Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home / Mukaddimah / Wahyu Makkiyyah dan Madaniyyah

Wahyu Makkiyyah dan Madaniyyah

Al-Qur’an dan Bagian-Bagiannya

Al-Qur’ân, nama Kitab Suci umat Islam, dicantumkan beberapa kali dalam Kitab itu sendiri (2:185, dsb). Kata Qur’ân adalah mashdar (infinitif) dari kata qara’a, makna aslinya mengumpulkan, dan pula membaca. Mengapa disebut Qur’an, karena Kitab ini berisi kumpulan ajaran agama yang baik-baik, dan pula karena Kitab ini dibaca atau selalu dibaca. Sebenarnya, Kitab ini adalah yang paling banyak dibaca di seluruh dunia. Dengan tegas dinyatakan bahwa Qur’an adalah wahyu Tuhan sarwa sekalian alam (26:192), atau wahyu dari Allah yang Maha-perkasa, Yang Maha-bijaksana (39:1, dsb), dan seterusnya. Qur’an ini diturunkan kepada Nabi Suci Muhammad (47:2), diturunkan dalam kalbu beliau melalui Roh Suci (26:193, 194). Wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Suci dalam bulan Ramadlan (2:185) pada malam ke-25 atau ke-27, yang terkenal dengan Lailatul-Qadar (97:1), dan diwahyukan dalam bahasa Arab (44:58; 43:3).

Gelar dan nama lain

Qur’an menyebut dirinya dengan berbagai nama seperti berikut: Al-Kitâb (2:2), yaitu tulisan yang sudah lengkap; Al-Furqân (25:1), yang membedakan antara kebenaran dan kepalsuan, antara benar dan salah; Adz-Dzikr (15:9), peringatan atau sumber kemuliaan dan keagungan bagi manusia; Al-Mau’izhah (10:57), nasihat; Asy-Syifâ’ (10:57), yang menyembuhkan; Al-Hukm (13:37), keputusan; Al-Hikmah (17:39), kebijaksanaan; al-Hudâ (72:13), yang memimpin atau membuat orang mencapai tujuan; At-Tanzîl (26:192), wahyu; Ar-Rahmah (17:82), rahmat; Ar-Rûh (42:52), roh atau yang memberi hidup; Al-Khaîr (3:104), kebaikan; Al-Bayân (3:138), yang menjelaskan segala sesuatu; An-Ni’mah (93:11), nikmat; Al-Burhan (4:174), tanda bukti yang terang; Al-Qayyim (18:2), yang memelihara; Al-Muhaimin (5:48), penjaga (wahyu yang sudah-sudah); An-Nûr (7:157), cahaya; Al-Haqq (17:81), kebenaran; Hablullâh (3:103), perjanjian Allah. Selain itu Qur’an mempunyai beberapa gelar yang menerangkan sifatnya, seperti: Al-Mubîn (12:1), yang menjelaskan; Al-Karîm (56:77), yang dermawan; Al-Majîd (50:1), yang agung; Al-Hakîm (36:2), yang penuh kebijaksanaan; Al-‘Azîz (41:12), yang perkasa; Al-Mukarramah (80:13), yang termulia; Al-Marfû’ah (80:14), yang tertinggi; Al-Muthahharah (80:14), yang disucikan; Al-‘Ajab (72:1), yang mengagumkan; Mubârak (6:92), yang diberkahi; dan Mushaddiq (6:92), yang membetulkan wahyu yang sudah-sudah.

Bagian-bagiannya

Qur’an dibagi menjadi 114 bab, yang masing-masing disebut sûrat (2:23). Kata sûrat makna aslinya mulia atau derajat tinggi, dan pula tingkat dari sebuah gedung; dan dalam Qur’an, kata sûrat dipakai untuk menamakan bab-babnya, ini disebabkan karena mulianya; atau, jika Qur’an diibaratkan sebuah gedung, Surat itu tingkat-tingkatnya. Surat-surat Qur’an itu tak sama panjangnya, yang terpanjang meliputi seperdua belas Qur’an — 286 ayat — dan yang terpendek hanya berisi tiga ayat. Akan tetapi Surat-surat itu sendiri sudah lengkap, oleh sebab itu disebut kitâb, dan dalam

Qur’an dikatakan berisi banyak kitab: “Lembaran-lembaran suci yang di dalamnya berisi kitab-kitab yang benar” (98:2-3). Surat yang panjang dibagi menjadi beberapa ruku’, dan tiap-tiap ruku’ biasanya membahas satu pokok persoalan; dan ruku’ itu berhubungan satu sama lain. Selanjutnya, tiap-tiap ruku’ berisi beberapa ayat. Kata ayat makna aslinya tanda bukti atau pertanda yang terang, dan dalam hal ini berarti mu’jizat; akan tetapi ayat berarti pula pekabaran atau berita dari Allah, dan arti inilah yang dipakai untuk menamakan ayat Qur’an, wahyu atau undang-undang Ilahi. Kecuali 35 Surat terakhir, Surat Qur’an dibagi menjadi beberapa ruku’, dan jumlah ruku’ yang paling besar dalam satu Surat ialah 40; tiap-tiap ruku’, demikian pula Surat-surat yang terdiri dari satu ruku’ dibagi menjadi beberapa ayat. Jumlah ayat Qur’an seluruhnya ada 6237, atau jika ditambah dengan 113 ayat bismillâh pada tiap-tiap permulaan Surat, jumlah ayatnya menjadi 6350. Untuk memudahkan pembacaan, Qur’an dibagi menjadi 30 bagian yang sama panjangnya, agar para pembaca mudah menyelesaikan bacaannya dalam satu bulan; tiap-tiap bagian disebut juz, dan tiap-tiap juz dibagi lagi menjadi empat manzil, untuk memudahkan para pembaca menyelesaikan bacaannya dalam tujuh hari. Akan tetapi pembagian ini tak ada sangkut-pautnya dengan pokok acara yang dibicarakan dalam Qur’an Suci.

Diturunkan sepotong-sepotong, tetapi dihimpun dan disusun dari permulaan

Qur’an diturunkan sepotong-sepotong (25:32) selama 23 tahun; Surat yang pendek dan sebagian Surat yang agak panjang, pada umumnya diturunkan sekaligus, sedangkan sebagian besar Surat yang panjang dan sebagian kecil Surat yang pendek, diturunkan sampai beberapa tahun lamanya. Dalam praktek, apabila suatu Surat diturunkan dalam beberapa bagian, Nabi Suci, atas petunjuk Ilahi, menyebutkan satu demi satu, di mana suatu ayat harus ditempatkan, dengan demikian, urutan ayat pada tiap-tiap Surat dikerjakan sendiri oleh Nabi Suci. Hal ini akan kami bahas nanti. Demikian pula, setelah sebagian besar Qur’an diturunkan, urutan Surat juga dikerjakan sendiri oleh Nabi Suci. Dalam salah satu wahyu permulaan diterangkan, bahwa pengumpulan dan diturunkannya wahyu termasuk rencana Ilahi: “Sesungguhnya menjadi tanggungan Kami pengumpulan dan pembacaannya” (75:17). Jadi, pengumpulan Qur’an — yaitu mengurutkan ayat dan Surat Qur’an — adalah pekerjaan yang dilakukan sendiri oleh Nabi Suci atas petunjuk Ilahi, dan keliru sekali jika dikira bahwa yang menghimpun Qur’an ialah Sayyidina Abu Bakar atau Sayyidina ‘Utsman, sekalipun kedua-duanya amat berjasa dalam menyiarkan mushaf Qur’an setelah selesai ditulis. Sayyidina Abu Bakarlah yang mula-mula membuat satu mushaf lengkap, dengan menyusun naskah-naskah yang ditulis pada zaman Nabi Suci. Adapun zaman Sayyidina ‘Utsman hanyalah menyuruh menurun beberapa mushaf dari mushaf yang ditulis pada zaman Sayyidina Abu Bakar, dan menyiarkan itu ke pusat-pusat perguruan Islam, sehingga mereka yang berhasrat menulis Qur’an, dapat menurun dari mushaf standar. Jadi, teks Qur’an itu dilindungi kesuciannya, tak mengalami perubahan dan kerusakan, sesuai janji Tuhan yang diterangkan dalam salah satu wahyu permulaan: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Peringatan dan sesungguhnya Kami adalah Penjaganya” (15:9). Tentang hal kesucian Teks Qur’an akan kami bahas seluas-luasnya dalam bab khusus.

Wahyu Makkiyyah dan Madaniyyah

Qur’an dibagi menjadi Wahyu Makkiyyah dan Madaniyyah. Dari waktu 23 tahun, yaitu jangka waktu turunnya seluruh Qur’an yang 13 tahun dilewatkan oleh Nabi Suci di Makkah dan yang 10 tahun lagi di Madinah, tempat beliau hijrah untuk keselamatan beliau dan para Sahabat. Dari seluruh jumlah Surat, yang 93 diturunkan di Makkah, dan yang 21 diturunkan di Madinah; adapun Surat ke-110, walaupun itu tergolong pada zaman Madinah, tetapi itu diturunkan di Makkah, pada waktu Haji Wada’ yang termasyhur. Pada umumnya, Surat Madaniyyah adalah panjang, dan meliputi sepertiga dari seluruh Qur’an. Adapun susunannya, Surat Makkiyyah diselang-seling dengan Surat Madaniyyah. Mula-mula Qur’an diawali dengan Surat Makkiyyah, Surat Al-Fatihah; lalu disusul dengan empat Surat Madaniyyah yang semuanya meliputi seperlima Qur’an. Lalu disusul berselang-seling antara Surat Makkiyyah dan Madaniyyah.

Adapun tanggal diturunkannya Surat Makkiyyah, ini sukar sekali ditetapkan, kecuali hanya beberapa saja; namun secara garis besar, Surat Makkiyyah dapat dibagi menjadi tiga golongan: (a) golongan Surat yang diturunkan pada zaman Makkah permulaan, mulai dari tahun pertama sampai tahun kelima; (b) golongan Surat yang diturunkan pada zaman Makkah pertengahan, mulai dari tahun keenam sampai tahun kesepuluh; (c) golongan Surat yang diturunkan pada akhir zaman Makkah, mulai dari tahun sebelas sampai dengan hijrah. Sebaliknya, tanggal diturunkannya Surat Madaniyyah agak pasti dan jelas, namun ada pula kesukarannya, yakni Surat yang panjang, yang meliputi jangka waktu yang panjang pula; bahkan ada Surat yang tak sangsi lagi tergolong zaman Madinah permulaan, berisi ayat-ayat yang diturunkan pada akhir hidup Nabi Suci.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, ancar-ancar tanggal di bawah ini dapat dipakai sebagai patokan untuk menentukan golongan Surat-surat itu:

Zaman Makkah permulaan, 60 Surat: 1, 17-21, 50-56, 67-109, 111-114.

Zaman Makkah pertengahan, 17 Surat: 29-32, 34-39, 40-46.

Zaman Makkah terakhir, 15 Surat: 6, 7, 10-16, 22, 23, 25-28.

Tahun Hijrah 1-2, 6 Surat: 2, 8, 47, 61, 62, 64.

Tahun Hijrah 3-4, 3 Surat: 3, 58, 59.

Tahun Hijrah 5-8, 9 Surat: 4, 5, 24, 33, 48, 57, 60, 63, 65.

Tahun Hijrah 9-10, 4 Surat: 9, 49, 66, 110.

Urutan menurut tarikh

Tak sangsi lagi bahwa lima ayat pertama Surat ke-96 merupakan wahyu pertama, dan dapat dipastikan bahwa lima ayat itu disusul dengan bagian pertama Surat ke-74, yang selanjutnya kemungkinan besar disusul dengan Surat ke-1, yang kemudian disusul dengan bagian pertama Surat ke-73. Di luar itu, tak dapat diberikan urutan yang agak pasti. Usaha memberikan urutan menurut Tarikh, pasti akan salah, karena, Surat yang pendek-pendek pun tak diturunkan sekaligus. Misalnya, menurut urutan tarikh, Surat ke-96 harus ditempatkan sebagai Surat pertama; padahal nyatanya, tiap-tiap ahli sejarah Islam tahu bahwa yang diturunkan pertama kali hanyalah lima ayat pertama, sedang ayat 6-19 diturunkan lama kemudian, tatkala dimulai perlawanan terhadap Nabi Suci, sebagaimana diterangkan dalam ayat 9 dan 10, yang menerangkan dihalang-halanginya Nabi Suci menjalankan shalat, dan ini terjadi pada waktu rumah Sahabat Arqam dipilih sebagai tempat sembahyang, sekitar tahun ke-4 sesudah Bi’tsah. Lalu, jika dalam menetapkan tempat pertama bagi Surat yang tak sangsi lagi merupakan wahyu permulaan, kami dihadapkan dengan kesukaran yang tidak sedikit, apalagi mengenai Surat yang diturunkan belakangan, teristimewa Surat yang panjang-panjang. Ambillah misalnya Surat ke-2 dari urutan sekarang ini; tak ragu-ragu sedikit pun bahwa Surat itu diturunkan pada tahun Hijrah ke-1, atau paling tidak pada tahun Hijrah ke-2; akan tetapi kami yakin bahwa di dalamnya berisi ayat-ayat yang diturunkan pada tahun Hijrah ke-10. Oleh karena itu, urutan menurut tarikh bagi Surat-surat Qur’an adalah hal yang musykil, dan apa yang dapat kami katakan dengan pasti ialah bahwa sebagian besar dari ayat Surat anu, diturunkan selama periode anu, dan inilah alasan saya dalam menentukan ancar-ancar tanggal bagi Surat-surat tersebut di atas.

Susunan selang-seling wahyu Makkiyyah dan Madaniyyah dikerjakan dalam babak terakhir

Kesan pertama yang menarik perhatian kami dalam susunan sekarang ini ialah bercampurnya wahyu Makkiyyah dan Madaniyyah. Sudah tentu di balik ini semua, terdapat alasan; dan untuk menemukan alasan itu, kami harus menemukan ciri khas yang membedakan antara wahyu Makkiyyah dan Madaniyyah. Memang ada perbedaan yang mencolok antara dua macam wahyu itu, yakni, wahyu Makkiyyah melandasi kaum Muslimin supaya beriman kepada Allah, sedang wahyu Madaniyyah dimaksud untuk mewujudkan iman itu dalam perbuatan. Memang benar bahwa dalam wahyu Madaniyyah juga diterangkan hal iman yang harus dijadikan landasan bagi perbuatan, namun pada dasarnya Surat Makkiyyah lebih menekankan iman kepada Allah, Yang Maha-agung, Yang Maha-kuasa, Yang membalas tiap-tiap perbuatan baik dan buruk, sedangkan Surat Madaniyyah terutama sekali membahas apa yang disebut perbuatan baik dan buruk, atau dengan perkataan lain, membahas perincian undang-undang. Ciri khas lain yang membedakan dua macam wahyu tersebut ialah bahwa wahyu Makkiyyah pada umumnya berisi ramalan, sedang wahyu Madaniyyah membahas terpenuhinya ramalan itu. Selanjutnya, wahyu Makkiyyah menerangkan, bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat dicapai setelah orang dapat berhubungan dengan Allah, sedang wahyu Madaniyyah memberi petunjuk tentang caranya hubungan antara sesama manusia, agar ini menjadi sumber kesenangan dan kebahagiaan bagi mereka. Oleh sebab itu secara ilmiah susunan Qur’an dibuat selang-seling antara dua wahyu tersebut — selang-seling antara iman dan amal, antara ramalan dan terpenuhinya ramalan; hubungan antara manusia dengan Allah, dan hubungan antara manusia dengan sesama manusia.

Sepintas-kilas tentang susunan sekarang ini

Pengamatan yang mendetail tentang urutan Surat menunjukkan bahwa keterangan tersebut adalah benar; untuk ini para pembaca dipersilahkan membaca kata pengantar pada tiap-tiap permulaan Surat. Namun secara garis besar, dapat diikhtisarkan sebagai berikut: Qur’an itu diawali dengan Surat Makkiyyah yang pendek, yang tujuh ayatnya pendek, mengandung inti seluruh Qur’an, dan mengajarkan sebuah doa yang diakui sebagai doa yang paling indah di antara sekalian doa yang diajarkan oleh agama apa saja, dan meletakkan cita-cita yang amat luhur yang dapat dicapai oleh manusia. Jika Mukadimah Qur’an (Al-Fâtihah) adalah inti Al-Qur’an, dan meletakkan cita-cita yang amat luhur bagi manusia, maka Surat Al-Baqarah sebagai permulaan Al-Qur’an adalah tepat sekali, karena Surat Al-Baqarah diawali dengan penjelasan tentang maksud dan tujuan Al-Qur’an. Empat Surat pertama tergolong wahyu Madaniyyah, dan meliputi seperlima Qur’an dan membahas secara terperinci ajaran-ajaran Islam, dan memperbandingkannya dengan ajaran agama yang sudah-sudah, terutama sekali agama Yahudi dan Nasrani, yang pada saat itu menjadi contohnya agama yang sesat, karena agama Yahudi hanya mementingkan upacara lahir dan mengabaikan roh agama, sedang agama Nasrani mengutuk undang-undang, dan mengandalkan kepercayaannya kepada Yesus Kristus saja. Sebagian besar undang-undang Islam, baik tentang orang-seorang, keluarga maupun masyarakat, dibahas dalam empat Surat itu. Keempat Surat ini disusul dengan dua Surat Makkiyyah yang paling panjang; yang pertama membahas dengan panjang lebar azas Keesaan Ilahi dan yang kedua tentang kenabian dan sejarah beberapa Nabi yang terkenal. Lalu disusul dengan dua Surat Madaniyyah, yang serasi benar dengan Surat di muka dan di belakangnya, karena dua Surat itu menerangkan bagaimana Allah akan memperlakukan orang yang memusuhi Kebenaran yang diturunkan kepada Nabi Suci; yang pertama — Surat 8 — membahas kekalahan mereka pada perang Badar awal, dan yang kedua — Surat 9 — membahas kehancuran mereka sama sekali. Lalu disusul dengan tujuh Surat Makkiyyah golongan Alif Lâm Râ’, yang membahas kebenaran wahyu Nabi Suci, dan untuk membuktikan kebenaran itu, dikemukakan bukti-bukti intern, bukti tentang kodrat manusia, bukti sejarah para Nabi yang sudah-sudah, dan bukti alam semesta. Lalu disusul dengan lima Surat Makkiyyah, yang semuanya membahas keluhuran agama Islam, dengan menyebut sebagai bukti, sejarah Bangsa Yahudi (Surat 17), sejarah dan ajaran Kristen (Surat 18 dan 19), dan sejarah Nabi Musa (Surat 20), dan sejarah para Nabi pada umumnya (Surat 21). Lalu disusul dengan dua Surat Makkiyyah; yang pertama menerangkan bahwa perjuangan Nabi Suci pasti akan menang, sekalipun menuntut pengorbanan besar dari kaum mukmin; dan yang kedua menerangkan bahwa landasan kebenaran umat Islam ialah akhlak, bukan kebendaan. Lalu diseling dengan Surat Madaniyyah (Surat 24) yang menerangkan bahwa ramalan wahyu Makkiyyah akan terpenuhi dengan berdirinya kerajaan Islam dan tersiarnya cahaya rohani Islam. Lalu diselingi lagi dengan Surat Makkiyyah (Surat 25) yang menerangkan bahwa perbedaan antara hak dan batal yang harus ditegakkan oleh Qur’an, sudah terwujud pada zaman para Sahabat. Lalu diketengahkan 3 Surat Makkiyyah golongan Thâ Sîn, yang meramalkan kemenangan akhir bagi Nabi Suci, dengan menyebut kemenangan Nabi Musa terhadap lawan yang kuat yang hendak menghancurkan Bangsa Israil. Lalu disusul dengan 4 Surat Makkiyyah golongan Alif Lâm Mîm, yang menerangkan bahwa keadaan lemah dan tak berdaya yang dialami oleh kaum Muslimin, akan segera berakhir. Lalu diseling dengan Surat Madaniyyah (Surat 33) yang menerangkan kegagalan tentara gabungan musuh dalam Perang Ahzab, dalam usaha mereka menghancurkan Islam. Lalu di sini diselipkan uraian tentang kesederhanaan rumah tangga Nabi Suci, untuk menunjukkan bahwa beliau tak tertarik sama sekali kepada keindahan barang-barang duniawi, seperti harta dan takhta, walaupun beliau menjadi penguasa seluruh Tanah Arab; oleh karena itu beliau menjadi teladan bagi semua bangsa di segala zaman, yang tak diperlukan lagi datangnya seorang Nabi sesudah beliau; hanya orang yang berpandangan picik saja yang mencari-cari kesalahan terhadap orang yang kesucian dan kesederhanaannya tak ada taranya. Lalu disusul dengan enam Surat Makkiyah, yang menerangkan timbul tenggelamnya bangsa itu disebabkan karena baik dan buruknya perbuatan mereka, dan bahwa bangsa yang besar hanya dapat mempertahankan kebesarannya jika mereka tak mengafiri nikmat Tuhan yang diberikan kepada mereka. Lalu disusul dengan tujuh Surat Makkiyah yang dikenal sebagai golongan Hâ Mîm, yang menekankan suatu kenyataan bahwa kebenaran pasti akan menang, dan tak ada kekuatan duniawi dapat melenyapkan kebenaran, sekalipun dibantu dengan kekayaan duniawi. Lalu disusul dengan tiga Surat Madaniyah; Surat 47 yang diturunkan pada permulaan tahun Hijriah, yang menekankan orang yang mau menerima kebenaran yang diturunkan kepada Nabi Suci, sekalipun mengalami penderitaan berat, keadaan mereka akan segera menjadi baik; Surat berikutnya yang diturunkan pada tahun Hijrah keenam, meramalkan seterang-terangnya bahwa Islam akan memperoleh kemenangan akhir, mengalahkan semua agama di dunia; dan Surat yang terakhir dari golongan ini, yang diturunkan menjelang akhir hidup Nabi Suci, menyuruh kaum Muslimin supaya saling hormat menghormati. Surat 50 sampai 56 adalah golongan Surat Makkiyah yang menerangkan hebatnya kebangkitan rohani yang dilaksanakan oleh Qur’an Suci. Lalu disusul dengan golongan Surat Madaniyah terakhir, sepuluh Surat, yaitu Surat 57 sampai dengan 66, yang semuanya merupakan pelengkap bagi apa yang diuraikan dalam Surat Madaniyah sebelumnya, misalnya Surat 65 dan 66 merupakan pelengkap bagi Surat Al-Baqarah, dan membahas masalah perceraian dan perpisahan sementara. Lalu disusul dengan 48 Surat Makiyah yang pendek-pendek, yang menerangkan bahwa manusia atau bangsa dapat mencapai kedudukan tinggi dengan mengikuti kebenaran yang diajarkan oleh Qur’an; sebaliknya, manusia atau bangsa akan menderita rugi jika mereka menolak kebenaran. Qur’an diakhiri dengan ajaran singkat tetapi jelas tentang Keesaan Ilahi (Surat 112); adapun Surat yang paling akhir (Surat 113 dan 114) menerangkan bahwa manusia harus mohon perlindungan Tuhan dari segala macam bencana.

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *