Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home / Mukaddimah / Sejarah Al Quran

Sejarah Al Quran

Kemurnian Teks Qur’an Suci

Sejarah Al Quran di antara Kitab Suci di dunia, Qur’an adalah satu-satunya Kitab Suci yang patut mendapat penghargaan dengan kemurnian teksnya. Tiap-tiap perkataan dan huruf Qur’an yang kita punyai sekarang ini, adalah perkataan dan huruf yang dibacakan oleh Nabi Muhammad saw. yang kepadanya Kitab itu diwahyukan, dan itulah sebabnya mengapa selama sekian abad semenjak Kitab itu diturunkan, seluruh umat Islam di Timur dan Barat, sekalipun mereka terpecah menjadi berpuluh-puluh madzhab yang saling berlawanan, mereka hanya mempunyai satu Qur’an saja. Qur’an adalah satu-satunya Kitab Suci yang orang dapat menjangkau sepenuhnya Nur Ilahi yang diwahyukan kepada Rasulullah. Adapun faktor yang membantu terpeliharanya teks Qur’an dengan aman ialah ditulisnya teks itu atas petunjuk Nabi Suci sendiri dan dihafalkannya teks itu oleh sebagian besar Sahabat, pada waktu Qur’an diturunkan.

Tiap-tiap Wahyu Al-Qur’an Ditulis Menurut Bunyi Wahyu yang Diturunkan

Tulis menulis sudah dikenal di Makkah

Hal yang amat penting dalam membantu terpeliharanya teks Qur’an Suci ialah bahwa tiap-tiap ayat ditulis di hadapan Nabi Suci pada waktu beliau masih hidup. Sebelum datangnya agama Islam, tulis-menulis sudah dikenal di Makkah dan Madinah; sekalipun Bangsa Arab pada umumnya membanggakan ingatannya yang luar biasa dalam mengamankan beribu-ribu bait sya’ir dan silsilah yang panjang, namun karangan yang penting-penting tetap mereka tulis dan mereka gantungkan di tempat ramai, agar kawan-kawan mereka dapat melihat dan mengaguminya. Oleh sebab itu tujuh sya’ir mereka yang termasyhur, disebut as-sab’ul-mu’allaqat, artinya syair tujuh yang digantungkan. Mengapa disebut demikian, karena sya’ir itu oleh penulisnya digantungkan di Ka’bah selama musim haji, sebagai sya’ir yang paling indah; dan sya’ir itu tetap dicantelkan di sana sampai beberapa waktu lamanya.

Dan fakta tersebut diakui kebenarannya oleh Sir William Muir, yakni bahwa tulis-menulis sudah dikenal di Makkah, dan bahwa Qur’an itu ditulis:

“Tetapi banyak sekali alasan untuk mempercayai bahwa potongan naskah yang banyak sekali jumlahnya, yang meliputi seluruh atau hampir seluruh Qur’an, ditulis oleh para Sahabat pada waktu Nabi masih hidup. Memang sebelum Muhammad diangkat Nabi, tulis-menulis sudah dikenal di Makkah. Dan di Madinah, banyak Sahabat yang ditugasi oleh Nabi Suci supaya menulis surat atau mengirimkannya … Para tawanan yang miskin ditawan dalam perang Badar dijanjikan pembebasan dengan syarat bahwa mereka harus mengajarkan tulis-menulis lebih dahulu kepada sejumlah penduduk Madinah. Dan sekalipun penduduk Madinah tak begitu terpelajar seperti penduduk Makkah, namun banyak pula yang mengenal tulis-menulis sebelum datangnya Islam.” (Life of Mahomet, Mukadimah, hlm. XVIII)

Bukti intern tentang ditulisnya Qur’an Suci

Apa yang pertama kali menarik perhatian tentang Qur’an Suci ialah bahwa dalam ayat yang diturunkan pertama kali kepada Nabi Suci, mengandung isyarat untuk menggunakan pena. Lima ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Suci berbunyi:

“Bacalah dengan nama Tuhan dikau Yang menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan dikau itu Yang murah hati. Yang mengajar manusia dengan pena. Yang mengajar manusia apa yang ia tak tahu.” (96:1-5)

 

Adalah suatu kenyataan bahwa Nabi Suci tak dapat membaca dan menulis. Sungguh aneh bahwa dalam ayat pertama yang beliau terima dari Atas, beliau bukan saja disuruh membaca, melainkan pula supaya mencari bantuan pena, yaitu satu-satunya alat untuk mengamankan ilmu. Itulah sebabnya mengapa sudah dari permulaan sekali, beliau membuat persiapan untuk menulis setiap ayat yang diturunkan kepada beliau di samping menghafalkan itu, yang beliau lakukan dengan membacakan itu kepada orang-orang di sekeliling beliau. Selain itu, Qur’an sendiri penuh dengan bukti bahwa Qur’an itu berwujud tulisan. Berulang-ulang Qur’an menyebut dirinya Al-Kitâb, artinya buku atau tulisan yang dengan sendirinya sudah lengkap (lihatlah tafsir nomor 13). Qur’an dinamakan pula shuhuf, artinya halaman-halaman yang ditulis. Qur’an berfirman:

“Utusan Allah yang membacakan halaman-halaman suci, yang di dalamnya berisi kitab-kitab yang benar” (98:2).

 

Halaman-halaman suci ialah halaman Qur’an; adapun kitab-kitab yang benar ialah Surat-suratnya; bukan saja seluruh Qur’an disebut Al-Kitâb, melainkan Surat-suratnya pun disebut kitâb. Ayat selanjutnya berbunyi:

“Tidak! Sesungguhnya ini adalah Peringatan. Maka barangsiapa suka, ingatlah akan ini. Dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan, ditinggikan, disucikan, di tangan para penulis yang mulia, yang utama” (80:11-16).

 

Kata shahîfah (jamaknya shuhûf) yang digunakan di sini adalah perkataan yang dipakai untuk menamakan naskah yang dikumpulkan oleh Zaid pada zaman Khalifah Abu Bakar, demikian pula pada Khalifah ‘Utsman. Jadi Qur’an menyebut dirinya Al-Kitab kata-kata yang terang dan jelas, demikian pula shahîfah, yang dalam bahasa Arab digunakan dalam arti buku yang ditulis, yang arti ini dibenarkan oleh semua kamus Arab. Dari akar kata shahaf, digubahlah kata mushaf, suatu nama yang hingga sekarang dipakai untuk menamakan Qur’an, yang artinya kitab atau sejilid buku yang berisi kumpulan shahîfah atau halaman-halaman yang ditulis.

Dalam Qur’an banyak sekali petunjuk yang menunjukkan bahwa sejak dari permulaan, Surat-surat Qur’an berwujud tulisan. Qur’an berfirman:

“Sesungguhnya ini adalah Qur’an yang mulia, di dalam Kitab yang dilindungi: tak seorangpun akan menyentuhnya, kecuali orang yang disucikan” (56:77-79).

 

Surat yang menerangkan ayat itu adalah salah satu Surat permulaan. Di bawah ayat itu, Rodwell memberi keterangan:

“Ayat ini mengisyaratkan bahwa naskah Qur’an, atau setidak-tidaknya, penggalan Qur’an, sudah ada dan sudah lazim digunakan. Ayat ini dibaca oleh saudara perempuan Sayyidina ‘Umar, pada waktu beliau memeluk Islam, pada waktu beliau merebut naskah Surat ke-20 dari saudara perempuan beliau. Khalifah Muhammad Abul Qasim bin ‘Abdillah memerintahkan agar ayat 78 dan 79 direkamkan pada semua naskah Al-Qur’an.”

 

Kenyataan menunjukkan bahwa tiap-tiap bagian Qur’an, dianggap sama mulianya oleh kaum Muslimin, dan tiap-tiap perkataan Qur’an diimankan sebagai Firman Allah. Oleh karena itu, tak masuk akal sekali jika dikira bahwa sebagian Qur’an ditulis, sedang sebagian lagi tak ditulis. Dalam sejarah Islam, tak ada satu kejadianpun yang membenarkan adanya perbedaan antara bagian-bagian Qur’an; demikian pula tak ada yang beranggapan bahwa sebagian Surat harus ditulis, dan sebagian lagi tak layak ditulis; atau bahwa orang mengambil sikap yang tak sama terhadap bagian-bagian Qur’an Suci. Selanjutnya, dalam salah satu Surat yang diturunkan di Makkah, kami jumpai sebuah tantangan kepada kaum kafir:

“Atau, mereka berkata: Ia membuat-buat kebohongan. Katakan: Datangkanlah sepuluh Surat yang dibuat-buat seperti itu, dan panggillah siapa saja yang kamu dapat selain Allah, jika kamu orang tulus” (11:13).

 

Tantangan serupa itu termuat dalam Surat yang diturunkan lebih awal lagi:

“Katakanlah, jika manusia dan jin bergabung menjadi satu untuk membuat yang sama seperti Qur’an ini, mereka tak dapat membuat yang seperti itu, walaupun sebagian mereka membantu sebagian yang lain” (17:88).

 

Dan dalam salah satu Surat yang diturunkan di Madinah, terdapat ayat yang berbunyi:

“Jika kamu ragu-ragu tentang apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah satu Surat seperti itu, dan panggillah para pembantu kamu selain Allah, jika kamu orang yang tulus. Tetapi jika kamu tak dapat melakukan itu — dan kamu tak akan dapat melakukan itu — maka berjaga-jagalah terhadap Api Neraka” (2:23-24).

 

Semua tantangan kepada musuh supaya membuat satu atau sepuluh Surat Qur’an sudah berwujud tulisan, karena jika tidak, tantangan itu tak ada artinya sama sekali.

Bukti sejarah tentang ditulisnya Qur’an Suci

Banyak cerita yang menerangkan bahwa setiap kali Nabi Suci menerima wahyu, seketika itu terus ditulis. Praktek demikian itu diuraikan oleh Sayyidina ‘Utsman, Khalifah ketiga, yang namanya sering dihubungkan dengan pengumpulan Qur’an, dan merupakan salah seorang yang setelah memeluk Islam selalu menyertai Nabi Suci semenjak Bi’tsah:

“Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah saw. apabila penggalan berbagai surat diturunkan kepada beliau, atau apabila suatu ayat diturunkan, beliau memanggil salah seorang yang ditugasi menulis Qur’an, dan beliau berkata kepadanya: Tulislah ayat ini dalam Surat yang ada ayatnya yang berbunyi demikian dan demikian.” (AD 2:123).

 

Hadits itu bukan hanya menerangkan perbuatan Nabi Suci pada waktu-waktu tertentu, melainkan menerangkan pula perbuatan yang selalu beliau kerjakan apabila suatu ayat diturunkan kepada beliau. Jadi, kita mempunyai bukti yang amat kuat, bahwa setiap kali wahyu Qur’an diturunkan, segera ditulis atas perintah dan di hadapan Nabi Suci; di samping itu, beliau menunjuk di mana dan dalam Surat apa ayat itu harus ditulis, manakala ada dua Surat atau lebih yang belum selesai, sehingga para juru tulis tak mencampur-baurkan ayat Surat yang satu dengan ayat Surat yang lain.

Para juru tulis Nabi Suci

Banyak sekali Hadits sahih yang menguatkan kesaksian Sayyidina ‘Utsman. Misalnya Imam Bukhari meriwayatkan sebuah Hadits yang berjudul Juru tulis Nabi Suci sebagai berikut:

“Tatkala diturunkan ayat layastawil-qâ’iduna … (4:95), Rasulullah saw berkata: Panggillah Zaid kemari, dan suruh dia membawa lembaran dan tinta. Lalu beliau berkata kepadanya (Zaid): Tulislah la yastawil-qâ’iduna … (yaitu ayat yang baru diturunkan)” (B 66:4).

 

Hadits lain yang sama judulnya berbunyi:

“Sayyidina Abu Bakar memanggil Zaid dan berkata kepadanya: Engkau ditugaskan menulis wahyu untuk Rasulullah saw.” (B. 65:IX, 20).

 

Zaid adalah Sahabat yang menulis sebagian besar wahyu yang diturunkan kepada Nabi Suci di Madinah. Selain Zaid, banyak pula Sahabat lain yang ditugaskan untuk mengerjakan itu di Makkah, dan pula di Madinah manakala Sahabat Zaid berhalangan. Antara lain disebut-sebut Sayyidina Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Zubair bin ‘Awam, ‘Abdullah bin Sa’id, Khalid dan Aban bin Sa’id, Ubayya bin Ka’ab, Hanzalah bin Rabi’, Mu’aiqab bin Abu Fatimah, ‘Abdullah bin Arqam bin Syurahbil, dan ‘Abdullah bin Rawahah (FB IX, hlm. 19). Sebenarnya ada empat puluh dua Sahabat yang diriwayatkan menjadi juru tulis Nabi Suci. Menulis wahyu yang diturunkan kepada Nabi Suci dianggap begitu penting, hingga pada waktu Nabi Suci hijrah dari Makkah ke Madinah, pena, tinta dan alat tulis, termasuk barang-barang penting dalam perjalanan. Tak sedikit juru tulis yang selain menulis Qur’an, menulis pula hal-hal lain yang penting. Sebagian Sahabat menulis Hadits Nabi, yang biasanya disampaikan dari mulut ke mulut (B. 3:39). Atas perintah Nabi Suci, juru tulis menulis pula surat kepada raja-raja (B. 64:84). Perjanjian perdamaian Hudaibiyah juga ditulis (B. 54:15). Surat-menyurat dengan bangsa Yahudi dilakukan dalam bahasa Ibrani (B. 94:40). Bukan pria saja yang dapat membaca dan menulis, para wanita pun belajar membaca dan menulis. Menurut Hadits yang amat sahih, sekurang-kurangnya Siti ‘Aisyah dan Siti Hafshah, termasuk istri Nabi Suci yang dapat membaca dan menulis. Tetapi jangan dikira bahwa hanya Sahabat itu saja yang dapat menulis, atau yang menyalin naskah Qur’an. Mereka adalah yang diangkat sebagai juru tulis Nabi Suci. Tetapi selain mereka, banyak pula yang menyalin naskah Qur’an untuk keperluan sendiri.

Selain Hadits yang menyatakan dengan tegas bahwa semua ayat ditulis pada waktu diturunkan, banyak pula Hadits yang secara tak langsung menguatkan kesimpulan itu. Misalnya, Hadits yang meriwayatkan sabda Nabi Suci sebagai berikut: “Jangan menulis apa-apa dari saya, selain Qur’an” (FB jilid IX, hlm. 10). Perintah itu dimaksud sebagai tindak pencegahan terhadap bercampur-baurnya Qur’an dengan Hadits; ini membuktikan bahwa Qur’an itu ditulis. Kesimpulan ini dibenarkan oleh keadaan, bahwa jika tak ada kekhawatiran adanya campur-baur antara ayat Qur’an dan Hadits, maka menulis Hadits tak dilarang (B. 3:39).

Hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam, yang meriwayatkan masuk Islamnya Sayyidina ‘Umar, menerangkan bahwa tulisan Qur’an yang sudah lazim dipakai oleh para pemeluk Islam zaman permulaan di Makkah. Pada suatu hari, Sayyidina ‘Umar dengan pedang terhunus, berangkat dari rumah dengan maksud untuk membunuh Nabi Suci. Di tengah jalan, beliau diberitahu bahwa adik perempuan dan ipar beliau secara diam-diam telah memeluk Islam. Maka dari itu beliau langsung menuju ke rumah adik perempuan beliau:

“Pada waktu itu, Khabbab berada dalam rumah itu juga; Khabbab membawa naskah berisi Surat Thâ Hâ (Surat ke-20) untuk diajarkan kepada adik perempuan beliau dan suaminya. Tatkala mereka melihat ‘Umar datang, Khabbab bersembunyi di sudut rumah, dan adik perempuan beliau, Fatimah, menyembunyikan naskah itu. Tetapi Sayyidina ‘Umar sudah begitu dekat dengan rumah, sehingga beliau mendengar suara Khabbab membaca Qur’an. Maka dari itu, pertanyaan pertama yang beliau ucapkan pada waktu masuk ke rumah ialah: “Kalian sedang membaca apa?” Mereka menjawab: “Engkau tak mendengar apa-apa.” Beliau berkata: “Ya, aku mendengar, dan aku diberitahu bahwa kalian telah memeluk agama Muhammad.” Lalu beliau mencekik ipar beliau, Sa’id bin Zaid. Adik perempuan beliau maju ke muka untuk menolong suaminya, dan mendapat cedera dalam perkelahian seru. Lalu adik perempuan beliau dan suaminya berkata terus terang telah memeluk Islam, dan beliau boleh berbuat apa saja sesuka beliau. Tatkala ‘Umar melihat adik perempuan beliau berlumuran darah, beliau menyesali perbuatannya, dan minta agar naskah yang mereka baca diserahkan kepada beliau, sehingga beliau dapat melihat apa yang diajarkan oleh Muhammad kepada mereka. Sayyidina ‘Umar sendiri dapat membaca dan menulis. Mendengar permintaan beliau, adik perempuan beliau khawatir bahwa naskah itu akan dirobek-robek. Sayyidina ‘Umar berjanji dengan sumpah demi berhala, bahwa setelah dibaca, naskah itu akan dikembalikan. Lalu Fatimah berkata, oleh karena beliau itu musyrik, beliau tak suci dan tak boleh menyentuh Qur’an, karena ada ayat yang menerangkan bahwa tak seorangpun boleh menyentuh Qur’an selain orang yang suci. Lalu Sayyidina ‘Umar membersihkan diri, dan setelah selesai, adik perempuan beliau menyerahkan naskah yang di dalamnya berisi Surat Thâ Hâ. Sayyidina ‘Umar membaca sebagian, lalu beliau mengaguminya dan memperlihatkan rasa hormat terhadap naskah itu. Sementara itu Khabbab melihat bahwa beliau mulai condong kepada Islam, lalu beliau dimohon supaya memeluk Islam” (IH).

 

Kutipan yang agak panjang itu, yang hanya sebagian saja dari riwayat masuk Islamnya Sayyidina ‘Umar, membuktikan bahwa pada zaman permulaan, naskah Qur’an lazim digunakan oleh kaum mukmin. Surat Thâ Hâ diturunkan pada zaman Makkah permulaan.

Kadang-kadang orang membantah bahwa cerita semacam itu hanya menunjukkan bahwa sebagian Surat saja yang ditulis, jadi bukan suatu bukti bahwa semua ayat Qur’an ditulis. Tetapi bantahan itu timbul dari jalan pikiran yang salah. Kenyataan bahwa Surat ke-20 sudah berbentuk tulisan pada waktu masuk Islamnya ‘Umar, bukanlah dimaksud untuk memberi keistimewaan pada Surat itu, atau dimaksud untuk menunjukkan bahwa orang menyebut-nyebut Surat itu karena keistimewaannya. Surat itu hanya secara kebetulan dimasukkan dalam cerita yang berlainan sekali tujuannya, dengan demikian, ini hanyalah gambaran belaka tentang apa yang dilakukan oleh Nabi Suci dan kaum Muslimin pada zaman permulaan. Bahkan jika seandainya tak ada bukti lain selain cerita itu, yang membuktikan ditulisnya Qur’an Suci, kami tidaklah salah dalam menarik kesimpulan bahwa ayat-ayat Qur’an yang diturunkan sampai saat itu, sudah berbentuk tulisan, dan itu merupakan kebiasaan untuk menulis Wahyu Qur’an. Adanya Surat 20 dalam bentuk tulisan, dan digunakannya tulisan itu oleh adik perempuan Sayyidina ‘Umar, membuktikan bahwa di kalangan kaum mukmin, penggunaan Surat ini dan Surat itu sudahlah lazim. Demikian pula mereka menyadari bahwa naskah suci tak boleh disentuh oleh tangan yang tak suci.

Kesimpulan tersebut dikuatkan oleh Hadits lain yang berbunyi: “Kami dilarang membawa Qur’an ke daerah musuh” (B 56:129). Hadits itu membuktikan bahwa naskah Qur’an sudah beredar banyak, dan kaum Muslimin dilarang membawa naskah ke daerah musuh, karena takut kalau-kalau naskah itu jatuh di tangan orang yang akan memperlakukan itu dengan tak hormat.

Naskah Qur’an yang dihimpun oleh Sayyidina Abu Bakar adalah yang ditulis atas petunjuk Nabi Suci

Peristiwa yang menyangkut pengumpulan Qur’an pada zaman Khalifah Abu Bakar juga menunjukkan bahwa semua ayat telah ditulis di hadapan Nabi Suci. Demikianlah kami baca dua ayat, yang sekalipun menurut pengetahuan Zaid termasuk bagian Qur’an, namun itu baru dibenarkan setelah naskah tulisan dua ayat tersebut diketemukan di tempat salah seorang Sahabat.

“Maka dari itu saya terus mencari ayat Qur’an itu … sampai saya dapat menemukan bagian terakhir dari Surat Bara’ah yang disimpan oleh salah seorang Sahabat Anshar, Abu Khuzaimah” (B 66:43).

 

Tatkala penulis kitab Fathu-l-Bari menjelaskan Hadits yang sebagian kami kutip di atas (tafsir Hadits Bukhari yang termasyhur), beliau berkata:

“Sayyidina Abu Bakar melarang menulis ayat apa saja yang tidak ditulis pada zaman Nabi Suci, dan itulah sebabnya mengapa Zaid ragu-ragu menulis bagian terakhir Surat Bara’ah, sampai dia menemukan tulisan itu, walaupun bagian terakhir Surat itu sudah dia ketahui dan diketahui pula oleh orang-orang yang menyertai dia.”

 

Selanjutnya:

“Dan seluruh Qur’an sudah ditulis dalam naskah, tetapi naskah itu terpencar-pencar, dan Abu Bakar menghimpun itu dalam satu jilid” (FB IX, hlm. 10).

 

Hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Daud juga meriwayatkan hal itu, yang menyebutkan bahwa

“Sayyidina ‘Umar mengumumkan (pada waktu dikerjakan pengumpulan Qur’an oleh Sayyidina Abu Bakar), bahwa barangsiapa memiliki bagian apa saja dari Qur’an yang langsung dia terima dari Rasulullah saw. hendaklah ia menyerahkan itu; dan mereka menulis ayat di atas kertas, papan dan batang korma yang dipotong-potong menjadi lembaran. Naskah itu baru diterima, setelah disaksikan oleh dua orang saksi”;

 

kemudian ditambahkan keterangan:

“Ini menunjukkan bahwa Zaid tak menganggap cukup bahwa ayat itu telah ditulis, sampai ada orang yang berdiri saksi bahwa ia mendengar langsung dari mulut Nabi Suci, sekalipun Zaid sendiri sudah hafal ayat ini. Dia melakukan itu demi besarnya hati-hati” (FB IX, hlm. 12).

 

Hadits lain yang diriwayatkan oleh Zuhri, berbunyi:

“Tatkala Rasulullah wafat, Al-Qur’an telah ditulis di atas kulit dan batang korma yang dipotong-potong menjadi lembaran” (N di bawah ‘asb).

 

Setelah menyebut beberapa Hadits, Fathul-Bari menambah keterangan:

“Adapun tujuan mereka ialah agar mereka tak menulis naskah selain apa yang ditulis di hadapan Nabi Suci, bukan hanya dari hafalan” (FB IX, hlm. 12).

 

Hadits-hadits itu membuktikan bahwa tiap-tiap Surat dan ayat telah ditulis atas petunjuk Nabi Suci dan di hadapan beliau sendiri.

Semua Wahyu Qur’an Dihafalkan

Hafalan merupakan tempat penyimpanan yang paling aman bagi Bangsa Arab

Tiap-tiap penggalan Qur’an segera dihafalkan setelah diturunkan kepada Nabi Suci. Bagi Bangsa Arab, hafalan merupakan tempat penyimpanan yang paling aman. Sebenarnya, mereka amat mengandalkan ingatan mereka, sampai-sampai mereka merasa bangga disebut orang ummi, artinya orang yang tak dapat membaca dan menulis. Mereka hafal syair dan silsilah yang panjang-panjang. Beberapa Hadits menerangkan bahwa apabila suatu ayat diturunkan, ayat itu segera dibacakan oleh Nabi Suci kepada mereka yang pada saat itu kebetulan hadir, dan banyak Sahabat yang seketika itu hafal, dan Sahabat lain menghafalkan itu dari mereka yang mendengar langsung dari mulut Nabi Suci. Pentingnya Qur’an bagi para Sahabat bukan hanya terletak dalam kenyataan, bahwa Qur’an adalah undang-undang moral dan sosial; bagi mereka tak cukup hanya mengetahui artinya yang bersifat umum. Mereka percaya bahwa setiap huruf dan setiap perkataan keluar dari sumber Ilahi; oleh karena itu, kata-kata Qur’an bagi mereka adalah harta kekayaan samawi yang mereka miliki di bumi; maka dari itu, mereka mengamankan itu di tempat yang paling aman, yakni dalam hati. Demi Qur’an, mereka sanggup menderita segala macam kesukaran dan sanggup berpisah dengan kawan, sanak kerabat, harta kekayaan, dan tempat kediaman mereka. Tiap-tiap ayat baru, meniupkan hidup baru dalam batin mereka. Oleh sebab itu, mereka berusaha sekuat-kuatnya untuk segera berkenalan dengan tiap-tiap ayat yang baru diturunkan. Bagi mereka yang menjalankan perdagangan atau usaha lain, mengambil beberapa hari untuk menyelesaikan perdagangan mereka, dan selebihnya digunakan untuk menyertai Nabi Suci. Bagi orang yang rumahnya jauh dari Masjid, bergiliran mendatangi Nabi Suci. Sayyidina ‘Umar berkata: “Jika aku pergi ke tempat Nabi Suci, aku pulang untuk menyampaikan kepadanya (tetangga beliau) berita pada hari itu, tentang turunnya wahyu dan hal-hal lain, dan jika dia yang pergi, dialah yang menyampaikan berita semacam itu kepadaku” (B 3:27). Selain itu ada pula yang disebut Ash-hâbus-Suffah yang selamanya bertinggal di Masjid, dan selalu siap untuk menghafalkan ayat baru yang disampaikan oleh Nabi Suci.

Nabi Suci sangat menekankan belajar dan mengajar Qur’an

Nabi Suci sendiri sangat menekankan belajar, membaca, dan mengajarkan Qur’an. Dalam suatu Hadits diuraikan:

“Nabi Suci keluar dan kami sedang berada di Suffah (serambi Masjid), lalu beliau bertanya: Siapakah di antara kamu yang suka pergi tiap-tiap hari ke Bath-hâ’ atau ‘Aqiq dan membawa unta betina yang besar punuknya, tanpa merugikan sanak kerabat atau orang lain? Kami menjawab: Wahai Rasulullah, kami semua suka. Beliau bersabda: Bukankah salah seorang di antara kita pergi ke Masjid tiap-tiap pagi, dan mengajar atau menghafal dua ayat dari Kitab Suci Allah, yang ini lebih baik daripada dua ekor unta? Dan tiga ayat lebih baik daripada tiga ekor unta, dan empat ayat lebih baik daripada empat ekor unta; agaknya yang dimaksud ialah bahwa sejumlah ayat adalah lebih baik daripada sejumlah yang sama dari unta” (Ms 6, Fadlâilil-Qur’ân, 7).

 

Sayyidina ‘Utsman meriwayatkan:

“Nabi Suci bersabda: Yang paling baik di antara kamu ialah orang yang belajar dan mengajarkan Qur’an.”

 

Hadits lain berbunyi:

“Siti ‘Aisyah meriwayatkan bahwa Nabi Suci bersabda: Orang yang pandai membaca Qur’an adalah sederajat dengan juru tulis (Qur’an), yang terhormat dan tulus; adapun yang menghafalkan Qur’an karena ia tak dapat membaca, ia mendapat ganjaran lipat dua” (Ms 6, Fadlailil-Qur’an, 4).

 

Ibnu ‘Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Tak ada orang yang patut diiri selain dua orang: pertama, orang yang Allah berikan Qur’an kepadanya, lalu ia membacanya siang dan malam, dan berbuat menurut itu; dan kedua, orang yang Allah berikan harta kepadanya, lalu ia membelanjakannya di jalan Allah, siang dan malam” (B. 95:5).

 

Oleh sebab itu, para Sahabat bukan saja berbuat menurut Qur’an Suci, melainkan pula membacanya dengan suara keras. Kejadian itu khusus disebut-sebut sehubungan dengan Sayyidina Abu Bakar, yang diriwayatkan membaca Al-Qur’an dengan suara keras di halaman rumahnya, yang letaknya di pinggir jalan besar, dan kaum kafir menentang hal itu, karena dapat mempengaruhi orang lain dan menggiurkan hati mereka memihak kepada Qur’an Suci” (B. 39:4).

Hadits lain lagi menerangkan, bahwa membaca Al-Qur’an adalah kewajiban yang amat penting bagi setiap orang Islam. Dalam Kitab Bukhari ada bab yang berjudul Istidzkâr dan ta’âhud Al-Qur’ân (B 66:23), artinya “membaca Al-Qur’an berkali-kali dan mengulanginya berkali-kali.” Dalam bab itu, banyak diriwayatkan Hadits yang memerintahkan supaya membaca Qur’an berkali-kali. Dalam Bukhari ada bab lain yang berjudul: “Mengajar Qur’an kepada anak-anak” (B 66:25), lalu ada Bab ketiga yang berjudul: “Orang yang paling mulia ialah orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an” (B 66:21). Untuk singkatnya, kami hanya menerangkan judulnya saja. Judul-judul itu cukup membuktikan bahwa menghafalkan Qur’an adalah perintah Nabi Suci kepada sekalian pengikut beliau, dan anjuran itu dianggap oleh para Sahabat sebagai kewajiban yang besar pahalanya. Oleh sebab itu, tiap-tiap Sahabat merasa wajib untuk menghafalkan sedikitnya sekian juz dari Kitab Suci. Bahkan sekarang pun beribu-ribu kaum Muslimin di dunia, hafal seluruh Qur’an Suci, lebih-lebih di Tanah Arab sendiri. Bahkan pihak musuh pun mengakui kebenaran itu:

“Karena cintanya kepada syair, tetapi tak mempunyai sarana untuk menulis itu, Bangsa Arab sejak zaman dahulu mencetak syair itu, demikian pula mencetak peristiwa asal-usul kabilah mereka di atas lembaran yang hidup, yaitu hati. Dengan demikian, ingatan mereka berkembang pada zaman sekarang, adalah ayat terakhir Surat Al-Baqarah pada zaman Nabi Suci; oleh karena itu, susunan Qur’an yang kita punyai sekarang ini adalah susunan Qur’an yang dipakai semakin tinggi; dan dengan semangat yang menyala-nyala, ingatan itu diterapkan untuk menghafalkan Qur’an” (Muir).

Orang yang menjadi Imam ialah yang paling pandai tentang Al-Qur’an

Ada alasan lagi yang membuat para Sahabat berlomba-lomba menghafalkan Qur’an. Jabatan Imam dalam shalat jama’ah itu menurut aturan, diberikan kepada orang yang paling pandai tentang Al-Qur’an (Tr 2:61). Semua Hadits sahih membenarkan hal itu. Salah satu Hadits menerangkan bahwa dalam suatu kabilah, anak yang baru berumur delapan tahun disuruh mengimami shalat jama’ah, karena dia lebih tahu tentang Qur’an daripada orang lain dalam kabilah itu. Anak itu, ‘Amr bin Salamah, menceritakan sendiri:

“Kabilah kami mendiami sebuah tempat yang berdekatan dengan air, dan orang-orang yang pergi ke tempat Nabi Suci pasti melalui tempat kami. Jika mereka pulang, mereka membacakan kepada kami ayat-ayat yang mereka dengar dari Nabi Suci. Aku mempunyai ingatan yang tajam, maka dari itu, aku hafal sebagian besar Qur’an Suci yang aku dapat dari mereka. Tak lama kemudian, ayahku juga pergi ke tempat Nabi Suci beserta beberapa orang dari kabilah kami untuk menyatakan diri memeluk Islam. Nabi Suci mengajarkan shalat, dan memberitahukan agar shalat jama’ah dipimpin oleh Imam yang lebih tahu tentang Qur’an, daripada lain-lainnya. Oleh karena aku banyak hafal Al-Qur’an, maka akulah yang memenuhi syarat sebagai Imam. Maka dari itu, mereka mengangkat aku sebagai Imam” (Msy 4:26).

 

Oleh karena jabatan imam merupakan jabatan istimewa, maka ini mendorong orang untuk memperbanyak pengetahuannya tentang Al-Qur’an. Demikian pula ada kabilah baru memeluk Islam, maka orang yang dipilih supaya mengajar Rukun Islam dan Rukun Iman kepada mereka ialah orang yang paling tahu tentang Al-Qur’an. Banyak Hadits yang menerangkan bahwa orang-orang yang pandai membaca Qur’an (qurrâ’), sangat dihormati di kalangan para sahabat.

Nabi Suci sendiri gemar membaca Qur’an

Inilah sebabnya mengapa sebagian besar Sahabat menyimpan Qur’an Suci dalam hati. Nabi Suci sendiri memberi teladan gemar membaca Qur’an, baik di muka umum maupun sendirian. Beliau membaca Surat yang panjang-panjang bukan hanya pada waktu shalat. Banyak Hadits yang menerangkan bahwa Nabi Suci membaca Qur’an sambil naik unta dalam perjalanan (B 66:24). Beliau juga gemar mendengarkan bacaan Qur’an orang lain. Hadits lain lagi meriwayatkan seorang Sahabat berkata:

“Rasulullah berkata kepadaku: Bacalah Qur’an untukku. Aku menjawab: Apakah kubacakan Qur’an untuk engkau padahal Qur’an itu diturunkan kepada engkau? Beliau berkata: Aku suka mendengar orang lain membaca Qur’an. Lalu aku mulai membaca Surat An-Nisâ’ (B. 66:33).

 

Cerita itu menunjukkan bahwa Nabi Suci menganjurkan dan memberi teladan kepada para pengikut beliau supaya gemar membaca Qur’an. Anjuran itu bukanlah tanpa hasil. Kaum Muslimin gemar sekali menimbun Firman Allah dalam hati, dan gemar pula membaca dan mengajar Qur’an.

Kebiasaan membaca Qur’an menjadi begitu umum, hingga pada waktu Nabi Suci berkata bahwa zaman akhir, pengetahuan tentang Qur’an akan lenyap, Ziyad bin Labid, salah seorang Sahabat, seketika itu bertanya: “

Bagaimana mungkin ilmu Qur’an akan lenyap Rasulullah, sedang kami selalu membaca dan mengajarkan Qur’an kepada istri dan anak-anak kami?” (Tr 39:5).

 

Pertanyaan itu timbul karena salah paham akan kata-kata Nabi Suci, yang maksudnya, bukan firman Qur’an yang akan lenyap, melainkan orang-orang zaman akhir tak berbuat menurut jiwa firman itu.

Membaca Al-Qur’an dibatasi waktunya

Kegemaran menghafal dan membaca Qur’an adalah begitu besar hingga Nabi Suci terpaksa menentukan batas waktu sampai berapa hari seluruh Qur’an harus selesai dibaca. Menurut salah satu Hadits, tatkala Nabi Suci ditanya berapa hari orang harus menyelesaikan bacaan Al-Qur’an, beliau menetapkan batas waktu tiga puluh hari (B. 66:34). Agaknya pembagian Qur’an menjadi tiga puluh juz itu didasarkan atas petunjuk ini. Lebih lanjut Hadits itu menerangkan bahwa batas waktu minimum ialah tujuh hari. Diriwayatkan bahwa salah seorang Sahabat yang tiap-tiap malam menyelesaikan bacaan seluruh Qur’an, dengan tegas disuruh oleh Nabi agar ia jangan menyelesaikan bacaan itu kurang dari tujuh hari, dan ia dilarang menyelesaikan bacaan seluruh Qur’an pada tiap-tiap malam (B 66:34). Sebenarnya, Nabi Suci menetapkan pembagian Qur’an dalam tujuh manzil (FB jilid IX, hlm. 39), dengan demikian, Nabi Suci menggariskan pembatasan waktu yang praktis agar pembacaan seluruh Qur’an jangan diselesaikan kurang dari tujuh hari. Ibnu Mas’ud meriwayatkan satu Hadits:

“Nabi Suci berkata: Bacalah Qur’an dalam tujuh hari, dan jangan membaca itu kurang dari tiga hari” (FB IX, hlm. 83).

 

Menurut Hadits lain, Siti ‘Aisyah berkata bahwa

“kebiasaan Nabi Suci tak menyelesaikan bacaan Al-Qur’an, kurang dari tiga hari” (FB IX, hlm. 83).

 

Hadits itu menunjukkan seterang-terangnya bahwa para Sahabat berlomba-lomba dalam memperbanyak bacaan Al-Qur’an. Sebenarnya, para sahabat membaca Qur’an begitu kerap, hingga dipandang perlu untuk melarang mereka melakukan bacaan yang cepat. Dari Hadits itu terang pula bahwa banyak Sahabat yang hafal seluruh isi Qur’an; jika tidak, pasti tak akan dibahas penyelesaian bacaan dalam waktu singkat. Bahwa Qur’an dibaca dalam hafalan, ini jelas dari kenyataan bahwa Qur’an dibaca pada malam hari.

Orang-orang yang hafal seluruh Qur’an

Kesimpulan itu dikuatkan oleh beberapa Hadits sahih yang menerangkan bahwa banyak Sahabat yang hafal Qur’an. Mereka disebut qurrâ’, jamaknya qâri’ artinya orang yang membaca, dan mereka terkenal sebagai orang yang hafal seluruh Al-Qur’an. FB menjelaskan kata qurrâ’ dalam arti “orang-orang yang kesohor karena hafal Qur’an dan mengajarkan itu kepada orang lain”. Memang, kata qurrâ’ berarti pula orang yang mempunyai pengetahuan yang dalam tentang Qur’an. Tujuh puluh qurrâ’ dibunuh pada zaman Nabi Suci, membuktikan bahwa di kalangan para Sahabat terdapat beratus-ratus qurrâ’. Imam Bukhari meriwayatkan Hadits tentang qurra dalam bab yang berjudul “Qurra di kalangan para Sahabat”. Hadits pertama berbunyi:

“Diriwayatkan bahwa ‘Abdullah bin ‘Amr (yang terkenal sebagai orang yang hafal seluruh Qur’an), tatkala berbicara tentang ‘Abdullah bin Mas’ud, beliau berkata: Aku selalu mencintai dia, karena aku mendengar Nabi Suci berkata: Belajarlah Qur’an dari empat orang, yakni ‘Abdullah bin Mas’ud, Salim, Mu’adh, dan Ubayya bin Ka’ab. Sudah tentu ini bukan berarti para Sahabat lain tak dapat mengajar Qur’an, dan bukan pula berarti selain empat Sahabat tersebut, tak ada Sahabat lain yang hafal seluruh Qur’an. Memang, sebenarnya, untuk menjadi guru Qur’an yang baik, tidaklah cukup orang hanya hafal seluruh Qur’an. Mungkin disebutnya Sahabat empat itu karena mereka selalu berusaha untuk belajar Qur’an langsung dari Nabi Suci. Diriwayatkan bahwa ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, bahwa dia menerima langsung tujuh puluh Surat dari mulut Nabi Suci (B. 44:8).

 

Hadits lain lagi menerangkan bahwa banyak Sahabat yang hafal seluruh Qur’an.

Sebagai contoh, Sayyidina Abu Bakar tidak disebut-sebut dalam Hadits, tetapi beliau sebenarnya hafal seluruh Qur’an. Pada waktu Nabi Suci terbaring sakit, beliau menunjuk Sayyidina Abu Bakar untuk mengimami shalat jama’ah. Sebagaimana diterangkan di atas, banyak Hadits sahih yang menerangkan, bahwa orang yang ditunjuk sebagai imam, adalah orang-orang yang paling pandai tentang Al-Qur’an. Jika mereka sama pengetahuannya tentang Al-Qur’an, misalnya mereka sama-sama hafal Qur’an, maka dalam hal ini, perlu diterapkan syarat lain. Sudah dapat dipastikan bahwa di kalangan para Sahabat, banyak yang hafal Qur’an. Maka dari itu, Sayyidina Abu Bakar tak mungkin ditunjuk sebagai imam, jika beliau tak hafal Al-Qur’an. Oleh karena itu dapat dipastikan bahwa Sayyidina Abu Bakar hafal Al-Qur’an. Demikian pula ‘Abdullah bin ‘Umar juga hafal Al-Qur’an, bahkan menyelesaikan bacaan seluruh Qur’an pada tiap-tiap malam, sehingga Nabi Suci memberi perintah supaya menyelesaikan bacaannya dalam satu bulan (B. 30:38). Sebenarnya pada zaman Nabi Suci banyak Sahabat yang hafal Al-Qur’an, di antara mereka ialah Khalifah empat: Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali; demikian pula Sahabat yang terkenal seperti: Talhah, Sa’ad, Ibnu Mas’ud, Salim, Abu Hurairah dan banyak lagi, sedangkan Siti ‘Aisyah, Siti Hafshah dan Ummi Salamah disebut-sebut sebagai wanita yang hafal Al-Qur’an. Selain itu, banyak pula Sahabat Anshar yang disebut-sebut sebagai Sahabat yang hafal Qur’an. Tetapi jangan dikira bahwa hanya orang-orang ini saja yang hafal, yang nama mereka diabadikan dalam Hadits. Tujuh puluh qurrâ’ telah dibunuh secara khianat pada zaman Nabi Suci, dan sejumlah itu pula telah gugur dalam pertempuran Yamamah, yang terjadi beberapa bulan setelah wafatnya Nabi Suci.

Qur’an wajib dibaca, baik dalam shalat jama’ah maupun sendirian

Membaca dan menghafal Qur’an bukanlah perbuatan manasuka, karena membaca Qur’an merupakan bagian dari shalat, baik shalat berjama’ah maupun sendirian. Lima kali sehari, kaum Muslimin diwajibkan mengerjakan shalat, tetapi pada tiap-tiap shalat fardlu, ditambahkan shalat sunat yang dijalankan sendiri-sendiri, sedangkan shalat tahajjud benar-benar bersifat sendirian. Dalam semua shalat, orang wajib membaca bagian dari Qur’an, dengan demikian, semua orang Islam wajib mengulang bagian itu tiap-tiap hari. Kenyataan membuktikan bahwa Surat yang panjang-panjang dibaca pada waktu shalat, teristimewa pada waktu shalat tahajjud. Diriwayatkan bahwa Nabi Suci sendiri sering membaca Surat yang panjang-panjang pada waktu shalat tahajjud. Para sahabat juga mengikuti jejak beliau. Diriwayatkan bahwa salah seorang Sahabat pada waktu shalat tahajjud membaca Surat Al-Baqarah yang meliputi seperdua belas Qur’an Suci. Bahkan dalam shalat jama’ah pun dibaca Surat yang panjang-panjang. Membaca Surat yang panjang pada waktu shalat Maghrib tidak tepat, namun Nabi Suci membaca Surat seperti Surat Ath-Thûr, Surat ke-52 (B. 10:99). Salah seorang Sahabat membaca Surat Al-Baqarah pada waktu shalat ‘Isya, dan seorang Sahabat yang lelah karena bekerja sehari penuh, mengajukan keberatan kepadanya (B. 10:60). Pada waktu shalat sendiri, para Sahabat membaca Surat yang panjang-panjang. Jadi, menghafal sebagian atau seluruh Qur’an bukanlah pada waktu shalat. Diriwayatkan dalam Hadits bahwa seorang Sahabat hafal Surat Qaf, karena Surat itu selalu dibaca pada waktu shalat Jum’at (Ms 7:13). Sebenarnya jika seandainya tak ada cara lain untuk menyiarkan Qur’an, maka bacaan Qur’an pada waktu shalat sudah cukup sebagai penyiaran Qur’an, dan sebagai penjagaan keamanan terhadap kemungkinan adanya perubahan dan hilangnya ayat-ayat Qur’an.

Hanya satu Hadits saja yang dianggap bertentangan dengan keterangan yang termuat dalam Hadits tersebut di atas. Hadits itu berbunyi:

“Anas meriwayatkan bahwa Nabi Suci meninggal, sedangkan tak seorang pun menghimpun Qur’an selain empat: Abu Darda, Mu’adh bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Sa’id” (B. 66:8).

 

Hadits serupa itu yang diriwayatkan pula oleh Anas, disebut-sebut nama Ubayya bin Ka’ab, bukan Abu Darda’. Memang benar bahwa kata jama’a (menghimpun) yang dipakai dalam dua Hadits tersebut mempunyai dua makna: menghimpun naskah dan menghafal Qur’an. Tetapi makna tersebut belakangan tak kami bicarakan lagi, karena kenyataan membuktikan bahwa sejumlah besar Sahabat, hafal Al-Qur’an. Demikian pula tak mungkin timbul keberatan akan makna pertama, karena jika naskah Qur’an telah dihimpun oleh empat orang tersebut, mengapa Sayyidina Abu Bakar dan ‘Umar merasa cemas tatkala banyak qurra gugur dalam perang Yamamah, dan mengapa tatkala Zaid ditugaskan supaya menghimpun naskah Qur’an yang terpencar-pencar menjadi satu jilid, menganggap tugas itu sebagai tugas yang amat berat. Kenyataan membuktikan bahwa Zaid mencari-cari naskah yang ditulis di hadapan dan atas petunjuk Nabi Suci.

Walaupun kami akui adanya pertentangan antara Hadits-Hadits tersebut, namun dapat dipastikan bahwa Hadits-Hadits itu mempunyai satu kesimpulan yang sama, yakni di kalangan para Sahabat, banyak yang hafal seluruh Qur’an seperti yang diajarkan oleh Nabi Suci, dan pada waktu beliau wafat telah menulis seluruh Qur’an dalam hati. Semua itu dilakukan karena mentaati perintah Nabi Suci yang amat menekankan supaya banyak membaca dan menghafal Qur’an. Dan tindakan itu merupakan tambahan atas tindakan pengamanan teks Qur’an dengan tulisan. Hendaklah diingat bahwa wahyu Qur’an yang diturunkan sedikit demi sedikit, memberi kesempatan kepada para Sahabat untuk menghafalkannya. Waktu luang di antara turunnya dua ayat atau satu Surat, memberi kesempatan kepada para Sahabat untuk menghafal itu berulang-ulang. Seluruh Qur’an diturunkan dalam jangka waktu dua puluh tiga tahun, dan jika sekarang anak-anak kaum Muslimin yang berumur sepuluh atau dua belas tahun dapat menghafal seluruh Qur’an dalam jangka waktu satu atau dua tahun, kiranya tak sukar bagi Bangsa Arab untuk menghafal itu dalam jangka waktu dua puluh tiga tahun, karena mereka mempunyai ingatan yang amat mengagumkan, lebih-lebih Qur’an itu bagi mereka jauh lebih penting daripada anggapan orang Islam akhir zaman; apalagi Qur’an itu diturunkan sedikit demi sedikit.

Susunan Ayat dan Surat Dilakukan oleh Nabi Suci Sendiri

Qur’an Suci diturunkan sepotong-potong dalam jangka waktu dua puluh tiga tahun; sebagian Surat diturunkan lengkap sekaligus, tetapi sebagian besar diturunkan sepotong-sepotong dan selesai dalam jangka waktu yang lama. Adapun susunan Surat dan ayat yang kita punyai sekarang ini, tak mengikuti urutan turunnya wahyu. Oleh karena itu timbul pertanyaan, apakah susunan Surat dan ayat yang berlainan dengan urutan turunnya wahyu itu disusun oleh Nabi Suci sendiri dan apakah demikian, urutan Qur’an sekarang ini susunan Nabi Suci? Dengan perkataan lain, apakah susunan Surat dan ayat yang diwariskan oleh Nabi Suci itu sama keadaannya dengan yang kita punyai sekarang ini, ataukah Qur’an yang kita punyai sekarang ini berlainan dengan Qur’an yang diwariskan oleh Nabi Suci?

Bukti intern tentang susunan Qur’an

Bahwa susunan Surat dan ayat dikerjakan sendiri oleh Nabi Suci di bawah pimpinan Ilahi, ini diterangkan oleh Qur’an sendiri:

“Sesungguhnya menjadi tanggungan Kami pengumpulan dan pembacaan (Qur’an) itu. Maka dari itu, jika Kami membacakan itu, ikutilah bacaan itu” (75:17-18).

 

Ini adalah salah satu wahyu permulaan yang menerangkan bahwa pengumpulan Qur’an menjadi satu jilid yang disusun dari bermacam-macam ayat selaras dengan rencana Ilahi yang dilaksanakan dengan pimpinan Ilahi. Jadi, bukan hanya bacaan Qur’an saja yang didasarkan atas petunjuk Ilahi, melainkan pula penyusunan dan pengumpulannya pun didasarkan atas petunjuk Ilahi kepada Nabi Suci. Dalam Surat lain yang diturunkan agak belakangan, terdapat ayat yang berbunyi:

“Dan orang-orang kafir berkata, mengapa tak diturunkan Qur’an sekaligus saja? Demikianlah, agar Kami kuatkan hati engkau dengan ini, agar Kami menyusun ini dengan susunan yang baik” (25:32).

 

Jadi, Qur’an sendiri menjelaskan bahwa pengumpulan dan penyusunan itu dilaksanakan dengan petunjuk Ilahi. Hendaklah diingat bahwa kata jam’ dalam ayat tersebut, berarti pengumpulan dan penyusunan, karena pengumpulan tak mungkin dilaksanakan tanpa disertai dengan penyusunan. Ayat itu menggambarkan penyusunan dan pengumpulan Surat dan ayat, sebagai proses yang berlainan dengan ayat yang diturunkan kepada Nabi Suci; dengan demikian menunjukkan bahwa sejak dari permulaan dikandung maksud untuk menyusun Surat dan ayat dalam susunan yang berlainan dengan urutan turunnya wahyu. Jika urutan pengumpulan Surat dan ayat itu sama seperti urutan bacaan yang diturunkan kepada Nabi Suci, yakni menurut urutan turunnya wahyu, niscaya pengumpulan dan pembacaan tak digambarkan sebagai dua hal yang berlainan.

Bukti sejarah tentang susunan Qur’an

Sejarah membuktikan benarnya uraian Qur’an tersebut, dan Hadits yang amat sahih pun membuktikan seterang-terangnya bahwa pada waktu Nabi Suci wafat, beliau mewariskan Qur’an yang sudah lengkap, yang susunannya sama seperti susunan Surat dan ayat yang kita punyai sekarang ini. Kami akan membicarakan susunan Surat dan susunan ayat sendiri-sendiri, dan masing-masing akan kami bahas pertanyaan berikut ini:

Apakah pada zaman Nabi Suci, sudah ada susunan yang dipakai oleh beliau sendiri dan para Sahabat?

Apakah susunan itu berlainan dengan urutan turunnya ayat dan Surat?

Apakah susunan Qur’an sekarang ini berlainan dengan susunan Qur’an yang beredar pada zaman Nabi Suci yang dipakai oleh beliau dan para Sahabat?

Qur’an yang demikian tebalnya, yang membahas berbagai macam persoalan, dan yang dihafalkan serta dibaca terus-menerus, baik pada waktu shalat maupun di luar shalat, dan diajarkan oleh seseorang kepada orang lain, mustahil sekali jika bagian-bagiannya tak disusun dengan lengkap. Namun tak ada penulis Nasrani yang tak mengemukakan tuduhan demikian. Dalam segala hal, alasan yang mereka kemukakan sama. Mereka tak mengindahkan sama sekali bukti sejarah; yang mereka jadikan dasar hanyalah satu dalil bahwa Surat dan ayat, tak nampak adanya susunan yang teratur. Uraian berikut ini yang diambil dari Mukadimah buku “Life of Mahomet” karangan Sir William Muir, bukan saja melukiskan tuduhan para penulis Nasrani pada umumnya, melainkan pula menunjukkan betapa penulis buku itu mengabaikan bukti sejarah:

“Akan tetapi janganlah kita beranggapan bahwa pada waktu itu seluruh Qur’an dihafalkan dengan urutan yang sudah tetap. Memang benar, bahwa susunan Qur’an yang sekarang ini dianggap oleh kaum Muslimin mengikuti susunan yang ditetapkan oleh Muhammad; dan mungkin pula bahwa Hadits-Hadits pun mengisyaratkan adanya susunan yang tetap. Akan tetapi hal itu tak dapat dibenarkan; karena andaikata ada susunan yang tetap yang dilakukan dan dibenarkan oleh Nabi sendiri, niscaya ini akan dipakai dalam pengumpulan Qur’an di kemudian hari. Kini Qur’an yang disampaikan kepada kita, dalam menempatkan bagian-bagiannya, tak mengikuti susunan yang dapat dipahami, baik tentang bab-babnya maupun tentang waktunya; dan tak masuk akal sekali jika Muhammad memerintahkan supaya selalu membaca Qur’an dalam susunan ini. Bahkan kita harus ragu-ragu apakah jumlah Surat yang kita punyai sekarang ini ditentukan oleh Muhammad. Bagaimanapun juga, urutan isi berbagai Surat, ini dalam banyak hal, tak mungkin bahwa inilah yang dimaksud oleh Muhammad.”

 

Tambahan keterangan yang diberikan pada uraian tersebut menunjukkan adanya pertentangan dalam pikiran penulis sendiri, yakni pertentangan antara kenyataan sejarah dengan sikap sempit dada karena perbedaan agama. Misalnya, di samping mendustakan adanya susunan yang tetap dalam Qur’an pada zaman Nabi Suci, Sir William Muir mengakui demikian:

“Kami membaca Hadits tentang para Sahabat yang dapat menghafal seluruh Qur’an dalam waktu tertentu, yang ini dapat dijadikan pegangan adanya hubungan yang lazim di antara bagian-bagian Qur’an.”

 

Di tempat lain, diakui bahwa empat atau lima Sahabat, hafal seluruh Al-Qur’an “dengan sangat cermat” dan “banyak pula Sahabat yang hafal hampir seluruh Qur’an, sebelum wafatnya Muhammad”. Selanjutnya, di samping mendustakan apakah jumlah Surat itu ditetapkan oleh Nabi Suci, Muir menambahkan keterangan sebagai berikut:

“Memang ada alasan untuk mempercayai bahwa Surat penting-penting, termasuk pula ayat yang lazim dipakai, ini sudah tetap (fix), dan sudah dikenal namanya dan dikenal ciri-cirinya. Menurut Hadits yang amat sahih, sebagian Surat memang disebut demikian oleh Muhammad sendiri. Misalnya, para Sahabat yang berlarian pada peristiwa Hunain, beliau memanggil-manggil dengan menyebut sebagai “orang-orang Surat Baqarah” (Surat ke-2). Diterangkan dalam Hadits bahwa pada zaman Nabi Suci banyak Sahabat yang hafal sejumlah Surat. Misalnya, ‘Abdullah bin Mas’ud menghafal tujuh puluh Surat dari mulut Nabi Suci, dan di antaranya terdapat tujuh Surat yang panjang-panjang.” Hadits ini membuktikan bahwa sedikitnya ada bagian Qur’an yang sudah dibagi menjadi Surat-surat, bahkan mungkin berarti pula urutan Surat-surat yang lazim dihafal. Penggunaan Surat-surat oleh Muhammad pada waktu shalat membuktikan seterang-terangnya bahwa Surat-surat itu sekurang-kurangnya sudah mempunyai bentuk tetap, bahkan mungkin sudah tersusun.”

 

Sehubungan dengan itu, di tempat lain diterangkan bahwa

“Hadits-hadits tersebut yang menerangkan jumlah Surat yang dihafal oleh para Sahabat, dan yang dibaca dengan hafalan oleh Muhammad menjelang wafat beliau, mengisyaratkan adanya Surat-surat yang sudah lengkap dan sempurna.”

 

Jadi hampir setiap pernyataan yang diuraikan dalam Mukadimah tersebut, dibantah sendiri oleh Muir dalam keterangan-keterangan tambahan (footnote) berdasarkan fakta sejarah yang terdapat dalam Hadits sahih. Walaupun keterangan tambahan itu diuraikan sepenuhnya, namun bantahan itu terlalu terang bagi pembaca yang teliti; dan adanya pertentangan dalam pikiran penulis buku itu dapat diketahui dengan mudah. Dalam buku itu dikatakan bahwa tak ada urutan atau susunan ayat dan Surat yang tetap, tetapi dalam keterangan tambahan diterangkan bukti sejarah tentang adanya urutan atau susunan ayat dan Surat yang tetap. Dalam buku itu diterangkan bahwa Surat-surat tak diberi tanda tertentu oleh Nabi Suci, dan jumlahnya pun tak ditentukan oleh beliau sendiri, tetapi dalam keterangan tambahan dikemukakan bukti sejarah bahwa ada pembagian yang terang dan bentuk Surat yang tetap. Bahwa dalam keterangan tambahan hanya dinyatakan dengan kata-kata ‘sebagian’ atau ‘sekedar’ adalah wajar, mengingat adanya pernyataan yang telah ditulis dalam Mukadimah tersebut. Hal itu mudah diketahui, yakni apabila “tujuh puluh Surat, termasuk tujuh Surat yang panjang-panjang” sudah ada “dalam bentuk yang lengkap dan sempurna”, sebagaimana itu diuraikan dalam keterangan tambahan — dan oleh karena tak ada bukti yang menerangkan bahwa kelebihan empat puluh empat Surat yang pendek-pendek, yang biasa dibaca pada waktu shalat, ini tak lengkap seperti itu, — maka kesimpulannya ialah, semua Surat “sudah ada dalam bentuk yang lengkap dan sempurna”. Kesimpulan itu akan lebih terang lagi, jika diingat bahwa Muir sendiri mengakui, bahwa banyak Sahabat yang bukan saja hafal tujuh puluh Surat, melainkan hafal seluruh Qur’an, tambahan pula “dengan amat teliti.”

Tanpa Mengenal susunan ayat, tak mungkin orang dapat menghafal Qur’an

Tuduhan bahwa ayat-ayat yang diturunkan pada waktu yang berlain-lainan itu tak tersusun, adalah tuduhan ngawur yang tak perlu ditanggapi. Bagaimana mungkin seseorang dapat menghafal Qur’an jika tak ada susunan ayat yang teratur. Susunan apakah yang dianut oleh Qur’an? Atau apakah naskah Qur’an yang beredar pada waktu itu mengikuti susunan yang berlain-lainan? Adakah orang yang tahu sebagian Qur’an — dan tiap-tiap Sahabat tahu bagian Qur’an — mengikuti susunan yang berlain-lainan? Apakah bukti yang menguatkan tuduhan itu? Atau apakah masing-masing qurra mengikuti susunan yang berlainan? Selanjutnya, susunan ayat yang manakah yang dipakai oleh orang yang mengimami shalat jama’ah? Apakah masuk akal bahwa Kitab yang dihafalkan secara lurus, dan yang selalu dibaca oleh beribu-ribu orang, tak teratur susunannya?

Jika seandainya tak ada bukti lain yang menerangkan bahwa ayat yang bermacam-macam itu telah tersusun, maka dihafalkannya Qur’an oleh para Sahabat itu saja sudah cukup untuk menetapkan benarnya kesimpulan tersebut. Banyak Surat yang mempunyai ayat lebih dari seratus; maka seandainya ini tak tersusun rapi, niscaya tak seorangpun dapat menghafal seluruh Qur’an atau suatu Surat. Ambillah misalnya seratus ayat tak karuan susunannya, anda akan tahu bahwa tak ada dua dari seratus ribu yang seia sekata dalam bentuk susunan. Dalam keadaan demikian, pasti tak ada satu bentuk Qur’an, yang dipelajari dan diajarkan oleh para Sahabat; sebaliknya, tiap-tiap orang mempunyai bentuk Qur’an sendiri-sendiri, dan masing-masing tak akan membenarkan Qur’an yang dibaca oleh saudara Muslim yang lain. Selain itu, ada satu Hadits sahih yang menerangkan, bahwa apabila seorang imam salah membaca ayat atau melupakan sebagian ayat, maka makmum membetulkan kesalahan itu atau membacakan ayat yang dilupakan. Ini tak mungkin terjadi, seandainya tak ada susunan yang diikuti oleh semua orang. Jadi, orang tak mungkin menghafal sebagian atau seluruh Qur’an jika tak ada susunan yang teratur.

Susunan menurut urutan turunnya wahyu tak dapat dilakukan

Pengertian tersebut menunjukkan seterang-terangnya bahwa ayat-ayat pasti telah tersusun. Apakah susunan itu menurut urutan turunnya wahyu? Sejarah membuktikan seterang-terangnya bahwa Nabi Suci menyusun ayat-ayat, tidak menurut jadwal waktu turunnya ayat itu, melainkan menurut pokok persoalan yang dibahas. Memang banyak pula Surat yang lengkap diturunkan sekaligus, tetapi banyak pula Surat yang diturunkan sepotong-sepotong, teristimewa Surat yang panjang-panjang. Secara kronologis, ayat dari suatu Surat diturunkan sesudah ayat dari Surat yang lain; oleh sebab itu, uraian dan Surat menurut jadwal turunnya wahyu, tak mungkin bisa dilakukan. Adapun yang dilakukan oleh Nabi Suci mengenai hal ini, diuraikan seterang-terangnya dalam Hadits-hadits sahih. Sebagaimana telah kami terangkan di muka. Sayyidina ‘Utsman meriwayatkan satu Hadits: “Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah saw. jika penggalan suatu Surat diturunkan kepada beliau, yakni, jika suatu ayat diturunkan, beliau memanggil salah seorang juru tulis dan memerintahkan kepadanya: Tulis ayat ini dalam Surat ini yang di dalamnya terdapat ayat anu dan ayat anu.” Dari Hadits itu terang sekali bahwa tiap-tiap ayat ditentukan tempat dan Suratnya oleh Nabi Suci sendiri. Dengan bukti yang meyakinkan itu, orang yang berotak sehat tak dapat menyangkal bahwa susunan ayat pada tiap-tiap Surat, dikerjakan sendiri oleh Nabi Suci, dan sebagaimana diterangkan dalam Qur’an, pekerjaan itu dilakukan atas pimpinan Ilahi, dan bahwa susunan itu tak menurut kronologis turunnya ayat.

Sayyidina ‘Utsman atau siapa saja, tak pernah mengijinkan perubahan

Jika susunan ayat itu tak sama dengan urutan turunnya wahyu, maka pertanyaan selanjutnya ialah, apakah susunan itu berlainan dengan susunan yang kini dimiliki oleh kaum Muslimin sedunia? Sudah tentu pertanyaan itu kita jawab: ‘Tidak’. Susunan ayat Qur’an yang kita punyai sekarang ini memang tidak berdasarkan urutan turunnya wahyu; oleh sebab itu, jika dalam sejarah Qur’an tak terbukti adanya perubahan dalam susunan ayat, maka kesimpulannya ialah, bahwa susunan Qur’an yang sekarang ini, benar-benar seperti yang dikerjakan oleh Nabi Suci. Semua pihak mengakui bahwa semenjak zaman Khalifah ‘Utsman, tak pernah terjadi perubahan sedikitpun, baik mengenai huruf, perkataan, maupun mengenai susunan ayat dan Surat, dan benarnya fakta ini tak pernah dipersoalkan oleh para penulis yang memusuhi Islam. Mereka mengakui bahwa naskah Qur’an yang sekarang ini adalah naskah yang tepat, benar dan otentik, yang diambil dari naskah yang dibuat oleh Khalifah ‘Utsman; oleh sebab itu, untuk membuktikan bahwa susunan ayat dan Surat yang kita punyai sekarang ini benar-benar sama seperti yang dikerjakan oleh Nabi Suci. Cukuplah kami tunjukkan bahwa pengumpulan yang dikerjakan oleh Sayyidina ‘Utsman itu menganut susunan naskah yang asli. Ini mudah saja dilihat, yakni bahwa pada waktu Sayyidina ‘Utsman mengumpulkan Qur’an, beliau tak ada niat sama sekali untuk mengubah susunan yang sudah tetap, yang ada pada saat itu dianut oleh para Sahabat. Bahwa susunan yang tidak didasari jadwal urutan turunnya wahyu itu dikerjakan oleh Nabi Suci, dan bahwa susunan semacam itu dianut oleh para Sahabat yang belajar dan mengajarkan Qur’an, ini telah kami terangkan di muka. Tak ada satu pun yang membuktikan bahwa Sayyidina ‘Utsman mengubah susunan Qur’an. Pada waktu Sayyidina ‘Utsman menyalin naskah Qur’an yang diambil dari naskah yang dihimpun oleh Sayyidina Abu Bakar, beribu-ribu Sahabat masih hidup; dengan demikian, jika beliau mengadakan perubahan, pasti akan diperingatkan oleh mereka. Selain itu, tugas menyalin naskah yang diperlukan, ini tak dilakukan oleh Sayyidina ‘Utsman sendiri, melainkan dikerjakan oleh para Sahabat kenamaan yang fasih dalam ilmu Qur’an; tak seorang pun di antara mereka terbukti mempunyai niat untuk mengubah susunan ayat Qur’an yang beredar pada waktu itu, tak ada tanda-tanda sedikit pun bahwa susunan Qur’an diubah. Tak ada orang atau golongan Islam satu pun yang menuduh Sayyidina ‘Utsman, bahwa beliau mengubah susunan ayat dan Surat. Satu-satunya tuduhan yang dilancarkan terhadap beliau ialah bahwa beliau melarang suatu bacaan (qirâ’ah); hal ini akan kami bicarakan nanti. Tak ada Hadits, baik yang sahih maupun tidak sahih, pernah menyebutkan bahwa susunan ayat pernah diubah.

Qur’an yang sekarang ini adalah susunan yang dikerjakan oleh Nabi Suci

Selain bukti sejarah, yang dengan tegas menunjukkan bahwa dalam sejarah Qur’an, belum pernah terjadi perubahan susunan ayat walaupun hanya sedikit, kami mempunyai bukti yang kuat yang kesimpulannya juga sama. Bukti yang kuat itu dikumpulkan dari keterangan-keterangan tak disengaja yang terdapat dalam Hadits sahih. Imam Bukhari meriwayatkan satu Hadits:

“Nabi Suci berkata: Barangsiapa membaca dua ayat terakhir Surat Al-Baqarah pada malam hari, ini sudah cukup bagi dia” (B 64:12).

 

Ini menunjukkan bahwa Nabi Suci sendiri memakai susunan yang beliau ajarkan kepada para Sahabat, dan mereka semua mengikuti susunan itu; karena jika tidak, niscaya beliau tak dapat menunjuk dua ayat sebagai dua ayat terakhir dari suatu Surat. Hadits itu membuktikan bahwa tiap-tiap ayat mempunyai tempat yang sudah terang dalam masing-masing Surat, yang tak dapat diubah oleh orang yang membaca Qur’an. Kedua kali, Hadits itu menunjukkan bahwa ayat terakhir Surat Al-Baqarah zaman sekarang, adalah ayat terakhir Surat Al-Baqarah pada zaman Nabi Suci; oleh kerena itu, susunan Quran yang kita punyai sekarang ini adalah susunan Quran yang dipakai oleh Nabi Suci. Untuk memperkuat kesimpulan ini, ada satu Hadits yang menerangkan bahwa dua ayat terakhir Surat Al-Baqarah ialah ayat ke-285 dan ke-286. Sama seperti yang terdapat dalam Tafsir Qur’an kami sekarang ini. Menurut Hadits lain, Nabi Suci mengajarkan kepada para pengikut beliau supaya membaca “sepuluh ayat pertama” Surat Al-Kahfi, sehubungan dengan munculnya Dajjal (AD 36:13). Sekiranya tak ada susunan ayat-ayat, niscaya kata-kata “sepuluh ayat pertama” tak ada artinya, karena kata-kata itu tak dapat menunjukkan secara khusus sepuluh ayat itu. Dalam hubungan ini juga disebutkan “sepuluh ayat terakhir” dari Surat yang sama Al-Kahfi menurut bunyi Hadits yang lain (AD 36:13). Hadits ketiga menerangkan bahwa Nabi Suci membaca sepuluh ayat terakhir Surat ke-3 Ali ‘Imran, manakala beliau bangun untuk menjalankan shalat tahajjud (B. 65:III, 19). Hadits-hadits itu dan berpuluh-puluh Hadits seperti itu, semuanya menunjukkan bahwa susunan ayat dalam tiap-tiap Surat, adalah karya Nabi Suci sendiri. Bahwa susunan itu sama dengan susunan Qur’an yang dipakai pada zaman sekarang, ini dapat dibuktikan seterang-terangnya, mengingat bahwa seluruh dunia Islam, tak ada yang memakai susunan lain.

Susunan Surat juga dikerjakan oleh Nabi Suci sendiri

Bukti yang tak dapat dibantah lagi bahwa bukan saja ayat, melainkan Surat juga disusun oleh Nabi Suci sendiri, ini terdapat dalam satu Hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Anas:

“Aku termasuk anggota delegasi Tsaqif pada waktu kaum Bani Tsaqif memeluk Islam … Nabi Suci berkata kepada kami: Wahyu Qur’an diturunkan kepadaku dengan tiba-tiba, maka dari itu, aku tak berniat pergi keluar sampai aku selesai dengan itu. Lalu kami bertanya kepada para Sahabat, bagaimana mereka membagi Qur’an menjadi beberapa bagian. Mereka menjawab: Kami memakai pembagian seperti berikut: tiga Surat, dan lima Surat, dan tujuh Surat, dan sembilan Surat, dan sebelas Surat, dan tiga belas Surat, dan Surat-surat selebihnya dimulai dari Surat Qaf, yang disebut mufashshal” (FB jilid IX, hlm. 39).

 

Alasan untuk mempercayai sahihnya Hadits itu kuat sekali. Menurut Hadits itu, Qur’an Suci dibagi menjadi tujuh manzil, yang masing-masing manzil harus selesai dibaca dalam satu hari, dengan demikian, pembacaan seluruh Qur’an dapat diselesaikan dalam tujuh hari. Menurut Hadits yang dikutip di muka, Nabi Suci menyuruh para Sahabat supaya jangan menyelesaikan bacaan Qur’an kurang dari tujuh hari; dua Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang berlainan itu, saling menguatkan dan saling membenarkan akan sahihnya Hadits itu. Selain itu, dua Hadits tersebut diambil oleh para penulis Hadits yang besar-besar. Hadits tersebut menunjukkan seterang-terangnya adanya susunan Surat-surat, karena pembagian menjadi beberapa bagian yang diuraikan dalam Hadits tersebut, sampai sekarang tetap dipakai oleh seluruh dunia Islam. Tujuh bagian itu disebut tujuh manzil, dan di dalamnya berisi Surat-surat yang jumlahnya sama seperti yang diuraikan dalam Hadits tersebut. Sebagaimana diterangkan oleh Hadits tersebut, manzil ketujuh dimulai dari Surat Qâf, dan sebagaimana terdapat dalam Qur’an yang kita punyai sekarang ini, enam manzil pertama berisi empat puluh delapan Surat. Hendaklah diingat bahwa dalam Qur’an yang kita punyai sekarang ini, Surat Qâf adalah Surat kelimapuluh; adapun perbedaan itu timbul karena adanya kenyataan bahwa menurut Hadits tersebut, Surat Al-Fâtihah tak termasuk dalam hitungan. Hadits tersebut membuktikan seterang-terangnya bahwa susunan Surat itu dikerjakan sendiri oleh Nabi Suci, sama halnya seperti susunan ayat dan susunan yang kita punyai sekarang ini tak berbeda sedikitpun dengan susunan aslinya.

Mungkin ada yang membantah bahwa susunan seperti itu tak mungkin, karena Qur’an itu belum lengkap sampai menjelang wafat Nabi Suci, dan hingga saat itu, ayat-ayat dan Surat-surat senantiasa diturunkan. Memang benar bahwa Qur’an tak dapat dikatakan lengkap selama wahyu itu masih diturunkan, tetapi ini tak menghalangi tersusunnya ayat dan Surat. Kata “Qur’an” artinya bagian Qur’an yang diturunkan. Hadits tersebut membicarakan masuk Islamnya kaum Bani Tsaqif, yang terjadi pada tahun Hijrah kesembilan, yang pada tahun itu diturunkan Surat Al-Barâ’ah, yang menurut jadwal urutan wahyu, dianggap sebagai golongan wahyu terakhir. Jadi, pada waktu Hadits meriwayatkan kejadian itu, Qur’an hampir seluruhnya diturunkan, dan pembagian menjadi tujuh manzil yang masing-masing berisi sejumlah Surat seperti yang diterangkan dalam Hadits, itu berdasarkan perintah Nabi Suci sendiri. Sesudah itu, ayat-ayat yang diturunkan ditaruh di tempat yang semestinya dalam Surat yang bersangkutan. Hanya Surat pendek An-Nashr (Surat ke-110), diturunkan belakangan, dan ditempatkan dalam susunan Surat, tanpa mengganggu jumlah Surat yang termuat dalam enam manzil pertama, karena Surat ke-110 itu ditempatkan dalam manzil ketujuh, yang jumlah Suratnya tak disebutkan secara rinci.

Talif Ibnu Mas’ud

Adapun tentang desas-desus bahwa beberapa Sahabat menganut susunan yang berlainan, ini hanya timbul karena salah faham. Di antaranya, yang paling terkenal ialah apa yang disebut Talif Ibnu Mas’ud, artinya Penggabungan Ibnu Mas’ud. Adapun faktanya hanyalah demikian: Nabi Suci dalam shalat tahajjud kadang-kadang menggabungkan Surat yang pendek-pendek menjadi satu, dan Ibnu Mas’ud suka sekali akan penggabungan itu. Tetapi hendaklah diingat bahwa tiap-tiap orang, baik dahulu maupun sekarang, bebas membaca dalam shalatnya bagian Qur’an yang ia sukai. Kebebasan itu disebutkan dalam Hadits yang menerangkan bahwa di samping membaca Al-Fâtihah yang ini bacaan wajib pada tiap-tiap raka’at, orang boleh mengikutkan bacaan bagian Qur’an apa saja yang ia sukai (AD 2:134). Demikian pula, dua Surat atau lebih, dapat dibaca dalam satu raka’at, dan tempo-tempo orang dapat menggabungkan beberapa Surat untuk dibaca sekaligus pada waktu shalat. Misalnya dalam shalat tahajud, Nabi Suci kadang-kadang membaca dua puluh Surat, yang delapan belas diambil dari mufashshal, yaitu Surat terakhir yang pendek-pendek, yang dimulai dari Surat Qâf (Surat ke-50), dan dua Surat Hâ Mîm, atau Surat-surat yang diawali dengan Hâ Mîm. Jadi pada tiap-tiap raka’at, dibacanya dua Surat golongan ini, dan seluruhnya berjumlah sepuluh raka’at. Nabi Suci membuat penggabungan yang khas, yang disampaikan kepada kita melalui Ibnu Mas’ud; itulah sebabnya mengapa penggabungan itu disebut Talif Ibnu Mas’ud. Penggabungan itu tak ada sangkut pautnya dengan susunan Surat, dengan demikian, tak harus dipakai di sembarang waktu. Sebenarnya, penggabungan yang khas itu, hanya disebutkan dan disampaikan kepada kita karena keistimewaannya dan penyimpangannya dari susunan Surat yang asli. Bahkan dalam shalat jama’ah pun tak perlu diikuti susunan menurut urutan Surat. Pada suatu waktu Nabi Suci membaca Surat keempat dalam raka’at pertama, dan membaca Surat ketiga dalam raka’at kedua, dan hanya kejadian itulah yang disampaikan kepada kita melalui Hadits tersebut karena kejadian itu menyimpang dari susunan yang sudah lazim (FB IX, hlm. 36). Banyak contoh semacam itu yang diriwayatkan dalam Hadits. Misalnya dalam satu Hadits diriwayatkan Nabi Suci membaca Surat ke-32 dalam raka’at pertama, dan Surat ke-76 dalam raka’at kedua, pada shalat subuh menjelang hari jum’at (B 11:10). Hadits lain lagi menerangkan bahwa seseorang suka sekali membaca Surat ke-112, dan ia membaca Surat itu pada tiap-tiap raka’at, lalu disusul dengan bacaan Surat lain yang ia sukai, dan Nabi Suci tak melarang itu (Tr 43:11). Oleh sebab itu, apa yang disebut Talif Ibnu Mas’ud tak ada sangkut-pautnya dengan susunan Surat.

Ubayya bin Ka’ab dan Sayyidina ‘Ali

Dua Sahabat yang namanya disebut-sebut memakai susunan yang berlainan adalah Ubayya bin Ka’ab dan Sayyidina ‘Ali. Persoalan Ubayya bin Ka’ab dapat segera diselesaikan, karena tak ada bukti yang patut dikemukakan untuk membuktikan bahwa Ubayya bin Ka’ab memakai susunan yang berlainan. Satu-satunya yang mungkin dapat dikemukakan ialah, beliau menempatkan Surat keempat di muka Surat ketiga. Jika yang dimaksud dengan susunan yang berlainan itu demikian, maka sesungguhnya itu tak begitu penting, karena seperti halnya Ibnu Mas’ud, kesalahan itu mungkin timbul karena Nabi Suci sendiri pernah membaca Surat keempat lebih dahulu daripada Surat ketiga dalam salah satu shalat beliau. Adapun Sayyidina ‘Ali, beliau dikatakan menghimpun Surat menurut urutan turunnya wahyu; dikatakan pula bahwa ada satu Hadits yang menerangkan bahwa setelah Nabi Suci wafat, beliau tak merasa tenteram, sampai beliau menghimpun seluruh Qur’an, menyusun Surat-suratnya menurut jadwal urutan turunnya wahyu. Kesahihan Hadits itu masih menjadi persoalan, karena Qur’an semacam itu tak pernah disampaikan kepada anak-cucu, walaupun Sayyidina ‘Ali diangkat sebagai Khalifah sesudah Sayyidina ‘Utsman. Menurut salah satu Hadits, Sayyidina ‘Ali sendiri berkata bahwa

“orang yang paling berjasa dalam menghimpun Qur’an ialah Sayyidina Abu Bakar; beliau orang pertama yang menghimpun Qur’an Suci” (FB IX, hlm. 10).

 

Selain itu, Ubayya bin Ka’ab dan Sayyidina ‘Ali termasuk orang-orang yang ditugaskan untuk memimpin pekerjaan menulis naskah Qur’an pada zaman Khalifah ‘Utsman, dan ini merupakan bukti yang tak dapat dibantah lagi bahwa menurut beliau, susunan Surat yang ada sekarang ini adalah susunan yang benar.

Mengapa Surat kesembilan tak diawali dengan Bismillah

Ada satu Hadits yang perlu diuraikan di sini sehubungan dengan susunan Surat. Ibnu ‘Abbas berkata:

“Aku bertanya kepada Sayyidina ‘Utsman: Apakah yang menyebabkan anda menempatkan Surat Al-Anfâl (Surat ke-8) berdampingan dengan Surat Al-Barâ’ah (Surat ke-9), dan anda tak menulis Bismillâh di antara dua Surat itu dalam golongan tujuh Surat yang panjang-panjang? Sayyidina ‘Utsman menjawab: Sudah menjadi kebiasaan Nabi Suci, apabila diturunkan banyak Surat kepada beliau, bahwa jika suatu ayat dari suatu Surat diturunkan, beliau memanggil salah seorang juru tulis beliau dan berkata kepadanya supaya menulis ayat itu, dalam Surat yang di situ terdapat ayat anu dan ayat anu. Surat Al-Anfâl adalah salah satu Surat yang diturunkan pada zaman permulaan di Madinah, dan Surat Al-Bâra’ah adalah Surat yang diturunkan pada zaman Madinah terakhir, dan persoalan yang dibahas dalam dua Surat itu amat bersesuaian. Oleh sebab itu, aku percaya bahwa Surat Al-Bâra’ah adalah bagian dari Surat Al-Anfâl; kemudian Nabi Suci wafat, dan beliau tak memberitahukan dengan tegas kepada kita bahwa Surat Al-Barâ’ah adalah bagian dari Surat Al-Anfâl” (AD 2:123).

 

Hadits itu sekali-kali bukan menerangkan susunan Surat menurut keputusan Sayyidina ‘Utsman, melainkan menyatakan dengan terang bahwa susunan Surat itu dikerjakan oleh Nabi Suci sendiri. Hadits itu menerangkan bahwa, kecuali Surat yang diutarakan dalam Hadits tersebut, Nabi Suci selalu “dengan tegas” memberitahukan kepada para Sahabat, di mana ayat itu harus ditempatkan dalam satu Surat, atau di mana Surat itu harus ditempatkan dalam Qur’an Suci. Hadis itu menerangkan pula bahwa susunan itu dikerjakan oleh Nabi Suci sendiri menurut pokok persoalan yang dibahas. Dalam hal yang luar biasa itu, Nabi Suci tak menyatakan dengan tegas bahwa Surat Al-Bara’ah adalah kelanjutan dari Surat Al-Anfal, oleh karena itu, dua Surat itu diperlakukan sebagai dua Surat; tetapi karena Bismillah tak diwahyukan sebagai awalan Surat Al-Bara’ah, tampaknya Surat itu merupakan kelanjutan dari Surat Al-Anfal. Hadits itu hanya menunjukkan betapa teliti para Sahabat dalam melaksanakan petunjuk Nabi Suci.

Abu Bakar yang Mula-mula Menghimpun Naskah Qur’an yang Ditulis

Tak mungkin dihimpun naskah Qur’an yang ditulis selama Nabi Suci masih hidup

Sebagaimana kami terangkan di muka, pekerjaan menghimpun Qur’an itu mula-mula sekali dikerjakan oleh Nabi Suci sendiri di bawah petunjuk Ilahi. Kami tahu bahwa pengumpulan naskah semacam itu diperlukan sekali oleh mereka yang ingin menghafal seluruh Qur’an, dan untuk dapat menghafal seluruh Qur’an, diperlukan sekali Surat-surat itu tersusun. Jadi, sekalipun seluruh Qur’an sudah berwujud dan tersusun lengkap dalam ingatan para Sahabat, namun belum berwujud dalam bentuk tulisan yang dihimpun dalam satu jilid. Memang benar bahwa tiap-tiap ayat dan tiap-tiap Surat segera ditulis setelah itu diturunkan, tetapi selama orang yang menerima wahyu masih hidup, tak mungkin seluruh Qur’an dihimpun dalam satu jilid. Setiap waktu dapat saja diturunkan suatu ayat yang ini harus ditempatkan di tengah-tengah Surat; oleh sebab itu, kesempatan untuk menghimpun tulisan Qur’an menjadi satu jilid lengkap, tak mungkin dilaksanakan. Tetapi setelah Nabi Suci wafat, diperlukan sekali terhimpunnya naskah menjadi satu jilid. Selain itu, naskah ini diperlukan untuk memudahkan pencocokan dan penyiaran Firman Suci, dan untuk memberi bentuk yang lebih permanen daripada perlimpahan dalam bentuk hafalan. Demikianlah tujuan pengumpulan Qur’an yang dikerjakan oleh Sayyidina Abu Bakar.

Keperluan naskah Qur’an yang ditulis, mula-mula dirasakan oleh Sayyidina ‘Umar

Hadits yang menerangkan mendesaknya keadaan untuk menghimpun Qur’an pada zaman Abu Bakar, menguatkan uraian tersebut di atas. Peristiwa itu diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit. Tak lama setelah Nabi Suci wafat, Khalifah Abu Bakar mengirim pasukan untuk menggempur Musailamah. Pertempuran berlangsung di Yamamah; dalam pertempuran itu, banyak kaum Muslimin yang gugur, dan banyak pula qurra (orang yang hafal Qur’an) yang gugur. Sayyidina ‘Umar berkata:

“Sejumlah besar qurra telah gugur dalam pertempuran Yamamah, dan aku khawatir kalau-kalau pada lain pertempuran, qurra yang gugur akan lebih banyak lagi, dan mungkin pula banyak ayat Qur’an yang hilang. Menurut hemat saya, Anda perlu sekali segera memberi perintah untuk menghimpun naskah Qur’an.” Khalifah Abu Bakar menjawab: “Bagaimana aku berbuat sesuatu yang tak dilakukan oleh Nabi Suci?” Sayyidina ‘Umar mendesak: “Tetapi ini adalah jalan satu-satunya yang terbaik dalam menghadapi keadaan darurat.” Setelah bertukar pikiran, Khalifah Abu Bakar menyadari akan pentingnya hal itu, lalu dipanggillah Sahabat Zaid, dan Sayyidina Abu Bakar berkata: “Engkau biasa menulis wahyu yang diturunkan kepada Nabi Suci. Oleh sebab itu, carilah naskah-naskah Qur’an yang ditulis, dan himpunlah itu menjadi satu jilid.” Dalam hati kecilnya, Sahabat Zaid mempunyai perasaan yang sama seperti Khalifah Abu Bakar. Sahabat Zaid berkata: “Bagaimana Anda berbuat sesuatu yang tak dilakukan oleh Nabi Suci?” Tugas itu terasa begitu berat bagi Sahabat Zaid sehingga dia berpikir demikian: Tak akan lebih sukar bagiku jika aku disuruh memindahkan gunung.” Tetapi akhirnya dia dapat diyakinkan, dan mulailah dia mengerjakan tugas itu (B. 65:IX, 20).

Koleksi tulisan diperlukan sebagai pemeliharaan ingatan

Hadits tersebut menjelaskan beberapa hal. Pertama, menerangkan bahwa seluruh Qur’an tersimpan aman dalam ingatan para qurra yang menghapalkan itu pada zaman Nabi Suci. Memang selama mereka masih hidup, tak ada hal-hal yang perlu dikhawatirkan. Tetapi jika mereka gugur dalam pertempuran, sangat dikhawatirkan kalau-kalau ada ayat yang hilang, karena sampai saat itu, tulisan ayat dan Surat, belum dihimpun menjadi satu jilid. Kedua, menurut Hadits tersebut, nampak dengan jelas bahwa pengumpulan naskah yang dikerjakan oleh Sayyidina Abu Bakar, hanyalah dimaksud sebagai pemeliharaan bagi naskah yang tersimpan dalam ingatan. Kecemasan yang timbul dalam hati Sayyidina ‘Umar karena banyaknya para qurra yang gugur dalam pertempuran Yamamah, dan dimungkinkan pula banyak yang gugur di lain pertempuran. Memang, ingatan adalah tempat penyimpanan yang paling aman, tetapi naskah yang tersimpan dalam ingatan itu akan hilang semua, jika pada suatu ketika, orang-orang yang hafal Al-Qur’an mati semua. Ketiga, Hadits tersebut membuktikan bahwa sampai waktu Sayyidina Abu Bakar mulai menghimpun naskah Qur’an, tak ada ayat satu pun yang hilang; lagi pula, qurra yang hafal seluruh Qur’an masih hidup. Pendek kata, Hadits tersebut membuktikan bahwa seluruh Qur’an masih aman dalam ingatan para qurra, dan Sayyidina ‘Umar hanya menghendaki agar naskah Qur’an yang tertulis dihimpun menjadi satu jilid sebagai pelengkap bagi naskah Qur’an yang tersimpan dalam ingatan para qurra.

Sekarang akan kami jelaskan apa yang dimaksud dengan ucapan Sayyidina Abu Bakar tatkala berkata bahwa beliau tak dapat mengerjakan sesuatu yang tak dikerjakan oleh Nabi Suci. Permohonan Sayyidina ‘Umar bukanlah sekedar menyusun naskah Qur’an, melainkan menghimpun tulisan Qur’an menjadi satu jilid. Qur’an yang sudah lengkap, yang ayat-ayat dan Surat-suratnya telah disusun dengan sempurna, telah tersimpan di tempat yang paling aman, yaitu di dalam ingatan para Sahabat; tetapi tulisan-tulisan yang berhamburan, yang berisi ayat-ayat Qur’an, belum dihimpun dan disusun menjadi satu jilid. Sayyidina ‘Umar meminta Sayyidina Abu Bakar supaya menghimpun tulisan-tulisan itu. Inilah yang tak dilakukan oleh Nabi Suci; oleh karena itu, Sayyidina Abu Bakar mula-mula menolak untuk mengerjakan itu. Tetapi permohonan Sayyidina ‘Umar itu didasarkan atas pikiran yang sehat dan masuk akal. Nabi Suci sendiri telah menyelesaikan dua pekerjaan, yaitu menyuruh menulis tiap-tiap ayat yang diturunkan kepada beliau dan menghapalkan itu. Maka, Sayyidina Abu Bakar yakin bahwa apa yang diusulkan oleh Sayyidina ‘Umar adalah benar dan perlu dikerjakan.

Yang harus dihimpun ialah naskah asli yang ditulis di hadapan Nabi Suci

Hal lain yang perlu dijelaskan sehubungan dengan Hadits tersebut ialah pernyataan Sahabat Zaid tentang kesukaran yang akan ia alami dalam melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya. Ia berpikir bahwa tak lebih sukar baginya jika ia ditugaskan untuk memindahkan suatu gunung. Kesukaran apakah itu? Ini dijelaskan dalam Hadits yang diriwayatkan Ibnu Abi Dawud:

“Sayyidina ‘Umar bangkit dan mengumumkan bahwa barangsiapa memiliki sesuatu yang diterima langsung dari Nabi Suci, hendaklah ia serahkan itu kepada Zaid, dan mereka (para Sahabat) menulis itu di atas kertas, papan dan kulit kayu pada zaman Nabi Suci, lalu tak satu pun dari tulisan itu diambil dari seorang Sahabat, sampai ada dua orang saksi yang menyaksikan itu” (FB IX, hal. 12).

 

Adapun tujuan pengumpulan Qur’an yang dikerjakan Sayyidina Abu Bakar ialah menghimpun apa yang telah ditulis di hadapan Nabi Suci. Jadi, pengumpulan naskah yang dikerjakan oleh Sahabat Zaid itu dimaksud untuk mengamankan tulisan-tulisan yang asli. Inilah tugas yang dirasakan amat berat oleh Sahabat Zaid. Sebagian besar ayat yang diturunkan di Makkah, demikian pula yang diturunkan di Madinah, tak semuanya dimiliki Sahabat Zaid. Beliau harus mencari semua naskah yang ditulis di hadapan Nabi Suci. Beliau dipilih untuk melaksanakan tugas itu, karena beliau telah menulis sebagian wahyu yang diturunkan di Madinah, dan dianggap menyimpan semua naskah itu. Tetapi tugas yang harus beliau lakukan memang teramat berat. Beliau harus mencari semua naskah yang asli, dan harus menyusun itu menurut urutan ayat dan Surat seperti urutan yang dianut dalam bacaan hafalan, berdasarkan petunjuk Nabi Suci. Adalah benar bahwa tulisan-tulisan itu tersimpan dengan aman. Segala sesuatu yang bertalian dengan wahyu Ilahi disimpan dengan hati-hati sekali. Tetapi tugas yang diberikan kepadanya memang berat sekali, dan memerlukan kerja keras dan penyelidikan yang cermat; oleh sebab itu, dengan menyadari akan besarnya kesukaran yang beliau hadapi, Zaid berkata bahwa tugas itu sama beratnya dengan memindahkan suatu gunung.

Perintah Sayyidina Abu Bakar

Terang sekali bahwa tugas yang dipercayakan kepada Sahabat Zaid adalah menghimpun dan menyusun naskah asli yang berisi ayat dan Surat yang ditulis di hadapan Nabi Suci. Adapun tujuan Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina ‘Umar bukanlah menghimpun satu jilid Qur’an yang disiapkan oleh Zaid dengan menulis Qur’an sesuai apa yang didiktekan oleh para qurra, melainkan menyiapkan satu jilid Qur’an dengan jalan menghimpun tulisan-tulisan asli (yang ditulis di hadapan Nabi Suci). Inilah sebabnya mengapa selalu digunakan kata jam’i (menghimpun) — bukan kata menyusun — sehubungan dengan tugas itu. Oleh sebab itu, perintah pertama dari Sayyidina Abu Bakar kepada Zaid adalah supaya ‘mencari’ dan ‘menghimpun Qur’an’; jadi jelas sekali, bahwa yang harus dicari hanyalah tulisan-tulisan. Jika tujuan menghimpun Qur’an seperti yang diusulkan Sayyidina ‘Umar itu menulis Qur’an sesuai dengan apa yang dihafalkan oleh para qurra, niscaya penulisan yang cermat cukup dilakukan dengan mengumpulkan beberapa qurra, dan Zaid menulis Qur’an Suci menurut apa yang didiktekan mereka, dan ditashihkan para Sahabat. Tetapi, tujuan perintah Sayyidina Abu Bakar dan ‘Umar ialah menghimpun tulisan-tulisan asli yang ditulis menurut petunjuk Nabi Suci sendiri. Dengan demikian, membuat teks Qur’an tak diragukan lagi kecermatannya.

Zaid melaksanakan tugas menghimpun naskah asli dengan sempurna

Hadits tersebut menerangkan lebih lanjut bahwa Sahabat Zaid mengerjakan apa yang ditugaskan kepada beliau; karena, setelah beliau meyakini bahwa Sayyidina Abu Bakar dan ‘Umar memang benar, beliau menguraikan apa yang beliau kerjakan sebagai berikut: “Lalu aku mulai mencari dan mengumpulkan Qur’an dari kulit kayu, batu sabak, dan hati manusia, sampai aku menemukan ayat terakhir dari Surat Al-Bara’ah dari Abu Khuzaimah Anshari, yang ini tak aku temukan dari orang lain” (B. 65: IX, 20). Ini membuktikan bahwa Sahabat Zaid mengerjakan dua hal: mencari tulisan ayat dan menghimpun itu menjadi satu jilid. Menghimpun berarti menyusun ayat dan Surat, karena tulisan-tulisan itu berada di tangan orang yang berlainan, dan tulisan itu sendiri tak dapat memberi petunjuk bagaimana tulisan itu harus disusun. Untuk menyusun itu, Zaid memohon bantuan para qurra, dan inilah yang dalam Hadits tersebut disebut ‘hati manusia’. Tanpa bantuan para qurra, tak mungkin dilakukan penyusunan tulisan-tulisan itu menjadi satu jilid yang lengkap. Itulah sebabnya mengapa Sayyidina ‘Umar mendesak supaya dimulai menghimpun naskah Qur’an selagi para qurra masih hidup, dan itulah pula sebabnya mengapa Sahabat Zaid menerangkan bahwa tatkala mengumpulkan Qur’an, beliau memohon bantuan qurra, yatiu apa yang beliau sebut ‘hati manusia’. Kata-kata itu bukanlah berarti bahwa sebagian Surat beliau kumpulkan dari tulisan dan sebagian lagi beliau kumpulkan dari para qurra, karena jika untuk sebagian Surat beliau cukup percaya dari ingatan qurra, maka untuk selebihnya, beliau tak perlu mencari-cari tulisan. Dengan demikian, seluruh Qur’an sudah ditulis cocok dengan yang didiktekan oleh para qurra.

Naskah Qur’an yang dihimpun Sayyidina Abu Bakar cocok dengan Qur’an yang dihimpun oleh Nabi Suci, yang terpelihara dalam ingatan

Pertanyaan yang amat penting tentang pengumpulan Qur’an atas perintah Sayyidina Abu Bakar ialah: Apakah naskah Qur’an itu cocok segala-galanya dengan Qur’an yang dihimpun dan tersimpan dalam ingatan para Sahabat, dan yang dihafalkan dan dibaca, baik di muka umum maupun sendirian, pada zaman Nabi Suci? Tak ada alasan sedikitpun untuk tidak mempercayai hal itu. Pertama, tak seorang pun di kalangan para penyusun yang berniat untuk tidak mempercayai Qur’an. Semua orang yang ditugaskan untuk mengerjakan itu mempunyai keinginan yang sungguh-sungguh untuk memiliki satu Qur’an yang lengkap dan benar, yang dihimpun dari wahyu yang diturunkan kepada Nabi Suci; dan Sahabat Zaid mengerjakan itu setelah menyadari akan banyaknya kesukaran yang akan beliau alami. Kedua, pengumpulan itu dilakukan setelah enam bulan sejak wafatnya Nabi Suci, sedangkan sebagian besar Sahabat yang mendengar Qur’an dari mulut Nabi Suci masih hidup. Qur’an yang seperti dibacakan Nabi Suci masih segar dalam ingatan para Sahabat, dan kekeliruan apa pun yang berhubungan dengan teks Qur’an akan segera diketahui. Ketiga, banyak di antara para Sahabat yang hafal seluruh Qur’an. Dan banyak lagi yang hafal sebagian besar Qur’an Suci, dan ini akan selalu segar dalam ingatan, karena selalu dibaca, baik pada waktu shalat, maupun di luar shalat. Tak mungkin terjadi penyimpangan dari teks asli yang lazim pada zaman Nabi Suci akan masuk dalam naskah Qur’an, selama para Sahabat masih hidup. Keempat, salinan naskah Qur’an banyak sekali beredar di kalangan para Sahabat. Karena ayat-ayat itu ditulis pada waktu diturunkan, dan banyak salinan yang dibuat oleh para Sahabat, maka banyak sekali bahan-bahan untuk menguji kecermatan naskah yang dihimpun oleh Zaid. Tulisan-tulisan itu dimiliki oleh banyak Sahabat, sehingga mereka mempunyai kesempatan untuk memeriksa apakah pengumpulan yang dikerjakan Zaid itu cocok dengan tulisan-tulisan yang asli. Selain itu, tulisan yang dimiliki oleh Sahabat yang satu dapat dicocokkan dengan tulisan yang dimiliki oleh Sahabat yang lain; dengan demikian, seperti juga dalam hal pembacaan, tak mungkin ada kekeliruan yang masuk dalam teks Qur’an. Jadi, hafalan dan tulisan saling memperkuat bukti yang tak diragukan lagi kebenarannya. Kelima, tak ada Hadits satu pun yang menyebutkan bahwa ada dua ayat yang tak dimasukkan dalam naskah yang dihimpun atas perintah Sayyidina Abu Bakar, atau ada ayat yang ditambahkan di dalamnya yang dianggap bukan bagian dari Wahyu Ilahi. Sir William Muir berkata:

“Kami tak mendengar ada penggalan, kalimat-kalimat atau kata-kata yang tak dimasukkan dalam naskah oleh orang yang mengumpulkan Qur’an, demikian pula tak ada edisi yang berlainan dengan edisi yang sudah lazim. Jika terjadi demikian, niscaya itu akan dicatat dan diperingatkan dalam Hadits, karena Hadits itu mencatat segala perbuatan dan sabda Nabi Suci, sampai hal-hal yang remeh dan sepele.”

Khalifah ‘Utsman Menyuruh Menyalin dari Naskah Asli Sayyidina Abu Bakar

Keadaan yang memaksa Sayyidina ‘Utsman menyalin beberapa Naskah Qur’an

Sebagaimana kami terangkan di muka, banyak sekali dalil yang kuat yang menerangkan bahwa Qur’an yang dihimpun di bawah perintah Sayyidina Abu Bakar, baik teks maupun susunannya, cocok dengan Qur’an yang dihimpun atas petunjuk Nabi Suci yang tersimpan dalam ingatan para qurra. Naskah Qur’an yang dihimpun menjadi satu jilid tetap berada di tangan Sayyidina Abu Bakar, dan setelah beliau wafat, naskah itu berada di tangan Sayyidina ‘Umar. Setelah Sayyidina ‘Umar wafat, naskah disimpan oleh Siti Khafsah, puteri Sayyidina ‘Umar, janda Nabi Suci. Jadi, naskah yang dihimpun atas perintah Sayyidina Abu Bakar, sampai zaman Khalifah ‘Utsman, tak mengalami perubahan apa pun, baik teks maupun susunannya. Tetapi Sayyidina ‘Utsman melihat suatu keadaan yang mengharuskan beliau menyiarkan naskah Qur’an yang resmi, yang disalin oleh para penulis yang resmi, dan melarang semua naskah yang dibuat oleh orang-orang yang tidak resmi, baik yang disalin dari naskah buatan Zaid maupun dari tulisan-tulisan yang masih beredar di kalangan para Sahabat. Keadaan yang memaksa itu digambarkan sebagai berikut:

“Sahabat Anas meriwayatkan, bahwa Sahabat Hudhaifah yang bertempur bersama-sama orang Syria dalam perang Armenia, dan bersama-sama orang Iraq dalam perang Azerbaijan, terkejut sekali melihat banyaknya variasi dalam cara-cara mereka membaca Qur’an, dan beliau menghadap Khalifah ‘Utsman dan melaporkan: Wahai Amiru-l-mukminin, hentikanlah mereka, sebelum mereka berselisih tentang Kitab Suci (Qur’an), sebagaimana dialami oleh kaum Nasrani dan kaum Yahudi. Lalu Sayyidina ‘Utsman memberitahukan kepada Siti Khafsah dan minta agar naskah Qur’an yang disimpan oleh beliau dikirimkan kepada Sayyidina ‘Utsman untuk dibuat salinan beberapa banyaknya, dan akan dikembalika apabila sudah selesai. Siti Khafsah mengirimkan naskah Qur’an, lalu Sayyidina ‘Utsman menyuruh Zaid bin Tsabit, ‘Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Al-‘As, dan ‘Abdurrahman bin Harits bin Hisyam, supaya membuat beberapa salinan dari naskah Qur’an yang asli. Lalu Sayyidina ‘Utsman berkata kepada tiga orang yang berasal dari keturunan Quraisy (Zaid berasal dari Madinah) sebagai berikut: Apabila kamu berselisih dengan Zaid tentang apa saja yang bertalian dengan Qur’an, tulislah itu menurut logat Quraisy. Mereka menaati perintah itu, dan setelah mereka selesai menyalin beberapa naskah Qur’an, Sayyidina ‘Utsman mengembalikan naskah yang asli kepada Siti Khafsah. Lalu beliau mengirimkan salinan-salinan itu kepada semua propinsi, masing-masing mendapat satu salinan, dan beliau memerintahkan agar semua naskah atau lembaran yang berisi tulisan Qur’an yang tidak resmi dibakar semua.” (B. 66:3)

 

Salah seorang Panglima perang memberitahukan kepada Khalifah ‘Utsman, bahwa di daerah kerajaan Islam yang jauh-jauh seperti Syria dan Armenia, orang berbeda-beda dalam cara membaca Qur’an. Di Makkah, di Madinah, atau di Jazirah Arab, tak terjadi perbedaan semacam itu. Hanya di daerah yang baru saja memeluk Islam, yang tak menggunakan bahasa Arab, nampak adanya perbedaan dalam membaca Qur’an. Adapun sifat perbedaan itu diterangkan dalam Hadits, bahwa itu hanya berbeda dalam qirâ’at (cara membaca) saja. Tetapi jika perbedaan yang kecil itu tak segera dihentikan, sangat dikhawatirkan bahwa kelak akan berkembang menjadi perbedaan yang besar. Perbedaan dalam hal apakah itu sebenarnya? Ini tak mudah dikatakan. Namun ada cerita lama yang menjelaskan kepada kita sifat perbedaan itu. Dalam salah satu Hadits diterangkan bahwa perbedaan qirâ’at diizinkan oleh Nabi Suci sendiri; dan sebagian Sahabat yang tak tahu menahu tentang adanya izin itu mula-mula bersikap keras terhadap siapa saja yang kedengaran membaca Qur’an dengan qirâ’at yang berlainan. Adapun alasan pemberian izin oleh Nabi Suci itu ialah karena orang-orang dari Kabilah tertentu tak dapat mengucapkan kata-kata tertentu, sesuai dengan logat yang sudah lazim. Orang-orang itulah yang diizinkan mengucapkan kata-kata tertentu menurut cara mereka mengucapkan itu. Hal ini akan kami bahas nanti secara panjang lebar.

Sayyidina ‘Umar melarang berbagai qirâ’at yang tak perlu

Terang sekali bahwa izin membaca kata-kata tertentu dengan qirâ’at yang berlainan, disebabkan karena terpaksa semata-mata. Izin itu hanya diberikan kepada mereka yang tak dapat mengucapkan kata-kata tertentu menurut logat Quraisy, karena mereka sejak kecil biasa mengucapkan kata-kata itu menurut cara mereka. Tetapi tatkala Islam meluas sampai ke luar jazirah Arab, tak ada perlunya membaca ayat dengan qirâ’at yang berlainan, karena orang asing dapat mengucapkan kata-kata menurut logat Quraisy, sebagaimana mereka dapat mengucapkan kata-kata menurut logat lain. Akan tetapi sebagian orang tetap mengajarkan Qur’an menurut qirâ’at yang bukan logat Quraisy. Bahkan sebagian mereka menyalah-gunakan izin qirâ’at dengan memakai qirâ’at tertentu, sekalipun mereka tak perlu menggunakan itu. Kebiasaan buruk itu merajalela di Kufah, dan inilah yang diisyaratkan oleh Sahabat Khudhaifah tatkala beliau mencemaskan adanya qirâ’at yang bermacam-macam. Kesimpulan itu dikuatkan oleh cerita yang terjadi sebelum zaman Khalifah ‘Utsman: Sayyidina ‘Umar menerima laporan bahwa Ibnu Mas’ud mengucapkan ‘attâ hîn yang seharusnya hattâ hîn, artinya sampai waktu tertentu (FB. IX, hal. 24). Menurut logat Hudhail dan Tsaqif, kata hatta diucapkan ‘atta (LL, di bawah kata ‘attâ). Sahabat Ibnu Mas’ud bukanlah dari Kabilah Hudhail ataupun Tsaqif, tetapi beliau menggunakan qirâ’at yang ganjil, yang hanya diizinkan kepada Kabilah tertentu yang tak dapat mengucapkan kata-kata selain logat mereka. Tatkala Sayyidina ‘Umar diberitahu bahwa Ibnu Mas’ud mengajarkan ‘attâ bukan hattâ, beliau menulis surat kepadanya agar jangan mengucapkan itu menurut logat Hudhail:

“Maka ajarkanlah Qur’an menurut logat Quraisy, bukan menurut logat Hudhail” (FB IX, hal. 24).

Sayyidina ‘Utsman mengikuti tindakan Sayyidina ‘Umar

Perintah Sayyidina ‘Utsman untuk membakar semua naskah Qur’an yang tak resmi adalah untuk menghentikan semua qirâ’at yang berlainan. Perintah Sayyidina ‘Utsman kepada para penulis memperkuat kesimpulan itu. Kepada para anggota panitia yang termasuk Kabilah Quraisy, beliau memberi petunjuk:

“Apabila kamu berselisih dengan Zaid tentang apa saja yang bertalian dengan Qur’an, tulislah itu menurut logat Quraisy, karena Qur’an itu diturunkan dalam logat Quraisy” (B. 61:3).

 

Diterangkan bahwa petunjuk itu benar-benar ditaati. Jadi, Sayyidina ‘Utsman tak menyimpang dari apa yang dilakukan oleh Sayyidina ‘Umar. Hanya, pada zaman Sayyidina ‘Utsman, beda-bedanya qirâ’at menjadi semakin jelas, dan menjadi sumber kericuhan, sehingga beliau terpaksa mengambil langkah yang jitu untuk memberantas macam-macam qirâ’at, yang telah diusahakan penghentiannya oleh Sayyidina ‘Umar. Adapun yang dimaksud ‘berselisih dengan Zaid’ dalam Hadits tersebut, dijelaskan dalam Hadits lain:

“Apabila kamu berselisih dengan Zaid tentang ‘arabiyyah dalam ‘arabiyyahnya Qur’an” (B. 66:2).

 

Kata ‘arabiyyah artinya bahasa Arab. Kata ini menerangkan sejelas-jelasnya bahwa yang dimaksud berselisih dengan Zaid dalam Hadits tersebut ialah berselisih dalam mengucapkan kata-kata menurut logat lain. Zaid bukanlah keturunan Quraisy, oleh sebab itu, bila timbul perbedaan dalam cara-cara membaca atau menulis suatu perkataan, keputusan para anggota dari kaum Quraisylah yang harus diambil. Satu-satunya contoh tentang perbedaan yang diceritakan dalam Hadits yang disampaikan kepada kita, berbunyi:

“Suatu waktu, mereka berselisih tentang tabut dan tabuh. Para anggota dari Kabilah Quraisy berkata tabut, tetapi Zaid berkata tabuh. Perselisihan itu dilaporkan kepada Sayyidina ‘Utsman, dan beliau memerintahkan supaya ditulis tabut, sambil berkata bahwa Qur’an itu diturunkan menurut logat Quraisy” (FB. IX, hal. 17). Cerita ini menunjukkan bahwa perselisihan yang hanya mengenai hal yang amat sepele pun tetap harus diberantas.

Salinan yang dibuat atas perintah Sayyidina ‘Utsman berasal dari naskah asli Sayyidina Abu Bakar

Apakah naskah Qur’an yang ditulis kembali atas perintah Sayyidina ‘Utsman berlainan dengan naskah asli yang dihimpun oleh Zaid pada zaman Khalifah Abu Bakar? Menurut Hadits diriwayatkan bahwa tatkala dilaporkan kepada Sayyidina ‘Utsman tentang adanya macam-macam qirâ’at, satu-satunya tindakan yang beliau ambil ialah mengambil naskah yang dibuat pada zaman khalifah Abu Bakar, dan menyuruh menyalin beberapa naskah untuk disiarkan. Jadi, turunan Naskah Qur’an yang dibuat atas perintah beliau adalah turunan naskah yang asli dan benar yang dihimpun oleh Sayyidina Abu Bakar, yang sebagaimana kita maklum, disimpan oleh Siti Khafsah, setelah Sayyidina ‘Umar wafat. Di antara orang yang disuruh menyalin naskah itu ialah Sahabat Zaid sendiri. Untuk menghilangkan perbedaan dialek atau cara menulis ayat yang mungkin timbul, Sayyidina ‘Utsman memerintahkan agar yang dipakai ialah logat Quraisy, bukan logat lain. Tetapi satu-satunya contoh yang disebutkan dalam Hadits tentang perbedaan qirâ’at ialah bahwa ada perkataan yang menurut Sahabat Zaid dibaca tabuh, sedangkan golongan Quraisy membaca tabut, yang hanya berbeda sedikit tentang cara menulis huruf terakhir perkataan itu, sedangkan artinya tak berubah sama sekali; perbedaan kecil itu dianggap begitu penting sehingga itu dilaporkan kepada Sayyidina ‘Utsman untuk mendapat keputusan. Dengan demikian, kami mempunyai bukti yang tak dapat disangkal lagi bahwa turunan naskah Qur’an yang dibuat dan disiarkan atas perintah Sayyidina ‘Utsman adalah turunan naskah yang betul dan benar yang dihimpun oleh Sahabat Zaid pada zaman Khalifah Abu Bakar. Jika seandainya ada perbedaan antara naskah asli dan naskah turunan, pasti akan ketahuan pada zaman Khalifah ‘Utsman yang cukup lama atau pada zaman Khalifah ‘Ali, tatkala kaum Muslimin berpecah-belah menjadi beberapa golongan, sedangkan naskah asli masih berada di tangan Siti Khafsah. Orang-orang yang membunuh Khalifah ‘Utsman, mudah sekali mengemukakan dalih tentang adanya perbedaan antara naskah Siti Khafsah dan naskah turunan yang dibuat atas perintah beliau. Tetapi tak ada satu Hadits pun yang menerangkan adanya tuduhan terhadap Khalifah ‘Utsman, bahkan orang-orang yang membunuh beliau pun tak melancarkan tuduhan semacam itu.

Tindakan Khalifah ‘Utsman membakar semua naskah yang tak resmi dibenarkan oleh semua pihak

Jika tindakan Sayyidina ‘Utsman membakar semua naskah yang tak resmi itu dianggap tindakan sewenang-wenang, niscaya para Sahabat tak akan membenarkan tindakan itu. Akan tetapi mereka bukan saja membenarkan tindakan beliau, melainkan pula melaksanakan perintah itu dengan segala keikhlasan hati. Dari daerah Syria telah disampaikan permohonan agar beliau selekas mungkin menghentikan qirâ’at yang berlainan, dan ini tak mungkin beliau lakukan terkecuali dengan menyiarkan naskah Qur’an yang resmi dihimpun oleh Sayyidina Abu Bakar, dan melarang semua naskah yang tak resmi, yang barangkali dibuat dengan kurang hati-hati, atau mungkin mengandung qirâ’at yang berlainan. Sayyidina ‘Utsman mengambil langkah itu bukanlah tanpa musyawarah dengan para Sahabat. Sayyidina ‘Ali meriwayatkan hal itu:

“Jangan berkata tak baik terhadap Sayyidina ‘Utsman, karena beliau mengambil tindakan keras terhadap naskah Qur’an yang tak resmi, setelah beliau mengadakan musyawarah dengan kami. Beliau berkata kepada kami: Bagaimana pendapat anda tentang qirâ’at itu? Saya mendapat laporan bahwa sebagian orang berkata kepada sebagian yang lain: qirâ’atku lebih baik dariapda qirâ’at anda. Saya berpendapat bahwa ini termasuk bid’ah. Lalu kami bertanya kepada beliau, tindakan apakah yang beliau anggap baik untuk mengakhiri perkara itu? Beliau menjawab bahwa sebaiknya orang-orang harus dipersatukan dalam qirâ’at. Kami semua menyetujui tindakan tiu dengan sepenuh hati” (FB IX, hal. 16).

 

Jadi Sayyidina ‘Utsman baru bertindak setelah beliau mengadakan musyawarah dengan para Sahabat.

Diriwayatkan bahwa panitia yang mengawasi salinan naskah Qur’an terdiri dari duabelas anggota. Antara lain Sahabat Zaid, Ubayya bin Ka’b, Anas bin Malik, ‘Abdullah bin ‘Abbas, dan lain-lain. Mula-mula anggota panitia terdiri dari empat orang, tetapi kemudian ditambah; agaknya ini disebabkan karena jumlah naskah yang diperlukan jauh lebih besar dari jumlah naskah yang mula-mula direncanakan. Satu-satunya Sahabat yang terkenal pengetahuannya tentang Qur’an tetapi tak dimasukkan sebagai anggota panitia ialah Ibnu Mas’ud, tetapi pengecualian itu bukan disebabkan karena prasangka terhadap beliau, melainkan karena beliau tinggal di Kufah, yang letaknya jauh dari Madinah. Sayyidina ‘Utsman baru melaksanakan pekerjaan itu setelah bermusyawarah dengan para Sahabat; dan setelah itu dilaksanakan dengan sempurna, para Sahabat mengesahkan tindakan beliau. Menurut suatu Hadits, Mus’ab bin Sa’ab berkata, bahwa tatkala Sayyidina ‘Utsman menyuruh membakar semua naskah yang tak resmi, beliau menjumpai banyak Sahabat, dan mereka amat puas dengan tindakan itu, dan tak seorang pun yang tak menyetujui hal itu (FB IX, hal. 18). Sebenarnya yang menyebabkan cemasnya Sayyidina ‘Utsman dan para Sahabat bukanlah karena adanya qirâ’at yang berlainan saja, melainkan pula karena terjadinya perselisihan akibat qirâ’at yang berlainan itu; hal ini diterangkan oleh Sayyidina ‘Ali dalam riwayat tersebut di atas.

Mushaf (Teks Qur’an) yang ada sekarang ini benar-benar sama seperti mushaf yang diwariskan oleh Nabi Suci

Pekerjaan menghimpun tulisan naskah Qur’an dilakukan oleh Sayyidina Abu Bakar setelah Nabi Suci wafat. Adapun Sayyidina ‘Utsman hanya menyuruh menyalin sejumlah teks naskah yang diperlukan dari naskah yang dihimpun oleh Sayyidina Abu Bakar. Sayyidina ‘Utsman mengerjakan itu setelah bermusyawarah dengan para Sahabat, dan untuk melaksanakan dan mengawasi pekerjaan menyalin naskah itu, beliau menggunakan orang-orang mulia yang amat menonjol pengetahuannya tentang Qur’an Suci. Turunan naskah yang dibuat atas perintah Sayyidina ‘Utsman diakui oleh kaum Muslimin di seluruh dunia sebagai naskah Qur’an yang benar. Musuh nomor satu Sayyidina ‘Utsman yang memenggal leher beliau yang ketika itu sedang membaca Qur’an, dan yang kemudian memegang tampuk kekuasaan, tak pernah melancarkan tuduhan bahwa beliau mengubah Qur’an Suci. Beliau hanya dipersalahkan karena menyuruh membakar naskah Qur’an yang tak resmi. Bahkan selama pemerintahan Khalifah ‘Ali, tak seorang pun dapat menunjukkan bahwa ada perkataan Qur’an Suci yang tak ditulis oleh Sayyidina ‘Utsman, dan Sayyidina ‘Ali sendiri menyatakan bahwa beliau menyalin beberapa naskah Qur’an dari naskah resmi yang disiarkan oleh Sayyidina ‘Utsman.

Jadi, kemurnian teks Qur’an dibuktikan seterang-terangnya. Naskah Qur’an yang dihimpun oleh Sayyidina Abu Bakar adalah salinan yang sebenarnya dari wahyu yang ditulis di hadapan Nabi Suci, yang cocok segala-galanya, baik teksnya maupun susunannya, dengan Qur’an yang tersimpan dalam ingatan para Sahabat: turunan naskah yang disiarkan oleh Sayyidina ‘Utsman adalah naskah yang benar dan cocok dengan naskah yang dihimpun oleh Sayyidina Abu Bakar, dan selama tigabelas abad, naskah itu tetap diakui sebagai naskah yang tak mengalami perubahan sedikit pun.

Beda-bedanya Qirâ’at

Arti beda-bedanya qirâ’at

Orang berkata bahwa beda-bedanya qirâ’at mengganggu kemurnian teks Qur’an karena dua hal. Pertama, dikatakan bahwa qirâ’at yang diizinkan Nabi Suci, dihapus oleh Sayyidina ‘Utsman. Dengan dihapusnya beberapa qirâ’at itu, sebagian teks asli ikut hilang. Kedua, adanya macam-macam qirâ’at yang lazim pada waktu itu, sukar sekali ditentukan dengan pasti, qirâ’at manakah yang asli dan sah. Sebenarnya, ini timbul karena salah mengerti tentang arti qirâ’at yang bertalian dengan ayat Qur’an; demikian pula karena tak dapat membedakan antara harf dan qirâ’at, jika digunakan dalam arti ‘membaca’. Oleh karena itu, perlu kami bahas lebih dahulu apakah sebenarnya yang dimaksud dengan beda-bedanya qirâ’at itu.

Pertama kali hendaklah diingat bahwa kata Arab yang digunakan oleh Hadits dalam arti qirâ’at ialah harf. Kata harf artinya dialek, logat atau cara membaca, khusus bagi segolongan bangsa Arab (LL). Inilah arti kata harf yang digunakan dalam Hadits yang menerangkan beda-bedanya qirâ’at. Lane menambahkan keterangan: “Dalam Hadits, Muhammad berkata bahwa Qur’an itu diturunkan menurut tujuh qirâ’at (sab’atu ahruf) dari dialek bangsa Arab, artinya menurut tujuh macam cara membaca; oleh sebab itu dikatakan bahwa: orang itu membaca menurut cara Ibnu Mas’ud”. Kutipan ini menunjukkan bahwa beda-bedanya qirâ’at yang diuraikan dalam Hadits, terjadi karena beda-bedanya dialek, yang menyebabkan terjadinya cara membaca yang berlain-lainan oleh berbagai kabilah.

Hadits tentang beda-bedanya qirâ’at

Menurut Hadits, izin membaca Qur’an dengan qirâ’at lain, diberikan pada waktu banyak kabilah Arab memeluk Islam, yaitu menjelang berakhirnya hidup Nabi Suci. Bukti yang tak dapat dibantah lagi tentang hal itu diriwayatkan dalam Hadits Bukhari 66:5, yang menerangkan bahwa Sayyidina ‘Umar dikejutkan oleh Hisyam, yang memeluk Islam setelah jatuhnya kota Makkah, yang membaca ayat dengan qirâ’at yang berlainan. Memang benar bahwa lebih dari sembilan logat Quraisy. Adapun beda-bedanya qirâ’at itu hanya diperlukan untuk kabilah yang bodoh-bodoh yang berbondong-bondong memeluk Islam, yang bahasanya juga bahasa Arab, tetapi dalam mengucapkan kata-katanya berbeda sedikit dengan logat Quraisy yang murni. Contoh tentang perbedaan itu telah kami berikan di muka. Orang Quraisy berkata hatta, tetapi orang Hudhail berkata ‘atta, walaupun dua perkataan itu sama artinya, yakni hingga. Contoh lain ialah kata ta’lamun yang oleh kabilah Asad dibaca ti’lamun; Yasin dibaca Asin (47:15); Hamzah (salah satu huruf abjad) dibaca oleh orang Tamimi, tetapi tak dibaca oleh orang Quraisy; dan sebagainya (FB IX, hal. 25)

Untuk memperkuat keterangan tersebut, di bawah ini kami kutip uraian ulama zaman permulaan:

“Qur’an Suci diturunkan menurut logat Quraisy, dan bangsa Arab dari kabilah ini, demikian pula bangsa-bangsa tetangganya, berbicara dengan bahasa Arab murni; lalu kepada kabilah Arab yang lain, diizinkan membaca menurut ucapan mereka, yang sejak kecil sudah menjadi kebiasaan mereka, dan yang dalam mengucapkan beberapa perkataan dan huruf hidup, mereka berbeda dengan bahasa Arab murni. Oleh karena itu, tak seorang pun dipaksa menggantikan kebiasaan mereka dengan ucapan yang lain, karena dengan demikian, mereka akan mengalami banyak kesukaran; demikian pula karena penghargaan mereka terhadap bahasa sendiri, memudahkan mereka memahami arti kalimat yang mereka baca. Semua itu dengan syarat tak mengubah arti maknanya.” (FB IX, hal. 24)

 

Hadits yang membahas masalah itu menerangkan, mengapa Nabi Suci mengizinkan qiraat yang bermacam-macam; dan dalam garis besar, alasan itu sesuai dengan apa yang diterangkan di atas. Misalnya, menurut salah satu Hadits, Nabi Suci minta kepada Malaikat supaya ‘memudahkan Qur’an’ bagi umat beliau; ini menunjukkan bahwa umat beliau mengalami kesukaran dalam membaca Qur’an menurut ucapan yang bukan ucapan mereka (Ms 6:13, Fadla’ilil-Qur’ân). Menurut hadits lain, beliau berkata bahwa umat beliau ‘tak sanggup mengerjakan itu’ (Ms 6:13). Dengan perkataan lain, seluruh kabilah Arab tak dapat membaca Qur’an dengan satu dialek. Menurut Hadits ketiga, beliau mohon keringanan untuk umat beliau, yang intinya umat beliau bodoh-bodoh, dan di antara mereka terdapat orang-orang tua, anak-anak, dan orang yang belum pernah membaca Kitab (Tr. Abwabul-qirâ’at). Oleh sebab itu, mereka diizinkan membaca beberapa perkataan menurut logat mereka. Ada satu Hadits yang diakhiri dengan kalimat: oleh karena itu, bacalah Qur’an menurut cara yang kamu anggap mudah (B 66:5); ini membuktikan bahwa izin membaca Qur’an dengan dialek yang berlainan dengan dialek Quraisy, dimaksud utnuk memberi keringanan kepada segolongan umat.

Sampai seberapa jauh diizinkan membaca Qur’an dengan berbagai macam dialek, bukanlah persoalan penting. Sebagaimana telah kami berikan contohnya dalam Hadits, perbedaan itu amatlah kecil, dan pada umumnya tak begitu penting. Dengan berpegang teguh pada landasan bukti sejarah, sepanjang yang dapat kami capai, kami tak mengingkari bahwa dalam hal tertentu, perkataan dari suatu dialek dapat diucapkan dengan dialek lain yang senada, jika dialek itu tak mempunyai perkataan yang asli. Inilah yang dimaksud oleh satu Hadits yang menerangkan bahwa dalam hal-hal tertentu, menyatakan arti suatu perkataan dengan kata-kata lain yang sama artinya, diizinkan. Misalnya dalam suatu Hadits diberikan satu contoh tentang penggunaan kata-kata ta’ali, halumma, dan aqbil, yang semuanya berarti mari. Ini bukanlah masalah beda-bedanya qirâ’at dalam Qur’an Suci, melainkan hanya satu contoh yang menunjukkan apakah sebenarnya sifat perbedaan itu. Perbedaan lainnya menurut dialek itu tak begitu penting, sebab hanya menyangkut perubahan jabar-jar saja. Dengan demikian, tak mengubah makna sama sekali. Perbedaan ucapan memang ada, tetapi perbedaan makna tak ada sama sekali.

Beda-bedanya qirâ’at bukan bagian teks Qur’an Suci

Selanjutnya hendaklah diingat bahwa beda-bedanya qirâ’at bukan sekali-kali merupakan bagian teks Qur’an, dan bukan pula dimaksud untuk selama-lamanya. Keadaan darurat yang menyebabkan diizinkannya qirâ’at yang berlainan ini hanya bersifat sementara dan terbatas pada suatu tempat. Beda-bedanya qirâ’at itu tak sekali-kali mengubah teks asli Qur’an Suci. Dalam shalat jama’ah, Nabi Suci tak pernah membaca Qur’an dengan logat lain selain logat Quraisy, karena jika beliau berbuat demikian, niscaya orang seperti Sayyidina ‘Utsman dan Ubayya bin Ka’ab, yang selalu bershalat makmum di belakang Nabi Suci, tak akan marah-marah kepada orang yang membaca Qur’an dengan qirâ’at yang berlainan seperti yang diuraikan dalam Hadits. Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh Nabi Suci, menjadi bukti bahwa penggunaan qirâ’at yang berlainan itu tak mengubah sama sekali teks Qur’an. Adapun hal lain yang membuktikan bahwa Nabi Suci bermaksud untuk mempertahankan logat Quraisy untuk digunakan selama-lamanya, dan beda-bedanya qirâ’at hanya diizinkan untuk sementara waktu, ini terdapat dalam kenyataan bahwa sekalipun beda-bedanya qirâ’at diizinkan, tulisan Qur’an tak mengalami perubahan.

Tak ada perubahan dalam teks Qur’an

Marilah sekarang kita tinjau masalah kedua. Orang berkata bahwa qirâ’at yang berlainan, yang disebutkan dalam Hadits dan Tafsir, menimbulkan keraguan, teks manakah yang asli. Qirâ’at apa pun yang disebutkan di atas, namun satu hal yang menentukan kemurnian teks Qur’an Suci, ialah bahwa di seluruh dunia tak ada Qur’an yang mempunyai teks yang berlainan. Pada zaman apapun dan di negara mana pun, hanya ada satu Qur’an. Perbedaan qirâ’at yang disahkan di negara mana pun, tak mengubah teks Qur’an yang sudah lazim di kalangan umat Islam. Boleh jadi negara-negara Islam berjauhan satu sama lain, dan boleh jadi kaum Muslimin terpisah satu sama lain, boleh jadi mazhab-mazhab Islam berbeda paham satu sama lain, namun mereka hanya mengikuti satu Qur’an yang sama teksnya, dan tak ada satu mushaf pun yang berlainan teksnya. Sudah tentu ini bukan disebabkan karena usaha suatu Pemerintah Islam, karena memang tak ada Pemerintah yang menguasai seluruh umat Islam di dunia. Selain itu, jika dalam hal qirâ’at Pemerintah tak dapat mempengaruhi sedikit pun, maka tak ada alasan untuk mempercayai bahwa Pemerintah dapat mempengaruhi penulisan teks Qur’an. Oleh sebab itu, jika orang yang dianggap membuat qirâ’at mempunyai penilaian sama seperti penilaian para pengupas zaman sekarang, niscaya mereka akan memasukkan qirâ’at itu dalam naskah yang berbeda artinya, sekalipun hanya sedikit, dengan mushaf yang sudah lazim. Hal ini kami bahas tersendiri dalam buku “The Collection and Arrangement of The Holy Qur’an”. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang beda-bedanya qirâ’at, dan pula tentang bantahan terhadap kemurnian teks Qur’an, kami persilahkan pembaca menelaah buku tersebut. Perlu kami tambahkan di sini, bahwa jika ada orang yang mempunyai pendapat yang bertentangan dengand alil ijma’ para Sahabat, maka dalil ijma’ para Sahabat itulah yang harus diambil. Sebagaimana kami terangkan, Sayyidina ‘Utsman telah melakukan tindakan yang disepakati oleh para Sahabat. Jika sekiranya tuduhan terhadap Sayyidina ‘Utsman bahwa beliau telah menghilangkan suatu ayat, ini dibenarkan, niscaya akan ketahuan setelah beliau wafat. Malahan sebaliknya, orang yang membunuh Sayyidina ‘Utsman tak menghalang-halangi tersiarnya naskah yang berlainan, atau menambahkan Surat atau ayat baru dalam naskah itu. Mereka tak pernah menyatakan bahwa Sayyidina ‘Utsman mengubah salah satu Firman Suci. Setelah jatuhnya kekuasaan Sayyidina ‘Utsman, atau setelah beliau dibunuh dengan kejam oleh para pemberontak, tak ada yang dapat menghalang-halangi penyiaran bagian Qur’an yang tak ditulis oleh Sayyidina ‘Utsman. Berakhirnya pemerintahan Sayyidina ‘Utsman, orang akan melihat tersiarnya bagian Qur’an yang menurut tuduhan mereka, tak ditulis oleh beliau, dan bagian ini pasti telah dimasukkan dalam naskah Qur’an. tetapi sejarah membuktikan bahwa tak ada tanda-tanda sedikit pun tentang terjadinya hal itu. Walaupun ada pertentangan di kalangan mereka dan di kalangan berbagai mazhab, namun mereka hanya menggunakan satu Qur’an yang sama segala-galanya.

Di dunia Islam hanya ada satu Qur’an

Kadang-kadang ada yang menuduh bahwa golongan Syi’ah menganggap Qur’an tak lengkap. Penjelasan berikut ini yang diambil dari buku Life of Muhammad karya Sir William Muir yang mengetengahkan dan menjawab persoalan itu, sudah cukup menjawab tuduhan itu:

“Lalu seandainya kami mempunyai teks Qur’an Sayyidina ‘Utsman yang tak diubah, kami tetap bertanya apakah teks itu salinan yang sebenarnya dari naskah yang dihimpun oleh Zaid, dengan sedikit penertiban variasi yang tak penting. Ada alasan penuh untuk mempercayai bahwa keadaannya memang demikian. Tak ada satu Hadits sahih pun yang menaruh prasangka terhadap Sayyidina ‘Utsman bahwa beliau telah mengubah Qur’an untuk memperkuat tuntutannya. Memang kaum Syi’ah di belakang hari menuduhnya tak memasukkan suatu Surat atau ayat yang menguntungkan Sayyidina ‘Ali. Tetapi ini tak mungkin. Tatkala naskah Sayyidina ‘Utsman selesai disiapkan, antara golongan Umayyah dan golongan ‘Ali tak ada perpecahan. Persatuan Islam masih utuh. Tuntutan kekhalifahan Sayyidina ‘Ali masih belum berkembang. Oleh sebab itu tak ada hal-hal yang dapat dituduhkan kepada Sayyidina ‘Utsman bahwa beliau melakukan perbuatan yang menyakitkan hati, yang oleh kaum Muslimin dianggap sebagai titik hitam. Lagi pula, pada waktu dilakukan penyalinan, para Sahabat yang hafal Qur’an masih hidup, dan mereka mendengar sendiri secara langsung dari sumber aslinya. Jadi seandainya ayat yang menguntungkan Sayyidina ‘Ali itu benar-benar ada, niscaya ayat itu dimiliki oleh sejumlah besar pengikut Sayyidina ‘Ali, yang dua-duanya merupakan sumber pengecekan yang mantap terhadap setiap usaha untuk membuang ayat itu. Selanjutnya, setelah Sayyidina ‘Utsman wafat, golongan Sayyidina ‘Ali mengambil sikap bebas, dan mengangkat beliau sebagai Khalifah. Apakah masuk akal, bahwa setelah golongan Sayyidina ‘Ali berkuasa, mereka akan membiarkan saja Qur’an yang dikurangi ayatnya, yang terang-terangan dikurangi untuk melenyapkan tuntutan kekhilafatan pemimpin mereka? Tetapi nyatanya, mereka selalu menggunakan Qur’an yang sama seperti yang digunakan oleh lawan mereka, dan tak mengajukan keberatan sedikit pun atas hal itu.

 

Perlu kami tambahkan di sini kata-kata seorang mufassir golongan Syi’ah, Mullah dan Muhsin, yang dalam Tafsir Shafi menerangkan:

“Beberapa orang dari golongan kami dan orang-orang Hasywiyah melaporkan bahwa di dalam Qur’an ada ayat yang dihilangkan dan diubah. Tetapi kepercayaan kawan-kawan kami yang benar bertentangan dengan itu, dan inilah kepercayaan yang dianut oleh golongan terbesar. Oleh karena itu, mukjizat Nabi Suci dan sumber segala ilmu yang berhubungan dengan Syari’at dan perintah agama, dan para ulama telah bersusah payah untuk mengamankan Qur’an, sampai tak ada lagi yang mereka tak tahu tentang jabar-jar, qirâ’at, huruf dan ayat-ayatnya. Dengan usaha kerang untuk melindungi dan mengamankan Qur’an (oleh segenap kaum Muslimin), tak mungkin dituduhkan bahwa ada yang dihilangkan atau diubah” (hal. 14)

 

Penulis tafsir tersebut melanjutkan keterangannya:

“Qur’an benar-benar dihimpun dan disusun pada zaman Nabi Suci dan ini sama seperti yang kita punyai sekarang ini. Kesimpulan ini kami tarik dari adanya kenyataan bahwa Qur’an dibaca dan dihafalkan secara keseluruhan, dan ada segolongan Sahabat yang tugasnya menghafal Al-Qur’an. Dan ini dibacakan pula secara keseluruhan (oleh Malaikat) kepada Nabi Suci”.

Lembaran-lembaran Dr. Mingana

Sebelum kami mengakhiri uraian kami, perlu kami tambahkan sedikit keterangan tentang apa yang oleh Dr. Mingana dianggap sebagai penemuan besar, berupa Lembaran-lembaran dari tiga Qur’an kuno. Ini hanyalah lembaran, bukan naskah Qur’an yang lengkap, bahkan bukan pula naskah yang berisi bagian Qur’an; konon lembaran itu dibeli Dr. Agnes Lewis Mingana di toko barang-barang antik, yang dikatakan berisis beberapa ayat Qur’an. Kapan ayat itu ditulis dan siapa penulisnya, tak diterangkan oleh Dr. Mingana. Semua keterangan yang menerangkan bahwa lembaran itu ditulis sebelum zaman Sayyidina ‘Utsman adalah dugaan belaka, yang dengan gegabah dikatakan sebagai ‘kenyataan’. Perbedaan-perbedaan apakah yang terdapat di dalamnya?

ada beberapa perkataan yang ditulis dengan cara berlainan;

ada beberapa kelainan (semuanya ada tiga);

ada tiga yang hilang, huwa, kâffah, dan mâ lakum di tiga tempat; dan

ada satu tambahan, yaitu kata Allâh.

Berdasarkan penemuan itu, mereka menuduh dengan gegabah bahwa Sayyidina ‘Utsman mengubah teks Qur’an Suci, padahal jika ditinjau sepintas lalu, ‘lembaran’ itu malahan merupakan bukti tambahan bahwa teks Qur’an itu satu, dan sama, dan tetap sama, karena lembaran itu tak memperlihatkan adanya ayat atau bagian ayat yang dihilangkan, ditambahkan, atau diganti, atau diubah susunan Suratnya atau susunan ayatnya, demikian pula lembaran itu tak memperlihatkan adanya ayat yang disalah-tempatkan. Sebenarnya, bagian Qur’an yang terdapat dalam lembaran itu, sama dengan teks Qur’an yang sudah lazim. Jika terdapat perbedaan, itu hanya disebabkan karena orang yang menulisnya belum berpengalaman. Memang dalam membuat salinan, pasti terdapat kesalahan-kesalahan, maka untuk menghindari kesalahan itu Sayyidina ‘Utsman menyuruh membuat salinan naskah yang resmi, sehingga semua naskah yang dibuat harus dicocokkan dengan naskah resmi, dengan demikian, semua kesalahan yang ditemukan dalam ‘lembaran’ tersebut adalah kesalahan menulis, karena orang yang menulis itu belum berpengalaman, sebagaimana terbukti dalam teks yang diberikan oleh Dr. Mingana: misalnya di sana

dan sebagainya. Hal ini jelas kesalahan menulis, atau barangkali jabar-jar atau sebagian hurufnya terhapus karena berkali-kali tergilas. Sungguh menggelikan sekali berbantah tentang kemurnian teks Qur’an berdasarkan lembaran yang tersesat, yang berisi tulisan yang tak terang asal-usulnya, yang tak terpakai karena pernah dihapus dan diganti dengan tulisan yang berlainan sama sekali. Adapun perbedaan teks yang dituduhkan itu dapat diterangkan secara singkat, bahwa sebagian disebabkan karena salah menulis, sebagian lagi karena koyaknya lembaran pada waktu mengulang tulisan itu, sebagian lagi karena ditulis silang-menyilang, dan sebagian lagi, barangkali, karena bacaan Dr. Mingana sendiri amat diragukan. []

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *