Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home / Al-Quran / 016 An Nahl

016 An Nahl

SURAT 16

An Nahl: Lebah

(Diturunkan di Makkah, 16 ruku’, 128 ayat)

Mukaddimah Surah Buka

 

Ruku’ 1: Wahyu Ilahi dibuktikan kebenarannya oleh alam

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih.

 

1. Perintah Allah akan terjadi, maka janganlah kamu menggesa-gesa itu.1354 Maha-suci Dia, dan Maha-luhur Dia melebihi apa yang mereka sekutukan.

 

2. Dia menurunkan malaikat dengan (membawa) wahyu1355 atas perintah-Nya kepada siapa yang Ia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, firman-Nya: Berilah peringatan bahwa tak ada tuhan selain Aku, maka bertaqwalah kepada-Ku.

 

3. Dia menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran. Maha-luhur Dia melebihi apa yang mereka sekutukan.

 

4. Dia menciptakan manusia dari benih hidup yang kecil,1356 lalu tiba-tiba ia menjadi pembantah yang terang-terangan.

 

5. Dan ternak, Ia menciptakan itu untuk kamu. Dari ternak itu kamu memperoleh pakaian hangat dan kegunaan (lain-lainnya), dan sebagian kamu makan.

 

6. Dan pada (ternak) itu kamu memperoleh pandangan yang indah, pada waktu kamu giring pulang dan pada waktu kamu lepas (di padang rumput).

 

7. Dan mereka mengangkut beban kamu yang berat ke daerah yang tak dapat kamu capai, kecuali dengan kesukaran yang menimpa diri kamu. Sesungguhnya Tuhan kamu itu Yang Maha-belas kasih, Yang Maha-pengasih.

 

8. Dan (Ia menciptakan) kuda dan bighal dan keledai untuk kamu naiki dan sebagai perhiasan. Dan Ia menciptakan apa yang kamu tak tahu.

 

9. Dan menjadi tanggungan Allah menunjukkan jalan yang benar, dan di antaranya ada jalan yang menyimpang. Dan jika Ia kehendaki, niscaya Ia menunjukkan kamu semua pada jalan yang benar.1357

Ruku’ 2: Alam menjunjung tinggi Keesaan Ilahi

 

10. Dia ialah Yang menurunkan air dari awan untuk kamu, sebagian untuk diminum, dan sebagian (lagi untuk menumbuhkan) pohon-pohon yang di sana kamu menggembala.

 

11. Dengan (air) itu Ia tumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, dan pohon zaitun, dan pohon kurma, dan anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya dalam ini adalah pertanda bagi kaum yang berfikir.

 

12. Dan Ia membuat malam dan siang dan matahari dan bulan supaya melayani kamu. Dan bintang-bintang dibuat untuk melayani dengan perintah-Nya. Sesungguhnya dalam ini adalah pertanda bagi kaum yang berakal.

 

13. Dan apa yang Ia ciptakan untuk kamu di bumi adalah bermacam-macam sekali warnanya. Sesungguhnya dalam ini adalah pertanda bagi kaum yang memperhatikan.

 

14. Dan Dia ialah Yang membuat laut untuk melayani kamu agar dari (laut) itu kamu dapat makan daging (ikan) yang segar, dan agar kamu keluarkan dari (laut) itu perhiasan yang kamu pakai. Dan engkau melihat perahu-perahu memecah (gelombang) menembus (lautan), agar kamu dapat mencari anugerah-Nya dan agar kamu bersyukur.

 

15. Dan Ia menancapkan gunung-gunung yang kuat di bumi agar bumi tak berguncang dengan kamu, demikian pula sungai dan jalan agar kamu dapat berjalan lurus.1358

 

16. Dan tanda-tanda batas. Dan mereka menemukan jalan yang benar dengan bintang-bintang.

 

17. Apakah Tuhan Yang Menciptakan itu sama dengan orang yang tak menciptakan? Apakah kamu tak memperhatikan?

 

18. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, kamu tak dapat menghitungnya. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

 

19. Dan Allah tahu apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu lahirkan.

 

20. Adapun orang-orang yang mereka seru selain Allah, mereka tak dapat menciptakan apa-apa, malahan mereka itu diciptakan.

 

21. (Mereka) mati, tak hidup. Dan mereka tak tahu kapan mereka akan dibangkitkan.1359

Ruku’ 3: Mereka menolak karena tak mengerti

 

22. Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha-esa; maka orang-orang yang tak beriman kepada Akhirat, hati mereka ingkar, dan mereka sombong.

 

23. Tak sangsi lagi bahwa Allah tahu apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Ia tak suka kepada orang-orang yang sombong.

 

24. Dan jika ditanyakan kepada mereka: Apakah yang diturunkan oleh Tuhan kamu? Mereka menjawab: Dongeng orang-orang kuno.

 

25. Agar pada hari Kiamat mereka memikul sepenuhnya beban mereka, demikian pula beban orang-orang yang mereka sesatkan tanpa pengetahuan. Ingat! Buruk sekali apa yang mereka pikul.

Ruku’ 4: Orang-orang jahat jatuh dalam kehinaan

 

26. Sesungguhnya orang-orang sebelum mereka telah mengadakan rencana jahat, maka Allah merobohkan bangunan mereka dari pondasinya, lalu runtuhlah atap menimpa mereka dari atas, dan siksaan mendatangi mereka dari arah yang tak mereka ketahui.1360

 

27. Lalu pada hari Kiamat mereka akan Ia jatuhkan dalam kehinaan, Dan ia berfirman: Di manakah sekutu-sekutu-Ku, yang karena mereka, kamu bersikap memusuhi? Orang-orang yang diberi ilmu akan berkata: Sesungguhnya pada hari ini kehinaan dan keburukan menimpa kaum kafir.1361

 

28. (Yaitu) orang-orang yang para malaikat mematikan mereka, selagi mereka berbuat lalim terhadap diri mereka. Lalu mereka menunduk (sambil berkata): Kami tak pernah berbuat jahat. Tidak! Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-tahu apa yang kamu lakukan.

 

29. Maka masuklah ke pintu Neraka, menetap di sana. Sungguh buruk sekali tempat orang yang sombong.

 

30. Dan ditanyakan kepada orang-orang yang bertaqwa: Apakah yang diturunkan oleh Tuhan kamu? Mereka menjawab: Kebaikan. Orang-orang yang berbuat baik di dunia memperoleh kebaikan. Dan sesungguhnya tempat tinggal di Akhirat itu lebih baik. Dan sungguh mulia tempat tinggal orang yang bertaqwa.

 

31. Taman-taman yang kekal yang mereka masuki, yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; di sana mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah mengganjar orang-orang yang bertaqwa.

 

32. (Yaitu) orang-orang yang para malaikat mematikan mereka dalam kesucian, sabdanya: Salam atas kamu! Masuklah di Taman, karena apa yang telah kamu kerjakan.

 

33. Apakah yang mereka nantikan selain bahwa para malaikat akan mendatangi mereka, atau bahwa perintah Tuhan dikau akan terjadi.1362 Demikianlah yang dikerjakan oleh orang-orang sebelum mereka. Dan Allah tak berbuat lalim terhadap mereka, tetapi merekalah yang berbuat lalim terhadap diri sendiri.

 

34. Maka (akibat) buruk dari apa yang telah mereka lakukan menimpa mereka, dan apa yang mereka perolok-olokkan melingkupi mereka.1363

Ruku’ 5: Para Nabi dibangkitkan untuk memberi penjelasan

 

35. Dan orang-orang musyrik berkata: Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kami tak mengabdi kepada siapa pun selain Dia, baik kami maupun ayah-ayah kami, dan tak pula kami mengharamkan apa pun tanpa (perintah) Dia.1364 Demikianlah perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang sebelum mereka. Maka apa pula kewajiban para Utusan selain menyampaikan (risalah) yang terang?

 

36. Dan sesungguhnya telah Kami bangkitkan bagi tiap-tiap umat seorang Utusan, sabdanya: Mengabdilah kepada Allah dan jauhkanlah diri kamu dari setan. Lalu di antara mereka ada yang Allah berikan pimpinan, dan di antara mereka ada yang sudah sepantasnya berada dalam kesesatan.1365 Maka berkelilinglah kamu di bumi, lalu lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan.

 

37. Jika engkau ingin agar mereka memperoleh pimpinan, maka sesungguhnya Allah tak akan memimpin orang yang sesat,1366 dan mereka tak mempunyai penolong.

 

38. Dan mereka bersumpah demi Allah dengan sekuat sumpah mereka: Allah tak akan membangkitkan orang yang sudah mati. Ya! Ini adalah janji yang mengikat Dia, dengan benar, tetapi kebanyakan manusia tak tahu.

 

39. Agar Ia jelaskan kepada mereka apa yang tentang ini mereka berselisih, dan agar orang-orang kafir tahu bahwa mereka itu pembohong.

 

40. Firman Kami terhadap suatu barang manakala Kami menghendaki itu hanyalah bahwa Kami berfirman kepadanya: Jadi, maka jadilah itu.

Ruku’ 6: Hukuman bagi para musuh

 

41. Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dianiaya, Kami pasti akan memberikan kepada mereka tempat tinggal yang baik di dunia; dan ganjaran di Akhirat adalah lebih besar. Sekiranya mereka tahu.1367

 

42. (Yaitu) orang-orang yang sabar dan bertawakal kepada Tuhan mereka.

 

43. Dan Kami tak mengutus sebelum engkau kecuali orang yang Kami berikan wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada para pengikut Peringatan jika kamu tak tahu.1368

 

44. Dengan tanda bukti yang terang dan Kitab-kitab Suci. Dan Kami turunkan kepada engkau Peringatan agar engkau dapat menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan agar mereka suka berpikir.

 

45. Lalu apakah orang-orang yang membuat rencana jahat merasa aman, bahwa Allah tak akan merendahkan mereka di bumi, atau menimpakan siksaan kepada mereka dari arah yang mereka tak menyadari?1369

 

46. Atau bahwa Ia tak akan menghukum mereka dalam perjalanan hilir-mudik mereka, lalu mereka tak dapat meloloskan diri.1370

 

47. Atau bahwa Ia tak akan menghukum mereka dengan mengurangi sedikit demi sedikit.1371 Sesungguhnya Tuhan kamu itu Yang Maha-belas kasih, Yang Maha-pengasih.

 

48. Apakah mereka tak melihat segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah? Bayang-bayangnya berpindah dari kanan dan kiri, bersujud kepada Allah, dan mereka amat merendahkan diri.

 

49. Dan kepada Allah sajalah bersujud segala makhluk hidup yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan (pula) para malaikat, dan mereka tak sombong.

 

50. Mereka takut kepada Tuhan mereka di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka.1372

Ruku’ 7: Kodrat manusia menentang kemusyrikan

 

51. Dan Allah berfirman: Janganlah kamu mengambil dua tuhan. Dia adalah Tuhan Yang Maha-esa; Maka kepada-Ku sajalah kamu harus takut.

 

52. Dan apa saja yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya, dan kepada-Nya sajalah ketaatan harus diberikan. Lalu apakah kamu takut kepada selain Allah?

 

53. Dan kenikmatan apa saja yang kamu punyai adalah dari Allah; lalu apabila kemalangan menimpa kamu, kamu berteriak minta tolong kepada-Nya.

 

54. Lalu jika kemalangan Ia singkirkan dari kamu, tiba-tiba segolongan di antara kamu menyekutukan Tuhan.

 

55. Oleh karena mereka mengafiri apa yang Kami berikan kepada mereka. Maka bersenang-senanglah kamu, karena kamu segera akan tahu.

 

56. Dan mereka memisahkan sebagian dari apa yang Kami berikan kepada mereka untuk apa yang mereka tak tahu.1373 Demi Allah! Kamu pasti akan ditanya tentang apa yang kamu buat-buat.

 

57. Dan mereka mengakukan Allah mempunyai anak perempuan. Maha-suci Dia! Dan mereka sendiri mempunyai apa yang mereka inginkan.

 

58. Dan tatkala salah seorang di antara mereka diberi kabar tentang kelahiran anak perempuan, wajahnya (berubah) menjadi hitam dan ia sangat marah.

 

59. Ia menyembunyikan diri dari orang banyak karena buruknya barang yang diberitakan kepadanya. Apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan, ataukah akan menanamnya (hidup-hidup) dalam tanah. Oh, buruk sekali apa yang mereka putuskan.1374

 

60. Orang-orang yang tak beriman kepada Akhirat mempunyai sifat-sifat yang buruk, dan Allah mempunyai sifat-sifat yang luhur. Dan Dia itu Yang Mah-perkasa, Yang Maha-bijaksana.

Ruku’ 8: Kelaliman kaum yang mendustakan

 

61. Dan jika Allah membinasakan manusia karena kelaliman mereka, niscaya tak akan tertinggal di bumi satu makhluk pun, tetapi Ia tangguhkan mereka sampai waktu yang ditentukan. Maka tatkala datang ajal mereka, mereka tak dapat menunda (itu) sesaat pun, dan tak dapat pula mempercepat (itu).

 

62. Dan mereka mengakukan Allah mempunyai apa yang mereka (sendiri) benci,1375 dan lidah mereka menceritakan kebohongan bahwa mereka memperoleh kebaikan. Tak sangsi lagi bahwa mereka akan masuk Neraka, dan mereka akan ditinggalkan (di sana).

 

63. Demi Allah! Kami telah mengutus (para Utusan) kepada umat sebelum engkau, tetapi setan membuat perbuatan mereka tampak indah bagi mereka. Maka pada hari itu dia adalah pelindung mereka, dan mereka akan memperoleh siksaan yang pedih.

 

64. Dan tiada Kami menurunkan Kitab kepada engkau kecuali agar engkau memberi penjelasan kepada mereka apa yang mereka berselisih di dalamnya, dan (sebagai) pimpinan dan rahmat bagi kaum yang beriman.1376

 

65. Dan Allah menurunkan air dari langit, dan dengan ini Ia menghidupkan bumi setelah matinya.1377 Sesungguhnya dalam ini adalah pertanda bagi kaum yang mendengar.

Ruku’ 9: Perumpamaan yang menunjukkan kebenaran Wahyu Ilahi

 

66. Dan sesungguhnya dalam hal ternak adalah pelajaran bagi kamu: Kami memberi minum kepada kamu dari apa yang ada dalam perutnya — dari antara kotoran dan darah — berupa susu murni, yang sedap bagi orang yang minum.

 

67. Dan dari buah kurma dan anggur, kamu peroleh minuman keras dan rezeki yang baik. Sesungguhnya dalam ini adalah pertanda bagi kaum yang berakal.1378

 

68. Dan Tuhan dikau mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang di gunung dan pohon-pohon dan pada apa yang mereka bangun.

 

69. Lalu makanlah segala macam buah-buahan, dan berjalanlah di jalan Tuhan dikau dengan rendah hati. Dari perutnya keluarlah minuman yang macam-macam warnanya, yang di dalamnya adalah obat bagi manusia. Sesungguhnya dalam ini adalah pertanda bagi kaum yang suka berpikir.1379

 

70. Dan Allah menciptakan kamu, lalu mematikan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada batas umur yang terburuk, sehingga ia tak tahu apa-apa, setelah ia tadinya tahu. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-tahu, Yang Maha-kuasa.1380

Ruku’ 10: Yang menerima Wahyu Ilahi

 

71. Dan Allah membuat sebagian kamu melebihi sebagian yang lain dalam hal rezeki; tetapi orang-orang yang dibuat lebih itu tidak mau menyerahkan rezeki mereka kepada orang yang dimiliki oleh tangan kanan mereka, sehingga dalam hal ini mereka menjadi sama. Apakah mereka menolak nikmat Allah?1381

 

72. Dan Allah telah membuat untuk kamu istri dari diri kamu sendiri,1382 dan memberikan kepada kamu dari istri kamu anak laki-laki dan anak perempuan, dan memberi rezeki kepada kamu dari barang-barang yang baik. Lalu apakah mereka beriman kepada barang palsu dan mengafiri nikmat Allah?1383

 

73. Dan mereka mengabdi kepada selain Allah yang sekali-kali tak menguasai rezeki untuk mereka dari langit dan bumi, demikian pula mereka tak kuasa.

 

74. Maka dari itu janganlah kamu membuat persamaan terhadap Allah. Sesungguhnya Allah itu tahu, sedangkan kamu tak tahu.

 

75. Allah membuat perumpamaan: Ada seorang budak belian yang dimiliki oleh orang yang tak menguasai apa-apa, dan ada pula orang yang Kami beri rezeki dari Kami sendiri, maka ia dapat membelanjakan sebagian (rezeki) itu secara rahasia dan secara terbuka. Apakah dua orang itu sama?1384 Segala puji kepunyaan Allah! Tetapi kebanyakan mereka tak tahu.

 

76. Dan Allah membuat perumpamaan tentang dua orang: Seorang di antara mereka bisu, dan ia tak menguasai apa-apa, malahan ia menjadi beban majikannya; ke mana saja ia disuruh, ia tak membawa kebaikan. Samakah ia dengan orang yang menyuruh berbuat adil dan berjalan pada jalan yang benar?1385

Ruku’ 11: Siksaan tidak diturunkan

 

77. Dan segala yang tak nampak di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah. Dan perkara sa’ah hanyalah seperti kejapan mata atau lebih pendek lagi. Sesungguhnya Allah itu Yang berkuasa atas segala sesuatu.1386

 

78. Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibu kamu — kamu tak tahu apa-apa — dan Ia memberikan kepada kamu pendengaran dan penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

 

79. Apakah mereka tak melihat burung yang tertahan di angkasa raya? Tak ada yang dapat menahan itu selain Allah. Sesungguhnya dalam ini adalah pertanda bagi kaum yang beriman.1387

 

80. Dan Allah memberikan kepada kamu tempat tinggal di rumah-rumah kamu, dan Ia memberikan kepada kamu kemah-kemah dari kulit binatang ternak, yang ringan dibawa pada waktu kamu berangkat dan pada waktu kamu berhenti, dan (dari) bulunya yang tebal dan bulunya yang halus, dan rambutnya, sebagai bahan keperluan rumah tangga dan perlengkapan untuk sementara waktu.

 

81. Dan dari apa yang Ia ciptakan, Ia membuat tempat berlindung bagi kamu, dan Ia membuat gunung sebagai tempat pengungsian bagi kamu, dan Ia memberi pakaian kepada kamu untuk melindungi kamu dari panas,1388 dan baju besi untuk melindungi kamu dalam pertempuran. Demikianlah Ia menyempurnakan nikmat-Nya kepada kamu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).1389

 

82. Lalu jika mereka berpaling, maka kewajiban dikau hanyalah menyampaikan (risalah) yang terang.

 

83. Mereka tahu akan nikmat Allah, namun mereka mengingkarinya, dan kebanyakan mereka adalah orang yang tidak tahu terima kasih.

Ruku’ 12: Para Nabi menjadi saksi

 

84. Dan pada hari tatkala Kami membangkitkan seorang saksi dari tiap-tiap umat,1390 lalu kepada kaum kafir tak diizinkan (mengemukakan pembelaan), dan tak diizinkan pula memberi ganti rugi.

 

85. Dan tatkala orang-orang lalim melihat siksaan, lalu ini tak akan diringankan kepada mereka, dan tak pula akan ditangguhkan.

 

86. Dan tatkala orang-orang yang menyekutukan (Allah) melihat sekutu mereka, mereka berkata: Tuhan kami, inilah sekutu kami yang kami seru selain Engkau. Tetapi ini akan melemparkan ucapan kembali kepada mereka: Sesungguhnya kamu itu pendusta.

 

87. Dan pada hari itu mereka menyatakan tunduk kepada Allah, dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulu mereka buat-buat.

 

88. Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan, karena mereka berbuat bencana.

 

89. Dan pada hari tatkala Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi terhadap mereka dari kalangan mereka sendiri, dan Kami mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka.1391 Dan Kami turunkan kepada engkau Kitab yang menjelaskan segala sesuatu,1392 dan pimpinan, dan rahmat, dan kabar baik bagi kaum Muslimin.

Ruku’ 13: Wahyu Ilahi menyuruh berbuat kebaikan

 

90. Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, dan berbuat baik (kepada orang lain), dan memberi (apa-apa) kepada kaum kerabat, dan melarang berbuat keji dan berbuat jahat dan memberontak. Ia memberi nasihat kepada kamu agar kamu ingat.1393

 

91. Dan tepatilah perjanjian Allah bilamana kamu berjanji, dan janganlah kamu melanggar sumpah setelah itu dikokohkan, sedangkan kamu telah membuat Allah sebagai tanggungan. Sesungguhnya Allah itu tahu apa yang kamu lakukan.

 

92. Dan janganlah kamu seperti orang yang menguraikan benang setelah itu dipintal dengan kuat, hingga itu cerai-berai.1394 Kamu membuat sumpah sebagai alat untuk menipu di antara kamu, karena umat (yang satu) lebih besar jumlahnya dari umat (yang lain).1395 Dengan ini Allah hendak menguji kamu. Dan pada hari Kiamat, Ia akan menjelaskan kepada kamu apa yang kamu berselisih di dalamnya.

 

93. Jika Allah berkenan, Ia membuat kamu satu umat, tetapi Ia biarkan orang yang Ia kehendaki dalam kesesatan, dan Ia pimpin orang yang Ia kehendaki (di jalan yang benar). Dan kamu pasti akan ditanya tentang apa yang kamu lakukan.

 

94. Dan janganlah kamu membuat sumpah kamu sebagai alat untuk menipu di antara kamu, dengan demikian, kaki akan tergelincir setelah itu kokoh, dan kamu akan mengalami keburukan karena kamu menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, dan kamu akan memperoleh siksaan yang besar.

 

95. Dan janganlah kamu mengambil harga yang rendah sebagai pengganti perjanjian Allah. Sesungguhnya apa yang ada pada Allah itu lebih baik bagi kamu, jika kamu tahu.

 

96. Apa yang ada pada kamu akan lenyap, dan apa yang ada pada Allah akan kekal. Dan Kami akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang sabar, ganjaran mereka atas sebaik-baik yang mereka lakukan.1396

 

97. Barangsiapa berbuat baik, baik pria maupun wanita,1397 dan dia itu mukmin, Kami pasti akan menghidupi dia dengan kehidupan yang baik, dan Kami akan memberi ganjaran kepada mereka atas sebaik-baik apa yang mereka lakukan.

 

98. Maka dari itu jika engkau membaca Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.

 

99. Sesungguhnya (setan) itu tak mempunyai kekuasaan terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan mereka.

 

100. Ia (setan) hanya berkuasa terhadap orang yang mengambil dia sebagai kawan, dan orang yang musyrik kepada-Nya.

Ruku’ 14: Qur’an itu bukan bikin-bikinan

 

101. Dan apabila Kami mengubah suatu ayat sebagai pengganti ayat (yang lain) — dan Allah itu Yang paling tahu akan apa yang Ia turunkan — mereka berkata: Engkau hanyalah membuat-buat saja. Tidak, kebanyakan mereka tak tahu.1398

 

102. Katakanlah: Roh Suci,1399 telah menurunkan itu dari Tuhan dikau dengan kebenaran, untuk meneguhkan orang-orang yang beriman, dan sebagai pimpinan dan kabar baik bagi kaum Muslimin.

 

103. Dan sesungguhnya Kami tahu bahwa mereka berkata: Yang mengajar kepadanya hanyalah manusia biasa. Bahasa orang yang mereka singgung adalah (bahasa) asing, sedangkan ini adalah bahasa Arab yang terang.1400

 

104. Sesungguhnya orang yang tak beriman kepada ayat-ayat Allah, Allah tak memimpin mereka, dan mereka mendapat siksaan yang pedih.

 

105. Hanya orang yang membuat-buat kebohongan itulah yang tak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka adalah orang yang dusta.1401

 

106. Barangsiapa kafir kepada Allah sesudah ia beriman — bukannya orang yang dipaksa, sedang hatinya merasa tenteram dengan iman, melainkan orang yang membuka dadanya untuk kekafiran — mereka akan ditimpa kemurkaan Allah, dan mereka akan mendapat siksaan yang pedih.1402

 

107. Ini disebabkan karena mereka lebih mencintai kehidupan dunia daripada Akhirat, dan karena Allah itu tak memimpin kaum kafir.1403

 

108. Inilah orang yang Allah telah mencap hati mereka dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka, dan inilah orang yang lalai.1404

 

109. Tak ragu-ragu lagi, bahwa mereka di Akhirat adalah orang-orang yang merugi.

 

110. Lalu, sesungguhnya Tuhan dikau (melindungi) orang yang berhijrah setelah mereka difitnah, lalu mereka berjuang1405 dan bersabar; sesungguhnya Tuhan dikau itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

Ruku’ 15: Nasib musuh Nabi Suci

 

111. Pada hari tatkala tiap-tiap jiwa datang untuk membela diri, dan tiap-tiap jiwa akan dibayar penuh apa yang ia lakukan, dan mereka tak akan diperlakukan tak adil.

 

112. Dan Allah membuat perumpamaan: Sebuah kota yang aman dan tenteram, yang rezekinya datang melimpah-limpah dari segala tempat; tetapi (kota) itu mengafiri nikmat Allah, maka Allah mengicipkan kepadanya pakaian lapar dan takut, karena apa yang mereka kerjakan.1406

 

113. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang Utusan dari golongan mereka, tetapi mereka mendustakan dia, maka siksaan menimpa mereka, sedangkan mereka lalim.1407

 

114. Maka makanlah apa yang telah Allah berikan kepada kamu, (barang-barang) yang halal dan baik, dan bersyukurlah terhadap nikmat Allah, jika kamu mengabdi kepada-Nya.

 

115. Dia hanya mengharamkan kepada kamu bangkai dan darah dan daging babi dan apa yang disembelih dengan disebut selain Allah; tetapi barangsiapa terpaksa, bukan karena suka dan tak melebihi batas, maka sesungguhnya Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.1407a

 

116. Dan janganlah kamu berkata dusta terhadap apa yang dilukiskan oleh mulut kamu: Ini halal dan ini haram; (dengan maksud) agar kamu membuat-buat kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang membuat-buat kebohongan terhadap Allah, mereka tak akan beruntung.

 

117. Kesenangan kecil; dan mereka akan mendapat siksaan yang pedih.

 

118. Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan apa yang telah Kami ceritakan kepada engkau dahulu,1407b dan Kami tak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri.

 

119. Sesungguhnya Tuhan dikau (memberi ampun) kepada orang yang berbuat jahat karena tak tahu, lalu setelah itu, mereka bertobat dan memperbaiki diri; sesungguhnya Tuhan dikau sesudah itu adalah Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

Ruku’ 16: Jalan menuju Kebenaran

 

120. Sesungguhnya Ibrahim adalah suri teladan,1407c orang yang taat kepada Allah, orang yang lurus, dan ia bukanlah golongan orang yang musyrik.

 

121. Yang mensyukuri nikmat-Nya. Tuhan memilih dia dan memimpin dia pada jalan yang benar.

 

122. Dan Kami memberi kepadanya kebaikan di dunia; dan di Akhirat, ia termasuk golongan orang yang saleh.

 

123. Lalu Kami wahyukan kepada engkau: Ikutilah agama Ibrahim, orang yang lurus; dan ia bukanlah golongan orang musyrik.

 

124. Sabbat hanyalah diwajibkan kepada mereka yang berselisih tentang itu.1407d Dan sesungguhnya Tuhan dikau akan memutuskan antara mereka pada hari Kiamat tentang apa yang mereka berselisih di dalamnya.

 

125. Berdakwahlah ke jalan Tuhan dikau dengan bijaksana dan nasihat yang baik, dan berbantahlah dengan mereka dengan cara yang amat baik.1408 Sesungguhnya Tuhan dikau itu tahu orang yang tersesat dari jalan-Nya, dan tahu pula orang yang berjalan benar.

 

126. Dan jika kamu memberi hukuman, maka berilah mereka hukuman yang sepadan dengan hukuman yang ditimpakan kepada kamu.1409 Tetapi jika kamu bersabar, niscaya ini lebih baik bagi orang yang bersabar.

 

127. Dan bersabarlah, dan kesabaran dikau tiada lain hanyalah karena (pertolongan) Allah; dan janganlah engkau berduka cita tentang mereka, dan jangan pula engkau merasa khawatir tentang apa yang mereka rencanakan.

 

128. Sesungguhnya Allah itu menyertai orang yang bertaqwa dan orang yang berbuat baik.

  1. Kata pembukaan Surat ini cocok sekali sebagai kelanjutan dari Surat-surat sebelumnya, yang berulangkali memberi peringatan kepada para musuh Kebenaran tentang datangnya siksaan. Kata amrullâh makna aslinya perintah Allah, artinya siksaan Allah yang diancamkan kepada mereka. Orang-orang kafir diminta supaya jangan menggesa-gesakan datangnya siksaan, karena Allah yang menganugerahkan segala keperluan jasmani kepada mereka, pasti berkenan pula menganugerahkan kebutuhan rohani, karena sifat kasih sayang Allah menduduki tempat yang paling tinggi. Hal ini diuraikan dalam ayat berikutnya. Siksaan apakah yang akan dijatuhkan, ini diuraikan dalam akhir Surat ini (ayat 112); lihatlah tafsir nomor 1406. []
  2. Di sini kata h berarti Wahyu Ilahi; mengapa disebut demikian, karena Wahyu itu menghidupkan rohani manusia. Tetapi kata h berarti pula Qur’an Suci (LL). []
  3. Nuthfah makna aslinya air murni (al-ma’ush-shâfi), baik itu diterapkan untuk jumlah yang sedikit maupun untuk jumlah yang banyak, maka dari itu, minuman yang baik disebut nuthfah, demikian pula lautan (T). Adapun nuthfah yang diterangkan sebagai benih manusia, adalah benih hidup yang kecil, atau spermatozoon yang berada dalam air mani. []
  4. Demikianlah orang akhirnya mau menerima Islam, mula-mula orang Makkah, lalu diikuti seluruh jazirah Arab. []
  5. Rupa-rupanya yang dimaksud oleh firman Qur’an ini ialah naiknya lapisan bumi dan guncangan keras yang menyebabkan terbentuknya gunung-gunung sebelum ada manusia di muka bumi; dan setelah itu terjadi, guncangan itu kini boleh dikatakan tak seberapa. Oleh karena itu, keadaan bumi yang sekarang didiami manusia, bisa dikatakan stabil dan memungkinkan untuk dihuni. Tetapi kata-kata antamîda dapat berarti pula agar gunung itu menjadi sumber yang berguna bagi kamu, karena kata tamîda artinya memberi faedah. Di tempat lain Qur’an berfirman: “Dan gunung-gunung Dia jadikan kokoh kuat, sebagai perbekalan bagi kamu dan ternak kamu” (79:32-33). []
  6. Dua ayat ini menerangkan seterang-terangnya bahwa baik Yesus Kristus maupun orang lain yang mereka anggap sebagai Tuhan, tak pernah menciptakan sesuatu. Kedua, pada waktu turunnya Qur’an, Yesus sudah wafat. Mereka mati, tak hidup. Selanjutnya, ayat ini menerangkan bahwa mereka tak tahu kapan mereka akan dibangkitkan; ini menunjukkan bahwa ayat ini membicarakan orang yang dianggap Tuhan, setidak-tidaknya mereka tercakup dalam ayat ini. []
  7. Artinya ialah, para musuh diberi waktu untuk melengkapi rencana mereka, lalu rencana dan segala biaya yang mereka belanjakan akan dibikin sia-sia, bahkan menyebabkan kehancuran mereka sendiri. Bandingkan dengan 8:36: “Sesungguhnya orang-orang kafir, mereka membelanjakan harta mereka untuk menghalang-halangi manusia dari jalan Allah; mereka terus akan membelanjakan itu, lalu itu akan mendatangkan penyesalan kepada mereka, lalu mereka akan dikalahkan”. []
  8. Perhatikanlah bahwa di dalam ayat ini siksaan terhadap kaum kafir pada hari Kiamat yang berupa kehinaan, disebutkan sampai dua kali. Ini menunjukkan bahwa kehinaan adalah sebagai api Neraka yang mereka rasakan di dunia ini. []
  9. Apakah yang dimaksud datangnya Malaikat dan datangnya Tuhan? Ini dijelaskan dalam ayat berikutnya. Adapun yang dimaksud ialah, datangnya siksaan atas perbuatan jahat mereka, dan akhirnya kehancuran mereka secara total. Datangnya Malaikat berarti datangnya malapetaka yang ringan, misalnya dilanda kelaparan dan pertempuran. Adapun datangnya Tuhan, mengandung arti hancurnya sama sekali kekuasaan mereka. Bandingkanlah dengan tafsir nomor 268 dan Surat 2:210. []
  10. Digunakannya fi’il madli di sini untuk menunjukkan besarnya keyakinan tentang hari kemudian. []
  11. Mereka tak mau memikirkan secara serius akan ajaran Nabi Suci, bahwa perbuatan buruk akan menelorkan akibat buruk pula, tetapi mereka siap dengan jawaban, bahwa jika Allah tak suka kepada keburukan, Ia dapat saja membelokkan mereka dari jalan yang buruk. Sebagai jawaban, mereka diberitahu bahwa kehendak Allah bukanlah memaksa orang untuk menganut jalan ini atau jalan itu, melainkan dengan mengutus para Utusan pada tiap-tiap zaman kepada tiap-tiap bangsa untuk menunjukkan jalan yang benar kepada mereka, demikian pula untuk menyampaikan risalah yang terang melalui para Utusan untuk memperingatkan mereka supaya menjauhkan diri dari kejahatan. []
  12. Haqqa ‘alaihi kadha artinya sudah sesuai dengan tuntutan keadilan dsb. Jika suatu barang berpengaruh kepadanya (LL). Sebagian orang ada yang tak mau menghiraukan peringatan Nabi Suci, dan tetap menganut barang salah. Oleh karena itu, sudah selaras dengan tuntutan keadilan, bahwa mereka dibiarkan dalam kesesatan. Risalah telah diturunkan oleh Allah, kini tinggal manusia itu sendiri yang menentukan pilihan, apakah akan menerima ataukah akan menolaknya. Kalimat ini tak sekali-kali berarti bahwa Allah telah menentukan sebelumnya nasib mereka, karena jika demikian, maka terutusnya para Nabi tak ada gunanya. []
  13. Kami kira banyak terjadi salah paham dalam menafsirkan kata man yudlillu yang artinya orang yang menyesatkan (orang lain). Adapun yang dimaksud ialah bahwa orang bukan hanya berjalan di jalan kesesatan, melainkan permusuhan mereka terhadap kebenaran pun semakin meningkat, hingga mereka menyesatkan orang lain; mereka tak dapat menemukan jalan yang benar, sekalipun Nabi Suci mengingatkan mereka agar mereka memperoleh jalan yang benar itu. []
  14. Ini adalah ramalan yang terang mengenai kaum Muslimin yang terpaksa hijrah meninggalkan rumah mereka karena penganiayaan kaum Quraisy. Apa yang dijanjikan kepada mereka bukanlah ganjaran di Akhirat saja, melaikan pula tempat tinggal yang baik di dunia ini. Apakah ini mengisyaratkan hijrah kaum Muslimin ke Abesinia atau hijrah yang kedua ke Madinah yang sudah dimulai sebelum hijrahnya Nabi Suci ke sana, tetapi satu hal sudah pasti, yakni orang-orang yang meninggalkan rumah mereka dalam keadaan tak berdaya dan terancam hidupnya, mereka diberi janji yang amat terang, bahwa di kemudian hari, mereka akan memperoleh kehidupan yang mulia di dunia, dan janji ini benar-benar terpenuhi, walaupun bangsa-bangsa yang besar bergabung menjadi satu dan berusaha mati-matian untuk melenyapkan Islam. Diriwayatkan bahwa setiap kali Sayyidina ‘Umar memberikan sesuatu kepada salah seorang sahabat Muhajir, beliau selalu berkata: “Ambillah ini, semoga Allah memberkahi engkau. Ini adalah yang Dia janjikan kepada engkau di dunia, dan apa yang dijanjikan kepada engkau di Akhirat, itu lebih besar” (Kf), ternyata ucapan beliau itu berhubungan dengan ayat ini. []
  15. Pada umumnya para mufassir berpendapat bahwa yang dimaksud para pengikut Peringatan ialah kaum Yahudi dan Nasrani, yang menurut dugaan para mufassir, kaum Quraisy disuruh mengajukan pertanyaan kepada mereka, apakah benar bahwa zaman dahulu, yang diutus Allah dengan menerima wahyu Ilahi itu adalah manusia, bukan Malaikat? Tetapi menilik uraian ayat berikutnya, bahwa Dzikr atau Peringatan itu diturunkan kepada Nabi Suci, ini menunjukkan bahwa kata Para pengikut Peringatan, diterapkan terhadap kaum Muslimin. Akan tetapi sebagian mufassir berpendapat bahwa kata itu bersifat umum, adapun artinya ialah kaum cerdik pandai. []
  16. Kata khasafa biasanya diterjemahkan membelah atau menelan, dan mempunyai juga makna lain, yaitu adlalla artinya merendahkan (T). Kashafa berarti pula menjadi rusak atau menderita rugi, dan kata benda infinitif kashf berarti buruk, keji, asor, hina atau merendahkan orang lain (LL). []
  17. Kata taqallub makna aslinya berbolak-balik, artinya bepergian untuk berdagang, karena untuk keperluan itu, orang harus selalu pergi ke sana ke mari (LL). Ayat 45-47 bersifat ramalan. Sebagaimana ayat 41 dan 42 meramalkan hidup makmur bagi mereka yang mau menerima kebenaran, walaupun kini mengalami penderitaan sehebat-hebatnya. Tiga ayat ini meramalkan bermacam-macam siksaan yang akan ditimpakan kepada mereka yang menganiaya kaum mukmin. Ayat 45 meramalkan bahwa kehinaan akan ditimpakan kepada mereka di bumi ini, sedangkan ayat 46 meramalkan bahwa kepergian mereka ke Syria, yang kemakmuran mereka bergantung kepada hasil perdagangan yang mereka jalankan terus-menerus, boleh jadi akan berakhir. Ini terjadi pada waktu kaum Muslimin di Madinah telah memperoleh kekuatan; dan karena sikap permusuhan kaum kafir Makkah yang berkali-kali menyerang kaum Muslimin, maka perdagangan mereka ke Syria terancam keselamatannya karena kota Madinah terletak di rute perdagangan itu. []
  18. Kata takhawwafahu artinya mengurangi sedikit demi sedikit (LL). Adapun yang dimaksud ialah, mereka akan dikurangi sedikit demi sedikit sampai kekafiran mereka dimusnahkan sama sekali. Ini adalah kesudahan mereka, kekuatan mereka terus-menerus berkurang sampai akhirnya seluruh Tanah Arab tunduk kepada Islam. []
  19. Selesai membaca ayat ini, diikuti dengan sujud sungguh-sungguh; lihatlah tafsir nomor 978. []
  20. Yaitu untuk berhala dan tuhan-tuhan mereka, yang karena kebodohan, mereka menjadikan itu sebagai perantara []
  21. Yang diisyaratkan di sini ialah adat-istiadat biadab menanam hidup-hidup anak perempuan, yang perbuatan ini merajalela di kalangan Bangsa Arab, terutama di kalangan para pemuka mereka. Terhapusnya adat-istiadat biadab ini adalah salah satu karunia agama Islam. Tanpa bantuan kekuatan lahir dan kekuasaan pemerintah, firman Allah ini berhasil menyapu bersih adat-istiadat yang sudah berurat-berakar, seakan-akan disulap dengan tongkat wasiat, sehingga tak terulang lagi peristiwa menanam hidup-hidup anak perempuan, setelah larangan ini diumumkan. Sungguh menarik perhatian sekali adanya pertentangan antara kepercayaan yang mereka anut dan keyakinan batin yang diuraikan dalam ayat 62. Lihatlah tafsir nomor 1375 berikut. []
  22. Yang diisyaratkan di sini ialah pengakuan Allah mempunyai anak perempuan, sedangkan mereka sendiri tak suka mempunyai anak perempuan. Ini menunjukkan betapa tak sesuainya keyakinan batin dengan pengakuan mereka bahwa mereka beriman kepada Allah. []
  23. Ayat sebelumnya menerangkan bahwa seluruh dunia berada dalam genggaman setan pada waktu datangnya Nabi Suci. Diterangkan pula bahwa sebelum datangnya Nabi Suci, para Utusan telah diutus kepada semua bangsa, tetapi lama-kelamaan para pengikut Utusan bukan lagi mengikuti ajaran mereka, melainkan mengikuti jalan-jalan sesat yang lama kelamaan tampak indah bagi mereka, sehingga yang mereka kejar hanyalah barang-barang duniawi saja. Ayat ini menerangkan bahwa ajaran para Nabi yang sudah-sudah diputarbalikkan begitu rupa hingga untuk memimpin mereka ke jalan yang benar sangat diperlukan datangnya Nabi baru. Kebenaran telah dikaburkan begitu rupa, hingga kebenaran itu tak dapat diketemukan lagi tanpa adanya penerangan dari langit. Selanjutnya ayat ini menerangkan bahwa ajaran Nabi baru itu diperuntukkan bagi para pengikut semua agama di dunia, dengan kata lain, diperuntukkan bagi seluruh dunia. []
  24. Air dari langit ialah Wahyu Ilahi; bumi yang mati ialah kerusakan di bumi. Menghidupkan bumi yang mati artinya membangkitkan rohani, yang tanda-tandanya mengagumkan dan sudah mulai nampak di Tanah Arab. []
  25. Rupa-rupanya ayat ini dan ayat sebelumnya dimaksud untuk memperbandingkan undang-undang Tuhan yang bekerja di alam semesta dengan hasil pekerjaan manusia. Undang-undang Tuhan yang bekerja di alam semesta menghasilkan makanan yang sedap dan berfaedah, seperti susu murni, dengan jalan memisahkan itu dari unsur-unsur lain — yaitu darah dan kotoran — yang semua itu berasal dari makanan yang dicerna dalam perut lembu, kambing dan binatang lainnya, yang pekerjaan itu tak dapat dilakukan oleh manusia. Sebaliknya, rezeki yang lezat yang dihasilkan oleh alam berupa buah-buahan, diubah oleh manusia menjadi minuman yang berbahaya, seperti anggur yang diubah oleh tangan manusia menjadi minuman keras. Jadi dua gambaran ini menunjukkan bahwa undang-undang Tuhan yang bekerja di alam fisik menghasilkan makanan yang paling murni dan paling sedap, dengan jalan memisahkan itu dari anasir yang buruk dan kotoran yang tak berguna. Demikian pula undang-undang Tuhan yang bekerja di alam rohani menghasilkan ajaran-ajaran akhlak mulia, yang bagi manusia merupakan makanan yang paling murni dan paling sedap. Tetapi ajaran-ajaran Tuhan yang amat baik itu dirusak oleh tangan manusia, seperti buah-buahan yang lezat diubah menjadi minuman keras dan tak sedap lagi, seperti anggur, padahal jika anggur itu diawetkan dalam keadaan aslinya, ini besar sekali faedahnya sebagai hidangan yang lezat. []
  26. Ini adalah gambaran lain yang menunjukkan bahwa Wahyu Ilahi dapat melaksanakan suatu tujuan yang tak dapat dilaksanakan oleh usaha manusia. Dalam hal ini diperlihatkan bekerjanya undang-undang alam pada lebah yang mengumpulkan sari dari bermacam-macam bunga, dibuatnya menjadi madu. Apa yang dilaksanakan oleh makhluk kecil ini, yang secara naluri bekerja menurut undang-undang Ilahi, tak dapat dilaksanakan oleh gabungan usaha dari sekalian manusia. Dikemukakannya gambaran dari alam fisik ini sekedar untuk menunjukkan bahwa undang-undang Ilahi pada alam rohani itu juga sama, yakni bahwa Nabi Suci yang seakan-akan bekerja secara naluri menurut undang-undang Ilahi yang berlaku di alam rohani, atas petunjuk Ilahi, mengumpulkan segala yang terbaik dan termulia pada suatu agama, dan menyimpulkannya dalam Qur’an Suci, suatu pekerjaan yang tak dapat dilaksanakan oleh usaha manusia. Hendaklah diingat bahwa dalam Qur’an disebutkan lima macam Wahyu Allah. Pertama, wahyu kepada makhluk yang tak bernyawa, seperti bumi (99:5) dan langit (41:12). Kedua, wahyu kepada makhluk hidup yang bukan manusia, seperti lebah. Ketiga, wahyu kepada Malaikat (8:12). Keempat, wahyu kepada pria dan wanita yang bukan Nabi, seperti kepada para Sahabat Nabi ‘Isa (5:111) dan Ibu Nabi Musa (28:7). Kelima, wahyu kepada para Nabi dan Rasul. Hendaklah diingat bahwa lima macam wahyu itu tak sama, misalnya dalam hal lebah, wahyu yang diberikan kepadanya berupa naluri (insting). Adapun wahyu kepada para Nabi ialah firman yang menyatakan kehendak Allah untuk memimpin manusia. []
  27. Sebagaimana berlaku bagi orang-seorang, demikian pula bagi bangsa. Orang-orang yang sebelum datangnya Nabi Suci diberi ilmu tentang Wahyu Ilahi, pada waktu datangnya Nabi Suci telah hilang atau rusak. Oleh sebab itu, sangat diperlukan turunnya Wahyu Ilahi yang baru. []
  28. Ayat ini menerangkan adanya perbedaan di alam fisik, dan memberi jawaban akan tuntutan kaum kafir, yang di tempat lain diuraikan: “Kami tak akan beriman, sampai kami diberi seperti apa yang diberikan kepada para Utusan Allah” (6:125), artinya mereka menuntut persamaan hak dengan Nabi Suci dalam hal menerima Wahyu Ilahi. Oleh sebab itu, di sini diterangkan bahwa jika di alam fisik ada perbedaan, maka di alam rohani pun ada perbedaan. Tak semua orang pantas menerima anugerah Wahyu Ilahi. Hal ini diisyaratkan pada akhir ayat. Nikmat Allah yaitu Wahyu Ilahi, bukanlah harus diingkari hanya karena tak semua orang dapat menerima itu. []
  29. Ayat ini menerangkan bahwa semua orang mempunyai istri yang diciptakan dari anfus mereka (jamaknya kata nafs, artinya jiwa atau diri sendiri). Tak ada seorang mufassir pun yang menerangkan kata-kata ini berlawanan dengan kodrat, seperti yang lazim digunakan untuk menafsiri kata-kata ini sehubungan dengan Adam (suatu tafsiran yang salah), yang menafsirkan kata nafs yang seharusnya berarti jiwa atau diri sendiri, tetapi ditafsirkan tulang rusuk. Qur’an tak membenarkan tafsiran yang bertentangan dengan kodrat, yang didasarkan atas cerita Bibel dalam Kitab Kejadian. []
  30. Selanjutnya kata hafadah disebutkan bersama-sama kata banîn yang artinya anak laki-laki. Kata hafadah jamaknya kata hafîd artinya orang yang melayani. Tetapi kata hafadah berarti pula cucu, anak perempuan, menantu dan hamba sahaya. Oleh karena kata ini disebutkan bersama-sama kata banîn (anak laki-laki), maka agaknya makna yang paling cocok ialah anak perempuan. Mereka mempunyai kepercayaan takhayul bahwa berhala, suatu benda yang tak bernyawa, dapat dijadikan perantara dengan Allah, dan mereka tak percaya bahwa manusia dikaruniai nikmat Allah (Wahyu Ilahi). Oleh karena itu, ayat berikutnya membicarakan berhala. []
  31. Yang dimaksud budak belian di sini ialah penyembah berhala, yang daripada menjadi penguasa terhadap berhala, batu, dan benda-benda semacam itu, ia lebih suka menjadi budak berhala, bersujud kepadanya dan menganggap itu lebih kuasa daripada dirinya sendiri, padahal sebenarnya ia diciptakan oleh Allah untuk menjadi penguasa atas itu. Adapun yang dimaksud orang yang diberi rezeki yang baik, ialah Nabi Suci yang menerima Wahyu Ilahi. Dikemukakannya perbandingan ini sekedar untuk menunjukkan bahwa kaum penyembah berhala akhirnya akan kehilangan kekuasaan. Kata tamsil ini menggema dalam jawaban Abu Sufyan, pada waktu Nabi Suci memasuki kota Makkah sebagai pemenang, dan bertanya kepadanya: “Bukankah telah tiba waktunya bahwa engkau sungguh-sungguh tahu bahwa tak ada Tuhan selain Allah?”. Abu Sufyan menjawab: “Demi Allah! Sekarang aku yakin bahwa seandainya ada Tuhan selain Allah, niscaya itu tak berguna bagiku walaupun hanya sedikit”. []
  32. Perumpamaan ini juga dimaksud untuk membuat perbandingan seperti ayat sebelumnya. Di sini dinyatakan lebih terang lagi arti maksudnya. Dalam ayat sebelumnya disebut orang yang diberi rezeki yang baik oleh Allah, di sini disebut orang yang menyuruh berlaku adil dan berjalan di jalan yang benar, sedangkan orang yang menyembah berhala disebut orang yang tak mampu berbuat apa-apa dan yang tak berhasil dalam hal yang ia kerjakan — sebuah tamsil yang meramalkan kekalahan dan kehancuran kaum kafir. []
  33. Yang dimaksud yang tak tampak di sini ialah pengetahuan tentang perkara gaib, atau pengetahuan tentang terpenuhinya ramalan. Adapun yang dimaksud sa’ah di sini ialah saat hancurnya para musuh Nabi Suci, yaitu pada waktu kekuatan mereka dihancurkan sama sekali. []
  34. Kalimat Allah menahan burung rupanya mempunyai arti yang dalam. Baik pepatah maupun syair Arab, dua-duanya menjadi saksi atas burung yang dikatakan mengiringi tentara yang menang untuk memakan bangkai tentara musuh yang kalah yang berserakan di medan perang. Jadi pepatah Arab yang termasyhur yang berbunyi: tabaddadâ bilahmikath-thaîr, maknanya semoga burung-burung mencabik-cabik dagingmu, ini semacam kata kutukan yang artinya: “Semoga orang itu mati dan dagingnya dicabik-cabik dan dimakan burung bangkai” (Majma’ulAmtsal, oleh Maidani, jilid I). Banyak syair Arab yang mengungkapkan hal itu, tetapi di sini kami berikan satu contoh saja. Nabighah yang termasyhur berkata: “Jika ia bergerak dengan pasukan, sekawanan burung melayang-layang di atasnya mengikuti arahnya. Di sini diterangkan bahwa burung mengiringi pasukan yang menang, seakan-akan tahu bahwa pasukan yang diiringi itu akan membunuh musuh, dengan demikian, burung-burung itu dapat memakan bangkainya. Oleh sebab itu, kalimat Allah menahan burung, boleh jadi mengisyaratkan penangguhan siksaan yang seharusnya ditimpakan kepada musuh. []
  35. Jika dua hal yang berlawanan hanya salah satu saja yang disebutkan, maka ini mencakup pula yang lain. Oleh karena itu, apa yang diuraikan di sini tentang pakaian yang melindungi orang dari panas, ini dimaksud pula untuk melindungi orang dari dingin. Atau, sebagaimana diutarakan oleh Zj. Karena pakaian itu melindungi orang dari panas, pakaian itu melindungi pula dari dingin, kalimat yang belakang dihilangkan. []
  36. Sebagaimana Ia memberikan kepada kamu barang-barang yang baik di dunia berupa kenikmatan jasmani, kini Ia menyempurnakan nikmat-Nya dengan memberikan kepada kamu kenikmatan yang paling besar, berupa Wahyu Ilahi, agar dengan menaati Wahyu Ilahi itu, kamu akan sejahtera. []
  37. Ayat ini dan ayat terakhir dari ruku’ ini (ayat 89) mengajarkan ajaran cinta kasih yang amat luas, yakni pada tiap-tiap bangsa telah dibangkitkan seorang Nabi. Seorang mufassir Kristen dengan perasaan kagum membuat catatan: “Rupa-rupanya ayat ini mengharuskan orang percaya, bahwa di India, di Cina, di Jepang dan sebagainya, telah diutus seorang Nabi sungguh-sungguh”. Tetapi yang sungguh paling mengherankan ialah, orang yang mengaku beratus-ratus Nabi telah diutus kepada satu bangsa, yaitu Bangsa Israil, mereka tidak senang seorang Nabi sungguh-sungguh telah diutus kepada bangsa dan negara yang besar seperti tersebut di atas. Islam menolak pandangan sempit semacam itu tentang rezeki rohani Allah. Yang Dia itu bukan “Tuhannya Bangsa Israil” saja, melainkan Tuhan sarwa sekalian alam. []
  38. Yang dimaksud mereka ini ialah umat Islam di seluruh dunia dan di segala zaman. []
  39. Brinkman berkata: “Jika Qur’an telah menjelaskan segala sesuatu, dan pula sebagai pimpinan, lalu apakah gunanya Sunnah?”. Sunnah artinya kelakuan atau kebiasaan; adapun yang dimaksud Sunnah ialah praktek Nabi Suci sebagai penjelasan ajaran Qur’an. Selain itu, apa yang dimaksud segala sesuatu ialah, semua ajaran pokok yang diperlukan untuk keselamatan rohani manusia. Jadi sunnah melengkapi hal yang kecil-kecil dan detail. []
  40. Ayat ini membahas secara luas berbagai tingkat kebaikan dan keburukan. Tingkat kebaikan yang paling rendah disebut ‘adl (adil) artinya, kebaikan dibalas kebaikan; ini bukan hanya mencakup keadilan saja, melainkan mencakup pula hal memenuhi segala hak dan kewajiban, karena semua itu dapat digolongkan membalas kebaikan dengan kebaikan. Tingkat kebaikan yang lebih tinggi disebut ihsân artinya kebaikan yang sebenarnya. Yaitu orang yang berbuat baik tanpa mengharap suatu keuntungan. Adapun tingkat kebaikan yang paling tinggi ialah, orang yang kodratnya begitu cenderung kepada kebaikan, sehingga ia tak merasa berat untuk berbuat kebaikan, ia berbuat baik kepada sesama manusia seperti ia berbuat baik kepada keluarga sendiri. Demikian pula ayat ini membahas tiga tingkat keburukan, mulai dari perbuatan tak senonoh sampai kepada perbuatan sewenang-wenang yang melanggar hak orang-seorang dan bangsa. Fakhsyâ atau perbuatan keji, adalah perbuatan yang perbuatan itu sendiri buruk, sekalipun tak merugikan hak orang lain; sesuatu yang tak selaras dengan kebenaran. Munkar, adalah perbuatan tercela yang merugikan hak orang seorang. Baghy atau perbuatan sewenang-wenang atau melanggar batas, ialah melakukan penindasan atau pemberontakan yang merugikan orang banyak, bangsa atau negara. []
  41. Orang yang mau menerima kebenaran tetapi perbuatannya tak sesuai dengan kebenaran itu, ia diibaratkan seorang wanita yang mula pertama memintal benang, lalu ia menguraikan itu. Ini adalah perbuatan orang gila, tetapi kebanyakan orang mengerjakan kesalahan itu. Mereka dipersatukan dengan suatu ikatan, tetapi setelah persatuan menjadi kuat, lalu mereka hancurkan dengan tangan mereka sendiri. Hanya persatuanlah yang membuat dahulu kaum Muslimin berkuasa, tetapi persatuan itu kini telah hancur, akibatnya umat Islam yang kuat, kini seperti benang yang diuraikan oleh si pemintal yang gila. []
  42. Di sini ditekankan agar orang setia kepada perjanjian; dari perjanjian dengan Allah, pokok persoalan dialihkan kepada perjanjian antara manusia. Dalam kalimat kamu membuat sumpah kamu sebagai alat untuk menipu di antara kamu, ini dimaksud untuk menarik perhatian kita akan keadaan yang kini merajalela di dunia, yaitu pelanggaran perjanjian di antara sesama bangsa, yang menyebabkan hancurnya kestabilan umat manusia. []
  43. []
  44. Di sini Qur’an memberi jawaban lagi kepada golongan orang bodoh yang menyatakan, bahwa menurut Islam, wanita tak mempunyai roh. Di sini diuraikan dua macam janji Tuhan. Barangsiapa berbuat kebaikan, baik pria maupun wanita, ia akan memperoleh kehidupan yang baik di dunia, dan akan memperoleh ganjaran di Akhirat. []
  45. Yang dibicarakan di sini bukanlah penggantian ayat Qur’an, melainkan penggantian risalah atau perkara yang diturunkan kepada para Nabi yang sudah-sudah, diganti dengan pekabaran Qur’an. Surat ini diturunkan di Makkah, dan para ulama ahli nasikh-mansukh, tak ada yang berkata bahwa pada waktu Nabi Suci masih tinggal di Makkah, pernah ada ayat yang dimansukh (dihapus). Selain itu, hubungan ayat ini dengan ayat di muka dan di belakangnya terang sekali menunjukkan bahwa apa yang dikatakan dibuat-buat ialah Wahyu Qur’an itu sendiri, bukan penggantian yang kadang-kadang dilakukan terhadap suatu perintah, karena dalam hal penggantian itu, kaum kafir tak mempunyai urusan sama sekali. Pembahasan yang lebih luas tentang masalah nasikh-mansukh ini, lihatlah tafsir nomor 152. []
  46. Di sini diterangkan bahwa Roh Suci ialah yang mengemban Wahyu Ilahi kepada Nabi Suci. Sedangkan di tempat lain, pengemban Wahyu itu ialah hul-Amîn artinya Roh yang dipercaya (26:193), dan dalam 2:97, pengemban Wahyu itu disebut Jibril. []
  47. Bermacam-macam nama telah dikemukakan tentang siapakah yang dituju oleh para musuh Nabi Suci. Sebagian besar adalah nama budak belian Kristen yang bukan Bangsa Arab, yakni Jabir, Yasir, ‘Aisy atau Ya’isy, Qais dan ‘Addas. Prideaux mengemukakan nama Salman, tetapi ini dikatakan oleh Sale sebagai dugaan yang tak ada dasarnya sama sekali, karena nama Salman baru muncul setelah Hijrah. Semua budak belian tersebut tergolong pemeluk Islam zaman permulaan, dan mereka itulah yang paling menderita penganiayaan sehebat-hebatnya. Apakah mungkin mereka rela menderita penganiayaan tanpa mengharap keuntungan sedikit pun, jika mereka tahu bahwa yang mereka bela adalah perkara palsu? Ini sudah cukup untuk membuktikan kebohongan tuduhan kaum kafir, dan inilah yang dituju oleh ayat 105. Pada umumnya kaum Nasrani berpendapat bahwa yang dimaksud di sini ialah pendeta Nestorian yang bernama Sergius, yang nama ini sama dengan nama pendeta Buhairah yang pernah berjumpa dengan Nabi Suci pada waktu beliau masih kanak-kanak, ketika beliau pergi ke Syria bersama paman beliau, Abu Thalib. Sale juga menetapkan kebohongan pendapat semacam itu. Sudah tentu para budak belian Kristen tak dapat mengarang ajaran-ajaran yang mulia seperti ajaran Qur’an. Bahwa para musuh Nabi Suci berkata demikian, ini malah lebih membuktikan kepalsuan pernyataan tuduhan mereka. Oleh karena mereka tak mampu menandingi dalil-dalil Qur’an, mereka terpaksa mengambil cara-cara yang tidak jujur untuk membuat Qur’an tak disukai orang. []
  48. Yang diisyaratkan di sini ialah pokok persoalan yang diuraikan dalam ayat 103. Tuduhan mereka ialah bahwa beberapa budak belian mengajar Nabi Suci. Bagaimana mungkin orang-orang yang membuat-buat kebohongan itu mukmin, lebih-lebih ketika dia mengalami penderitaan berat karenanya. []
  49. Dalam sejarah Islam permulaan, jarang sekali orang menemukan contoh yang menunjukkan bahwa di antara para pemeluk Islam ada yang murtad, sekalipun dengan paksa. Misalnya, suami istri Yasir dan Sumayah, karena tak mau murtad, mereka dibunuh oleh kaum kafir, bahkan Sumayah dibunuh secara kejam, kakinya diikatkan pada dua ekor unta yang disuruh lari ke jurusan yang berlawanan. Tetapi anak laki-laki mereka, ‘Amar, tak begitu tabah. Siksaan yang paling kejam ditimpakan kepada para budak belian yang memeluk Islam. Mereka berkata: “Mereka ditangkap dan dipenjara, atau disuruh terlentang di atas lembah batu yang amat panas karena terik matahari di siang hari. Siksaan semakin terasa bertambah berat. Karena kelewat dahaga, korban tak ingat lagi apa yang mereka ucapkan”. Walaupun mereka dalam keadaan yang mengerikan, hingga orang yang tabah bagaimanapun akan menjadi gila, namun antara budak belian yang memeluk Islam, ada yang mempunyai iman yang kuat bagaikan gunung yang kokoh, misalnya Sahabat Bilal, yang menurut riwayat diterangkan, bahwa “pada waktu Bilal tenggelam dalam pedihnya siksaan, orang yang menyiksa beliau tak dapat menghasilkan apa-apa kecuali ucapan: Ahad, ahad! (Esa, esa) (Muir). []
  50. []
  51. Dari ayat ini terang sekali bahwa Allah tak mencap hati manusia, yang dengan demikian manusia tak dapat menerima kebenaran. Sebaliknya, mereka sendirilah yang menolak kebenaran, tak mau mendengarkan dakwah Nabi Suci, sebagaimana diterangkan dalam ayat sebelumnya. Demikian pula, hati tak dicap untuk selama-lamanya, karena sebagaimana diterangkan dalam ayat 110, jika mereka mau bertobat dan bersabar, niscaya Allah akan mengampuni mereka. []
  52. Hendaklah diingat bahwa jihâd (perjuangan) yang diuraikan di sini, tak ada hubungannya dengan perang, karena ayat ini diturunkan di Makkah. Hendaklah diingat pula, di sini Allah disebut Ghafûr, artinya Yang Maha-pengampun kepada orang-orang yang hijrah dari tempat kediaman mereka karena dianiaya, lalu mereka berjuang sehebat-hebatnya untuk menegakkan kebenaran. Dua perbuatan ini (hijrah dan berjuang) adalah perbuatan pengorbanan, suatu amal saleh yang tinggi nilainya. Oleh karena itu sifat Ghafûr itu dihubungkan dengan kenaikan derajat mereka yang diberikan oleh Allah dengan jalan melindungi mereka dari perbuatan dosa, bukan dihubungkan dengan pengampunan dosa yang telah mereka lakukan, karena yang sedang dibicarakan di sini ialah perbuatan pengorbanan mereka, bukan perbuatan dosa mereka. Penjelasan yang lebih luas tentang arti kata ghafûr lihatlah tafsir nomor 380. []
  53. Perumpamaan yang dikemukakan di sini menggambarkan kota Makkah sebelum zaman Nabi Suci, dan meramalkan nasib yang akan dialami oleh kota itu setelah Nabi Suci ditolak — setelah kota itu mengafiri nikmat Allah. Mula-mula keadaan kota itu makmur dan sejahtera karena merupakan pusat yang dikunjungi oleh segala suku bangsa yang datang untuk menjalankan ibadah haji dan berdagang, yang dalam salah satu Surat permulaan Qur’an dilukiskan: “Maka mengabdilah kepada Tuhan Rumah ini, Yang memberi makan kepada mereka melawan kelaparan, dan mengamankan mereka dari rasa takut” (106:3-4). Pada waktu Nabi Suci dan para Sahabat dikejar-kejar dan dianiaya, beliau berdoa: “Ya Allah, timpakanlah kepada mereka tujuh (tahun kelaparan) seperti tujuh tahun kelaparan zaman Nabi Yusuf. Maka bahaya kelaparan menimpa mereka, lalu membinasakan segala sesuatu, hingga mereka memakan kulit terumpah dan bangkai binatang, dan salah seorang di antara mereka memandang ke langit, dan melihat asap karena laparnya” (B. 15:2). Inilah yang dalam ayat ini disebut libâsul-jû’i artinya pakaian kelaparan. Walaupun demikian, mereka tak mau menghentikan fitnah mereka dan mereka berusaha memusnahkan Islam dengan pedang. Akan tetapi serbuan mereka ke Madinah selalu mengalami kegagalan, dan akhirnya kota Makkah sendiri tak mempunyai kekuatan tatkala diserbu oleh Nabi Suci. Inilah yang di sini disebut libâsul-khaûf artinya pakaian ketakutan. Mengapa disebut demikian, karena pada waktu itu tak terjadi pertumpahan darah. Kata libâs (makna aslinya kain penutup) yang digunakan sehubungan dengan kelaparan dan ketakutan, ini sekedar untuk menunjukkan betapa dahsyat kelaparan dan ketakutan itu, seakan-akan itu melingkupi mereka. []
  54. Ayat ini menjelaskan ramalan yang diuraikan dalam perumpamaan tersebut di atas. Siksaan yang diterangkan di sini ialah kelaparan dan ketakutan yang diterangkan dalam ayat sebelumnya.
    1407a Lihatlah tafsir nomor 210, 836 dan 5:3.
    1407b Lihatlah 6:147, dan tafsir nomor 837. Ini menunjukkan bahwa Surat 6 diturunkan sebelum Surat 16.
    1407c Kata ummatan makna aslinya jalan, jurusan atau cara bertindak suatu bangsa atau umat. Tetapi kata ummatan berarti pula orang tulus yang patut ditiru, orang yang terkenal baik, orang yang memiliki segala macam sifat utama, atau orang yang tak ada bandingannya (LL). []
  55. 1407d Kata ‘ala kadang-kadang berarti terhadap. Rupa-rupanya yang dimaksud di sini ialah bahwa Sabbat, hari ibadah kaum Yahudi, yang seharusnya mereka mengikuti jejak Nabi Ibrahim yang tulus, tetapi malahan sebaliknya, karena mereka melanggar Sabbat, dan karena mereka berselisih tentang itu, dan tak menganggap itu sebagai hari ibadah kepada Tuhan. Atau, ayat ini dimaksud untuk menunjukkan bahwa bagi kaum Muslimin tak perlu mengadakan hari yang khusus digunakan untuk ibadah, bahkan Nabi Ibrahim sendiri yang menjadi teladan ketulusan bagi kaum Yahudi dan Muslim, beliau pun tak mengadakan hari yang khusus digunakan untuk beribadah, sedangkan umat Yahudi sendiri yang diwajibkan untuk merayakan Sabbat, mereka melanggar perintah itu.
    Prinsip yang diletakkan oleh “orang Arab yang tak terpelajar (Nabi Suci)”, untuk mengerjakan dan memperdebatkan masalah agama, hingga kini masih dipelajari oleh bangsa yang sudah maju, yang jika mereka berdebat tentang agama, mereka tak mempunyai tujuan ini selain mencela, dan jika menyiarkan agama, tujuan mereka hanyalah memburuk-burukkan golongan lain. Prinsip ini menunjukkan betapa lapang dada Nabi Suci, lebih-lebih jika diingat bahwa perintah ini justru diberikan pada waktu kaum Muslimin sedang ditindas sehebat-hebatnya, sehingga masuk akal sekali jika kaum Muslimin mengambil sikap yang keras. []
  56. Dalam kalimat jika kamu melakukan giliran kamu ini mengandung suatu ramalan. Kaum Muslimin dianiaya secara kejam, namun mereka diberitahu bahwa akan tiba saatnya mereka akan menguasai bekas lawan mereka. Dalam hal ini mereka diizinkan menghukum bekas lawan mereka atas kesalahannya, tetapi (walaupun mereka diizinkan menghukum bekas lawan mereka), mereka dua kali diperingatkan, yaitu di sini dan di ayat 127, bahwa mereka harus memperlihatkan kesabaran pada waktu mereka berkuasa, dan harus berbuat baik, sekalipun terhadap musuh mereka, karena Allah itu menyertai orang yang berbuat baik (ayat 128).[] []

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *