkan ayat ini, R berkata: “Ishmat atau perlindungan terhadap para Nabi, ialah ­perlindungan Allah terhadap mereka, pertamakali dengan membuat mereka berwatak suci, artinya, membuat kodrat mereka suci dari segala dosa (ma’shum); lalu membuat mereka melebihi manusia biasa, baik jasmaninya maupun rohaninya, lalu memberikan pertolongan dan kesabaran kepada mereka dalam menghadapi percobaan, lalu menurunkan sakinah (ketenteraman) dalam batin mereka dan melindungi hati mereka dari kejahatan”. KM juga memberi penjelasan yang sama dan berkata, bahwa melindungi mereka, ialah melindungi mereka dari dosa sekalian manusia. []
  64. Ini adalah pukulan keras terhadap percekcokan kaum Yahudi dan kaum Nasrani. Mereka tak memelihara kesucian kitab Taurat dan Injil; ajaran asli para Nabi yang masih tertinggal dalam kitab mereka tak mereka amalkan, demikian pula mereka tak menghiraukan ramalan-ramalan yang termuat dalam kitab mereka. []
  65. Walaupun berulangkali diperingatkan tentang bencana yang akan menimpa mereka, mereka masih saja berpikir, karena merasa umat pilihan, mereka tak akan mendapat siksaan atas perbuatan jahat mereka. Mereka ditindas sehebat-hebatnya di bawah kekuasaan Raja Nebukadnezar dan raja-raja Babilon berikutnya; banyak di antara mereka yang dibunuh, dan sisanya dimasukkan penjara. Dan mereka merasakan penderitaan lagi di bawah kekuasaan Raja Titus. Lihatlah ayat 78 dimana dinyatakan bahwa bencana itu terjadi sesudah Nabi Daud dan Nabi ‘Isa. []
  66. Allah kembali kepada mereka dengan kasih sayang artinya Allah mengutus Nabi ‘Isa. Kata-kata menjadi buta dan tuli yang kedua kalinya, mengisyaratkan penolakan mereka terhadap Nabi ‘Isa. []
  67. “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan kepada Dia sajalah engkau berbakti” (Matius 4:10). []
  68. Di sini diuraikan dengan jelas doktrin agama Kristen yang amat terkenal, yaitu Trinitas. Hendaklah diingat bahwa nama Siti Maryam tak pernah dihubungkan dengan doktrin Trinitas. Tetapi oleh karena umat Kristen, terutama Katolik Roma, mengenakan sifat Ketuhanan kepada Siti Maryam, karena dianggapnya sebagai ibu Tuhan, Qur’an Suci berulangkali menyebut Siti Maryam bersama Nabi ‘Isa sebagai manusia biasa.
    723a Jika kaum Yahudi disiksa karena menolak para Nabi, di sini kaum Nasrani diberitahu bahwa mereka juga akan disiksa karena keterlaluan mengangkat manusia biasa ke derajat Ketuhanan. Doktrin Penebusan Dosa membuat dunia Kristen perlahan-lahan dan lambat laun melupakan Allah sama sekali, dan kemajuan dalam bidang materi dan tercapainya kekuasaan dunia merupakan satu-satunya urusan mereka. Mula-mula mereka berusaha untuk menaklukkan dunia, dan setelah itu tercapai, mereka kini saling berebut kekuasaan. Sikap saling membenci dan saling bermusuhan di antara mereka sebagai hukuman atas pelanggaran mereka terhadap perjanjian Allah, ini disebutkan seterang-terangnya dalam ayat 14 dan 64, dan disebutkan pula dalam wahyu yang lebih awal lagi: “Dan pada hari itu mereka Kami biarkan saling bertempur satu sama lain” (18:99). []
  69. Merasa lapar dan makan makanan, menunjukkan bahwa Nabi ‘Isa dan ibunya hanyalah manusia biasa. Segala sesuatu yang hidup, membutuhkan makanan; hanya Tuhan Yang Maha-kuasa sajalah yang tak membutuhkan makanan. Oleh karena Nabi ‘Isa dikatakan makan makanan selagi beliau hidup, beliau tak dapat hidup tanpa makanan; jadi ayat ini menolak adanya pernyataan bahwa Nabi ‘Isa masih hidup.
    724a Ghuluww atau berlebihan di sini mengisyaratkan doktrin agama Kristen yang mengangkat manusia biasa ke derajat Ketuhanan. Di sini kaum Nasrani diberitahu bahwa dengan membuat doktrin ini sebagai landasan agama mereka, mereka hanya mengikuti doktrin keliru yang dialami oleh orang-orang sebelum mereka. Penyelidikan baru-baru ini menunjukkan bahwa kaum Nasrani hanya mengikuti begitu saja perbuatan umat zaman dahulu yang menyembah berhala, yang menganggap bahwa Tuhan mempunyai anak. Persoalan ini dibahas seluas-luasnya dalam buku The Sources of Christianity (Sumber-sumber agama Kristen), tulisan almarhum Khawaja Kamaluddin. []
  70. Setelah membicarakan Nabi Musa, Nabi Daud dan Nabi ‘Isa, sebagai Nabi Bani Israil yang menduduki kedudukan paling tinggi, baik dalam keduniaan maupun kerohanian, Qur’an membicarakan datangnya Nabi Suci dengan kata-kata yang amat terang. Kata la’nat di sini digunakan dalam arti yang asli, yaitu dijauhkan dari rahmat Tuhan. Nabi Daud dan Nabi ‘Isa memperingatkan kaum Yahudi bahwa pendurhakaan mereka pasti akan mendatangkan siksaan Tuhan yang segera akan menimpa mereka jika mereka tak memperbaiki jalan hidup. Sesudah zaman dua Nabi tersebut, terjadi malapetaka besar yang menimpa kaum Yahudi, yaitu pertama, tatkala mereka ditumpas oleh Raja-raja Babilon, dan kedua, tatkala mereka dihancurkan oleh Raja Titus. []
  71. Kata An-Nabiyyi atau Nabi dalam Qur’an Suci, ini selamanya berarti Nabi Suci Muhammad saw. dan beliau acapkali disebut dan dijuluki An-Nabiyyi atau Ar-Rasûl, artinya Nabi atau Utusan. Sebenarnya beliaulah yang dalam Kitab Suci yang sudah-sudah disebut Sang Nabi atau Nabi itu (Yohanes 1:21, 25). Kaum Yahudi mengaku beriman kepada Tuhan Yang Maha-esa namun mereka bersekutu dengan kaum Quraisy untuk menghancurkan Islam, agama Tauhid murni. []
  72. Umat Kristen lebih dekat kepada Islam dari umat Yahudi, ini bukan hanya disebabkan umat Islam menerima Nabi ‘Isa sebagai Nabi Allah, melainkan pula karena banyak di antara umat Kristen yang takut dan menyembah Allah, di antaranya banyak terdapat pendeta dan rahib sebagaimana diuraikan dalam ayat ini. Memang sebenarnya, umat Kristen tak bersikap begitu memusuhi Islam seperti kaum Yahudi. Najasi, Raja Abisinia, memeluk Islam tatkala beliau tahu tentang ini dari kaum Muslimin yang hijrah ke negeri beliau. Raja Heraclius cenderung kepada Islam; bahkan menjelang akhir hidup Nabi Suci, para Utusan Kristen Najran amat terkesan oleh uraian Nabi Suci, hingga mereka memutuskan untuk tidak melakukan mubahalah dengan beliau. Akan tetapi ayat ini lebih bersifat ramalan; memang sebenarnya dalam sejarah Islam permulaan, umat Kristen di Mesir, di Afrika, di Syria, di Persia dan di negara-negara lain, banyak sekali yang memeluk Islam, sehingga masyarakat di sana menjadi masyarakat Muslim sama sekali, atau setidak-tidaknya, Islam merupakan agama yang paling banyak pengikutnya di negara-negara itu. Pada zaman sekarang pun, tatkala Islam diperkenalkan di Barat, umat Kristen menerima ajakan ini dengan hati terbuka. []
  73. Ayat ini mengisyaratkan umat Kristen yang beriman. Orang penting yang termasuk golongan ini ialah Raja Najasi dari Abisinia, yang pada zaman Nabi Suci, kaum Muslimin dapat perlindungan di negeri beliau, tatkala mereka terpaksa meninggalkan Makkah karena dikejar-kejar oleh kaum Quraisy. Di negeri ini pun mereka dikejar oleh utusan kaum kafir Makkah, yang kemudian menghasut Raja Najasi dengan jalan membangkitkan perasaan benci yang bersifat keagamaan terhadap kaum Muslimin yang tak mempunyai tempat tinggal, dengan tuduhan bahwa para pengungsi tersebut bukan saja mengecam berhala Arab, melainkan pula menghina Yesus Kristus. Atas hasutan mereka, kaum Muslim dipanggil menghadap Raja untuk menjawab tuduhan ini, pemimpin rombongan kaum Muslimin membaca beberapa ayat Qur’an Surat Maryam yang menerangkan perihal Nabi ‘Isa. Ayat ini begitu mengesan kepada Raja Najasi, hingga beliau menangis, kemudian beliau berkata bahwa Yesus Kristus tak serambut pun menyimpang dari apa yang digambarkan Qur’an Suci. Kemudian beliau memeluk Islam, ini nampak dengan jelas, bahwa pada waktu berita tentang kematian beliau sampai di Madinah, Nabi Suci melakukan shalat jenazah untuk beliau (B. 23:4). []
  74. Ayat ini bukan saja mengecam perbuatan menyiksa diri seperti yang dilakukan oleh para rahib Kristen, sebagaimana diterangkan dalam ruku’ sebelumnya, melainkan pula mengecam perbuatan yang dapat menjauhkan diri dari rahmat Ilahi dengan melibatkan diri dalam kebiasaan yang buruk dan malas-malasan. Jadi, kaum Muslimin diperingatkan supaya jangan mengikuti perbuatan kaum Nasrani yang membelenggu diri sendiri dengan macam-macam larangan bikinan sendiri, dan untuk memperoleh anugerah Ilahi, mereka harus berusaha dan bekerja keras. []
  75. Keliru sekali jika dikira bahwa ayat ini menguraikan hukum kifârat (tebusan) bagi segala macam sumpah. Jika ayat ini dibaca bersama ayat sebelumnya, terang sekali bahwa yang dimaksud sumpah di sini ialah sumpah yang berhubungan dengan nazar, yang dengan nazar ini orang mengharamkan suatu barang yang sebenar halal. Perintah tepatilah sumpah kamu pada akhir ayat, menunjukkan bahwa pada umumnya sumpah tidak boleh dilanggar; oleh karena itu, tebusan hanya diwajibkan dalam hal sumpah yang menyebabkan orang tak melakukan sesuatu yang halal atau tak melakukan perbuatan utama, sebagaimana diterangkan dalam 2:226. Selanjutnya terang sekali bahwa Kitab Suci yang menekankan supaya orang melaksanakan segala macam perjanjian, tak mungkin mengizinkan orang melanggar persetujuan yang sudah dikuatkan dengan sumpah. []
  76. Kalimat ihfazhû aimânakum mempunyai dua makna. Pertama, tepatilah sumpah kamu, artinya, kamu harus setia pada sumpah yang kamu ucapkan. Kedua, jagalah sumpah kamu, artinya janganlah kamu bersumpah jika tidak perlu. []
  77. 731a Lihatlah 5:3 dan tafsir nomor 662, 663.
    Ayat ini melarang sama sekali minuman keras dan judi; selain itu, digolongkannya minuman keras dan judi dengan sesaji kepada berhala dan mengadu nasib dengan panah, terang sekali bahwa semua ini termasuk perbuatan haram yang diuraikan dalam 5:3. Diriwayatkan bahwa tatkala ayat ini diturunkan, seorang Sahabat mengumumkan di sepanjang jalan kota Madinah, bahwa minuman keras diharamkan, seketika itu bejana-bejana yang berisi minuman keras di rumah kaum Muslimin ditumpahkan semua, sehingga di lorong-lorong mengalir minuman keras (B. 46:20). Dalam sejarah dunia, belum pernah kejahatan yang sudah berurat berakar seperti minuman keras ini dapat dimusnahkan begitu cepat dan menyeluruh, seperti kejadian di kota Madinah pada waktu turunnya ayat ini. []
  78. Di sini hanya diuraikan satu alasan, tetapi cukup terang, mengapa minuman keras dan judi dilarang. Di tempat lain diuraikan seterang-terangnya bahwa dalam minuman keras dan judi terdapat dosa yang besar (2:219). []
  79. Ayat ini membicarakan orang yang mati sebelum larangan ini diturunkan. Tetapi andaikata yang diisyaratkan di sini ialah semua kaum mukmin, ini bukan berarti ayat ini membenarkan perbuatan yang tak halal, karena, orang yang beriman dan berbuat baik dan bertaqwa, tak mungkin menjalankan perbuatan yang dilarang. Diuraikannya iman dan taqwa sampai tiga kali ini mengisyaratkan tiga macam kewajiban manusia, yaitu: kewajiban kepada Allah, kepada diri sendiri dan kepada orang lain. Atau, dengan diulanginya perkataan iman, ini dimaksud untuk melaksanakan iman dalam perbuatan. []
  80. Larangan membunuh binatang buruan pada waktu menjalani ibadah Haji tersebut dalam ayat 94-96, ini diambil demi menghormati kesucian Ka’bah (Iihatlah ayat 97), sebagai tambahan atas kewajiban melindungi keamanan jiwa, pada waktu berkumpulnya orang banyak. []
  81. Di sini kata bahr digunakan dalam arti yang luas. Adapun yang dimaksud buruan laut ialah semua binatang yang hidup di air, baik di laut, di sungai, di kolam atau di danau. []
  82. Tha’âm (makna aslinya makanan) laut, ini harus dibedakan dari binatang buruan laut; adapun yang dimaksud ialah apa yang terdapat (di daratan), yang asal mulanya dilemparkan oleh laut atau sungai (B. 72:12), atau apa yang ketinggalan di daratan karena air surut, yang tak perlu susah payah untuk menangkapnya (Rz). Menurut I’Ab, tha’âm artinya apa yang mati sendiri di air­­, (ini dihalalkan) terkecuali yang sudah busuk (B. 72:12). []
  83. Kata Ka’bah berasal dari kata ka’ba artinya membesar atau menjadi mulia; Ia disebut demikian karena mulianya Ka’bah; atau nama ini mengandung ramalan bahwa Ka’bah akan unggul di dunia untuk selama-lamanya. Al-Baitul-Harâm (Rumah Suci atau Rumah yang tak dapat dilanggar) adalah nama lain lagi; dan di kalangan Bangsa Arab ia dikenal dengan nama baitullâh atau Rumah Allah. Bangunan itu berukuran 50×55 kaki, tetapi halaman tempat berdirinya Ka’bah berukuran 500×530 kaki. []
  84. Ini adalah ramalan bahwa Ka’bah akan menjadi sandaran atau penyangga bagi manusia untuk selama-lamanya, yang di sini akan berkumpul jamaah haji dari seluruh penjuru dunia. Apa yang dituju oleh ramalan ini dijelaskan dalam akhir ayat “Demikian itu agar kamu tahu bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi”, yaitu terpenuhinya ramalan itu pada abad-abad mendatang, merupakan tanda bukti luasnya ilmu Allah, Yang telah mengumumkan ramalan itu pada waktu Ka’bah tak banyak dikenal di luar Tanah Arab; lihatlah tafsir nomor 469. []
  85. Islam tak membenarkan praktek hidup yang berat-berat seperti hidup dalam biara, demikian pula Islam melarang bertanya soal kecil-kecil yang menyebabkan perbuatan ini atau itu dijadikan barang wajib; kebanyakan hanya diserahkan kepada pendapat orang seorang atau menurut keadaan tempat dan waktu. Ijithad mempunyai kedudukan yang amat penting dalam Islam, dan kepada berbagai bangsa dan masyarakat diberi kelonggaran seluas-luasnya untuk membuat kerangka undang-undang sendiri untuk menghadapi situasi baru yang selalu berubah. Dalam Hadits juga diterangkan bahwa Nabi Suci melarang bertanya tentang soal-soal detail, yang kaum Muslimin dapat memilih sendiri cara yang tepat bagi dirinya (B. 3:28-29). []
  86. Ayat ini bukanlah ditujukan kepada segolongan umat. Sejarah umat yang sudah-sudah menunjukkan bahwa pada umumnya pernyataan ini adalah benar. []
  87. Membebaskan binatang tertentu untuk memuja berhala adalah lazim dikerjakan di kalangan Bangsa Arab. Sebagaimana Islam melenyapkan segala bentuk penyembahan berhala, perbuatan ini juga dikecam. Kata bahîrah (berasal dari kata bahara, maknanya memotong atau mengiris) artinya unta betina yang diiris telinga-nya. Apabila seekor unta betina (menurut sebagian mufassir termasuk pula biri-biri atau domba betina) melahirkan lima atau tujuh atau sepuluh anak, maka yang terakhir, apabila jantan, dipotong, tetapi apabila betina, telinganya diiris. Menurut mufassir lain, yang telinganya diiris ialah induknya; induk ini dibebaskan dari pekerjaan angkut-mengangkut, dan dibebaskan pula dari pemotongan (LL). Sâibah dari kata saba maknanya lari sendiri, artinya binatang yang dilepas semau-maunya di padang rumput. Menurut sebagian mufassir lagi, binatang ini adalah induk hirah atau unta betina yang melahirkan berturut-turut sepuluh unta betina, ia dilepas semau-maunya di padang rumput, tak boleh dinaiki dan tak boleh pula diambil susunya (LL).
    Washîlah dari washala, maknanya dihubungkan atau digabungkan, artinya domba betina yang melahirkan anak kembar, jantan dan betina, apabila yang dilahirkan hanya domba jantan, maka domba jantan ini dipotong untuk disajikan kepada berhala; dan apabila yang dilahirkan hanya betina, ini dipelihara; tetapi apabila yang dilahirkan itu kambing jantan dan betina, domba yang jantan digabungkan menjadi satu dengan domba betina, dengan demikian tak dikurbankan kepada berhala (Rz).
    Hâmi dari hamahu maknanya melarangnya, melindunginya, atau menjaganya; artinya unta jantan yang dilarang punggungnya (untuk dinaiki atau dibebani muatan); dilepas semau-maunya dan tak boleh dipekerjakan; yang keturunan tingkat duanya mempunyai banyak anak (LL). []
  88. Riwayat berikut ini diuraikan sehubungan dengan turunnya ayat ini. Dua orang Kristen bersaudara, Tamin Dari dan ‘Adi mendapat amanat dari kawan mereka, seorang Muslim bernama Budail yang meninggal dunia di Syria, agar setelah mereka tiba kembali di Madinah, menyerahkan harta peninggalan Budail kepada ahli warisnya. Tetapi dua orang Kristen ini mencuri satu bejana perak, dan sisanya diserahkan kepada keluarganya; keluarga ini menemukan daftar lengkap, sehingga mereka tahu bahwa satu bejana perak yang dicuri itu sebenarnya termasuk harta peninggalan Budail yang asli; kesaksian dua orang Kristen bersaudara ini palsu.
    Riwayat ini membuktikan seterang-terangnya bahwa sampai saat turunnya ayat ini, hubungan orang Kristen dan orang Islam masih tetap baik. Selain itu riwayat ini juga membuktikan bahwa menurut Qur’an, kesaksian orang yang memeluk agama lain, juga diperbolehkan. []
  89. “Kesaksian Allah” artinya kesaksian yang jujur, sebagaimana diperintahkan oleh Allah. []
  90. Satu pernyataan dikatakan ‘alâ wajhihi jika pernyataan itu dibuat dengan benar (LL, bab qassh). Kata wajh artinya muka, maksud, cara, atau haluan. Oleh karena itu, memberi kesaksian ‘alâ wajhihi artinya memberi kesaksian dengan sebenarnya atau sesuai dengan fakta. []
  91. Bunyi pertanyaan itu demikian. Apakah umat yang kamu diutus kepada mereka, mau menerima risalah kamu dan mau tetap setia kepada risalah itu, ataukah sebaliknya? Para Utusan menjawab bahwa Allah sajalah Yang Maha-tahu bagaimana umat mereka menerima risalah mereka, karena mereka tak dapat mengatakan sampai berapa besar kesalahan orang-orang yang mendustakan, dan sampai berapa jauh kesetiaan orang-orang yang menerima risalah itu, setelah beliau meninggal dunia. []
  92. Keterangan tentang Nabi ‘Isa dikuatkan dengan Roh Suci, lihatlah tafsir nomor 128; keterangan tentang berbicara dalam buaian dan dalam usia lanjut, demikian pula penjelasan tentang arti kata kahlan, lihatlah tafsir nomor 428, 429 dan 430; keterangan tentang pencegahan kaum Bani Israil, lihatlah tafsir nomor 435 dan 436. []
  93. Mâidah berasal dari mada, mempunyai dua makna: (1) bergerak, (2) nikmat. Menurut R, madani artinya memberi makan kepadaku, adapun mâidah artinya hidangan atau meja yang penuh hidangan. Mâidah berarti pula ilmu, karena ilmu itu makanan rohani sebagaimana hidangan itu makanan jasmani (R). Meja tanpa hidangan, tak disebut mâidah (LL). []
  94. Kata ‘Id yang digunakan di sini artinya pesta; adapun makna aslinya ialah kegembiraan yang senantiasa berulang atau sumber kenikmatan. []
  95. Agaknya ayat ini mengisyaratkan doa untuk diberi roti setiap hari yang oleh Yesus dimasukkan dalam doa Bapa kami yang tersohor, karena para murid beliau amat cenderung kepada barang-barang duniawi. Tak sangsi lagi bahwa makanan duniawi diberikan dengan melimpah-limpah kepada kaum Kristen, tetapi ini menyebabkan mereka kehilangan hidangan samawi. Bandingkanlah dengan doa kaum Muslimin tersebut dalam Surat Al-Fatihah, mereka bukan mohon diberi roti, melainkan mohon ditunjukkan jalan yang benar. Bentuk permohonan agar hidangan itu menjadi kegembiraan yang senantiasa berulang menunjukkan seterang-terangnya bahwa yang dimohon bukanlah meja yang penuh hidangan, sebagaimana umum menduga. Adapun tentang diturunkannya hidangan langit, hendaklah orang mengingat bahwa menurut bahasa Al-Qur’an, segala sesuatu itu ada pada Allah, dan ini diturunkan kepada manusia. Bandingkanlah dengan 15:21 yang berbunyi: “Dan tak ada suatu barang melainkan perbendaharaannya ada pada Kami, dan Kami tak menurunkan itu kecuali dengan ukuran yang diketahui”. []
  96. 750a Ramalan ini benar-benar terpenuhi di hadapan mata kita. Malapetaka yang menimpa umat manusia yang ditimbulkan oleh dua Perang Dunia, teristimewa yang menimpa umat Kristen, benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya — siksaan yang belum pernah Aku siksakan kepada salah satu di antara bangsa-bangsa. Dan apakah sebab-musabab siksaan itu? Malapetaka yang menimpa dunia sekarang ini, ini disebabkan dunia tergila-gila berebut kekayaan dan sekedar sesuap nasi. Karena dunia melalaikan nilai-nilai hidup yang tinggi, dan membabi-butanya mengejar kesenangan materi, terjadilah kehancuran dunia yang belum pernah disaksikan sebelumnya, dan orang tak tahu malapetaka apakah yang akan terjadi lagi, yang kini masih terpendam.
    Dari uraian ini, yakni Siti Maryam dijadikan sebagai tuhan oleh kaum Kristen, sebagian kritikus Kristen menarik kesimpulan, bahwa menurut Qur’an, doktrin Trinitas itu terdiri dari tiga oknum, yaitu Allah, Yesus, dan Maryam. Tetapi ini adalah kesimpulan yang tak benar. Memang di sini dikatakan bahwa Siti Maryam dijadikan sebagai orang yang disembah oleh kaum Kristen; tetapi di sini tak disebut-sebut doktrin Trinitas, sedang di tempat lain yang menyebut-nyebut doktrin Trinitas, tak disebut-sebut ketuhanan Siti Maryam sama sekali. Ajaran dan praktek yang oleh golongan Protestan disebut Mariolatry, ini terkenal sekali. Dalam buku Katekismus Roma Katolik terdapat ajaran seperti berikut: “Maryam itu benar-benar Bunda Allah dan Siti Hawa yang kedua, yang atas perantaraannya, kita memperoleh berkah dan hidup; beliau adalah bunda kasih sayang dan teristimewa yang menjadi pelindung kita, patung beliau berfaedah sekali” (En. Br., edisi II jilid 17 hlm. 813). Diterangkan pula bahwa wasilah (perantaraan) beliau dimohon secara langsung dalam Litany. Selanjutnya diterangkan bahwa di Thrace, Scythia dan Arab, terdapat segolongan wanita yang mempunyai kebiasaan menyembah perawan sebagai tuhan wanita, dan salah satu ciri khas sesaji mereka adalah kue. Penulis buku ini menulis: “Sejak zaman konsili di Ephesus pada tahun 431, penampilan patung atau gambar perawan dan anak, merupakan ekspresi ortodok yang disahkan … Pertumbuhan kultus Maryam (mendewa-dewakan Siti Maryam), baik di Timur maupun di Barat, sesudah keputusan konsili Ephesus, sukar sekali diusut dalam sejarah … Raja Yustinian dalam salah satu undang-undangnya mengumumkan bahwa Siti Maryam dijadikan pelindung bagi Kerajaannya, dan beliau mengukir nama Siti Maryam pada altar yang tinggi di Gereja yang baru, St. Sophia. Jenderal Narces mohon petunjuk Siti Maryam di medan perang. Raja Heraclius menghias benderanya dengan gambar Siti Maryam. Yohana Damaskus menyatakan Siti Maryam sebagai Ratu yang memerintah semua makhluk yang telah ditaklukkan oleh putra beliau. Petrus Damian menganggap beliau sebagai makhluk yang paling mulia, dan berwawancara dengan beliau seperti terhadap Tuhan atau terhadap yang menguasai langit dan bumi yang tak pernah melupakan manusia”. Sebenarnya, dunia Kristen merasa “perlu adanya perantara yang dapat menghubungkan dengan perantara yang sebenarnya”, oleh karena itu, Siti Maryam diangkat ke derajat Ketuhanan bersama-sama Nabi ‘Isa. Pernyataan Sri Paus baru-baru ini yang bertalian dengan kenaikan jasmani Siti Maryam ke langit, memperkuat kesimpulan itu, dan menimbulkan masalah baru bagi dunia Kristen, apakah Trinitas itu sebenarnya terdiri dari Allah, Yesus dan Maryam? []
  97. Ayat ini menjadi bukti yang meyakinkan bahwa Nabi ‘Isa mati secara wajar, jadi tidak hidup di langit sampai sekarang. Di sini Nabi ‘Isa berkata bahwa selama beliau berada di tengah-tengah murid beliau, beliau menjadi saksi atas keadaan mereka, dan beliau tak menemukan mereka menganggap beliau sebagai Tuhan. Jadi kesimpulan yang betul dari uraian ini ialah bahwa doktrin palsu tentang Ketuhanan beliau ini dimasukkan dalam agama Kristen setelah beliau meninggal dunia atau setelah Engkau mematikan aku; lihatlah tafsir nomor 436.
    Diriwayatkan dalam Hadits bahwa Nabi Suci bersabda tentang dirinya dengan kata-kata, yang dalam ayat ini, diucapkan oleh Nabi ‘Isa. Beliau bersabda bahwa pada hari Kiamat akan diperlihatkan kepada beliau beberapa orang yang menyimpang dari ajaran beliau, dan pada hari itu “Aku akan berkata seperti yang dikatakan oleh hamba Allah yang tulus (Nabi ‘lsa): Aku adalah saksi bagi mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka, tetapi setelah Engkau mematikan aku, Engkaulah Yang mengawasi mereka (B. 60:8).
    Hadits ini menerangkan seterang-terangnya bahwa para pengikut Nabi Suci menyimpang dari ajaran beliau, setelah beliau meninggal dunia, sama halnya seperti para pengikut Nabi ‘Isa menyimpang dari ajaran beliau, setelah beliau meninggal dunia.
    752a Kalimat in taghfir lahum (jika Engkau mengampuni mereka), mengisyaratkan perlindungan terakhir yang akan diberikan kepada umat Kristen, jika mereka mau menerima Islam. Jika yang dimaksud di sini pengampunan atas dosa mereka, niscaya di sini digunakan sifat Tuhan yang berintikan pengampunan dan kasih sayang, yaitu Al-Ghafûr, Ar-Rahmân, artinya Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih. Tetapi di sini digunakan Al-‘Azîz, Al-Hakîm, artinya Yang Maha-perkasa, Yang Maha-bijaksana, yang biasa dipakai untuk menyatakan tercapainya tujuan dan terlaksananya perubahan yang besar. Sudi, salah seorang mufassir Qur’an zaman permulaan menafsirkan kalimat in taghfir lahum dengan: “Jika Engkau melindungi mereka dan memasukkan mereka dari agama Kristen ke dalam Islam” (IJ).[] []

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *