Breaking News
Home / Mukaddimah / Kehidupan Setelah Mati

Kehidupan Setelah Mati

Hidup Sesudah Mati

Mati adalah suatu tahap dalam evolusi

Sekalipun masalah Kehidupan Setelah Mati telah dibahas sepenuhnya dalam ayat yang bersangkutan, namun ini kami bahas dalam Mukadimah, karena dua sebab. Pertama, karena banyaknya salah paham tentang hal ini, dan kedua, karena dalam Qur’an sajalah masalah ini diterangkan sejelas-jelasnya, dan tak ada Kitab Suci lain yang dapat menandingi Qur’an dalam hal menjelaskan rahasia ini. Menurut Qur’an, mati bukanlah berakhirnya hidup manusia, melainkan hanya sebuah pintu masuk menuju kehidupan yang lebih tinggi. Sebagaimana tanah berangsur-angsur menjadi manusia, demikian pula amal yang ia lakukan berangsur-angsur menjadi manusia luhur. Sebagaimana benih manusia yang amat kecil tumbuh menjadi manusia, tanpa kehilangan kepribadiannya yang asli, sekalipun mengalami bermacam-macam perubahan, demikian pula manusia tumbuh menjadi manusia luhur dengan jalan mengubah sifat-sifatnya, dan ia akan terus tumbuh menjadi apa yang sekarang tak dapat dibayangkan.

Hubungan antara hidup di dunia dan hidup di akhirat

Menurut Qur’an, hidup sesudah mati membuka rangkaian kemajuan yang amat luas bagi manusia, suatu dunia kemajuan yang baru, yang jika dibandingkan, kemajuan di dunia sekarang ini tak ada artinya sama sekali. Qur’an berfirman: “Dan sesungguhnya Akhirat itu lebih besar derajatnya dan lebih besar kemuliaannya” (17:21). Adapun hubungan antara dua hidup itu, hidup di dunia dan hidup sesudah mati, diuraikan seterang-terangnya dalam Qur’an Suci. Sorga dan Neraka bukanlah tempat kesenangan dan tempat siksaan yang hanya dijumpai sesudah mati, melainkan suatu kenyataan yang dijumpai pula di dunia ini. Akhirat bukanlah suatu alam gaib di seberang kubur, melainkan sudah dimulai dari kehidupan sekarang. Orang yang baik, memperoleh kehidupan Sorga, dan orang jahat, memperoleh kehidupan Neraka; ini pun sudah dimulai di dunia ini. Qur’an berfirman:

“Barangsiapa takut di hadapan Tuhannya, ia memperoleh dua Surga.” (55:46)

“Wahai nafsu yang tenang, kembalilah kepada Tuhan dikau dengan berkenan kepada-Nya, dan mendapat perkenan-Nya; maka masuklah di antara hamba-hamba-Ku dan masuklah dalam Surga-Ku.” (89:27-30)

“Yaitu Api yang dinyalakan oleh Allah, yang menjilat-jilat di hati.” (104:6-7)

“Dan barangsiapa buta di sini, ia akan buta pula di Akhirat.” (17:72)

Kiamat atau Sâ’at

Qur’an menjelaskan, bahwa hidup sesudah mati adalah kelanjutan dari hidup sekarang ini; di samping itu ada hari istimewa yang berulang-ulang disebutkan dalam Qur’an dengan berbagai nama, yaitu hari yang di sana kehidupan akan berwujud dengan sempurna. Pada umumnya hari istimewa itu disebut yaumul-qiyâmah atau hari Kebangkitan atau hari Kiamat (2:113), dan disebut pula sebagai hari Keputusan (77:13), hari Perhitungan (38:26), hari Pengadilan (51:12), hari Pertemuan (dengan Allah) (40:15), hari Berkumpul (42:7), dan sebagainya.

Adapun perkataan yang paling banyak digunakan dalam Qur’an ialah as-Sâ’ah, yang makna aslinya waktu, waktu apa saja; oleh karena itu, biasa diterjemahkan dengan Sa’at. Imam Raghib — ahli kamus Qur’an yang termasyhur — berkata bahwa as-Sâ’ah yang mengandung arti Kebangkitan itu tiga: (1) kubrâ (besar), yaitu dibangkitkannya manusia untuk dihisab; (2) wusthâ (tengah-tengah), yaitu matinya suatu bangsa; dan (3) shughrâ (kecil), yaitu matinya seseorang. Tiga arti kata as-Sâ’ah itu digunakan semua dalam Qur’an Suci. Misalnya dalam 6:31: “Sungguh rugi orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah, sampai tatkala as-Sâ’ah mendatangi mereka dengan tiba-tiba”; di sini kata as-Sâ’ah berarti matinya seseorang yang mendustakan. Adapun yang paling banyak digunakan ialah kata as-Sâ’ah dalam dua arti lainnya, dan seringkali dua makna itu bertukar satu sama lain, karena masing-masing memang dapat diterapkan.

Kiamat dunia

Berbagai perkataan yang berarti kiamat itu dalam arti terbatas dapat diterangkan terhadap kiamat dunia; misalnya kebangkitan orang mati itu kadang-kadang berarti kebangkitan rohani yang timbul karena ajaran Nabi Suci; hari Keputusan itu kadang-kadang berarti menangnya Kebenaran dan hancurnya kepalsuan; hari Perhitungan itu yang dimaksud perhitungan di dunia ini. Demikian pula hari Pembalasan. Undang-undang pembalasan tentang baik dan buruk, itu sama berlakunya, baik di dunia maupun di Akhirat, tetapi perwujudan yang sempurna baru terjadi setelah badan jasmani dilenyapkan oleh kematian, yang lenyapnya badan jasmani itu menjadi titik tolak terjadinya hidup baru dan hidup yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, Allah berulang-ulang disebut Yang Maha-cepat dalam perhitungan (2:202; 3:19, 199; dsb.), artinya, perhitungan Allah itu bekerja setiap waktu. Tiap-tiap perbuatan jahat pasti meninggalkan bekas dalam batin manusia. Qur’an berfirman:

“Tidak, malahan apa yang mereka kerjakan menjadi semacam karat dalam hati mereka” (83:14),

 

artinya, setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia pasti ada akibatnya. Lebih terang lagi Qur’an berfirman:

“Dan tiap-tiap manusia, Kami lekatkan perbuatannya pada lehernya. Dan pada hari Kiamat akan Kami keluarkan kepadanya berupa kitab yang akan ia jumpai terbuka lebar” (17:13).

 

Jadi, tiap-tiap perbuatan pasti meninggalkan bekas pada manusia setelah itu dilakukan; tetapi bekas itu tak dapat dilihat oleh mata manusia; hanya pada hari Kiamat nanti akan nampak dengan terang berupa kitab yang terbuka lebar, karena tabir yang sekarang menutupi mata, yang menyebabkan mata tak dapat melihat barang yang halus-halus, akan disingkirkan. Qur’an berfirman:

“Sesungguhnya engkau telah melalaikan hal ini, tetapi sekarang Kami singkirkan dari engkau tabir engkau, maka pada hari ini penglihatan engkau menjadi tajam” (50:22).

 

Jadi undang-undang pembalasan perbuatan baik dan buruk bekerja setiap waktu; tetapi sekarang mata kita tak dapat melihat akibatnya; hanya di Akhirat nanti kita akan melihatnya dengan terang, karena di sana kita akan diberi indera yang lebih halus. Qur’an berfirman:

“Pada hari tatkala barang-barang yang tak nampak akan dibikin terang” (86:9).

Neraca

Undang-undang pembalasan perbuatan baik dan buruk adalah undang-undang yang luas, Qur’an berfirman: “Barangsiapa berbuat baik seberat atom, ia akan melihatnya. Dan barangsiapa berbuat buruk seberat atom, ia akan melihatnya” (99:7-8). Jadi, tiap-tiap perbuatan baik akan berbuah baik, dan tiap-tiap perbuatan buruk akan berakhir buruk, baik itu dilakukan oleh orang Islam maupun bukan; tetapi berkat Sifat kasih sayang Allah yang melimpah-limpah, perbuatan baik menghasilkan buah lipat sepuluh bahkan sampai tujuh ratus kali; lihatlah 6:160; 2:161; 28:84; 42:30; dan sebagainya.

Orang itu diadili menurut besar-kecilnya perbuatan yang ia lakukan, perbuatan baik ataukah perbuatan buruk; dan sehubungan dengan itu, di sini dibicarakan perihal Mîzân atau neraca. Kata wazn atau Mîzân yang digunakan dalam Qur’an sehubungan dengan itu, bukanlah berarti neraca yang terdiri dari sepasang daun timbangan, melainkan neraca dalam arti luas, yaitu neraca dalam arti keadilan. Misalnya dalam 57:25 dikatakan bahwa para Utusan diutus dengan Kitab dan Mîzân, yang Mîzân di sini berarti undang-undang keadilan atau prinsip-prinsip keadilan — “agar manusia berlaku adil”. Selanjutnya dalam 55:7 dikatakan Mîzân diletakkan di atas alam: “Dan langit, Ia tinggikan, dan Ia letakkan di sana mîzân”. Menurut para mufassir yang jumhur, Mîzân di sini berarti keadilan. Mîzân diletakkan untuk mengadili manusia, manakah yang lebih berat, kebaikannya ataukah keburukannya. Di bawah ini kami kutip beberapa ayat:

“Dan pada hari Kiamat, Kami letakkan neraca yang adil, sehingga tak ada jiwa yang diperlakukan tak adil sedikitpun; dan walaupun hanya seberat biji sawi, Kami akan mendatangkan itu. Dan sudah cukup bagi Kami untuk mengambil perhitungan.” (21:47)

“Dan pada hari itu neraca pasti benar; maka barangsiapa neraca perbuatan baiknya berat, mereka adalah orang yang beruntung. Dan barangsiapa neraca perbuatan baiknya ringan, mereka adalah orang yang menderita rugi.” (7:8-9)

Kitab Perbuatan

Perlu kami tambahkan sedikit tentang kitab perbuatan. Kita telah diberi tahu bahwa tiap-tiap perbuatan, baik besar maupun kecil, pasti dicatat:

“Dan kitab diletakkan, dan engkau akan melihat orang-orang dosa merasa takut akan apa yang ada di dalamnya, dan mereka berkata: Aduh, celaka sekali kami, Kitab apakah ini? Tak ada yang ketinggalan, yang kecil maupun yang besar, semuanya dihitung.” (18:49)

“Maka barangsiapa berbuat baik dan ia itu mukmin, maka jerih-payahnya tak akan disia-siakan, dan sesungguhnya Kami menuliskan (itu) untuknya.” (21:94)

“Tiada ia mengucapkan satu perkataan, melainkan seorang malaikat pengawas sudah siap di dekatnya.” (50:18)

“Apakah mereka mengira bahwa Kami tak mendengar rahasia mereka dan percakapan rahasia mereka? Ya, dan para Utusan Kami menulis di dekat mereka.” (43:80)

“Dan sesungguhnya kamu mempunyai juru pengawas, juru tulis yang mulia; mereka tahu apa yang kamu kerjakan.” (82:10-12)

“Ini adalah catatan Kami, yang berkata benar terhadap kamu; sesungguhnya Kami mencatat apa yang kamu kerjakan.” (45:29)

 

Bukan hanya perseorangan saja yang mempunyai kitab perbuatan, bangsa pun mempunyai kitab perbuatan:

“Dan engkau akan melihat tiap-tiap bangsa berlutut. Tiap-tiap bangsa akan dipanggil ke buku-catatannya. Pada hari itu kamu akan menerima pembalasan tentang apa yang telah kamu lakukan” (45:28)

 

Hendaklah diingat bahwa menurut Qur’an, kata kitâb dan kataba mengandung arti yang amat luas. Imam Raghib berkata: Kata kitâb tidak selalu berarti sekumpulan lembaran yang ditulis; kata kitâb kadang-kadang berarti ilmu Allah, perintah Allah, atau apa yang diwajibkan Allah. Demikian pula kata kataba tidak selalu berarti menulis di atas kertas dengan tinta dan pena; kata kataba berarti pula mewajibkan, memutuskan, mengatur, atau menetapkan sesuatu. Marilah sekarang kita tinjau apakah yang dimaksud dengan catatan perbuatan atau buku perbuatan. Menilik ayat-ayat tersebut, terang sekali bahwa yang dimaksud menulis perbuatan ialah menyimpan dan mengamankan perbuatan; dan para malaikat yang menulis perbuatan, disebut juru pengawas dan juru tulis. Hal itu dijelaskan dalam ayat-ayat berikut:

“Dan tiap-tiap manusia, Kami lekatkan perbuatannya pada lehernya, dan pada hari Kiamat, akan Kami keluarkan kepadanya berupa kitab yang ia jumpai terbuka lebar. Bacalah kitab engkau. Pada hari ini engkau sudah cukup sebagai juru hitung terhadap engkau.” (17:13-14)

“Padanya terdapat (malaikat) yang membuntuti dia, di mukanya dan di belakangnya; mereka mengawasi dia atas perintah Allah.” (13:11)

“Tidak! Sesungguhnya catatan orang durhaka berada dalam penjara. Dan tahukah engkau apakah penjara itu? Yaitu kitab yang ditulis.” (83:7-9)

“Tidak! Sesungguhnya catatan orang tulus berada di tempat yang tinggi. Tahukah engkau apakah tempat yang tinggi itu? Yaitu kitab yang ditulis.” (83:18-20)

 

Ayat pertama menerangkan, bahwa kitab perbuatan yang akan mereka jumpai pada hari Kiamat itu tiada lain hanyalah buah perbuatan yang mereka lakukan. Ayat kedua menerangkan bahwa yang diawasi malaikat bukanlah perbuatan, melainkan orang yang melakukan perbuatan; jika ayat kedua dirangkaikan dengan ayat pertama, maka akan jelas bahwa perbuatan seseorang akan tetap tersimpan dalam bentuk kesan yang membekas pada orang itu. Ayat ketiga dan keempat menerangkan bahwa kitab perbuatan, sama dengan tempat di mana kitab itu disimpan; dalam ayat ketiga diterangkan bahwa kitab perbuatan berada dalam penjara, dan penjara itu ialah kitab yang ditulis; dalam ayat keempat diterangkan bahwa kitab perbuatan berada di tempat yang tinggi, dan tempat yang tinggi itu ialah kitab yang ditulis. Oleh karena itu, kitab perbuatan berada dalam batin manusia, karena perbuatan itu tersimpan dalam batin manusia, dalam bentuk kesan yang membekas pada manusia. Sekali peristiwa dikatakan, bahwa kitab perbuatan berada dalam penjara, karena perbuatan yang jahat merintangi kemajuan manusia dan mengurung daya kemampuannya untuk melakukan perbuatan mulia dan baik, seakan-akan berada dalam penjara. Pada lain peristiwa dikatakan, bahwa kitab perbuatan berada di tempat yang tinggi, karena dengan perbuatan yang baik, daya kemampuan yang ada dalam batin manusia berkembang setinggi-tingginya. Bertepatan dengan itu, kami diberitahu bahwa manusia akan membuat perhitungan sendiri:

“Bacalah kitab engkau. Pada hari ini, engkau sudah cukup sebagai juru hitung terhadap engkau” (17:14).

 

Kadang-kadang dikatakan bahwa kitab itu dibaca sendiri oleh orang yang bersangkutan, tetapi pada lain kesempatan, ia menyuruh orang lain supaya membacanya.

“Ayo, bacalah buku catatanku” (69:19).

 

Demikianlah peristiwa orang yang berbuat baik. Tetapi terhadap orang yang berbuat jahat, dikatakan:

“O, sekiranya buku catatanku tak diberikan kepadaku, niscaya aku tak tahu perhitunganku” (69:25-26).

 

Sebagaimana di terangkan di atas, tiap-tiap bangsa mempunyai kitab perbuatan; ini dibenarkan oleh apa yang diterangkan di sini; karena apa yang dilakukan oleh bangsa, pasti membekas pada kehidupan bangsa; dan seperti halnya orang-seorang, bangsapun diadili menurut apa yang mereka lakukan.

Surga dan Neraka

Hidup sesudah mati mempunyai dua bentuk: hidup di Surga bagi mereka yang kebaikannya melebihi keburukannya, dan hidup di Neraka bagi mereka yang keburukannya melebihi kebaikannya. Dalam Qur’an, kata firdaus (Surga) hanya diuraikan dua kali, yakni dalam 18:107 dan 23:11. Adapun yang biasa digunakan oleh Qur’an ialah kata jannât (Taman) jamaknya kata jannah, sebagai tempat tinggal orang tulus, yang biasa digambarkan sebagai orang yang beriman dan berbuat baik; dalam Qur’an, tempat tinggal itu biasa dikatakan: Taman yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; sungai mengibaratkan iman, dan pohon di taman mengibaratkan perbuatan dan dihafalkan baik manusia. Kata jannah berasal dari kata jann artinya menyembunyikan sesuatu hingga tak dapat diamati oleh indera; dan kata jannah diartikan taman, karena tanahnya tertutup oleh pohon. Akan tetapi Surga yang dilukiskan sebagai Taman yang di dalamnya mengalir sungai-sungai hanyalah merupakan tamsil. Qur’an berfirman:

“Perumpamaan Surga yang dijanjikan kepada orang tulus, di dalamnya terdapat sungai dari air yang tak pernah mengalami perubahan” (47:15).

 

Kenikmatan Surga tak dapat dibayangkan dalam kehidupan sekarang ini, karena kenikmatan itu bukanlah barang-barang duniawi. Qur’an berfirman:

“Tak ada jiwa yang tahu apa yang tersembunyi bagi mereka tentang barang yang menyejukkan mata; ganjaran perbuatan yang mereka lakukan” (32:17).

 

Ayat itu dijelaskan oleh Nabi Suci dalam kitab Bukhari:

“Allah berfirman: Telah Aku siapkan bagi hamba-Ku yang tulus, sesuatu yang mata belum pernah melihat, dan telinga belum pernah mendengar, dan belum pernah terlintas dalam batin seseorang” (B 59:8).

 

Oleh karena itu, Surga dan segala isinya tak dapat dibayangkan oleh pikiran manusia. Diriwayatkan bahwa Sahabat Ibnu ‘Abbas berkata:

“Apa yang ada di Surga tak ada yang sama dengan barang-barang di dunia, kecuali hanya namanya” (RM I, hlm. 172).

 

Misalnya zhill (tempat teduh), yang seringkali diungkapkan dalam Qur’an Suci sehubungan dengan kenikmatan Surga; sudah tentu itu bukanlah tempat teduh yang sebenarnya, karena di sana tak ada matahari. Qur’an berfirman:

Di sana mereka tak akan melihat matahari dan tak pula hawa dingin yang luar biasa” (76:13).

 

Kata-katanya sama, tetapi artinya berlainan. Menurut Imam Raghib, kata zhill artinya berlimpah-limpah atau perlindungan. Demikian pula rizqi di Surga, ini bukanlah makanan yang menguatkan badan kita. Sebenarnya, shalat itu juga disebut rizqi di dalam 20:131. Buah-buahan di Surga bukan pula seperti buah-buahan di dunia, karena buah-buahan di Surga adalah buah perbuatan manusia. Qur’an berfirman:

“Apabila mereka diberi sebagian dari buah-buahan itu, mereka berkata: Inilah yang diberikan kepada kami dahulu” (2:25).

 

Jelas sekali bahwa yang dimaksud di sini ialah buah perbuatan, bukan buah-buahan yang dihasilkan oleh tanah, karena yang tersebut belakangan ini, tak semua orang mukmin diberi, sedangkan yang tersebut di muka, semua orang mukmin diberi. Demikian pula air, susu, madu, bantal, singgasana, pakaian dan perhiasan di Surga, semuanya hanya tamsil belaka, sebagaimana diuraikan di atas (47:15).

Sebenarnya, pertimbangan sepintas lalu saja membuktikan bahwa pengertian tentang ruang dan waktu tak dapat diterapkan terhadap kehidupan Akhirat. Dalam Qur’an diterangkan, bahwa luas Surga itu seluas langit dan bumi:

“Dan bercepat-cepatlah menuju pengampunan Tuhan kamu dan Surga yang luasnya (seluas) langit dan bumi” (3:133; 57:21).

 

Tatkala ditanyakan kepada Nabi Suci, di manakah Neraka bila luas Surga itu seluas langit dan bumi? Beliau menjawab:

“Di manakah malam, bila datang siang?” (RM I, hlm. 670).

 

Ini menunjukkan seterang-terangnya bahwa Surga dan Neraka lebih mirip dua keadaan, daripada dua macam tempat. Selanjutnya, walaupun Surga dan Neraka itu berlawanan sekali, yang satu tinggi sekali, yang lain rendah sekali, namun dua-duanya hanya dipisahkan dengan tembok:

“Lalu sebuah tembok yang mempunyai pintu, dipasang antara kedua ini; di dalamnya penuh rahmat, dan diluarnya penuh siksaan” (57:13).

 

Di tempat lain, Qur’an berfirman tentang penghuni Surga dan penghuni Neraka:

“Dan antara dua penghuni itu terdapat tabir” (7:46).

 

Selanjutnya Qur’an menerangkan bahwa api Neraka “mengamuk dan meraung-raung” (25:12; 67:7), namun para penghuni Surga

“tak mendengar suara Neraka yang paling lemah” (21:102),

 

Padahal di tempat lain diterangkan bahwa para penghuni Neraka bercakap-cakap dengan para penghuni Surga, dan mereka saling mendengar satu sama lain; lihatlah 7:44-50. Kami hanya mengutip bagian terakhir ayat itu:

“Dan para penghuni Neraka berseru kepada para penghuni Surga: Tuangkanlah kepada kami air atau apa saja yang Allah berikan kepada kamu. Mereka menjawab: Allah mengharamkan dua-duanya kepada kaum kafir.”

 

Jadi, para penghuni Surga mendengar seruan para penghuni Neraka, namun para penghuni Surga tak mendengar meraung-raungnya api Neraka. Ini membuktikan bahwa Neraka adalah keadaan, yang hanya dirasakan oleh mereka yang ada di dalamnya, demikian pula halnya Surga.

Surga dan Neraka dimulai dari kehidupan sekarang

Sebagaimana telah kami terangkan, Qur’an menerangkan bahwa Surga dan Neraka dimulai dari kehidupan sekarang. Bacalah ayat berikut ini bersama-sama ayat tersebut di atas:

“Dan berilah kabar baik kepada orang yang beriman dan berbuat baik bahwa mereka akan memperoleh Taman yang di dalamnya mengalir sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi sebagian buah-buahan dari (Taman) itu, mereka berkata: Inilah yang diberikan kepada kami dahulu; dan mereka diberi yang serupa dengan itu.” (2:25)

“Mereka memperoleh rezeki yang sudah diketahui.” (37:41)

“Dan Dia masukkan mereka dalam Taman, yang telah Dia perkenalkan kepada mereka.” (47:6)

 

Ayat pertama menerangkan bahwa buah-buahan yang diberikan kepada orang tulus di Surga adalah sama dengan buah-buahan yang diberikan kepada mereka di dunia. Adapun ayat kedua dan ketiga menerangkan bahwa rezeki yang diberikan kepada mereka di Surga, telah dikenal oleh mereka di dunia. Sudah jelas bahwa rezeki dan buah-buahan yang diterangkan di sini bukanlah rezeki atau buah-buahan yang sama-sama dimiliki, baik oleh orang tulus maupun oleh orang jahat, yaitu buah-buahan dan rezeki yang dihasilkan oleh tanah, yang dibutuhkan untuk menguatkan jasmani. Adapun yang dimaksud adalah buah-buahan dan rezeki yang khusus diberikan kepada orang tulus, yang tak dapat dijangkau oleh orang jahat. Sebenarnya selama di dunia, orang jahat itu buta akan rezeki dan buah-buahan tersebut, oleh karena itu, mereka tak mendapat bagian di Akhirat:

“Barangsiapa buta di dunia, ia akan buta pula di Akhirat” (17:72).

 

Ini adalah buah perbuatan baik, dan rezeki yang didapat oleh orang tulus pada waktu mereka dzikr kepada Allah; selanjutnya lihatlah 20:13, 131.

Seirama dengan itu, jiwa yang menemukan ketenangan pada Allah, dimasukkan dalam Surga di dunia ini. Qur’an berfirman:

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhan dikau, dengan perasaan puas, amat memuaskan di hati. Masuklah di antara hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke Surga-Ku!” (89:27-30).

Kenikmatan Surga yang paling tinggi

Sesuai dengan kesimpulan tersebut, Qur’an menerangkan dengan jelas bahwa perkenan Allah (ridla Ilahi) adalah kenikmatan Surga yang paling tinggi, anugerah rohani yang paling besar yang dicita-citakan oleh orang tulus selama di dunia, dan dengan tercapainya cita-cita itu, mereka di dunia inipun telah masuk Surga, sebagaimana terang diuraikan dalam Qur’an:

“Allah telah menjanjikan kepada kaum mukmin pria dan mukmin wanita sebuah Taman yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, mereka menetap di sana, dan tempat tinggal yang baik di Taman yang kekal. Dan yang paling besar ialah perkenan Allah. Ini adalah hasil yang besar.” (9:72)

 

Mereka yang ada di Surga akan sibuk dan bersukaria dalam memuji dan memahasucikan Allah (tahmid dan tasbih); inilah yang oleh Qur’an dinyatakan sebagai rezeki rohani bagi orang tulus di dunia (20:131).

“Doa mereka di sana ialah: Maha-suci Engkau ya Allah! Dan penghormatan mereka di sana ialah: Salam! Dan doa mereka yang terakhir ialah: Segala puji kepunyaan Allah, Tuhan sarwa sekalian alam.” (10:10)

 

Dalam Surga tak ada derita, lelah dan letih, dan hati manusia dibersihkan dari segala macam dengki dan iri hati, dan semuanya diliputi oleh suasana damai dan tenteram. Qur’an berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang tulus berada di Taman dan air mancur. Masuklah ke dalam dengan damai, aman. Dan akan Kami cabut dendam kesumat yang ada dalam hati mereka — mereka menjadi seperti saudara; di atas sofa yang tinggi berhadap-hadapan. Di sana mereka tak akan terkena lelah, dan mereka tak akan diusir dari sana.” (15:45-48)

“Di sana mereka tak akan mendengar cakap kosong atau cakap dosa, selain ucapan: Damai! Damai!” (56:25-26)

“Dan mereka berkata: Segala puji kepunyaan Allah, Yang telah menyingkirkan kesusahan dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami ialah Yang Maha-pengampun, Yang melipatkan ganjaran; Yang dengan anugerah-Nya menempatkan kami di rumah yang kekal; di sana kami tak akan terkena lelah dan di sana kami tak akan terkena letih.” (35:34-35)

Surga dimaksud untuk meneruskan kemajuan

Menurut Qur’an, Surga bukanlah tempat untuk bersenang-senang saja, melainkan yang terpenting ialah tempat untuk meneruskan kemajuan menuju tingkat yang lebih tinggi. Qur’an berfirman:

“Tetapi orang yang bertaqwa kepada Tuhan mereka mendapat tempat yang tinggi, di atas itu adalah tempat yang lebih tinggi lagi, yang dibangun (untuk mereka)” (39:20).

 

Ini menunjukkan bahwa Surga bukan hanya menyediakan tempat yang tinggi kepada orang tulus, melainkan Surga itu sebenarnya, titik tolak ke arah kemajuan baru, karena di sana masih ada yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi; oleh karena itu, mereka dikatakan mempunyai keinginan terus-menerus untuk mencapai kemuliaan yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi; doa mereka di Surga adalah:

“Tuhan kami, sempurnakanlah cahaya kami” (66:8).

 

Pengertian tentang kemajuan di Surga yang tak ada henti-hentinya adalah pengertian yang khusus terdapat dalam Qur’an, dan pengertian itu tak terdapat sedikitpun dalam Kitab-kitab Suci lain.

Neraka dimaksud untuk menyucikan

Selaras dengan pengertian Surga sebagai tempat kemajuan yang tak ada habis-habisnya menuju kehidupan yang tinggi, demikian pula pengertian Qur’an tentang Neraka, inipun bukan tempat siksaan yang hanya dimaksud untuk menyiksa, melainkan dimaksud untuk menyucikan, agar manusia mampu membuat kemajuan rohani. Adapun latar belakang dari pengertian itu ialah, bahwa orang yang menyia-nyiakan hidupnya di dunia, harus menjalani pengobatan penyakit rohaninya yang disebabkan karena perbuatan mereka sendiri, berdasarkan undang-undang Tuhan yang tak berubah-ubah, yakni bahwa tiap-tiap orang harus merasakan buah perbuatan yang ia lakukan. Itulah sebabnya mengapa Qur’an membuat perbedaan antara kekekalan di Surga dan kekekalan di Neraka, yang dalam hal Neraka, kekekalan itu ada batasnya, sedang dalam hal Surga, kekekalan itu tak ada batasnya.

Sebagaimana telah kami terangkan hukuman perbuatan jahat itu kadang-kadang dialami di dunia; dan menurut prinsip yang digariskan oleh Qur’an dengan kata-kata yang terang, hukuman semacam itu dimaksud untuk penyembuhan. Qur’an berfirman:

“Dan tiada Kami mengutus seorang nabi di suatu daerah melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesusahan dan kesengsaraan, agar mereka berendah hati.” (7:94)

“Dan sesungguhnya telah Kami utus (para Utusan) kepada umat sebelum engkau, lalu Kami timpakan kepada mereka kesusahan dan kesengsaraan, agar mereka berendah hati.” (6:42)

 

Dari ayat itu terang sekali bahwa Allah menurunkan siksaan kepada orang dosa, agar mereka kembali kepada-Nya; dengan perkataan lain, agar mereka sadar akan adanya hidup yang lebih tinggi. Inilah tujuan siksa Neraka. Bahwa tujuan siksa Neraka adalah demikian, ini sudah jelas, karena sebagaimana diterangkan di atas, yang paling menonjol ialah sifat kasih sayang Allah, dan bahwa sekalian manusia diciptakan karena kasih sayang-Nya. Qur’an berfirman:

“Kecuali orang yang Tuhan dikau kasih sayang kepadanya; dan untuk inilah Dia menciptakan mereka.” (11:119)

 

Akhirnya kehendak Allah pasti terpenuhi, dan sekalipun manusia dihukum karena perbuatan sendiri, namun karena manusia diciptakan atas kasih sayang Allah, kasih sayang itulah tujuan terakhir rencana Ilahi. Di tempat lain Qur’an berfirman:

“Dan tiada Aku menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mengabdi kepada-Ku” (51:56).

 

Oleh sebab itu, manusia akhirnya dibuat pantas untuk menghadap kepada Allah, dan inilah hidup yang tinggi. Sekalipun Neraka itu menakutkan sekali, namun di dalam Qur’an Neraka disebut maulâ (pelindung) bagi orang-orang yang berdosa (57:15), dan di tempat lain disebut umm (ibu) (101:9). Dua sebutan itu mengisyaratkan seterang-terangnya bahwa siksa Neraka itu dimaksud untuk membersihkan manusia dari kotoran yang bertimbun-timbun karena perbuatan manusia sendiri, seperti halnya api membersihkan emas dari kotoran-kotoran. Untuk menunjukkan kebenaran itulah Qur’an menggunakan kata fitnah (makna aslinya menguji emas, atau membakar emas dalam api untuk menghilangkan kotoran), baik dipakai dalam arti penganiayaan terhadap kaum mukmin (2:191; 29:2, 10), maupun dalam arti siksa Neraka bagi orang jahat (37:63), di mana dikatakan bahwa makanan yang diberikan kepada para penghuni Neraka disebut fitnah, karena dua-duanya sama tujuannya, yaitu kaum mukmin dibersihkan dengan penganiayaan, sedang orang-orang jahat dibersihkan dengan api Neraka. Oleh sebab itu, Neraka disebut pelindung bagi orang-orang yang berdosa, karena dengan melalui siksaan, mereka dibuat pantas untuk kemajuan rohani; dan Neraka disebut ibu bagi orang-orang yang berdosa, karena hubungan mereka dengan Neraka itu bagaikan hubungan ibu dengan anaknya, seakan-akan orang dosa itu dibesarkan di pangkuan Neraka. Api adalah sumber siksaan, tetapi api juga yang membersihkan. Pedihnya siksaan di Akhirat itu disebabkan karena tajamnya pengamatan jiwa, akibat terpisahnya jiwa dari badan wadag. Oleh sebab itu kenikmatan dan siksaan di Akhirat adalah sama-sama luar biasanya.

Siksaan Neraka tak kekal

Sesuai dengan sifat Neraka sebagai tempat penyembuhan, orang-orang yang berdosa akhirnya akan dikeluarkan dari Neraka. Memang benar bahwa kata abadan digunakan sampai tiga kali dalam Qur’an Suci untuk menerangkan kekekalan Neraka (4:169: 33:65; 72:23). Tetapi kata abadan itu selain berarti kekal, berarti pula waktu lama. Dalam hal Neraka, arti nomor dualah yang harus dipakai, karena dalam 78:23 perkataan yang digunakan sehubungan dengan itu ialah ahqâb, artinya bertahun-tahun. Selain itu, dengan ditambahkannya kalimat kecuali apa yang Tuhan dikau kehendaki (dalam ayat berikut), terang sekali bahwa siksa Neraka ada batasnya; pengecualian itu menunjukkan seterang-terangnya bahwa para penghuni Neraka akhirnya akan dikeluarkan dari sana. Dua ayat berikut yang membahas hal tersebut:

“Dia berfirman: Neraka adalah tempat tinggal kamu — kamu akan menetap di sana, kecuali apa yang Allah kehendaki; sesungguhnya Tuhan dikau itu Yang Maha-bijaksana, Yang Maha-tahu.” (6:129)

“Adapun orang-orang celaka, mereka akan tinggal di Neraka; di sana mereka akan berkeluh kesah — mereka akan menetap di sana selama langit dan bumi, kecuali apa yang Tuhan dikau kehendaki. Sesungguhnya Tuhan dikau itu Yang mengerjakan apa yang Ia kehendaki.” (11:106-107)

 

Dua ayat di atas menunjukkan seterang-terangnya bahwa Neraka tak kekal. Untuk membuat kesimpulan yang lebih jelas lagi, bandingkanlah ayat yang nomor dua tersebut dengan ayat berikut ini, yang melukiskan tempat tinggal di Surga.

“Adapun orang-orang yang bahagia, mereka akan tinggal di Sorga, mereka akan menetap di sana selama langit dan bumi, kecuali apa yang Tuhan dikau kehendaki; anugerah yang tak ada putus-putusnya.” (11:108).

 

Dua macam pernyataan itu adalah sama; orang yang tinggal di Neraka dan orang yang tinggal di Surga, mereka akan menetap di sana selama langit dan bumi, dengan masing-masing diberi pengecualian yang menerangkan bahwa mereka dapat dikeluarkan dari sana. Akan tetapi kata penutup dua ayat tersebut amatlah berlainan. Dalam hal Surga, pernyataan bahwa para penghuninya dapat dikeluarkan dari sana jika Allah menghendaki, segera disusul dengan pernyataan bahwa Surga itu anugerah yang tak ada putus-putusnya; ini menunjukkan bahwa mereka tak akan dikeluarkan dari Surga. Tetapi dalam hal Neraka, pernyataan bahwa para penghuninya akan dikeluarkan dari sana, dikuatkan dengan pernyataan: “Sesungguhnya Tuhan dikau itu Yang mengerjakan apa yang Ia kehendaki.”

Kesimpulan tersebut dikuatkan oleh sabda Nabi Suci. Salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim mengakhiri keterangannya seperti berikut:

“Lalu Allah berfirman: Para Malaikat, para Nabi, dan kaum mukmin semuanya ganti-berganti memberi syafa’at kepada orang yang berdosa, dan kini tak ada lagi yang dapat memberi syafa’at kepada mereka selain Dhat Yang Maha-pemurah. Maka Ia keluarkan segenggam dari Neraka, dan dikeluarkanlah orang yang tak pernah berbuat kebaikan” (Ms 1:72).

 

Selanjutnya Imam Bukhari meriwayatkan sebuah Hadits yang intinya sebagai berikut:

“Tatkala orang dosa dikeluarkan dari Neraka, mereka akan dilemparkan dalam sungai kehidupan, lalu mereka tumbuh seperti tumbuhnya biji di tepi sungai” (B 2:15);

 

Ini mengisyaratkan bahwa mereka dibuat pantas untuk masuk dalam kehidupan yang tinggi. Kitab Kanzul-‘Ummal meriwayatkan sebuah Hadits seperti berikut:

“Pasti akan datang suatu hari, tatkala Neraka hanya seperti ladang gandum yang mengering, setelah menghijau sebentar” (KU VII, hlm. 245)

“Pasti akan datang suatu hari, tatkala Neraka itu kosong tak ada seorangpun di dalamnya” (idem).

Diriwayatkan bahwa Sayyidina ‘Umar berkata: “Sekalipun penghuni Neraka tak terhitung banyaknya laksana pasir di sahara, namun akan datang suatu hari yang mereka akan dikeluarkan dari sana” (Fathul-Bayân).

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Power by

Download Free AZ | Free Wordpress Themes