Breaking News
Home / Mukaddimah / Toleransi Islam

Toleransi Islam

Sikap Lapang Dada terhadap Agama Lain

Beriman kepada semua Nabi

Toleransi Islam. Salah paham yang sudah umum dan berurat berakar ialah bahwa Qur’an mengajarkan sikap yang tidak toleran, dan bahwa Nabi Muhammad saw. menyiarkan agama dengan pedang di tangan yang satu, dan Qur’an di tangan yang lain. Pengertian yang salah itu tak boleh berlarut-larut. Ajaran pokok agama Islam tentang iman kepada sekalian Nabi, sudah cukup sebagai sanggahan terhadap tuduhan palsu itu. Jiwa besar dan lapang dada yang bukan saja mengajarkan supaya mencintai dan menghormati sekalian pendiri agama di dunia, melainkan pula supaya beriman kepada mereka, tak mungkin mengerut menjadi sikap tak toleran terhadap mereka. Sebenarnya, kata toleransi belumlah cukup untuk menggambarkan sikap lapang dada agama Islam terhadap agama-agama lain. Islam mengajarkan kecintaan yang sama terhadap semua Nabi, penghormatan yang sama terhadap semua Nabi, dan iman yang sama kepada semua Nabi.

Tak ada paksaan dalam Agama

Selanjutnya, sikap tak toleran tak mungkin dialamatkan kepada Kitab yang tidak membenarkan sama sekali adanya paksaan di lapangan agama. Dengan kata-kata yang tegas Qur’an berfirman: “Tak ada paksaan dalam agama” (2:256). Sebenarnya, dalam Qur’an terdapat banyak ayat yang menerangkan bahwa memeluk agama ini atau itu adalah urusan pribadi orang-seorang, dan ia diberi kebebasan memilih jalan ini atau jalan itu; jika ia memilih yang benar, ini akan menguntungkan ia sendiri, dan jika ia memilih yang salah, ini akan merugikan ia sendiri. Di bawah ini kami kutipkan beberapa ayat:

“Sesungguhnya telah Kami tunjukkan jalan kepadanya; ia boleh berterima kasih dan boleh pula tak terima kasih.” (76:3)

“Dan katakanlah, Kebenaran itu dari Tuhan kamu; maka barangsiapa suka, ia boleh beriman, dan barangsiapa suka, ia boleh menolak.” (18:29)

“Sesungguhnya tanda bukti yang terang telah datang kepada kamu dari Tuhan kamu; maka barangsiapa melihat, ini adalah untuk kebaikan dia sendiri; dan barangsiapa yang membuta, ini adalah kerugian dia sendiri.” (6:104)

“Jika kamu berbuat baik, kamu berbuat baik untuk jiwa kamu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, ini untuk kerugian jiwa (kamu sendiri).” (17:7)

Mengapa perang diizinkan

Memang benar bahwa kaum Muslimin diizinkan perang, tetapi apakah tujuan perang kaum Muslimin? Bukan untuk memaksa kaum kafir supaya memeluk Islam, karena hal ini bertentangan dengan prinsip lapang dada yang hingga sekarang dijunjung tinggi oleh Islam. Adapun tujuannya ialah untuk menegakkan kebebasan beragama, untuk menghentikan segala macam fitnah dan penindasan terhadap agama, untuk melindungi rumah-rumah ibadah agama apa saja, termasuk pula masjid. Di bawah ini kami kutipkan beberapa ayat:

“Dan sekiranya tak ada tangkisan Allah atas serangan sebagian manusia terhadap sebagian yang lain, niscaya akan ditumbangkan rumah-rumah biara, dan gereja-gereja dan kanisah-kanisah dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak diingat nama Allah.” (22:40)

“Dan berperanglah melawan mereka sampai tak ada lagi penindasan dan (sampai) agama itu kepunyaan Allah semata-mata.” (2:193; 8:39)

 

Dalam keadaan bagaimanakah kaum Muslimin diizinkan perang? Setiap orang yang mempelajari sejarah agama Islam tahu bahwa Nabi Suci dan para Sahabat ditindas sehebat-hebatnya semenjak Islam mulai memperoleh tempat berpijak di Makkah; lebih dari seratus Sahabat hijrah ke Abesinia, namun penindasan semakin bertambah hebat. Akhirnya, kaum Muslimin hijrah ke Madinah; tetapi di sanapun mereka tak dibiarkan begitu saja; kaum kafir Quraisy segera mengangkat senjata untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Qur’an menerangkan peristiwa itu sebagai berikut:

“Izin perang diberikan kepada mereka yang diperangi, karena mereka dianiaya. Dan sesungguhnya Allah itu Kuasa untuk menolong mereka. Yaitu yang diusir dari tempat kediaman mereka tanpa alasan yang benar selain karena mereka berkata: Tuhan kami ialah Allah.” (22:39-40)

 

Kemudian Qur’an menggariskan persyaratan sebagai berikut:

“Dan berperanglah di jalan Allah terhadap mereka yang memerangi kamu, dan janganlah melampaui batas, karena Allah tak mencintai orang yang melampaui batas.” (2:190)

 

Qur’an Suci hanya mengizinkan perang untuk menyelamatkan umat dari penindasan kaum lalim; oleh karena itu Qur’an menggariskan persyaratan, jika tak ada lagi penindasan, perang harus dihentikan:

“Tetapi jika mereka berhenti, maka sesungguhnya Allah itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha-pengasih. Dan perangilah mereka sampai tak ada lagi penindasan.” (2:192-193)

 

Apabila musuh mengusulkan perdamaian, harus diterima, sekalipun tujuan musuh hanya untuk menipu kaum Muslimin:

“Dan jika mereka cenderung ke arah perdamaian, maka engkau juga harus cenderung ke arah itu. Dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dia itu Yang Maha-mendengar, Yang Maha-tahu. Dan jika mereka bermaksud hendak menipu engkau, maka sesungguhnya Allah itu sudah cukup bagi engkau.” (8:61-62)

 

Nabi Suci membuat perjanjian perdamaian dengan musuh; di antara perjanjian yang beliau buat ialah gencatan senjata Hudaibiyah yang termasyhur, yang kata-katanya bukan saja merugikan, melainkan pula mengandung penghinaan terhadap kaum Muslimin. Menurut perjanjian itu:

“Apabila orang kafir, karena memeluk Islam, berpindah ke tempat kaum Muslimin, ia harus dikembalikan, tetapi jika orang Islam berpindah ke tempat kaum kafir, ia tak dikembalikan kepada kaum Muslimin.”

 

Kalimat perjanjian itu menutup segala macam alasan untuk menggunakan kekuatan senjata bagi Nabi Suci. Tetapi di samping itu menunjukkan, betapa kuat keyakinan Nabi Suci Suci bahwa kaum Muslimin tak akan kembali menjadi kafir, demikian pula tak seorangpun takut memeluk Islam hanya karena Nabi Suci tak memberi perlindungan kepada mereka. Ternyata ini memang benar, karena bukan saja orang tak mau meninggalkan Islam, melainkan banyak sekali orang berduyun-duyun memeluk Islam; dan karena tak diperkenankan bertinggal di Madinah, mereka membentuk koloni sendiri di daerah netral.

Salah sekali untuk mengira bahwa persyaratan perang tersebut, sewaktu-waktu dapat dihapus. Persyaratan tentang “berperang melawan mereka yang memerangi kamu” tetap berlaku sampai zaman sekarang. Ekspedisi terakhir yang dipimpin oleh Nabi Suci ialah ekspedisi Tabuk yang amat terkenal; dan setiap ahli sejarah tahu bahwa sekalipun Nabi Suci telah menempuh perjalanan yang amat jauh ke Tabuk dengan memimpin tiga puluh ribu tentara, tetapi, tatkala beliau tahu bahwa musuh tak memenuhi persyaratan tersebut di atas, beliau pulang ke Madinah, dan pasukan beliau tak diizinkan menyerang daerah musuh. Surat 9, Al-Bara’ah, yang membahas masalah ini tak ada satu ayat pun yang bertentangan dengan persyaratan itu. Surat itu diawali dengan uraian tentang “kaum musyrik yang membuat perjanjian dengan kamu”, lalu dalam ayat 4 dikecualikan “kaum musyrik yang membuat perjanjian dengan kamu, lalu mereka tak mengecewakan kamu sedikitpun dan tak membantu siapapun untuk melawan kamu”; dengan demikian jelas sekali bahwa Surat Al-Bara’ah hanya menerangkan kaum musyrik yang mula-mula membuat perjanjian dengan kaum Muslimin, lalu mereka melanggar perjanjian, dengan jalan membunuh dan menganiaya kaum Muslimin di manapun mereka berjumpa; ini dinyatakan dengan tegas dalam ayat 10: “Mereka tak menghormati ikatan keluarga dan tak menghormati pula perjanjian dengan kaum mukmin.” Orang-orang itu disebutkan dalam ayat yang diturunkan lebih dahulu: “Mereka orang yang membuat perjanjian dengan engkau, lalu perjanjian itu mereka putuskan di sembarang waktu, dan mereka tak menetapi kewajiban” (8:56). Selanjutnya dalam Surat 9, persyaratan tentang musuh yang mendahului menyerang kaum Muslimin, diulangi lagi dengan tegas: “Apakah kamu tak akan bertempur melawan mereka yang memutuskan perjanjian mereka dan bermaksud mengusir Utusan, dan mereka menyerang kamu lebih dahulu?” (9:13). Jadi, dari awal sampai akhir, Qur’an hanya mengizinkan perang melawan mereka yang mendahului menyerang kaum Muslimin; Qur’an hanya mengizinkan perang untuk membela diri, dan jika ini tak dikerjakan, kaum Muslimin tak dapat hidup; dan dengan tegas Qur’an melarang agresi (menyerang lebih dahulu). Jadi, perang untuk memaksa kaum kafir memeluk Islam adalah dongeng kosong dan isapan jempol belaka, yang tak dikenal oleh Qur’an. Sebenarnya, pihak musuhlah yang melancarkan perang terhadap kaum Muslimin untuk membalikkan mereka dari agama mereka, sebagaimana dijelaskan dalam Qur’an: “Dan mereka tak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka membalikkan kamu dari agama kamu jika mereka dapat” (2:217).

Persahabatan dengan pengikut agama lain

Kadang-kadang orang menuduh bahwa Qur’an melarang hubungan persahabatan dengan para pengikut agama lain. Bagaimana mungkin Kitab Suci yang memperbolehkan pria mengawini wanita yang memeluk agama lain (5:5) tiba-tiba melarang hubungan persahabatan dengan mereka? Hubungan mesra antara suami dan istri adalah hubungan yang paling akrab; dan jika ini diperbolehkan, maka tak ada alasan sedikit pun untuk mengira bahwa hubungan persahabatan secara lain dilarang. Yang benar ialah, larangan bersahabat dengan orang lain, ini pasti bertalian dengan mereka yang sedang dalam keadaan perang dengan kaum Muslimin, dan ini diterangkan dengan jelas dalam Qur’an:

“Allah tak melarang kamu terhadap orang yang tak memerangi kamu karena agama, dan tak mengusir kamu dari tempat kediaman kamu, bahwa kamu bersikap baik terhadap mereka dan memperlakukan mereka dengan adil. Sesungguhnya Allah itu mencintai orang yang bertindak adil. Allah hanya melarang kamu terhadap orang yang memerangi kamu karena agama, dan mengusir kamu dari tempat kediaman kamu dan membantu orang lain dalam mengatur kamu, bahwa kamu bersahabat dengan mereka; dan barangsiapa bersahabat dengan mereka, mereka adalah orang yang lalim” (60:8-9).

Tak ada hukuman bagi perbuatan murtad

Ada salah pengertian lain yang sudah umum yang perlu mendapat perhatian di sini. Pada umumnya orang mengira bahwa Qur’an menjatuhkan hukuman mati terhadap mereka yang murtad dari Islam. Siapa saja yang suka membaca Qur’an pasti tahu bahwa pendapat semacam itu tak ada dasarnya sama sekali. Berulangkali Qur’an membicarakan orang yang kembali menjadi kafir setelah mereka beriman, tetapi Qur’an tak pernah berkata bahwa orang semacam itu harus dibunuh atau dihukum. Di bawah ini kami kutipkan beberapa ayat:

“Barangsiapa di antara kamu berbalik dari agamanya, lalu ia mati selagi kafir — maka ia adalah orang yang sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat.” (2:217)

“Wahai orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu berbalik dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum, yang Dia cinta kepada mereka dan mereka cinta kepada-Nya.” (5:54)

“Sesungguhnya mereka yang kafir setelah mereka beriman, lalu mereka bertambah kafir, tobat mereka tak akan diterima, dan mereka adalah orang yang sesat.” (3:90)

 

Sebaliknya, Qur’an menerangkan tipu muslihat kaum Yahudi yang mula-mula memeluk Islam, lalu mereka berbalik, agar tindakan mereka itu menimbulkan kesan seakan-akan Islam bukanlah agama yang pantas dipeluk (3:72). Rencana semacam itu tak mungkin masuk di kepalanya selama mereka bertinggal di Madinah yang diperintah oleh Pemerintah Islam, jika perbuatan murtad dijatuhi hukuman mati oleh Qur’an. Agaknya salah pengertian itu disebabkan karena adanya kenyataan bahwa setelah mereka murtad, mereka menggabungkan diri dengan musuh, lalu mereka diperlakukan sebagai musuh; atau karena orang murtad itu membunuh orang Islam, lalu ia dihukum mati; jadi ia dihukum mati bukan karena murtad, melainkan karena melakukan pembunuhan.

Originally posted 2014-09-16 06:21:55.

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Power by

Download Free AZ | Free Wordpress Themes