Breaking News
Home / Al-Quran / 024 An Nur

024 An Nur

SURAT 24

An-Nûr: Cahaya

(Diturunkan di Madinah, 9 ruku’, 64 ayat)

Mukaddimah Surah Buka

 

Ruku’ 1: Undang-undang tentang zina

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih.

 

1. (Ini adalah) Surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan, dan di dalamnya Kami wahyukan ayat-ayat yang terang, agar kamu ingat.

 

2. Wanita yang berbuat zina dan pria yang berbuat zina, deralah mereka masing-masing seratus kali pukulan,1736 dan janganlah rasa iba kamu terhadap mereka menahan kamu dalam menaati Allah jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan hendaklah segolongan kaum mukmin menyaksikan hukuman mereka.

 

3. Pria yang berbuat zina tak boleh menikah dengan siapa pun kecuali dengan wanita yang berzina atau wanita musyrik; dan wanita yang berzina, siapa pun tak boleh menikah dengan dia kecuali pria yang berzina atau pria musyrik; dan itu diharamkan bagi kaum mukmin.1737

 

4. Adapun orang-orang yang menuduh wanita merdeka, dan tak membawa empat saksi, deralah mereka delapan puluh kali pukulan, dan janganlah menerima kesaksian mereka selama-lamanya; mereka adalah orang yang durhaka.1738

 

5. Terkecuali orang-orang yang bertobat sesudah itu dan memperbaiki diri. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

 

6. Adapun orang-orang yang menuduh istri mereka, dan mereka tak mempunyai saksi selain diri sendiri,1739 hendaklah salah seorang dari mereka memberi kesaksian empat kali (dengan bersumpah) demi Allah, bahwa ia adalah golongan orang yang benar.

 

7. Dan (sumpah yang) kelima kalinya, bahwa laknat Allah akan menimpanya jika ia golongan orang yang bohong.

 

8. Dan (pihak) istri akan terhindar dari siksaan, jika ia memberi kesaksian empat kali (dengan bersumpah) demi Allah, bahwa suami adalah golongan orang yang bohong.

 

9. Dan (sumpah yang) kelima kalinya, bahwa kutukan Allah akan menimpa istri, jika suami golongan orang yang benar (ucapannya).

 

10. Dan sekiranya tak ada karunia Allah kepada kamu dan rahmat-Nya — dan bahwa Allah itu yang berulang-ulang (kasih sayang-Nya), Yang Maha-bijaksana.

Ruku’ 2: Orang yang memfitnah Siti ‘Aisyah

 

11. Sesungguhnya orang yang membuat-buat kebohongan adalah dari golongan kamu.1740 Janganlah menganggap itu buruk bagi kamu. Tidak malahan itu baik bagi kamu. Karena tiap-tiap orang di antara mereka memperoleh apa yang ia kerjakan tentang dosa. Adapun orang yang bertanggung jawab sebagian besar tentang itu, ia akan mendapat siksaan yang berat.1741

 

12. Mengapa kaum mukmin pria dan kaum mukmin wanita tatkala mendengar itu tak bersangka baik bagi diri sendiri, dan berkata: Ini adalah kepalsuan yang nyata.1742

 

13. Mengapa mereka tak mendatangkan empat saksi terhadap (perkara itu)? Oleh karena mereka tak mendatangkan saksi, maka menurut Allah, mereka adalah orang yang dusta.1743

 

14. Dan sekiranya tak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu di dunia dan Akhirat, niscaya kamu akan tertimpa siksaan yang berat karena apa yang kamu ucapkan.

 

15. Tatkala kamu menerima itu dengan lidah kamu, dan membicarakan itu dengan mulut kamu, yang kamu tak mempunyai pengetahuan tentang itu, dan kamu menganggap itu perkara kecil, sedang itu menurut Allah adalah perkara besar.

 

16. Dan mengapa tatkala kamu mendengar itu, kamu tak berkata: Tak pantas bagi kamu untuk bercakap-cakap tentang itu. Maha-suci Engkau! Ini adalah kebohongan yang besar.

 

17. Allah memperingatkan kamu agar kamu selamanya tak akan mengulangi yang seperti itu lagi, jika kamu orang yang beriman.

 

18. Dan Allah menjelaskan ayat-ayat kepada kamu; dan Allah itu Yang Maha-tahu, Yang Maha-bijaksana.

 

19. Sesungguhnya orang-orang yang suka agar berita yang keji tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka akan mendapat siksaan yang pedih di dunia dan di Akhirat. Dan Allah itu Tahu, sedangkan kamu tak tahu.

 

20. Dan sekiranya tak ada karunia Allah kepada kamu dan rahmat-Nya,1743a dan bahwa Allah itu Yang Maha-belas kasih, Yang Maha-penyayang.

Ruku’ 3: Orang yang memfitnah wanita

 

21. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mengikuti jejak-jejak setan. Dan barangsiapa mengikuti jejak-jejak setan, sesungguhnya (setan) itu menyuruh berbuat keji dan jahat. Dan sekiranya tak ada karunia Allah kepada kamu dan rahmat-Nya, niscaya di antara kamu tak pernah ada orang yang suci; tetapi Allah menyucikan siapa saja yang Ia kehendaki. Dan Allah itu Yang Maha-mendengar, Yang Maha-tahu.1744

 

22. Dan janganlah orang yang memiliki karunia dan kekayaan yang melimpah di antara kamu bersumpah (tak akan) memberi (apa-apa) kepada sanak kerabat, dan kaum miskin, dan orang yang berhijrah di jalan Allah; dan hendaklah mereka suka memaafkan dan melupakan (kesalahan). Apakah kamu tak suka bahwa Allah memberi ampun kepada kamu? Dan Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.1745

 

23. Sesungguhnya orang-orang yang menuduh kaum mukmin wanita yang suci yang tak merasa berbuat kesalahan, mereka akan dilaknat di dunia dan di Akhirat, dan mereka akan mendapat siksaan yang berat.1746

 

24. Pada hari tatkala mulut mereka dan kaki mereka akan berdiri saksi terhadap apa yang mereka lakukan.1747

 

25. Pada hari itu Allah akan memenuhi kepada mereka ganjaran mereka yang benar, dan mereka akan tahu bahwa Allah itu Kebenaran yang nyata.

 

26. Wanita yang kotor itu untuk pria yang kotor, dan pria yang kotor itu untuk wanita yang kotor, dan wanita yang baik itu untuk pria yang baik, dan pria yang baik itu untuk wanita yang baik. Mereka bersih dari apa yang mereka katakan. Mereka akan memperoleh pengampunan dari rezeki yang mulia.1748

Ruku’ 4: Cara-cara pencegahan

 

27. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah memasuki rumah yang bukan rumah kamu, sampai kamu minta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Ini adalah baik bagi kamu agar kamu ingat.1749

 

28. Jika kamu tak menemukan seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu memasuki itu sampai kamu diberi izin; dan jika dikatakan kepada kamu: Pulanglah, maka pulanglah; ini adalah lebih bersih bagi kamu. Dan Allah itu Yang Maha-tahu apa yang kamu lakukan.

 

29. Tiada cacat bagi kamu untuk memasuki rumah yang tak didiami yang di situ kamu mempunyai keperluan. Dan Allah tahu apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan.

 

30. Katakanlah kepada kaum mukmin pria agar mereka menundukkan pandangan mereka, dan mengekang nafsu birahi mereka. Itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah itu Waspada terhadap apa yang mereka kerjakan.1750

 

31. Dan katakanlah kepada kaum mukmin wanita agar mereka menundukkan pandangan mereka dan mengekang nafsu birahi mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka kecuali sebagian yang kelihatan.1751 Dan hendaklah mereka memakai kerudung sampai menutupi dada mereka.1751a Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali terhadap suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau anak laki-laki mereka, atau anak laki-laki suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau anak laki-laki saudara laki-laki mereka, atau anak laki-laki dari saudara perempuan mereka, atau wanita mereka, atau apa yang dimiliki oleh tangan kanan mereka, atau pelayan pria yang tak butuh (pada wanita),1752 atau anak kecil yang belum tahu tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka membanting-banting kaki mereka agar sebagian perhiasan yang mereka sembunyikan menjadi ketahuan. Dan bertobatlah kepada Allah wahai kaum mukmin semua, agar kamu beruntung.

 

32. Dan kawinilah orang yang masih sendirian di antara kamu, dan orang yang pantas di antara budak pria kamu dan budak wanita kamu. Jika mereka fakir, Allah akan membuat mereka kecukupan dari karunia-Nya. Dan Allah itu Yang Maha-luas pemberian-Nya, Yang Maha-tahu.1753

 

33. Dan hendaklah orang yang tak menemukan jodoh, menjaga kesucian mereka, sampai Allah membuat mereka kecukupan dari karunia-Nya.1754 Adapun budak yang dimiliki oleh tangan kanan kamu yang minta surat (bebas merdeka), berilah mereka surat itu, jika kamu tahu ada kebaikan pada mereka, dan berilah mereka sebagian harta Allah yang Ia berikan kepada kamu.1755 Dan janganlah kamu memaksa budak wanita kamu supaya melacur sekedar untuk mencari barang-barang yang tak kekal dalam kehidupan dunia, jika mereka ingin menjaga kesucian. Dan barangsiapa memaksa mereka, maka sesungguhnya setelah mereka dipaksa, Allah adalah Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.1756

 

34. Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang terang, dan pula tamsil orang-orang yang telah berlalu sebelum kamu, dan pula sebuah peringatan bagi orang-orang yang menjaga diri dari kejahatan.

Ruku’ 5: Perwujudan Nur Ilahi

 

35. Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah bagaikan tiang yang di atasnya terdapat sebuah lampu, lampu berada dalam kaca, kaca itu seakan-akan bintang yang gemerlapan, yang dinyalakan dari kayu zaitun yang diberkahi, bukan kepunyaan Timur dan bukan kepunyaan Barat, minyak itu menerangi walaupun tak tersentuh api, cahaya di atas cahaya. Allah memimpin orang yang Ia kehendaki kepada cahaya-Nya. Dan Allah mengemukakan banyak perumpamaan kepada manusia, dan Allah itu Yang Maha-tahu akan segala sesuatu.1757

 

36. (Itu berada) dalam rumah yang diizinkan oleh Allah untuk diluhurkan, yang di sana diingat nama-Nya.1758 Di sana (orang) memahasucikan Dia pada pagi dan petang hari.

 

37. Orang-orang, yang perdagangan dan jual beli tak memalingkan mereka dari ingat kepada Allah dan menetapi shalat dan membayar zakat; mereka takut kepada hari yang (pada hari itu) hati dan mata berputar balik.1759

 

38. Agar Allah mengganjar kepada mereka sebaik-baik ganjaran atas apa yang mereka lakukan dan menambahkan kepada mereka sebagian karunia-Nya. Dan Allah memberi rezeki kepada orang yang Ia kehendaki tanpa hitungan.

 

39. Adapun orang-orang kafir, perbuatan mereka bagaikan fatamorgana di padang pasir, yang orang dahaga menyangka itu air, sampai tatkala ia tiba di situ, ia tak menemukan apa-apa, dan ia menemukan Allah di hadapannya, maka Ia memberi pembalasan yang setimpal kepadanya. Dan Allah itu cepat sekali dalam perhitungan.

 

40. Atau bagaikan gelap gulitanya di lautan yang dalam, dimana gelombang mengurung dia, yang di atasnya terdapat gelombang, yang di atasnya (lagi) adalah awan gelap — lapisan kegelapan yang satu di atas yang lain. Jika orang mengeluarkan tangannya, hampir-hampir ia tak dapat melihatnya. Dan barangsiapa Allah tak memberi cahaya kepadanya, ia tak mempunyai cahaya.1760

Ruku’ 6: Perwujudan kekuasaan Ilahi

 

41. Apakah engkau tak tahu bahwa Allah ialah Yang siapa saja yang ada di langit dan di bumi memahasucikan Dia, demikian pula burung-burung yang membentangkan sayapnya. Masing-masing sudah tahu shalatnya dan tasbihnya. Dan Allah itu Yang Maha-tahu, apa yang mereka kerjakan.

 

42. Dan kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi, dan kepada Allah-lah akhir tempat kembali.

 

43. Apakah engkau tak tahu bahwa Allah mengarak awan, lalu menghimpun itu, lalu menumpuk itu, sehingga engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya? Dan Ia menurunkan (awan yang seperti) gunung dari langit, yang di dalamnya berisi hujan es, lalu itu menimpa siapa saja yang Ia kehendaki, dan Ia memalingkan itu dari siapa saja yang ia Kehendaki. Hampir-hampir cahaya halilintar melenyapkan penglihatan.

 

44. Allah membuat malam dan siang silih berganti. Sesungguhnya itu adalah pelajaran bagi orang yang mempunyai penglihatan.

 

45. Dan Allah menciptakan tiap-tiap binatang dari air.1761 Di antara mereka ada yang berjalan atas perutnya; dan di antara mereka ada yang berjalan atas dua kaki; dan di antara mereka ada yang berjalan atas empat (kaki).1762 Allah menciptakan apa yang Ia kehendaki. Sesungguhnya Allah itu berkuasa atas segala sesuatu.

 

46. Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang terang. Dan Allah memimpin siapa yang Ia kehendaki pada jalan yang benar.

 

47. Dan mereka berkata: Kami beriman kepada Allah dan kepada Utusan, dan kami taat, lalu sesudah itu, segolongan mereka berpaling; dan mereka bukanlah orang yang beriman.

 

48. Dan jika mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar ia memberi keputusan di antara mereka, tiba-tiba segolongan mereka berpaling.

 

49. Dan jika kebenaran ada di pihak mereka, mereka cepat-cepat menuju kepadanya dengan patuh.

 

50. Apakah dalam hati mereka terdapat penyakit, atau apakah mereka ragu-ragu, atau apakah mereka takut bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memperlakukan mereka dengan tak adil? Tidak, malahan mereka sendirilah yang lalim.

Ruku’ 7: Kerajaan Islam ditegakkan

 

51. Jawaban kaum mukmin pada waktu mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya supaya mengadili antara mereka hanyalah berkata: Kami mendengar dan kami taat. Dan mereka itulah orang yang beruntung.

 

52. Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan takut kepada Allah dan bertaqwa, mereka itulah orang yang mencapai hasil.

 

53. Dan mereka bersumpah demi Allah dengan sekuat sumpah mereka, bahwa jika engkau memerintahkan mereka, mereka pasti akan keluar. Katakan: Janganlah bersumpah: ketaatan yang pantas (itu lebih baik). Sesungguhnya Allah itu Waspada terhadap apa yang kamu lakukan.

 

54. Katakan: Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. Tetapi jika kamu berpaling, ia bertanggung-jawab atas kewajiban yang dibebankan kepadanya, dan kamu bertanggung-jawab atas kewajiban yang dibebankan kepada kamu. Dan jika kamu taat kepadanya, engkau berjalan benar. Dan kewajiban seorang Rasul hanyalah menyampaikan (risalah) dengan terang.

 

55. Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan berbuat baik, bahwa Ia pasti akan membuat mereka penguasa di bumi sebagaimana Ia telah membuat orang-orang sebelum mereka menjadi penguasa, dan bahwa Ia akan menegakkan bagi mereka agama mereka yang telah Ia pilih, dan bahwa Ia akan memberi keamanan sebagai pengganti setelah mereka menderita ketakutan. Mereka akan mengabdi kepada-Ku, dan tak akan menyekutukan Aku dengan apa pun. Dan barangsiapa sesudah itu tidak terima kasih, mereka adalah orang yang durhaka.1763

 

56. Dan tetapilah shalat dan bayarlah zakat dan taatlah kepada Utusan, agar kamu diberi rahmat.

 

57. Janganlah engkau mengira bahwa orang-orang kafir dapat melemahkan (Kebenaran) di bumi; dan tempat tinggal mereka adalah Neraka. Dan sungguh buruk sekali tempat peristirahatan itu.

Ruku’ 8: Menghormati rahasia pribadi

 

58. Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah orang-orang yang dimiliki oleh tangan kanan kamu dan anak-anak yang belum mencapai usia dewasa di antara kamu, minta izin kepada kamu tiga kali: (Yaitu) sebelum shalat Subuh, dan pada waktu kamu menanggalkan pakaian kamu karena teriknya siang hari, dan sesudah shalat ‘Isya. Inilah tiga waktu menyendiri bagi kamu; di luar ini, tak ada dosa bagi kamu dan tak pula bagi mereka; sebagian kamu silih berganti (untuk melayani) sebagian yang lain. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat kepada kamu. Dan Allah itu Yang Maha-tahu, yang Maha-bijaksana.1764

 

59. Dan apabila sebagian anak-anak kamu telah mencapai usia dewasa, hendaklah mereka minta izin sebagaimana orang-orang sebelum mereka minta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah itu Yang Maha-tahu, Yang Maha-bijaksana.

 

60. Adapun sebagian wanita yang tidak beranak lagi,1765 yang tak mengharapkan kawin lagi, maka tak dosa bagi mereka jika mereka menanggalkan pakaian tanpa menampakkan perhiasan mereka. Dan jika mereka berlaku sopan, ini lebih baik bagi mereka. Dan Allah itu Yang Maha-mendengar, Yang Maha-tahu.

 

61. Tak ada cacat bagi orang buta, dan tak ada cacat bagi orang timpang, dan tak ada cacat bagi orang sakit,1766 dan tak pula bagi kamu sendiri, bahwa kamu makan di rumah kamu, atau di rumah ayah kamu, atau di rumah ibu kamu, atau di rumah saudara laki-laki kamu, atau di rumah saudara perempuan kamu, atau di rumah paman kamu dari ayah, atau di rumah bibi kamu dari ayah, atau di rumah paman kamu dari ibu, atau di rumah bibi kamu dari ibu, atau (di rumah) yang kuncinya kamu miliki atau (di rumah) kawan kamu. Tak ada cacat bagi kamu bahwa kamu makan bersama-sama atau sendiri-sendiri. Maka jika kamu memasuki rumah, berilah salam kepada orang-orang kamu dengan penghormatan dari Allah, yang diberkahi dan penuh kebaikan. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kamu agar kamu mengerti.

Ruku’ 9: Urusan negara harus didahulukan

 

62. Orang-orang mukmin ialah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan jika mereka berkumpul bersama dia untuk urusan penting, mereka tak akan pergi sampai mereka minta izin (untuk pergi). Sesungguhnya orang-orang yang minta izin kepada engkau, mereka adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka apabila mereka minta izin kepada engkau untuk mengurus sebagian perkara mereka, maka berilah izin kepada sebagian orang yang engkau kehendaki, dan mintalah ampun kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih.

 

63. Janganlah membuat panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain.1767 Sesungguhnya Allah tahu orang-orang di antara kamu yang menyelinap untuk menyembunyikan diri. Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya sadar, agar cobaan Allah tak menimpa mereka atau mereka akan tertimpa siksaan yang pedih.

 

64. Ketahuilah, (bahwa) sesungguhnya apa yang ada di langit dan bumi adalah kepunyaan Allah. Ia tahu benar keadaan kamu. Dan pada hari mereka dikembalikan kepada-Nya, Ia akan memberitahukan kepada mereka apa yang mereka lakukan. Dan Allah itu Yang Maha-tahu segala sesuatu.

  1. Kesucian dalam masyarakat modern yang sudah maju, tidak dianggap sebagai kebajikan yang nomor satu, oleh sebab itu perbuatan zina tidaklah dianggap sebagai pelanggaran yang serius, yang memaksa pihak yang bersalah harus dijatuhi hukuman, selain hukuman yang berupa pembayaran ganti rugi kepada pihak suami yang dirugikan. Hilangnya kepercayaan yang amat besar terhadap suami atau istri, pecahnya hubungan keluarga yang membinasakan perdamaian rumah tangga dan direnggutnya kecintaan ibu terhadap anak yang tak berdosa, dianggapnya tak begitu serius, bahkan dianggap sama seperti pelanggaran terhadap uang tanggungan yang besarnya hanya beberapa rupiah saja. Oleh sebab itu, menurut orang-orang Barat, hukum Islam dianggap terlalu berat.
    Di sini diuraikan bahwa hukuman perbuatan zina ialah dera, bukan dirajam (dilempari batu) sampai mati, yang hukuman ini sebenarnya diterapkan oleh undang-undang Yahudi. Kasus tentang hukuman rajam sampai mati bagi perbuatan zina yang diperintahkan oleh Nabi Suci, ini sebenarnya hanya bertalian dengan perkara perbuatan zina yang dilakukan oleh pria Yahudi dan wanita Yahudi (B. 23:61) dan lain-lain nampaknya terjadi sebelum diturunkannya Surat ini. Bahwa hukuman rajam sampai mati tak pernah dipertimbangkan oleh Islam sebagai hukuman perbuatan zina, ini dijelaskan dalam 4:25 yang menerangkan budak belian wanita yang berbuat zina setelah mereka kawin, hanyalah separuh dari hukuman wanita merdeka yang sudah kawin yang berbuat zina; padahal hukuman rajam sampai mati tak dapat diparuh. Selain itu, tak ada lagi ayat Qur’an yang menerangkan hukuman rajam bagi perbuatan zina, demikian pula Hadits yang menerangkan tentang apa yang dikatakan oleh Sayyidina ‘Umar adalah bertentangan satu sama lain. Lihatlah buku Islamologi yang membahas sepenuhnya undang-undang Islam tentang hukum pidana. Perlu kami terangkan sedikit tentang cara melaksanakan hukum dera. Hukum dera lebih dititikberatkan untuk membuat malu si pelaku daripada menyakiti orang yang dijatuhi hukuman. Pada zaman Nabi Suci, bahkan sampai beberapa tahun lamanya sesudah beliau, hukuman dera tak dilakukan dengan cambuk, melainkan dengan ranting, atau dengan tangan, atau dengan terompah. Orang yang dihukum tidak disuruh telanjang, tetapi hanya disuruh membuka pakaian yang tebal saja. []
  2. Kata nakaha kadang-kadang berarti bersetubuh atau bersetubuh tanpa kawin atau kawin tanpa bersetubuh (LL). Di sini kami mengambil makna yang pertama, dan dalam hal ini jelaslah artinya, yakni pria atau wanita yang menyembah berhala itu disebutkan berdampingan dengan pria atau wanita yang berzina, karena rendahnya ukuran moral kaum penyembah berhala. Jika diambil makna yang kedua, maka orang yang berdosa karena menjalankan perbuatan zina, dijatuhi hukuman oleh ayat ini berupa semacam larangan sebagai anggota masyarakat Islam. []
  3. Ini adalah sarana yang paling ampuh untuk mencegah desas-desus dan fitnah, yang acapkali menimbulkan keonaran di kalangan kaum wanita yang sebenarnya tak bersalah. Orang yang berbuat fitnah harus dijatuhi hukuman dera, terkecuali bila ia dapat mengemukakan bukti yang terang bahwa wanita itu menjalankan perbuatan zina. []
  4. Inilah peraturan mengenai suami yang menuduh istrinya berbuat zina, sedang ia tak mempunyai saksi; lihatlah peristiwa yang diuraikan dalam B. 68:30. Dalam hal seperti itu, perceraian harus dilakukan, suami tak dijatuhi hukuman karena menuduh istri, walaupun ia tak dapat menunjukkan seorang saksi, dan istri juga tak dijatuhi hukuman zina, bila ia menolak tuduhan suami dengan cara-cara yang disebutkan dalam ayat ini. Bandingkanlah dengan Kitab Bilangan 5:11-13. Prosedur serupa itu juga diterapkan terhadap kebalikan dari perkara itu (istri menuduh suami). []
  5. Peristiwa yang diisyaratkan dalam ruku’ ini, terjadi pada waktu Nabi Suci beserta istri beliau, Siti ‘Aisyah, pulang dari pertempuran melawan kaum Bani Musthaliq pada tahun kelima Hijriah. Di tengah perjalanan, Siti ‘Aisyah berhenti untuk membuang hajat, tetapi setelah beliau kembali, beliau merasa kehilangan kalungnya, dan beliau pergi lagi untuk mencarinya. Selagi beliau pergi, karena dikira oleh pengawal beliau berada dalam haudah, berangkatlah kafilah, sedangkan cuaca pada waktu itu amat gelap. Sekembali beliau dari mencari kalung, beliau menemukan kafilah telah berangkat, lalu beliau duduk, dan beliau diantar pulang ke Madinah oleh sahabat Shafwan yang berangkat agak belakangan. Beberapa orang munafik menyiarkan kabar bohong, memfitnah Siti ‘Aisyah, bahkan ada beberapa orang Muslim lainnya yang ikut-ikutan menyertai tukang fitnah itu. Akhirnya kesucian Siti ‘Aisyah ditegakkan oleh ayat ini (B. 52:15). Menurut suatu Hadits, semua orang yang bersalah karena memfitnah Siti ‘Aisyah dijatuhi hukuman (IM. 20:13). Inilah siksaan yang paling berat yang diisyaratkan dalam penutup ayat ini. []
  6. Menurut mufassir, orang yang bertanggung jawab sebagian besar tentang itu ialah Abdullah bin Ubayy, pemimpin kaum munafik (B. 64:36), karena ia membuat-buat kebohongan dan menyiarkan berita palsu. []
  7. Tak ada saksi satu pun, dan tak ada pula keadaan yang dapat menguatkan cerita palsu itu. []
  8. Menurut Islam, hukuman perbuatan zina itu berat sekali, oleh sebab itu, dituntut diajukannya empat orang saksi untuk menetapkan kesalahan itu, lihatlah ayat 4. Tuduhan seorang mufassir Kristen, bahwa tuntutan empat saksi itu hanya untuk melindungi Siti ‘Aisyah, adalah tuduhan yang tak ada dasarnya, mengingat adanya kenyataan bahwa dalam kasus Siti ‘Aisyah tak terdapat saksi seorang pun. Lalu mengapa Nabi Suci menuntut diajukannya empat saksi? Adapun faktanya ialah, Qur’an menganggap serius terhadap tindak pidana yang melanggar kesucian. Di samping itu, Qur’an juga menganggap kriminal orang yang menyiarkan berita palsu tentang kesucian wanita. Jadi, tuduhan yang ringan terhadap kelakuan buruk seorang wanita, ini pun diperlukan kesaksian empat orang saksi. Lihatlah 4:15, yang ini diakui diwahyukan lebih dulu.
    1743a Dalam ayat berikutnya, kata-kata serupa ini diikuti oleh pernyataan: Niscaya antara kamu tak pernah ada seorang pun yang suci. []
  9. Ayat ini menerangkan bahwa para Sahabat Nabi disucikan dari dosa atas karunia Allah. []
  10. Berdasarkan Hadits sahih, para mufassir berpendapat bahwa ayat ini diturunkan sehubungan dengan perbuatan Sayyidina Abu Bakar yang telah mengucapkan sumpah tak akan memberi perawatan kepada salah seorang kerabatnya yang bernama Misthah, karena ia ikut menyiarkan berita palsu tentang Siti ‘Aisyah. Setelah Nabi Suci memberi hukuman resmi kepada orang yang bersalah, beliau disuruh oleh Allah supaya jangan menaruh dendam terhadap mereka, dan jangan menyimpan kedengkian di hati beliau terhadap orang-orang yang memfitnah istri beliau. Bahkan ayat ini menyuruh kepada para Sahabat supaya bersikap manis dan memberi ampun kepada mereka. Di sini Sayyidina Abu Bakar disebut orang yang memiliki karunia dan kekayaan yang melimpah (B. 65:XXIV, 13), sebutan yang pertama berkenaan dengan keluhuran akhlak dan rohani beliau, sedang sebutan kedua berkenaan dengan kekayaan beliau yang melimpah. []
  11. Ayat ini ditujukan kepada orang yang selalu menyiarkan berita palsu tentang kesucian kaum wanita, yang ini banyak dilakukan oleh para penyebar desas-desus di kalangan masyarakat. []
  12. 1747 lihat halaman berikutnya []
  13. 1747 Kadang-kadang di dunia ini anggota tubuh memberi kesaksian terhadap kejahatannya sendiri, berupa akibat buruk dari kejahatan yang mereka lakukan. Pada Hari Kiamat, akibat perbuatan jahat itu akan terwujud dengan terang, sebagaimana diterangkan dalam ayat berikutnya berupa ganjaran penuh bagi mereka (yang berbuat baik), dengan demikian perwujudan buah perbuatan jahat itu menjadi saksi atas perbuatan jahat yang telah mereka lakukan. Sebelum datangnya Qur’an, pengertian tentang Hari Kiamat yang amat luhur itu belum pernah ada.
    Yang dimaksud oleh ayat ini diterangkan seterang-terangnya dalam penutup ayat, yakni tak mungkin barang yang tak suci bercampur dengan barang yang suci, dan mereka yang suci itu bersih dari apa yang dikatakan oleh mereka yang kotor. []
  14. Bangsa Arab suka memasuki rumah tanpa izin. Undang-undang yang diundangkan dalam ayat ini meletakkan asas keamanan dan perdamaian rumah tangga yang amat diperlukan bagi masyarakat maju. Undang-undang itu menjadi bukti yang terang bahwa kaum wanita merupakan amanat Allah yang besar bagi kaum Muslimin. Hal ini juga untuk mencegah terjadinya fitnah. []
  15. Kaum pria disuruh menundukkan pandangan mereka, sebagaimana dalam ayat berikutnya kaum wanita juga disuruh menundukkan pandangan mereka. Perintah ini diberikan sebagai pencegahan terhadap kejahatan yang dapat merusak segala kesucian hubungan masyarakat, yaitu kejahatan perbuatan zina. Qur’an bukan hanya melarang kejahatan, melainkan pula menunjukkan jalan, yang dengan mengambil jalan itu, orang akan mampu menghindari kejahatan itu. Baik pria maupun wanita disuruh menundukkan pandangan mereka, sehingga jika mereka bertemu satu sama lain, pihak pria tak menatap pihak wanita, dan pihak wanita tak menatap pihak pria. Dalam masyarakat yang kaum wanitanya tak pernah muncul di muka umum, perintah kepada kaum pria supaya menundukkan pandangannya, tak ada gunanya sama sekali, demikian pula perintah kepada wanita, tersebut dalam ayat berikutnya, juga tak ada gunanya jika mereka tak pernah meninggalkan halaman rumah mereka. []
  16. Untuk menjaga keselamatan hubungan antara pria dan wanita, dan untuk membatasi bebasnya hubungan antara pria dan wanita, Qur’an memberi perintah tambahan di luar perintah agar pria dan wanita menundukkan pandangan mereka jika mereka bertemu satu sama lain. Khususnya bagi kaum wanita diperintahkan supaya jangan menampakkan perhiasan mereka. Para ulama mempunyai pendapat yang berlainan tentang yang dimaksud zînat (perhiasan) itu. Menurut sebagian ulama, zînat itu mencakup pula keindahan tubuh, sedang menurut ulama yang lain, zînat itu hanya khusus diterapkan terhadap perhiasan saja. Pendapat yang tersebut belakangan dikuatkan oleh digunakannya kata itu pada penutup ayat yang berbunyi: dan janganlah mereka membanting-banting kaki mereka agar sebagian perhiasan yang mereka sembunyikan menjadi ketahuan, karena hanya perhiasan sajalah yang dapat diketahui dengan cara membanting-banting kaki yang memakai perhiasan luar. Tetapi walaupun kami mengambil pendapat ulama yang pertama, zînat (perhiasan) yang tak boleh ditampakkan, terdapat pula pengecualian yang berbunyi: illâ mâ zahara minhâ, artinya kecuali sebagian itu yang kelihatan, atau kecuali sebagian itu yang menurut adat dan kebiasaan tak ditutupi. Pertama-tama hendaklah diingat bahwa yang dilarang ialah: menampakkan keindahan tubuh, sebagaimana diungkapkan di tempat lain dalam Qur’an dengan kata tabarruj: “Dan janganlah menampakkan keindahan tubuh kamu sebagaimana orang-orang jahiliah dahulu menampakkan itu” (33:33). Adapun bagian-bagian tubuh wanita yang mana yang harus ditutupi dan yang boleh tak ditutupi, berikut ini adalah ikhtisar pendapat ulama kuno sehubungan dengan pengecualian ini yang diberikan oleh IJ: (1) zînat berarti keindahan pakaian yang dipakai oleh kaum wanita, dalam hal ini wanita tak harus menutupi pakaian yang dipakai, (2) zînat berarti perhiasan yang kaum wanita tak harus menutupinya, seperti celak mata, cincin, gelang, dan wajahnya, (3) Pengecualian sehubungan dengan pakaian dan wajah wanita. Setelah menerangkan hal tersebut, IJ menambahkan: Menurut pendapat yang paling benar ialah pengecualian (yang tak ditutupi itu) bertalian dengan wajah dan tangan. Sebagai dalil untuk memperkuat pendapat itu ialah, pada waktu shalat, seorang wanita tak harus menutupi wajah dan tangannya — tangan sampai siku — sedang selebihnya harus ditutupi. Menurut Hadits, Nabi Suci diriwayatkan bersabda kepada Asma’, adik perempuan istri beliau ‘Aisyah, pada waktu Asma’ menghadap beliau dengan memakai pakaian yang tipis, yang bagian-bagian tubuhnya kelihatan: “Wahai Asma’, jika seorang wanita mencapai usia dewasa, maka tak pantas bila bagian-bagian tubuhnya kelihatan kecuali ini; dan beliau menunjuk kepada wajah dan tangan” (AD. 31:30). Ini menetapkan dengan pasti bahwa Islam tak pernah memerintahkan menutup atau mengerudungi wajah.
    1751a Sebelum Islam, kaum wanita biasa muncul di depan umum dengan sebagian payudaranya terbuka. Kata khimâr (jamaknya kata khumr) artinya tutup kepala (kain kerudung); jadi, menurut Qur’an, wanita disuruh menutupi dadanya dengan memakai sebagian kain kerudung. Kain kerudung yang biasa dipakai di Timur menutupi lengan, leher dan dada, demikian pula menutupi perhiasan yang dipakai di telinga, di leher dan di sekeliling payudara, dan menutupi bagian-bagian itulah yang diperintahkan oleh ayat ini, dengan ditambahkannya kata-kata: ‘alâ juyûbihinna artinya menutupi dada mereka. []
  17. Menurut sebagian mufassir, yang dimaksud wanita mereka di sini ialah wanita muslim, tetapi menjadi kenyataan, bahwa pada zaman Nabi Suci, wanita dari agama lain bergaul dengan wanita muslim, oleh sebab itu, yang dimaksud di sini ialah semua wanita. Kami kira, bahwa tambahan kata mereka dalam kalimat wanita mereka, hanya mengandung arti segala kaum wanita yang bergaul dengan mereka, atau wanita yang sama derajatnya dengan mereka. Di sini yang dimaksud dengan budak yang dimiliki oleh tangan kanan kamu meliputi budak pria maupun budak wanita. Selanjutnya, ada pula budak yang disebut tâbi’în dalam ayat ini, yang artinya yang mengikuti, karena mereka ikut kepada majikan. Lalu kata tâbi’în disifati dengan ghairi ulil-irbati yang makna aslinya tak butuh (kepada wanita). Tetapi makna kata irbati itu sebenarnya licik, tipu daya, tipu muslihat, nakal atau jahat (LL). Adapun irbati dalam arti butuh adalah arti sekunder apabila butuh itu menjurus kepada kelicikan. Adapun kata yang benar yang artinya butuh itu adalah araba. Oleh karena itu, sebagian mufassir ada yang memahami kata irbati dalam arti orang yang tolol atau orang yang miring otaknya (LL). Tetapi orang tolol tak selamanya tak mempunyai nafsu birahi; oleh karena itu ia tak pantas sebagai pelayan bagi wanita. Menurut Mujahid, kata-kata tâbi’în ghairi ulil-irbati artinya lâ yuhimmuhû illâ bathnuhû walâ yukhâfu ‘alan-nisâ’i artinya orang yang hanya memperhatikan perutnya saja dan tak takut bahwa ia menyesatkan wanita (B. 65:24). Inilah arti yang sebenarnya. Dalam hal ini arti ghairi ulil-irbati ditujukan kepada budak pria yang menjalankan tugas untuk mencari makan semata-mata, dan sekali-kali tak mempunyai niat jahat untuk berbuat mesum dalam rumah. Hendaklah diingat bahwa di mana pun tak ada larangan bahwa wanita mengambil pelayan budak pria, atau muncul di depan mereka. Adapun yang dilarang oleh ayat ini hanyalah menampakkan keindahan tubuh wanita kecuali di hadapan kerabat yang paling dekat, dan ini merupakan cara-cara pencegahan terhadap meluasnya pikiran tak bermoral, dan sebagai satu langkah utama untuk menahan hawa nafsu, yang ini semua dituju oleh Qur’an. []
  18. Qur’an memandang perkawinan sebagai perkara normal; oleh sebab itu, Qur’an memerintahkan kepada orang yang masih sendirian agar sedapat mungkin segera menjalani perkawinan. Memelihara budak wanita sebagai gundik dan tak dinikah, terang-terangan bertentangan dengan ayat ini. Sebagai agama, Islam menentang perbuatan membujang (celibacy), dan menganggap kedudukan sebagai orangtua (ayah-ibu) menjadi kewajiban bagi setiap manusia. Dalam masyarakat maju sekarang ini, kebanyakan orang segan untuk memikul tanggung jawab sebagai orangtua, dengan dalih bahwa mereka belum merasa kecukupan untuk membina keluarga. Qur’an menyanggah dalih palsu seperti itu dengan kalimat sederhana, yakni: “Apabila mereka fakir, Allah akan membuat mereka kecukupan dari karunia-Nya”.
    Nabi Suci juga menekankan kepada pria dan wanita muslim supaya menjalankan perkawinan. Diriwayatkan bahwa Nabi Suci bersabda: “Barangsiapa mampu untuk kawin, hendaklah menjalankan perkawinan, karena perkawinan itu bisa menundukkan pandangan dan menjaga kesucian. Dan barangsiapa tak mampu menjalankan itu, hendaklah ia menjalankan puasa (sunat) karena puasa itu mempunyai pengaruh wadat (pencegahan) baginya” (B. 30:10). Pada kesempatan lain, Nabi Suci bersabda kepada pemuda yang mengemukakan keistimewaannya menjalankan puasa di siang hari dan tak pernah tidur di malam hari dan menjauhkan diri dari perkawinan. Jawab Nabi: “Aku menjalankan puasa dan aku berbuka, dan aku menjalankan shalat dan aku juga tidur, dan juga menjalankan perkawinan, maka dari itu, barangsiapa condong menjalankan cara-cara yang bukan sunnahku, ia bukanlah dari golonganku” (B. 67:1). Menurut suatu Hadits lain lagi, orang yang menjalankan perkawinan, ia telah menyempurnakan separuh agamanya (Mhs. 13:1, III). Hidup melajang (celibacy) itu terang-terangan dilarang (B. 67:8). []
  19. Kalimat yang diterjemahkan: Orang yang tak menemukan jodoh, ini dapat pula diartikan orang yang tak menemukan sarana untuk menikah. Dengan demikian, perkawinan merupakan salah satu peraturan Islam yang wajib dijalankan, yang dikecualikan dari kewajiban itu hanyalah orang yang tak menemukan jodoh, atau orang yang tak mempunyai sarana untuk menikah. Sebenarnya, perkawinan memberi garansi yang kuat bagi terciptanya masyarakat yang baik budi pekertinya. []
  20. Kata kitâb yang kami terjemahkan surat dalam ayat ini ialah mukâtabah, suatu kata infinitif dari kata kataba artinya ia (budak) membuat perjanjian tertulis dengan dia (majikannya) bahwa ia (budak) akan menyerahkan sejumlah uang untuk menebus dirinya, dan pada saat uang itu dibayarkan, ia menjadi orang merdeka (LL), dan berarti pula ia (majikan) membuat perjanjian semacam itu dengan budak. Disebut kitâb atau surat, karena adanya kewajiban yang harus dipenuhi oleh majikan itu sendiri. Uang tebusan dapat dibayar dua kali angsuran atau lebih. Jadi setiap saat diberi kesempatan kepada budak belian untuk mengusahakan kemerdekaan dirinya. Walaupun praktek membuat perjanjian semacam itu antara majikan dan budak belian sudah dilakukan sebelum datangnya Islam, namun perbaikan penting yang diketengahkan oleh Islam ialah, manakala budak belian menghendaki dibuatkan surat perjanjian, maka majikan tak boleh menolaknya. Dua belas abad sebelum diusahakan oleh perorangan atau Negara untuk membuat undang-undang untuk memerdekakan budak belian, Nabi dari padang pasir Arab ini telah meletakkan suatu peraturan yang mulia, yakni, jika seorang budak belian minta surat penebusan kepada majikannya, ia bukan hanya diberi surat itu, melainkan dicukupi pula biaya untuk menebus kemerdekaannya. Satu-satunya surat yang harus dipenuhi hanyalah jika kamu tahu ada kebaikan pada mereka, artinya ia pantas dan kuat bekerja dan mampu mencari nafkah. Selain itu, kewajiban memerdekakan budak dibebankan kepada Negara, diambilkan dari bagian zakat yang khusus untuk tujuan itu, sebagaimana diterangkan dalam 9:60. []
  21. Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Ubayy, pemimpin kaum munafik, memelihara budak wanita untuk dilacurkan (Rz). Pelacuran yang rupa-rupanya merajalela di Tanah Arab sebelum datangnya Islam, dikutuk sekeras-kerasnya di sini. Tetapi tak masuk akal sekali bahwa perbuatan terkutuk yang merajalela di seluruh negara-negara Kristen, bahkan kebanyakan di Eropa, mengesahkan pelacuran sebagai kejahatan yang dibutuhkan, sedang di Negara-negara lainnya, pelacuran itu dibiarkan terang-terangan. []
  22. Nûr (cahaya) adalah sesuatu yang membuat terang barang-barang yang tak kelihatan. Di sini Allah disebut Cahaya langit dan bumi, karena Dia membuat terang langit dan bumi dan mewujudkannya. Kata misykâh artinya relung pada tembok, tetapi menurut Mjd, misykâh berarti ‘amûd atau tiang.
    Dalam perumpaman selanjutnya, Islam dimisalkan Nur Ilahi, yaitu Cahaya yang ditempatkan di atas tiang yang tinggi sehingga dapat menerangi seluruh dunia. Cahaya itu dilindungi dengan cara menempatkannya di dalam kaca, sehingga tak akan padam karena tiupan angin, cahaya itu begitu cemerlang hingga kaca yang ditempati cahaya itu gemerlap bagaikan bintang. Hendaklah diingat bahwa agama Islam berulangkali disebutkan dalam Qur’an bagaikan Cahaya Ilahi. Qur’an berfirman: “Mereka ingin memadamkan Cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah tak mengizinkan siapa pun kecuali hanya menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tak suka” (9:32; 61:8). Oleh sebab itu, tamsil Nur Ilahi ini hanya menggambarkan agama Islam. Adapun minyak zaitun yang diberkahi yang digunakan untuk menyalakan cahaya itu, dan yang menjadi lambang agama Islam, seperti halnya pohon ara yang menjadi lambang agama Yahudi (lihat tafsir nomor 2766), ini bukanlah kepunyaan dunia Timur dan bukan pula kepunyaan dunia Barat. Demikian pula Islam, yang harus memancarkan cahayanya ke Timur dan ke Barat, oleh karena itu, Islam bukanlah kepunyaan dunia Timur maupun dunia Barat. Agaknya yang dituju di sini ialah dipersatukannya Timur dan Barat dalam Islam, suatu ramalan yang pemenuhannya kini mendekati kenyataan, yakni berupa tertariknya dunia Barat kepada kebenaran ajaran Islam. Tamsil ini akan lebih terang lagi jika kata nûr itu ditujukan kepada Nabi Suci. Nabi Suci dikodratkan mempunyai sifat-sifat yang amat tinggi. Bahkan sebelum beliau menerima wahyu Ilahi, beliau bukan hanya suci dari dosa, melainkan pula membaktikan hidup beliau untuk kepentingan manusia. Dari beliau memancarlah cahaya, bahkan itu terjadi sebelum beliau menerima Cahaya Ilahi berupa Wahyu, sehingga pada waktu beliau menerima Wahyu, terjadilah bertumpuk-tumpuk cahaya (nûrun ‘alâ nûrin) pada beliau. []
  23. Cahaya Ilahi yang disebutkan dalam ayat sebelumnya, di sini dikatakan terdapat di rumah-rumah tertentu, yang tanda-tanda yang terang dari rumah itu ialah bahwa di sana diingat nama Allah; jadi itu menunjukkan bahwa rumah itu adalah rumah kaum Muslimin; dengan demikian yang dimaksud Cahaya Ilahi, ialah Cahaya Islam. Selanjutnya kita diberitahu bahwa sekalipun rumah-rumah itu sederhana, tetapi nantinya akan diluhurkan. Diluhurkannya rumah gubug Bangsa padang pasir Arab yang sederhana menjadi istana yang megah adalah kenyataan sejarah. []
  24. Gambaran lebih lanjut tentang rumah-rumah itu, membuat apa yang dituju oleh ayat ini lebih terang lagi. Dalam rumah itu, orang selalu memahasucikan Allah pada pagi dan petang hari; oleh karena itu tak ada rumah lain yang mempunyai gambaran semacam itu selain rumah kaum Muslimin, karena perbuatan menetapi shalat dan membayar zakat adalah ciri khas agama Islam. Orang yang melawan cahaya Ilahi, dan kesudahan orang yang melawan Cahaya Ilahi, digambarkan dalam dua ayat terakhir ruku’ ini. Yang dimaksud hati dan penglihatan berputar balik, ialah mereka akan mengalami perubahan dalam hidup baru, atau akan mengalami kegaduhan disebabkan takut. Ayat berikutnya memperkuat arti yang disebutkan sebelumnya. []
  25. Bagian pertama ruku’ ini melukiskan Cahaya Allah yang gemerlapan dan menyilaukan yang diberikan kepada kaum Muslimin, sehingga bagian terakhir ruku’ ini menggambarkan keadaan kaum kafir yang diliputi kegelap-gulitaan, kebodohan dan keraguan. Harapan mereka untuk mendapat sukses diibaratkan seperti fatamorgana, dan tatkala mereka menjadi insyaf akan kekeliruan mereka, mereka akan menemukan dirinya di hadapan Tuhan, dan akan memperoleh pembalasan yang setimpal. []
  26. Di sini hanya binatang yang dikatakan diciptakan dari air, tetapi di tempat lain dalam Qur’an, kita diberitahu bahwa segala yang hidup, baik binatang maupun tumbuh-tumbuhan, diciptakan dari air (21:30). Lihatlah tafsir nomor 1626. []
  27. Di sini segala macam jenis binatang dibagi menjadi tiga golongan: (1) Binatang melata, yaitu jenis binatang yang paling rendah derajatnya dan yang paling permulaan dalam perkembangan kehidupan binatang. (2) Binatang yang berjalan di atas dua kaki seperti burung, ini merupakan perkembangan kedua dari kehidupan. Manusia, walaupun berjalan di atas dua kaki, tidak termasuk jenis ini, karena kehidupan manusia adalah bentuk perkembangan yang paling tinggi, dan biasanya disebutkan tersendiri yang berlainan sama sekali dari kehidupan binatang. (3) Binatang yang berjalan di atas empat kaki, sebagian besar binatang menyusui termasuk golongan ini. []
  28. Ayat ini bukan saja meramalkan berdirinya kerajaan Islam, melainkan pula kelangsungannya, sehingga perlu dibangkitkan para Khalifah yang akan menggantikan Nabi Suci, dan kaum Muslimin akan dijadikan umat yang memerintah di bumi. Yang dimaksud orang-orang sebelum mereka ialah para pengikut Nabi Musa (Bd). Pada waktu ayat ini diturunkan, Islam masih dikepung oleh musuh dari segala penjuru; dan Tanah Arab masih dikuasai oleh kaum penyembah berhala, sehingga masih terdapat rasa takut di kalangan kaum Muslimin, sebagaimana diterangkan dalam ayat ini. Ramalan tentang kemenangan Islam, yang dalam ayat sebelumnya diibaratkan Cahaya Tuhan, yang menurut ayat selanjutnya, berangsur-angsur menjadi kenyataan, dalam ayat ini diramalkan dengan kata-kata yang amat terang dan amat tegas, yakni kaum Muslimin akan dijadikan yang memerintah di bumi, agama mereka akan ditegakkan, keamanan akan diberikan kepada mereka sebagai pengganti ketakutan; Keesaan Ilahi (Tauhid) akan unggul. Segala anugerah itu akan diberikan kepada kaum Muslimin, yang mereka akan bersyukur atas anugerah itu. Tetapi jika sesudah itu mereka tak terima kasih, mereka akan diperlakukan sebagai orang durhaka. Kata kafara artinya kafir atau tak terima kasih, dan makna yang tersebut belakangan lebih cocok dengan konteks di sini. Sekalipun jika yang diambil makna kafir, namun kafir di sini berarti mengafiri anugerah Tuhan, atau tak taat kepada perintah Tuhan.
    Walaupun janji yang termuat dalam ayat ini ditujukan seterang-terangnya pada kerajaan Islam dan dijadikannya kaum Muslimin sebagai pengganti Bangsa Israil dalam hal Tanah Suci yang dijanjikan, namun ayat ini mengisyaratkan pula janji Tuhan berupa kebangkitan para Mujaddid di kalangan kaum Muslimin sebagaimana Tuhan telah membangkitkan para Nabi di kalangan Bangsa Israil. Demikianlah suatu janji yang terang termuat dalam Hadits Nabi, “Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk umat tiap-tiap abad seseorang yang akan memperbaharui agamanya” (AD. 36:1). Oleh sebab itu, janji yang diberikan dalam ayat ini bukan saja ditujukan kepada para Khalifah Nabi Suci yang mengurusi pemerintahan duniawi, melainkan pula kepada para Khalifah rohani atau para Mujaddid. Sejalan dengan Bangsa Israil yang diisyaratkan dalam ayat ini, janji di sini juga berkenaan dengan munculnya seorang Masih di kalangan kaum Muslimin, sebagaimana seorang Masih telah dibangkitkan di kalangan Bangsa Israil. Itulah sebabnya mengapa pengakuan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, dari Qadian, pendiri Gerakan Ahmadiyah, didasarkan ayat ini, beliau mengaku sebagai Mujaddid abad ke-14 Hijriah, dan sebagai Masih yang kedatangannya telah diramalkan sebelumnya. []
  29. Peraturan tentang kehidupan privasi, baik bagi pribadi ataupun keluarga, amat penting guna memperbaiki hubungan masyarakat, yang jika orang tak menjalankan peraturan ini, niscaya akan menyebabkan timbulnya segala macam kabar bohong yang akan menciptakan keonaran dalam masyarakat, karena hal itu merupakan kabar yang sangat digemari oleh orang yang suka memfitnah. []
  30. Kata qawâ’id jamaknya kata qâ’id artinya wanita yang tak beranak lagi atau wanita yang tidak haid lagi (LL). Yang dimaksud menanggalkan pakaian ialah menanggalkan pakaian luar, sebagaimana diterangkan dalam 33:59. []
  31. Bangsa Arab segan makan bersama dengan orang buta. Dalam hal ini, Bangsa Arab adalah sama dengan Bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa lain. Sampai sekarang Bangsa Hindu suka makan sendirian. Islam meletakkan jalan tengah. Orang Islam boleh makan sendirian, boleh makan bersama orang cacat dan sebagainya, dan boleh makan di rumah sanak kerabat, atau di rumah kawan. Bagian terakhir ayat ini menerangkan, bahwa orang Islam dianjurkan supaya bersikap ramah-tamah terhadap sanak kerabat, sehingga orang boleh saja ikut makan di rumah mereka, sekalipun tak mendapat undangan khusus. []
  32. Yang dimaksud di sini bukanlah bagaimana orang harus memanggil Nabi Suci, melainkan bagaimana orang harus merespon undangan beliau. Konteks ayatnya jelas. Ayat sebelumnya menerangkan bahwa orang tak boleh meninggalkan pertemuan tanpa izin Nabi Suci pada waktu mereka berkumpul memenuhi undangan beliau untuk merundingkan persoalan yang penting. Ayat berikutnya juga membicarakan hal yang sama. Adapun yang diterangkan dalam ayat ini ialah, undangan Nabi Suci kepada kaum mukmin harus dihormati, dan sekali-kali tak boleh diperlakukan sebagai undangan sesamanya, karena undangan Nabi Suci pasti bertalian dengan urusan penting yang menyangkut kesejahteraan masyarakat, sedangkan undangan sesama orang hanya menyangkut urusan pribadi mereka sendiri.[] []

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Power by

Download Free AZ | Free Wordpress Themes