Breaking News
Home / Mukaddimah / Mukjizat Al Quran

Mukjizat Al Quran

Kekuatan Rohani yang Paling Besar Di Dunia

Mukjizat Al Quran ialah menyempurnakan umat manusia

Mukjizat Al Quran . Qur’an mengaku sebagai kekuatan rohani yang paling besar yang akhirnya dimaksud untuk menyempurnakan seluruh umat manusia. Siapa saja yang suka membaca ayat pembukaan dan ayat penutup Qur’an Suci pasti akan meyakini hal itu. Ayat pembukaan berbunyi:

“Segala puji kepunyaan Allah, Rabb sekalian alam.” (1:1)

 

Dan ayat penutup berbunyi:

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb sekalian manusia.” (114:1)

 

Itulah tema seluruh Qur’an Suci. Qur’an menyebut dirinya Ar-Rûh (42:52) atau Roh yang memberi hidup manusia, dan Qur’an berkali-kali mengibaratkan dirinya bagaikan air yang memberi hidup kepada bumi yang mati:

“Dan di antara tanda bukti-Nya ialah engkau melihat bumi tak bergerak, tetapi apabila Kami turunkan air di atasnya, ia bergerak dan mengembung. Sesungguhnya yang memberi hidup kepadanya ialah Yang Memberi hidup kepada orang mati.” (41:39)

 

Memberi hidup kepada bumi itulah yang selalu dijadikan tema Qur’an Suci, dan berulangkali Qur’an memberi keyakinan bahwa bumi (rohani) yang mati akan dihidupkan kembali:

“Ketahuilah bahwa Allah menghidupkan bumi setelah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat kepada kamu agar kamu mengerti.” (57:15)

 

Qur’an menyebut dirinya Asy-Syifâ’ atau Obat (10:57) untuk menunjukkan bahwa Qur’an menyembuhkan segala macam penyakit rohani. Qur’an menyebut dirinya Adz-Dzikr atau Sumber kemuliaan bagi manusia (15:9). Qur’an menyebut dirinya An-Nûr atau cahaya (7:157) yang akhirnya akan melenyapkan semua kegelapan dari muka bumi. Qur’an menyebut dirinya Al-Haqq atau Kebenaran (17:81) yang akhirnya akan menguasai jiwa manusia, dan melenyapkan segala kepalsuan. Qur’an menyebut dirinya AlHudâ atau Pimpinan (72:13) yang akhirnya akan memimpin manusia untuk mencapai tujuan hidupnya.

Kekuatan rohani yang akhirnya akan mengalahkan semuanya

Selanjutnya Qur’an mengaku sebagai satu-satunya kekuatan rohani yang akhirnya akan menaklukkan seluruh dunia, dan manusia di seluruh dunia tak dapat membuat kekuatan rohani seperti Qur’an:

“Dan sekiranya Qur’an yang dengan itu gunung dibikin bergerak, atau dengan itu bumi dijelajahi, atau dengan itu orang mati dibuat berbicara — malahan, perintah itu kepunyaan Allah semuanya.” (13:31)

“Sekiranya Qur’an ini Kami turunkan di atas gunung, engkau pasti akan melihat (gunung) itu runtuh berkeping-keping.” (59:21).

 

Semua perlawanan terhadap Qur’an pasti akan disapu bersih:

“Dan biarkanlah Aku dan mereka yang mendustakan kebenaran yang mempunyai kemewahan, dan tangguhkanlah mereka sebentar.” (73:11)

 

Manusia di seluruh dunia tak dapat membuat Kitab seperti Qur’an:

“Jika seandainya manusia dan jin bergabung menjadi satu untuk membuat yang seperti Qur’an, mereka tak dapat membuat yang seperti ini, walaupun sebagian mereka membantu sebagian yang lain.” (17:88)

“Dan apabila kamu ragu-ragu tentang apa yang Kami wahyukan kepada hamba Kami, maka buatlah satu Surat seperti ini dan panggillah penolong kamu selain Allah, jika kamu orang yang tulus.” (2:23)

 

Ayat yang menerangkan bahwa Qur’an akhirnya akan menang di seluruh dunia, diulang sampai tiga kali:

“Dia ialah Yang mengutus Utusan-Nya dengan pimpinan dan agama yang benar agar Dia memenangkan itu di atas sekalian agama.” (61:9; 48:28; 9:33)

Qur’an membuat perubahan yang tak ada taranya

Sebenarnya perubahan yang dibuat oleh Qur’an tak ada taranya dalam sejarah dunia. Tak ada pemimpin lain di dunia yang dalam masa hidupnya, melaksanakan perubahan yang menyeluruh dalam kehidupan bangsa. Qur’an menjumpai Bangsa Arab sebagai penyembah berhala, batu, kayu, tumpukan pasir, namun dalam jangka waktu kurang dari seperempat abad, penyembahan kepada Allah Yang Maha-esa menguasai seluruh jazirah Arab, setelah penyembahan berhala disapu bersih dari ujung ke ujung. Qur’an menyapu bersih segala kepercayaan takhayul, dan menggantinya dengan agama yang paling rasional yang pernah terlintas dalam gambaran dunia. Bangsa Arab yang membanggakan diri karena kebodohannya, berubah menjadi bangsa yang cinta ilmu pengetahuan, seolah-olah mereka disulap dengan tongkat wasiat; di mana terdapat sumber ilmu pengetahuan, mereka minum sepuas-puasnya. Ini adalah akibat langsung dari ajaran Qur’an, yang bukan saja menggerakkan rasio, kelak dan dahulu, melainkan pula menyatakan bahwa dahaga manusia akan ilmu pengetahuan tak dapat dipuaskan; Qur’an mengajarkan Nabi Suci sendiri berdoa sebagai berikut: “Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku” (20:114). Qur’an bukan saja menyapu bersih kejahatan Bangsa Arab yang sudah berurat berakar, dan bukan saja membasmi kemesuman mereka yang tak kenal malu, melainkan pula meniupkan dalam batin mereka hasrat yang menyala-nyala untuk menjalankan perbuatan yang baik dan mulia guna kepentingan sesama manusia. Menanam hidup-hidup anak perempuan, mengawini ibu tiri, dan hubungan bebas antara pria maupun wanita, diganti dengan persamaan derajat bagi keturunan, baik pria maupun wanita, persamaan hak waris bagi ayah dan ibu, putra dan putri, suami dan istri, saudara laki-laki dan perempuan, menanamkan hubungan yang paling suci antara pria dan wanita, dan menempatkan nilai moral yang paling tinggi tentang masalah seks dan kesucian wanita. Minuman keras yang menjadi kegemaran Bangsa Arab sejak zaman dahulu, lenyap begitu rupa hingga piala dan bejana yang biasa digunakan untuk menyimpan dan meminum minuman keras, tak dapat diketemukan lagi; dan yang paling hebat dari semua itu ialah Tanah Arab yang penuh dengan berbagai unsur yang mendatangkan pertempuran yang tak ada henti-hentinya, sehingga hampir seluruh jazirah mengalami kehancuran, sebagaimana dilukiskan oleh Qur’an dengan singkat dan indah: “berada di tepi jurang api” (3:103) — dari Tanah Arab yang penuh dengan unsur perpecahan dan permusuhan itu, ditempa oleh Qur’an menjadi satu bangsa yang hidup dan kuat sehingga sekali mereka maju ke depan, kerajaan yang paling besar di dunia hancur lebur laksana mainan anak-anak, berhadapan dengan kekuatan agama baru. Belum pernah suatu agama menanamkan hidup baru begitu luas kepada pengikutnya — hidup baru yang meliputi segala cabang kegiatan manusia; pembaharuan orang seorang, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara; pembaharuan dalam bidang material, moral, intelektual dan spiritual. Qur’an membangun peradaban manusia dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi, hanya dalam jangka waktu yang relatif pendek, dibandingkan dengan usaha pembangunan berabad-abad lamanya, yang terbukti tak menghasilkan apa-apa. Sifat pembangunan yang tak ada taranya itu, dibuktikan oleh ahli sejarah bukan orang Islam, bahkan kadang-kadang anti Islam. Di bawah ini kami kutipkan beberapa contoh:

“Sejak zaman dahulu, Makkah dan seluruh jazirah Arab, mati rohaninya. Agama Yahudi, Kristen dan ilmu filsafat yang sayup-sayup mempengaruhi jiwa bangsa Arab, di sana sini hanya bagaikan riak pada permukaan danau yang tenang; di bawah itu tetap diam dan tak bergerak. Mereka tetap tenggelam dalam kepercayaan takhayul, kekejaman dan kebejatan moral. Agama mereka adalah penyembahan berhala yang kasar; dan kepercayaan mereka ialah takut terhadap sesuatu yang tak kelihatan …. Tiga belas tahun sebelum Hijrah, Makkah mengalami kematian yang hina. Alangkah besarnya perubahan yang dihasilkan dalam jangka waktu tiga belas tahun …. Telinga orang Madinah telah lama mendengar agama Yahudi; namun mereka barulah bangun dari tidur nyenyak mereka, setelah mendengar suara yang menggetarkan jiwa dari Nabi Bangsa Arab, dan seketika itu mereka meloncat menuju hidup baru dan hidup sungguh-sungguh.” (Muir, Life of Mahomet, bab VII)

“Sukar sekali menemukan bangsa yang berpecah-belah seperti Bangsa Arab, sampai tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Seorang, yang mengaku mendapat pimpinan langsung dari Tuhan, bangkit dan melaksanakan sesuatu yang mustahil — yaitu mempersatukan semua golongan yang saling bertempur.” (The Ins and Outs of Mesopotamia, hlm. 99)

“Namun dapat kami katakan dengan sesungguhnya bahwa tak ada peristiwa sejarah yang dapat membangkitkan khayalan yang hidup atau membuat orang tercengang, selain dari peristiwa yang kami saksikan dalam kehidupan kaum Muslimin pada zaman permulaan; baik yang kami saksikan pada Pemimpin Besarnya atau pun menteri-menterinya, semuanya menggambarkan orang yang paling hebat; demikian pula yang kami saksikan dalam cara mereka menaklukkan berbagai negara; atau yang kami lihat dalam keberanian, keluhuran budi pekerti dan kehalusan budi bahasa, yang serempak mereka miliki, baik jenderalnya maupun prajuritnya.” (The Life of Mahomet, oleh Count of Boulainvillers, terjemahan bahasa Inggris, hlm. 5)

“Bahwa ajaran penulis Arab yang hebat-hebat tak ada yang dapat menulis buku yang bermutu seperti Qur’an, ini tak mengherankan.” (Palmer, Introduction to English Translation of the Qur’an, hlm. IV)

“Menurut pengakuan Muhammad, Qur’an itu mukjizat — dia menyebutnya mukjizat yang abadi — dan ini memang benar-benar mukjizat.” (Bosworth Smith, Life of Muhammad)

“Belum pernah terjadi suatu bangsa yang begitu cepat dipimpin ke arah peradaban, seperti Bangsa Arab melalui Islam.” (New Researches, oleh H. Hirshfeld, hlm. 5)

“Tak ada yang menyamai Qur’an dalam keampuhannya, keindahan bahasanya, dan susunan kata-katanya” (idem, hlm. 8)

“Secara tidak langsung, perkembangan cabang ilmu pengetahuan di dunia Islam yang mengagumkan, adalah berkat jasa Qur’an Suci.” (idem, hlm. 9)

“Oleh karena itu, keunggulan Qur’an sebagai karya kesusasteraan, janganlah diukur patokan subyektif dan aesthetika, melainkan harus diukur dengan keberhasilan Qur’an yang dirasakan oleh para Sahabat Muhammad dan orang awam. Jika firman Qur’an itu begitu ampuh dan meyakinkan para pendengarnya, dan menempa berbagai unsur yang berpecah-belah dan saling bermusuhan menjadi kesatuan yang kompak dan teratur, dihayati dengan ide-ide yang jauh lebih tinggi daripada ide-ide yang hingga kini menguasai jiwa Bangsa Arab, maka sungguh sempurnalah keindahan bahasa Qur’an itu. Ini disebabkan karena Qur’an berhasil menciptakan peradaban dari manusia yang biadab, dan meniupkan udara segar dalam sejarah yang sudah lapuk.” (Dr. Steingass, Hughe’s Dictionary of Islam, artikel ‘Qur’an’)

Dua ciri khas lainnya

Pengaruh ajaran Qur’an yang mengagumkan terhadap jiwa orang yang baru pertama kali berkenalan dengan Qur’an, menyebabkan terjadinya revolusi dunia yang tak ada taranya, dan mengangkat bukan hanya satu, melainkan banyak bangsa di dunia, dari tingkat yang paling rendah ke tingkat peradaban yang paling tinggi, namun ini bukanlah satu-satunya ciri khas yang menonjol. Qur’an mempunyai dua ciri khas lain yang tak ada taranya, yaitu: (1) Qur’an kaya akan ide, dan (2) indah gaya bahasanya; dua ciri khas ini, ditambah dengan pengaruh ajaran Qur’an, merupakan tiga ciri khas yang mengangkat derajat Qur’an ke tingkat keluhuran yang belum pernah dicapai oleh Kitab Suci lain, dan yang membuat Qur’an tak dapat ditiru oleh siapa pun. Sebenarnya, pengaruh ajaran Qur’an bukanlah barang sulapan. Ide-ide besar dan masuk akal yang dibungkus dengan pakaian yang indah itulah yang menarik hati manusia, dan karena sudah berakar dalam batin manusia, ide itu menjadi tenaga penggerak yang menggerakkan manusia untuk mencapai tujuan hidup yang mulia. Segala masalah besar yang hingga kini membingungkan manusia, disoroti seterang-terangnya, dengan demikian, jalan menuju kemajuan dibuka selebar-lebarnya. Oleh sebab itu, Qur’an menyebut dirinya AlBurhân (tanda bukti yang terang), untuk menunjukkan bahwa tanda bukti itu senjata yang paling ampuh untuk menaklukkan hati manusia; oleh karena tanda bukti itu menarik akal pikiran, bukan menarik perasaan, maka kemenangan yang dicapai oleh Qur’an, jauh sekali pengaruhnya dan kekal selama-lamanya. Qur’an juga menyebut dirinya An-Nûr (cahaya), untuk menunjukkan bahwa tujuan Qur’an adalah menyapu bersih segala macam yang samar-samar dan menyingkirkan segala macam keruwetan tentang masalah agama. Qur’an bukan saja mengaku membuat agama menjadi sempurna (5:3), dengan menyatakan bahwa segala kebenaran dalam agama sangat diperlukan untuk meninggikan akhlak dan rohani manusia, melainkan pula membahas segala macam sanggahan terhadap kebenaran. Qur’an berfirman: “Dan tiada mereka menyampaikan pertanyaan kepada engkau, melainkan Kami datangkan kepada engkau kebenaran dan keterangan yang paling baik” (25:33).

Susunan kalimat dan gaya bahasanya

Kami ingin menambahkan sedikit keterangan tentang pakaian luar yang dipakai untuk membungkus ide-ide besar Qur’an yang menghayati manusia; setelah itu, selesailah pembicaraan kami tentang masalah ini. Pada umumnya, orang memuji susunan kalimat dan gaya bahasa Qur’an Suci. Dalam Mukadimah Tafsir Qur’annya, tuan Sale berkata:

“Pada umumnya, orang mengakui bahwa Qur’an itu ditulis dengan bahasa yang paling halus dan paling murni, menurut dialek Quraisy, yaitu bahasa Arab yang terbaik dan termulia, tetapi bercampur pula dengan dialek lain, walaupun tidak seberapa. Qur’an diakui sebagai standar bahasa Arab.”

 

Selanjutnya, ia menulis:

“Pada umumnya, susunan kalimat Qur’an itu indah dan fasih … dan di beberapa tempat dalam Qur’an, teristimewa ayat yang menerangkan sifat dan keagungan Tuhan, tampak agung dan megah.”

 

Akan tetapi, lepas dari ajaran pokok dan pengaruh ajaran itu, apa yang membenarkan pengakuan Qur’an tentang keistimewaannya, sekalipun hanya bentuk luarnya saja, ialah bahwa Qur’an berpegang teguh kepada bahasa Arab begitu rupa, hingga Qur’an menjadi standar bahasa Arab untuk selama-lamanya, yang dalam kesusasteraan Arab dijadikan batu-uji mengenai susunan kalimat dan gaya bahasa. Tiada buku lain di dunia yang dapat dibanggakan, sekalipun hanya dalam prestasi pemeliharaan bahasa selama tiga belas abad; Qur’an telah membuktikan itu semua, yaitu bahwa sudah sekian tahun lamanya, Qur’an tetap memiliki keunggulan sebagai standar keindahan bahasa, dan tetap dapat mempertahankan kedudukan itu, padahal bangsa yang memiliki bahasa itu berasal dari bangsa yang tak ada pikiran sama sekali untuk menjadi pemimpin peradaban dunia, dengan meninggalkan kampung halamannya untuk menetap di negara yang jauh-jauh, yang di sana bahasa Arab menjadi bahasa pengantar, atau setidak-tidaknya menjadi bahasa kesusasteraan mereka. Itulah prestasi Qur’an yang tak ada taranya. Memang benar, bahwa sebelum Qur’an, Bangsa Arab memiliki bahasa kesusasteraan — yakni bahasa puisi (sya’ir), yang sekalipun agak menyimpang dari dialek mereka, namun tetap seirama dengan bahasa standar — tetapi ruang lingkup puisi itu sangat terbatas. Tema puisi yang paling indah jarang sekali diluar kata pujian terhadap minuman keras, wanita, kuda, atau pedang. Jika keadaan bahasa Arab itu seperti sebelum datangnya Islam, pasti akan mengalami nasib yang sama seperti bahasa Semit. Hanya Qur’anlah yang membuat bahasa Arab menjadi bahasa peradaban dunia, mulai dari sungai Oxus*) sampai Lautan Atlantik. Sekalipun bahasa Arab yang diucapkan sehari-hari mengalami perubahan, seperti halnya bahasa lain, tetapi sampai hari ini bahasa Arab yang dipakai dalam kesusasteraan, adalah bahasa Arab Qur’an, dan Qur’an tetap mempunyai kedudukan yang paling tinggi.

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Power by

Download Free AZ | Free Wordpress Themes