Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home / Al-Quran / 020 Tha Ha

020 Tha Ha

SURAT 20

Tha Ha

(Diturunkan di Makkah, 8 ruku’, 135 ayat)

Mukaddimah Surah Buka

 

Ruku’ 1: Nabi Musa dipanggil

Dengan nama Allah, Yang Maha-pemurah, Yang Maha-pengasih.

 

1. Wahai manusia.1573

 

2. Kami tak menurunkan Qur’an kepada engkau agar engkau celaka.1574

 

3. Melainkan itu adalah peringatan bagi orang yang takut.

 

4. Wahyu Dari Tuhan Yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.1575

 

5. Tuhan Yang Maha-pemurah, Yang bersemayam di atas Singgasana.

 

6. Apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi dan apa saja yang ada di antaranya dan apa saja yang ada di bawah tanah adalah kepunyaan-Nya.1576

 

7. Dan apabila engkau mengeluarkan ucapan yang keras, maka sesungguhnya Dia itu tahu akan yang rahasia dan yang lebih tersembunyi.1577

 

8. Allah — tak ada Tuhan selain Dia. Ia mempunyai nama-nama yang indah.

 

9. Apakah riwayat Musa telah sampai kepada engkau?

 

10. Tatkala ia melihat api, ia berkata kepada keluarganya: Tinggallah (sebentar), aku melihat api; boleh jadi aku akan membawa kepada kamu api yang menyala di sana, atau aku mendapat petunjuk pada api itu.1578

 

11. Maka setelah ia tiba di situ, terdengarlah panggilan: Wahai Musa,

 

12. Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah terumpahmu, sesungguhnya engkau berada di lembah suci Thuwa;1579

 

13. Dan Aku telah memilih engkau maka dengarlah apa yang diwahyukan.

 

14. Sesungguhnya Aku adalah Allah, tak ada Tuhan selain Aku, maka mengabdilah kepada-Ku dan tetapilah shalat untuk mengingat Aku.

 

15. Sesungguhnya Sa’ah segera datang — Aku hampir-hampir mewujudkan itu1580— agar tiap-tiap jiwa mendapat balasan mengenai apa yang ia usahakan.

 

16. Maka janganlah orang yang tak beriman kepada itu dan mengikuti keinginan rendahnya, memalingkan engkau dari-padanya, agar engkau tak binasa.

 

17. Dan apakah itu yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?

 

18. Ia berkata: Ini tongkatku; aku bersandar atas itu, dan aku menyambit daun-daun dengan itu untuk kambingku, dan banyak keperluan lain yang aku memakai itu.

 

19. Ia berfirman: Lemparlah itu, wahai Musa.

 

20. Maka ia melempar itu. Tiba-tiba itu adalah ular yang merayap.1581

 

21. Ia berfirman: Ambillah itu, jangan takut. Kami akan mengembalikan itu pada keadaan semula.

 

22. Tekankanlah tanganmu pada lambungmu, dan itu akan keluar berwarna putih tanpa noda, sebagai tanda bukti yang lain.1582

 

23. Agar Kami perlihatkan kepada engkau sebagai tanda bukti Kami yang besar.

 

24. Pergilah kepada Fir’aun; sesungguhnya dia itu melanggar batas.
 

Ruku’ 2: Nabi Harun pergi kepada Nabi Musa dan Fir’aun

 

25. Ia berkata: Tuhanku, lapangkanlah dadaku,

 

26. Dan mudahkanlah urusanku

 

27. Dan lepaskanlah simpul dari lidahku,1583

 

28. (Agar) mereka dapat mengerti ucapanku.

 

29. Dan berilah aku seorang pembantu dari keluargaku.1584

 

30. Harun, saudaraku.

 

31. Tambahkanlah kekuatanku, karena dia.

 

32. Dan buatlah dia memikul sebagian tugasku.

 

33. Sehingga kami dapat memahasucikan Dikau sebanyak-banyaknya.

 

34. Dan mengingat-ingat Engkau sebanyak-banyaknya.

 

35. Sesungguhnya Engkau senantiasa melihat kami.

 

36. Ia berfirman: Sesungguhnya permintaanmu telah dipenuhi, wahai Musa.

 

37. Dan sesungguhnya Kami di lain waktu telah menganugerahkan kenikmatan kepada engkau.

 

38. Tatkala Kami wahyukan kepada ibumu sesuatu yang diwahyukan.

 

39. Taruhlah dia dalam peti, lalu lemparlah itu dalam sungai, dan sungai akan melemparkan itu ke tepi, yang akan diambil oleh seorang musuh-Ku dan juga musuhnya. Dan Aku akan menumpahkan kecintaan kepada engkau dari Aku; dan agar engkau dibesarkan di hadapan penglihatan-Ku.1585

 

40. Tatkala saudara perempuan dikau pergi dan berkata: Bolehkah kutunjukkan kepada kamu seorang yang akan mengasuh dia? Maka engkau Kami pulangkan kepada ibumu agar penglihatannya sejuk dan ia tak merasa susah.1586 Dan engkau telah membunuh seseorang, lalu engkau Kami selamatkan dari kesusahan, dan Kami menguji engkau dengan berbagai ujian. Lalu engkau bertinggal bertahun-tahun pada seorang keluarga di Madian. Lalu engkau datang kemari seperti telah ditentukan, wahai Musa.1587

 

41. Dan Aku memilih engkau untuk-Ku sendiri.

 

42. Pergilah engkau dan saudara dikau dengan mengemban ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu lalai dalam mengingat-ingat Aku.

 

43. Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun. Sesungguhnya dia itu melanggar batas.

 

44. Lalu berkatalah kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut; mudah-mudahan ia akan memperhatikan atau takut.

 

45. Mereka berkata: Tuhan kami, kami khawatir kalau-kalau ia akan terburu berbuat jahat kepada kami atau berbuat yang melanggar batas.

 

46. Ia berfirman: Jangan takut. Sesungguhnya Aku menyertai kamu — Aku mendengar dan melihat.

 

47. Pergilah kepadanya dan berkatalah: Sesungguhnya kami Utusan Tuhan dikau; maka lepaskanlah kaum Bani Israil bersama kami, dan janganlah engkau menyiksa mereka. Sesungguhnya kami datang kepada engkau dengan tanda bukti (sebagai Utusan) dari Tuhan dikau. Dan damai bagi orang yang mengikuti petunjuk.

 

48. Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksaan akan dijatuhkan kepada orang yang mendustakan dan berpaling.1588

 

49. Ia (Fir’aun) berkata: Siapakah Tuhan kamu, wahai Musa?

 

50. Tuhan kami ialah Tuhan Yang memberi segala sesuatu sesuai terciptanya, lalu memberi petunjuk (kepadanya).1589

 

51. Ia (Fir’aun) berkata: Lalu bagaimanakah keadaan generasi yang sudah-sudah?

 

52. Ia (Musa) berkata: Ilmu tentang itu ada pada Tuhanku dalam sebuah kitab. Tuhanku tak akan salah dan tak pula lupa.

 

53. Tuhan Yang telah membuat bumi untuk kamu sebagai hamparan, dan membuat jalan di sana untuk kamu, dan menurunkan air dari awan. Lalu dengan itu Kami menumbuhkan berbagai tumbuh-tumbuhan berpasang-pasangan.

 

54. Makanlah dan gembalakanlah ternak kamu. Sesungguhnya itu adalah tanda bukti bagi orang yang mempunyai akal.
 

Ruku’ 3: Nabi Musa dan tukang sihir

 

55. Dari (bumi) itu Kami menciptakan kamu, dan dalam itu Kami mengembalikan kamu, dan dari (bumi) itu Kami mengeluarkan kamu untuk kedua kali.

 

56. Dan sesungguhnya Kami telah memperlihatkan kepadanya ayat-ayat Kami semuanya, tetapi ia mendustakan dan menolak.

 

57. Ia (Fir’aun) berkata: Apakah engkau datang kepada kami untuk mengeluarkan kami dari bumi kami dengan sihir engkau, wahai Musa?

 

58. Maka akan kami datangkan kepada engkau sihir yang seperti itu, maka tetapkanlah perjanjian antara kami dan engkau, yang tak akan kami ingkari, baik kami maupun engkau, di tempat yang netral.

 

59. Ia (Musa) berkata: Perjanjian kamu ialah pada Hari Raya, dan hendaklah orang-orang dikumpulkan pada pagi hari.

 

60. Maka pulanglah Fir’aun dan menentukan rencananya, lalu ia datang lagi.

 

61. Musa berkata kepada mereka: Celaka kamu! Janganlah kamu membuat-buat kebohongan terhadap Allah, agar Ia tak membinasakan kamu dengan siksaan. Dan sungguh rugi orang yang membuat-buat kebohongan.

 

62. Maka mereka saling bertengkar satu sama lain tentang perkara mereka, dan mereka merahasiakan pembicaraan (mereka).

 

63. Mereka berkata: Sesungguhnya dua orang ini adalah tukang sihir yang ingin mengusir kamu dari bumi kamu dengan sihirnya, dan melenyapkan adat kebiasaan kamu yang baik.

 

64. Maka tentukanlah rencana kamu, lalu datanglah dengan berbaris. Dan pada hari ini sungguh akan beruntung orang yang jaya.1590

 

65. Mereka berkata: Wahai Musa, apakah engkau yang akan melempar, ataukah kami yang akan melempar dahulu?

 

66. Ia berkata: Tidak! Lemparlah (dahulu). Maka tiba-tiba tali mereka dan tongkat mereka nampak olehnya seakan-akan merayap karena sihir mereka.1591

 

67. Maka Musa merasa takut dalam jiwanya.1591a

 

68. Kami berfirman: Jangan takut! Sesungguhnya engkaulah yang jaya.

 

69. Dan lemparlah apa yang ada di tangan kanan dikau — ia akan menelan apa yang mereka buat. Apa yang mereka buat adalah tipu muslihat tukang sihir; dan tukang sihir tak akan menang, dari mana pun mereka datang.

 

70. Maka para tukang sihir merebahkan diri sambil bersujud; mereka berkata: Kami beriman kepada Tuhannya Harun dan Musa.

 

71. Ia (Fir’aun) berkata: Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepada kamu? Sesungguhnya ia adalah pemimpin kamu yang mengajar sihir kepada kamu. Maka akan kupotong tangan kamu dan kaki kamu berselang-seling, dan kamu akan kusalib pada batang pohon kurma, dan kamu akan tahu siapa di antara kita yang paling dahsyat siksaannya dan paling kekal.

 

72. Mereka berkata: Kami tak akan memilih engkau di atas apa yang datang kepada kami tentang tanda bukti yang terang, dan di atas Tuhan Yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang engkau putuskan. Engkau hanya menjatuhkan keputusan tentang kehidupan dunia ini saja.

 

73. Sesungguhnya kami beriman kepada Tuhan kami agar Ia mengampuni kami segala kesalahan kami, dan (kesalahan tentang) sihir yang engkau paksakan kepada kami. Dan Allah itu ialah Yang paling baik dan paling kekal.

 

74. Sesungguhnya barangsiapa menghadap Tuhannya sebagai orang dosa, ia akan memperoleh Neraka. Di sana ia tak mati dan tak hidup.1592

 

75. Dan barangsiapa menghadap Tuhannya sebagai orang mukmin yang telah berbuat kebaikan, mereka akan memperoleh derajat yang tinggi.

 

76. Surga yang kekal yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka menetap di sana. Dan itulah ganjaran orang yang menyucikan diri.
 

Ruku’ 4: Bangsa Israil menyembah anak sapi

 

77. Sesungguhnya Kami mewahyukan kepada Musa: Berangkatlah dengan hamba-hamba-Ku pada malam hari, dan temukanlah untuk mereka jalan yang kering di laut, dan janganlah takut tersusul, dan jangan pula merasa gentar.1593

 

78. Maka Fir’aun dan balatentaranya menyusul mereka, lalu lautan meliputi mereka menenggelamkan mereka.

 

79. Dan Fir’aun menyesatkan orang-orangnya, dan tak menunjukkan (jalan yang benar).

 

80. Wahai kaum Bani Israil, sesungguhnya Kami telah menyelamatkan kamu dari musuh kamu, dan telah membuat perjanjian dengan kamu di sisi gunung yang diberkahi, dan menurunkan kepada kamu manna dan burung puyuh.

 

81. Makanlah sebaik-baik barang yang Kami rezekikan kepada kamu, dan janganlah melampaui batas tentang hal itu, agar murka-Ku tak menimpa kamu; dan barangsiapa tertimpa murka-Ku, maka ia sungguh-sungguh binasa.

 

82. Dan sesungguhnya Aku adalah Yang Maha-pengampun terhadap orang yang bertobat dan beriman dan berbuat baik, lalu ia mengikuti jalan yang benar.

 

83. Dan apakah yang membuat engkau tergesa-gesa mendahului kaum dikau, wahai Musa?

 

84. Ia berkata: Itulah mereka mengikuti jejakku; dan aku cepat-cepat menghadap Engkau, Tuhanku, agar engkau berkenan kepadaku.1594

 

85. Ia berfirman: Sesungguhnya Kami menguji kaum dikau sepeninggal engkau, dan Samiri telah menyesatkan mereka.1595

 

86. Maka Musa kembali kepada kaumnya dengan marah, duka-cita. Ia berkata: Wahai kaumku, bukankah Tuhan kamu telah menjanjikan kepada kamu dengan janji yang baik? Apakah masa perjanjian itu terlalu lama bagi kamu, ataukah kamu ingin agar murka dari Tuhan kamu menimpa kamu, sampai-sampai kamu ingkar janji kepadaku?

 

87. Mereka berkata: Kami tak ingkar janji kepada engkau atas kemauan kami, tetapi karena kami disuruh mengangkut beban yang terdiri dari perhiasan orang-orang, lalu kami melempar itu, dan demikianlah Samiri menyarankan.1596

 

88. Lalu ia keluarkan untuk mereka seekor anak sapi, berbentuk tubuh yang mempunyai suara, lalu mereka berkata: Ini adalah tuhan kamu dan tuhannya Musa; tetapi ia lupa.1597)

 

89. Apakah mereka tak melihat bahwa itu tak memberi jawaban kepada mereka, dan tak merugikan dan tak pula menguntungkan mereka?1598
 

Ruku’ 5: Kesudahan penyembah anak sapi

 

90. Sesungguhnya sebelum itu Harun telah berkata kepada mereka: Wahai kaumku, kamu hanyalah diuji tentang itu, dan sesungguhnya Tuhan kamu ialah Tuhan Yang Maha-pemurah, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku.1599

 

91. Mereka berkata: Kami tak sekali-kali akan menghentikan penyembahan kepada itu sampai Musa kembali kepada kami.

 

92. Ia (Musa) berkata: Wahai Harun, apakah yang menghalang-halangi engkau (untuk bertindak), tatkala engkau melihat mereka tersesat?

 

93. Apakah engkau tak mau mengikuti aku? Apakah engkau mendurhakai perintahku?

 

94. Ia (Harun) berkata: Wahai putra ibuku, janganlah engkau pegang janggutku, dan jangan pula kepalaku. Sesungguhnya aku khawatir, jangan-jangan engkau akan berkata: Engkau telah membuat perpecahan di kalangan kaum Bani Israil, dan engkau tak mau menantikan ucapanku.

 

95. Ia (Musa) berkata: Apakah tujuanmu wahai Samiri?

 

96. Ia (Samiri) berkata: Aku melihat apa yang mereka tak melihatnya, maka aku mengambil segenggam dari jejak Utusan, lalu aku melempar itu. Demikianlah jiwaku menghiasi itu kepadaku.1600

 

97. Ia (Musa) berkata: Pergilah! Sesungguhnya bagi engkau dalam kehidupan ini harus engkau ucapkan: Janganlah menyentuh aku. Dan bagi engkau adalah janji yang tak akan diingkari. Dan pandanglah tuhan dikau yang tak henti-hentinya engkau sembah. Kami pasti akan membakar itu, lalu kami serak-serakkan itu di lautan.1601

 

98. Tuhan kamu hanyalah Allah saja, Yang tak ada tuhan selain Dia. Ilmu-(Nya) meliputi segala sesuatu.

 

99. Demikianlah Kami kisahkan kepada engkau pekabaran tentang hal yang sudah lampau. Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada engkau Peringatan (Qur’an) dari Kami sendiri.

 

100. Barangsiapa berpaling dari itu (Qur’an), maka ia akan memikul beban pada hari Kiamat.

 

101. Mereka menetap di sana. Dan buruk sekali beban mereka pada hari Kiamat.

 

102. Pada hari tatkala terompet ditiup; dan pada hari itu Kami akan menghimpun orang-orang berdosa, bermata biru.1601a

 

103. Mereka saling berbisik-bisik antara mereka: Kami hanya tinggal selama sepuluh hari.1602

 

104. Kami tahu benar apa yang mereka katakan, tatkala orang yang paling jujur alirannya berkata: Kamu hanya tinggal selama sehari.1603
 

Ruku’ 6: Musuh Nabi Suci

 

105. Mereka bertanya kepada engkau tentang gunung. Katakanlah: Tuhanku akan menyerak-nyerakkan itu, bagaikan debu yang berserakan.

 

106. Lalu Ia jadikan itu tanah datar yang rata.1604

 

107. Engkau tak melihat di situ yang tinggi dan yang rendah.

 

108. Pada hari itu mereka akan mengikuti orang yang mengajak yang tak mempunyai hati yang serong; dan suara-suara begitu lemah di hadapan Tuhan Yang Maha-pemurah, sehingga engkau tak mendengar apa-apa selain hanya bisik-bisik.1605

 

109. Pada hari itu syafa’at tak ada faedah-nya, kecuali orang yang mendapat izin Tuhan Yang Maha-pemurah, dan yang ucapannya mendapat perkenan-Nya.

 

110. Ia tahu apa yang ada di depan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang pengetahuan mereka tak dapat meliputi itu.

 

111. Dan wajah-wajah akan menunduk di hadapan Tuhan Yang Maha-hidup, Yang Maujud sendiri. Dan sungguh rugi orang yang berlaku tak adil.

 

112. Dan barangsiapa berbuat baik dan ia itu mukmin, maka ia tak khawatir akan diperlakukan tidak adil, dan tak khawatir pula akan dikurangi haknya.

 

113. Dan demikianlah Kami menurunkan Qur’an bahasa Arab, dan di dalamnya Kami terangkan dengan jelas ancaman-ancaman agar mereka menjaga diri dari kejahatan, atau agar itu menjadi peringatan bagi mereka.

 

114. Maha-luhur Allah, Raja, Yang Maha-benar. Dan janganlah tergesa-gesa (membaca) Qur’an sebelum wahyunya disempurnakan (pembacaannya) kepada engkau. Dan berkatalah: Tuhanku, berilah aku tambahan ilmu.1606

 

115. Sesungguhnya Kami dahulu telah memberi perintah kepada Adam, tetapi ia lupa; dan Kami tak menemukan dia orang yang mengambil keputusan (untuk mendurhaka).1607
 

Ruku’ 7: Godaan setan

 

116. Dan tatkala Kami berfirman kepada malaikat: Bersujudlah kepada Adam; mereka bersujud, kecuali iblis, mereka menolak.

 

117. Maka Kami berfirman: Wahai Adam, sesungguhnya ini adalah musuh bagi engkau dan bagi istri engkau, maka janganlah sekali-kali ia mengusir kamu dari Surga sehingga engkau (mengalami hidup) celaka.

 

118. Sesungguhnya engkau di sana tak akan kelaparan dan tak pula telanjang.

 

119. Dan di sana engkau tak akan dahaga dan tak pula kepanasan oleh terik matahari.1608

 

120. Tetapi setan membisikkan pikiran jahat kepadanya dan berkata: Wahai Adam, maukah engkau kutunjukkan pohon kekekalan dan kerajaan yang tak mengalami kerusakan?

 

121. Maka (Adam dan istrinya) makan sebagian itu, lalu kelihatanlah oleh mereka aib mereka, dan mereka mulai menutupi diri mereka dengan daun-daunan Surga. Dan Adam mendurhaka terhadap Tuhannya, dan ia merasa kecewa.1609

 

122. Lalu Tuhannya memilih dia, maka Ia kembali (kasih sayang) kepadanya dan memberi petunjuk.

 

123. Ia berfirman: Pergilah dari sana, kamu sekalian; sebagian kamu adalah musuh sebagian yang lain. Maka sesungguhnya akan datang kepada kamu petunjuk dari-Ku; lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tak akan sesat dan tak pula akan celaka.

 

124. Dan barangsiapa berpaling dari Peringatan-Ku, maka sesungguhnya ia akan mengalami kehidupan yang sempit, dan ia akan Kami bangkitkan pada hari Kiamat buta.1610

 

125. Ia berkata: Wahai Tuhanku, mengapa aku Engkau bangkitkan dengan mata yang buta? Padahal aku dahulu melihat?

 

126. Ia berfirman: Demikianlah telah datang kepada engkau ayat-ayat Kami, tetapi engkau melupakan itu. Dan demikianlah engkau pada hari ini dilupakan.

 

127. Dan demikianlah Kami membalas orang yang berlebih-lebihan dan tak beriman kepada ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya siksaan di Akhirat itu paling berat dan paling kekal.

 

128. Apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka berapa banyak generasi sebelum mereka, yang berjalan di tempat tinggal mereka, yang telah Kami binasakan. Sesungguhnya dalam itu adalah tanda bukti bagi orang yang berakal.
 

Ruku’ 8: Siksaan pasti dijatuhkan

 

129. Dan sekiranya tak ada firman dari Tuhan dikau yang telah mendahului, dan tak ada pula batas waktu yang telah ditentukan, niscaya (siksaan) itu telah menimpa mereka.

 

130. Maka bersabarlah atas apa yang mereka ucapkan, dan mahasucikanlah Tuhan dikau dengan memuji (Dia) sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, dan mahasucikanlah (Dia) selama waktu malam dan sebagian waktu siang, agar engkau berkenan di hati.1610a

 

131. Janganlah meregangkan mata engkau kepada apa yang Kami berikan kepada berbagai golongan di antara mereka, berupa keindahan kehidupan dunia, agar dengan itu Kami menguji mereka. Dan rezeki Tuhan dikau itu lebih baik dan lebih kekal.

 

132. Dan suruhlah umatmu supaya menjalankan shalat, dan tetap mantap menjalankan itu. Kami tak minta rezeki kepada engkau. Kami memberi rezeki kepada engkau. Dan akibat baik adalah kepunyaan orang yang bertaqwa.

 

133. Dan mereka berkata: Mengapa ia tak membawa kepada kami tanda bukti dari Tuhannya? Apakah belum datang kepada mereka tanda bukti yang terang tentang apa yang ada dalam Kitab Suci yang sudah-sudah?1610b

 

134. Dan jika sebelum ini mereka Kami binasakan dengan siksaan, niscaya mereka berkata: Tuhan kami, mengapa Engkau tak mengutus Utusan kepada kami, sehingga kami dapat mengikuti risalah Engkau, sebelum kami tertimpa kehinaan dan mendapat malu.

 

135. Katakanlah: Setiap orang menanti, maka menantilah. Kamu akan segera tahu, siapa yang mengikuti jalan yang rata dan siapa yang mendapat petunjuk.

  1. Thâ Hâ adalah gabungan dua huruf Arab thâ dan hâ, menurut I’Ab dan para mufassir kenamaan lainnya, merupakan perkataan yang artinya Wahai manusia. AH mengutip dua bait sya’ir dari kabilah ‘Akk yang menerangkan bahwa menurut dialek mereka, thâ hâ adalah kalimat terkenal yang artinya wahai manusia, sehingga orang dari kabilah itu tak akan menjawab jika ia dipanggil yâ rajûlu, tetapi ia akan segera menjawab jika ia dipanggil thâ hâ. Penulis itu juga menerangkan bahwa thâ hâ adalah salah satu nama Nabi Suci. Menurut mufassir lain, thâ hâ berarti pula tenanglah (T, LL), suatu kata hiburan bagi Nabi Suci. []
  2. Artinya, tak mungkin Nabi Suci, yang kepadanya Qur’an diturunkan, akan dibiarkan tak berhasil dalam melaksanakan pembangunan umat yang untuk itulah Qur’an diturunkan. Disamping sebagai hiburan, ayat ini meramalkan seterang-terangnya, bahwa bukan saja di Tanah Arab, melainkan pula di seluruh dunia, akan terjadi perubahan raksasa, karena hal ini merupakan tujuan utama yang sejak semula akan dilaksanakan oleh Qur’an. []
  3. Qur’an tak mungkin mengalami kegagalan, karena Qur’an perwujudan Kehendak Allah Yang berkuasa atas segala sesuatu. []
  4. []
  5. Yang rahasia ialah apa yang dirahasiakan dalam hati, dan yang lebih tersembunyi ialah apa yang ada dalam bawah sadar (subconcious mind). Baik alam sadar (concious) maupun alam bawah sadar, dua-duanya diketahui oleh Allah. []
  6. Sebagaimana diterangkan dalam ayat berikutnya, pada peristiwa inilah Nabi Musa menerima Wahyu Ilahi, dan beliau melihat api itu pun sebagian dari Wahyu (yang lazim disebut kasysyaf –pent.) yang ia lihat dengan mata rohani. Di tempat lain, Qur’an menerangkan bahwa manusia menerima Wahyu dengan tiga cara (42:51), dan orang yang menerima wahyu dengan tiga cara itu selalu diberi indra khusus yang digunakan untuk mendengar, merasakan atau melihat sesuatu. Lihatlah tafsir nomor 2235. []
  7. Perintah supaya menanggalkan terumpah, ini adalah kalam ibarat agar Nabi Musa mengosongkan hatinya dari urusan keluarga dan harta (Bd). Menurut mufassir lain: “Itu adalah perintah untuk bertinggal; sama halnya seperti jika kamu menyuruh seseorang untuk bertinggal, kamu berkata: Tanggalkanlah pakaianmu dan sepatumu dan sebagainya” (T, LL).
    Sebagian mufassir mengira bahwa thuwâ adalah nama lembah. Sebagian lagi menerangkan bahwa arti kata thuwâ ialah dua kali diberkahi. R mempunyai pendapat ketiga, yakni kata thuwâ yang makna aslinya digulung, ini diucapkan sehubungan dengan terpilihnya Nabi Musa, sehingga beliau tak perlu susah-payah untuk mencapai tujuan yang besar itu. []
  8. Kata ikhfâ adalah salah satu perkataan yang mempunyai dua arti yang berlawanan, menyembunyikan atau membuka persembunyian (LL). Menilik konteks ayat ini, terang sekali bahwa kata ikhfâ tak berarti menyembunyikan. Mengingat yang dibicarakan di sini ialah datangnya Sa’ah dan diberikannya ganjaran dan dijatuhkannya siksaan, maka terang sekali bahwa kata ikhfâ di sini berarti membuka tabir atau membabarkan Sa’ah. Hendaklah diingat bahwa kata sa’ah tak selamanya harus berarti Kiamat. Sebaliknya, kata sa’ah acapkali mengandung arti jatuhnya siksaan, yaitu saat lenyapnya kebesaran dan kekuasaan suatu bangsa. []
  9. Semua itu benar-benar dialami oleh Nabi Musa dalam keadaan istimewa, yang hanya dialami oleh orang yang menerima wahyu pada waktu ia menerima wahyu. Lihatlah tafsir nomor 926. Pada waktu itu apa yang diperlihatkan kepada Nabi Musa mengandung arti yang dalam. Lihat ayat 23, yang di sana diterangkan bahwa tujuan memperlihatkan tanda bukti ialah, agar Kami perlihatkan kepada engkau sebagian tanda bukti Kami yang besar. Jadi dua tanda bukti yang disebutkan di sini, sebenarnya menunjukkan sesuatu yang besar. Secara kiasan, kata ‘ashâ berarti umat; lihatlah tafsir nomor 96. Oleh sebab itu, tongkat yang ditampakkan kepada beliau menjadi ular yang merayap, ini mengandung arti bahwa umat beliau, yakni Bangsa Israil, yang telah dijadikan budak oleh Raja Fir’aun, tak lama lagi akan menjadi bangsa yang hidup. []
  10. Menilik apa yang diuraikan di atas, kata-kata yâdun baidla juga mempunyai arti yang dalam. Kata yâdun baidla yang makna aslinya tangan yang putih ini mengandung arti dalil yang terang-benderang (T), dan berarti pula bukti atau bukti yang ditunjukkan, atau hujjah atau tanda bukti (LL). Adapun arti kata yang dalam ialah, hujjah Nabi Musa akan menang. []
  11. Orang hanya mencari-cari tafsiran yang tak wajar jika orang yang kaku lidahnya atau gugup kata-katanya disebabkan lidahnya terbakar. Kata ‘uqdatul-lisân artinya lidah yang kasap atau kasar (LA). Orang yang mempunyai ‘uqdah (simpul) dalam lidahnya, itu disebut ‘âqid, artinya orang yang gagap kata-katanya, tak mampu bicara dengan santai (LL). []
  12. Kata wazîr (berasal dari kata wizr maknanya beban), makna aslinya orang yang memikul beban. Oleh sebab itu berarti pembantu, karena seorang pembantu memikul beban orang lain. Wazîr dapat pula diterjemahkan menteri mengingat bahwa kata itu banyak digunakan dalam arti menteri kerajaan. []
  13. Ini cocok dengan uraian Kitab Bibel. Nabi Musa dilahirkan pada waktu Raja Fir’aun memerintahkan semua bayi yang lahir dari Bangsa Israil supaya ditenggelamkan di sungai Nil. Ibu Nabi Musa dapat menyembunyikan beliau selama tiga bulan, tetapi karena tak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, akhirnya beliau dilempar ke sungai ditaruh di dalam perahu-perahuan yang dibuat dari kerucut (Scirpus mucronatus). Lalu dipungut oleh putri Raja Fir’aun (Kitab Keluaran 2:1-10). []
  14. Lihat Kitab Keluaran 2:7-9. []
  15. Lihat Kitab Keluaran 2:11-15. []
  16. Ini mengandung peringatan yang terang kepada Raja Fir’aun bagaimana kesudahan dia jika dia menolak Nabi Musa dan Nabi Harun diutus supaya menyampaikan risalah Tuhan. Di sini tak diterangkan bagaimana kepergian beliau kepada Raja Fir’aun dan bagaimana beliau menyampaikan risalah itu. Ayat berikutnya menerangkan jawaban Raja Fir’aun terhadap tuntutan Nabi Musa dan Nabi Harun. []
  17. Ayat ini menerangkan perlunya Wahyu Ilahi. Sebagaimana Allah telah menciptakan segala sesuatu, lalu diberinya sifat dan sarana-sarana yang dengan itu mereka dapat mencapai kesempurnaan, — itulah arti hadaa, yakni memimpin menuju kepada kesempurnaan — demikian juga manusia membutuhkan petunjuk rohani dan akhlak untuk mencapai kesempurnaan. []
  18. []
  19. Kekuatan (sihir) yang tidak benar memang untuk sementara waktu nampak unggul, tetapi itu akan lenyap dengan segera. Lihatlah tafsir nomor 69, dan bandingkanlah dengan 7:117 yang di sana diterangkan bahwa tali dan tongkat mereka digambarkan sebagai barang bohong.
    1591a Nabi Musa takut kalau orang-orang tertipu. []
  20. Orang-orang yang ada di Neraka tak hidup, karena rohani mereka mati, dan mereka tak pula mati, karena jika mereka mati, ini berarti siksaan mereka selesai. []
  21. Ini menunjukkan bahwa pada saat itu terdapat jalan kering di laut. Lihatlah tafsir nomor 82. []
  22. []
  23. Ayat ini menunjukkan bahwa bukan Harun, melainkan orang lain yang bertanggung jawab tentang pembuatan anak sapi. Menurut kepustakaan Yahudi, terang sekali bahwa orang-orang Mesir yang menyertai kaum Yahudi, itulah yang mula-mula sekali menuntut dibuatkan anak sapi (Lihatlah Jewish Enc. artikel Calf). Imam ‘Atha, berdasarkan tulisan I’Ab, berpendapat bahwa Samiri adalah orang Mesir yang beriman kepada Nabi Musa dan ikut bersama-sama kaum Bani Israil. Pendapat bahwa Samiri tergolong orang yang dahulunya menyembah sapi, ini juga terdapat dalam tulisan I’Ab (Rz). []
  24. Sebagaimana diterangkan dalam Kitab Keluaran 12:35, boleh jadi kaum Bani Israil meminjam perhiasan dari orang-orang Mesir, dan boleh jadi perhiasan itulah yang diisyaratkan dalam ayat ini. Atau boleh jadi hanya berarti suku pengembara dari kaum Bani Israil yang tak biasa memakai perhiasan, mereka menghirup kebiasaan itu dari orang-orang Mesir, lalu mereka menyerahkan perhiasan itu atas saran Samiri. Jawaban kaum Bani Israil bahwa mereka melakukan itu bukan atas kemauan sendiri; oleh sebab itu, apa yang diisyaratkan pada penutup ayat ialah, bahwa saran-saran itu dimasukkan dalam hati orang-orang oleh Samiri. Kata-kata alqâhu ‘alaîh artinya, ia memasukkan itu dalam hatinya atau ia menyarankan itu (LL). []
  25. Menurut I’Ab, anak sapi emas itu tak dapat bersuara dan tak pula mempunyai roh, tetapi yang dikeluarkan oleh anak sapi emas itu hanyalah suara angin yang masuk melalui lubang angin yang terdapat pada anak sapi emas itu (JB []
  26. Alasan yang dikemukakan oleh ayat ini menunjukkan bahwa Allah bukan saja mendengarkan doa orang yang benar-benar mengabdi kepada-Nya, melainkan pula mengijabahi doa mereka jika mereka berdoa kepada-Nya. []
  27. Dari uraian ini terang sekali bahwa Nabi Harun bukan saja tak terlibat dalam pembuatan anak sapi emas, melainkan beliau telah menyuruh kaumnya supaya menghentikan penyembahan anak sapi emas itu. Di sini Qur’an berlawanan dengan kitab Bibel. []
  28. Dongeng yang dikemukakan oleh kebanyakan mufassir sehubungan dengan ayat ini adalah tidak benar dan tanpa dasar yang kuat, dan Imam Raghib pun tak mempercayai dongengan semacam itu. Ternyata yang dimaksud Rasul di sini ialah Nabi Musa sendiri; adapun yang dimaksud atsar (jejaknya) ialah sunnah Nabi Musa, yakni sabdanya dan tingkah lakunya; mengenai arti ini sekalian mufassir sama pendapatnya (LL), karena sunnah sudah dikenal sebagai literatur di kalangan kaum Muslimin. Adapun yang dimaksud qabadl ialah mengambil atau mengikuti sebagian sunnah itu, karena kata qabdlatan hanya mengandung arti sekali pengambilan atau hanya segenggam, artinya hanya sebagian kecil saja. Orang yang membuat anak sapi emas mau mengaku terus terang bahwa ia mempunyai pengamatan yang tajam terhadap sesuatu melebihi pengamatan kaum Bani Israil; ia mengaku pula bahwa ia hanya mengambil sebagian saja dari ajaran Nabi Musa, dan mengakui pula bahwa ajaran itu telah ia lempar, dan ia membuat anak sapi untuk disembah. []
  29. Ini menunjukkan bahwa abu anak sapi emas yang telah dibakar itu dilempar ke laut, oleh karena itu, dongengan bahwa kaum Bani Israil disuruh minum air yang dicampur dengan abu anak sapi emas tidaklah dibenarkan oleh Qur’an. Lihatlah tafsir nomor 137. Di sini Bibel bertentangan lagi dengan Qur’an; lihatlah Kitab Keluaran 32:20 dan kitab Kejadian 9:21. Adapun hukuman yang dijatuhkan kepada Samiri ialah ia diasingkan dari masyarakat dan dilarang mengadakan hubungan apa pun dengan kaum bani Israil. []
  30. 1601a Kata zurqun artinya bermata biru. Menurut Bd, mata biru adalah mata Bangsa Rum atau Bangsa Yahudi dan Romawi yang amat dibenci oleh Bangsa Arab, yang menganggap bahwa warna biru, adalah warna yang paling buruk untuk mata. Tetapi kata zurqun dapat pula berarti buta. Ini dihubungkan dengan uraian Qur’an, bahwa orang-orang berdosa akan dibangkitkan pada hari Kiamat dengan mata yang buta. Lihatlah tafsir nomor 124.
    Di sini pelengkap kata ‘asyrun (sepuluh) dihilangkan. Tetapi, sebagaimana disebutkan di tempat lain dalam Qur’an, orang-orang yang mencintai keduniawian digambarkan mempunyai keinginan untuk diberi umur seribu tahun (2:96), maka rupa-rupanya ayat ini mengandung arti bahwa mereka akan mengalami hidup sejahtera selama sepuluh abad. Atau apabila yang dimaksud di sini ialah sepuluh hari, maka sepuluh hari bagi kehidupan suatu bangsa, juga berarti sepuluh abad. []
  31. Karena satu hari itu sama dengan seribu tahun. Qur’an berfirman: “Dan mereka mohon kepada engkau supaya mempercepat siksaan, dan Allah tak sekali-kali mengingkari janji-Nya. Dan sesungguhnya satu hari itu menurut Tuhan dikau seperti seribu tahun menurut perhitungan kamu” (22:47). Orang yang memperingatkan mereka akan janji Tuhan disebut orang yang paling jujur jalannya. []
  32. Kata jabâl artinya gunung dan berarti pula kepala atau pemimpin rakyat (LL). Arti jabâl di sini ialah pemimpin rakyat, ini terang dari hubungan ayat ini dengan ayat di muka dan di belakangnya; lihatlah ayat 108 yang berbunyi: “Pada hari itu mereka akan mengikuti orang yang mengajak”. Demikian pula dua ayat berikutnya (106 dan 107) juga harus diartikan demikian, dua ayat ini mengandung arti disingkirkannya segala macam rintangan yang menghalang-halangi gerak lajunya Kebenaran. []
  33. Yang dimaksud orang yang mengajak yang tak mempunyai hati serong ialah Nabi Muhammad, sebagaimana diterangkan di tempat lain: “Yang menurunkan Kitab kepada hamba-Nya, dan tak membuat dia bengkok (serong)” (18:1). Seluruh ayat mengisyaratkan seterang-terangnya pada zaman tatkala Islam telah berdiri setegak-tegaknya, yang pada saat itu tak ada perlawanan lagi, malahan diganti dengan suara-suara yang lemah di hadapan Tuhan Yang Maha-pemurah. Lemahnya suara mengandung arti berserah diri. []
  34. Tak sangsi lagi Nabi Suci menginginkan agar beliau diberitahu bagaimana terlaksananya pembangunan besar itu, dan bilamana berakhirnya perlawanan hebat yang beliau hadapi. Boleh jadi beliau juga menginginkan agar peringatan terhadap musuh dibuat terang lagi, agar musuh dapat mengambil faedah dari peringatan itu. Di sini Nabi Suci diberitahu agar jangan tergesa-gesa dengan janji yang dijanjikan dalam Qur’an. Proses terlaksananya janji itu tahap demi tahap, dan pada saat itu hendaklah beliau berdoa supaya diberi tambahan ilmu, karena dengan melalui ilmulah pembangunan besar harus dilaksanakan. Sebenarnya, di sini kita diberitahu bahwa jika ilmu Kebenaran itu tersiar di dunia, maka terjadilah perubahan besar, dan perlawanan akan berakhir. Bahkan pada dewasa ini pun pembangunan rohani dapat terlaksana dengan penyiaran ilmu Qur’an, satu-satunya kekuatan rohani yang pernah disaksikan oleh dunia, dan oleh karena dunia buta akan kekuatan rohani Qur’an, dunia terus berada dalam kegelapan. Kini kewajiban para penganut Al-Qur’an adalah supaya berdoa: Berilah nur!. []
  35. Digunakannya kata nasiya di sini yang berarti ia lupa, menunjukkan seterang-terangnya bahwa bukanlah maksud Adam untuk mendurhaka kepada Allah atau mengambil keputusan (untuk mendurhaka). []
  36. Surga yang digambarkan dalam ayat ini adalah Surga dunia, dimana segala kesenangan yang dibutuhkan oleh manusia dicukupi semua. Kata-kata di sana engkau tak akan kelaparan, itu harus diselaraskan dengan apa yang diuraikan di tempat lain: “Dan makanlah di sana makanan yang melimpah mana saja kamu suka (2:35). Secara kiasan, ini menggambarkan keadaan yang penuh ketenteraman dan kepuasan, dimana orang tak menginginkan lagi kebaikan atau keburukan, tanpa mengalami susah payah atau mempunyai pamrih. []
  37. Kata ghawâ artinya menjadi rusak penghidupannya (R). Kata ghawâ berarti pula ia merasa kecewa atau ia berbuat seperti orang bodoh (LL).
    Hendaklah diingat, bahwa gambaran Surga seperti tersebut dalam ayat 118 dan 119 menyebutkan empat macam keadaan, tetapi jika orang keluar dari keadaan itu akibatnya hanya satu, yaitu, kecenderungan orang kepada kejahatan atau aibnya jadi kelihatan. Hal ini dijelaskan di dalam 7:26: “Wahai para putra Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu pakaian untuk menutupi aib kamu, dan pakaian untuk keindahan, dan pakaian yang menjaga diri dari kejahatan. Inilah yang paling baik”. Jadi yang dibicarakan di sini ialah pakaian yang menjaga diri dari kejahatan. Adapun yang dimaksud aibnya jadi kelihatan ialah, orang menjadi sadar bahwa ia menjalankan perbuatan buruk. Jadi cerita Adam yang berulang-ulang diuraikan dalam Qur’an itu bersifat rohani, sebagaimana diuraikan di sini (ayat 123 dan 124) dan pula dalam 2:38. Ini menunjukkan bahwa tema yang terkandung dalam cerita Adam ialah aspek kehidupan rohani manusia, bukan aspek kehidupan lahiriyah. []
  38. Orang yang menutup mata terhadap Peringatan akan mengalami kehidupan yang sempit karena ia tak mendapat berkah rohani. Hanya jiwa yang tenteram saja yang merasakan kesenangan dan kepuasan, dan ketenteraman jiwa itu hanya diperoleh dengan iman kepada Allah.
    1610a Nabi Suci disuruh sabar untuk sementara waktu dalam menghadapi segala macam fitnah, tetapi disamping itu, beliau juga disuruh mencari hiburan dalam shalat. Dan pada waktu beliau menghadapi fitnah yang paling berat, beliau benar-benar menemukan hiburan dalam shalat. Dalam satu Hadits beliau bersabda: “Mataku merasa sejuk dalam shalat” (Msy. 25). Dalam ayat ini diuraikan lima shalat fardu, dan dua shalat sunnat. Shalat sebelum matahari terbit ialah shalat Subuh, dan shalat sebelum matahari terbenam ialah shalat ‘Ashar. Shalat Maghrib, ‘Isya dan shalat tahajjud (shalat tahajjud adalah shalat sunnat), ini semua dilakukan pada malam hari, sedang shalat Zhuhur dan shalat Dluha ini dilakukan pada siang hari (shalat Dluha adalah shalat sunnat, yaitu shalat dua raka’at pada pagi hari).
    1610b Di sini Qur’an disebut tanda bukti yang terang tentang apa yang ada dalam Kitab Suci yang sudah-sudah, karena Qur’an memenuhi segala ramalan dan memperkuat Kebenaran yang ada pada Kitab-kitab tersebut.[] []

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *