Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home / Mukaddimah / Emansipasi Wanita

Emansipasi Wanita

Kedudukan Kaum Wanita

Dalam hal kerohanian, kedudukan kaum wanita adalah sama dengan kaum pria

Emansipasi Wanita. Masalah lain yang banyak menimbulkan salah paham ialah kedudukan kaum wanita. Di negara Barat, banyak orang yang masih percaya, bahwa menurut Qur’an, kaum wanita tak mempunyai roh. Pikiran orang Eropa semacam itu mungkin timbul pada waktu mereka belum dapat memahami Qur’an. Tak ada Kitab Suci lain dan tak pula ada pemimpin lain yang berbuat sepersepuluh dari apa yang telah dikerjakan oleh Qur’an dan Nabi Muhammad saw. dalam mengangkat derajat kaum wanita. Bacalah Qur’an, Anda pasti akan menemukan bahwa wanita yang baik dan tulus, diberi kedudukan yang sama seperti pria yang baik dan tulus. Dua jenis makhluk itu disebutkan dengan kata-kata yang sama. Anugerah Allah yang paling tinggi yang diberikan kepada kaum pria ialah Wahyu Ilahi, namun dalam Qur’an diterangkan bahwa kaum wanita pun diberi pula Wahyu Ilahi, sama seperti kaum pria. Qur’an berfirman:

“Dan Kami wahyukan kepada ibu Musa: Susuilah dia, lalu jika engkau khawatir akan dia, lemparkanlah dia ke sungai, dan janganlah engkau takut dan jangan pula susah, karena Kami akan mengembalikan dia kepada engkau dan akan membuat dia salah seorang Utusan.” (28:7)

“Tatkala Kami wahyukan kepada ibumu apa yang telah diwahyukan.” (20:38)

“Dan tatkala malaikat berkata: Wahai Maryam, Allah telah memilih engkau dan menyucikan engkau melebihi para wanita sedunia.” (3:42)

 

Selanjutnya, Qur’an menyebut nabi Allah yang besar-besar dengan kata-kata sebagai beriktu:

“Dan sebutkanlah Ibrahim dalam Kitab” (19:41).

“Dan sebutkanlah Musa dalam Kitab” (19:51),

Dan sebagainya. Kata-kata serupa itu digunakan oleh Qur’an dalam menyebut kaum wanita:

“Dan sebutkanlah Maryam dalam Kitab” (19:16).

 

Tak ada Kitab Suci lain yang memberi kedudukan rohani yang begitu tinggi kepada kaum wanita.

Dalam hal memberi ganjaran baik, Qur’an tak membuat perbedaan antara kaum pria dan kaum wanita:

“Aku tak menyia-nyiakan perbuatan orang yang beramal di antara kamu, baik pria maupun wanita, yang satu dari yang lain di antara kamu.” (3:195)

“Dan barangsiapa berbuat baik, baik pria maupun wanita, dan dia itu mukmin, mereka akan masuk Surga, dan mereka tak akan diperlakukan tak adil sedikitpun.” (4:124)

“Barangsiapa berbuat baik, baik pria maupun wanita, dan dia itu mukmin, Kami pasti akan menghidupi dia dengan kehidupan yang baik, dan Kami pasti akan memberikan kepada mereka ganjaran mereka atas sebaik-baik perbuatan yang mereka lakukan.” (16:97)

“Dan barangsiapa berbuat baik, baik pria maupun wanita, dan dia itu mukmin, mereka akan masuk Sorga, di sana mereka akan diberi rezeki tanpa hitungan.” (40:40)

 

Demikian pula dalam ayat 33:35, wanita yang baik diuraikan sebelah-menyebelah dengan pria yang baik, dengan menguraikan sifat-sifat utama yang mereka miliki, baik wanita maupun pria, dan diakhiri dengan kalimat: “Allah telah menyiapkan bagi mereka pengampunan dan ganjaran yang besar”. Oleh sebab itu, menurut Qur’an, pria dan wanita di hadapan Allah itu tak ada bedanya; mereka sama-sama dapat mencapai ketinggian akhlak dan rohani.

Dalam urusan hak milik, kaum wanita mempunyai hak yang sama seperti kaum pria.

Dalam bidang material, pria dan wanita tak ada bedanya, kecuali dalam hal tuntutan kodrat yang masing-masing mempunyai tujuan sendiri. Seperti halnya pria, wanita pun dapat berusaha, mewaris, memiliki kekayaan dan membelanjakan kekayaan. Qur’an menjelaskan:

“Kaum pria memperoleh keuntungan dari apa yang mereka usahakan. Dan kaum wanita juga memperoleh keuntungan dari apa yang mereka usahakan.” (4:32)

“Kaum pria mendapat bagian dari apa yang ditinggalkan orangtua dan kerabat yang terdekat; dan kaum wanita juga mendapat bagian dari apa yang ditinggalkan orangtua dan kerabat yang terdekat.” (4:7)

“Tetapi jika mereka suka memberikan sebagian daripada itu kepada kamu, maka makanlah itu dengan lezat dan nikmat.” (4:4)

 

Pada zaman jahiliyah, para wanita Arab tak mempunyai hak untuk memiliki kekayaan; bahkan mereka sendiri termasuk barang warisan, yang dapat diwaris seperti harta pusaka lainnya. Kaum wanita tak mempunyai hak waris atas harta peninggalan suami atau ayah. Qur’an mengangkat kaum wanita dari derajat yang paling rendah ke derajat kemerdekaan yang sempurna, baik dalam hak waris maupun hak memiliki kekayaan, suatu kedudukan yang hanya dapat dicapai sebagian saja oleh kaum wanita bangsa-bangsa lain, dan ini pun baru dicapai setelah mereka menempuh perjuangan berabad-abad lamanya.

Poligami

Orang berkata bahwa poligami dan pemingitan wanita, seperti yang diatur oleh Qur’an, lebih banyak mendatangkan kerugian daripada keuntungan yang diberikan kepada wanita dalam hak memiliki kekayaan. Memang, sebenarnya banyak terjadi kesalahpahaman tentang dua masalah itu. Kaidah pokok agama Islam ialah monogami (beristri satu); adapun poligami adalah hal luar biasa yang hanya diizinkan dengan syarat-syarat tertentu. Dua ayat berikut ini adalah satu-satunya dalil yang mengizinkan poligami; dan marilah kita tinjau sampai berapa jauh keterangan ayat itu. Qur’an berfirman:

“Dan apabila kamu khawatir bahwa kamu tak dapat berlaku adil terhadap anak yatim, maka kawinilah wanita yang kamu sukai, dua, atau tiga, atau empat; tetapi jika kamu khawatir bahwa kamu tak dapat berlaku adil, maka (kawinilah) satu saja, atau apa yang dimiliki oleh tangan kanan kamu; ini adalah yang paling betul agar kamu tak menyeleweng.” (4:3)

“Dan mereka minta keputusan dikau tentang kaum wanita. Katakanlah: Allah memberi keputusan kepada kamu tentang mereka; dan apa yang dibacakan kepada kamu dalam Kitab tentang kaum wanita yang sudah janda, yang tak kamu berikan kepada mereka apa yang telah ditetapkan bagi mereka, sedangkan kamu tak suka mengawini mereka.” (4:127)

 

Ayat pertama mengizinkan poligami dengan syarat “bahwa kamu tak dapat berlaku adil terhadap anak yatim”; apa yang dimaksud oleh ayat itu, dijelaskan dalam ayat kedua, yang mempunyai sangkut-paut dengan ayat pertama: “dan apa yang dibacakan kepada kamu dalam Kitab tentang kaum wanita yang sudah janda.” Bangsa Arab bersalah karena dua kali berlaku tak adil terhadap janda:

 

  • Mereka tak memberi bagian waris kepada anak dan janda yang ditinggal mati suaminya,
  • Mereka tak suka mengawini janda yang mempunyai anak, karena dalam hal ini mereka dibebani tanggungjawab pemeliharaan anak yatim.

Qur’an mengobati dua kejahatan itu; Qur’an memberi bagian waris kepada janda dan anak yatim, dan Qur’an menganjurkan supaya mengawini janda semacam itu, dan untuk maksud ini mereka diizinkan poligami. Oleh karena itu hendaklah diingat bahwa monogami merupakan kaidah pokok agama Islam, sedang poligami hanya diizinkan sebagai tindakan penyembuhan, yakni bukan untuk kepentingan kaum pria, melainkan untuk kepentingan janda dan anak yatim. Dan izin itu hanya diberikan pada waktu perang, yang banyak menimbulkan korban di kalangan kaum pria, sehingga banyak meninggalkan janda dan anak yatim yang harus dipelihara. Pemeliharaan itu dilakukan dalam bentuk poligami, sehingga janda akan mendapat perumahan dan perlindungan, sedang anak yatim akan mendapat perawatan dan kasih sayang seorang ayah. Pada dewasa ini Eropa sedang menghadapi problem kelebihan wanita. Hendaklah orang-orang Eropa suka berpikir, apakah mereka dapat memecahkan problem itu selain dengan mengizinkan poligami terbatas. Satu-satunya alternatif, hanyalah dengan pelacuran, yang sekarang merajalela di negara-negara Eropa; dan sekalipun undang-undang Pemerintah tak membenarkan cara itu, tetapi dalam praktek membenarkan. Tuntutan kodrat harus dipenuhi, dan jika tak dipenuhi dengan poligami terbatas, maka satu-satunya alternatif ialah dengan mengizinkan pergaulan yang tidak syah.

Pemingitan wanita

Adapun hal pemingitan wanita, Qur’an tak pernah melarang wanita keluar rumah, untuk mengurus keperluan mereka. Pada zaman Nabi Suci, wanita selalu pergi ke Masjid, dan shalat bersama dengan kaum pria, dan membentuk shaf sendiri. Para wanita juga membantu suami bekerja di ladang; bahkan mereka ikut bertempur di medan perang, dan merawat prajurit yang luka, mengangkut mereka ke garis belakang, dan jika perlu, membantu tentara dalam berbagai pekerjaan. Dalam keadaan bahaya, mereka juga ikut bertempur. Tak ada pekerjaan yang dilarang bagi wanita, dan mereka dapat memilih pekerjaan apa saja yang mereka sukai. Satu-satunya yang mengekang kebebasan wanita hanyalah apa yang diterangkan dalam ayat berikut:

“Katakanlah kepada kaum mukmin pria supaya mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka. Ini lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-waspada tentang apa yang kamu lakukan. Dan katakanlah kepada kaum mukmin wanita, supaya mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka, dan janganlah mereka mempertontonkan perhiasan mereka, kecuali sebagian saja yang ada di luar. Dan hendaklah mereka mengerudungkan kain penutup kepala hingga dada mereka.” (24:30-31)

 

Kekangan yang termuat dalam ayat itu ialah agar kaum pria dan kaum wanita selalu menundukkan pandangan mereka apabila mereka bertemu satu sama lain; tetapi bagi kaum wanita ditambah lagi kekangan agar mereka jangan mempertontonkan perhiasan mereka, kecuali “sebagian saja yang ada di luar”. Pengecualian itu dijelaskan dalam arti “apa yang menurut kebiasaan atau kelaziman memang tak perlu ditutupi”. Bahwa wanita pergi ke Masjid dengan wajah terbuka, ini dibenarkan oleh semua pihak; dan dalam sebuah Hadits, Nabi Suci bersabda bahwa anak perempuan yang sudah dewasa hendaklah menutupi seluruh badannya kecuali muka dan tangan. Sebagian besar mufassir juga berpendapat bahwa yang dikecualikan adalah muka dan tangan. Oleh sebab itu, sekalipun mempertontonkan keindahan itu dilarang, namun larangan itu tak boleh merintangi kegiatan yang harus dilakukan oleh kaum wanita. Wanita dapat melakukan pekerjaan apa saja yang ia sukai untuk memperoleh mata pencaharian, karena sebagaimana kami terangkan di muka, Qur’an berfirman seterang-terangnya, bahwa wanita akan memperoleh keuntungan dari apa yang mereka usahakan. Oleh sebab itu, pemingitan terbatas dan poligami terbatas, tak merintangi kegiatan wanita; dua-duanya hanya dimaksud untuk melindungi mereka, dan sebagai tindakan preventif terhadap perbuatan zina, yang akhirnya akan merusak masyarakat.

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *